BAB II TINJAUAN TEORITIS
A. Proses Pengangkatan Camat
Dalam negara republik indonesia yang merupakan negara hukum segala hal terutama mengenai urusan pemerintahan yang diatur secara hirarki dalam peraturan perundang-undangan. Kecamatan adalah suatu bentuk pemerintahan yang berada dalam lingkup Kabupaten/Kota yang berarti bahwa dalam proses pengangkatan Camat di atur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2008 tentang Kecamatan, Dalam peraturan ini terutama pasal 1 ayat (9) mendeskripsikan bahwa camat atau sebutan lain adalah pemimpin atau koordinator penyelenggaraan pemerintahan diwilayah kerja kecamatan yang dalam pelaksanaan tugasnya memperoleh pelimpahan kewenangan dari Bupati/Walikota untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah dan menyelenggarakan tugas umum pemerintahan, selanjutnya pada pasal 24, 25 dan 26 sebagai berikut ;
Pasal 24
Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul sekretaris daerah Kabupaten/Kota dari pegawai negeri sipil yang mengetahui aturan tekhnis pemerintahan dan memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang- undangan.
Pasal 25
Pengetahuan teknis pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam pasal 24 meliputi:
a. Menguasai bidang ilmu pemerintahan dibuktikan dengan ijazah
14 diploma/sarjana pemerintahan; dan
b. Pernah bertugas di desa, kelurahan atau kecamatan paling singkat 2 (dua) tahun
Pasal 26
Pegawai negeri sipil yang akan diangkat menjadi Camat dan tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam pasal 25, wajib mengikuti pendidikan tekhnis pemerintahan dibuktikan dengan sertifikat Pelaksanaan pendidikan tekhnis pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan dalam Negeri.
Sekilas gambaran dari peraturan yang lama di atas yang masih berlaku hingga kini bagi otonomi daerah yang belum ada aturan yang mengatur sendiri urusan rumah tangga di daerahnya berdasarkan asas-asas penyelenggaran pemerintahan. Masih berlaku disebabkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2018 Pasal 35 mengakui keberlakuannya selama tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan yang menggantikannya.
Kecamatan merupakan wilayah kerja Camat sebagai perangkat daerah Kabupaten dan Kota. Sebagaimana Telah dijelaskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 23 Tahun 2014 tentang pemerintahan daerah pasal 224 ayat 1 dan 2 yang berbunyi sebagai berikut :
1) Kecamatan dipimpin oleh seorang kepala Kecamatan yang disebut Camat yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota melalui sekretaris daerah,
2) Bupati/Walikota wajib mengangkat Camat dari Pegawai Negeri
15
Sipil yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan dan memenuhi persyaratan kepegawaian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Kemudian dalam Penjelasan Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 selaras dengan tuntutan rakyat yang menghendaki suatu penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa serta berwawasan pelayanan kepada masyarakat.
Akan tetapi pada kenyataan nya masih terdapat beberapa kasus yang kurang memperhatikan bagaimana memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat.
Hal ini dapat dilihat pada karakter birokrasi yang belum sesuai harapan di wilayahnya
Pengangkatan Camat oleh Bupati/Walikota berasal dari Pegawai Negeri Sipil yang mengerti tentang pemerintahan dan disumpah terlebih dahulu untuk melaksanakan tugasnya dan dimana sumpah tersebut merupakan seperangkat janji yang harus dipenuhi kepada Bupati/Walikota, masyarakat, diri sendiri dan Tuhan Yang Maha Esa. Menyikapi hal ini masih banyaknya camat haruslah agar menyurati seluruh bupati dan walikota untuk melakukan pengangkatan camat dan lurah sesuai latar pendidikan yang tepat. “Pengangkatan jabatan sebagai camat maupun lurah haruslah yang menguasai bidang ilmu pemerintahan.
Sudah semestinya bupati dan walikota mengangkat camat yang kompeten dan memiliki latar belakang pendidikan seperti Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) atau Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dan Institut Ilmu Pemerintahan (IIP menurut saya , terkait intruksi gubernur tersebut, Plt Sekprov, Asisten Administrasi Umum, Asisten Pemerintahan akan membentuk tim untuk mengkaji lebih dalam apakah pengangkatan camat dan lurah diharuskan
16
berlatar belakang ilmu pemerintahan.Dalam waktu dekat ini, sesuai dengan UU No 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, kita akan membuat konsep dan menyurati seluruh bupati dan walikota agar dalam pengangkatan camat ataupun lurah sesuai dengan lulusan ilmu pemerintahan.
Ditambahkan, camat adalah pemimpin di wilayah kecamatan sehingga seorang camat seharusnya menguasai pengetahuan managerial di bidang pemerintahan. Begitu juga dengan lurah dalam melaksanakan kewenangan pemerintah yang dilimpahkan oleh camat sesuai karakteristik wilayah dan kebutuhan daerah serta melaksanakan pemerintahan lainnya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Ini demi pelaksanaan roda pemerintahan yang baik, khususnya dalam pelayanan kepada masyarakat.
Selain itu, sekarang ini dalam pengangkatan camat ataupun lurah yang dilakukan oleh bupati ataupun walikota masih banyak yang tidak berlatar belakang pendidikan ilmu pemerintahan, sehingga sulit dalam mengambil keputusan demi terciptanya penyelenggaraan pemerintahan yang lebih baik.
Kedepannya diharapkan tidak ada lagi camat maupun lurah yang tidak memiliki latar belakang pendidikan ilmu pemerintahan, karena akan memberikan dampak negatif terhadap keputusan-keputusan yang diambil. Ada hal- hal yang menjadikan mengapa negara indoneisa menjalankan suatu peraturan masih berpegang teguh pada regulasi UU karena secara eksplisit didalam undang-undang
17
menjelaskan bahwa karena perlakuan yang sama di mata hukum sehingga tercipta hukum yang pasti9
Dalam konsep Negara hukum Eropa Kontinental dan konsep Negara hukum Anglo Saxon didasarkan pada paham liberal individualistis, maka konsep Negara hukum Indonesia didasarkan pada pandangan hidup bangsa Indonesia yakni pancasila. Perbedaan dalam hal itu terutama terletak pada masalah kedudukan individu terhadap masyarakat dan hak serta kewajiban individu terhadap Masyarakat.10 Sebagai Negara Hukum dan menganut Prinsip kedaulatan ditangan rakyat (Demokrasi) atau berbentuk Republik yang telah dirumuskan dalam UUD 1945 Pasal 1 Ayat (1), (2) dan (3).
Pancasila sebagai pandangan hidup (world view) telah melahirkan sumber formil yakni UUD 194 (Gron-wet dan/atau Constitution)11dan Perundang-undagan yang ada di bawahnya (Hierarki Perundang- Undagan UU No. 12 Tahun 2011).
Dalam rumusan Pasal 27 ayat (1) di samping jaminan kedudukan yang sama dalam hukum juga kedudukan yang sama dalam pemerintahan, yang berarti bahwa setiap warga Negara mempunyai hak yang sama untuk turut serta dalam penyelenggaraan Negara tanpa membedakan turunan, warna kulit, kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan ataupun agama. Undang- Undang Dasar 1945 telah mencerminkan Asas Demokrasi Pasal 27 ayat (1) bukan hanya menjamin
9 Ulfatus Shalihah, Rahmatiah Hl, Pidana Penjara Seumur Hidup Bagi Koruptor Ditinjau Dari Aspek Hak Asasi Manusia Dan Hukum Islam, Jurnal Siyasatuna,Volume 3 Nomor 1 ( Januari 2021), h 228
10 Azhary, Negara Hukum Indonesia – analisis yuridis normatife tentang unsur-unsurnya, h. 11
11 Thaib dkk, Teori dan hokum konstitusi ( Cet.12 Jakarta: Rajawali Press,2015),h.7
18
persamaan kedudukan hukum saja, tetapi juga persamaan hak dan kewajiban dalam politik, social dan budaya.
Dalam sistem, penyelenggaraan Negara itu harus bertumpuh pada partisipasi dan kepentingan rakyat. Implementasi Negara hukum itu harus ditopang dengan sistem demokrasi. Demokrasi tanpa pengaturan hukum akan kehilangan bentuk dan arah, sedangkan hukum tanpa demokrasi akan kehilangan makna. Menurut Franz Magnis Suseno, “yang bukan Negara hukum bukan dalam arti yang sesungguhnya merupakan cara paling aman untuk mempertahankan control atas Negara hukum”12 hal ini merupakan suatu sistem yang menjunjung tinggi hak setiap warga Negara untuk aktif dan terlibat langsung baik urusan politik, ekonomi dan lain-lain sebagainya termasuk juga hak untuk menerima informasi keterbukaan selama itu mengenai urusan publik13.
Hubungan antara Negara hukum tidak dapat dipisahkan 9sehingga dalam perkembangannya, paham Negara hukum tidak dapat dipisahkan dari paham kerakyatan Sebab pada akhirnya, hukum yang mengatur dan membatasi kekuasaan Negara atau pemerintah diartikan sebagai hukum yang dibuat atas dasar kekuasaan atau kedaulatan rakyat. Atas dasar demokratis Asas- Asas demokratis yang melandasi rechtstaat, menurut S.W. Couwenberg meliputi lima asas, yaitu : (a) asas hak-hak politik (het beginsel van politieke grondrechten); (b)
12 Ridwan Hr, Hukum Admistrasi Negara,(Jakarta :Rajawali Press,2015 ) h. 8
13 Ridwan Hr, Hukum Administrasi Negara, (Jakarta :Rajawali Press,2015 ) h. 8
19
asas mayoritas; (c) asas perwakilan; (d) asas pertanggungjawaban; dan (e) asas publik ( open-baarheidsbeginsel). 14
14Ni‟matul Huda, Hukum Tata Negara Indonesia, h.267
20
Dalam Negara hukum karena didalamnya mengakomodir prinsip-prinsip Negara hukum dan prinsip-prinsip demokratis. J.B.J.M menyebutkan prinsip-prinsip Negara hukum (Rechtsstaat).
B. Bentuk Pemerintahan Camat