BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Proses Pengujian Sampel Limbah Cair Hasil Pembakaran Sampah
Secara garis besar proses uji analisa limbah cair hasil pembakaran sampah TPST dilakukan dalam beberapa tahap. Dimulai dari tahapan observasi lapangan, persiapan sampel, proses pembakaran sampah dengan menggunakan alat MSI-100, hingga proses uji analisa laboratorium. Adapun proses pengolahan data dilakukan untuk memperoleh hasil data penelitian. Data efektifitas pembakaran diperoleh dari data pengamatan selama proses pembakaran. Sedangkan hasil analisis kualitas limbah cair hasil pembakaran sampah TPST Bantargebang dengan menggunakan MSI-100 diperoleh dengan membandingkan hasil uji laboratorium sampel dengan standar baku mutu yang ditetapkan. Penjelasan masing-masing tahapan prosesnya adalah sebagai berikut :
4.1.1 Observasi Lapangan
Proses pengambilan sampel sampah dilakukan di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Tahapan pertama yaitu pengajuan permohonan izin pengambilan sampel sampah TPST Bantargebang kepada kepala UPST Dinas Lingkungan Hidup. Proses perizinan ini memerlukan waktu 7 hari kerja hingga proses penyetujuan pihak Bantargebang. Setelah mendapat izin pengambilan sampel di Bantargebang, peneliti kemudian melanjutkan proses pengambilan sampel. Sampling dilakukan pada pagi hari dan dibimbing oleh petugas Bantargebang menuju area-area pengambilan sampel.
Gambar 4.1 Area Pengambilan Sampel Sampah di TPST Bantargebang
4.1.2 Proses Persiapan Sampel
Sebelum melakukan proses pembakaran dengan alat MSI-100, diperlukan treatment persiapan sampel yang akan dibakar. Tahapan proses persiapan sampel sampah TPST Bantargebang yang akan digunakan dalam proses pembakaran akan dipaparkan dalam tabel (4.1) berikut ini:
Tabel 4.1 Tahapan Kegiatan Persiapan Sampel Sampah TPST
No. Tahapan Kegiatan Gambar Kegiatan
1. Persiapan alat sampling. Alat sampling dan alat safety digunakan untuk mendukung pross sampling dan sebagai alat perlindungan diri dari kecelakaan. Alat sampling dan alat safety yang digunakan ialah : trash bag, masker, sarung tangan, dan sepatu boot.
2. Pengambilan sampel A (sampah umur <2 tahun) dilakukan di area Zona 3 Kepala Burung. Sedangkan untuk pengambilan sampel B (samppah umur >10 tahun) dilakukan di area Zona 4B.
(Berdasarkan hasil wawancara dengan pertugas TPST Bantargebang)
3. Proses penyortiran sampel. Sampel yang telah diambil kemudian dipilah dan dipisahkan dari benda-benda berbahaya seperti bahan yang mudah meledak. Proses pemilahan ini dilakukan bersamaan dengan proses penjemuran sampel sampah yang bertujuan untuk mengurangi atau menghilangan kandungan air dari sampah agar memudahkan proses pembakaran kelak.
Gambar Sampel A
4. Proses penimbangan sampel. Kriteria massa sampah yang digunakan ialah 2,5 kg untuk masing-masing sampel.
Sampel dengan komposisi sampah campuran dikategorikan sebagai sampel A. Massa sampel A ialah 2,565 kg.
Sedangkan untuk sampel dengan komposisi sampah plastik dikategorikan sebagai sampel B dengan massa sampel 2,545 kg.
Sampel sampah TPST
Bantargebang siap untuk dibakar dengan menggunakan alat Msi-100.
Gambar Sampel A
Gambar Sampel B
Pengambilan sampel (sampling) sampah TPST Bantargebang dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Teknik pengambilan sampel ini dilakukan untuk mendapatkan sampel sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan yaitu sampah dengan umur <2 tahun (sampel A) dan sampah dengan umur >10 tahun (sampel B), serta kuantitas sampel masing-masing 2,5 kg. Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas TPST Bantargebang, kriteria sampah dengan umur <2 tahun terdapat pada landfill Zona III Kepala Burung. Sedangkan kriteria sampah umur >10 tahun terdapat pada landfill Zona IVB.
Zona III adalah sampah yang bersal dari Jakarta Barat. Sampah terdiri sampah domestik, pasar dan sisa industri. Zona IV adalah tempat pembuangan sampah untuk wilayah Jakarta Pusat. Sampah yang paling dominan adalah plastik, sampah pasar, sampah perkantoran (Yoga, 2014).
Adapun kriteria sampah dengan variasi umur landfill dapat dilihat dari jenis sampah yang memiliki waktu hancur/ terurai yang berbeda-beda. Pada sampel A (sampah umur <2 tahun) didapatkan sampah dengan komposisi ; kayu, kertas, daun, kain, pastik, dan pipa PVC. Pada sampel A tedapat komposisi sampah organik dengan waktu lama hancur 1-6 bulan dimana memenuhi kriteria sampel penelitian yaitu sampah <2 tahun. Sedangkan untuk sampel B (sampah umur >10 tahun) didominasi oleh sampah anorganik (plastik kemasan dan kantong plastik) dengan waktu lama hancur 10-80 tahun (referensi terdapat pada Tabel 2.1).
4.1.3 Proses Pembakaran Sampah TPST dengan Menggunakan MSI-100. Proses pembakaran sampel sampah TPST dilaksanakan di area Kampus Universitas Pelita Bangsa. Pembakaran dilakukan menggunakan Mini Smokeless Insenerator (MSI-100) dengan kapasitas 100 liter. Sebelum melalui proses pembakaran, persiapan peralatan dan bahan perlu dilakukan. Berikut adalah tabel alat dan bahan yang digunakan selama proses pembakaran :
Tabel 4.2 Peralatan Proses Pembakaran
No. Fungi Alat Gambar Alat
1. Sarung tangan anti panas berfungsi sebagai alat safety untuk tangan saat digunakan untuk memasukan sampel ke dalam tungku pembakaran selama proses pembakaran untuk menghindari kecelakaan akibat panas
2. Masker befungsi sebagai alat pelindung diri untuk menghindari polusi udara agar tidak terhirup.
3. Kacamata safety yang berfungsi untuk melindungi mata dari partikel abu, debu dan percikan api selama proses pembakaran. 4. Infrared Thermometer berfungsi
untuk mengukur suhu selama proses pembakaran berlangsung secara berkala.
5. Cangkul kecil berfungsi untuk mengambil arang dan abu yang dihasilkan setelah proses pembakaran selesai. Alai ini juga berfungsi untuk membersihkan tungku dari sisa proses pembakaran.
6. MSI-100 yang merupakan alat pembakar sampah tanpa menghasilkan asap. Alat ini menggunakan energi listrik untuk menghidupkan blower dan pompa vakum. Kemudian pada wadah buangan diisi air sebanyak 15 liter
Proses pembakaran sampel sampah dilakukan setelah semua alat dan bahan siap digunakan. Tahapan proses dimulai dengan membakar sampel A. Selama proses pembakaran, dilakukan pengamatan suhu dengan interval waktu setiap 10 menit selama 1 jam. Pengamatan suhu dilakukan dengan menggunakan alat pengukur suhu/ Infrared Thermometer yang ditembakan ke arah tungku pembakaran. Setelah proses pembakaran selesai, kemudian dilakukan pengambilan sampel limbah cair hasil pembakaran untuk dilakukan pengujian laboratorium. Kemudian disambung oleh sampel B dengan cara dan pengamatan yang sama.
4.1.4 Proses Pengujian Laboratorium
Setelah proses pembakaran selesai, output yang dihasilkan merupakan air buangan/ cairan asap (hasil kontak antara asap pembakaran dengan air yang disemprotkan). Pengadukan air buangan dilakukan sebelum pengambilan sampel untuk uji analisa laboratorium, hal ini bertujuan untuk menghomogenkan sampel uji. Volume sampel yang dibutuhkan untuk keseluruhan uji laboratorium ialah 2000 ml untuk masing-masing sampel. Wadah yang digunakan untuk sampel uji ialah botol yang bersih dari zat pengotor/ kontaminan, tertutup rapat, dan tidak bocor.
Pengujian laboratorium dilakukan oleh pihak ketiga. Adapun parameter pengujian yang digunakan ialah pengujian pH, BOD, COD, TSS, Hg, N Total, P,dan K. Setelah hasil analisis pengujian laboratorium didapatkan (terlampir), kemudian dilakukan pengolahan data untuk memperoleh hasil analisis dengan cara membandingkan hasil uji sampel dengan standar baku mutu air limbah hasil usaha / kegiatan yang belum memiliki baku mutu air limbah yang ditetapkan yang tercantum dalam PerMenLH Nomor 05 Tahun 2014.