• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Pengujian Zat Warna Pada Kain

GAMBAR RANGKAIAN ALAT

4. Proses Pengujian Zat Warna Pada Kain

a. Uji Ketahanan luntur warna terhadap Pencucian

1. Melarutkan 2 gram Soda Abu, 2 mL tepol dalam 1 liter air dalam gelas beaker 1000 mL.

2. Memotong kain yang telah melalui proses pewarnaan dengan ukuran 5 x 10 cm sebanyak 5 potong.

3. Melapisi kedua sisi setiap potong kain di atas menggunakan kain putih dengan ukuran yang sama, kemudian dijahit pada sisi kanan dan sisi kirinya.

4. Memasukkan 5 kain yng sudah dijahit ke dalam masing – masing bejana laundrymeter yang sudah berisi larutan yang telah dibuat tadi sebanyak 200 mL, kemudian menutup bejana.

5. Menempatkan bejana - bejana pada tempatnya.

6. Menghidupkan power, kemudian mengatur Suhu sebesar 60 °C dan mengatur waktu selama 45 menit, kemudian mengambil bajana – bajana tersebut dan mengeluarkan kain di dalamnya.

7. Mencuci kain dengan air yang bersih kemudian melepas jahitan dan menyetrika semua kain.

8. Menganalisa kain pelapis dengan menggunakan Stainning Scale

dan menganalisa kain yang telah melalui proses pewarnaan tadi dengan menggunakan Grey Scale.

Universitas Sebelas Maret Surakarta

b. Uji Ketahanan luntur warna terhadap Gosokan

1. Memotong kain yang telah melalui proses pewarnaan dengan ukuran 4 x 25 cm sebanyak 5 potong (kain A)

2. Memotong kain putih dengan ukuran 8 x 8 cm sebanyak 10 potong sebagai kain penggosok (kain B)

3. Menempatkan 5 potong kain A dan 5 potong kain B kering di tempatnya masing – masing pada crockmeter.

4. Menghidupkan crockmeter dan mematikannya setelah 10 kali gosokan.

5. Menganalisa kain penggosok (kain B) dengan menggunakan

Stainning Scale.

6. Mengulangi langkah – langkah di atas dengan menggunakan kain B basah.

Universitas Sebelas Maret Surakarta

Universitas Sebelas Maret Surakarta

Universitas Sebelas Maret Surakarta

Universitas Sebelas Maret Surakarta

27

Universitas Sebelas Maret Surakarta

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil

Pada percobaan yang telah dilakukan metode pengambilan zat warna alami untuk tekstil dari buah mangsi diperoleh dengan 2 cara yaitu secara langsung dengan perebusan (ekstraksi secara batch) dan ekstraksi menggunakan soxhlet dengan pelarut air. Hasil zat warna alami diperoleh dengan memekatkan hasil ekstraksi dengan cara evaporasi. Rangkaian alat ekstraksi soxhlet dapat dilihat pada gambar 3.1. Berikut data – data selama hasil percobaan :

o Berat buah Mangsi : 50 gram

o Volume pelarut : 200 mL

o Suhu Operasi : 100 °C

o Yield zat warna secara batch :

gram gram 50 45 , 4 x 100 % = 8,9 % o Yield zat warna secara soxhlet :

gram gram 50 56 , 5 x 100 % = 11,12 % o Kadar Air dalam Bahan :

gram gram 0 , 5 ) 8 , 0 0 , 5 (  x 100 % = 84 %

o Hasil Pengujian terhadap kain

Tabel 4. 1. Hasil Pengujian ketahanan luntur warna terhadap Pencucian

Metode Percobaan Grey Scale Stainning

Scale Pencucian dengan Laundrymeter 1.Mordanting : NaOH Fiksasi : CaO 2 2 2.Mordanting : Al2(SO4)3 Fiksasi : CaO 3 3 3.Mordanting : Al2(SO4)3 Fiksasi : Al2(SO4)3 2-3 2-3

Universitas Sebelas Maret Surakarta

Tabel 4. 2. Hasil Pengujian ketahanan luntur warna terhadap Gosokan

Metode Percobaan Basah/Kering Stainning

Scale Penodaan dengan Crockmeter 1.Mordanting : NaOH Fiksasi : CaO Basah Kering 2-3 4-5 2.Mordanting : Al2(SO4)3 Fiksasi : CaO Basah Kering 2-3 4-5 3.Mordanting : Al2(SO4)3 Fiksasi : Al2(SO4)3 Basah Kering 2-3 4-5 A B Keterangan :

A : Zat warna alami dengan ekstraksi secara batch.

B : Zat warna alami dengan ekstraksi menggunakan soxhlet.

Gambar 4. 1. Zat Warna alami dengan Metode Ekstraksi\ secara batch dan ekstraksi menggunakan soxhlet

Universitas Sebelas Maret Surakarta

A B C

Keterangan :

A : Kain hasil setelah Pewarnaan.

B : Kain hasil setelah mordanting, pewarnaan dan fiksasi. C : Kain putih sebagai pembanding.

Gambar 4. 2. Hasil Pengujian Zat Warna dari Ekstraksi Soxhlet terhadap kain

Universitas Sebelas Maret Surakarta

A

B

Keterangan :

A : Kain yang telah diwarnai dan setelah pencucian. B : Kain putih sebagai pelapis.

Gambar 4.3. Hasil Pengujian Ketahanan Luntur Warna Terhadap Pencucian pada Percobaan 1 (Proses mordanting menggunakan NaOH dan

Universitas Sebelas Maret Surakarta

A

B

Keterangan :

A : Kain yang telah diwarnai dan setelah pencucian. B : Kain putih sebagai pelapis.

Gambar 4.4. Hasil Pengujian Ketahanan Luntur Warna Terhadap Pencucian pada Percobaan 2 (Proses mordanting menggunakan Al2(SO4)3

Universitas Sebelas Maret Surakarta

A

B

Keterangan :

A : Kain yang telah diwarnai dan setelah pencucian. B : Kain putih sebagai pelapis.

Gambar 4.5. Hasil Pengujian Ketahanan Luntur Warna Terhadap Pencucian pada Percobaan 3 (Proses mordanting menggunakan Al2(SO4)3

Universitas Sebelas Maret Surakarta

A

B C

Keterangan :

A : Kain yang telah diwarnai

B : Kain putih sebagai kain penggososk Kering C : Kain putih sebagai kain penggososk Basah.

Gambar 4.6. Hasil Pengujian Penodaan Zat Warna Terhadap Kain Putih dengan Gosokan

Universitas Sebelas Maret Surakarta

B. Pembahasan

Pada percobaan pembuatan zat warna alami untuk tekstil dari buah mangsi diperoleh dengan dua cara yaitu secara langsung dengan perebusan (ekstraksi secara batch) dan ekstraksi menggunakan soxhlet dengan pelarut air. Ekstraksi secara batch dilakukan dengan merebus buah mangsi dengan pelarut air lalu dipanaskan sampai mendidih sampai 1/3 volume awal kemudian mengambil ekstraknya dengan cara menyaring dan memekatkan filtratnya dengan cara diuapkan (evaporasi).

Pada ekstraksi soxhlet dilakukan dengan memasukkan buah mangsi yang dibungkus dalam kertas saring kemudian di masukkan dalam soxhlet. Proses ekstraksi dihentikan apabila sudah tidak ada perpindahan massa lagi dari buah mangsi ke pelarut, hal tersebut ditunjukkan sampai tetesan air yang diembunkan dari kolom soxhlet bening. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa ketika tetesan air yang diembunkan telah bening maka semua zat warna telah terekstrak.Pada percobaan pembuatan zat warna alami ini diperlukan 7 kali sirkulasi untuk mencapai warna tetesan air yang diembunkan telah bening. Sedangkan ekstrak zat warna alami diperoleh dengan memekatkan hasil ekstraksi dengan cara evaporasi. Yield zat warna alami yang diperoleh secara batch adalah 8,9 % dari 50 gram berat basah buah mangsi sedangkan yield zat warna alami yang diperoleh dengan ekstraksi menggunakan soxhlet adalah 11,12 % dari 50 gram berat basah. Warna yang dihasilkan dari buah mangsi adalah warna “ Coklat Tua “.

Untuk mengetahui kualitas zat warna alami yang diperoleh maka perlu dilakukan pengujian. Pengujian yang dilakukan adalah pengujian ketahanan luntur warna terhadap pencucian yang dilakukan dengan menggunakan

Laundrymeter dan pengujian ketahanan luntur warna terhadap gosokan basah dan gosokan kering yang dilakukan dengan menggunakan crockmeter.

Setelah pengujian ketahanan luntur zat warna terhadap pencucian selesai, selanjutnya dilakukan analisa terhadap pencucian dengan

Universitas Sebelas Maret Surakarta

menggunakan GreyScale ( GS ) dan Stainning Scale ( SS ). Nilai evaluasi tahan luntur warna Grey Scale dan Stainning Scale menunjukkan nilai yang kurang maksimal, hal ini disebabkan karena serat kapas mempunyai afinitas yang besar terhadap air sehingga dalam keadaan basah pori – pori serat akan membuka dan sebagai sifat utama dari zat warna alami adalah tidak mempunyai gugus reaktif , dimana zat warna alami hanya menyusup pada serat kain sehingga kain yang sudah diwarnai jika dalam keadaan basah maka kemungkinan zat warna yang keluar dari mulut serat / luntur lebih besar.

Setelah pengujian ketahanan luntur zat warna terhadap gosokan basah dan gosokan kering selesai, selanjutnya dilakukan analisa terhadap gosokan dengan menggunakan Staining Scale ( SS ). Nilai evaluasi tahan luntur warna

Stainning Scale pada gosokan kering menunjukkan nilai yang baik, sedangkan pada gosokan basah menunjukkan nilai yang kurang maksimal. Hal ini disebabkan karena pada keadaan basah pori-pori kain membuka sehingga ketika diberi tekanan / gosokan, zat warna keluar dari mulut serat kain. Hasil terbaik ditunjukkan pada kain yang telah melalui proses mordanting menggunakan Al2(SO4)3 dan proses fiksasi menggunakan CaO.

36

Universitas Sebelas Maret Surakarta

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari hasil percobaan yang dilakukan, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Pembuatan zat warna alami untuk tekstil dari buah mangsi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu ekstraksi secara batch dan ekstraksi menggunakan soxhlet. Hasil terbanyak dihasilkan dari ekstraksi menggunakan soxhlet.

Ekstraksi menggunakan soxhlet : Berat buah mangsi : 50 gram Volume pelarut : 200 ml air

Waktu proses : 5,56 gram zat warna

2. Hasil pengujian zat warna alami paling baik adalah pada kain yang telah melalui proses mordanting menggunakan Al2(SO4)3, pewarnaan dan fiksasi menggunakan CaO dengan Nilai E luasi ” cukup ”.

Proses mordating : Bahan : a.1 ml tepol b. 2 gram Na2CO3 c.8 gram Al2(SO4)3 d.1 liter Air Proses Mordanting : Bahan :

a.Zat warna : 5 gram b.Pelarut : 100 ml air Proses fiksasi :

Bahan :

a.50 gram CaO b.1 liter air

Universitas Sebelas Maret Surakarta

B. SARAN

Dari Hasil percobaan yang dilakukan, maka kami dapat memberikan saran antara lain :

1. Perlu menambahkan zat penguat untuk zat warna pada proses pewarnaan untuk mengurangi kelunturan zat warna.

2. Zat Warna Alami dari buah mangsi hendaknya dicoba pada kain dari bahan selain kapas yaitu pada sutera.

Universitas Sebelas Maret Surakarta

Dokumen terkait