• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA KAJIAN PUSTAKA

A. Penilaian 1. Pengertian

3. Proses Penilaian

Secara tradisional dalam proses kognisi adalah bagaimana individu mengolah data atau informasi yang ada dihadapi individu dengan melibatkan informasi yang dia miliki, sehingga secara garis besar proses kognisi adalah encoding information, storage dan retraival. Dalam psikologi sosial yang mempelajari tentang perilaku, pemikiran dan perasaan manusia dalam konteks sosial (Allport, 1969), maka muncul pendekatan Gestalt dan kognitif yang mencoba menjelaskan perilaku dari proses informasi yang dilakukan oleh individu seperti yang dikemukakan di atas, bahwa kognisi sosial adalah tata cara dimana kita menginterpretasi, menganalisa, mengingat menggunakan informasi tentang dunia sosial. Proses ini sangat berpengaruh terhadap kinerja dan isi

pikiran individu dalam memahami lingkungan sekitar agar individu tersebut dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Dari konsep tersebut di atas maka pembahasan berkembang, Higgins (2000) membuat batasan antara kognitif sosial dengan psikologi sosial dan psikologi non kognitif, dengan melihat beberapa literatur yang membedakan antara kognitif sosial dan psikologi non kognitif yang sangat jelas. Perbedaan ini tidak hanya pada pengamat yang melihat ada hubungan antar person, tetapi juga bagaimana pengamat tersebut terlibat dalam hubungan tersebut (Higgins, 2000) sehingga faktor subyektif pengamat akan masuk dalam obyek yang diamati. Tidak hanya pengamat yang melihat pandangan orang lain bagaimana motivasi si pengamat juga membentuk pandangan tersebut.

Dari hal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa, dalam kognisi sosial seseorang menyimpulkan dan mengamati sebuah target, disebabkan bukan hanya oleh sejauh mana dia melakukan pemrosesan informasi tetapi juga bagaimana lingkungan sosial mempengaruhi penilaian terhadap target. Seperti yang dikatakan di atas bahwa psikologi sosial mempelajari perilaku, perasaan dan pemikiran individu dalam konteks sosial. Perdebatanpun muncul, apakah psikologi sosial masuk dalam pembahasan psikologi sosial, dengan meninggalkan bagian yang non kognitif?. Memang secara psikologi sosial, kognisi seseorang disamakan dengan persepsi seseorang yang terlihat pada penilaian, kesan, penjelasan dan prediksi pada atribusi dan perilaku seseorang. Kognisi sosial juga mempelajari tentang perbedaan akurasi dan bias dalam penilaian pada masing-masing individu.

Disisi lain beberapa ahli tidak sepakat dengan pendekatan di atas. Mereka yang mendukung signifikansi kognisi sosial untuk psikologi sosial secara umum, mempercayai bahwa kognisi sosial ada pada semua lintas psikologi sosial secara umum seperti perubahan sikap, komunikasi interpersonal, pengambilan keputusan kelompok dan lain-lain. Maka kita tidak bisa memisahkan kognisi sosial dari psikologi sosial hanya dengan menjadikan kognisi sosial salah satu dari pembahasan psikologi sosial (Higgins; 2000). Dengan kata lain setiap perilaku sosial akan melibatkan proses kognisi, sehingga proses ini tidak dapat dipisahkan dari perilaku dan proses mental indiviu.

Maka alternative solusinya adalah dengan mengakaji kognisi sosial dari berbagai analisis. Kognisi sosial menekankan pada kognisi dalam psikologi sosial bukan pada seluruh level. Sementara pada kajian yang lain dari psikologi sosial seperti pengaruh sosial, fasilitasi sosial (level biologis) dan performa kelompok (level sosiologis) merupakan topik yang tidak termasuk dalam kognisi sosial. Maka tidak semua psikologi sosial adalah kognisi sosial, karena tidak semua psikologi sosial menekankan pada level analisis kognitif.

Dalam organisasi informasi individu melakukan kategori pada informasi yang masuk serta mencocokkan dengan informasi yang telah ada. Kemudian dalam organisasi, berdasarkan informasi yang ada pada saat itu individu “mampu” membentuk kesan menyeluruh pada obyek, misalnya dengan hanya mengetahui apa yang terjadi pada hari ini individu akan menilai disposisi pada orang yang dilihat. Juga ketika ada seorang anggota kelompok melakukan

sesuatu perilaku maka akan cenderung perilaku anggota kelompok tersebut sebagai kelompok secara keseluruhan.

Orang tidak hanya mengorganisasi kesan pada satu orang yang mereka miliki, mereka juga mengorganisasikan kesan tentang perbedaan satu orang dengan orang lain baik secara personal maupun kelompok, dengan cara membandingkannya dengan orang lain (sosial compare) secara umum mereka membentuk model hubungan diantara elemen kategorisasi, yaitu konsistensi model. Model ini mengatakan bahwa orang termotivasi untuk mengorganisasikan (bahkan kalau perlu memodivikasi) elemen-elemen yang berhubungan untuk konsisten. Hal ini menunjukkan bahwa orang lebih suka mengorganisasikan hubungan antara elemen kategorisasikan dalam pola yang konsisten.

Selain organisasi, dalam prinsip cognition of sosial psychology ada unsur explanation atau penjelasan. Jika dalam organisasi menjawab pertanyaan “apa”, maka explanation menjawab pertanyaan “mengapa”. Dalam explanasi akan memberikan penjelasan lebih lanjut tentang perilaku target (orang lain) dengan lebih mendalam, untuk itu konsep atribusi banyak terlibat dalam explanasi ini. Tetapi ada kekurangan dalam explanasi ini yaitu potensi munculnya bias penilaian atau bias atribusi, missal fundamental bias dan korespondense bias. Karena dalam explanasi ada harapan (Expectation) pada orang yang diobservasi.

Dalam explanasi ini, sebenarnya ada kaitannya dengan beberapa prinsip dari sosial psychology of cognition, misalnya peran (role enactment) dan posisi

sosial, misalnya kita melihat seorang pria dewasa menangis di pinggir jalan, amaka terasa aneh dan tentunya kita ingin tahu. Aneh karena kita dalam keyakinan masyarakat kita pria dewasa adalah orang yang punya daya tahan emosi kuat, sehingga yang pantas menangis adalah anak-anak.

Prinsip cognition of sosial psychology yang lain adalah aktivasi pengetahuan dan penggunaannya tidak dipungkiri bahwa penilaian pada obyek akan melibatkan pengetahuan yang ada dalam memory kita. The Realistic accuracy Model (RAM; Funder, 1995), memperkirakan bahwa ketersediaan informasi yang kuantitas dan kualitasnya baik maka akan meningkatkan kemungkinan tercapainya tingkat akurasi yang tinggi dalam penilaian. Tetapi dalam proses penggunaannya tidak pasti selalu sama dalam tiap waktu masih memperhitungkan konteksnya. Misalnya untuk proses otomatis akan lebih banyak menggunakan pengetahuan yang ada dari pada proses yang terkonrol. Hal ini senada dengan hasil penelitian, bahwa penggunaan informasi akan makin banyak jika sesorang telah berkutat dalam waktu yang lama dengan pekerjaan yang sama.

B. Pemerkosaan 1. Sejarah

Di zaman kuno hingga akhir abad pertengahan, pemerkosaan pada umumnya tidak dianggap sebagai kejahatan terhadap seorang gadis atau perempuan, melainkan lebih kepada pribadi sang laki-laki yang "memilikinya". Jadi, hukuman atas pemerkosaan seringkali berupa denda, yang harus dibayarkan kepada sang ayah atau suami yang mengalami

"kerugian" karena "harta miliknya" "dirusak". Posisi ini kemudian diubah di banyak lingkungan budaya karena pandangan bahwa, seperti halnya sang "pemilik", si perempuan itu sendiripun mestinya ikut mendapatkan ganti ruginya. Pemerkosaan dalam peperangan juga dapat dilihat terjadi di zaman kuno sehingga disebutkan pula di dalam Alkitab, misalnya di dalam kisah tentang kaum perempuan yang diculik sebagai hadiah kemenangan (Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia: 25 Januari 2008).

Tentara Yunani, Kekaisaran Persia dan Kekaisaran Romawi, secara rutin memperkosa kaum perempuan maupun anak-anak lelaki di kota-kota yang ditaklukkan. Perilaku yang sama masih terjadi bahkan hingga tahun 1990-an, ketika pasukan-pasukan Serbia yang menyerang Bosnia dan Kosovo, melakukan kampanye yang penuh perhitungan dengan memperkosa kaum perempuan dan anak-anak lelaki di daerah-daerah yang mereka kuasai. Hal yang sama pun terjadi di Indonesia. Kabarnya di Timor Timur, ketika masih menjadi bagian Indonesia, kaum perempuannya seringkali diperkosa sebagai bagian dari perang psikologis untuk menekan semangat untuk berontak. Demikian pula dalam Kerusuhan Mei 1998, dilaporkan banyak kaum perempuan keturunan Tionghoa yang diperkosa dan dibunuh sebagai bagian dari strategi untuk mengancam mereka (FBI telah menyelidiki kasus ini dan berkesimpulan bahwa kasus pemerkosaan saat kerusuhan tersebut bohong belaka).

Pemerkosaan, sebagai strategi perang, dilarang oleh hukum militer yang disusun oleh Richard II dan Henry V (masing-masing tahun 1385 dan

1419). Hukum-hukum ini merupakan dasar untuk menjatuhkan hukuman dan mengeksekusi para pemerkosa pada masa Perang Seratus Tahun (1337-1453).