3.6 Proses Perancangan
3.6.2 Proses Perancangan Papa
Dalam proses perancangan Papa, penulis menerapkan ras kelinci Jawa.
Berdasarkan Otviapta (2020) kelinci Jawa atau disebut dengan kelinci lokal memiliki ciri-ciri (1) Memiliki warna bulu yang dominan berwarna abu-abu, coklat/
kuning. (2) Habitatnya merupakan dataran tinggi yang berbatu. (3) Memiliki telinga yang berdiri tegak. (4) Berat badan rata-rata sekitar 6 kilogram (bertubuh sedang), dan panjang tubuh dapat mencapai 40 cm. (4) Memiliki tingkat produktivitas sedang, yaitu sekitar enam sampai delapan ekor saat lahiran.
85 Gambar 3.14 Proses Perancangan Papa
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Dalam proses perancangan diatas, penulis merancang delapan alternatif Papa. Dalam proses perancangan diatas penulis menggunakan bentuk dasar kombinasi antara bulat dan kotak, karena penulis ingin merancang tokoh Papa yang penyayang dan pekerja keras. Empat sketsa kiri dan sketsa kanan sebenarnya memiliki bentuk tubuh yang sama, yang membedakan hanyalah ukuran tangan, satunya tangan tebal, dan satunya tangan kurus. Setelah sketsa dengan penerapan bentuk bulat dan kotak telah selesai, penulis menerapkan siluet pada tokoh agar penulis dapat menilai lebih teliti rancangan mana yang lebih sesuai dengan tokoh Papa. Pada akhirnya dari ke delapan alternatif tersebut penulis memutuskan untuk menggunakan rancangan Papa yang ke delapan (dalam kotak merah).
Alasan rancangan ke delapan menjadi pilihan karena rancangan ke delapan itu lebih terlihat seperti Papa tua dan tidak berdaya, tidak seperti tokoh nomor empat yang bentuk tubuhnya sama tapi tangannya lebih tebal, terkesan sangat kokoh, berani, dan kuat, tidak sesuai dengan psikologis Papa. Penulis juga memiliki
86 bayangan bahwa Papa itu seperti engko-engko Chinese, dan menurut penulis dari siluet ke delapan sudah mendekati sosok tersebut, yang biasanya ciri-ciri engko Chinese adalah berbadan kurus tetapi perutnya buncit. Alasan lainnya rancangan ke delapan adalah terlihatnya kontras antar bagian tubuh.
Gambar 3.15 Eksplorasi Perancangan Papa
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Pada perancangan ke delapan, penulis kembali melakukan eksplorasi karena tokoh Papa masih terlihat kurang unik dan appealing, yaitu pada postur tubuhnya.
Postur tubuh Papa terlihat bungkuk tetapi bungkuknya itu seperti bungkuk biasa tidak ada unsur exaggerate. Penulis mencoba untuk bermain dengan postur tubuh Papa. Pada tahap eksplorasi postur berpengaruh pada proporsi. Penulis memutuskan untuk menggunakan postur tubuh yang ketiga (dalam kotak merah) karena dari siluet dapat terlihat mejadi unik, bahunya terlihat turun mendukung tokoh papa yang tidak terlalu aktif, jadi lebih berat menuju gravitasi dan lebih bungkuknya Papa mempengaruhi perut Papa yang menjadi lebih menonjol,
87 proporsi pada Papa juga lebih stylized, dengan proporsi 41/2 kepala. Papa terlihat lebih menarik dan lebih mendukung sebagai sosok seorang ayah yang sudah tua, yang juga penyayang dan bekerja keras.
Gambar 3.16 Detail Perancangan Papa
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Setelah menentukan bentuk, siluet, postur dan proporsi yang tepat buat Papa, penulis memberikan tambahan detail lagi untuk menyamakan style gambar dengan tokoh Dede. Penulis menambahkan detail bulu-bulu di beberapa bagian, tetapi bulu-bulu tersebut tidak lebih berantakan dari Dede, karena Papa memiliki psikologis yang bertolak belakang dari Dede, Papa adalah orang yang tenang jadi rancangannya juga lebih tertata dan rapih. Namun penulis menyadari setelah penambahan bulu-bulu terutama di telinga mengakibatkan Papa terlihat memiliki bentuk yang tajam dan segitiga, tentu itu tidak sesuai dengan psikologis Papa. Pada
88 tahap ini penulis sempat merubah pose pada Papa, agar lebih terlihat lebih jelas proses merancang postur bungkuknya.
Gambar 3.17 Perancangan Fitur Wajah Papa
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Tahap selanjutnya yang penulis lakukan adalah perancangan fitur wajah yang ada pada Papa. Sebelum penulis melanjutkan pembahasan tentang fitur wajah, Papa disini sudah menggunakan atribut bandana, ini merupakan atribut yang penulis tambahkan terlhebih dahulu, untuk mengurangi bentuk telinga Papa yang terlalu tajam dan segitiga, terlihat dengan penerapan bandana ini Papa terlihat lebih bulat dan lebih bersahabat. Pada fitur wajah, penulis menerapkan dua alternafif bentuk mata yaitu bentuk mata bulat dan sipit. Namun pada akhirnya penulis memutuskan untuk menerapakan fitur wajah yang ke lima (dalam kotak merah) karena mata Papa terlihat sipit tapi tidak terlalu mengintimidasi. Alasan lainnya adalah dengan mata tersebut tokoh Papa terlihat sangat Chinese. Untuk mulut Papa penulis merancang dengan mulut yang tidak terlalu besar dan terlalu kecil karena tidak ada hal special yang dapat ditunjukkan dengan mulut besar Papa. Fitur wajah yang penulis tambahkan lagi adalah tahi lalat yang besar pada bagian pipi kiri bawah karena menurut astrologi China, tahi lalat di pipi berarti orang tersebut tulus,
89 dan rajin, mendukung juga psikologis Papa. Kumis lele yang diterapkan untuk lebih mendukung tokoh engko-engko Chinese.
Gambar 3.18 Perancangan Kostum Papa
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Tahap selanjutnya yang penulis lakukan sebelum finalisasi tokoh Papa adalah melakukan perancangan kostum yang sesuai dengan sosiologis Papa.
Dijelaskan oleh TVTropes (2020) penerapan kostum yang diterapkan pada Papa menggunakan penerapan kostum antropomorfik yang Fully Dressed. Penerapan kostum yang lengkap tanpa sepatu karena tokoh Papa memiliki bentuk paws yang unik yang akan menyusahkan jika dipakaikan sepatu, dan berdasarkan Rule of Perception, tokoh yang antropomorfik menerapkan anatomi manusia kecuali pada
bagian kepala, ekor, dan kaki, ketiga elemen tersebut dapat menekan sisi kebinatangannya dan mencegah mejadikannya terlalu manusia.
Kostum yang penulis pilih adalah kostum yang telah di kombinasi antara kostum yang biasa digunakan oleh pembuat kue bulan, yaitu celemek dan bandana, dan kostum yang digunakan oleh pemilik dan penjual kue bulan, yaitu baju berkerah dan celana pendek, kostum yang penulis buat pun sesuai dengan cuaca di negara Indonesia. Penulis memutuskan untuk tidak memasukkan banyak aksesoris ke Papa karena tidak sesuai dengan psikologis Papa, dan Papa juga banyak menggunakan
90 beban fisik, seperti membawa kue bulan, dan lain-lain pasti akan menganggu jika ditambahkan aksesoris.
Gambar 3.19 Perancangan Warna Papa
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Proses perancangan warna Papa menerapkan warna putih, warna yang hangat dan warna yang dingin. Dikatakan oleh Itten (1961) warna hangat terdiri dari warna kuning, jingga, dan merah, sedangkan warna dingin terdiri dari warna biru dan hijau. Penulis memilih jingga dan kuning karena merupakan warna variasi yang biasanya tedapat pada ras kelinci Jawa (Otviapta (2020). Dijelaskan oleh Tillman (2011) Warna jingga dapat memberikan kesan kebahagiaan dan bijak sesuai dengan psikologis Papa, sedangkan warna lainnya, yaitu warna kuning karena dalam memberikan kesan kebahagiaan, dan untuk warna merah penulis aplikasikan ke Papa karena Papa merupakan sosok yang penuh cinta dan memiliki gairah kerja yang tinggi dimana sangat mendukung psikologis Papa yang penyanyang dan bekerja keras (hlm. 112).
Alasan lainnya penerapan warna merah karena sebagai tradisi dari masyarakat Tionghoa ketika ada hari perayaan adalah menggunakan baju yang
91 berwarna merah, untuk detail baju Papa, penulis mengkombinasikan dengan warna merah muda dan putih sebagai strip, karena ingin menunjukkan bahwa Papa menjadi tokoh yang tidak bebas dan seperti dikekang, karena Papa harus rela bekerja dan pulang telat di hari perayaan yang seharusnya dihabiskan bersama keluarga. Dan untuk warna putih menjadi konbinasi karena putih juga bisa membangun psikologis Papa yang tulus.
Papa juga menerapkan warna dingin, dimana warna biru dapat memberikan kesan percaya, dan bijak, untuk mendukung Papa yang sebagai seorang kepala keluarga yang memiliki tanggung jawab untuk menafkahi keluarganya, dan warna hijau dapat memberi kesan harmoni dan optimis (Tillman, 2011, hlm.113)