• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III STUDI KASUS PRAKTEK POLIGAMI DI KALANGAN

D. Kronologi Poligami

4. Proses Pernikahan Poligami Menurut Istri ke 2

Pada dasarnya pernikahan poligami adalah pernikahan yang menuntut suami untuk berbuat adil dalam segi apapun kepada para istri. Tak heran jika banyak wanita diluaran sana yang menolak jika suaminya menikah lagi dengan alasan mereka tidak mau dimadu dan perasaan mereka tidak mau dibagi kepada siapapun. Selain itu jarang pula wanita yang mau dijadikan istri kedua dalam sebuah pernikahan.

Wanita pada hakikatnya hanya ingin menjadi istri pertama dan satu-satunya dalam sebuah rumah tangga. Lain halnya dengan para kader wantita Partai Keadilan Sejahtera. Sebagian dari mereka dengan rela hati bersedia menjadi istri kedua. Walaupun mereka dijadikan istri kedua, mereka sangat akrab dengan istri pertamanya. Bahkan walaupun suami mereka berpoligami kehidupan keluarga tetap harmonis. Antara istri pertama dengan istri kedua hampir tidak ada percekcokan, begitupun juga dengan suami dan istri-istrinya yang tidak pernah terjadi percekcokan.

Seperti penjelasan istri kedua Ustadz Dahlan, AA ketika peneliti bertanya tentang kehidupan berpoligaminya berkata kalau ditanya perihal poligami dan kenapa mau dijadikan istri kedua itu selain untuk kehidupan beliau kedepannya, beliau juga

94 butuh seorang imam. Baginya sebagai ahwat beliau juga butuh tempat berlindung, selain itu beliau juga menganggapnya sebagai ibadah. AA adalah seorang janda, seperti yang diketahui di masyarakat kalau menilai janda itu seperti apa, apa lagi janda yang belum mempunyai anak. Saat itu Ustadzah UK istri pertama Ustadz Dahlan adalah teman beliau, dengan berbaik hati Ustadzah UK menawarkan kepada AA apa beliau mau menjadi istri kedua suaminya. Saat itu AA kaget ketika Ustadzah UK berkata demikian. Ketika AA bertanya kepada Ustadzah UK kenapa seperti itu Ustadzah UK mengatakan bahwa beliau ingin membantu sesama ahwat. Akhirnya singkat cerita AA dinikahi Ustadz Dahlan pada tahun 2009 di Jakarta. Kalau ditanya keluarga istri pertama setuju atau tidak alhamdulillah semua setuju katanya. Pada saat pernikahannya istri pertama Ustadz Dahlan dan anak-anak mereka serta orang tua Ustadz Dahlan juga ikut datang ke pernikahannya. Banyak yang tanya bagaimana rasanya jadi istri kedua, dan beliau hanya bisa menjawab rasanya jadi istri kedua itu tidak berbeda dengan menjadi istri pertama. Apalagi disana Ustadz Dahlan sangat adil kepada istri-istrinya. Dan respon Ustadzah UK dan keluarga besarpun sampai sekarang sangat baik dengannya. Itu yang membuat beliau tidak merasakan perbedaan apapun meskipun sebagai istri kedua.87

95 Pada dasarnya dalam pernikahan poligami istri kedua lah yang akan dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Dan sebagaian orang berangapan kenapa mau dipersunting menjadi yang kedua padahal semua wanita pasti menginginkan untuk menjadi yang pertama, kenapa mau dimadu sedangkan yang lain ingin menjadi satu-satunya.

Berbeda dengan AA, pernikahan poligaminya berjalan mulus mulai dari awal hingga sekarang. Hubungannya dengan istri pertama suaminya pun baik-baik saja, selain itu restu dari keluarga juga dia dapatkan. Sedangkan LQ istri kedua AL, beliau menuturkan bahwa menjadi istri kedua pada awalnya tidak yakin dan tidak direstui oleh keluarga, awalnya LQ tidak pernah berfikir kalau pada akhirnya beliau akan menjadi istri kedua. Waktu itu Ustadzahnya menghubungi LQ dan bilang kalau ada Ihwat yang mau mempersuntingnya. Pada saat itu beliau tidak berfikir kalau Ihwat tersebut sudah mempunyai istri dan ingin berpoligami. Saat LQ tau bahwa beliau mau menikahinya sebagai istri kedua, LQ jadi mamang antara iya atau tidak. Yang membuat LQ tidak yakin adalah apakah siap untuk dijadikan istri kedua, apa hatinya tidak sakit diduakan dan apakah beliau dapat adil kepada kedua istrinya kelak. Singkat cerita setelah dipertemukan dengan bapak AL, LQ mulai sharing dengan beliau yang didampingi oleh Ustadznya. Dari situlah LQ mulai menguatkan hatinya lagi, apalagi LQ yang notabennya sudah berumur dan belum mempunyai calon sedangkan orangtuanya

96 sudah menuntut untuk menikah. Akhirnya LQ menyetujui untuk dijadikan istri kedua. Pada saat LQ bilang ke orang tuanya dan pada awalnya beliau tidak direstui, orangtuanya tidak setuju apabila LQ dijadikan istri kedua. Singkatnya orang tua LQ akhirnya mengizinkannya menikah dengan bapak AL, walaupun dengan terpaksa. Tepat pada awal Januari 2012 LQ resmi dinikahi oleh bapak AL. Dan pada saat mereka menikah istri pertama bapak AL ikut serta datang ke pernikahannya. Kalau ditanya gimana rasanya jadi istri kedua bisa dibilang enak-enak tidak enak. Tidak enaknya pada awal-awal nikah, ketika suami sedang berada di rumah istri pertama dan LQ sebagai istri kedua merasa cemburu. Maklum habis nikah pengennya ditemin terus, akan tetapi kalau pernikahan poligami kan suami harus secara adil membagi waktu juga dan LQ mau tidak mau harus membuang rasa cemburu itu. Kalau hubungan dengan NRL istri pertama bapak AL baik-baik saja. Walaupun awalnya agak canggung terhadap istri pertama, akan tetapi bapak AL selalu memberi arahan ke kedua istrinya dan sampai sekarang kehidupan keluarga poligami mereka berjalan harmonis.88

Seorang memiliki motif dalam setiap tindakan yang dilakukannya, dan tindakan tersebut juga dipengaruhi oleh beberapa faktor dari luar maupun dari dalam orang tersebut. hal ini dapat dilihat dari bagan berikut ini:

97

Gambar 3.1

Bagan Siklus Internal dan Eksterna Pelaku Poligami

Dari bagan diatas dapat dilihat ada 2 hal yang menjadi pilihan sulit untuk para ahwat, menikah dengan orang yang sudah punya istri ataukah menjadi ahwat yang belum mendapatkan pasangan padahal sudah waktunya menikah atau terus menjanda bagi yang sudah pernah menikah. Hal ini diperkuat dengan informasi dari responden yang mengatakan bahwa pertama kali pelaku dilamar untuk menjadi istri kedua, dengan serta merta mereka menolak, penolakan mereka didasarkan pada pandangan internal seperti rasa takut menimbulkan masalah, perasaan bersalah, perasaan mereka tidak siap menjalani karena takut sang suami tidak bisa berlaku adil.

Adapun pertimbangan yang bersifat eksternal mengacu pada tekanan masyarakat yang menganggap miring status janda, tentangan dari tetangga sekitar, baik itu ahwat yang janda AHWAT YANG BELUM

MENDAPATKAN PASANGAN MENJANDA TEKANAN INTERNAL MENIKAH EKSTERNAL

98 maupun ahwat yang belum menikah padahal sudah saatnya menikah.

5. Pandangan Aktivis PKS dalam Kehidupan Berpoligami