IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3. Proses Perumusan Strategi
4.3.1. Identifikasi Faktor-Faktor Internal
Setiap usaha dipengaruhi oleh faktor-faktor internal yang perlu dianalisis, seperti faktor sumber daya manusia, keuangan, pemasaran dan produksi/operasi yang menjadi kekuatan dan kelemahan bagi suatu usaha, namun masih dapat dikendalikan oleh pihak pengusaha.
Dalam penelitian aksi partisipatif, anggota kelompok menentuan sendiri faktor-faktor internal mereka, karena anggota kelompok mengetahui dengan rinci mengenai usaha mereka sendiri dibandingkan dengan pihak lain.
a. Sumber Daya Manusia
Berdasarkan hasil FGD bersama pengelola usaha, tersedia banyak tenaga kerja di desa Situ Gede, namun pengelola usaha kelompok Harapan Mekar dipilih dengan berbagai pertimbangan, yaitu ditekankan pada faktor tanggung jawab dan kedisiplinan. Usaha ini dikelola oleh lima orang dengan sistem manajemen yang sangat sederhana, sehingga lebih mudah dalam pengawasan kegiatan operasional, dimana ketua kelompok memiliki tugas manajemen seperti manajemen keuangan, pengawasan dan pengambil keputusan, serta anggota kelompok yang bertugas mengelola hewan ternak dan segala kebutuhan teknis ternak.
Rata-rata pengelola memiliki tingkat pendidikan yang rendah (lulusan SD) dan pengetahuan beternak didapat langsung dari
pengalaman selama ini merawat hewan ternak. Walaupun begitu, pengelola yang berjumlah empat orang ini memiliki tanggung jawab yang tinggi dan juga memiliki keinginan untuk maju. Hal ini dapat dilihat dari kemauan mereka untuk mulai mencoba dalam pembelian bibit kambing dengan kriteria tertentu sehingga mereka dapat melaksanakan pemasaran di luar hari raya Idul Adha.
b. Keuangan
Berdasarkan data yang didapat dari teknik penelusuran sejarah usaha, permodalan usaha ternak kambing ini merupakan dana bantuan dari Pemerintah Daerah pada tahun 2003. Dengan modal awal yang didapat dari penjualan 3 ekor hewan kerbau pada tahun 2005, usaha ini dapat membangun kandang dan membeli sejumlah bibit kambing. Sampai saat ini, dengan pengelolaan modal yang baik usaha ini pun berkembang, hal ini ditunjukkan dengan penambahan jumlah kambing setiap tahunnya, yaitu dari 20 ekor kambing menjadi 27 ekor kambing, walaupun dirasakan kurang untuk dapat bersaing dengan para peternak besar lain. Kemajuan yang dicapai oleh kelompok, tidak membuat pemerintah lebih menampakkan keberpihakannya terhadap usaha semenjak pemberian modal, mulai dari pengawasan dana ataupun penyuluhan.
Laporan keuangan diperlihatkan secara terbuka kepada pengelola untuk dilakukan pembagian hasil setelah semua hewan ternak habis terjual. Sistem bagi hasil yang diterapkan pada usaha milik kelompok Harapan Mekar ini adalah dari setiap keuntungan yang diperoleh dari selisih dari biaya yang dikeluarkan untuk membeli bibit kambing dengan harga jual dari seluruh kambing tersebut, kemudian ditetapkan sebesar 50% dibagikan kepada seluruh pengelola dan 50% sisanya untuk pengembangan usaha.
Sistem pencatatan keuangan pada usaha kecil ini termasuk lengkap dalam menampilkan data-data historis pengeluaran untuk pembelian bibit dan penjualan hewan ternak. Namun, pencatatan
mengenai biaya produksi belum dilakukan karena perhitungan yang mencakup biaya tersebut sulit untuk dihitung secara detil.
c. Pemasaran
Berdasarkan hasil wawancara mendalam terhadap ketua kelompok dan FGD dengan anggota kelompok Harapan Mekar, pemasaran yang dilakukan selama ini termasuk ke dalam pemasaran pasif, namun pada tahun lalu hewan ternak milik kelompok habis terjual walaupun tanpa harus melakukan kegiatan pemasaran aktif. Dari 20 ekor yang tersedia untuk dijual, permintaan pasar terhadap kelompok ini mencapai kurang lebih 30 ekor pada tahun pertamanya menjual kambing untuk kebutuhan hewan kurban saat Idul Adha. Hal tersebut salah satunya dikarenakan oleh letak kandang milik kelompok Harapan Mekar sangat strategis yaitu berada di pinggir jalan alternatif menuju kampus IPB.
Kegiatan pemasaran dilakukan pada saat hari raya Idul Adha, dimana pada saat tersebut usaha ternak kambing akan mendapatkan konsumen dan keuntungan yang lebih banyak. Sedangkan pemasaran yang dilakukan selain pada hari raya Idul Adha belum pernah dilakukan karena usaha belum memiliki kesiapan dalam hal produksi dan operasi yang selama ini dilakukan oleh pengelola usaha ini. Pengelola dalam FGD memutuskan untuk melaksanakan rencana pemasaran diluar Idul Adha mulai tahun 2007 ini dengan melakukan manajemen pembelian bibit kambing setelah hewan ternak saat ini habis terjual pada Idul Adha berikutnya.
d. Produksi dan Operasi
Kegiatan produksi dan operasi di usaha penggemukkan hewan ternak mencakup pemilihan bibit, pemberian pakan dan pengaturan kandang. Hasil FGD dan benchmarking menunjukkan bahwa pemilihan bibit merupakan salah satu faktor keberhasilan usaha penggemukkan, bibit yang baik untuk usaha penggemukkan adalah berumur 4-6 bulan, apabila terjadi kesalahan maka hewan
ternak akan tidak siap dijual pada waktu yang telah ditentukan karena masa penggemukkan yang relatif lebih lama.
Menurut hasil refleksi dari studi lapang yang telah dilakukan, hal yang belum dilakukan adalah manajemen pemilihan bibit sesuai dengan umur tertentu sehingga akan membantu usaha ternak untuk melakukan proses penggemukkan dengan jangka waktu yang berbeda dan dapat melakukan penjualan ketika dan diluar Idul Adha. Karena itulah usaha kelompok Harapan Mekar belum dapat menyediakan kambing yang siap dijual secara kontinu.
Pakan yang diberikan untuk hewan ternak pada kelompok Harapan Mekar berasal dari rumput-rumputan yang tersedia di sekitar sawah dan kebun di daerah tempat mereka tinggal. Persediaan pakan di lingkungan sekitar jumlahnya mencukupi kebutuhan dari usaha ini. Namun, pemberian pakan tambahan seperti ampas tahu, ampas tempe ataupun dedak belum dilakukan karena pakan tersebut sulit didapat di daerah sekitar usaha.
Berdasakan hasil studi lapang, selain diberi pakan yang baik, pemberian obat-obatan dan vitamin sebagai pencegah datangnya penyakit juga harus diberikan secara periodik, seperti obat cacing dan vitamin B, namun hal tersebut juga belum dilakukan karena diperlukan penyisihan sebagian modal yang belum sempat dianggarkan pada tahun ini. Pemberian pakan dilakukan pada sekitar pukul 07.00, pukul 13.00 dan pukul 17.00 dengan porsi pakan terbanyak.
Sedangkan pengaturan kandang sudah dilakukan dengan baik, mulai dari ukuran kandang per ekor, bahan pembuat kandang, tempat pembuangan kotoran hewan sampai intensitas cahaya yang dapat masuk ketika pagi hari. Namun, kebersihan dari kandang tersebut tidak dapat dibersihkan setiap harinya seperti pada Terak Domba Sehat di Cinagara karena pengelola yang mempunyai pekerjaan utama sebagai buruh tani.
Walaupun terdapat beberapa kekurangan dari proses produksi dan operasi serta kurangnya pengetahuan mengenai budidaya kambing, hewan ternak milik kelompok tani Harapan Mekar yang selama ini diternakkan kesehatannya baik karena kontrol yang intensif setiap harinya oleh para pengelola dan dapat mencapai bobot rata-rata 30 sampai 35 kilogram per ekor.
4.3.2. Identifkasi Faktor-Faktor Eksternal
Faktor-faktor eksternal merupakan segala sesuatu yang berada di luar kendali suatu usaha tetapi sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup suatu usaha. Identifikasi faktor-faktor eksternal bertujuan untuk mengetahui kecenderungan-kecenderungan dan kejadian-kejadian yang berada di luar kendali suatu usaha. Identifikasi yang dilakukan juga berfokus pada penentuan faktor-faktor kunci yang menjadi ancaman dan peluang bagi suatu usaha, sehingga dapat memudahkan manajemen perusahaan untuk menentukan strategi-strategi dalam meraih peluang serta menghindari ancaman. Pada penelitian aksi partisipatif, identifikasi faktor-faktor yang termasuk ke dalam peluang dan ancaman dari usaha ternak ini dilakukan secara bersama-sama dengan anggota kelompok yang mengelola usaha penggemukkan ternak kambing ini.
a. Analisis Lingkungan Makro 1. Keberpihakan Pemerintah
Pembangunan ekonomi yang berbasis masyarakat seharusnya menjadi prioritas utama pembangunan ekonomi nasional oleh pemerintah, karena tujuan dari pembangunan ekonomi masyarakat pada dasarnya adalah meningkatkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pada kenyataannya keberpihakan pemerintah terhadap usaha kecil tidak berjalan dengan baik, walaupun banyak kebijakan pemerintah seperti Keputusan Presiden RI Nomor 127 Tahun 2001 tentang jenis usaha yang dicadangkan untuk usaha kecil, Keputusan Menteri Pertanian Nomor 404/Kpts/OT.210/6/2002 tentang pedoman
perizinan dan pendaftaran usaha peternakan, serta banyaknya pemberian bantuan-bantuan dari pemerintah daerah yang diberikan tanpa perhitungan yang matang dan tidak adanya tindak lanjut dari pemberian bantuan tersebut. Hal inilah yang dirasakan oleh kelompok Harapan Mekar setelah pemberian bantuan sebagai modal usaha ternak, tindakan lanjutan dari pemerintah terhadap kelompok ini tidak ada sama sekali, seperti penyuluhan maupun pengawasan dana yang diberikan.