• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL INDUSTRI LAMPION SELENDANG

3.3. Proses Produksi

Dalam proses pembuatan lampion selendang alat serta bahan yang diperlukan diantaranya seperti: Berbagai warna benang yang telah disesuaikan dengan warna selendang tersebut, benang mas, bola-bola lampion, jarum, serta gunting. Bahan baku diperoleh dari toke, toke membeli langsung bahan-bahan baku seperti benang dan bola-bola lampion sedangkan gunting dan jarum disediakan oleh masing-masing pekerja. Jenis benang juga beragam seperti benang mas serta benang warna yang digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan lampion selendang ini.

Pada proses produksi ini juga para pekerja juga dituntut untuk selalu membuat lampion dengan bagus dan rapi. Proses produksi pembuatan lampion selendang ini dilakukan di rumah masing-masing pekerja. Hanya saja pada saat pengambilan bahan dilakukan di rumah toke ataupun koordinator. Proses produksi memiliki batasan waktu

Gambar 3

Benang emas

Dokumentasi pribadi

Benang berwarna emas (benang emas) merupakan benang tambahan digunakan untuk memperindah lampion. Benang emas yang bagus dengan yang tidak bagus dapat dibedakan dari warnanya. Benang mas yang bagus dalam artian dapat menyatu dengan benang warna ialah benang mas yang atasnya berwarna merah muda, sedangkan benang mas yang kurang bagus yang bagian atasnya berwarna merah. Meskipun lebih murah namun benang ini jarang dipilih toke untuk pembuatan lampion selendang

Gambar 4

Benang Warna

Dokumentasi pribadi

Benang warna merah merupakan salah satu warna yang paling banyak dikerjakan. Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Yanti warna merah merupakan warna yang paling banyak diproduksi hal ini berkaitan dengan permintaan pasar yang tinggi akan warna tersebut. Saat benang ini habis tungkul dari benang ini dapat dijual kembali oleh toke maupun koordinator ke tukang botot10 hal ini dapat menjadi pemasukan tersendiri bagi toke dan koordinator tersebut.

10

Gambar 5

Bola-bola lampion

Dokumentasi pribadi

Bahan baku seperti benang haruslah disesuaikan dengan warna selendang tersebut, biasanya menggunakan teknik kombinasi warna untuk menyesuaikan dengan warna selendang yang tidak hanya satu warna saja dalam satu selendang. Keahlian dalam mengkombinasikan warna benang, diperoleh toke dari pengalamanya selama menjalani usaha tersebut. Terkadang toke mengalami kesalahan dalam mengkombinasikan warna benang, bila hal ini terjadi maka toke akan mengalami kerugian yang besar. Biasanya toke yang seperti ini ialah toke yang baru masuk dalam usaha lampion selendang ini.

“Kalau salah beli benang si pernah, itu banyak waktu awal -awal ibu masuk dalam usaha ini. Kan kalau salah dipulangkan dari pasar, orang pasar mana mau tahu, dilihatnya gak sesuai dengan warnanya dia pulangkan, kan ibu jadi rugi beli benangnya lagi” (Ibu Yuni, 38 Tahun)

Dalam hal pembelian benang, pihak pasar tidaklah membeli benang yang akan digunakan, melainkan toke yang harus membeli benang. Pihak pasar hanya menunggu selendang dalam bentuk yang siap pakai. Toke lampion selendang tidak hanya membuat lampion selendangnya saja, tetapi proses produksi berawal dari membuat selendangnya. Kain yang di berikan oleh pihak pasar, maka akan dibordir. Dalam hal pembordiran dituntut juga kreasi dari toke. Toke lah yang menentukan jenis-jenis gambar yang terdapat pada seledang tersebut. Jenis-jenis gambar yang biasa dimuat seperti: gambar bunga, serta gambar lainnya berdasarkan kreasi dari toke tersebut.

Setelah selesai dalam tahap bordir, maka dibuatlah lampion selendangnya. Dalam pembuatan lampion selendang ini hal pertama yang dilakukan ialah: menggulung benangnya terlebih dahulu, benang-benang yang telah ditentukan sesuai dengan warna selendang tersebut. Kemudian benang-benang tersebut digulung pada sebuah karton yang terbuat dari kardus. Karton ini mempunyai ukuran tertentu, karton inilah yang menentukan panjangnya suatu lampion yang akan digunakan nantinya. Ukuran karton ini juga ditentukan oleh toke, biasanya toke melihat dari ukuran panjang selendang tersebut.

Selendang dengan ukuran lebih panjang maka benang pada lampion pun berukuran panjang begitu juga dengan sebaliknya.

Setelah benang digulung, maka benang tersebut akan di buat pucuknya. Pembuatan pucuk ini akan memudahkannya untuk menjahitkannya pada selendang. Setelah itu barulah dimasukkan dengan bola-bola lampion tersebut. Ketepatan dalam memasukkan bola lampion tersebut pun harus diperhatikan. Bola lampion harus masuk tepat kegulungan benang tersebut. Bila tidak tepat maka bentuknya akan tidak bagus dan biasanya bila toke melihat yang seperti itu, maka dia akan menyuruh para pekerja untuk mengulanginya lagi.

Gambar 6

Benang yang telah di isi dengan bola lampion

Dokumentasi pribadi

Proses selanjutya ialah membuat pola. Pembuatan pola dapat dikatakan sebagai bagian dari kreasi toke untuk memperindah lampion. Awalnya pola tidak berbentuk seperti ini, setelah beberapa kali pengubahan dalam bentuk pola akhirnya pola yang berbentuk (pada gambar 7) yang paling banyak digunakan. Dalam pembuatan pola ini pekerja juga harus teliti dalam hal ini, semua area benang yang telah dimasukkan bola lampion harus dibuat polanya, tidak ada yang terlewatkan sehingga tampilan lampion akan semakin indah.

Gambar 7

ampion yang telah di buat pola

Dokumentasi pribadi

Tahap akhir ialah menggunting benang yang tidak rata, dengan menyisir benang terlebih dahulu. Pada tahap ini diperlukan proses penyisirian. Sisir yang digunakan ialah sisir rambut. Hal ini dimaksudkan agar lampion terlihat lebih rapi saat dijahitkan pada selendang. Begitu juga dengan proses pengguntingan diperlukan agar lampion terlihat rapi dan semua benang sama panjangnya satu dengan yang lain.

Gambar 8

Tumpukkan lampion yang sudah jadi

Gambar 9

Lampion yang telah dijahitkan pada selendang

Gambar 10

Lampion yang digunakan pada ulos

Dokumentasi pribadi

Pada dasarnya produksi dari lampion selendang ini dapat terjadi setiap hari sesuai dengan barang yang diberikan dari pasar. Tetapi tidak setiap harinya lampion yang diproduksi dalam jumlah yang sama. Ada saat-saat tertentu dimana lampion yang diproduksi hanya sedikit dikarenakan barang yang diberikan dari pasar sedikit.

Menurunya proses produksi dikarenakan permintaan masyarakat yang menurun, hal ini dapat terjadi di bulan Juni sampai Juli. Penyebab menurunnya ialah dikarenakan pada bulan Juni sampai Juli masyarakat lebih mengutamakan kebutuhan sekolah anaknya. Sehingga pembelian selendang berkurang. Dengan demikian akan mempengaruhi proses produksi lampion selendang. Tetapi ada saat dimana permintaan masyarakat akan lampion ini tinggi. Meningkatnya proses produksi lampion selendang ini terjadi pada hari-hari besar seperti pada saat Lebaran maupun pada hari Natal. Tingginya minat masyarakat untuk membeli selendang akan berdampak bagi jumlah produksi lampion selendang ini.

3.3.1. Pemasaran

Setelah proses produksi, maka proses selanjutnya yang perlu di perhatikan ialah pendistribusi atau pemasaran. Distribusi merupakan suatu proses penyaluran barang dan jasa kepada pihal lain (Damsar, 2009: 93). Dalam proses distribusi atau pemasaran hasil produksi lampion selendang, penyalurnya dilakukan oleh toke maupun oleh pihak pasar langsung.

Dalam hal pemasaran toke akan langsung menyerahkan hasil produksi lampion selendangnya kepada pihak pasar yang mempunyai barang tersebut. Dalam hal ini pasar yang menjadi lokasi pemasaran ialah Pajak Ikan serta pusat pasar (Sentral). Pihak pasar yang telah menjadi langganan toke inilah yang nantinya akan menjual langsung kepada

konsumen. Dalam seminggu, toke menolak barang11 ke pasar sebanyak 2 kali. Untuk satu selendang yang siap pakai pihak toko akan membayar seharga Rp35.000. Maka pihak pasar akan menjual selendang dengan songketnya seharga Rp350.000 sampai dengan Rp1.000.000 .

Selain memasarkan langsung ke pasar, toke ataupun koordinator pekerja dapat langsung memasarkan produksi lampion selendang dalam bentuk pesanan. Misalnya ada orang yang sudah memiliki selendang, maka ingin dibuatkan lampion selendangnya. Maka sisa benang dari hasil produksi tersebut dapat menjadi bahan baku bagi pesanan orang tersebut. Satu selendang dihargai dengan Rp50.000. Dalam bentuk pemesanan ini biasanya berjumlah paling sedikit 3 selendang. Hal seperti inilah yang menjadi pemasukan tersendiri bagi toke maupun koordinator pekerja. Dalam pengerjaannya dilakukan langsung oleh toke dikarenakan jumlah yang sedikit sehingga tidak diberikan kepada pekerja.

Langkah pemasaran lainnya dilakukan oleh toke langsung. Sebagian toke merupakan anggota UMKM. Saat diadakan acara pameran tahunan oleh UMKM, maka disinilah para toke menjual songket selendang tersebut lengkap dengan lampionnya. Perhatian pembeli yang berasal dari luar kota Medan, menyambut baik selendang seperti ini. Langkah inilah yang menjadikan selendang yang menggunakan lampion ini dapat tersebar sampai di luar kota Medan.

11

Menolak barang diartikan sebagai penyerahan hasil produksi yang dilakukan oleh orang menegerjakan selama proses produksi kepada pihak pasar/pihak yang mempunyai barang tersebut

3.4. Pekerja

Keterampilan para pekerja dalam membuat lampion selendang ialah dengan magang. Magang yang dimaksud dalam hal ini adalah dengan belajar terlebih dahulu dari perkerja lain atau dari koordinator pekerja. Proses pembelajaran ini bagi pekerja dapat memakan waktu sekitar 1 minggu dengan jumlah lampion sebanyak 10 buah.

Dari hasil wawancara dengan salah satu pekerja Ibu E. Simanjuntak mengatakan bahwa dalam pembuatan lampion selendang bagian yang sulit ialah pada saat memasukkan bola lampion yang harus tepat di tengah dan dalam pembuatan pola. Waktu yang diperlukan oleh Ibu E. Simanjuntak pada saat pertama kali membuat lampion selemdang ini ialah 1 minggu dengan jumlah lampion sebanyak 10 buah. Dengan kata lain dapat dikatakan 1 hari hanya dapat membuat 1 buah lampion yang bagus.

Sistem pengerjaan lampion selendang ini dapat dikatakan sangat fleksibel, dimana setiap pekerja mengerjakannya di rumah mereka masing-masing. Setelah mengambil bahan baku berupa benang yang sudah digulung, bola lampion serta benang mas, maka para pekerja dapat membawanya pulang untuk dikerjakan. Tidak ada pekerja yang mengerjakan lampion selendang ini di rumah koordinator perkerja ataupun di rumah toke. Selain itu juga dalam pengerjaan lampion selendang ini ada batasan waktu tertentu dalam pengerjaannya. Batas waktu penyerahan lampion yang telah selesaikan dikerjakan ialah sampai 2 hari, tetapi apabila lampion tersebut sangat diperlukan, maka batas waktu pengerjaan hanya diberikan selama 3 jam bagi para pekerja. Melihat hal ini

para pekerja harus mempunyai langkah-langkah tertentu untuk dapat menyelesaikan lampion selendang sesuai dengan waktu yang ditentukan.

Pekerja yang terdaftar oleh koordinator atau toke hanya satu nama saja. Tetapi dari satu nama ini akan merekrut para pekerja lainnya. Para pekerja yang terdaftar biasanya hanya nama ibu-ibunya saja. Tetapi dalam pengerjaannya, bisa sampai 2 atau 3 orang dari satu nama pekerja.

Perekrutan pekerja lain ini dapat dikatakan sebagai pekerja tambahan . Biasanya yang terdiri dari pekerja tambahan ialah anak maupun suami dari ibu pekerja tersebut. Seperti Ibu E. Simanjuntak memiliki pekerja tambahan sebanyak 3 orang perkerja tambahan yang terdiri dari 2 anaknya serta suaminya. Hal ini dimaksudkan agar lampion yang dikerjakan lebih banyak. Mengingat bahwa sistem pengerjaan pada lampion selendang ini bersifat borongan, yang mana hasil ditentukan oleh banyak atau tidaknya barang yang dapat dikerjakan oleh satu orang pekerja. Inilah yang menjadi alasan dari ibu-ibu perkerja tersebut untuk mengajari anak maupun suaminya untuk membuat lampion agar gaji yang didapatkan menjadi lebih besar.

Tabel 3.4

Nama Pekerja beserta Pekerja Tambahnnya

No Nama Pekerja Jumlah Pekerja Tambahan

1 Ibu S. Tambunan 2 orang

2 Ibu E. Simajuntak 3 orang

3 Ibu Juni. Pasaribu 1 orang

4 Ibu P.Nainggolan 2 orang

5 Ibu Napitupulu 1 orang

6 Ibu Jovita.Saragi 1 orang

7 Opung Manahan -

8 Ibu N. Sihombing -

9 Ibu B.Tambunan -

10 Ibu P. Nababan -

Pekerja yang mempunyai pekerja tambahan memiliki alasan tersendiri mengapa mereka memiliki pekerja tambahan, selain agar gaji yang diterima menjadi lebih besar, hal lainnya adalah untuk melatih anaknya dalam hal bekerja. Terlebih dahulu ibu tersebut mengajari anaknya untuk membuat lampion selendang tersebut. Si anak pun tidak keberatan saat ibunya menyuruh untuk membuat lampion tersebut. Salah satu anak yang saya wawancarai bernama Alfran mengatakan bahwa dia membuat lampion tersebut untuk membantu mamanya, selain itu juga dia mengatakan bahwa bila dia tidak mengerjakan lampion tersebut maka ibunya akan marah. Setelah di konfirmasi hal ini kepada ibunya, maka ibunya mengatakan bahwa sebenarnya dia tidak marah, tetapi apa salahnya anak itu ikut membantu mamanya, sedangkan mamanya juga harus mengurus pekerjaan rumah.

Kebanyakan para ibu yang melibatkan anaknya dalam mengerjakan lampion ini juga beralasan agar pekerjaan rumah dengan pekerjaan lampion selendang ini dapat berjalan dengan baik, maka diperlukan pengertian dari si anak yaitu dengan ikut membantu dalam mengerjakan lampion tersebut.

“Anak kalau di suruh ngerjakan rumah pasti gak mau, yaudah disuruh lah dia buat benang ini, kalau disuruh ini dia mau” (Ibu E. Simanjuntak, 40 tahun)

Gambar 11

Ibu E. Simanjuntak dan Ester (anaknya) sedang mengerjakan lampion

3.4.1. Sistem Pengupahan

Sistem pengupahan juga termasuk penting untuk disajikan. Sistem pengupahan ini, untuk dapat merinci lebih jelas maka rinciannya dibuat berdasarkan jenis pekerjaan yang dilakukan. Melalui Tabel ini akan terlihat upah yang diterima pekerja berdasarkan jenis pekerjaannya.

Tabel 3.4.1

Ongkos Kerja dalam Usaha Lampion Selendang

No Pekerjaan Ongkos

1 Bordir Selendang Rp 7.000/buah

2 Solder Selendang Rp. 700/buah

3 Menggulung benang Rp 50/buah

4 Membuat lampion Rp 130/buah

Pembagian upah pekerja di atas juga didasarkan pada pembagian kerja yang ditentukan atas keahliaan serta ketersedian alat. Dalam pekerjaan membordir dibutuhkan mesih jahit, serta alat bordir. Dalam hal ini pekerja sudah memiliki keahlian di dalam bidang membordir. Proses belajar membordir dapat dilakukan dengan cara les kepada toke taupun les kepada tukang jahit. Tidak semua toke mau memberikan pembelajaran bagi para pekerjanya untuk membordir, dalam memberikan pembelajaran membordir, toke juga membebankan biaya yang cukup besar sekitar Rp900.000 sampai pekerja tersebut mahir untuk membordir. Dengan keahlian dari pekerja bordir maka upah yang diterima ialah Rp 7.000/selendang.

Dari tabel tersebut bila dilihat, maka dalam pengupahan lampion selendang hanya Rp 130/biji nya. Sistem pengerjaan dalam industri lampion selendang ini adalah berupa borongan. Dalam hal ini yang dimaksudkan ialah kemampuan para pekerja untuk mengerjakan banyaknya lampion dalam satu hari.

Setiap para pekerja memiliki kemampuan yang berbeda-beda, terlebih juga didukung oleh pekerja tambahan yang dimiliki oleh pekerja mempengaruhi jumlah lampion yang dikerjakan. Serta waktu yang dibutuhkan oleh pekerja dalam menekuni aktiftas membuat lampion juga mempengaruhi jumlah lampion yang dikerjakan.

Salah seorang pekerja Ibu Napitupulu yang telah lama 6 tahun bekerja membuat lampion selendang ini mampu menghasilkan 500 buah lampion yang dikerjakan. Dengan demikian penghasilan satu hari Ibu Napitupulu sekitar 65.000. Waktu bekerja dimulai dari pukul 09.00 pagi dengan terlebih dahulu mengambil benang yang digululung di rumah koordinator pekerja yaitu Ibu P. Pasaribu sampai dengan pukul 10.00 maka dari pukul 10.00 sampai pukul 21.00 malam Ibu Napitupulu baru menyelesaikan lampion tersebut.

Dalam hal pemberian gaji kepada para pekerja, tidak ada jangka waktu tertentu. Pemberian upah ditentukan saat toke mendapat uang dari toko. Terkadang seminggu atau setiap dua minggu sekali upah diberikan dari toko. Dari sinilah toke menghitung jumlah upah yang harus diterima oleh para pekerja berdasarkan jumlah lampion yang sudah dikerjakan. Tidak semua pekerja mau langsung menerima upah tersebut. Ada istilah menabung, dalam hal ini pekerja tidak langsung menerima semua upahnya, tetapi

menyimpannya pada toke. Bila suatu hari pekerja tersebut memerlukan uangnya maka disitulah toke harus menyerahkan upah pekerja yang telah ditabung tadi. Biasanya pengambilan uang tabungan tersebut pada hari-hari besar seperti hari lebaran dan hari natal dimana keperluan pada saat hari-hari tersebut lebih besar.

Dokumen terkait