• Tidak ada hasil yang ditemukan

Langkah-langkah Pelaksanaan Pemodelan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

3.6 Langkah-langkah Pelaksanaan Pemodelan

Data awal yang diperlukan dalam menjalankan program ini ialah : a. Data bathimetri dalam file *txt yang disusun dalam format XYZ b. Data garis pantai (shoreline) dalam XY

c. Data gelombang jam-jaman minimal 1 tahun

2. Pembuatan grid region

Gride region merupakan area atau daerah yang akan dimodelkan. Grid region dibuat dari input data bathimetri dan garis pantai yang telah disiapkan sebelumnya.

3. Transformasi Gelombang

Transformasi gelombang dilakukan untuk mengubah gelombang hasil pencatatan alat atau dapat juga dari perhitungan gelombang hasil hindcasting ke model yang akan dibuat.

3.1. WHISP3 Configuration

Model WHISP3 digunakan untuk menyesuaikan sudut gelombang input dengan garis pantai pada model.

3.2. WSAV

WSAV (Wave Station Analysis and Visualization) ialah pengolahan data gelombang untuk ditampilkan dalam block diagram maupun wave rose.

Sebelum data gelombang dimasukkan kedalam WSAV sebelumnya, data gelombang diolah dengan mencari gelombang yang kritis (critical waves).

3.3. SPECGEN

Langkah ini dilakukan untuk menampilkan spektrum gelombang yang terjadi di perairan lokasi penelitian.

3.4. STWAVE Model

STWAVE (Steady State Wave) adalah langkah untuk membuat simulasi gelombang. Dalam proses ini, gelombang hasil pengolahan sebelumnya disimulasikan ke dalam model yang telah dibuat. Dari simulasi ini diperoleh arah penjalaran gelombang dan besaran gelombang pada masing-masing kedalaman.

3.5. WMV Model

WMV bertujuan untuk memvisualisasikan gelombang hasil permodelan pada STWAVE. Dalam model WMV ini akan terlihat refraksi gelombang dan besarnya gelombang pada masing-masing kedalaman.

4. Simulasi Perubahan Garis Pantai (GENESIS)

Sebelum menjalankan program, terlebih dahulu dibuat input gelombang sebagai masukan dalam program. Gelombang ini disesuaikan azimuthnya sesuai grid yang terdapat dalam pemodelan.

5. Kalibrasi dan Validasi

Kalibrasi dan validasi model dimaksudkan untuk mengetahui tingkat perbedaan bentukan perubahan garis pantai yang terjadi antara hasil pengukuran langsung dengan hasil pendekatan pemodelan. Data yang digunakan untuk kalibrasi adalah data lapangan dan data output pemodelan pada tahun 2012.

6. Simulasi Lanjutan

Pada simulasi ini dilakukan pemodelan ulang untuk dua skenario yang dicoba dengan maksud mendapatkan satu kondisi paling ideal yang dapat diterapkan di lokasi penelitian secara pendekatan model.

38 4.1 Gambaran Umum

Pantai Sanur memiliki panjang pantai sekitar 6 Km, membentang dari Utara ke Selatan mulai dari Alit Bungalow sampai Pantai Mertasari, terletak di bagian Selatan kota Denpasar, ± 5 km dari kota Denpasar. Pantai Sanur merupakan salah satu pusat wisata pantai di Bali yang memiliki keindahan pantai yang sangat menarik. Kemiringan pantai yang landai dengan hamparan pasir putih dan air yang jernih menjadi aset pariwisata yang sangat menawan. Dengan perkembangan sektor pariwisata yang demikian pesat, telah menyebabkan eksploitasi sumber daya alam yang menyebabkan terganggunya keseimbangan pantai. Profil Pantai Sanur dimulai dari Jalan Hang Tuah (groin G3) sampai dengan posisi akhir pengisian pasir (groin GA1) di Pantai Mertasari yang mengacu pada posisi BM yang ada.

Bangunan-bangunan pengaman pantai di Pantai Sanur terbuat dari tumpukan batu (rubble mound structure) berupa groin dan pemecah gelombang (offshore breakwater). Konstruksi bangunan pantai berbentuk trapezium dengan kemiringan yang seragam yaitu 1:3 dengan susunan inti (core) di bagian dalam dan lapis lindung (armor layer) di bagian luar yang disusun secara acak. Inti bangunan berupa tumpukan batu andesit dengan berat ± 30 kg dan lapis lindung dengan berat ± 500 kg.

Tanjung buatan yang dipasang sebagai pengendali pasir isian di sepanjang Pantai Sanur terdiri dari krib tegak lurus pantai berbentuk “T” sebanyak empat buah ( G3, G4, GN4 dan G32 ), krib tegak lurus pantai berbentuk “L” sebanyak enam buah ( GN1, GN2, GN3, GN7, G16, GA2 ), krib tegak lurus pantai berbentuk “I” sebanyak lima buah ( GA1, G39, G38, GN5, G37 ), dan krib sejajar pantai satu buah ( BWN-1 ). Bangunan krib dibuat dari konstruksi batuan andesit dan limestone yang disusun secara berlapis menyerupai tanggul.

Sebagian besar krib yang dipasang baik krib berbentuk “T” maupun “L” dibuat dengan membentuk lengkung di ujungnya/cekukan dengan tujuan untuk membatasi perpindahan pasir yang terjadi pada ujung krib. Dengan kondisi ini diharapkan terbentuk kantong pantai sehingga pasir dapat tertahan dan membentuk garis pantai yang melengkung menandakan garis pantai telah stabil dan mencapai keseimbangannya. Selain itu bentuk ujung krib yang melengkung berfungsi untuk menambah nilai estetika pantai. Pengaruh ujung krib yang melengkung terhadap garis pantai yang terbentuk akan nampak berbeda dengan ujung krib yang lurus tanpa cekukan. Kondisi dan posisi dari gambaran Pantai Sanur seperti terlihat pada Gambar 4.1

Gambar 4.1 Situasi Pantai Sanur 40

4.2 Kondisi Eksisting Setiap Segmen Pantai

Pengamatan evolusi garis pantai akibat pengaruh gelombang bisa dilakukan dengan berbagai cara diantarannya dengan pengamatan langsung secara berkala, untuk keperluan data ini, diambil data sekunder dari Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Bali dan Balai Wilayah Sungai Bali - Penida untuk selanjutnya digunakan sebagai alat untuk verifikasi hasil simulasi model evolusi garis pantai di Pantai Sanur. Data hasil pengukuran dari Tahun 2004 sampai 2012, terjadi perubahan volume pasir seperti tergambar pada Tabel 4.1

Tabel 4.1 Perubahan dan Pergerakan Pasir di Pantai Sanur Setiap Segmen

Ruas pantai

Garis pantai di Pantai Sanur mengalami kemunduran dan kehilangan material pasir isian dari kondisi sebelum penyerahan pekerjaan. Kehilangan material isian rata-rata sebesar 9,45% jika dibandingkan dengan tahun 2004, sedangkan kemunduran garis pantai yang terjadi sepanjang 2,56 m.

a. Segmen G3 – G4

Segmen G3 – G4 terletak di sekitar Alit Bungalow, dengan panjang segmen

± 136 m. Ruas pantai ini mempunyai pasir berwarna putih. Kondisi saat ini pasir isian yang berwarna putih sudah mulai bercampur dengan pasir hitam yang merupakan material pantai pada saat sebelum pengisian pasir. Gelombang datang dominan dari arah utara. Perhitungan volume sedimen yang diperoleh dari hasil pengukuran profil memperlihatkan bahwa terjadi kehilangan material isian rata-rata sebesar 5% pada tahun 2008 dan kembali pada posisi semula pada tahun 2012

b. Segmen G4 – G5

Segmen G4 – G5 terletak di sekitar Museum Le Mayeur dan Hotel Bali Beach, dengan panjang segmen ± 248 m. Hampir sama dengan ruas pantai pada segmen G3-G4, pada segmen ini mempunyai pasir putih dengan gelombang datang dominan dari arah selatan. Sampai tahun 2012, hasil perhitungan volume sedimen yang diperoleh dari hasil pengukuran profil menunjukan telah terjadi pengurangan material pasir isian sebesar 1 % pada tahun 2008 dan volumenya kembali ke asal pada tahun 2012. Gambaranevolusi garis pantai antara groin G3 – G4 dan G4 – G5 terlihat seperti pada Gambar 4.2

Gambar 4.2 Evolusi Garis Pantai Antara G3 – G4 dan G4 – G5 (Sumber : Hasil Pengukuran dan Google Earth)

c. Segmen GN1 – GN2

Segmen GN1 – GN2 terletak di depan Sindu BeachMarket dan Baruna Beach Inn, dengan panjang segmen ± 193 m. Pantai pada ruas ini mundur di bagian selatan groin GN2 dan maju di bagian utara groin GN1. Perhitungan volume sedimen yang diperoleh dari hasil pengukuran profil memperlihatkan telah terjadi pengurangan material isian rata-rata sebesar 8 % sampai dengan tahun 2008 dan 10 % pada tahun 2012 .

Gambar 4.3 Evolusi Garis Pantai Antara GN1 – GN2 (Sumber : Hasil Pengukuran dan Google Earth)

d. Segmen GN2 – GN3

Segmen GN2 – GN3 terletak di antara Baruna Beach Inn dan La Taverna Bali Hotel, dengan panjang segmen ± 210 m. Secara umum rata rata garis pantai di segmen ini mengalami kemunduran ± 0,55 m dan kehilangan pasir isian sebesar 5% sampai tahun 2008 dan hilang 8% pada tahun 2012.

Gambar 4.4 Evolusi Garis Pantai Antara GN2 – GN3 (Sumber : Hasil Pengukuran dan Google Earth)

e. Segmen GN3 – G7

Segmen GN3 – G7 terletak di antara Bonsai Café dan Gazebo Hotel, dengan panjang segmen ± 191 m. Pada segmen ini sampai tahun 2008, menunjukkan garis pantai mundur 1,90 m dibandingkan pengukuran bulan April 2004. Garis pantai saat ini membentuk cekungan di tengah-tengah, dimana terjadi kemunduran garis pantai terbesar ± 6,0 m, yang berlokasi di depan Sanur Bungalow. Berdasarkan data pengukuran, terjadi pengurangan pasir di segmen ini sebesar 5% di tahun2008 dan hilang sebesar 7 % sampai tahun 2012.

Gambar 4.5 Evolusi Garis Pantai Antara GN3 – GN7 (Sumber : Hasil Pengukuran dan Google Earth)

f. Segmen G7 – GN4

Segmen G7 – GN4 dengan panjang ± 286 m, berlokasi diantara beberapa hotel antara lain Hotel Tanjung Sari, Besakih dan Santrian I. Posisi garis pantai pada tahun 2012 mengalami kemunduran 3,38 m. Di groin G7 sampai GN4 terjadi kehilangan pasir sebesar 5 % pada tahun 2008 dan hilang sebesar 11 % pada tahun 2012.

Gambar 4.6 Evolusi Garis Pantai Antara GN7 – GN4 (Sumber : Hasil Pengukuran dan Google Earth)

g. Segmen GN4- G16

Segmen GN4 – G16 terletak di depan Wisma Werdapura dan Legawa Beach Hotel, dengan panjang segmen ± 281 m. Diantara GN4 dan G16 terdapat sebuah pemecah gelombang lepas pantai (offshore breakwater), BWN1. Terbentuk salien di belakang pemecah gelombang BWN1 akibat terjadinya proses perubahan arah dan tinggi gelombang di belakang BWN1. Adanya pemecah gelombang menyebabkan debit angkutan sedimen di belakang pemecah gelombang menjadi kecil, sehingga terjadi deposisi. Sedangkan di areal sekitar groin GN4 dan G16 terjadi kemunduran garis pantai masing-masing sebesar 6,15 m dan 4,22 m.

Gambar 4.7 Evolusi Garis Pantai Antara GN4 – GN16 (Sumber : Hasil Pengukuran dan Google Earth)

h. Segmen G16 ke Selatan

Groin G16 merupakan ujung selatan dari rangkaian groin yang dibangun pada seksi 2. Garis pantai mundur di segmen ini sebesar 0,31 m dibandingkan data pengukuran tahun 2004 dengan pengurangan volume material isian pada tahun 2008 sebesar 7 % dan 8% pada tahun 2012

Gambar 4.8 Evolusi Garis Pantai Groin G16 ke Arah Selatan (Sumber : Hasil Pengukuran dan Google Earth)

i. Segmen G32 – G38

Segmen G32 – G38 terletak diantara Antara Group dan Cemara Beach Hotel, dengan panjang segmen ± 570 m. Terjadi kemunduran garis pantai ± 3,69 m dibandingkan garis pantai tahun 2004.

Gambar 4.9 Evolusi Garis Pantai Antara G32 - G38 (Sumber : Hasil Pengukuran dan Google Earth)

j. Segmen G38 – G39

Segmen G38 – G39 terletak di antara Cemara Beach Hotel dan Sanur Beach Hotel, dengan panjang segmen ± 441 m. Pada tahun 2008 terjadi kemunduran garis pantai ± 5,48 m dan pengurangan volume pasir sebesar 18 % pada tahun 2008 dan menjadi 21 % pada tahun 2012.

Gambar 4.10 Evolusi Garis Pantai Antara G38 – G39 (Sumber : Hasil Pengukuran dan Google Earth)

k. Segmen G39 – GA2

Segmen G39 – GA2 dengan panjang segmen ± 289 m berada di depan Hotel Radin. Sampai tahun 2012, telah terjadi kemunduran garis pantai ± 3,40 m dibandingkan garis pantai tahun 2004 dan pengurangan volume pasir isian sebesar -18% sampai tahun 2008 dan menjadi 23 % pada tahun 2012.

Gambar 4.11 Evolusi Garis Pantai Antara G39 – GA2 (Sumber : Hasil Pengukuran dan Google Earth)

l. Segmen GA2 – GA1

Segmen GA2 – GA1 memiliki panjang ± 175 m. Terjadi kemunduran garis pantai sebesar 1,780 m dibandingkan garis pantai tahun 2004 dan terjadi pengurangan volume pasir isian sebesar 2% sampai tahun 2008 dan berbalik menjadi bertambah pada tahun 2012 menjadi 5%. Garis pantai berbentuk

cekung hampir dipertengahan antara dua groin. Hal ini menunjukan telah terjadi pemusatan energi gelombang dengan arah gelombang relative normal terhadap garis pantai. Arah gelombang yang berbeda-beda disekitar groin G39 sampai GA1 diperkirakan akibat adanya perubahan bathimetri di depan areal ini akibat adanya Pulau Serangan di dekat segmen GA2 – GA1.

Gambar 4.12 Evolusi Garis Pantai Antara GA2 – GA1 (Sumber : Hasil Pengukuran dan Google Earth)

4.3 Permodelan Perubahan Garis Pantai 4.3.1 Hasil Simulasi Kondisi Dasar Perairan

Data bathimetri adalah data gambaran kondisi dasar laut yang ada di daerah studi. Data topografi adalah data gambaran garis pantai yang ada di lokasi studi.

Data bathimetri dan topografi adalah data yang digunakan dalam simulasi permodelan analisa numerik dengan menggunakan pemodelan GENESIS.

Dalam pengerjaaan tesis ini luas peta sebesar 12 Km ke arah darat dan 2 Km ke arah laut.

Setelah dilakukan input data (x,y,z) sesuai data bathimetri dan topografi di Pantai Sanur, maka diperoleh output berupa kondisi perairan dalam 2 dimensi seperti tampak pada Gambar 4.13.

Gambar 4.13 Bathimetri Pantai Sanur dalam format 2 dimensi (x,y,z)

4.3.2 Simulasi Refraksi, Difraksi dan Shoaling

Perjalanan gelombang di Pantai Sanur dari laut dalam menuju pantai mengalami 3 (tiga) kejadian, yaitu refraksi, difraksi dan shoaling. Ketiga peristiwa ini haruslah dilalui agar dapat diketahui pola sebaran gelombang yang terjadi dan besaran gelombang yang melewati beberapa kondisi batas (dasar laut, besar butiran dasar dan kondisi garis pantai). Dari hasil permodelan yang ditampilkan pada Gambar 4.14 sampai Gambar 4.19 terlihat gerakan gelombang

Padang U Galak

Hang Tuah

Werdapura Hotel

Mertasari Stockpile

menuju garis pantai dalam arah mendekati tegak lurus pantai dengan ketinggian yang membesar sebelum akhinya pecah, fenomena ini menunjukan bahwa pendekatan model telah berjalan dengan baik.

Dari hasil simulasi, pada umumnya gelombang pecah pada kedalama -1.20 - +0.00 m (posisi reef flat). Kondisi spesifik dari model perairan adalah adanya palung (posisi offshore Werdhapura dan Kusumasari).

Gambar 4.14. Kondisi Gelombang Bulan Januari– Februari

(Sumber : Hasil Running Model)

Gambar 4.15. Kondisi Gelombang Bulan Maret – April

(Sumber : Hasil Running Model) U

U

Gambar 4.16. Kondisi Gelombang Bulan Mei - Juni

(Sumber : Hasil Running Model)

Gambar 4.17. Kondisi Gelombang Bulan Juli - Agustus

(Sumber : Hasil Running Model)

Gambar 4.18 Kondisi Gelombang Bulan September - Oktober (Sumber : Hasil Running Model)

Gambar 4.19 Kondisi Gelombang Bulan November - Desember (Sumber : Hasil Running Model)

U U

4.3.3 Hasil Kalibrasi

Dalam penelitian ini kalibrasi dimaksudkan untuk menilai akurasi output hasil pemodelan dibandingkan dengan kondisi lapangan di lokasi studi. Tahun yang digunakan dalam kalibrasi adalah tahun 2012. Dari kalibrasi ini, dihasilkan perbedaan antara kenyataan di lapangan dengan hasil pemodelan sebesar 2,89%. Hasil ini didapat dari membandingkan hasil pemodelan pada tahun 2012 dengan kenyataan di lokasi penelitian hasil pengukuran pada tahun yang sama dengan membagi lokasi penelitian menjadi 17 cross section. Setiap ruas antara dua groin diwakili oleh satu nilai perbedaan paling besar yang terjadi. Dengan nilai hasil kalibrasi 2,89%, menunjukan akurasi output hasil pemodelan memiliki tingkat kesesuaian perubahan trend evolusi garis pantai dengan yang terjadi di lapangan. Gambaran penentuan hasil kalibrasi seperti terlihat pada Gambar 4.20, sedangkan detail untuk setiap ruas yang ditinjau tampak seperti pada Tabel 4.2 sampai Tabel 4.18.

Gambar 4.20 Verifikasi Garis Pantai Sanur Antara Hasil Pemodelan GENESIS Tahun 2012 dengan Hasil Pengukuran Langsung Tahun 2012

54

Tabel 4.2 Kalibrasi di Ruas Antar Groin G3-G4

No Groin

Hasil

Selisih Pemodel (%)

an (meter)

Penguk uran (meter) 1. Ruas G3-G4

-691,13 -687,35 3,78

Keterangan :

Garis Pantai Hasil Pengukuran

Garis Pantai Hasil Pemodelan

55

Tabel 4.3 Kalibrasi di Ruas Antar Groin G4-G5

No Groin

Hasil

Selisih Pemodel (%)

an (meter)

Penguk uran (meter) 2. Ruas G4-G5

-466,17 -462,48 3,69

Keterangan :

Garis Pantai Hasil Pengukuran

Garis Pantai Hasil Pemodelan

56

Tabel 4.4 Kalibrasi di Ruas Antar Groin G5-GN1

No Groin

Hasil

Selisih Pemodel (%)

an (meter)

Penguk uran (meter) 3. Ruas G5-GN1

-227,81 -225,56 2,25

Keterangan :

Garis Pantai Hasil Pengukuran

Garis Pantai Hasil Pemodelan

57

Tabel 4.5 Kalibrasi di Ruas Antar Groin GN1-GN2

No Groin

Hasil

Selisih Pemodel (%)

an (meter)

Penguk uran (meter) 4. Ruas GN1-GN2

35,45 35,81 0,36

Keterangan :

Garis Pantai Hasil Pengukuran

Garis Pantai Hasil Pemodelan

58

Tabel 4.6 Kalibrasi di Ruas Antar Groin GN2-GN3

No Groin

Hasil

Selisih Pemodel (%)

an (meter)

Penguk uran (meter) 5. Ruas GN2-GN3

248,59 251,11 2,51

Keterangan :

Garis Pantai Hasil Pengukuran

Garis Pantai Hasil Pemodelan

59

Tabel 4.7 Kalibrasi di Ruas Antar Groin GN3-G7

No Groin

Hasil

Selisih Pemodel (%)

an (meter)

Penguk uran (meter) 6. Ruas GN3-G7

408,22 411,1 2,87

Keterangan :

Garis Pantai Hasil Pengukuran

Garis Pantai Hasil Pemodelan

60

Tabel 4.8 Kalibrasi di Ruas Antar Groin G7-GN4

No Groin

Hasil

Selisih Pemodel (%)

an (meter)

Penguk uran (meter) 7. Ruas G7-GN4

601,89 605,83 3,94

Keterangan :

Garis Pantai Hasil Pengukuran

Garis Pantai Hasil Pemodelan

61

Tabel 4.9 Kalibrasi di Ruas Antar Groin GN4-G16

No Groin

Hasil

Selisih Pemodel (%)

an (meter)

Penguk uran (meter) 8. Ruas GN4-G16

807,82 812,29 4,46

Keterangan :

Garis Pantai Hasil Pengukuran

Garis Pantai Hasil Pemodelan

62

Tabel 4.10 Kalibrasi di Ruas Antar Groin G16-GN7

No Groin

Hasil

Selisih Pemodel (%)

an (meter)

Penguk uran (meter) 9. Ruas G16-GN7

937,38 941,19 3,76

Keterangan :

Garis Pantai Hasil Pengukuran

Garis Pantai Hasil Pemodelan

63

Tabel 4.11 Kalibrasi di Ruas Antar Groin GN7-GN32

No Groin

Hasil

Selisih Pemodel (%)

an (meter)

Penguk uran (meter) 10. Ruas GN7-G32

1026,25 1023,17 3,08

Keterangan :

Garis Pantai Hasil Pengukuran

Garis Pantai Hasil Pemodelan

64

Tabel 4.12 Kalibrasi di Ruas Antar Groin G32-GN37

No Groin

Hasil

Selisih Pemodel (%)

an (meter)

Penguk uran (meter) 11. Ruas G32-G37

1047,05 1044,29 3,14

Keterangan :

Garis Pantai Hasil Pengukuran

Garis Pantai Hasil Pemodelan

65

Tabel 4.13 Kalibrasi di Ruas Antar Groin G37-GN5

No Groin

Hasil

Selisih Pemodel (%)

an (meter)

Penguk uran (meter) 12. Ruas G37-GN5

918,91 923,53 4,72

Keterangan :

Garis Pantai Hasil Pengukuran

Garis Pantai Hasil Pemodelan

66

Tabel 4.14 Kalibrasi di Ruas Antar Groin GN5-G38

No Groin

Hasil

Selisih Pemodel (%)

an (meter)

Penguk uran (meter) 13. Ruas GN5-G38

619,84 622,96 3,11

Keterangan :

Garis Pantai Hasil Pengukuran

Garis Pantai Hasil Pemodelan

67

Tabel 4.15 Kalibrasi di Ruas Antar Groin G38-G39

No Groin

Hasil

Selisih Pemodel (%)

an (meter)

Penguk uran (meter) 14. Ruas G38-G39

312,79 314,37 1,57

Keterangan :

Garis Pantai Hasil Pengukuran

Garis Pantai Hasil Pemodelan

68

Tabel 4.16 Kalibrasi di Ruas Antar Groin G39-GA2

No Groin

Hasil

Selisih Pemodel (%)

an (meter)

Penguk uran (meter) 15. Ruas G39-GA2

-20,65 -20,44 0,20

Keterangan :

Garis Pantai Hasil Pengukuran

Garis Pantai Hasil Pemodelan

69

Tabel 4.17 Kalibrasi di Ruas Antar Groin GA2-GA1

No Groin

Hasil

Selisih Pemodel (%)

an (meter)

Penguk uran (meter) 16. Ruas GA2-GA1

-232,9 230,57 2,33

Keterangan :

Garis Pantai Hasil Pengukuran

Garis Pantai Hasil Pemodelan

70

Tabel 4.18 Kalibrasi di Ruas Antar Groin GA1-GA3

No Groin

Hasil

Selisih Pemodel (%)

an (meter)

Penguk uran (meter) 17. Ruas GA1-GA3

-420,30 -416,93 3,36

Keterangan :

Garis Pantai Hasil Pengukuran

Garis Pantai Hasil Pemodelan

Prosentase Rata Rata Selisih Perbedaan Hasil 2,89

71

4.3.4 Hasil Simulasi Perubahan Garis Pantai

Hasil dari penelitian ini adalah evolusi dan respon garis pantai terhadap bangunan pantai, kinerja bangunan pantai yang sudah dibangun di Pantai Sanur dan mencoba menerapkan beberapa bangunan pantai di Pantai Sanur untuk mencari satu kondisi paling ideal secara pendekatan model setelah sebelumnya dilakukan kalibrasi terhadap model. Dari hasil pemodelan, diketahui beberapa evolusi garis pantai yang kurang menguntungkan dan perlu upaya penanganan sebagai akibat adanya respon pantai terhadap arah gelombang, letak bangunan pantai, dimensi bangunan pantai, jarak antara bangunan dan kontour kedalaman perairan (bathimetri).

Perubahan garis pantai terbesar terjadi pada tahun 2008, hal ini dikarenakan pantai belum stabil dan masih mencari keseimbangannya, sedangkan untuk tahun 2012 dan 2028, kondisi pantai telah stabil sehingga perubahannya tidak begitu besar. Pada Gambar 4.21 sampai 4.24 terlihat detail evolusi garis pantai di Pantai Sanur untuk tahun 2004, 2008, 2012 dan tahun 2028. Untuk memberikan gambaran lebih mudah mengenai perubahan garis pantai di Pantai Sanur, maka data perubahan garis pantai yang terjadi dipindahkan ke dalam format lain seperti pada Gambar 4.25 dan Gambar 4.26.

Dari Gambar 4.25 dan 4.26, terlihat tiga lokasi yang perlu dilakukan penanganan supaya kejadian erosi di ketiga lokasi tersebut dapat dikurangi.

etiga lokasi adalah GN4, GA2 dan G32. Identifikasi permasalahan yang terjadi di ketiga lokasi dapat diuraikan seperti pada Tabel 4.19

Tabel 4.19 Identifikasi Permasalah Pada Lokasi Perlu Penanganan No Lokasi Identifikasi Permasalahan

1 GN4 Kerusakan di groin GN4 disebabkan karena adanya difraksi gelombang akibat bentuk T dari groin GN4. Posisi garis pantai di sebelah kiri GN4 terus mengalami kemunduran sedangkan sedimentasi terjadi di posisi G.7. kemunduran posisi garis pantai di pangkal GN4 diakibatkan arah gelombang datang di Pantai Sanur yang dominan mengarah ke NW dan pada posisi ini setelah gelombang pecah masih membentuk sudut dengan garis pantai, sehingga dominan transport sediment bergerak ke utara.

2 GA2 Erosi di sekitar groin GA2 disebabkan oleh difraksi gelombang datang dengan arah tegak lurus pantai yang diakibatkan oleh adanya lekukan pada groin GA2. Adapun pasir yang tererosi berpindah tempat dari sekitar groin GA2 ke Groin G39

3 G32 Kehilangan pasir di groin G32 disebabkan oleh adanya penggerusan akibat difraksi gelombang sebagai akibat bentuk T dari groin G32

Gambar 4.21 Detail Evolusi Garis Pantai Sanur Pada Tahun 2004 (Sumber : Hasil Running Model GENESIS)

74

Gambar 4.22 Detail Evolusi Garis Pantai Sanur Pada Tahun 2008 (Sumber : Hasil Running Model GENESIS)

75

Gambar 4.23 Detail Evolusi Garis Pantai Sanur Pada Tahun 2012 (Sumber : Hasil Running Model GENESIS)

76

Gambar 4.24 Detail Evolusi Garis Pantai Sanur Pada Tahun 2028 (Sumber : Hasil Running Model GENESIS)

77

Gambar 4.25 Evolusi Garis Pantai Sanur Pasca Pengisian Pasir Bagian Utara

78

Gambar 4.26 Evolusi Garis Pantai Sanur Pasca Pengisian Pasir Bagian Selatan

79

4.4 Upaya Penanganan Terhadap Respon Pantai Paling Ekstrim

Berdasarkan data hasil pengukuran tahun 2012, evolusi garis pantai akibat bangunan pantai di Pantai Sanur khususnya bagian groin GN4, G32 dan GA2 memerlukan satu upaya penanganan agar garis pantai yang terbentuk lebih stabil dan kehilangan pasir yang terjadi dapat dikurangi. Upaya modifikasi dan penambahan bangunan selanjutnya dimodelkan kembali untuk melihat pengarauh dari bangunan pantai baru dan modifikasi bangunan. Lokasi dan upaya penanganan yang dapat dilakukan seperti terlihat pada Tabel 4.20.

Tabel 4.20 Kondisi Garis Pantai Setiap Ruas di Pantai Sanur

No. Ruas Kondisi Garis

Untuk memperkecil kehilangan pasir di groin G32, GN4 dan GA2, selanjutnya dilakukan pemodelan GENESIS dengan skenario-1 dan skenario-2 seperti tampak pada Tabel. 4.21 dan Tabel 4.23

Tabel 4.21 Upaya dengan Skenario-1

No Groin Upaya pendekatan dengan model skenario 1 1

- GN4 Menambahkan breakwater sejajar pantai diantara GN.4 – G.7 pada posisi tengah dari kedua groin ini dan merubah bentuk T menjadi bentuk I pada groin GN4

2

GA2 Menghilangkan tekukan pada groin GA2

dan memasang groin sejajar pantai diantara groin G39-GA2 3

G32 Dengan pemasangan pemecah gelombang sejajar pantai di bagian kiri dan kanan groin G32

Hasil dari pemodelan dengan modifikasi skenario-1 seperti tampak pada Gambar 4.27 dan 4.28. Garis pantai yang terbentuk akibat modifikasi dan penambahan bangunan pantai baru di ketiga groin dapat diuraikan pada Tabel 4.22.

Tabel 4.22 Efek Modifikasi dan Penambahan Bangunan Baru dengan Skenario-1

No Groin Uraian Hasil Pemodelan Skenario-1

1

GN4

- Dengan penambahan breakwater sejajar pantai diantara GN.4 – G.7 pada posisi tengah dari kedua groin ini dan merubah bentuk T menjadi bentuk I pada groin GN4 mampu merubah kemunduran dari 6,15 meter menjadi 5, 34 meter ( dapat direduksi kerusakan sebesar 0,81 meter.

2

GA2

Dengan menghilangkan tekukan pada groin GA2

dan memasang groin sejajar pantai diantara groin G39-GA2, dapat mengurangi kemunduran garis pantai dari 3,4 meter menjadi 2,85 meter ( dapat dikurangi kemunduran sebesar 0,55 meter)

3

G32

Kemunduran dapat dikurangi dari 3,69 meter menjadi 2,98 meter ( berkurang 0,71 meter)

Gambar 4.27 Hasil Simulasi dengan Skenario-1 Pantai Sanur Bagian Utara

82

Gambar 4.28 Hasil Simulasi dengan Skenario-1 Pantai Sanur Bagian Selatan

83

Untuk mencoba penerapan yang lebih tepat dilakukan pemodelan GENESIS perubahan garis pantai dengan melakukan skenario -2 dengan upaya-upaya seperti pada Tabel 4.23

Tabel 4.23 Upaya dengan Skenario-2

No Groin Upaya pendekatan dengan model skenario 2

No Groin Upaya pendekatan dengan model skenario 2

Dokumen terkait