• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Pantai dan Perubahan Daratan Pantai

2.2.1 Faktor Alam

2.2.1.4 Proses Sedimentasi dan Erosi di Pantai a.Proses Sedimentasi

Proses sedimentasi adalah proses yang meliputi pelapukan, transportasi, dan pengendapan. Sedimen yang terdapat di pantai umumnya berasal dari peluruhan dan erosi dari daratan. Sebagian besar material ini dibawa dalam bentuk sedimen terlarut oleh sungai menuju laut. Proses sedimentasi di daerah pantai juga dipengaruhi oleh berbagai faktor aktivitas laut, diantaranya arus, gelombang dan pertemuan dua arus yang berbeda sifatnya (Black, 1986). Transpor sedimen pantai adalah gerakan sedimen di daerah pantai yang disebabkan oleh gelombang dan arus yang dibangkitkannya. Gelombang yang menjalar menuju pantai membawa massa air dan momentum searah

penjalarannya. Transpor massa dan momentum tersebut akan menimbulkan arus di daerah dekat pantai. Gelombang pecah menimbulkan arus dan turbulensi yang sangat besar yang dapat menggerakkan sedimen dasar.

Angin, erosi pantai, fluktuasi iklim dan erupsi gunung berapi juga memberikan kontribusi terhadap pergerakan sedimen. Sebagai contoh, daerah yang

dipengaruhi angin muson, biasanya pada saat bertiup angin timur, gelombang laut akan bersifat konstruktif yaitu membawa sedimen menuju pantai.

Demikian juga yang terjadi pada kawasan pantai saat angin tenang atau musim panas (summertime). Sebaliknya bila bertiup angin barat, saat bertiup angin badai (storm), ataupun saat musim dingin (wintertime), maka gelombang laut akan bersifat merusak pantai (destruktif) karena massa air akan mengangkut sebagian besar sedimen menuju tengah laut. Sedimen itu kemudian teronggok di daerah surf zone membentuk bukit pasir (sand-bar)

(http://faiqun.edublogs.org/2008/05/30/pergerakan-sedimen-pantai/ diakses pada 12 Maret 2009). Gambar 2 menunjukkan potongan melintang profil pantai pada saat angin tenang dan angin badai.

Gambar 2. Potongan melintang profil pantai saat angin tenang (atas) dan angin badai (bawah)

b. Proses Erosi di Pantai

Erosi pantai adalah proses terkikisnya material penyusun pantai oleh

gelombang, dan material hasil kikisan itu terangkut ke tempat lain oleh arus. Dari sudut pandang keseimbangan interaksi antara kekuatan-kekuatan asal darat dan kekuatan asal laut, erosi pantai terjadi karena kekuatan-kekuatan asal laut lebih kuat daripada kekuatan-kekuatan-kekuatan-kekuatan asal darat. Aktifitas gelombang di pantai adalah faktor utama yang aktif menyebabkan erosi pantai. Dengan demikian, tiupan angin menjadi faktor penting yang menentukan terjadi atau tidaknya erosi pantai di tempat-tempat atau segmen-segmen pantai tertentu dan pada musim-musim tertentu. Arah angin

menentukan segmen-segmen pantai yang akan tererosi, sedang kecepatan angin dan “fetch” menentukan kekuatan gelombang yang terbentuk dan memukul ke pantai.

Arus dekat pantai menentukan arah pergerakan muatan sedimen di sepanjang pantai. Arus itu memindahkan muatan sedimen dari satu tempat ke tempat lain di sepanjang pantai atau membawa muatan sedimen dari satu sel pantai ke sel pantai yang lain atau membawa muatan sedimen keluar ke perairan lepas pantai. Pola arus dekat pantai perkembangannya ditentukan oleh gelombang yang bergerak menghampiri pantai. Dengan demikian, faktor angin juga secara

tidak langsung mempengaruhi transportasi muatan sedimen

(http://www.kepulauanindonesia.co.id/ diakses pada 19 Februari 2009).

2.2.1.5 Tsunami

2.2.1.5.1 Pengertian tsunami

Kata "tsunami" merupakan istilah dari bahasa Jepang "tsunami", mempunyai dua suku kata, "tsu", artinya "pelabuhan" (harbor), "nami" berarti "gelombang". Tsunami menyatakan suatu gelombang laut akibat adanya pergerakan atau pergeseran lempeng di dasar laut yang disebut dengan gempa bawah laut. Gempa ini diikuti oleh perubahan permukaan laut yang

mengakibatkan timbulnya penjalaran gelombang air laut secara serentak ke seluruh penjuru mata angin, sedangkan pengertian gempa adalah pergeseran lapisan tanah di bawah permukaan bumi. Ketika terjadi pergeseran tersebut timbul getaran yang disebut gelombang seismik dari pusat gempa menjalar ke segala penjuru (http://www.bmg.go.id/diakses pada 28 Desember 2007).

Dalam literatur berbahasa inggris, tsunami kadang-kadang disebut pula sebagai “Tidal Wave” dan sering diterjemahkan secara harfiah sebagai

“gelombang pasang”. Istilah ini sebenarnya tidak tepat karena sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan pasang-surut air laut yang umum, yang ditentukan oleh gaya tarik benda-benda astronomis. Tsunami juga berbeda dengan

air laut bagian teratas. Gelombang tsunami menimbulkan gerak pada seluruh kolom air dari permukaan hingga ke dasar (Nontji, 1993).

2.2.1.5.2 Penyebab Terjadinya Tsunami

Menurut Kawata (2000), tsunami disebabkan oleh 3 hal, yaitu:

1) Apabila gempa dengan patahan vertikal, baik patahan naik maupun turun (lebih dari beberapa meter secara mendadak dan vertikal) terjadi di laut dengan kedalaman mencapai ribuan meter. Secara empiris, jika gempanya berkekuatan lebih 6,5 SR, dan pusat gempa berada pada kedalaman kurang dari 60 km dari dasar laut, maka tsunami akan terjadi.

2) Adanya longsor besar yang disebabkan oleh gempa, kegiatan gunung berapi, atau longsor di dasar laut.

3) Letusan gunung berapi.

Gempa merupakan salah satu penyebab utama terjadinya tsunami. Selain itu, penyebab tsunami lainnya adalah meletusnya gunung berapi yang

menyebabkan pergerakan air di laut/perairan sekitarnya menjadi sangat tinggi. Tidak semua gempa bawah laut menimbulkan tsunami, tsunami baru terjadi jika sampai terjadi dislokasi vertikal pada dasar laut, yang biasanya disebabkan oleh gempa kuat yang sumbernya relatif dangkal. Bila terjadi patahan atau sesar (fault) pada dasar laut, dan massa batuan dalam jumlah yang sangat besar amblas tiba-tiba, maka seluruh kolom air diatasnya juga ikut tersentak jatuh. Akibatnya

permukaan laut akan melakukan gerak osilasi naik turun untuk mencari

keseimbangan baru dan timbulah gelombang tsunami yang kemudian merambat ke segala arah dengan energi yang sangat besar (Diposaptono dan Budiman, 2005).

Gelombang tsunami merambat ke segala arah dengan kecepatan yang bergantung pada kedalaman laut. Makin dalam laut makin tinggi kecepatan rambatnya. Pada kedalaman 5.000 m (kedalaman rata-rata di Samudera Pasifik) kecepatan rambat tsunami mampu mencapai 230 m/detik. Periode tsunami, yakni jangka waktu yang diperlukan untuk tibanya dua puncak gelombang yang

berturutan dapat terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama. Jika sumbernya jauh, periodenya dapat mencapai lebih dari satu jam. Panjang gelombang tsunami, yaitu jarak dari satu puncak ke puncak lainnya dapat mencapai 200 km. Tinggi gelombang tsunami di tengah samudera biasanya relatif kecil yaitu antara 0,25-0,5 m, namun apabila telah mendekati pantai yang semakin dangkal akan mendapat tahanan yang semakin besar dari dasar laut dan sebagai konpensasi energinya yang besar dikonversikan kearah permukaan sehingga menimbulkan tinggi gelombang mencapai puluhan meter. Konfigurasi dasar laut sangat menentukan besarnya bencana yang dapat ditimbulkan. Teluk dengan bentuk menyerupai huruf V memberikan efek corong yang dapat menyebabkan gelombang tsunami sangat besar (Nontji, 1993).

Dokumen terkait