• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pendekatan Teoritis

2.1.7 Proses Sosialisasi Kebijakan SDM

Suatu organisasi adalah suatu sistem terbuka yang dinamis yang menciptakan dan saling menukar pesan di antara anggotanya. Gejala menciptakan dan menukar informasi ini berjalan terus menerus dan tidak ada henti-hentinya, maka dikatakan sebagai suatu proses. Proses komunikasi terjadi dalam kerangka jaringan. Proses komunikasi mencakup komunikasi formal dan komunikasi informal Kopelman (Pace dan Faules, 2000).

Istilah “iklim” merupakan kiasan (metafora). Frase iklim komunikasi organisasi menggambarkan cara orang bereaksi terhadap lingkungan organisasi atu merupakan gabungan dari persepsi-persepsi suatu evaluasi makro mengenai peristiwa komunikasi, perilaku manusia, respon pegawai terhadap pegawai lainnya, harapan-harapan, konflik antar personal, dan kesempatan bagi pertumbuhan dalam organisasi tersebut. Iklim komunikasi sebuah organisasi mempengaruhi cara hidup kita: kepada siapa kita bicara, siapa yang kita sukai, bagaimana perasaan kita, bagaimana kegiatan kerja kita, bagaimana perkembangan kita, apa yang ingin kita capai, dan bagaimana cara kita menyesuaikan diri dengan organisasi (Pace dan Faules, 2000).

Iklim komunikasi yang penuh persaudaraan mendorong para anggota organisasi berkomunikasi secara terbuka, rileks, ramah tamah dengan anggota yang lain dan sebaliknya akan menjadikan anggota tidak berani berkomunikasi

secara terbuka dan penuh rasa persaudaraan. Redding (Muhammad, 2001) mengemukakan lima dimensi penting dari iklim komunikasi:

1. “Supportiveness”, atau bawahan mengamati bahwa hubungan komunikasi mereka dengan atasan membantu mereka membangun dan menjaga perasaan diri berharga dan penting.

2. Partisipasi membuat keputusan.

3. Kepercayaan, dapat dipercaya dan dapat menyimpan rahasia.

4. Keterbukaan dan keterusterangan.

5. Tujuan kerja yang tinggi, pada tingkat mana tujuan kerja dikomunikasikan dengan jelas kepada anggota organisasi.

Sikap yang paling mendukung terjadinya efektivitas komunikasi adalah penguasaan materi pesan, kejujuran, tanggung jawab, empati terhadap kepentingan pesan serta sikap dukungan karyawan terhadap tugas yang diberikan.

Apabila pesan disampaikan oleh komunikan dalam kemasan yang tepat maka penerima dapat menerimanya dengan baik.

Keefektifan Komunikasi Organisasi

Dalam proses komunikasi, pesan adalah segala sesuatu yang dihasilkan sumber dan diterima oleh penerima. Makna pesan yang dikirim oleh sumber sesuai dengan makna dari pesan yang diterima oleh penerima disebut komunikasi efektif.1 Berlo (1960) menunjukkan faktor-faktor yang mempengaruhi ketepatan komunikasi, masing-masing ditinjau dari sumber, penerima dan saluran:

a) Faktor Sumber-Encoder:

1 Ida Yuhana, Ninuk Purnanigsih dan Siti Sugiah Mugniesjah. Bahan Kuliah Dasar-dasar Komunikasi. Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Fakultas Ekologi Manusia.

Institut Pertanian Bogor. 2006

 Keterampilan berkomunikasi: keterampilan berbicara dan menulis (encoding skill), mendengarkan dan membaca (decoding skill), dan berpikir serta menalar (encoding and decoding skill).

 Tingkat Pengetahuan, pengetahuan tentang materi sangat menentukan ketepatan komunikasi.

b) Faktor Penerima-Decoder

 Keterampilan berkomunikasi: keterampilan mendengarkan dan membaca, berbicara dan menulis, berpikir dan menalar.

 Sikap terhadap sumber komunikasi dan materi komunikasi

 Tingkat pengetahuan penerima tentang sumber komunikasi, bahasa, tulisan, isyarat yang dipergunakan dan pengetahuan dasar yang menyangkut materi komunikasi.

 Sistem sosial budaya: status sosial, keanggotaan dalam kelompok, dan aturan berperilaku mempengaruhi cara dia menerima dan mengintepretasikan pesan.

c) Faktor Saluran

Cakupan saluran disini dibatasi oleh umpan balik (feedback), yakni komunikasi yang bersumber dari penerima dan tertuju kepada sumber untuk menyalurkan respons penerima kepada sumber. Komunikasi formal diantaranya meliputi kepemimpinan, jaringan komunikasi, saluran komunikasi, dan media komunikasi yang dipergunakan.

Persepsi dalam pengertian psikologi adalah proses pencarian informasi untuk dipahami. Alat untuk memperoleh informasi tersebut adalah pengindraan (penglihatan, pendengaran, peraba, dan sebagainya). Sebaliknya, alat untuk

memahaminya adalah kesadaran atau kognisi. Adanya sikap kesamaan, keteladanan terhadap peraturan dan prosedur komunikasi yang berlaku pada organisasi pun sangat berpengaruh terhadap tercapainya keefektifan komunikasi yang dilakukan. Hubungan dalam pekerjaan mempengaruhi kinerja pekerjaan (job performance) dalam berbagai cara, misalnya kepuasan kerja, aliran komunikasi ke bawah maupun ke atas dalam hierarki organisasional, dan tingkat pelaksanaan perintah. Tugas tidak lain adalah tuntutan yang menjadi tanggung jawab masing-masing individu dalam spesialisasi pekerjaan pada struktur organisasi.

Pelaksanaan tugas yang semakin kompleks menjadikan koordinasi, integrasi, sinkronisasi, simplifikasi (KISS) menjadi sangat penting. Hal ini disebabkan karena hanya melalui kebersamaan (team work) pelaksanaan tugas zaman modern ini dapat dicapai dengan sukses. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dengan komunikasi yang efektif harus bermakna memperlancar, mengembangkan dan meningkatkan perilaku organisasi (Kunarto, 1997).

Terdapat empat faktor yang mempengaruhi keefektifan komunikasi organisasi, yaitu: (1) Saluran komunikasi formal, yang didukung dan dikendalikan oleh manajer; (2) Struktur wewenang, dimana isi dan akurasi komunikasi dipengaruhi oleh perbedaaan status, kekuasaan serta wewenang dalam organisasi;

(3) Spesialisasi pekerjaan, yang mempermudah komunikasi dalam kelompok yang berbeda-beda; (4) Kepemilikan informasi, yang berarti individu mempunyai informasi yang unik dan pengetahuan mengenai pekerjaan mereka dan dapat berfungsi lebih efektif daripada rekan setingkatnya (Masita, 2005).

2.2 Kerangka Pemikiran

Komunikasi tentang Kebijakan SDM adalah bagian dari bentuk komunikasi organisasi yang ditujukan untuk karyawan. Komunikasi yang efektif khususnya komunikasi tentang kebijakan yang berkaitan dengan SDM sangat menentukan kelangsungan hidup dan keberhasilan perusahaan. Pelaksanaan program kegiatan komunikasi tentang Kebijakan dan Informasi yang berkaitan dengan SDM adalah menjadi tugas dan tanggung jawab Unit Industrial Relation.

Untuk menyampaikan materi kebijakan tersebut membutuhkan sosialisasi kepada seluruh karyawan. Berkaitan dengan tercapainya keefektifan komunikasi organisasi dalam pelaksanaan sosialisasi Kebijakan SDM tersebut dipengaruhi banyak faktor yang berasal dari beragam sumber.

Faktor-faktor yang berpotensi mempengaruhi keefektifan sosialisasi kebijakan SDM diantaranya adalah karakteristik karyawan yang terdiri dari; usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, masa kerja, posisi jabatan dan motif mengikuti sosialiasi kebijakan SDM yang dilihat dari aspek tujuan mengikuti sosialisasi tersebut. Faktor lainnya adalah karakteristik organisasi, karakteristik program sosialisasi kebijakan SDM yang dilihat dari variabel utama komunikator, materi pesan dan media yang digunakan dalam menyosialisasikan. Faktor-faktor tersebut memiliki kecendrungan untuk membentuk iklim komunikasi di dalam perusahaan dan menggambarkan interaksi-interaksi antar karyawan dalam pelaksanaan tugasnya. Kendala yang ditemui dalam sosialisasi tersebut biasanya berupa gosip atau desas-desus yang beredar di kantor merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tercapainya keefektifan komunikasi tentang kebijakan SDM yang disosialisasikan.

Empat faktor tersebut mempengaruhi tercapainya keefektifan komunikasi organisasi pada pelaksanaan program sosialisasi kebijakan SDM yang dilihat dari tercapainya persamaan persepsi dari karyawan tentang kebijakan SDM yang telah disosialisasikan dan dilihat dari perilaku positif karyawan di dalam pelaksanaan tugasnya. Alur pemikiran dari penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian X1.3 Tingkat Pendidikan X1.4 Masa Kerja X2.3 Tingkat Intensitas

Gosip Negatif

Faktor Sosialisasi Kebijakan SDM

X3 Karakteristik Komunikator

X3.1 Tingkat Penguasaan Materi

Y2.1 Persamaan Persepsi terhadap Kebijakan SDM

Y2.2 Perilaku Positif dalam bekerja

X5 Karakteristik Media X5.1 Fungsi Media X5.2 Tingkat Aksesibilitas

2.3 Hipotesis Penelitian

Dengan menggunakan kerangka pemikiran di atas serta masalah-masalah yang telah dikemukakan, maka hipotesis penelitian ini sebagai berikut:

1. Terdapat hubungan nyata antara karakteristik karyawan, budaya organisasi dan faktor sosialisasi kebijakan SDM dengan proses sosialisasi kebijakan SDM.

2. Terdapat hubungan nyata antara proses sosialisasi kebijakan SDM dengan keefektifan program sosialisasi kebijakan SDM.

2.3.1 Definisi Operasional dan Pengukurannya

Untuk memudahkan pengukuran dan menganalisa, maka variabel-variabel yang digunakan didefinisikan sebagai berikut:

X1 Karakteristik karyawan adalah faktor-faktor internal dalam diri masing-masing individu pegawai TELKOM yang berhubungan dengan keterampilan dalam mengakses dan menerima pesan (kebijakan SDM) yang disosialisasikan. Karakteristik karyawan merupakan skala nominal dan ordinal yang masing-masing variabel diberikan kode.

X1.1 Usia diukur dengan menghitung angka ulang tahun terakhir responden pada saat penelitian berlangsung. Usia dibagi menjadi 2 kategori, yaitu golongan muda (22-36 tahun) dan golongan tua (>36 tahun).

X1.2 Jenis kelamin dilihat dari ciri-ciri biologis responden, yaitu laki-laki atau perempuan. Kode 1 untuk laki-laki dan kode 2 untuk perempuan.

X1.3 Tingkat pendidikan diukur dengan melihat jenis pendidikan terakhir yang ditamatkan responden. Tingkat pendidikan diberi kode sesuai dengan

tingkatannya. Kode 1 untuk SD, 2 untuk SMP, 3 untuk SMA (sederajat), 4 untuk Diploma dan 5 untuk Perguruan Tinggi (S1).

X1.4 Masa kerja dilihat dari lamanya tahun senioritas responden dalam bekerja sejak diresmikan sebagai pegawai sampai pada saat penelitian berlangsung.

Tahun senioritas diukur menggunakan skala ordinal dengan melihat sebaran rata-rata dari data di lapangan, yaitu nilai (1) karyawan junior (masa kerja 0,1-20 tahun) dan nilai (2) karyawan senior (masa kerja >20 tahun).

X1.5 Posisi jabatan yaitu keberadaan masing-masing individu dalam struktur organisasi yang dilihat berdasarkan tingkatan band. Posisi jabatan berhierarki dimulai dari yang tertinggi yaitu band I sampai dengan band VII yang terendah.

X1.6 Suku bangsa yaitu etnis budaya turun temurun yang melekat sejak lahir pada masing-masing individu pegawai TELKOM. Kode (1) untuk suku Sunda, kode (2) untuk Suku Jawa dan kode (3) untuk Suku di luar Sunda dan Jawa.

X1.7 Motif mengikuti sosialisasi kebijakan SDM yaitu dorongan dalam diri individu untuk mengikuti sosialisasi kebijakan SDM. Motif dalam hal ini dilihat dari tujuan karyawan mengikuti sosialisasi kebijakan SDM yang dibagi ke dalam 4 kategori, yaitu kode (1) bertujuan untuk mempertahankan posisi, kode (2) untuk mengikuti peraturan, kode (3) untuk menjalankan kewajiban, dan kode (4) untuk memenuhi kebutuhan.

X2 Budaya organisasi adalah faktor-faktor dalam lingkungan perusahaan TELKOM yang berpotensi mempengaruhi proses sosialisasi kebijakan SDM kepada seluruh karyawan. Budaya organisasi merupakan skala ordinal yang masing-masing variabel diberikan kode.

X2.1 Gaya kepemimpinan adalah cara-cara khas dan bersifat kondisional yang digunakan oleh seseorang dalam rangka mengorganisasi karyawan atau bawahannya. Gaya kepemimpinan tersebut dinilai oleh karyawan langsung berdasarkan disukai atau tidaknya gaya yang diterapkan pimpinan dalam perusahaan yang dibagi ke dalam 4 kriteria, yaitu kode (1) tidak disukai, kode (2) kurang disukai, kode (3) agak disukai, dan kode (4) disukai.

X2.2 Tingkat intensitas gosip positif yaitu frekuensi karyawan berkomunikasi mengenai informasi kebijakan SDM yang dapat memberikan motivasi kerja pada karyawan melalui saluran tidak resmi. Tingkat intensitas gosip positif diukur menggunakan skala ordinal dengan melihat sebaran rata-rata dari data di lapangan, yaitu nilai (1) rendah, nilai (2) kurang tinggi, nilai (3) agak tinggi, dan nilai (4) tinggi.

X2.3 Tingkat intensitas gosip negatif yaitu frekuensi karyawan berkomunikasi mengenai informasi kebijakan yang dapat menghambat penyelesaian tugas SDM. Tingkat intensitas gosip negatif diukur menggunakan skala ordinal dengan melihat sebaran rata-rata dari data di lapangan, yaitu nilai (1) rendah, nilai (2) kurang tinggi, nilai (3) agak tinggi, dan nilai (4) tinggi.

X3 Karakteristik komunikator adalah faktor-faktor dalam diri subjek penyalur pesan yang mempengaruhi proses penyampaian materi kebijakan SDM kepada karyawan. Karakteristik komunikator merupakan skala ordinal yang masing-masing variabel diberikan kode.

X3.1 Tingkat Penguasaan Materi yaitu kemahiran penyalur yang dilihat dari kelengkapan substansi materi yang disampaikan dan memuaskan jawaban dari pertanyaan karyawan mengenai kebijakan SDM. Tingkat penguasaan

materi diukur menggunakan skala ordinal dengan melihat sebaran rata-rata dari data di lapangan, yaitu nilai (1) rendah, nilai (2) kurang tinggi, nilai (3) agak tinggi, dan nilai (4) tinggi.

X3.2 Tingkat Daya Tarik Penyampaian Materi dilihat dari cara, kemasan dan penampilan komunikator dalam menjelaskan isi pesan. Tingkat daya tarik penyampaian materi diukur menggunakan skala ordinal dengan melihat sebaran rata-rata dari data di lapangan, yaitu nilai (1) rendah, nilai (2) kurang tinggi, nilai (3) agak tinggi, dan nilai (4) tinggi.

X3.3 Tingkat Kejelasan Penyampaian Materi yaitu dilihat dari kemampuan penyalur dalam berbicara dan menulis, mendengarkan dan membaca, dan berpikir serta menalar. Tingkat kejelasan penyampaian materi diukur menggunakan skala ordinal dengan melihat sebaran rata-rata dari data di lapangan, yaitu nilai (1) rendah, nilai (2) kurang tinggi, nilai (3) agak tinggi, dan nilai (4) tinggi.

X4 Substansi materi adalah bahan pesan yang telah dipilih oleh sumber untuk mengekspresikan tujuannya. Isi pesan berupa informasi, kebijakan atau peraturan yang terkait dengan implementasi Good Corporate Governance dan Budaya Perusahaan. Substansi materi merupakan skala ordinal yang masing-masing variabel diberikan kode.

X4.1 Materi Kebijakan SDM adalah informasi mengenai hal-hal yang terkait dengan pengembangan SDM dalam pelaksanaan tugasnya. Materi kebijakan dilihat dari tingkat pemahaman responden terhadap materi tersebut yang diukur menggunakan skala ordinal dengan melihat sebaran rata-rata dari

data di lapangan, yaitu nilai (1) rendah, nilai (2) kurang tinggi, nilai (3) agak tinggi, dan nilai (4) tinggi.

X4.2 Materi Kebijakan di luar Kebijakan SDM adalah informasi mengenai hal-hal yang terkait dengan keorganisasian dan pengembangan perusahaan. Materi kebijakan di luar Kebijakan SDM dilihat dari tingkat pemahaman responden terhadap materi tersebut yang diukur menggunakan skala ordinal dengan melihat sebaran rata-rata dari data di lapangan, yaitu nilai (1) rendah, nilai (2) kurang tinggi, nilai (3) agak tinggi, dan nilai (4) tinggi.

X5 Karakteristik media adalah faktor-faktor dalam saluran yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi penyaluran isyarat dari sumber kepada penerima yang dipergunakan dalam menyampaikan materi pada kegiatan sosialisasi. Karakteristik media merupakan skala nominal yang masing-masing variabel diberikan kode.

X5.1 Fungsi media dilihat dari peristiwa komunikasi antara sumber dan penerima yang bersifat langsung dan tidak langsung. Jenis media dibagi dua aspek, media komunikasi primer dan sekunder. Media komunikasi primer terbagi menjadi 5 kategori berdasarkan tujuan mempergunakan media yang tersebut oleh masing-masing individu. Kode 1 untuk atasan langsung, kode 2 untuk rekan kerja satu unit, kode 3 untuk rekan kerja lain unit, 4 untuk relasi eksternal dan 5 untuk media selain kode 1 sampai 4.

X5.2 Tingkat aksesibilitas dilihat dari seberapa mudah karyawan dapat menjangkau informasi kebijakan SDM melalui setiap jenis media. Tingkat aksesibilitas media sekunder yakni, kode 1 untuk indonet, kode 2 untuk web,

kode 3 untuk portal, kode 4 untuk Silaturahmi Patriot 135 dan kode 5 untuk media selain kode 1 sampai 4.

Y1 Proses Sosialisasi kebijakan SDM adalah proses penyebaran informasi kepada karyawan sehingga karyawan mengetahui dan memahami informasi kebijakan SDM. Proses sosialisasi kebijakan SDM merupakan skala ordinal yang masing-masing variabel diberikan kode.

Y1.1 Iklim komunikasi adalah gabungan dari persepsi-persepsi mengenai peristiwa komunikasi dan perilaku anggota organisasi yang menjadi sebuah keteraturan. Iklim komunikasi dilihat dari mendukung atau tidaknya keteraturan komunikasi dalam sosialisasi kebijakan yang diukur menggunakan skala ordinal dengan melihat sebaran rata-rata dari data di lapangan, yaitu nilai (1) tidak mendukung, nilai (2) kurang mendukung, nilai (3) agak mendukung, dan nilai (4) mendukung.

Y1.2 Hambatan adalah gangguan yang menimbulkan ketidaksesuaian terhadap isi pesan yang ditemukan dalam pelaksanaan program sosialisasi kebijakan SDM. Hambatan diukur menggunakan skala ordinal dengan melihat sebaran rata-rata dari data di lapangan, yaitu nilai (1) rendah, nilai (2) kurang tinggi, nilai (3) agak tinggi, dan nilai (4) tinggi.

Y1.3 Intensitas interaksi yaitu seberapa sering karyawan melakukan kontak langsung dengan rekan kerja lainnya. Intensitas interaksi diukur menggunakan skala ordinal dengan melihat sebaran rata-rata dari data di lapangan, yaitu nilai (1) rendah, nilai (2) kurang tinggi, nilai (3) agak tinggi, dan nilai (4) tinggi.

Y2 Keefektifan komunikasi organisasi dilihat dari ketepatan proses sosialisasi kebijakan SDM sehingga terjadi persamaan makna pesan pada karyawan.

Keefektifan komunikasi organisasi merupakan skala ordinal yang masing-masing variabel diberikan kode.

Y2.1 Persamaan persepsi terhadap kebijakan SDM yaitu keseragaman penilaian karyawan terhadap proses pencarian informasi mengenai efektifitas kebijakan SDM untuk dipahami dan dapat membantu meningkatkan kualitas pekerjaan karyawan. Persamaan persepsi diukur menggunakan skala ordinal dengan melihat sebaran rata-rata dari data di lapangan, yaitu nilai (1) rendah, nilai (2) kurang tinggi, nilai (3) agak tinggi, dan nilai (4) tinggi.

Y2.2 Perilaku Positif dalam bekerja adalah tingkah laku karyawan dalam bekerja dan berorganisasi yang dilihat dari kesesuaian pelaksanaan tugasnya.

Perilkau positif dalam bekerja diukur menggunakan skala ordinal dengan melihat sebaran rata-rata dari data di lapangan, yaitu nilai (1) rendah, nilai (2) kurang tinggi, nilai (3) agak tinggi, dan nilai (4) tinggi.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kantor Pusat PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk selanjutnya disebut TELKOM, yang bertempat di Gedung TELKOM Jl.

Japati No.1 Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Penentuan lokasi ini dilakukan secara sengaja berdasarkan pertimbangan sebagai berikut: (1) PT TELKOM merupakan salah satu perusahaan terbesar di Indonesia yang pusatnya berada di Bandung. (2) Terdapat Direktorat Human Capital & General Affairs (Dit. HCGA) yang bertugas dalam merancang dan mendiseminasikan kebijakan SDM.

Penelitian ini mulai dilaksanakan pada bulan April 2008 dan berakhir pada bulan Mei 2008, kemudian dilanjutkan dengan penyebaran kuisioner, dan pengolahan data.

3.2 Metode Penelitian

Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode penelitian survei.

Metode penelitian survei yakni penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok (Singarimbun dan Effendi, 1989).

Metode survei ini dimaksudkan untuk mengumpulkan data primer dari sampel yang dipilih dengan menggunakan kuisioner. Sebelum kuisioner digunakan, diuji terlebih dahulu terhadap validitas dan reliabilitasnya. Untuk memperkaya data dan lebih memahami fenomena sosial yang diteliti maka data

kuantitatif yang ada didukung oleh data kualitatif melalui wawancara bebas dengan menggunakan panduan pertanyaan yang telah disiapkan sebelumya (lampiran 5) dan observasi langsung di lapangan.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data terdiri dari tiga tahapan, yaitu tahapan pertama berupa penjajagan terhadap kondisi umum perusahaan dan pengumpulan data informan yang dipilih secara purposive. Tahapan kedua dengan melakukan uji kuisioner pada beberapa sampel di masing-masing divisi untuk mengetahui respon karyawan terhadap kuisioner yang digunakan dan untuk mengetahui apakah perlu penambahan ataupun pengurangan pada pertanyaan maupun pernyataan yang telah dirancang. Tahapan ketiga yaitu pengumpulan data terhadap responden yang telah ditentukan pada masing-masing divisi melalui pembagian kuesioner, wawancara bebas, dan observasi langsung di lapangan.

Kuesioner berisi pertanyaan dan pernyataan yang berisikan variabel bebas (independent variable) dengan lambang (X) yang berhubungan dengan efektivitas komunikasi organisasi pada program sosialisasi kebijakan SDM (Y) untuk melihat tercapainya persamaan persepsi terhadap komunikasi kebijakan SDM dan perilaku positif karyawan terhadap pekerjaannya, variabel tersebut merupakan variabel tidak bebas (dependent variable).

Wawancara bebas dilakukan dengan pembimbing lapangan dan beberapa karyawan yang memperoleh informasi mengenai kegiatan sosialisasi kebijakan SDM. Observasi merupakan pengamatan peneliti secara langsung di lapangan.

Selain itu, terdapat data sekunder berupa dokumen proyek, data survei karyawan

sebelumnya, berkas dan arsip sebagai informasi tentang gambaran umum tempat penelitian dan data karyawan.

3.4 Teknik Pengambilan Sampel

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh karyawan PT TELKOM yang bertugas tetap di Gedung TELKOM Jl. Japati No.1 Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Unit analisisnya adalah karyawan PT TELKOM Japati-Bandung yang mengikuti sosialisasi kebijakan SDM pada tahun 2007.

Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan metode acak distratifikasi (stratified random sampling) dengan jenis sampel proporsional pada unit analisis (Rakhmat, 2005). Penstratifikasian populasi didasarkan pada “band”

(posisi jabatan) dengan mengambil jumlah responden yang sebanding dari band I sampai band VII sebanyak 105 karyawan di masing-masing divisi yang berada di Gedung TELKOM Japati. Untuk memudahkan peneliti dalam penarikan responden, maka disusunlah kerangka sampling pada Tabel 1.

Tabel 1. Kerangka Sampel Penelitian Berstrata Proporsional Band Posisi Ukuran

1. Ditentukan jumlah sampel 105 orang.

2. Pecahan sampling untuk setiap strata adalah 105/ 1046 = 0.10 (dilakukan pembulatan keatas).

3. Setiap band posisi diwakili dalam sampel proporsinya dalam populasi.

3.5 Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Data primer yang telah terkumpul kemudian diolah dengan menggunakan Software Statistical Program for Social Sciences (SPSS) untuk memperoleh kesimpulan. Penelitian ini menggunakan uji statistik non-parametrik. Uji statistik yang digunakan adalah uji statistik Chi-Square untuk melihat adanya hubungan antara variabel-variabel dengan skala nominal. Pengumpulan data dengan skala ordinal diolah dengan menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Untuk analisis data kualitatif berupa hasil wawancara bebas, observasi serta data sekunder lain dianalisis terbatas pada teknik membaca grafik, tabel, diagram, dan gambaran kondisi lapangan yang kemudian dianalisis kembali.

BAB IV

GAMBARAN UMUM PENELITIAN DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES SOSIALISASI KEBIJAKAN SDM

4.1 Gambaran Umum Lokasi

4.1.1 Profil Perusahaan Telekomunikasi Indonesia, Tbk

PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (TELKOM) merupakan perusahaan penyelenggara informasi dan telekomunikasi (InfoComm) serta penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi secara lengkap (full service and network provider) yang terbesar di Indonesia. TELKOM (yang selanjutnya disebut juga Perseroan atau Perusahaan) yang menyediakan jasa telepon tidak bergerak kabel (fixed wire line), jasa telepon tidak bergerak nirkabel (fixed wireless), jasa telepon bergerak (cellular), data dan internet, network dan interkoneksi, baik secara langsung maupun melalui perusahaan asosiasi.

Sejalan dengan visi TELKOM untuk menjadi perusahaan InfoComm terkemuka di kawasan regional dan mewujudkan TELKOM Goal 3010, maka berbagai upaya telah dilakukan TELKOM untuk tetap unggul dan leading pada seluruh produk dan layanan. Selama tahun 2007, TELKOM telah menerima beberapa penghargaan, baik dari dalam maupun luar negeri, di antaranya The Best Value Creator, The Best of Performance Excellence Achievement, Asia’s Best Companies 2006 Award dari Majalah Finance Asia.

Saham TELKOM per 31 Desember 2006 dimiliki oleh pemerintah Indonesia (51,19 persen) dan pemegang saham publik (48,81 persen), yang terdiri dari investor asing (45,54 persen) dan investor lokal (3,27 persen). Dengan pencapaian dan pengakuan yang diperoleh TELKOM, penguasaan pasar untuk

setiap portofolio bisnisnya, kuatnya kinerja keuangan, serta potensi pertumbuhannya di masa mendatang, saat ini TELKOM menjadi model korporasi terbaik Indonesia.

4.1.2 Visi, Misi, dan Sasaran Perusahaan

Telkom memiliki visi menjadi perusahaan InfoComm terkemuka di kawasan regional dan memiliki misi perusahaan yang hingga saat ini masih menjadi landasan dalam melakukan segala aktivitas bisnis di dalam korporasi.

Misi tersebut adalah sebagai berikut:

 Memberikan pelayanan terbaik berupa kemudahan, produk dan jaringan berkualitas, dengan harga kompetitif.

 TELKOM akan mengelola bisnis melalui praktik-praktik terbaik dengan mengoptimalisasikan sumber daya manusia yang unggul, penggunaan teknologi yang kompetitif, serta membangun kemitraan yang saling menguntungkan dan saling mendukung secara sinergis.

Telkom telah menetapkan tiga sasaran strategis yaitu: (i) upaya untuk mempertahankan tingkat pertumbuhan dan marjin laba yang berkelanjutan, (ii)

Telkom telah menetapkan tiga sasaran strategis yaitu: (i) upaya untuk mempertahankan tingkat pertumbuhan dan marjin laba yang berkelanjutan, (ii)

Dokumen terkait