BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
B. Temuan Penelitian
3. Prosesi Tradisi Gugur Gunung
Menurut Bapak Isrofi (wawancara pada tanggal 03 September 2015 pukul 11.00 WIB) selaku ketua RT 07 menyatakan bahwa tahapan atau rangkaian tradisi gugur gunung ialah sebagai berikut:
a. Pengumuman kegiatan gugur gunung yang dilakukan pada hari
Minggu telah diumumkan terlebih dahulu pada malam Jum‟at saat
diadakannya acara rutin yasinan karena pada saat itulah warga berkumpul.
b. Hari Minggu pagi pukul 06.30 WIB warga berangkat ke
bendungan dimana kegiatan gugur gunung itu dimulai dengan
membawa peralatan susruk (sabit,cangkul,ember,tampah,dll)
sebagaian dari mereka membawa megono serta makanan dan
minuman.
c. Aparat desa memberikan pengarahan setelah semua warga telah
tiba di Bendungan.
d. Semua warga mulai mengerjakan apa yang telah diarahkan oleh
aparat desa.
e. “Wolon” ialah istirahat yang disertai dengan minum dan makan
“wedangan” atau makan kecil seperti tahu susur, gethuk, ketan
dan krupuk.
f. Warga melanjutkan kegiatan “susruk” sampai pukul 10.00 WIB.
g. Sebelum pulang, warga makan “megono” yang disertai dengan
doa yang dipimpin oleh tokoh agama.
mayoritas petani mempunyai hewan ternak di rumah.
i. Setelah dhuhur, mereka berangkat lagi dengan membawa
peralatan untuk gugur gunung di makam atau “breseh”.
j. Sesampainya di makam, warga dengan dipimpin tokoh agama
berdoa dan tahlil untuk mengirim para leluhur mereka.
k. Warga membersihkan dan merapikan tatanan makam.
l. Warga pulang dengan penuh harapan akan datangnya musim
penghujan karena mereka sudah mempersiapkannya.
4. Makna yang Terkandung dalam Tradisi Gugur Gunung
Makna pokok yang terkandung dalam tradisi gugur gunung menurut Bapak Qodri (wawancara pada tanggal 02 September 2015 pukul 13.00 WIB) salah satu tokoh masyarakat di Dusun Kalisari adalah sebagai lambang pirukunan dan persatuan antar warga, selain itu dalam tradisi gugur gunung terdapat pula makna lain seperti contoh bila dilandasi dengan niat yang tulus dan ikhlas maka akan mendapat pahala dan dianggap sebagai ibadah, karena di dalam kegiatan gugur gunung tersebut banyak sekali hal baik salah satu contohnya adalah bersih-bersih, sedangkan dalam Islam kebersihan merupakan anjuran dari Rosulullah SAW. Jadi, ketika mereka membersihkan saluran air, jalan, dan makam maka mereka akan mendapatkan pahala, selain itu dalam kegiatan tersebut terdapat pula doa dan sholawat kepada nabi. Selain itu Bapak Ismanto (wawancara pada tanggal 02 September 2015 pukul 16.00 WIB) yang merupakan
warga dusun tersebut juga menambahkan dalam tradisi ini para warga dapat memanfaatkan kesempatanya untuk bershodaqoh dengan memberikan makanan dan minuman. Makna lain yang terkandung dalam tradisi ini adalah menumbuhkan rasa kebersamaan dan saling menghormati, karena ketika dalam pelaksanaan kegiatan ini mereka akan berkumpul membaur antara yang muda dan tua, akan tetapi meskipun demikian mereka tetap memposisikan diri, yang muda menghormati yang tua dan yang tua memberi arahan yang muda.
Bapak Nastain (wawancara pada tanggal 03 September 2015 pukul 14.30 WIB) selaku tokoh masyarakat menambahkan bahwa salah satu makna penting yang terkandung dalam tradisi gugur gunung adalah menumbuhkan rasa nasionalisme bagi warga karena beliau menganggap kegiatan gugur gunung merupakan bagian pengamalan dari pancasila sila ke 3, yaitu persatuan Indonesia, bila dikaitkan dengan tradisi gugur gunung pelaksanaanya kegiatan ini memanglah tidak luput dari rasa persatuan.
BAB IV PEMBAHASAN
Kumpulan data yang dianalisis dalam skripsi ini bersumber dari hasil wawancara dengan tokoh masyarakat, aparat dusun, dan warga Dusun Kalisari yang penulis anggap mampu untuk memberikan keterangan yang relevan, dilengkapi dengan dokumen-dokumen yang ada. Mengacu pada fokus penelitian ini, maka penulis akan menganalisa dan menyajikannya secara sistematis tentang nilai-nilai edukatif dalam tradisi gugur gunung.
A. Prosesi Tradisi Gugur Gunung di Dusun Kalisari, Desa Ngadirejo, Kecamatan Tegalrejo. Kabupaten Magelang
Pada pergantian musim kemarau ke musim penghujan, masyarakat Dusun Kalisari melakukan tradisi gugur gunung, hal ini sudah dilakukan sejak dahulu dan turun-temurun hingga sekarang. Masyarakat sangat antusias melaksanakan kegiatan ini karena bagi mereka banyak hal yang secara nyata menguntungkan mereka, seperti tercukupinya kebutuhan air untuk sawah dan ladang, sebab bagi mereka sawah dan ladang adalah sumber perantara rezeki dari Allah SWT. Masyarakat menyadari bahwa Allah memberikan rezeki tidak seperti di dalam film yang apabila berdoa langsung dikabulkan, maka dari itu masyarakat selain berdoa mereka juga giat berusaha untuk mendapatkan rezeki tersebut. Selain itu Rosulullah SAW juga telah
memberikan contoh yang baik untuk mecari rezeki meskipun telah kita ketahui jika Rosulullah meminta kepada Allah tentunya bisa langsung dikabulkan, akan tetapi pada kenyataanya tidak demikian, Rosulullah pun tetap berusaha nyata untuk mendapatkan rezeki. Oleh sebab itu masyarakat Dusun Kalisari bekerja keras untuk mendapatkan rezeki salah satu dari usaha mereka yang paling menonjol ialah mengolah sawah dan ladang, mereka berharap dengan cara itulah allah akan melimpahkan rezeki kepada mereka.
Masyarakat sadar bahwa usaha mereka mengolah sawah dan ladang memerlukan beberapa syarat untuk mendapatkan hasil panen yang baik, salah satunya ialah air. Air merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi, terutama untuk mengolah sawah dan ladang mereka. Dengan adanya tradisi ini masyarakat berupaya untuk menambah tambahan air untuk sawah dan ladang mereka.
Sisi lain yang terkandung dalam tradisi ini ialah rasa persatuan antar warga dan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Rasa persatuan tersebut tampak jelas pada tradisi gugur gunung, sebab tradisi ini tidak akan bisa dilakukan secara individual, maka dari itu masyarakat menyatukan rasa dan semangat mereka untuk bersama-sama melaksanakan tradisi ini. Betuk rasa syukur kepada Allah SWT Juga terkandung dalam tradisi ini, bagi mereka yang ingin bershodaqoh bisa disalurkan dengan cara memberi makanan atau
minuman pada kegiatan ini, puji syukur secara langsung juga diucapkan ketika mereka membacakan ritual doa.
Pada hari yang sudah ditentukan mereka akan melaksanakan dengan membawa peralatan dan persiapan yang akan dibutuhkan. Dalam acara gugur gunung ini terdapat berbagai hal yang akan dikerjakan, dan sudah menjadi peraturan setiap tahunnya.
Prosesi dan tatacara tradisi gugur gunung ialah sebagai berikut:
1. Pengumuman
Gugur gunung yang erat kaitannya dengan gotong royong dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Kalisari setiap Hari Minggu saat akan tibanya musim penghujan. Masyarakat secara suka rela akan melaksanakan tradisi ini, mereka menyadari bahwa tradisi dari nenek moyang ini merepakan acara yang mengandung banyak nilai positif.
Pengumuman akan dilaksanakannya kegiatan ini dilakukan saat masyarakat khususnya bapak-bapak mengikuti pengajian
yasinan setiap hari Kamis malam Jum‟at. Pengajian yasinan ini
sebenarnya merupakan acara yang nantinya dapat membuahkan hasil yaitu kegiatan kemasyarakatan. Sebab selain mengaji di
dalam yasinan ini juga terdapat musyawarah bersama. Muyawarah
ini membahas berbagai masalah yang ada di Dusun Kalisari, salah satu yang mereka musyawarahkan adalah gugur gunung yaitu tentang kapan waktu untuk melaksanakanya. Setelah membuahkan
kesepakatan maka secara tegas Ketua RT akan mengumumkan waktu pelaksanaan gugur gunung. Musyawarah yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Kalisari merupakan bentuk penerapan dari ajaran Rosulullah SAW, masyarakat mengambil jalan Musyawarah karena mereka sadar dengan musyawarah maka akan mendapatkan putusan yang bijak.
Mufakat yang di hasilkan dan sekaligus diumumkan pada
acara yasinan merupakan cara terbaik, Hal ini dilaksanakan agar
masyarakat dapat mengetahui sehingga diharapkan dapat ikut serta dalam kegiatan gugur gunung tersebut.
Pengumuman ini disampaikan oleh aparat dusun, seperti ketua RT, RW maupun tokoh masyarakat. Pada kesempatan ini disampaikan juga tempat atau lokasi kegiatan gugur gunung akan dilaksanakan. Pada saat pengumuman seluruh warga yang ada pada acara ini akan mendengarkan dengan seksama, mereka menghormati terhadap orang lain yaitu Ketua RT yang sedang berbicara. Masyarakat Dusun Kalisari masih menjunjung tinggi tatakrama. Sebab mereka percaya apabila seseorang menghormati orang lain maka orang lain akan menghormatinya begitu juga sebalik apabila seseorang tidak mampu menghormati orang lain maka orang lain pun akan sulit untuk menghormatinya. Setelah adanya pengumuman ini, bapak-bapak akan memberitahukan
keluarga di rumah sehingga dapat melakukan persiapan sebelum dilaksanakannya kegiatan tersebut.
Para ibu turut mempersiapkan keperluan yang akan dibawa
oleh suaminya, seperti, wedangan dan makanan kecil, sebagian
dari mereka membuat megono atau makanan besar yang akan
dibawa saat dilaksanakannya gugur gunung. hal ini merupakan bentuk dari rasa patuh mereka terhadap suaminya.
2. Pelaksanaan kegiatan gugur gunung
Hari Minggu pagi, sekitar pukul 06.30 WIB perangkat dusun mengumumkan lagi akan dilaksanakannya kegiatan gugur gunung melalui pengeras suara di mushola setempat. Disitulah terlihat salah satu fungsi mushola dan masjid di Dusun Kalisari selain sebagai tempat untuk beribadah kepada Allah SWT juga sebagai alat penunjang kegiatan kemasyarakatan. Pengumuman ini bertujuan untuk mengingatkan kembali pada masyarakat serta sebagai tanda bahwa kegiatan tersebut segera akan dimulai. Perangkat dusun menjalankan kewajibanya tersebut dengan semangat supaya masyarakat juga bersemangat melaksanakanya.
Mendengar pengumuman itu, maka warga langsung bergegas menuju tempat dilaksanakannya kegiatan tersebut sesuai
dangan tempat yang telah di tentukan yaitu bendungan. Mereka
cangkul, sabit, ember, tampah, sapu dan lain sebagainya. Mereka
juga membawa bekal mdan megono serta minumanyang akan
dikonsumsi saat istirahat nanti.
Sesampainya di tempat dilaksanakannya kegiatan gugur gunung, warga melakukan kegiatan tersebut sesuai dengan pengarahan dari aparat dusun. Kegiatan yang pertama dilakukan
oleh masyarakat ialah susruk.Susruk ini merupakan salah satu
bagian dari tradisi gugur gunung. Kegiatan yang dilakukan dalam
susruk ini ialah membersihkan dan membuat saluran air yang nantinya sebagai saluran ke Desa dan sawah saat musim penghujan tiba. Warga secara besama-sama membersihkan rumput maupun sampah yang menyumbat di saluran air tersebut. Pembagian tugas dalam kegiatan rutin ini dilakukan secara suka rela oleh warga. Ada warga yang membersihkan rumput, ada yang mencangkul tanah untuk saluran air yang baru, ada yang menyapu dan membuang rumput dan sampah.Mereka saling gotong-royong dan bantu-membantu dalam kegiatan ini.
Seluruh warga bahu-membahu secara suka rela dalam menyambut musim penghujan melalui kegiatan gugur gunung ini. Mereka tidak memandang tua maupun muda.
Warga istirahat pada pukul 08.00 WIB, mereka mencari
tempat yang teduh kemudian menyantap wedhangan atau minuman
sebab tepat pukul 08.00 WIB. Meskipun sudah menjadi tradisi, masih ada warga yang tidak membawa bekal. Rasa berbagi pun muncul dalam kegiatan ini, mereka yang membawa bekal berbagi dengan mereka yang tidak membawa. Rasa persatuan dan sosialisme terlihat jelas dalam kegiatan ini.
Kegiatan susruk dilanjutkan kembali setelah warga
beristirahat. Kegiatan ini dilaksanakan sampai pukul 10.00 WIB.
Sebelum pulang, warga makan megono yang ditaruh di atas
lembaran daun pisang bersama-sama, megono ini merupakan
makan besar yang dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama Dusun Kalisari. Doa ini dipanjatkan kepada Allah SWT dengan harapan mendapatkan keberkahan atas kegiatan yang telah dilakukan dan juga harapan akan datangnya musim penghujan nanti dapat memberikan keberkahan kepada sawah mereka. Masyarakat percaya bahwa Allah maha kaya dan maha pengasih serta maha penyayang, jadi apabila mereka berdoa secara sungguh-sungguh maka akan dikabulkan.
Kegiatan gugur gunung belum selesai setelah kegiatan
susruk tersebut. Warga pulang ke rumah bukan tanpa tujuan, melainkan untuk melaksanakan aktivitasnya masing-masing
terlebih dahulu sebelum kegiatan breseh yang juga merupakan
bagian dari tradisi gugur gunung dilaksanakan. Mayoritas waraga Dusun Kalisari ini ialah petani, sehingga mereka pulang untuk
ngarit atau memberi makan hewan ternak. Warga yang tidak memiliki hewan ternak mengisi waktunya untuk pergi kesawah, bersih-bersih rumah, atau hanya sekedar istirahat. Disitu toleransi warga sangat tinggi, warga saling menghormati aktifitas masing-masing. Kegiatan ini dilaksanakan warga sampai sebelum dhuhur.
Tradisi gugur gunung yang merupakan kegiatan tahunan ini sangat dinanti-natikan oleh warga Dusun Kalisari, karena dengan adanya kegiatan ini maka pertanda bahwa musim penghujan akan tiba. Warga pun sangat antusias dan tidak merasa terbebani sama sekali dengan kegiatan ini sehingga warga masih banyak yang ikut
serta dalam kegiatan gugur gunung yang selanjutnya yaitu breseh.
Kegiatan breseh ini merupakan kegiatan bersih-bersih di makam
setempat. Warga berangkat ke makam setelah dhuhur dengan membawa berbagai peralatan seperti yang dibawa saat melakukan
susruk seperti cangkul, sabit, sapu dan lain-lain. Namun
perbedaannya, saat kegiatan susruk warga membawa minuman dan
makanan berupa wedhangandan megono tetapi saat kegiatan
breseh warga tidak membawanya.
Rasa ikhlas dan semangat warga diuji pada kegiatan ini, sebab pada saat itu tentunya cuaca sangat panas, sedangkan untuk pergi kemakam harus melewati hamparan sawah yang panasnya menyengat dikulit.
Kegiatan breseh ini diawali dengan berdoa dan tahlil yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Tujuannya ialah untuk mengirim para leluhur dan saudara yang sudah mendahului mereka. Mereka memanjatkan doa dan tahlil untuk memintakan ampunan kepada Allah SWT atas dosa dan kesalahan mereka serta agar segala kebaikan dapat diterima oleh-Nya. Rangkaian kegiatan
dari breseh selanjutnya ialah membersihkan dan merapikan tatanan
makam dengan peralatan yang telah dibawa. Rasa capek sudah merupakan hal yang wajar setelah melakukan kegiatan seharian. Setalah selesai, warga pulang ke rumah masing-masing dengan penuh harapan akan datangnya musim penghujan.
B. Persepsi Masyarakat Dusun Kalisari Terhadap Tradisi Gugur Gunung
Masyarakat memandang gugur gunung sebagai tradisi yang turun-temurun dari nenek moyang mereka yang dianggap perlu untuk dilestarikan. Tradisi ini bukan sekedar tradisi belaka, akan tetapi masyarakat juga menaruh harapan dibalik terlaksanakannya tradisi ini yaitu harapan akan mendapatkan keberkahan setelah datangnya musim penghujan. Hal pokok dalam pelaksanaan gugur gunung ialah membuat saluran air sebagai persiapan sebelum musim penghujan datang. Saluran air ini digunakan untuk mengairi sawah mereka, di samping juga untuk kebutuhan sehari-hari. Selain membuat saluran air
masyarakat juga berdoa secara bersama-sama sebagai bentuk penghambaan diri kepada Allah SWT, sebab masyarakat sadar bahwa sebagai manusia harus berusaha yang dalam tradisi gugur ini nampak
usaha mereka ialah susruk dan breseh. Masyarakat sangat antusias dan
memiliki minat serta semangat yang tinggi dalam melaksanakan tradisi ini meskipun dapat dikatakan tradisi ini hanya dilakukan sekali dalam setahun. Mereka dengan senang hati mengikuti kegiatan ini dan mengesampingkan kepentingan pribadi masing-masing.
Masyarakat juga menganggap tradisi ini sebagai wadah untuk lebih mempererat tali persaudaraan dan persatuan di antara mereka. Persaudaraan dan persatuan sangat penting karena mereka mengakui bahwa manusia tidak bisa tanpa bantuan orang lain. Apalagi di lingkungan desa maupun dusun, masyarakat sangat menjaga sekali rasa persaudaraan di antara mereka sehingga dengan adanya tradisi rutin ini mereka sangat mendukung sekali. Bentuk dukungan masyarakat dalam terlaksananya kegiatan ini banyak sekali, di antaranya kesediaan mereka meluangkan waktu untuk ikut serta dalam kegiatan ini sampai selesai, melaksanakan seluruh rangkaian acara dari kegiatan ini secara gotong-royong dan saling membantu satu sama lain. Dukungan lain yaitu dari para ibu yaitu dengan senang hati bershodaqoh dengan memberikan minuman, makanan kecil maupun makanan besar meskipun warga telah membawa bekal masing-masing. Para ibu juga
merasakan antusias para bapak meskipun mereka tidak terjun secara langsung dalam tradisi gugur gunung ini.
Masyarakat memiliki harapan agar tradisi luhur ini dapat terus dilaksanakan karena banyak sekali nilai yang dapat dipetik dan manfaat yang dapat dirasakan, seperti meningkatkan tali persaudaraan, melatih keikhlasan dan semangat gotong royong. Akan tetapi, mereka juga sadar bahwa kegiatan tersebut dapat terkikis seiring dengan perkembangan zaman. Teknologi yang semakin berkembang pesat pastinya juga akan berdampak pada kehidupan masyarakat. Jika dampak itu bersifat positif, seperti perbaikan saluran air yang permanen serta tercukupinya air bagi Dusun Kalisari maka masyarakat juga akan menanggapinya dengan senang. Mereka tidak khawatir lagi dengan sawahnya saat musim kemarau, mereka juga dapat mengolah sawahnya dan mencukupi kebutuhan sehari-hari. Meskipun demikian, nilai positif yang terkandung dalam tradisi gugur gunung, seperti nilai persatuan, persaudaraan, gotong-royong, dan lain-lain tetaplah dapat dilestarikan meskipun dalam bentuk yang sedikit berbeda. Masyarakat dapat membuat agenda mingguan atau bulanan untuk bekerja bakti sehingga nilai-nilai tersebut masih dapat dirasakan dan dipetik sebagai pembelajaran.
C. Nilai-nilai Edukatif yang Terdapat dalam Tradisi Gugur Gunung Tradisi gugur gunung ini masih dilestarikan oleh masyarakat Dusun Kalisari sebab mereka beranggapan tradisi ini banyak mengandung nilai-nilai positif dan tidak melanggar norma serta syariat agama.
1. Nilai Pendidikan Religius
a. Nilai Akidah
Nilai akidah merupakan pokok atau dasar manusia dalam hidup dunia ini. Akidah merupakan keyakinan bahwa Allah SWT yang berkuasa atas segala sesuatu, sehingga menjadikan sikap taat pada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sebagaimana di dalam tradisi gugur gunung ini memiliki prosesi (tahapan) yang bernuansa islami. Nilai akidah tersebut
terletak padasaat akhir dari kegiatan susruk yaitu memanjatkan
doa kepada Allah SWT. Islam telah menganjurkan kepada umat manusia untuk berdoa kepada Allah SWT ketika ingin meminta sesuatu. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat al-Mu‟min ayat 60
Artinya: “Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina".
Masyarakat yakin dan percaya bahwa Allah lah yang akan menentukan segala sesuatunya meskipun mereka telah berusaha semaksimal mungkin tapi tetap Allah juga lah yang menentukan. Allah lah yang akan menentukan segala sesuatu di bumi ini termasuk musim penghujan yang telah mereka nanti-nantikan.
Kegiatan breseh juga mengandung nilai akidah, yaitu saat
warga memanjatkan doa dan tahlil kepada leluhur dan saudara yang telah mendahului mereka. Warga yakin bahwa setiap orang pasti akan mengalami kematian. Mereka juga meyakini bahwa kehidupan setelah di dunia bersifat kekal. Begitu juga keyakinan akan adanya siksa kubur dan balasan berupa surga ataupun neraka. Maka dari itu lah mereka memanjatkan doa dan tahlil yang bertujuan memintakan ampun kepada Allah SWT atas dosa-dosa dan kesalahan leluhur mereka, serta meminta agar kebaikan mereka diterima di sisi-Nya.
Rangkaian doa mereka juga dipanjatkan untuk ketentraman hidup mereka masing-masing, sebab orang hidup pasti tidak luput dari masalah-masalah. Mereka berserah diri kepada Allah SWT. Meningkatkan iman kepada allah dan percaya akan datangnya kematian merupakan salah satu manfaat dari tradisi ini. Selesai tradisi dilaksanakan masyarakat yang tersentuh
hatinya dan sadar akan datangnya kematian maka mereka akan lebih meningkatkan ibadah mereka.
b. Nilai Ibadah
Syariah mengatur hidup manusia sebagai hamba Allah agar tunduk dan taat kepada-Nya, dengan melaksanakan segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya. Hal ini dibuktikan dalam bentuk pelaksanaan ibadah yang tata caranya telah diatur oleh syariat Islam. Secara umum ibadah berarti mencakup semua perilaku dalam aspek kehidupan manusia yang sesuai dengan ketentuan Allah SWT.
Nilai ibadah yang terkandung dalam tradisi ini di antaranya niat. Niat merupakan hal pokok dalam setiap perbuatan. Apabila perbuatan dilandasi dengan niat yang benar, maka perbuatan tersebut bernilai ibadah. Niat dilihat dari implementasi pelaksanaan tradisi gugur gunung, terletak pada semangat mereka dalam mengerjakan setiap rangkaian gugur gunung. Nilai ibadah lain seperti shodaqoh dalam tradisi ini juga bernilai ibadah. Bentuk shodaqoh ini tampak jelas ketika warga saling berbagi bekal atau makanan dan memberi pada yang tidak membawa.
Doa dan tahlil dalam rangkaian tradisi gugur gunung yang di dalamnya terdapat kata-kata pujian kepada Allah SWT merupakan sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang telah
dikaruniakan-Nya. Harapan warga dengan dilaksanakannya tradisi ini yang disertai dengan rasa syukur menjadikan rezeki mereka semakin berlimpah. Hal ini sebagaimana firman Allah
SWT dalam Al-Qur‟an Surat Ibrahim:7
Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Ayat tersebut jelas menerangkan bahwa semakin banyak bersyukur, maka semakin banyak pula rezeki yang akan didapat. Begitu juga dengan masyarakat Dusun Kalisari yang