• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prospek Industri Rumah Tangga Keripik Tempe

Industri pembuatan produk keripik tempe dianggap sebagai usaha yang cukup potensial untuk dikembangkan lebih lanjut, mengingat usaha ini mudah untuk dijalankan dan tidak membutuhkan ketrampilan. Keunggulan keripik tempe yang diproduksi di Kabupaten Wonogiri adalah tidak menggunakan bahan pengawet dan tempe yang digunakan yakni berupa tempe tipis yang dibuat khusus untuk keripik tempe tanpa melalui proses pengirisan terlebih dahulu, sehingga keripik tempe yang dihasilkan akan memiliki cita rasa yang khas. Harga keripik tempe juga relatif murah berkisar antara Rp 1.000,00 sampai Rp 2.500,00 yang dapat dinikmati oleh semua kalangan. Kelemahan dari industri keripik tempe di Kabupaten Wonogiri masih menggunakan teknologi yang sederhana, sehingga akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk berproduksi.

Bentuk keripik tempe yang diproduksi di Kabupaten Wonogiri relatif sama yaitu berbentuk persegi dan persegi panjang dengan ukuran kira-kira panjangnya 7-9 cm dan lebarnya 6-8 cm dengan tebal 1-1,5 mm, rasanya renyah, gurih dan enak. Industri rumah tangga keripik tempe mudah ditemui di setiap wilayah atau daerah kabupaten salah satunya di Kabupaten Wonogiri. Keripik tempe digemari oleh banyak konsumen. Banyaknya pesanan yang berdatangan sehingga meningkatkan nilai penjualan keripik tempe seiring dengan pertumbuhan penduduk dan berkembangnya sektor industri dan pariwisata khususnya di Kabupaten Wonogiri. Menghadapi peluang pasar keripik tempe yang makin baik dan meluas maka harus didukung dengan sistem pemasaran yang baik, agar produk keripik tempe dapat lebih dikenal oleh masyarakat umum. Hal ini terbukti bahwa keripik

cix

tempe sudah dipasarkan ke luar Kabupaten Wonogiri yaitu di Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Sragen dan Kota Surakarta. Pemasaran melalui pedagang perantara diharapkan dapat meningkatkan volume penjualan keripik tempe di Kabupaten Wonogiri.

Persaingan antar produsen keripik tempe di Kabupaten Wonogiri dalam memperoleh pelanggan membuat produsen perlu untuk mengeluarkan strategi khusus mengenai produknya dari segi rasa. Penerimaan produsen akan bertambah apabila produsen kreatif dalam menciptakan inovasi-inovasi tersebut. Keripik tempe yang diproduksi di Kabupaten Wonogiri rasanya gurih, apabila produsen mampu memperbanyak inovasi terkait dengan rasa maka akan menjadi peluang bagi produsen untuk mengembangkan usahanya sehingga akan menarik minat konsumen untuk mencoba variasi rasa selain rasa gurih misalkan pedas. Inovasi-inovasi produk tersebut akan tercapai apabila didukung oleh peran pemerintah dalam memberikan bantuan permodalan karena dengan inovasi tersebut akan membutuhkan tambahan biaya. Dengan demikian, diharapkan keripik tempe dapat menjadi produk unggulan di Kabupaten Wonogiri.

cx

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1. Biaya total rata-rata industri rumah tangga keripik tempe di Kabupaten Wonogiri adalah sebesar Rp 5.164.900,00 per bulan. Penerimaan rata-rata yang diperoleh sebesar Rp 5.807.300,00 per bulan sehingga keuntungan rata-rata yang diperoleh pengindustri tempe kedelai adalah sebesar Rp 642.400,00 per bulan. Profitabilitas industri rumah tangga keripik tempe di Kabupaten Wonogiri adalah sebesar 12,44% , yang berarti industri keripik tempe yang dijalankan menguntungkan.

2. Industri rumah tangga keripik tempe di Kabupaten Wonogiri yang dijalankan sudah efisien yang mempunyai nilai efisiensi lebih dari satu yaitu sebesar 1,12. Hal ini berarti bahwa setiap Rp 1,00 yang dikeluarkan produsen pada awal kegiatan usaha akan mendapatkan penerimaan 1,12 kali dari biaya yang dikeluarkan pada akhir kegiatan usaha tersebut. 3. Industri rumah tangga keripik tempe di Kabupaten Wonogiri memiliki

nilai koefisien variasi (CV) lebih dari 0,5 yaitu sebesar 1,21 dan nilai batas bawah keuntungan (L) sebesar minus Rp 918.600,00 sehingga industri keripik tempe berisiko tinggi dengan kemungkinan kerugian sebesar Rp 918.600,00. per bulan.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, maka saran yang dapat diberikan demi kemajuan industri rumah tangga keripik tempe di Kabupaten Wonogiri antara lain:

1. Bagi Produsen Keripik Tempe

a. Untuk meningkatkan keuntungan produsen keripik tempe di Kabupaten Wonogiri sebaiknya melakukan inovasi terutama dari segi

cxi

rasa. Inovasi rasa selain rasa gurih seperti rasa pedas sehingga akan menarik minat konsumen.

b. Untuk meningkatkan keuntungan produsen keripik tempe di Kabupaten Wonogiri sebaiknya membentuk suatu organisasi yang berfungsi untuk mewadahi para produsen keripik tempe sehingga produsen akan lebih mudah dalam pencarian pangsa pasar yang lebih luas dan bisa berbagi informasi yang berkaitan dengan usaha keripik tempe ini. Komunikasi yang baik dapat terjalin di antara produsen keripik tempe, sehingga jika ada masalah atau kendala dalam usaha produksi keripik tempe, para produsen dapat mencari jalan keluarnya secara bersama-sama.

2. Bagi Pemerintah Daerah

Untuk meningkatkan keuntungan industri rumah tangga keripik tempe sebaiknya pemerintah Kabupaten Wonogiri melalui Bank Perkreditan Rakyat atau lembaga keuangan yang terkait hendaknya berupaya membantu mengembangkan industri keripik tempe dengan memberikan bantuan modal dan peralatan produksi kepada produsen keripik tempe. Dengan demikian usaha ini bisa berjalan dengan lancar dan dapat meningkatkan produksi.

cxii

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Harga Sembilan Bahan Pokok. [email protected]. Diakses pada tanggal 4 April 2010.

Arsyad, D.M . dan M, Syam. 1998. Kedelai Sumber Pertumbuhan Produksi dan Teknik Budidaya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Jakarta.

Badan Pusat Statistik. 1999. Indikator Tingkat Hidup Pekerja. Badan Pusat Statistik. Jakarta.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Wonogiri. 2009. Wonogiri Dalam Angka 2008. Badan Pusat Statistik Kabupaten Wonogiri.

Cahyadi, W. 2007. Kedelai Khasiat dan Teknologi. PT Bumi Aksara. Jakarta Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Wonogiri. 2009. Data Base

Kependudukan Bidang Kependudukan Tahun 2009. Kabupaten Wonogiri. Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Penanaman Modal Kabupaten

Wonogiri. 2007. Data Kelompok Industri Kecil Potensial di Kabupaten Wonogiri. Kabupaten Wonogiri.

Fajar, R. 2008. Meningkatkan Daya Saing Industri Kripik Tempe Malang untuk Menembus Pasar Internasional. Laporan Hasil Penelitian Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Malang.

Firdaus, M. 2008. Manajemen Agribisnis. Bumi Aksara. Jakarta. Hernanto, F. 1993. Ilmu Usaha Tani. Penebar Swadaya. Jakarta. Ibrahim, Y. 2003. Studi Kelayakan Bisnis. PT Rineka Cipta. Jakarta.

Irawan, F. 2007. Analisis Keuntungan dan Daya Saing Keripik Pisang Studi Kasus pada ‘PT Andalas Mekar Sentosa’ di Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung . Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan. Vol. 3 (1) Maret 2007. Pustaka Ilmiah Universitas Lampung

Kadarsan, H. A. 1992. Keuangan Pertanian dan Pembiayaan Perusahaan Agribisnis. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Lincolin, A. 1991. Ekonomi Manajerial. BPFE. Yogyakarta.

Radiyati, T. 1990. Kerupuk keripik. Subang : BPTTG Puslitbang Fisika Terapan. LIPI. http://www.iptek.net. Diakses pada tanggal 11 November 2009

cxiii

Rianse, U. dan Abdi. 2008. Metodologi Penelitian Sosial Ekonomi (Teori dan Aplikasi). Alfabeta. Bandung.

Riyanto, B. 2001. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan Edisi IV. BPFE. Yogyakarta.

Rukmana, R. dan Y, Yuniarsih. 1996. Kedelai Budidaya dan Pascapanen. Kanisius. Yogyakarta.

Sarwono, B. 2007. Membuat Tempe dan Oncom. Penebar Swadaya. Jakarta

Simatupang, Pantjar, M.H. Togatorop, R.P. Sitompul, dan T. Tambunan. (1994), Prosiding Seminar Nasional Peranan Strategis Industri Kecil dalam

Pembangunan Jangka Panjang Tahap II, UKI-Press,Jakarta.

http://www.ekonomirakyat.org. Diakses tanggal 17 Desember 2009. Singarimbun, M dan S. Effendi. 1995. Metode Penelitian Survey. LP3ES. Jakarta. Siregar, A. J. 2009. Tanggap Beberapa Varietas Kedelai (Glycine Max (L.)

Merril) Pada Tingkat Pemberian Pupuk Organik Cair. USU. Sumatera Utara

Soekartawi, Rusmadi dan E. Damaijati. 1993. Risiko dan Ketidakpastian Dalam Agrobisnis : Teori dan Aplikasi. PT. RajaGrafindo Persada. Jakarta. Soekartawi, 1995. Analisis Usahatani. Universitas Indonesia – Press. Jakarta. , 2001. Agribisnis: Teori dan Aplikasinya. PT. Raja Grafindo. Jakarta. Soleh, M. 2003. Perbaikan Mutu dan Keamanan Pangan Produk Olahan

HasilIndustri Kecil Melalui Analisa Bahaya dan Penentuan Titik Kendali. Dalam Buletin Teknologi dan Informasi Pertanian Vol 6 Januari 2003. Departemen Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian(BPTP). Jawa Timur.

Sudarti, 2008. Analisis keuntungan dan Efisiensi Agroindustri Emping Melinjo di Desa Bakung dan Desa Besuki Kabupaten Sumberarto. Detik Jurnal. Vol. II, No. 2 Januari 2008. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.

Sunaryo, T. 2001. Ekonomi Manajerial : Aplikasi Teori Ekonomi Mikro. Erlangga. Jakarta.

Surakhmad, W. 1998. Pengantar Penelitian Ilmiah. Dasar, Metode dan Teknik. Edisi Revisi. Tarsito. Bandung.

Usnun, M. K. I. 2004. Analisis Usaha Pembuatan Krupuk Rendeng Puyur di Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang. Skripsi FP UNS. Surakarta.

cxiv

Wardani, C. R. 2008. Analisis Usaha Pembuatan Tempe Kedelai di Kabupaten Purworejo. Skripsi FP UNS. Surakarta.

Widowati, S. Erliana, G. dan S.S. Antarlina. 2009. Varietas Unggul Kedelai untuk Bahan Baku Industri Pangan. Jurnal Litbang Pertanian. 28 (3). Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. Malang

Dokumen terkait