BAB 7. PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH
7.2. Prospek Inflasi
dalam kategori normal kecuali daerah Banggai dan Luwuk diperkirakan mengalami curah hujan diatas normal. Curah hujan yang tinggi dapat mengganggu produksi dan pengolahan hasil panen padi dan kakao yang dapat berpengaruh negatif bagi kinerja sektor pertanian.
Tabel 7.1.
Perkiraan Curah Hujan di Wilayah Sulawesi Tengah
Kinerja sektor perdagangan, hotel dan restoran dan sektor jasa diperkirakan akan meningkat didorong oleh peningkatan akitivitas kampanye menjelang Pilgub yang akan dilaksanakan pada bulan April 2011.
7.2. PROSPEK INFLASI
Laju inflasi tahunan (y-o-y) Kota Palu pada triwulan I-2011 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan laju inflasi triwulan I-2010 maupun inflasi pada triwulan sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh adanya tekanan yang cukup tinggi
pada harga barang dan jasa baik di sisi permintaan, penawaran maupun ekspektasi. Terhitung tanggal 01 Februari 2011 sebagian besar harga BBM non-subsidi Pertamina yang terdiri dari Pertamax, Pertamax Plus, Bio Pertamax baik di Jakarta maupun di sebagian besar wilayah Indonesia mengalami perubahan harga. Khusus untuk Kota Palu, harga jual Pertamax di SPBU mencapai Rp 9.500 atau mengalami kenaikan sebesar 6,74% dari posisi harga pada tanggal 15 Januari 2011. Kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM non-subsidi ini menyebabkan kenaikan biaya transportasi bagi sebagian kalangan. Di sisi lain adanya kebijakan PLN yang mencabut capping
Januari 2011 Februari 2011 Maret 2011
21-50 mm 51-100 mm 51-100 mm 51-100 mm 51-100 mm 101-150 mm 51-100 mm 51-100 mm 101-150 mm 101-150 mm 51-100 mm 101-150 mm 101-150 mm 51-100 mm 101-150 mm 101-150 mm 101-150 mm 151-200 mm 101-150 mm 101-150 mm 151-200 mm 101-150 mm 101-150 mm 101-150 mm 101-150 mm 101-150 mm 101-150 mm Poso Morowali Banggai BangKep Wilayah Palu Parigi Moutong Donggala Toli-Toli Buol
77
atau batas atas kenaikan sebesar 18% sesuai dengan kebijakan tarif yang termuat dalam Peraturan Menteri ESDM No.7/2010, menyebabkan semakin membengkaknya biaya operasi khususnya industri pengolahan yang ada di Sulawesi Tengah. Anomali cuaca yang saat ini terus berlangsung di berbagai daerah juga berpotensi menyebabkan gangguan dalam hal jalur distribusi dan ketersediaan barang yang pada gilirannya akan menyebabkan naiknya harga-harga barang. Sementara di sisi permintaan, adanya kegiatan persiapan kampanye Pilgub di triwulan I-2011 ditengarai semakin memicu tingkat konsumsi masyarakat khususnya yang terkait dengan subkelompok makanan jadi, subkelompok perlengkapan/peralatan pendidikan, subkelompok transpor dan berbagai subkelompok sandang . Di sisi ekspektasi, sebagaimana yang tercermin dalam Survei Konsumen bulan Desember 2010, dalam 3 bulan yang akan datang masyarakat memperkirakan harga barang dan jasa akan meningkat dengan tingkat inflasi bulanan yaang menurun di bulan Februari 2011 dan kembali meningkat di akhir triwulan I 2011.
Indeks Persen (mtm)
Sumber : Survei Konsumen Bank Indonesia Palu, diolah
Grafik 7.2 Laju Inflasi Bulanan dan Indeks Ekspektasi Perubahan Harga -3.00% -2.00% -1.00% 0.00% 1.00% 2.00% 3.00% 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200
Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul AgustSep Okt Nop Des Jan Feb Mar Apr May Jun
2009 2010 2011
Indeks Ekspektasi Perubahan Harga Umum 6 bulan yad Indeks Ekspektasi Perubahan Harga Umum 3 bulan yad Inflasi Aktual (m-t-m)
78
Persen
Sumber : BPS, Proyeksi BI Palu
Grafik 7.3. Proyeksi Inflasi Kota Palu (Tw I-2011)
Inflasi tahunan (y-o-y) pada triwulan I-2011 diproyeksikan pada kisaran 7,75%-8,75% atau lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,21% (y-o-y) dan inflasi triwulan IV-2010 sebesar 6,40% (y-o-y). Sumber tekanan inflasi pada triwulan I-2011 diperkirakan berasal dari kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, minuman dan tembakau, serta kelompok sandang.
5.6 7.5 7.4 6.6 8.9 10.2 12.4 13.8 14.3 13.3 12.5 10.4 9.7 10.0 11.1 9.9 8.3 5.8 4.1 4.6 4.2 2.9 5.1 5.7 5.4 5.0 3.2 4.0 4.6 5.3 5.5 6.7 6.9 6.2 5.5 6.4 -2.0 4.0 6.0 8.0 10.0 12.0 14.0 16.0 Ja n Feb Mar Apr Mei Jun Jul A gu st Sep Okt N op Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul A gu st Sep Okt N op Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul A gu st Sep Okt N op Des Jan Feb Mar 2008 2009 2010 2011 (f)
TABEL INDIKATOR EKONOMI
PROVINSI SULAWESI TENGAH
a. Inflasi dan PDRB
Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV
MAKRO
Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Palu 165,29 114,41 *) 119,92 *) 120,96 *) 120,19*) 122,19*) 128.22*) 128,70*)
Laju Inflasi Tahunan (%) Kota Palu 8,13 10,40 *) 4,16 *) 5,73 *) 3,21*) 5,31*) 6.92*) 6.40*)
(miliar Rp) 13.961,15 15.047,43 4.075,62 4.374,81 4.092,16 4.261,3 4.431,8 4.651,9
- Pertanian 5.977,52 6.252,90 1.678,30 1.777,91 1.682,93 1.721,3 1.778,9 1.868,2 - Pertambangan dan Penggalian 460,98 548,82 142,95 141,93 143,87 146,6 152,6 155,1 - Industri Pengolahan 904,65 962,41 266,23 271,96 259,89 274,7 284,5 289,4 - Listrik dan Air Bersih 105,39 107,41 29,97 30,53 29,15 30,6 31,8 34,0 - Bangunan 920,69 1.003,28 270,70 321,75 269,20 287,7 301,9 340,9 - Perdagangan, Hotel dan Restoran 1.807,47 1.923,35 521,03 576,20 524,41 560,1 583,1 618,9 - Pengangkutan dan Komunikasi 995,27 1.112,51 311,98 324,09 312,38 327,1 342,7 350,8 - Keuangan, Persewaan dan Jasa
Perusahaan 636,85 705,26 194,88 206,14 201,98 208,2 214,8 223,1 - Jasa-Jasa 2.152,33 2.431,49 659,58 724,30 668,34 705,0 741,3 771,4
(miliar Rp) 13.961,15 15.047,43 4.075,62 4.374,81 4.092,16 4.261,3 4.431,8 4.651,9
-Konsumsi Rumah Tangga 8.009,50 8.582,51 2.323,21 2.461,55 2.406,85 2.414,6 2.499,4 2.556,5 -Konsumsi Lembaga Nirlaba 172,20 190,19 53,76 55,58 49,40 51,4 55,0 57,9 -Konsumsi Pemerintah 1.904,25 2.857,80 793,39 882,17 761,05 794,8 841,0 900,6 -PMTB 2.689,36 3.194,95 885,30 973,65 843,65 888,1 947,4 1.015,0 -Ekspor 2.159,10 2.424,92 577,08 713,20 695,45 630,6 684,4 658,7 -Impor(-) 1.250,53 2.202,95 557,12 711,35 664,25 518,2 595,5 536,8
Pertumbuhan PDRB tahunan (y-o-y) 7,99% 7,78% 2,23% 5,35% 7,92% 8,29% 8,74% 6,33%
Nilai Ekspor Non-Migas (USD Juta)** 251,58 280,02 80,69 115,83 97,97 78,1 109,2 91,7
Volume Ekspor Non-Migas (Ton)** 181.356,52 171.949,87 115.718,69 222.433,95 458.758,55 572.574,2 563.756,9 930.509,0
Nilai Impor Non-Migas (USD Juta)** 0,54 0,03 11,71 0,01 3,95 0,03 1,35 3,75
Volume Impor Non-Migas (Ton)** 720,87 56,11 4027,09 0,00 3563,15 0,6 916,0 5.381,9
Ket :
*) Menggunakan tahun dasar 2007 (sebelumnya tahun dasar 2002) **) Data sementara sampai dengan Desember 2010 (open files)
2010
b. Perbankan
2008 2009
Desember Desember Tw 1 Tw 2 Tw 3 Tw 4
PERBANKAN Bank Umum:
Total Aset (Rp juta) 7.885.152 9.353.677 9.766.095 10.430.810 10.909.168 11.724.399 25,35% DPK (Rp juta) 5.720.979 6.300.529 6.416.931 6.890.690 7.018.213 7.459.677 18,40% - Giro 1.306.357 1.129.083 1.485.662 1.667.709 1.596.661 1.200.727 6,35% - Deposito 1.165.207 1.233.967 1.529.638 1.526.323 1.530.001 1.513.297 22,64% - Tabungan 3.249.415 3.937.479 3.401.631 3.696.658 3.891.551 4.745.653 20,53% Kredit (Rp juta) 5.936.332 7.254.918 7.473.265 8.153.112 8.575.428 9.079.549 25,15% 1 Modal Kerja 2.738.064 3.053.265 2.890.511 3.464.591 3.777.284 4.020.506 31,68% 2 Investasi 331.274 518.685 593.732 655.235 602.376 646.794 24,70% 3 Konsumsi 2.866.994 3.682.968 3.989.022 4.033.286 4.195.768 4.412.249 19,80% % NPL GROSS 4,41% 4,90% 3,54% 2,87% 3,30% 3,33% % NPL NETT 1,68% 0,83% 0,81% 0,78% 1,29% 0,18% LDR 103,76% 115,15% 116,46% 118,32% 122,19% 121,72%
Kredit UMKM (Rp juta) 5.218.093 6.534.069 6.838.604 7.414.169 7.851.458 8.347.352 27,75% 1 Modal Kerja 2.097.996 2.428.233 2.394.968 2.869.478 3.194.535 3.399.171 39,99% 2 Investasi 253.103 422.868 477.827 541.971 496.666 536.504 26,87% 3 Konsumsi 2.866.994 3.682.968 3.965.809 4.002.720 4.160.257 4.411.677 19,79% Kredit Mikro (<=Rp50 juta) 2.202.805 2.439.625 2.304.334 2.338.085 2.447.516 2.506.371 2,74% 1 Modal Kerja 388.809 483.379 454.646 611.237 703.537 763.687 57,99% 2 Investasi 49.349 87.263 110.840 121.352 102.545 105.346 20,72% 3 Konsumsi 1.764.647 1.868.983 1.738.848 1.605.496 1.641.434 1.637.338 -12,39% Kredit Kecil (Rp50 juta<x<=Rp500 juta) 1.909.425 2.825.396 3.178.296 3.594.192 3.863.193 4.222.882 49,46% 1 Modal Kerja 787.098 888.304 832.153 1.032.708 1.181.367 1.262.831 42,16% 2 Investasi 104.995 194.452 212.856 259.046 256.518 279.042 43,50% 3 Konsumsi 1.017.332 1.742.640 2.133.287 2.302.438 2.425.308 2.681.009 53,85% Kredit Menengah (Rp500 juta<x<=Rp5 miliar) 1.105.863 1.269.048 1.355.974 1.481.892 1.540.749 1.618.099 27,50% 1 Modal Kerja 922.089 1.056.550 1.108.169 1.225.533 1.309.631 1.372.653 29,92% 2 Investasi 98.759 141.153 154.131 161.573 137.603 152.116 7,77% 3 Konsumsi 85.015 71.345 93.674 94.786 93.515 93.330 30,82%
NPL UMKM gross 3,23% 3,04% 3,03% 2,53% 2,57% 2,58%
BPR:
Total Aset (Rp juta) 205.830 253.927 236.766 261.905 288.540 308.612 21,54% DPK (Rp juta) 92.755 98.800 91.402 104.868 115.873 130.029 31,61% Tabungan 16.892 25.213 22.891 40.106 47.974 52.015 106,30% Deposito 75.863 73.587 68.511 64.763 67.899 78.013 6,02% Kredit (Rp juta) 180.078 188.278 185.555 190.329 209.878 221.360 17,57% 1 Modal Kerja 21.472 31.354 26.968 37.477 46.348 50.344 60,56% 2 Investasi 2.173 22.139 34.040 30.937 27.625 27.181 22,78% 3 Konsumsi 156.433 134.785 124.547 121.914 135.904 143.835 6,71% Rasio NPL gross (%) 2,2% 1,8% 2,2% 2,8% 2,5% 1,8% Rasio NPL net (%) 0,8% 0,8% 1,1% 1,6% 1,21% 0,7% LDR 194,1% 190,6% 203,0% 181,5% 181,1% 170,2% RINCIAN 2010 Pert 2010 (yoy)
c. Sistem Pembayaran
RRH = Rata-Rata Harian
Tr IV TOTAL Tr I Tr II Tr III Tr IV TOTAL
Posisi Kas Gabungan (Miliar Rp) 310,11 829,79 829,79 896,11 1.011,42 943,98 688,22 688,22 -17%
Inflow (Miliar Rp) 1.215,90 171,42 941,13 301,62 226,90 401,09 154,56 1.084,17 15%
Outflow (Miliar Rp) 2.665,20 928,40 2.626,52 157,14 1.092,46 838,37 1.042,91 3.130,89 19%
Pemusnahan Uang (Miliar Rp) 268,25 43,99 141,20 58,23 74,74 84,99 81,59 299,55 112%
Transaksi RTGS
- Inflow (Miliar Rp) 16.339,76 5.693,40 17.789,85 4.126,78 4.527,33 4.213,94 5.845,62 18.713,67 5% - Outflow (Miliar Rp) 19.603,93 6.225,83 18.579,07 4.459,48 4.432,19 4.794,05 6.633,41 20.319,13 9%
Nominal Kliring (Miliar Rp) 4.059,09 1.742,99 4.879,34 1.836,59 1.036,58 944,62 1.227,20 5.044,99 3%
Volume Kliring (Lembar) 130.279,00 34.045,00 131.655,00 32.722,00 33.649,00 34.570,00 36.492,00 137.433,00 4%
Kliring Kredit
Nominal Kliring Kredit (Miliar Rp) 405,09 95,81 331,15 81,11 84,18 88,52 89,05 342,86 4% Volume Kliring Kredit (Lembar) 30.614,00 5.981,00 23.820,00 4.966,00 5.273,00 5.281,00 4.984,00 20.504,00 -14% RRH Nominal Kliring Kredit (Miliar
Rp) 1,66 1,55 1,36 1,33 1,36 1,43 1,41 1,37 RRH Volume Kliring Kredit (Lembar)
125,47 96,47 97,62 81,41 85,05 85,18 79,11 82,02
Kliring Debet
Nominal Kliring Debet (Miliar Rp) 3.653,98 1.647,18 4.548,20 1.755,46 952,40 856,10 1.138,15 4.702,11 3% Volume Kliring Debet (Lembar) 99.664,00 28.064,00 107.805,00 27.756,00 28.376,00 29.289,00 31.508,00 116.929,00 8% RRH Nominal Kliring Debet (Miliar
Rp) 14,98 27,00 18,64 28,78 15,36 13,81 18,07 18,81 RRH Volume Kliring Debet (Lembar)
408,46 453,00 441,83 455,02 457,68 457,64 500,13 467,72
Kliring Pengembalian
Nominal Kliring Pengembalian
(Miliar Rp) 39,19 35,72 78,01 11,57 11,49 11,71 30,66 65,43 -16% Volume Kliring Pengembalian
(Lembar) 1.215,00 533,00 1.810,00 433,00 392,00 420,00 615,00 1.860,00 3% RRH Nominal Kliring Pengembalian
(Miliar Rp) 0,16 0,58 0,32 0,19 0,19 0,18 0,49 0,26 RRH Volume Kliring Pengembalian
(Lembar) 4,98 9,00 7,42 7,10 6,32 6,56 9,76 7,44
Cek/BG Kosong
Nominal Kliring Cek/BG Kosong
(Miliar Rp) 30,09 20,77 52,09 7,57 6,93 8,88 9,35 32,73 -37% Volume Kliring Cek/BG Kosong
(Lembar) 1.057,00 418,00 1.316,00 308,00 290,00 332,00 382,00 1.312,00 0% RRH Nominal Kliring Cek/BG
Kosong (Miliar Rp) 0,12 0,34 0,21 0,12 0,11 0,14 0,15 0,13 RRH Volume Kliring Cek/BG
Kosong (Lembar) 4,33 7,00 5,39 5,05 4,68 5,19 6,06 5,25 RRH Nominal Cek/BG Kosong (%) 0,61 1,19 1,19 0,41 0,67 0,94 0,76 0,65 RRH Volume Cek/BG Kosong (%) 0,67 1,23 1,23 0,94 0,86 0,96 1,05 0,95
Indikator 2008 Pert 2010 (yoy) 2010
DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN
Inflasi
Inflasi month to month
Inflasi year to date
Inflasi year on year
Inflasi quarter to quarter
Inflasi inti (core inflation)
Adalah peningkatan harga barang dan jasa secara umum dalam satu periode. Umumnya inflasi diukur dengan melihat perubahan harga sekelompok barang dan jasa yang dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat seperti tercermin pada perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK). Berdasarkan faktor penyebabnya, inflasi dapat dipengaruhi baik oleh sisi permintaan maupun sisi penawaran.
Adalah perbandingan harga (nisbah) perubahan Indeks Harga Konsumen bulan bersangkutan dibandingkan IHK bulan sebelumnya (inflasi bulanan), dan sering disingkat (m-t-m).
Adalah inflasi yang mengukur perbandingan harga perubahan Indeks Harga Konsumen bulan bersangkutan dibandingkan IHK bulan Desember tahun sebelumnya (inflasi kumulatif), dan sering disingkat (y-t-d).
Adalah inflasi yang mengukur perbandingan harga perubahan Indeks Harga Konsumen bulan bersangkutan dibandingkan IHK bulan yang sama tahun sebelumnya (inflasi tahunan), dan sering disingkat (y-o-y).
Adalah inflasi yang mengukur perbandingan harga perubahan Indeks Harga Konsumen pada akhir triwulan yang bersangkutan dibandingkan IHK akhir triwulan sebelumnya (inflasi triwulanan), dan sering disingkat (q-t-q).
Adalah inflasi komoditas yang perkembangan harganya dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi secara umum (faktor-faktor fundamental seperti ekspektasi inflasi, nilai tukar dan keseimbangan permintaan dan penawaran agregat) yang akan berdampak pada perubahan harga-harga secara umum dan lebih bersifat permanen.
Inflasi volatile foods
Inflasi administered prices Uang kartal Uang kuasi Uang giral LDR NPLs PPAP
Adalah inflasi kelompok komoditas bahan makanan yang perkembangan harganya sangat bergejolak karena faktor-faktor tertentu.
Adalah inflasi kelompok komoditas yang perkembangan harganya diatur oleh pemerintah.
Adalah uang kertas, uang logam, komemoratif koin dan uang kertas komemoratif yang dikeluarkan oleh bank sentral yang menjadi alat pembayaran yang sah di suatu negara.
Adalah kewajiban sistem moneter dalam bentuk deposito berjangka, tabungan dalam rupiah dan saldo rekening valuta asing milik penduduk. Berdasarkan standar penyusunan dan penyajian statistik secara internasional yang terbaru, BPR/BPRS dimasukkan sebagai anggota sistem moneter sehingga tabungan dan deposito yang ada di BPR/BPRS diperhitungkan sebagai uang kuasi.
Terdiri dari rekening giro masyarakat di bank, kiriman uang, simpanan berjangka dan tabungan yang sudah jatuh tempo yang seluruhnya merupakan simpanan penduduk dalam rupiah pada sistem moneter.
Adalah rasio total kredit terhadap total Dana Pihak Ketiga (DPK). DPK terdiri dari deposito berjangka, tabungan dan giro. LDR singkatan dari Loans to Deposit Ratio.
Adalah kredit-kredit di perbankan yang tergolong kolektibilitas tidak lancar, yaitu kurang lancar, diragukan dan macet berdasarkan ketentuan Bank Indonesia. NPLs singkatan dari Non Performing Loans.
Adalah sejumlah dana yang dialokasikan untuk mengantisipasi tidak tertagihnya aktiva produktif yang tergolong kurang lancar, diragukan dan macet berdasarkan ketentuan Bank Indonesia. Aktiva produktif dalam hal ini adalah kredit. PPAP singkatan dari Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif.
Cash Inflow Cash outflow Net flow PTTB PDB-PDRB DAU DAK Bagi Hasil
Adalah uang kartal yang masuk ke Bank Indonesia, misalnya melalui kegiatan setoran yang dilakukan oleh bank-bank umum.
Adalah uang kartal yang keluar dari Bank Indonesia melalui proses penarikan tunai bank umum dari giro di Bank Indonesia atau pembayaran tunai melalui Bank Indonesia. Adalah selisih antara outflow dan inflow.
Adalah kegiatan pemusnahan uang atau Pemberian Tanda Tidak Berharga, sebagai upaya Bank Indonesia untuk menyediakan uang kartal yang layak dan segar (fit for
circulation) untuk bertransaksi.
Adalah sebuah analisis perhitungan pertumbuhan ekonomi dengan menghitung seluruh nilai tambah yang terjadi di sebuah wilayah tertentu pada waktu tertentu. Untuk skala nasional disebut Produk Domestik Bruto (PDB) dan untuk skala regional/daerah disebut Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
DAU singkatan dari Dana Alokasi Umum. DAU merupakan transfer yang bersifat umum (block grant) untuk mengatasi masalah ketimpangan horisontal (antar daerah) dengan tujuan utama pemerataan kemampuan keuangan antar daerah.
DAK singkatan dari Dana Alokasi Khusus. DAK merupakan transfer yang bersifat khusus (specific grant) untuk memenuhi pembiayaan kebutuhan khusus daerah dan atau kepentingan nasional.
Merupakan dana perimbangan untuk mengatasi masalah ketimpangan vertikal (antara pusat dan daerah) yang dilakukan melalui pembagian hasil antara pemerintah pusat dan daerah penghasil, dari sebagian penerimaan perpajakan (nasional) dan penerimaan sumber daya alam.