POLITIK HUKUM DPD RI DALAM SISTEM UUD 1945 PASCA AMANDEMEN
D. PROSPEK MASA DEPAN DPD Dalam perspektif ke depan,
Moises Naim20 menyatakan cepat atau lambat kekuasaan yang terpusat akan makin melemah. Kekuasaan makin tersebar, yang semula pertarungan siapa kuat siapa menang, kemudian menjadi otoritas agama, akhirnya ke
20) Moises Naim, 2014, The End of Power, From Boardrooms to Batttle¿ elds and Churches do States, Why Being In Charge Insn’t What It Used To Be, New York : New York : Basic Books, hal 5
otoritas negara. Mulai dari negara teokrasi, oligarkhi, sampai ke sistem demokrasi. Karena berbagai pengaruh teknologi informasi, dan semangat demokratisasi, maka pusat-pusat kekuasaan semakin menyebar.
Tidak lagi pada istana-istana raja atau presiden, bahkan sudah sampai ke lapangan dan jalan-jalan yang ditunjukkan oleh demonstrasi rakyat besar-besaran. Negara-negara sentralistik bertumbangan, dimulai dari pengalaman Uni Soviet, Yugoslavia, dan terakhir terjadi di negara-negara Arab. Pada tahun 1977, dari 89 negara yang dipimpin secara otokrasi, saat ini menurun tinggal 22. Sekarang separuh lebih dari negara di dunia, sudah menggunakan demokrasi. Banyak pelajaran bagi para penguasa yang masih mimpi memusatkan ke satu tangan atau elite yang terbatas, bahwa kekuasaan makin sulit dipertahankan, bahkan sangat mudah melayang. Naim menyebutnya sebagai saat kekuasaan terpusat sudah sekarat.
Tidak banyak pilihan dalam menjaga persatuan untuk negara heterogen dengan wilayah yang sangat luas seperti Indonesia ini, kecuali dengan memberi kesempatan partisipasi seluruh bagian teritorial maupun budaya, untuk menjaga keutuhan sebagai negara kesatuan.
Inilah yang terus menjadi kajian negara-negara besar seperti Amerika Serikat. Pelajaran ini agaknya relevan dengan pengalaman Indonesia untuk menjaga keberagaman sekaligus
9 Politik Hukum DPD RI dalam Sistem UUD 1945 Pasca Amandemen
persatuan yang terancam dari waktu ke waktu.
Ke depan jika melihat konÀ gurasi pemikiran politik mutakhir, ada kesepakatan untuk
mempertimbangkan kembali kehadiran haluan negara seperti model
GBHN dalam sistem ketatanegaraan, melalui perubahan undang-undang dasar. Karena itu momentum tersebut sekaligus bisa dimanfaatkan untuk menyempurnakan politik hukum lembaga lembaga DPD RI dalam konsitusi. Sehingga berbagai kontroversi politik yang terus berkembang bisa diselesaikan, dan terbangun lembaga perwakilan daerah yang kuat dan kredibel, dan bisa diposisikan sebagai sarana perekat dan pemersatu bangsa.
Politik hukum harus disempurnakan. Menurut Satjipto Rahardjo21 hukum yang tujuan akhirnya untuk memenuhi kebutuhan dan membahagiakan manusia, harus selalu mengalir, tidak boleh berhenti, menyesuaikan dengan dinamika yang berubah dari waktu ke waktu. Hukum utuk manusia, bukan sebaliknya.
Apalagi posisi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang merupakan bagaian dari reformasi masa transisi dalam bentuk amandemen konstitusi.
Dalam situasi yang serba kacau tersebut, biasanya sistem yang lama sudah dirobohkan, namun sistem yang baru belum tertata dengan baik untuk menggantikannya. Karenanya diperlukan penyempurnaan terus menerus.
21) Rahardjo, Satjipto, 2009, Hukum Progresif Sebuah Sintesa Hukum Indonesia, Yogyakarta: Genta Publishing, hal 85 dan 103.
22) Michaels Stokes Paulsen & Luke Paulsen, 2015, The Constitution An Introduction, New York : Basic Books, hal 320 23) George Lakoff, 2016, Moral Politics, How Liberals and Conservatieves Think, Chicago dan London : The University of Chicago Press
Konstitusi, menurut pengalaman Amerika Serikat, bukan sekadar tawar menawar dan adu kekuatan politik, tetapi merupakan pertaruhan pencapaian tujuan sebuah bangsa atau negara, sekaligus alat untuk menjaga kesatuan dan keutuhan bangsa, dalam menghadapi berbagai tantangan baik dari dalam maupun dari luar. Memang seperti kesimpulan Michael Stokes Paulsen22 penyempurnaan sebuah konstitusi tidak bisa sekaligus jadi.
Banyak dipengaruhi oleh pemahaman sejarah dan keinginan politik hukum, serta iklim politik yang berkembang saat perubahan dilakukan. Karenanya harus dilakukan evaluasi terus menerus, untuk menuju sistem ideal yang menjamin tujuan besar sebuah bangsa dan negara.
Apapun yang akan dilakukan untuk menyempurnakan sistem politik dalam konstitusi, harus bersandarkan pada moral yang berbangsa dan bernegara, bukan karena mengejar kepentingan sesaat dari perseorangan atau kelompok.
Catatan George Lakoff23 untuk kasus di Amerika Serikat agaknya perlu direnungkan. Setajam apapun pertentangan kepentingan yang ada harus diselesaikan dengan mendahulukan pilihan yang bermoral.
Secara naluriah, politik adalah adu kekuatan. Pilihannya hanya menang atau kalah.
Dalam bahasa Sosrokartono yang menarik, politik bermartabat itu adalah
“menang tan ngasorake”, di satu sisi ada yang merasa menang, namun di
sisi yang lain tidak ada yang merasa dikalahkan. Ini hanya bisa terjadi jika keputusan-keputusan politik diambil berdasarkan kepentingan bersama yang jauh lebih besar, sehingga tidak bisa dicurigai sebagai perlindungan kepentingan seseorang atau sekelompok orang. Semua harus dikembalikan pada moral, ukuran-ukuran kepantasan, ukuran-ukuran etis yang bisa dipertanggungjawabkan. Publik harus bisa mempercayai, kebijakan apapun yang diambil berdasarkan moralitas yang dijunjung tinggi, seperti kebersamaan, persatuan, toleransi, keterbukaan. Dalam bahasa gaul, tidak ada dusta di antara kita.
Untuk kasus DPD mungkin ada yang bertanya, apa untungnya kalau politik hukumnya disempurnakan dalam konstitusi. Tetapi pertanyaan juga bisa dibalik, kalau pun itu dilakukan apa ruginya, untuk kepentingan bersama merajut kebhinekaan dan kebersamaan dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indoneaia (NKRI). DPD RI akan bisa berfungsi sebagai salah satu jangkar yang signiÀ kan untuk menjaga keutuhan wilayah, dengan fungsi untuk mengartikulasikan berbagai keragaman yang menjadi kodrat dari negara dan bangsa Indonesia.
11 Politik Hukum DPD RI dalam Sistem UUD 1945 Pasca Amandemen
Daftar Pustaka
Antara, 2016, “Penguatan Kewenangan DPD perlu dilakukan agar Kesetaraan dengan DPR”, 3 Oktober
Aristotle, 1998, Politics, translated by CDC Reeve, Indianapolis/Cambridge : Hackett Publishing Company
Asshidiqie, Jimly, 2009, Menuju Negara Hukum yang Demokratis, Jakarta:
Bhuana Ilmu Populer
Faisal, King, 2013, Sistem Bikameral dalam Spektrum Lembaga Parlemen Indonesia, Yogya, UII Pers
Colin Flint, 2017, Introduction to Geopolitics Third Edition, London dan New York : Routledge
Fukuyama, Francis, 2015, Political Order and Political Decay, London: ProÀ le Books
George Lakoff, 2016, Moral Politics, How Liberals and Conservatieves Think, Chicago dan London : The University of Chicago Press
Indrayana, Denny, 2008, Negara Atara Ada dan Tiada, Reformasi Hukum Ketatanegaraan, Jakarta : Kompa
Kaelan, 2015, Liberalisasi ideologi Negara Pancasila, Yogya : Paradigm Kaelan, 2016, Inkonsistensi dan Inkoherensi dalam Undang-Undang Dasar Negara Repubik Indonesia Tahun 1945 Hasil Amandemen (Kajian FilosoÀ s dan Yuridis), Yogyakarta : Paradigma
Kartasasmita, Ginanjar, 2016, “DPD: Sebuah ReÁ eksi dan Harapan”, Seminar Nasional, Jakarta, 13 Oktober
Mahfud MD, Moh, 2010, Perdenatan Hukum Tata Negara Pascaamandemen Kontitusi, Jakarta : Raja GraÀ ndo Persada
Moises Naim, 2014, The End of Power, From Boardrooms to BatttleÀ elds and Churches do States, Why Being In Charge Insn’t What It Used To Be, New York : New York : Basic Books
Paulsen, Michaels Stokes Paulsen & Luke Paulsen, 2015, The Constitution An Introduction, New York : Basic Books
Rahardjo, Satjipto, 2009, Hukum Progresif Sebuah Sintesa Hukum Indonesia, Yogyakarta: Genta Publishing, hal 85 dan 103
Sadono, Bambang, 2017, “Pragmatisme Pembentukan UU”, Kompas, 23 Januari
Suhendra, Adi dan Ray Ferza, 2015, “Penguatan Kewenangan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia dalam Bingkai Bikameralisme”, laporan penelitian.
Zoelva, Hamdan, 2016, “Proses Penguatan DPD RI”, Seminar Nasional, Jakarta, 13 Oktober
13