• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSPEK PEREKONOMIAN DAN INFLASI REGIONAL

Dalam dokumen BAB 1 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL (Halaman 41-46)

Konsensus para ekonom dunia semakin memastikan adanya recovery global yang berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Di satu sisi kondisi ini memicu kekhawatiran akan diterapkannya exit policy kebijakan fiskal dan moneter secara serentak sehingga justru menimbulkan shock di sektor riil dan keuangan yang pada akhirnya memperlambat laju pertumbuhan ekonomi dunia. Seluruh negara telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonominya di tahun 2010 menjadi jauh lebih atraktif. Termasuk pemerintah Indonesia yang merevisi angka proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2010 dari 5,5% menjadi 5,8%.

Keyakinan pemerintah dalam menghadapi kondisi perekonomian ke depan tergambar secara jelas dari asumsi makroekonomi yang ditetapkan.

Asesmen IMF terhadap ekonomi Indonesia juga relatif tidak berbeda, bahkan cenderung lebih optimis khususnya di tahun 2010 yang memprediksi Indonesia mampu tumbuh 6,0%. Di samping angka pertumbuhan GDP, pemerintah juga mengasumsikan adanya stabilitas nilai tukar disertai tingkat suku bunga yang bertahan dari level BI Rate pada saat ini sebesar 6,5%. Dengan kondisi ini diharapkan penurunan suku bunga perbankan akan berlanjut sehingga dapat lebih menggerakkan sektor riil dan meningkatkan daya saing industri Indonesia.

Perekonomian Kepulauan Riau menunjukkan tingkat resiliensi yang tinggi dalam merespon pemulihan ekonomi global. Hal ini disebabkan dominasi industri manufaktur asing (PMA) yang sebagian besar berorientasi re-ekspor dalam struktur perekonomian regional.

Sumber : IMF, MAS, BI dan BPS (Apr-2010)

Keterangan: *Indonesia, Malaysia, Philipina, Thailand dan Vietnam

**Proyeksi BPS mendekati 6%

Tabel 7.2.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Negara di Dunia

Sumber : Kementrian Keuangan, DPR, dan RPJMN (Apr-2010) Keterangan: * Kesepakatan sementara pemerintah dan DPR

** RPJMN 2011

*** Pagu indikatif

Tabel 7.1.

Asumsi Makroekonomi Indonesia Tahun 2010 & 2011

2010* RPJMN** 2011***

2008 2009 2010 2011 2009 2010 2011 2010

World Output  3.0 ‐0.6 4.2 4.3 1.7 3.9 4.5 4.5

United States 0.4 ‐2.4 3.1 2.6 0.1 2.8 2.4 5.6

Euro Area 0.6 ‐4.1 1.0 1.5 ‐2.2 1.2 1.8

Japan ‐1.2 ‐5.2 1.9 2.0 ‐1.4 1.6 2.3 3.8

United Kingdom 0.5 ‐4.9 1.3 2.5 ‐3.1 2.3 2.6 1.8

China 9.6 8.7 10.0 9.9 10.7 9.4 10.1 11.9

India 7.3 5.7 8.8 8.4 6.0 10.9 8.2 8.2

ASEAN‐5 *) 4.7 1.7 5.4 5.6 5.0 4.2 6.2 6.2

Singapore 1.1 ‐2.0 8.9 6.8 4.0 13.1

Hongkong 2.4 ‐2.7 5.0 4.4 2.6 9.5

Middle East 5.1 2.4 4.5 4.8

Indonesia 6.1 4.5 6.0 6.2 5.4 6.0**

Q4 over Q4

Projections Projections

Year on  Year Year over Year

Latest

Pemulihan daya beli global mendorong kenaikan permintaan di negara-negara prinsipal perusahaan yang berdomisili di Kepulauan Riau, khususnya kota Batam. Akselerasi pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2010 yang dialami beberapa negara seperti Singapura, Hongkong, Amerika, dan Jepang akan lebih berdampak positif terhadap kinerja sektor industri pengolahan Kepulauan Riau yang diprakirakan tumbuh 10,01% di triwulan I-2010. Pengaruhnya akan konvergen dengan kinerja ekspor yang diprediksi semakin tumbuh membaik di triwulan II-2010.

Insentif ekspor antara lain ditandai dengan mulai disosialisaikannya revisi tiga Peraturan Menteri Keuangan (PMK) untuk kawasan perdagangan bebas (free trade zone) Batam, Bintan, Karimun (BBK) kepada pengusaha dan instansi terkait. Kebijakan baru ini lebih spesifik dan lebih memudahkan pengusaha dalam hal pemasukan dan pengeluaran barang dari dan ke kawasan perdagangan bebas (FTZ-BBK), dimana salah satunya berupa sistem masterlist yang lebih fleksibel. Sebaliknya, impor bahan baku akan cenderung menurun menunggu jadwal pemesanan inventory (restocking) berikutnya.

Sementara itu laju inflasi cenderung fluktuatif. Pada bulan April 2010 diprediksi menurun dengan peluang deflasi yang cukup besar. Sementara itu, tekanan inflasi di bulan Mei dan Juni 2010 diprakirakan cenderung meningkat dipicu oleh kenaikan tarif air bersih pada awal bulan Mei dan rencana kenaikan tarif listrik mengikuti kebijakan harga gas pemerintah (administered price). Adapun dari aspek distribusi barang (supply) diperkirakan cukup stabil didukung oleh lancarnya arus transportasi laut yang membawa barang kebutuhan, baik domestik maupun dari luar negeri.

Grafik 7.2.

Perkembangan Nilai Tukar Rupiah terhadap US Dollar dan Singapore Dollar

Sumber : Kurs Tengah Bank Indonesia Grafik 7.1.

Perkembangan Harga Beberapa Komoditas Internasional

Sumber : Bloomberg

7.1. PROSPEK PERTUMBUHAN EKONOMI

Tingkat pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau di triwulan II-2010 diprakirakan masih ekspansif di kisaran 9,38 ± 1% (year-on-year). Di sisi permintaan, laju pertumbuhan ditopang oleh perbaikan kinerja ekspor dan konsumsi swasta menjelang musim pilkada Gubernur Kepulauan Riau yang direncanakan pada bulan Mei 2010. Penguatan ekspor di triwulan mendatang diduga akan berasal dari naiknya ekspor dari industri galangan kapal (shipyard) dan industri mesin-mesin listrik.

Sementara kinerja investasi diprakirakan tumbuh stabil yang diikuti pembenahan berbagai peraturan dan kewenangan di kawasan FTZ Batam-Bintan-Karimun, khususnya terkait dengan arus pemasukan dan pengeluaran barang, serta kelembagaan FTZ yang sejauh ini belum berfungi secara optimal. Adapun kericuhan yang sempat terjadi di Drydocks World Graha pada tanggal 22 April 2010 diperkirakan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap iklim investasi secara umum. Hal ini disebabkan permasalahan yg terjadi bersifat sangat internal, dan upaya tanggap dari Kepolisian, pemerintah daerah serta pemerintah pusat sangat membantu meredam masalah agar tidak meluas. Upaya mediasi yang dilakukan oleh pemerintah kota Batam serta recovery kondisi internal diharapkan dapat membantu perusahaan agar segera beroperasi kembali secara normal guna menghindari adanya delay pekerjaan yang terlalu lama sehingga dapat berimplikasi pada penundaan jadwal pengiriman.

Pada bulan Mei 2010, Drydocks World rencananya akan mengirimkan 1 buah Jack Up Drilling Rigs (L-205 Haven) senilai US$ 200 juta atas pesanan Conoco Phillips Skandinavia AS untuk aktivitas pengeboran di blok eksplorasi milik Master Marine ASA – Norwegia. Jack Up Rig ini merupakan Rig ke-5 yang diselesaikan dari 6 Rig yang dipesan, dimana Rig terakhir juga sedang dalam tahap pengerjaan yang rencananya akan dikirim pada bulan September 2010. Adapun 4 Rig sebelumnya telah diselesaikan di tahun 2009 lalu atas pesanan UMW Standard Drilling yang dioperasikan pada proyek-proyek Petronas di Malaysia.

Membaiknya kinerja ekspor tersebut akan sejalan dengan peningkatan kapasitas utiliasi produksi di sektor industri pengolahan secara umum, yang diproyeksikan tumbuh stabil di kisaran 10,09 ± 1%. Di samping sektor industri, sektor-sektor utama lainnya juga diprakirakan akan tumbuh lebih baik di triwulan mendatang. Pertumbuhan sektor bangunan tidak telepas dari adanya proyek-proyek konstruksi besar yang sedang berjalan antara lain pembangunan Kepri Mall, Batam City Condominium (BCC), pusat pemerintahan pulau Dompak, Superblok Grand Quarter, dan beberapa Apartemen baik swasta komersil maupun bersubsidi (rusunawa). Selain itu, peluang meningkatnya kinerja sektor perdagangan, hotel dan restoran cenderung bertumpu pada daya beli masyarakat yang terus membaik serta program Visit Batam 2010.

7.2. PROSPEK INFLASI

Secara umum, laju inflasi tahun 2010 diperkirakan mengalami tekanan yang lebih besar dibanding tahun 2009. Kenaikan harga komoditas utama seperti minyak bumi, kelapa sawit dan emas ikut mempengaruhi pergerakan harga di tahun 2010. Aktivitas ekonomi yang mulai pulih di tahun 2010 juga akan mendorong daya beli masyarakat sehingga berpotensi memicu kenaikan harga di level distributor dan pengecer. Memperhatikan hal tersebut, inflasi Kota Batam sampai dengan akhir tahun 2010 diperkirakan sebesar 4±1%. Sementara di kota Tanjung Pinang, tingkat inflasi tahun 2010 diproyeksi sekitar 4,3±1%.

Ditinjau secara triwulan, laju inflasi kota Batam selama triwulan II-2010 diprakirakan relatif menurun di kisaran 0,67±1%, sedangkan selama triwulan I-2010 mengalami inflasi

Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau ; Keterangan: * Angka sementara;

(P) Proyeksi Kantor Bank Indonesia Batam, Mar-2010 Tabel 7.3.

Laju Pertumbuhan Ekonomi Kepulauan Riau berdasarkan Sektoral & Penggunaan

Grafik 7.3.

Perkembangan Impor Beberapa Komoditas Utama

Sumber : DSM-BI (SITC) TW‐II TW‐I**TW‐II(P) 2008 2009*

KOMPONEN PENGGUNAAN

‐ Konsumsi Rumah Tangga 14.82%#29.66%26.89% 19.03% 17.37%

‐ Konsumsi Lembaga Swasta 17.75%# 4.62%16.30% 13.41% 23.56%

‐ Konsumsi Pemerintah 11.69%#22.60%17.66% 13.26% 13.95%

‐ Pembentukan Modal Tetap Bruto 11.07%#21.93%21.02% 29.38% 15.14%

‐ Ekspor Barang dan Jasa ‐1.84%# 3.46% 4.22% 6.18% ‐2.11%

‐ Impor Barang dan Jasa 3.57%#14.60%18.70% 2.94% 7.59%

SEKTOR EKONOMI

‐ Pertanian 0.11%# 4.57% 3.67% 3.80% 1.50%

‐ Pertambangan & Penggalian ‐0.12%# 1.80% 1.87% ‐2.71% 1.10%

‐ Industri Pengolahan 1.28%#10.01%10.09% 4.56% 2.38%

‐ Listrik, Gas & Air Bersih 1.16%# 6.93% 2.81% 7.94% 2.08%

‐ Bangunan 13.65%#12.12%12.39% 34.26% 13.36%

‐ Perdagangan, Hotel & Restoran 1.53%#11.81%11.99% 7.77% 3.84%

‐ Pengangkutan & Komunikasi 5.82%# 7.04% 6.46% 14.44% 6.67%

‐ Keuangan, Persewaan & Jasa P'an 5.46%# 5.25% 5.28% 9.71% 5.50%

‐ Jasa‐Jasa 9.12%# 6.89% 6.32% 15.59% 8.44%

2.26%# 9.34% 9.36% 6.65% 3.51%

Laju Inflasi Kota Tanjung Pinang

Sumber : BPS Kota Tanjung Pinang

Ket: Apr-Des 2010 adalah Proyeksi BI Batam (Jan-2010) Grafik 7.4.

Laju lnflasi Kota Batam

Sumber : BPS Kota Batam

Ket: Apr-Des 2010 adalah Proyeksi BI Batam (Jan-2010)

1,71% (angka kumulatif inflasi bulanan). Sebaliknya, inflasi head secara tahunan diproyeksi justru meningkat dari 2,97% menjadi 4,10±1% (y-o-y). Seperti halnya kota Batam, kota Tanjung Pinang selama triwulan mendatang diprakirakan mengalami penurunan inflasi dibanding triwulan sebelumnya, dari 0,8% menjadi 0,72±1%. Laju head inflation juga diprediksi meningkat dari 1,92% menjadi 3,41±1% (y-o-y). Penurunan level inflasi secara triwulanan dipengaruhi oleh potensi deflasi yang diprakirakan akan terjadi pada bulan April.

Asesmen inflasi di triwulan mendatang secara umum didukung oleh situasi perekonomian yang kondusif sehingga tidak terdapat shock permintaan barang, serta faktor distribusi barang kebutuhan dari luar daerah yang semakin lancar memasuki triwulan II-2010. Indikator dini prakiraan curah hujan pada bulan April-Juni 2010 cukup mengkonfirmasi hal tersebut.

Selain itu, indikator kecepatan angin dan tinggi signifikan gelombang laut diperairan Selat Malaka dan Laut Natuna juga terus menunjukkan gejala semakin mereda. Kondisi ini diikuti oleh menurunnya frekuensi terjadinya gelombang tinggi (>3 meter) di laut Natuna sehingga mempengaruhi kelancaran pasokan ikan dari wilayah tersebut.

Indikator dini lainnya berdasarkan Survei Pemantauan Harga (SPH) yang dilakukan oleh Kantor Bank Indonesia Batam secara mingguan semakin memperkuat asesmen peluang deflasi yang cukup besar pada bulan April 2010. Hasil SPH sampai dengan minggu ke-4 bulan April 2010 memperlihatkan dominasi penurunan harga komoditas-komoditas penyumbang inflasi terbesar, seperti beras, minyak goreng, buah-buahan, sayuran, dan beberapa jenis ikan. Di lain pihak, potensi meningkatnya tekanan pada inflasi tahunan (head inflation) didorong oleh kelompok core inflation yang dipicu oleh kenaikan harga emas mengikuti tren harga emas di pasar internasional. Sebaliknya, harga gula mulai turun menyusul terdistribusinya pasokan gula pasir yang diimpor oleh PT. Batam Harta Mandiri (BHM) dari Thailand.

APRIL 2010

JUNI 2010 MEI

2010 Gambar 7.1.

Prakiraan Curah Hujan di Indonesia Bulan April – Juni 2010

Sumber : Badan Meteorologi dan Geofisika, Pemutakhiran April 2010

M-I M-II M-III M-IV M-V M-I M-II M-III M-IV

Sementara itu, kenaikan head inflation kota Batam pada bulan Mei 2010 akan dipicu oleh kenaikan tarif air bersih sejak 1 Mei 2010. Sedangkan di bulan Juni, potensi inflasi diduga dipengaruhi oleh ekspektasi masyarakat akan rencana kenaikan tarif dasar listrik rata-rata 10% sejak bulan Juli 2010. Kenaikan tarif air rata-rata-rata-rata sebesar 18% diprakirakan akan berkontribusi mendorong inflasi sekitar 0,27%. Adapun kenaikan tarif air oleh PT. Adhya Tirta Batam (ATB) dimaksudkan untuk investasi guna mengantisipasi terjadinya defisit air seperti pada tahun 2008. Investasi pembangunan Water Treatment Plan (WTP) di tahun 2010 ini direncanakan sebesar Rp 137 miliar dan di tahun 2011 sebesar Rp 120 miliar. Di lain pihak, kenaikan harga gas untuk industri yang ditetapkan pemerintah sebesar 15% terhitung 1 April 2010 mengikuti kenaikan harga gas dunia, maka tarif listrik di Batam juga diperkirakan akan segera mengalami penyesuaian. Hal ini mengingat komposisi pembangkit listrik yang berbahan bakar Gas mencapai 75% dari total pembangkit. Selain itu kontrak pembelian gas dari PGN yang bersifat firm hanya sekitar 13 MMBTU atau 25% dari jumlah gas yang dipasok, sedangkan sisanya merupakan kontrak interruptable. Kenaikan tarif listrik jika diasumsikan rata-rata sebesar 10% sebagaimana isyarat persetujuan kenaikan tarif oleh DPR, diperkirakan dapat menambah tekanan inflasi sekitar 0,31%.

Adapun berlangsungnya pilkada Gubernur pada bulan Mei 2010 diperkirakan tidak berpengaruh signifikan terhadap pembentukan inflasi secara umum. Kenaikan harga secara relatif diperkirakan terjadi pada kelompok barang sandang serta kelompok makanan jadi, minuman dalam kemasan dan rokok. Situasi selama masa kampanye juga sangat kondusif sehingga tidak berpotensi menimbulkan shock harga.

Tabel 7.4.

Perkembangan Harga Beberapa Komoditi Penyumbang Inflasi

Sumber : Survei Pemantauan Harga (SPH) Kota Batam

Ket. : Berdasarkan harga rata-rata 4 pedagang di pasar tradisional Aviari dan Sagulung

Dalam dokumen BAB 1 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL (Halaman 41-46)

Dokumen terkait