Pada tahun 2010, banyak kalangan meyakini bahwa pemulihan ekonomi global akan berlangsung lebih agresif, yang akan dipimpin oleh negara emerging market Asia terutama China. Indonesia termasuk negara yang mampu lolos dari krisis dengan mencatat pertumbuhan ekonomi terbaik setelah China dan India. Perekonomian domestik pada tahun 2009 diperkirakan tumbuh sebesar 4,0%-4,5%, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,5%-4,0%. Dan pada 2010, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksi mencapai 5,0%-5,5%. Adapun IMF (International Menetary Fund) dan Economist memprediksi lebih pesimis dengan tingkat pertumbuhan sebesar 4,5% dan 4,8%, namun secara agregat tetap berakselerasi dibanding laju pertumbuhan tahun 2009.
Resiliensi perekonomian regional Kepulauan Riau merespon pemulihan ekonomi global relatif tinggi. Terutama terkait dengan ekspansi ekonomi yang dialami Singapura, Amerika, dan negara-negara Eropa di kuartal akhir 2009. Pengaruhnya pada kondisi regional semakin terlihat di triwulan IV-2009 dimana perekonomian diperkirakan tumbuh 2,47%. Titik balik (turning point) telah terjadi di triwulan III yang mencatat pertumbuhan sebesar 0,54% setelah pada triwulan sebelumnya masih mengalami kontraksi ekonomi sebesar 0,43%. Kenaikan order dari negara-negara mitra dagang utama tersebut diperkirakan semakin intens di tahun 2010. Sehingga hasilnya akan terlihat pada perbaikan kinerja ekspor luar negeri secara lebih nyata, sekaligus menjadi determinan utama pendorong pertumbuhan di sisi demand.
Sumber : Berbagai Sumber
Tabel 7.1.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia oleh Beberapa Lembaga
Latest Projections 2009 2010 Bank Indonesia Sep‐2009 4.0 5.0 Gov't of Indonesia Sep‐2009 4.5 5.5 IIF Jul‐2009 4.5 5.5 ADB Sep‐2009 4.3 5.4 World Bank Sep‐2009 4.3 5.4 Economist Oct‐2009 4.2 4.5 IMF Oct‐2009 4.0 4.8 Projections year‐over‐year
Sumber : IMF & berbagai sumber (Oktober 2009)
*) Indonesia, Malaysia, Philipina, Thailand dan Vietnam Tabel 7.2.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Negara di Dunia
Estimates 2008 2009 2010 2008 2009 2010 World Output 3.0 ‐1.1 3.1 ‐0.1 0.8 3.2 United States 0.4 ‐2.7 1.5 ‐1.9 ‐1.1 1.9 Euro Area 0.7 ‐4.2 0.3 ‐1.7 ‐2.5 0.9 Japan ‐0.7 ‐5.4 1.7 ‐4.5 ‐1.3 1.4 United Kingdom 0.7 ‐4.4 0.9 ‐1.8 ‐2.5 1.3 Canada 0.4 ‐2.5 2.1 ‐1.0 ‐1.5 3.0 China 9.0 8.5 9.0 6.9 10.1 9.2 India 7.3 5.4 6.4 4.8 5.1 7.0 ASEAN‐5 *) 4.8 0.7 4.0 1.9 2.8 3.8 Singapore 1.1 ‐1.7 4.3 ‐4.2 2.5 ‐ Hongkong 2.4 ‐3.6 3.5 ‐2.6 ‐ ‐ Middle East 5.4 2.0 4.2 ‐ ‐ ‐ Projections Year over Year Latest Projections Q4 over Q4
Keinginan pengusaha terhadap perbaikan dalam administrasi dan tata cara pemasukan dan pengeluaran barang dari dan ke kawasan Free Trade Zone Batam-Bintan-Karimun (FTZ-BBK) direspon pemerintah melalui revisi PMK Nomor 240/04/2009 sebagai pengganti PMK 45/2009, PMK Nomor 241/04/2009 sebagai pengganti PMK 46/2009, dan PMK Nomor 242/04/2009 sebagai pengganti PMK 47/2009 pada tanggal 15 Januari 2010. Poin pentingnya terdapat pada perubahan aturan master list yang kaku kepada mekanisme master list yang lebih fleksibel. Meskipun belum sepenuhnya sesuai dengan tuntutan sektor usaha namun hal ini diharapkan menjadi insentif dalam memperlancar arus barang, sehingga menimbulkan minat investor lain untuk berinvestasi ke kawasan FTZ-BBK.
Sementara tekanan inflasi di triwulan awal 2010 diprediksi meningkat memasuki musim barat yang menyebabkan gelombang laut tinggi. Dampaknya selain pada mengganggu distribusi bahan pokok dari luar Batam, juga mengakibatkan pasokan ikan menurun karena nelayan tidak melaut. Selain itu, faktor kelangkaan pasokan gula masih akan mewarnai angka perkiraan inflasi di triwulan mendatang. Sedangkan pengaruh eksternal diidentifikasi berasal dari kenaikan harga komoditas primer terutama minyak bumi dan emas. Stabilitas nilai tukar Rupiah menjadi faktor penahan laju inflasi ke level yang lebih tinggi.
7
7..11.. PPRROOSSPPEEKKPPEERRTTUUMMBBUUHHAANNEEKKOONNOOMMII
Laju pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau di triwulan I-2010 diperkirakan lebih berakselerasi di kisaran 4,2 ± 1% (year-on-year). Faktor utama pendorong pertumbuhan akan berasal dari penguatan ekspor menyusul pemulihan sektor industri manufaktur yang semakin intens. Sementara komponen konsumsi diestimasi relatif melambat di awal tahun, baik konsumsi rumah tangga, swasta nirlaba, maupun pemerintah. Perlambatan di satu sisi
Grafik 7.2.
Perkembangan Nilai Tukar Rupiah terhadap US Dollar dan Singapore Dollar
Sumber : Kurs Tengah Bank Indonesia
Grafik 7.1.
Proyeksi Harga Minyak Mentah WTI dan Natural Gas
terkait dengan pola konsumsi yang cukup tinggi di akhir tahun. Sedangkan di sisi lain menyangkut penataan kebijakan yang menyangkut realisasi anggaran belanja pemerintah.
Kinerja ekspor triwulan I-2010 diproyeksi tumbuh 4,69 ± 1%, lebih tinggi dibanding triwulan IV-2009 yang tumbuh 3,33% (angka sementara). Penguatan ekspor di triwulan mendatang dipengaruhi oleh kinerja sektor industri manufaktur, terutama pada industri transportasi/perkapalan dan industri logam. Sejalan dengan itu, sektor Industri Pengolahan diperkirakan tumbuh 2,65 ± 1%, keluar dari zona pertumbuhan negatif yang dialami dalam setahun terakhir.
Di pertengahan Januari 2010 Drydocks World (DDW) Pratama (ex.Pan United) meluncurkan satu dari lima proyek besar mereka, yakni Jack Up Drilling Rigs L-205 Haven senilai US$ 200 juta yang dikerjakan selama 30 bulan. Kapal tersebut dikirim ke Norwegia yang akan digunakan sebagai anjungan pengeboran minyak lepas pantai. Namun demikian, pemulihan industri galangan kapal di Kepulauan Riau khususnya kota Batam belum berlangsung merata. Perusahaan shipyard skala menengah masih mengalami kesulitan akibat turunnya permintaan kapal dari dalam negeri, yang lebih memilih membeli kapal bekas impor yang lebih murah. Untuk itu, pemerintah perlu memikirkan untuk menghapus kebijakan impor kapal bekas. Selain itu, industri kapal juga membutuhkan insentif fiskal dalam bentuk pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) 10%, serta menuntut peran pembiayaan perbankan Nasional yang lebih optimal terhadap sektor ini.
Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau ;
*) angka sementara; (P) Proyeksi Kantor Bank Indonesia Batam, Januari 2010 Tabel 7.3.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I 2010 berdasarkan Sektor Ekonomi & Komponen Penggunaan
2010 I Tw‐IV** I (P) 2009** KOMPONEN PENGGUNAAN 1. Konsumsi Rumah Tangga 11.42% 22.99% 20.12% 18.22% 12.15% ‐ 13.15% 2. Konsumsi Lembaga Swasta 30.78% 21.79% 8.69% 23.56% 16.79% ‐ 17.79% 3. Konsumsi Pemerintah 7.11% 15.49% 9.91% 13.95% 11.42% ‐ 12.42% 4. Pembentukan Modal Tetap Bruto 16.31% 19.60% 19.12% 15.14% 21.82% ‐ 22.82% 5. Ekspor Barang dan Jasa ‐5.50% 3.33% 4.69% ‐3.59% 5.06% ‐ 6.06% 6. Impor Barang dan Jasa 16.42% 7.72% 14.49% 7.59% 17.34% ‐ 18.34% SEKTOR EKONOMI 1. Pertanian ‐0.12% 4.98% 1.44% 1.32% 3.58% ‐ 4.58% 2. Pertambangan & Penggalian ‐1.29% ‐0.44% 0.18% ‐0.49% ‐0.21% ‐ 0.79% 3. Industri Pengolahan ‐2.66% ‐0.25% 2.65% ‐1.98% 4.28% ‐ 5.28% 4. Listrik, Gas & Air Bersih 0.23% 4.50% 4.31% 2.08% 6.78% ‐ 7.78% 5. Bangunan 14.81% 10.68% 11.82% 13.36% 16.92% ‐ 17.92% 6. Perdagangan, Hotel & Restoran ‐0.87% 5.00% 5.98% 1.11% 7.66% ‐ 8.66% 7. Pengangkutan & Komunikasi 5.71% 7.28% 8.33% 6.57% 9.51% ‐ 10.51% 8. Keuangan, Persewaan & Jasa P'an 6.12% 5.88% 6.37% 5.50% 8.81% ‐ 9.81% 9. Jasa‐Jasa 8.29% 7.71% 8.05% 8.44% 11.45% ‐ 12.45% ‐0.35% 2.47% 4.20% 0.56% 6.00% ‐ 7.00% 2010 (P) year over year year on year PDRB (termasuk migas) 2009
Realisasi investasi fisik di awal tahun diproyeksi tumbuh moderate yang mencerminkan sikap pengusaha dalam menunggu implementasi FTZ terkait revisi PMK yang baru di-release pemerintah. Faktor pendorong berasal dari proyek-proyek investasi berjalan seperti superblok Grand Quarter Batam yang diperkirakan menelan investasi US$120 juta, penyelesaian pembangunan Mall Harbour Bay dan Kepri Mall dengan investasi sekitar Rp 200 milyar, Hotel Harmony One, Batam City Square (BCS) Condominium, dan Harbour Bay Condo, serta proyek-proyek properti residensial.
Adapun ekspansi dari aktivitas perdagangan dan bangunan sebagai sektor unggulan juga berperan penting dalam memicu pertumbuhan di sektor riil Kepulauan Riau. Perkembangan sektor Perdagangan ritel di triwulan mendatang ditandai dengan hadirnya pusat perbelanjaan murah Carefour di Mall Harbour Bay pada akhir Januari 2010. Kehadiran Carefour juga diharapkan dapat memicu stabilitas harga barang-barang ritel di kota Batam, sehingga pada akhirnya berimplikasi pada penurunan inflasi.
Selain itu, sektor pariwisata berpeluang tumbuh lebih tinggi di tahun mendatang sejalan dengan dicanangkannya program Visit Batam 2010. Berlangsungnya event-event yang telah dijadwalkan tersebut akan mendongkrak jumlah wisatawan domestik dan mencanegara yang berkunjung khususnya ke kota Batam sehingga pada akhirnya mendorong permintaan pada sarana-sarana penunjang, seperti perhotelan dan restoran, serta jasa-jasa dunia usaha.
No Event Waktu Tempat
1 Clipper Around The World 19‐23 Jan 2010 Nongsa Point Marina
2 Strait Regata 23‐30 Jan 2010 Nongsa Point Marina
3 Lions Club Charity Golf 31‐Jan‐10 Palm Springs Golf Resort
4 Cap Go Meh 28‐Feb‐10 Vihara Duta Maitreya
5 Batam Grand Wedding Expo 18‐28 Feb 2010 Nagoya Hill 6 Batam Cruise Festival 2‐4 April 2010 Nongsa Point Marina 7 Asia Pacific Volley Ball Championship 20‐25 April 2010 Nongsa Point Marina 8 Asian Golf Charity 24‐25 April 2010 Batam Golf Club
9 Kejurnas Bridge ke 48 23 April 2010 Golden View
10 BGSC Open Tournament 15 Mei 2010 Palm Springs Golf Resort 11 The 10th Batam Expo 2010 5‐9 Mei 2010 SPC
12 1st Batam Act & Food festival 7‐14 Mei 2010 SPC
13 Sinar Mas Cup IV Golf Tournamnet June 2010 Palm Springs Golf Resort.
Ekspansi ekonomi Kepulauan Riau di triwulan mendatang akan sangat terbantu dengan adanya perubahan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang tata cara pemasukan dan pengeluaran barang dari dan ke kawasan Free Trade Zone Batam-Bintan-Karimun
(FTZ-Tabel 7.4.
Agenda Event Visit Batam 2010
BBK) yang baru saja di-launcing pemerintah. Kebijakan fleksibel master list diharapkan dapat segera terealisasi sehingga lebih memperlancar arus barang dan pada akhirnya memicu tumbuhnya investasi dalam eskalasi yang lebih besar. Untuk itu sangat dibutuhkan upaya dan koordinasi yang optimal dari pemangku kebijakan FTZ, dalam hal ini Dewan Kawasan (DK) dan Badan Pengusahaan (BP) FTZ. Di sisi lain, penyediaan infrastruktur yang memadai seperti listrik, gas dan air bersih, serta peran perbankan dalam pembiayaan dan kelancaran sistem pembayaran juga diharapkan lebih optimal dalam mendukung pemulihan aktivitas bisnis di level regional.
7
7..22.. PPRROOSSPPEEKKIINNFFLLAASSII
Secara umum, Inflasi pada tahun 2010 diperkirakan akan mengalami tekanan yang lebih besar dibandingkan dengan tahun 2009. Kenaikan harga komoditas utama seperti minyak bumi, kelapa sawit dan emas ikut mempengaruhi pergerakan harga yang terjadi di tahun 2010. Aktivitas ekonomi yang mulai pulih di tahun 2010 diperkirakan akan meningkatkan daya beli masyarakat yang berpengaruh pada pergerakan harga di level yang positif pada tahun 2010. Memperhatikan hal tersebut, inflasi Kota Batam sampai dengan akhir tahun 2010 diperkirakan sebesar 4%±1%.
Secara triwulanan, pergerakan harga di triwulan awal 2010 diperkirakan akan mengalami tekanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mengalami deflasi. Pada bulan Januari sampai dengan Februari di wilayah Provinsi Kepulauan Riau bertiup angin utara yang menyebabkan gelombang tinggi sehingga nelayan sulit untuk melaut. Akibat gelombang tinggi tersebut, pasokan barang-barang kebutuhan pokok
Grafik 7.3. Laju Inflasi Kota Batam
Sumber : BPS Provinsi Kepulauan Riau
menjadi terganggu dan dapat memicu terjadinya inflasi yang relatif tinggi pada triwulan I 2010 di Kota Batam dan Kota Tanjung Pinang.
Berdasarkan Survei Pemantauan Harga (SPH) yang dilaksanakan oleh Kantor Bank Indonesia Batam secara mingguan, pergerakan harga dari kelompok volatile food secara umum mengalami kenaikan. Harga makanan pokok beras sampai dengan minggu ketiga Januari 2010 mengalami kenaikan harga sebesar 1,8% terhadap posisi akhir tahun 2009 menjadi Rp7.000,00 per kilo gram.
Kenaikan harga tertinggi dialami oleh kacang panjang yang mengalami kenaikan sebesar 31,8% dari Rp5.500,00 per kilo gram pada minggu terakhir 2009 naik menjadi Rp7.250,00 per kilogram. Kenaikan yang terjadi dipengaruhi oleh faktor distribusi yang terganggu akibat cuaca yang tidak mendukung pengiriman barang. Sebaliknya wortel mengalami penurunan sebesar 30,2% menjadi sebesar Rp7.500,00 per kilo gram. Penurunan harga wortel ini terkait dengan harga wortel yang cukup tinggi pada minggu terakhir 2009 yang tercatat sebesar Rp10.750,00 per kilo gram.
JANUARI
2010 FEBRUARI 2010 MARET 2010
Gambar 7.1.
Prakiraan Curah Hujan di Indonesia Bulan Januari – Maret 2010
M-I M-II M-III M-IV M-I M-II M-III VOLATILE - BERAS 6.750 6.875 6.875 6.875 6.875 6.875 7.000 1,8% - MINYAK GORENG 7.375 7.500 7.625 7.625 7.875 8.375 8.375 9,8% - CABE RAWIT 20.750 19.750 19.500 16.750 19.000 17.250 17.250 3,0% - BAWANG MERAH 16.500 15.500 15.500 15.000 15.000 14.750 14.750 -1,7% - TOMAT SAYUR 8.750 9.500 9.000 8.750 12.000 11.000 11.250 28,6% - TOMAT BUAH 11.500 9.250 8.500 8.750 13.000 12.500 11.500 31,4% - WORTEL 7.000 7.250 7.500 10.750 9.250 7.750 7.500 -30,2% - KACANG PANJANG 7.000 6.000 6.000 5.500 7.250 9.500 7.250 31,8% - KANGKUNG 6.750 4.750 5.500 4.750 6.000 5.500 5.750 21,1% - SAWI HIJAU 8.250 5.000 5.750 5.000 6.500 7.500 6.500 30,0% - IKAN BANDENG 25.000 25.000 25.000 25.000 24.500 24.500 21.500 -14,0% CORE - GULA PASIR 9.250 9.250 9.500 9.500 10.750 10.750 10.500 10,5% - EMAS PERHIASAN 220.000 225.625 231.250 231.250 223.750 228.750 230.500 -0,3% ADMINISTERED - ROKOK KRETEK 8.625 8.750 8.750 8.750 8.750 8.875 8.875 1,4% % chg JANUARI 2010 Des-09 K O M O D I T I
Sementara itu dari kelompok core inflation sampai dengan minggu ketiga Januari 2010 relatif tidak mengalami perubahan harga kecuali harga gula yang meningkat 10,5% menjadi Rp10.500,00 per kilo gram. Kenaikan harga dari kelompok administred price dipengaruhi oleh kenaikan harga rokok kretek yang meningkat 1,40% menjadi Rp8.750,00 per bungkus.
Inflasi Kota Batam pada triwulan I 2010 diperkirakan berada pada kisaran 0,89% - 1,84% (qtq). Pergerakan inflasi Kota Batam diperkirakan banyak dipengaruhi oleh kenaikan dari kelompok bahan makanan terutama sub kelompok ikan segar. Berdasarkan informasi dari anggota Tim Teknis Pengendalian Inflasi Daerah, ikan selar merupakan salah satu komoditas yang mempunyai potensi kenaikan harga mengingat tingkat konsumsi masyarakat Kota Batam terhadap komoditas tersebut cukup tinggi.
Komoditas sayur-sayuran seperti tomat sayur, kacang panjang dan sawi hijau pada triwulan I 2010 diperkirakan akan mengalami kenaikan harga terkait dengan distribusi yang terganggu akibat faktor musim. Sementara itu kenaikan harga rokok kretek juga diperkirakan akan mempengaruhi pegerakan harga di kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau. Sementara itu pergerakan harga emas yang terus menunjukkan trend peningkatan juga diperkirakan akan ikut mempengaruhi pembentukan inflasi Kota Batam.
Tabel 7.5.
Perkembangan Harga Beberapa Komoditi Penyumbang Inflasi Terbesar
Sumber : Survei Pemantauan Harga (SPH) Kota Batam
Inflasi Kota Tanjung Pinang diperkirakan relatif rendah melanjutkan trend pada triwulan-triwulan sebelumnya dan diperkirakan berada pada kisaran 0,29% - 1,45% (qtq). Inflasi yang tinggi pada periode 2008 sampai dengan triwulan awal 2009 berpengaruh pada pergerakan harga di Kota Tanjung Pinang bergerak pada level yang cukup rendah pada triwulan I 2010.
Meskipun demikian adanya gelombang tinggi akibat pengaruh musim utara juga akan ikut memberikan tekanan terhadap pergerakan harga di Kota Tanjung Pinang khususnya kelompok bahan makanan yang mengalami sedikit supply shock. Inflasi Kota Tanjung Pinang pada triwulan I 2010 juga dipengaruhi oleh pergerakan harga emas yang terus meningkat.
Grafik 7.4. Estimasi Inflasi Triwulanan Kota Batam dan Kota Tanjung Pinang
Grafik 7.5. Estimasi Inflasi Bahan Makanan, Makanan Jadi dan Sandang
Kota Batam
Grafik 7.6. Estimasi Inflasi Bahan Makanan, Makanan Jadi dan Sandang