dan kemiskinan, terutama untuk masyarakat pedesaan. Belum membaiknya harga komoditas mengakibatkan Nilai Tukar Petani (NTP) masih tertekan sehingga menahan
BAB 6 PROSPEK PEREKONOMIAN DAN REKOMENDASIREKOMENDASI
Perekonomian Sumatera Utara pada triwulan IV 2015 diperkirakan membaik seiring dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi serta tekanan inflasi yang rendah. Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara mengalami perlambatan sementara tekanan inflasi mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Pertumbuhan Ekonomi
1. Dari sisi penggunaan, pertumbuhan ekonomi yang membaik terutama ditopang oleh meningkatnya laju realisasi investasi dan konsumsi pemerintah sesuai dengan polanya. Sementara itu, konsumsi swasta diperkirakan stabil sedangkan realisasi ekspor dan impor kembali menurun.
2. Dari sisi permintaan, perekonomian triwulan mendatang diperkirakan akan ditopang oleh meningkatnya kinerja kategori konstruksi dan PBE, sementara kategori Industri Pengolahan dan Pertanian diperkirakan stabil
Inflasi
Tekanan inflasi diperkirakan tidak setinggi pola historisnya sejalan dengan kondisi permintaan yang belum pulih serta stabilitas nilai tukar dan ekspektasi inflasi. Pelaksanaan pilkada serentak diperkirakan tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap inflasi.
6.1 Prospek Pertumbuhan Ekonomi
Pada triwulan IV 2015 pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara diperkirakan membaik, tumbuh
pada kisaran 5,0%–5,4%. Perbaikan terutama didorong oleh sektor domestik. Namun, perbaikan ekonomi Sumatera Utara masih terbatas terkait dengan perkembangan sektor luar negeri (eksternal) yang diperkirakan belum menunjukkan perbaikan secara signifikan. Kondisi tersebut terkait dengan masih tingginya ketidakpastian perbaikan ekonomi global. Dengan kondisi tersebut, harga komoditas internasional diperkirakan belum membaik. Harga minyak dunia diperkirakan kembali tertekan seiring dengan cukup tingginya produksi di tengah masih berlimpahnya pasokan di pasaran.
Dari sisi penggunaan, perekonomian periode mendatang diperkirakan akan ditopang oleh masih cukup baiknya permintaan domestik, terutama akibat meningkatnya laju realisasi anggaran pemerintah baik dari sisi konsumsi maupun investasi. Namun, belum disahkannya P-APBD 2015 Provinsi Sumatera Utara dan kasus hukum yang menimpa beberapa Pimpinan Daerah di Sumut menjadi faktor yang berisiko menghambat optimalisasi realisasi belanja Pemerintah Daerah.
Meski tidak sebaik pola di beberapa periode sebelumnya, konsumsi swasta juga diperkirakan cukup kuat seiring dengan seasonal event terkait perayaan Natal dan tahun baru. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Konsumen dan Indeks Keyakinan Konsumen yang mulai mengalami perbaikan pada awal triwulan IV 2015 (Grafik 6.1). Pelaku usaha juga menyatakan bahwa secara polanya akan terjadi peningkatan permintaan biasanya terjadi pada akhir tahun. Selain seasonal events, cukup kuatnya konsumsi swasta pada periode mendatang juga akan didorong oleh pelaksanaan pilkada serentak di periode akhir tahun.
Grafik 6.1 Survei Konsumen
Seiring dengan masih terbatasnya perbaikan ekonomi, kinerja investasi swasta diperkirakan masih stagnan. Pelaku usaha cenderung wait and see terkait dengan kapasitas utilisasi yang mengalami penurunan akibat melemahnya permintaan dan menurunnya bahan baku29. Dari sisi investasi bangunan, adanya kekhawatiran berlebih terkait kepatuhan pajak yang diinisiasi pemerintah juga menimbulkan keraguan tersendiri bagi pelaku usaha dalam melakukan investasi.
Sementara itu, kinerja ekspor diperkirakan tidak sebaik polanya meski mulai masuknya panen komoditas kelapa sawit. Panen yang terjadi di tengah masih melimpahnya pasokan di pasaran dikhawatirkan kembali menekan harga komoditas pada periode mendatang. Selain itu, harga produk substitusi yang mayoritas berbahan baku minyak dunia juga kembali rendah sehingga menurunkan daya saing produk unggulan, termasuk kelapa sawit.
Tabel 6.1 Perkiraan Harga Komoditas Unggulan Komoditas Harga Triwulan III 2015 (%, yoy) Harga Triwulan IV 2015 (%, yoy) Asumsi Juli Asumsi Agustus Kelapa Sawit -25,9 -11 -25 Karet -18,2 16 6 Kopi 5,0 -40 -38
Sumber: IMF, Edisi Juli dan Agustus
Dampak dari kembali rendahnya perkiraan harga komoditas diharapkan dapat terkompensasi oleh depresiasi nilai tukar. Stagnannya permintaan diperkirakan masih berlanjut seiring dengan terbatasnya geliat industri manufaktur negara mitra dagang utama yang tercermin dari Purchasing
Manager Index (PMI) yang masih membaik terbatas.
Selain itu, adanya black campaign CPO di dataran Eropa serta intensi pemerintah negara mitra dagang utama untuk memproteksi industri dalam negeri produk substitusi CPO seperti kedelai dan minyak
rapeseed juga turut menurunkan permintaan.
Peningkatan perdagangan domestik diharapkan dapat menahan koreksi kinerja ekspor secara agregat.
Aktivitas ekspor yang masih tertahan turut menekan laju impor pada periode mendatang. Impor Sumatera Utara yang memang didominasi oleh impor bahan baku sangat bergantung pada kinerja Industri Pengolahan yang secara polanya memang mengalami
Liaison Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara
penurunan pasca berlalunya puncak permintaan yang biasanya terjadi pada triwulan III lalu.
Dari sisi lapangan usaha/kategori, kategori konstruksi dan Perdagangan Besar dan Eceran (PBE) diharapkan mampu menopang perekonomian pada triwulan mendatang. Sementara itu, kinerja kategori pertanian serta industri pengolahan diperkirakan stabil.
Meningkatnya realisasi investasi pada periode mendatang sesuai dengan polanya diharapkan mampu mendorong kinerja kategori konstruksi. Namun, perbaikan realisasi investasi bangunan diperkirakan hanya terjadi pada sektor pemerintah sementara realisasi properti dari sektor swasta justru masih tertahan. Kondisi ini dikhawatirkan dapat berdampak pada tidak optimalnya peningkatan kinerja kategori konstruksi pada periode triwulan mendatang.
Adanya pola musiman seperti perayaan natal, libur sekolah serta pelaksanaan pilkada serentak memasuki akhir tahun 2015 diharapkan dapat meningkatkan kinerja kategori Perdagangan Besar dan Eceran. Hal ini tercermin dari membaiknya persepsi pedagang terhadap kinerja penjualannya pada 3 bulan yang akan datang30. Mulai meredanya kabut asap serta erupsi Gunung Sinabung diharapkan mendorong normalisasi kinerja kategori ini.
Grafik 6.2 Indeks Perkiraan Penjualan
Meski mulai memasuki fase panen raya kelapa sawit, risiko eksternal yang cukup tinggi masih membayangi kinerja kategori industri pengolahan. Perkiraan harga komoditas serta permintaan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya menjadi faktor dominan stagnannya pertumbuhan industri pengolahan pada periode mendatang.
Survey Penjualan Eceran Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara
Telah terlewatinya puncak pola permintaan domestik yang biasanya terjadi pada triwulan lalu juga menyebabkan penurunan kinerja kategori industri pengolahan. Selain itu, ekspektasi menurunnya pasokan bahan baku terjadi seiring dengan alih profesi petani perkebunan, pengurangan aktivitas panen serta pengurangan penggunaan pupuk pada periode tanam lalu menyebabkan tidak optimalnya produktivitas tanaman pada periode mendatang. Hal ini tentu menghambat aktivitas produksi yang dituntut terus berjalan secara kontinu akibat sistem pembelian yang terikat kontrak. Hambatan aktivitas produksi juga terjadi akibat peningkatan biaya produksi berupa kenaikan harga gas industri pada Agustus 2015 lalu dari US$ 8,7/mmbtu menjadi US$14,1/mmbtu.
Sementara itu, tertahannya kinerja subsektor perkebunan maupun subsektor tanaman pangan menjadi penyebab tertahannya kinerja kategori pertanian. Telah masuknya masa tanam serta masuknya periode musim penghujan menjadi faktor risiko dalam produksi komoditas pangan.
Secara keseluruhan tahun, perekonomian Sumatera
Utara pada tahun 2015 masih mengalami penyesuaian. Berlanjutnya koreksi harga komoditas,
lesunya volume perdagangan, serta kembali terjadinya erupsi Gunung Sinabung menjadi faktor utama tertahannya perekonomian pada tahun berjalan. Perekonomian Sumatera Utara untuk keseluruhan tahun 2015 diperkirakan sebesar 4,8% (yoy) – 5,2% (yoy) dengan tendensi bias ke bawah. Perkiraan pertumbuhan ekonomi yang bias ke bawah terutama didorong oleh belum adanya faktor fundamental yang mampu mendorong perekonomian di periode sisa tahun berjalan.
6.2 Prospek Inflasi
Tekanan inflasi pada triwulan mendatang diperkirakan menurun, seiring dengan permintaan
yang tidak setinggi polanya. Berlanjutnya koreksi harga komoditas unggulan diperkirakan menekan daya beli masyarakat. Inflasi pada periode mendatang atau keseluruhan tahun 2015 diperkirakan berada pada kisaran 3%-4% (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 8,17% (yoy). Pencapaian ini ditunjang oleh semakin solidnya koordinasi pengendalian inflasi
antara Bank Indonesia dengan Pemerintah melalui Forum TPI/TPID.
Seiring dengan ditundanya kenaikan beberapa komoditas yang diatur pemerintah seperti bahan bakar minyak dan tarif listrik, tekanan inflasi
Administered Prices diperkirakan menurun. Koreksi
harga bahan bakar di pasar global diperkirakan masih berlangsung hingga akhir tahun seiring dengan masih berlimpahnya pasokan di pasaran. Di sisi produksi, kembali normalnya aktivitas produksi Iran ditengah masih tingginya produksi Amerika Serikat dan negara-negara OPEC menekan harga minyak dunia. Selain itu, peningkatan permintaan angkutan udara yang terjadi pada akhir tahun diperkirakan tidak setinggi polanya seiring dengan belum normalnya daya beli masyarakat diperkirakan. Akibatnya, tekanan kenaikan harga pada kelompok administered prices diperkirakan akan minimal hingga akhir tahun 2015. Penurunan tekanan inflasi juga diperkirakan terjadi pada kelompok Volatile Foods seiring dengan lebih rendahnya peningkatan permintaan meski kondisi pasokan cenderung menurun. Namun, langkah pengendalian inflasi terus dilakukan oleh TPID di Sumatera Utara untuk mencegah kemungkinan terjadinya peningkatan harga beberapa komoditas pangan seperti daging ayam ras maupun tanaman pangan.
Risiko kenaikan harga daging ayam ras akibat kurangnya suplai disikapi dengan langkah prefentif melalui monitoring ketersediaan yang ketat oleh TPID setempat. Hal ini menyusul pengafkiran 2 juta ekor bibit ayam (parent stock) pada akhir triwulan III 2015 lalu sebagaimana kesepakatan Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) dan pemerintah beberapa periode lalu.
Menurunnya pasokan akibat meningkatnya curah hujan dan gangguan distribusi pada sejumlah tanaman pangan juga menjadi risiko yang terus dipantau. Meningkatnya curah hujan dikhawatirkan dapat menurunkan produksi dan daya tahan serta komoditas pangan, terutama Cabai Merah.
Sumber: BMKG Provinsi Sumatera Utara
Gambar 6.1 Perkiraan Sifat Curah Hujan Oktober 2015
Sumber: BMKG Provinsi Sumatera Utara
Gambar 6.2 Perkiraan Sifat Curah Hujan November 2015
Sumber: BMKG Provinsi Sumatera Utara
Gambar 6.3 Perkiraan Sifat Curah Hujan Desember 2015
Peningkatan harga beras yang terjadi pada periode lalu telah ditanggapi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Utara dengan moral
suassion kepada pemilik kilang padi. Meskipun secara
polanya komoditas ini cenderung mengalami peningkatan harga pada periode mendatang, namun dengan adanya program ini, diharapkan tekanan inflasi dari komoditas ini dapat tertahan.
Sangat baiknya aktivitas panen pada periode lalu diperkirakan akan mampu memenuhi kebutuhan permintaan masyarakat ditengah resiko penurunan suplai. Memadainya produksi tanaman pangan pada periode lalu tidak lepas dari selesainya beberapa program pemerintah untuk optimalisasi hasil panen, seperti program irigasi, kesuburan tanah, dan kegiatan tanam berteknologi tinggi. Selain itu, adanya program atau himbauan pemerintah kepada masyarakat seperti program tanam cabe kemarau, himbauan untuk menanam komoditas tertentu penyumbang inflasi serta penanaman bawang merah di kawasan perkotaan mampu menambah ketersediaan pasokan di pasaran.
Sementara itu, tekanan inflasi inti diperkirakan stabil meski dibayangi risiko eksternal terkait nilai tukar. Cenderung stabilnya inflasi inti juga tidak lepas dari faktor permintaan yang memang diperkirakan tidak setinggi polanya.
Langkah aktif juga terus dilakukan untuk menjaga ekspektasi masyarakat agar inflasi berada pada level yang stabil dan rendah. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan ekspektasi baik pada pedagang maupun konsumen yang berisiko dapat meningkatkan tekanan inflasi diperiode mendatang.
Grafik 6.3 Pandangan Konsumen Terhadap Perubahan Harga
Grafik 6.4 Pandangan Pedagang Terhadap Perubahan Harga
6.3 Rekomendasi kepada Pemerintah Daerah Pertumbuhan Ekonomi
Meskipun perekonomian triwulan IV 2015 diperkirakan pulih terbatas, masih terdapat faktor risiko yang dapat menarik perekonomian Sumut untuk kembali terkoreksi. Faktor risiko eksternal masih menghantui tekanan perekonomian pada periode mendatang. Dibutuhkan peran serta Pemerintah Daerah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih sustainable. Beberapa langkah dan rekomendasi yang dapat dilakukan diantaranya: a. Percepatan persetujuan P-APBD 2015 untuk
menggenjot realisasi anggaran yang lebih optimal. Realisasi dana pemerintah ini sangat penting untuk memberikan stimulus perekonomian karena memiliki multiplier effect yang cukup tinggi bagi komponen lain dalam struktur PDRB. b. Meningkatkan alokasi APBD bagi program
pemberdayaan petani yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi. Beberapa program tersebut diantaranya berupa sosialisasi efisiensi produksi tanaman perkebunan, alokasi subsidi pupuk rakyat sehingga aktivitas perkebunan dapat kembali normal, atau bahkan penguatan lembaga pertanian untuk meningkatkan akses perbankan terkait permodalan.
c. Mendorong permintaan domestik melalui aktivitas konsumsi melalui event pariwisata. Pelaksanaan beberapa event yang sudah direncanakan perlu dioptimalkan melalui media pemasaran yang lebih massive dan terpusat. d. Meningkatkan sosialisasi dan pelaksanaan
sertifikasi SDM dengan biaya dan lokasi pelaksanaan yang terjangkau dalam menghadapi Komunitas Ekonomi ASEAN.
e. Melakukan penyusunan kurikulum pendidikan yang bersifat global dan disertai dengan sertifikasi yang dibutuhkan terutama untuk sekolah menengah kejuruan dalam mempersiapkan SDM yang handal dan memiliki kompetensi tinggi. f. Mempercepat pembentukan Tim Pemantauan
Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Sumatera Utara dalam rangka mendorong perekonomian yang lebih produktif melalui sinergi yang lebih baik antar SKPD dan otoritas terkait dalam koridor tugas pokok, fungsi dan wewenang masing-masing instansi.
g. Menciptakan persepsi positif terhadap iklim investasi di Sumatera Utara kepada investor dan masyarakat luas melalui publikasi perkembangan kemajuan pembangunan infrastruktur melalui media komunikasi yang lebih luas dan terpusat dengan kredibilitas informasi yang lebih tinggi (Regional Investor Relation Unit/RIRU).
h. Mendukung industri untuk mendobrak pasar industri melalui produk berteknologi yang dihasilkan secara efisien agar mampu bersaing di pasaran.
Pengendalian Inflasi
Meskipun inflasi triwulan IV 2015 diperkirakan menurun, namun masih perlu dilakukan beberapa program sehingga volatilitas inflasi mendatang dapat lebih terkendali. Beberapa langkah yang dapat dilakukan diantarannya beberapa hal sebagai berikut:
a. Mengoptimalkan pembangunan infrastruktur untuk memperbaiki konektivitas dalam rangka mendukung kelancaran distribusi barang. Hal tersebut dapat dilakukan melalui kemudahan perizinan, pengadaan lahan maupun penguatan komunikasi dengan masyarakat. Hal ini juga penting untuk meningkatkan perdagangan antar wilayah.
b. Meningkatkan program pembentukan maupun pengembangan kelompok tani maupun peternak untuk mendorong peningkatan kualitas hasil produksi pangan maupun peningkatan akses pembiayaan perbankan.
c. Mendorong peningkatan kapasitas industri pangan Sumut untuk meredam fluktuasi harga pangan akibat aktivitas panen, baik dalam bentuk kemudahan perizinan bagi investor maupun peningkatan kapabilitas UMKM.
d. Meningkatkan pengawasan terhadap tata niaga berbagai komoditas pangan strategis agar tercipta kondisi persaingan usaha yang kondusif dan menguntungkan konsumen.
e. Mengevaluasi dan meningkatkan efektifitas penyelenggaraan pasar murah agar lebih tepat sasaran menyentuh masyarakat yang berpenghasilan rendah terutama menjelang perayaan hari besar keagamaan.
f. Melanjutkan program peningkatan produksi maupun produktivitas tanaman pangan.