Prospek Perekonomian Global
Ekonomi global diperkirakan tumbuh tidak secepat perkiraan semula. Pemulihan
ekonomi global masih berjalan tidak seimbang dengan risiko di pasar keuangan global yang masih tinggi. Pada tahun 2015, pertumbuhan ekonomi global dikoreksi ke bawah menjadi sebesar 3,39%, sedikit turun dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 3,44%. Hal ini terutama disebabkan oleh perkiraan pertumbuhan ekonomi AS dan Tiongkok yang lebih rendah dari perkiraan semula. Di sisi lain, perekonomian Eropa diperkirakan terus membaik ditopang oleh pelonggaran kondisi moneter dan keuangan serta dampak penurunan harga minyak (Tabel 2.1).
Sejalan dengan perkembangan ekonomi global, pertumbuhan volume perdagangan dunia pada 2015 diperkirakan sedikit lebih rendah dari perkiraan semula. Dengan menggunakan data terbaru yang merupakan data realisasi sampai
dengan Februari 2015, volume perdagangan dunia (WTV) pada 2015 diperkirakan lebih rendah dari perkiraan awal.
Harga komoditas juga diperkirakan tumbuh lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Lebih rendahnya perkiraan Indeks Harga Komoditas Ekspor Indonesia (IHKEI)
pada 2015 tersebut sejalan dengan masih relatif rendahnya harga minyak dan lemahnya permintaan dari Tiongkok.
Di sisi lain, harga minyak dunia pada tahun 2105 diperkirakan lebih tinggi dari perkiraan semula, meskipun masih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Lebih tinggi perkiraan harga minyak didorong oleh sejumlah faktor antara lain kekhawatiran gangguan keamanan di Yaman, pelemahan USD, dan melambatnya peningkatan inventory minyak AS. Tren kenaikan harga minyak juga dikonfirmasi oleh posisi net long managed money yang semakin tinggi. Meskipun demikian, tren kenaikan harga diperkirakan berlangsung lambat karena masih besarnya faktor-faktor yang menekan harga minyak untuk tetap berada di level rendah.
Proyeksi Mei 2015 2015 PDB Dunia 3.3 3.39 Negara Maju 1.8 2.3 Amerika Serikat 2.4 3.0* Kawasan Eropa 0.9 1.4 Jepang 0.0 1.0 Negara Berkembang 4.4 4.2 Tiongkok 7.4 6.8* India 5.6 7.5
Negara Emerging Market Lainnya 2.7 2.2
*) Proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia, AS, dan Tiongkok 2015 yang dilakukan pada Februari 2015, masing-masing 3,44%, 3,20%, dan 6,90%
Tabel 2.1
Proyeksi PDB Dunia (%, yoy)
2014
2
L a p o r a n K e b i j a k a n M o n e t e r
|
32 Prospek Pertumbuhan EkonomiBank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan membaik, terutama pada semester II 2015. Pertumbuhan yang membaik ini didukung oleh meningkatnya
konsumsi dan investasi sejalan dengan meningkatnya realisasi pengeluaran fiskal oleh pemerintah serta meningkatnya penyaluran kredit oleh perbankan. Percepatan realisasi belanja Pemerintah baik di kementrian/lembaga maupun untuk implementasi proyek-proyek infrastruktur menjadi kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi 2015.
Konsumsi rumah tangga diprakirakan meningkat pada triwulan II hingga akhir tahun. Perkiraan ini didukung oleh indikasi awal penjualan eceran yang meningkat.
Perbaikan konsumsi rumah tangga juga sejalan dengan pembangunan pusat ritel (mall dan pusat perbelanjaan sejenis) yang tercatat meningkat pada triwulan II. Selain itu, ekspektasi pendapatan yang membaik terutama pada triwulan III turut memberikan optimisme bagi perbaikan konsumsi rumah tangga.
Konsumsi pemerintah juga diperkirakan meningkat khususnya pada semester II.
Berdasarkan pantauan hingga Mei 2015, sekitar 77,5% dari pengajuan DIPA untuk 11 kementerian/lembaga telah ditetapkan. Dengan demikian, belanja barang untuk triwulan II dan III diperkirakan akan terealisasi sebesar masing-masing 50% dan 80% atau sesuai dengan pola historisnya.
Investasi diperkirakan terus meningkat khususnya pada triwulan III dan IV.
Perbaikan tersebut bersumber baik dari investasi bangunan maupun nonbangunan. Potensi akselerasi pertumbuhan investasi bangunan pada tahun 2015 turut disumbang oleh realisasi belanja infrastruktur yang sebagian besar telah menyelesaikan proses tender. Perkiraan tersebut juga didukung oleh jumlah konstruksi yang meningkat serta angka penjualan semen yang membaik pada triwulan II. Sementara itu, penyaluran kredit yang diperkirakan akan meningkat juga diharapkan dapat membantu mendorong peningkatan investasi swasta.
Ekspor diperkirakan terus membaik meski terbatas. Perbaikan ekspor ini sejalan
dengan perbaikan ekonomi global yang kemudian mendorong pertumbuhan volume perdagangan dunia. Namun demikian, potensi perbaikan ekspor lebih lanjut akan tertahan oleh harga komoditas yang masih turun sejalan dengan masih lemahnya harga minyak dan lemahnya permintaan Tiongkok.
Impor diperkirakan tumbuh meningkat sejalan dengan perbaikan ekspor dan peningkatan permintaan domestik. Potensi perbaikan impor terutama berasal dari
impor barang modal dan perbaikan konsumsi domestik. Harga barang impor yang masih rendah juga akan menjadi faktor penguat perbaikan impor.
Kinerja Sektor Pertanian diprakirakan tumbuh membaik terutama pada triwulan II 2015. Membaiknya kinerja ini disebabkan oleh bergesernya puncak panen di beberapa
daerah yang biasanya terjadi pada triwulan I dan disertai dengan cuaca yang kondusif. Prognosa Kementerian Pertanian memprediksi bahwa produksi padi pada musim panen 2015 mengalami peningkatan, didukung oleh cuaca yang normal sampai dengan April 2015. Data terkini mengkonfirmasi potensi perbaikan ini khususnya di subsektor tanaman bahan makanan (tabama). Realisasi produksi gabah kering giling (GKG) Jan-April 2015 telah mencapai 42,86% dari target 2015 sebesar 73,5 jt ton dan diprediksi akan terus meningkat pada bulan Mei hingga mencapai 51,6% dari target. Untuk keseluruhan tahun
L a p o r a n K e b i j a k a n M o n e t e r
|
332015, produksi diprakirakan masih on track karena adanya tambahan lahan 700 rb ha/bulan dan perbaikan irigasi.
Sektor Pertambangan dan Penggalian diprakirakan tumbuh membaik mulai triwulan II hingga akhir tahun. Perkiraan membaiknya kinerja pertambangan ini
ditopang oleh meningkatnya lifting minyak blok Cepu dan faktor base-effect (tidak adanya ekspor mineral di triwulan II 2014). Pemerintah berencana untuk meningkatkan produksi blok Cepu pada April 2015 menjadi 80 ribu bph dari sebelumnya 35 ribu bph. Perkiraan membaiknya kinerja sektor pertambangan juga tercermin dari meningkatnya rencana belanja modal emiten pertambangan. Di sisi lain, kinerja pertambangan batubara diperkirakan stagnan seperti terindikasi dari realisasi ekspor pada triwulan I 2015 yang masih negatif dan penurunan target produksi batubara oleh Kementerian ESDM.
Kinerja Sektor Industri Pengolahan juga diperkirakan membaik mulai triwulan II hingga akhir 2015. Membaiknya kinerja sektor ini seiring dengan perkiraan meningkatnya
permintaan domestik dan ekspor. Hal ini terindikasi dari perbaikan output manufaktur pada survey PMI HSBC April 2015 dan membaiknya ekspor manufaktur pada Maret 2015. Namun demikian, kinerja industri alat angkut masih menghadapi tantangan berat seperti tampak dari permintaan kendaraan bermotor yang sampai dengan bulan April masih tercatat lemah.
Prospek Inflasi
Inflasi pada tahun 2015 diprakirakan akan lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya dan berada dalam rentang sasaran inflasi sebesar 4±1%. Di sisi
domestik, tekanan inflasi dari sisi permintaan diprakirakan relatif moderat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang di bawah tingkat potensialnya dan masih rendahnya utilisasi kapasitas produksi. Ekspektasi inflasi diperkirakan juga tetap terjaga dengan dukungan kebijakan dan koordinasi yang baik antara Bank Indonesia dan Pemerintah. Tekanan inflasi dari sisi eksternal diprakirakan tidak terlalu besar. Hal tersebut didukung oleh perkiraan terbatasnya peningkatan harga-harga komoditas internasional sejalan dengan laju perbaikan perekonomian dunia yang berlangsung secara gradual dan nilai tukar yang relatif stabil.
Tekanan inflasi inti pada tahun 2015 diprakirakan moderat. Dari sisi eksternal,
tekanan inflasi inti relatif terjaga seiring dengan peningkatan harga komoditas internasional yang masih terbatas dan perbaikan pertumbuhan ekonomi dunia yang gradual. Harga minyak dunia diprakirakan masih relatif lemah dan pertumbuhan harga komoditas nonmigas masih negatif. Sementara itu, tekanan inflasi dari sisi nilai tukar diperkirakan tidak sebesar proyeksi sebelumnya mengingat tren depresiasi yang lebih terbatas pada tahun 2015. Meningkatnya permintaan domestik diprakirakan masih dapat direspons oleh kapasitas produksi yang ada sehingga tekanan inflasi dari sisi permintaan diprakirakan minimal. Selain itu, ekspektasi inflasi juga terindikasi relatif terjaga seiring dengan bauran kebijakan dan koordinasi yang ditempuh oleh Pemerintah dan Bank Indonesia.
Inflasi dari kelompok volatile food pada tahun 2015 diprakirakan lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2014. Inflasi volatile food yang lebih rendah tersebut
terkait dengan asumsi adanya peningkatan produksi serta distribusi bahan makanan dan tata niaga yang lebih baik pada periode mendatang.
L a p o r a n K e b i j a k a n M o n e t e r
|
34 Inflasi kelompok administered prices 2015 diperkirakan akan menjadi komponen utama yang membawa tingkat inflasi menjadi lebih rendah. Perkiraan ini terkaitdengan tren penurunan harga komoditas internasional sehingga harga barang energi menjadi lebih rendah.
Pada tahun 2016, dengan berbagai kebijakan yang diambil untuk mengendalikan inflasi, inflasi diprakirakan masih berada dalam rentang sasaran inflasi 4±1%.
Sumber tekanan inflasi diprakirakan berasal dari, antara lain, peningkatan harga komoditas dan permintaan domestik. Inflasi inti diprakirakan masih akan terjaga dengan ekspektasi inflasi yang terjangkar. Inflasi volatile food juga diprakirakan akan cenderung menurun seiring dengan peningkatan produksi bahan makanan dan tata niaga yang lebih baik. Sementara itu, inflasi administered prices diprakirakan akan lebih dinamis mengikuti perkembangan harga internasional.
Faktor Risiko
Bank Indonesia akan terus mencermati beberapa risiko perekonomian yang berasal dari eksternal maupun domestik. Dari sisi global, risiko muncul dari PDB dunia
yang berpotensi tumbuh lebih rendah dari perkiraan yang khususnya disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi AS yang tidak setinggi perkiraan. Selain itu, PDB dunia juga berpotensi tumbuh lebih rendah dari perkiraan apabila perekonomian Tiongkok mengalami perlambatan yang lebih dalam. Risiko global juga muncul dari kemungkinan harga komoditas internasional yang turun lebih jauh dari perkiraan. Dari sisi pasar keuangan global, risiko yang perlu diwaspadai adalah ketidakpastian waktu dan besarnya kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) di AS. Di sisi domestik, belanja pemerintah perlu dicermati karena menentukan implementasi proyek-proyek infrastruktur yang berperan penting dalam menjaga optimisme terhadap prospek perekonomian.
L a p o r a n K e b i j a k a n M o n e t e r