• Tidak ada hasil yang ditemukan

VIII. KETERANGAN TENTANG PERSEROAN, KEGIATAN USAHA, SERTA

12. PROSPEK USAHA

Komitmen pemerintah yang sangat tinggi terhadap pembangunan jalan tol dibuktikan oleh Pemerintah bersama DPR dengan penerbitan Undang-Undang No.38 tahun 2004 mengenai Jalan pada tanggal 18 Oktober 2004. UU ini memberikan kepastian atas evaluasi kenaikan tarif jalan tol yang dinyatakan dalam Pasal 48 ayat 3 bahwa “Evaluasi dan penyesuaian tarif tol dilakukan setiap 2 tahun sekali berdasarkan pengaruh laju inflasi”. Kenaikan tarif tol merupakan salah satu faktor utama dalam meningkatkan kinerja Perseroan yang bergerak di industri jalan tol. Sebelum Undang-undang ini dikeluarkan, tarif tol merupakan sesuatu yang tidak pasti dan tidak dapat diperkirakan kenaikannya. Dan baru pada Undang-undang No.38 tahun 2004 ini kenaikan tarif sudah merupakan sesuatu yang memiliki kepastian secara yuridis formal.

Menurut Undang-Undang No.38 Tahun 2004 definisi jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air kecuali jalan kereta api, jalan lori dan jalan kabel. Sedangkan definisi jalan tol adalah jalan umum yang merupakan bagian sistem jaringan jalan dan sebagai jalan nasional yang penggunanya diwajibkan membayar tol.

Pemerintah bersama DPR juga telah menerbitkan Undang Undang No. 2 tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Kepentingan Umum, sebagai payung tertinggi untuk memperlancar proses pengadaan tanah sebagai kunci sukses utama pembangunan infrastruktur, khususnya jalan tol yang mempunyai ciri memanjang. Kedua payung Undang Undang tersebut, juga dilengkapi dengan berbagai regulasi turunannya dan pendukungnya yang terus disempurnakan hingga kini. Fokus Pemerintahan sejak tahun 2014 juga dituangkan dalam berbagai regulasi tentang Proyek Strategis Nasional, dan di antaranya adalah proyek-proyek jalan tol termasuk beberapa ruas jalan tol yang dibangun oleh CMNP. Regulasi terkini adalah Perpres nomor 56 tahun 2018 tentang Proyek Strategis Nasional, dan Perpres nomor 66 tahun 2020 tentang Pendanaan Pengadaan Tanah Bagi Proyek Strategis Nasional.

Sesuai dengan ketentuan UU No. 38/2004 tentang Jalan dan PP No. 15/2005 tentang Jalan Tol, secara umum, prinsip penyelenggaraan jalan tol adalah sebagai berikut :

1) Pemerintah menyusun rencana umum jaringan jalan nasional termasuk di dalamnya jalan tol yang ditetapkan oleh Menteri sebagai dasar pembangunan – dokumen ini diistilahkan sebagai Masterlan Jaringan Jalan Tol, yang melengkapi Masterplan Tata Ruang di kedua sisi yaitu sisi Pola Ruang dan sisi Struktur Ruang yang saling melengkapi. KepmenPU terlengkap adalah No. 567 tahun 2010, disusul beberapa KepmenPU yang menambahkan ruas-ruas jalan tol baru seperti Benoa Bali, Serang-Patimban, dan Legundi-Bunder.

2) Wewenang penyelenggaraan jalan tol berada pada Pemerintah. Sebagian wewenang meliputi dengan pengaturan, pengusahaan dan pengawasan jalan tol dilakukan oleh Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT).

3) Pendanaan pengusahaan jalan tol berasal dari Pemerintah dan/atau Badan Usaha yang memenuhi persyaratan berdasarkan kelayakan ekonomi dan finansial (lihat skema investasi). 4) Dalam keadaan tertentu yang menyebabkan pengembangan jaringan jalan tol tidak dapat

diwujudkan oleh Badan Usaha, Pemerintah dapat mengambil langkah sesuai kewenangannya, yaitu dengan melaksanakan pembangunan jalan tol sebagian atau seluruhnya yang pengoperasiannya dilakukan oleh Badan Usaha seluruhnya.

Dalam skema KPBU atau Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha, maka aspek tingkat kelayakan finansial menjadi kriteria utama sebagaimana layaknya bahasa bisnis yang lazim digunakan. Di dalam KPBU atau PPP atau Public Private Partnership, maka berlaku adagium universal yaitu “talk in business language with public interest in mind”. Untuk inilah Pemerintah menyusun Skema Pengusahaan Jalan Tol yang “investor friendly” yang disesuaikan dengan karakteristik kelayakan finansial dari setiap paket investasi jalan tol yang ada, baik solicited project maupun unsolicited project.

Sumber: http://bpjt.pu.go.id/konten/investasi/skema-investasi

Peningkatan jumlah penduduk tanpa peningkatan jumlah jalan umum akan merangsang penggunaan jalan tol lebih besar lagi. Dengan proyeksi proporsi penduduk di daerah perkotaan yang makin besar, pesatnya pertumbuhan volume kendaraan seiring dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi khususnya sektor perindustrian dan perdagangan dan jasa angkutan, akan meningkatkan kebutuhan terhadap sarana jalan tol sebagai jalan alternatif, yang juga sebagai jalan yang berfungsi untuk menghubungkan pusat-pusat bisnis dan sentra produksi. Peningkatan pertumbuhan kendaraan bermotor nasional telah meningkat, sejalan dengan stabilitas nilai tukar Rupiah, penurunan suku bunga dan pertumbuhan ekonomi yang stabil dimana jumlah penjualan mobil naik dari tahun 2010 sebesar 764.710 unit naik menjadi 894.164 unit di tahun 2011. Faktor lain yang mempengaruhinya adalah agresifnya sektor perbankan dan pembiayaan dalam menyalurkan kredit kepemilikan mobil. Diperkirakan industri otomotif Indonesia masih akan terus meningkat karena masih rendahnya rasio kepemilikan mobil/orang. Proyeksi penjualan mobil yang semula diprediksi akan melebihi 900.000 unit di tahun 2012, bahkan realisasinya tembus 1 juta unit. Pandemi Covid-19 memang menurunkan penjualan kendaraan bermotor, dengan realisasi yang dilaporkan hanya sebesar 25.283 unit pada bulan Juli 2020, meskipun naik dibanding sebelumnya yaitu 12.623 unit untuk Juni 2020.

Persaingan usaha pada tahapan memperoleh konsesi pengusahaan jalan tol (entry barrier) ditentukan oleh persepsi peminat pada potensi kelayakan, yang berkorelasi dengan tingkat risiko yang bisa diterimanya (risk appetite). Ada 5 (lima) opsi Entry Method untuk masuk ke dalam pengusahaan jalan tol bagi Badan Usaha, yaitu sebagai berikut :

1) Entry Point 1 : Tender (Solicited – G to B)

Permen PU nomor 1 tahun 2007 tentang Tata Cara Pengadaan Badan Usaha untuk Pengusahaan Jalan Tol, mengatur secara rinci prosedur tender investasi jalan tol. Sebagai panduan adalah Masterplan Jaringan Jalan Tol yang diuraikan sebelumnya, dilengkapi dengan dokumen Peluang Investasi Jalan Tol yang diterbitkan secara berkala oleh BPJT, atau informasi di dalam website BPJT. Proses tender ini biasanya dimulai dengan tahapan pra-kualifikasi (PQ) dengan bobot penilaian 80% aspek kemampuan finansial dan 20% aspek teknis. Tahapan selanjutnya adalah proses tender dengan penilaian bertumpu pada penawaran tarif tol awal, masa konsesi, biaya investasi, porsi Government Support (apabila diperlukan) dan aspek finansial, teknis maupun administrasi lainnya.

2) Entry Point 2 : Pemrakarsa (Unsolicited – B to G)

Pemerintah membuka peluang bagi Badan Usaha untuk memprakarsai pengusahaan suatu ruas jalan tol yang belum ada di Masterplan Jalan Tol (dalam dokumen Kepmen PU tentang Jaringan Jalan Nasional), maupun di Masterplan Tata Ruang (dalam dokumen Perda tentang Rencana Tata Ruang Wilayah setempat). Proses menjadi BUJT melalui prosedur pemrakarsa ini pada akhirnya tetap harus melalui proses tender, sehingga praktis membutuhkan waktu lebih panjang dalam proses menuju PPJT. Catatan pertama adalah tidak ada subsidi Pemerintah (Government Support) yang bisa disediakan atau dinegosiasikan dengan Pemerintah khususnya untuk biaya proyek, sedangkan untuk biaya pengadaan tanah masih bisa dinegosiasikan. Tahapan pemrakarsa dimulai dengan pengajuan proposal sebagai pemrakarsa (unsolicited

project). Setelah semua prosedur termasuk kajian FS oleh pemrakarsa dinyatakan selesai,

dilanjutkan dengan proses tender tetapi dengan memberikan kelebihan (advantage) bagi pihak pemrakarsa dan bisa berupa (dipilih salah satu) :

a) Tambahan nilai dalam proses tender, atau

b) Proses tender dengan prinsip Right To Match (RTM) yaitu pemrakarsa mempunyai hak penawaran terhadap penawar terbaik di antara peserta tender, atau

3) Entry Point 3 : Aliansi/Kemitraan Strategis (B to B)

Aliansi Strategis adalah kemitraan antar non-competitor yang mampu menghasilkan nilai tambah lebih besar dibandingkan bila tidak bekerja sama, meski tidak pula bersaing (karena memang bukan pesaing). Sedangkan Kemitraan Strategis (biasa juga disebut dengan coopetition, yaitu gabungan cooperation dan competition) antar competitor yang mampu menghasilkan nilai tambah, dibanding bila bersaing secara bebas. Seiring dengan banyaknya BUMN Karya yang merambah ke industri jalan tol, maka peluang investasi/divestasi juga menjadi terbuka lebar, yang terjadi secara B to B dalam koridor ketentuan regulasi yang berlaku. Opsi ini adalah skema yang umum ada dalam bisnis yaitu aliansi strategis, baik pada jalan tol yang akan dibangun, atau pada jalan tol yang sedang dibangun, maupun pada jalan tol yang sudah beroperasi. Aliansi strategis bisa melibatkan badan usaha swasta, dan/atau badan usaha milik daerah maupun badan usaha milik negara.

4) Entry Point 4 : Penambahan Lingkup Investasi (ke CMS − G to B)

Pemerintah dimungkinkan menambah lingkup investasi dari Badan Usaha eksisting yang sudah mengoperasikan ruas jalan tol tertentu, dengan pertimbangan khusus yaitu seperti yang tercantum di dalam dokumen PPJT (Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol) yaitu berlandaskan pada pertimbangan dari 3 aspek :

1) Aspek pertumbuhan kegiatan ekonomi khususnya sektor logistik, 2) Aspek kelengkapan jaringan transportasi nasional, dan

3) Aspek kelancaran arus lalu-lintas barang dan jasa.

Opsi ini adalah layaknya penugasan Pemerintah dalam arti permintaan untuk melaksanakan penambahan lingkup investasi awal pada Badan Usaha Jalan Tol yang sudah beroperasi, sehingga ada perubahan rencana usaha dengan penambahan lingkup investasi. Perihal penambahan lingkup tercantum dalam Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol, dan pertimbangan Pemerintah adalah karena aspek kepentingan ekonomi transportasi, interkonektivitas jaringan jalan dan kelancaran arus lalu lintas di samping tentunya aspek kecepatan implementasi pelaksanaan konstruksi dan lain-lain dibandingkan dengan opsi melalui tender untuk Badan Usaha yang baru (Special Purpose Vehicle). Di era pandemi Covid-19 ini diharapkan pembangunan infrastruktur tetap bisa berjalan sebagai pengungkit perekonomian, dengan mengutamakan pendanaan non-APBN dan dilaksanakan dengan skema penyerapan tenaga kerja yang optimal (“padat karya”).

5) Entry Point 5 : Penugasan ke BUMN

Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa, dalam keadaan tertentu yang menyebabkan pengembangan jaringan jalan tol tidak dapat diwujudkan oleh Badan Usaha, Pemerintah dapat mengambil langkah sesuai kewenangannya, yaitu dengan melaksanakan pembangunan jalan tol sebagian atau seluruhnya yang pengoperasiannya dilakukan oleh Badan Usaha seluruhnya. Contoh adalah penugasan pembangunan jaringan jalan tol Trans Sumatera, kepada PT Hutama Karya (Persero) selaku BUMN yang kemudian membentuk anak-anak usaha.