• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.4 Analisis Perubahan Iklim

4.4.2 Proyeksi Curah Hujan

Perubahan curah hujan berdasarkan keluaran model RegCM3 secara umum menunjukan adanya penurunan di masa yang akan datang. Secara spasial, perubahan curah hujan di kedua wilayah kajian ditunjukkan pada Gambar 16 dan Gambar 17.

Kabupaten Indramayu, pada Periode tahun 2021-2040 mengalami penurunan curah hujan yang berkisar antara 9,1% hingga 12,6%. Penurunan terbesar terjadi pada

wilayah timur Indramayu sedangkan

penurunan terkecil terjadi pada wilayah barat Indramayu. Periode tahun 2041-2060, selain mengalami penurunan curah hujan, terjadi juga peningkatan curah hujan pada bagian utara Indramayu dimana wilayah tersebut

berbatasan langsung dengan laut. Pada periode tahun 2061-2080 perubahan curah hujan akan mengalami penurunan di semua wilayah Indramayu. Penurunan curah hujan berkisar antara 10,5% hingga 17,5%.

Perubahan curah hujan di Kabupaten Pacitan juga bervariasi, ada wilayah yang mengalami peningkatan curah hujan dan wilayah yang lain mengalami penurunan curah hujan. Penurunan curah hujan umumnya terjadi pada wilayah selatan dan peningkatan curah hujan terjadi di wilayah tengah hingga utara Kabupaten Pacitan. Penurunan curah hujan terbesar terjadi pada periode tahun 2061-2080 yang mencapai 11%, sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada periode tahun 2041-2060 yaitu sebesar 9%.

Gambar 16 Proyeksi perubahan curah hujan (dalam persen) di Kabupaten Indramayu berdasarkan skenario SRES A1B. (a) periode tahun 2021-2040, (b) periode tahun 2041-2060, dan (c) periode tahun 2061-2080, relatif terhadap curah hujan model periode tahun 1980-1999. Gradasi warna menggambarkan bahwa semakin merah wilayah tersebut akan semakin kering, sebaliknya semakin biru wilayah tersebut akan semakin basah.

Gambar 17 Proyeksi perubahan curah hujan (dalam persen) di Kabupaten Pacitan berdasarkan skenario SRES A1B. (a) periode tahun 2021-2040, (b) periode tahun 2041-2060, dan (c) periode tahun 2061-2080, relatif terhadap curah hujan model periode tahun 1980-1999. Gradasi warna menggambarkan bahwa semakin merah wilayah tersebut akan semakin kering, sebaliknya semakin biru wilayah tersebut akan semakin basah.

Tabel 6 Laju perubahan curah hujan rata-rata tahun 2021-2080 pada tiap cluster hujan observasi

Wilayah Laju Perubahan (mm/tahun) Rata-rata

Cluster 1 Cluster 2 Cluster 3 Cluster 4 Cluster 5

Kab. Indramayu -1,182 +0,237 -0,316 -1,272 -0,431 -0,593

Kab. Pacitan +2,091 -6,051 +0,803 -2,057 -1,304

Keterangan: Tanda (-) menunjukan penurunan

Tanda (+) menunjukan peningkatan Laju perubahan curah hujan untuk masing-masing cluster hujan memiliki nilai

yang berbeda-beda namun rata-rata

mengalami penurunan tiap tahunnya. Selama periode 2021-2080 rata-rata curah hujan akan

mengalami penurunan sebesar 0,593

mm/tahun untuk Kabupaten Indramayu dan 1,304 mm/tahun untuk Kabupaten Pacitan. Laju penurunan curah hujan terendah terdapat pada C3 Kabupaten Indramayu yaitu sebesar

-0,316 mm/tahun, sedangkan penurunan

tertinggi terjadi pada C2 Kabupaten Pacitan yang mengalami penurunan sebesar -6,051 mm/tahun (Tabel 6).

Akibat perubahan iklim curah hujan pada musim penghujan cenderung mengalami kenaikan, sedangkan pada musim kemarau akan mengalami penurunan. Gambar 18 menunjukan perubahan curah hujan bulanan pada semua cluster di Kabupaten Indramayu. Pola curah hujan masa mendatang masih masih berupa pola curah hujan monsunal. Puncak curah hujan terjadi pada bulan Januari dan curah hujan terendah pada bulan

Agustus/September. Curah hujan bulan

Januari menunjukan peningkatan yang cukup signifikan. Rata-rata peningkatan curah hujan bulan Januari adalah sebesar 11,86% pada

tahun 2061-2080. Rata-rata penurunan

terbesar terjadi bulan Agustus yaitu sebesar 30,10%. Persentase perubahan curah hujan bulanan secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 17.

Berdasarkan Gambar 18, Cluster 1 akan mengalami penurunan curah hujan pada semua bulan kecuali pada bulan Januari. Pada bulan Januari juga terlihat bahwa curah hujan bulanan cukup tinggi dibandingkan dengan curah hujan pada bulan lain di musim hujan. Perubahan curah hujan pada Cluster 2 memiliki pola yang sama dengan Cluster 1. Semua bulan mengalami penurunan kecuali bulan Januari yang mengalami peningkatan curah hujan yang cukup signifikan. Curah hujan pada Cluster 3, 4, dan 5 memiliki kondisi hujan yang hampir sama. Perbedaan jumlah hujan tiap bulan tidak begitu mencolok. Penurunan curah hujan terjadi pada semua bulan kecuali pada bulan Januari.

(a)

(b)

(c)

(e)

Gambar 18 Rata-rata curah hujan bulanan pada semua cluster hujan di

Kabupaten Indramayu. (a)

Cluster 1, (b) Cluster 2, (c) Cluster 3, (d) Cluster 4, dan (e) Cluster 5.

Gambar 19 merupakan rata-rata curah hujan bulanan pada semua cluster di Kabupaten Pacitan. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa di Kabupaten Pacitan pada periode tahun 2061-2080 cenderung akan mengalami penurunan curah hujan pada musim kemarau dan peningkatan curah hujan terjadi pada musim penghujan. Rata rata penurunan curah hujan tertinggi terjadi pada

bulan September yang mencapai

-26,28%, sedangkan rata-rata peningkatan curah hujan terbesar terjadi pada bulan Januari yaitu sebesar 23,53%. Persentase perubahan curah hujan bulanan secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 18.

Wilayah Cluster 2 masih memiliki curah hujan tahunan yang tertinggi dibandingkan dengan wilayah cluster lain. Pada Cluster 2 tersebut pada periode tahun 1980-1999 puncak curah hujan terjadi pada bulan November, sedangkan pada periode tahun 2061-2080 puncak curah hujan bergeser pada bulan Januari. Walaupun demikian, pola curah hujan di Cluster 2 tersebut masih berupa pola hujan monsunal.

(a)

(b)

(c)

(d)

Gambar 19 Rata-rata curah hujan bulanan pada semua cluster hujan di Kabupaten Pacitan. (a) Cluster 1, (b) Cluster 2, (c) Cluster 3, dan (d) Cluster 4.

Naylor et al. (2007) menyatakan bahwa di masa mendatang lama musim hujan menjadi lebih pendek dan jeluk hujan lebih tinggi dari kondisi saat ini. Hal tersebut juga terjadi di Kabupaten Pacitan seperti yang terlihat pada Gambar 19. Curah hujan pada Cluster 1 pada

kondisi yang akan datang mengalami

peningkatan pada Januari hingga April, dan selanjutnya akan mengalami penurunan mulai bulan Mei hingga memasuki musim kemarau. Perubahan curah hujan pada Cluster 2 berbeda dengan perubahan curah hujan pada Cluster 1. Penurunan curah hujan hampir terjadi pada semua bulan kecuali pada bulan Januari yang mengalami peningkatan curah hujan. Pada Cluster 3, perubahan curah hujan yang akan

datang hampir sama dengan Cluster 1. Peningkatan curah hujan terjadi pada bulan Januari hingga April yang kemudian terjadi penurunan curah hujan mulai bulan Mei hingga Desember. Perubahan curah hujan masa yang akan datang pada cluster 4 sangat

berbeda dengan ketiga cluster hujan

sebelumnya. Pada Cluster 4 ini, curah hujan masa yang akan datang akan cenderung sama pada musim kemarau. Peningkatan terjadi pada bulan Januari dan Februari, sedangkan penurunan curah hujan terjadi pada bulan September hingga Desember.

Perubahan curah hujan di masa

mendatang dapat berpengaruh pada berbagai sektor. Pada wilayah pertanian, kondisi ini tentunya akan menyebabkan perubahan pola tanam. Selain itu, dengan berkurangnya musim penghujan akan menyebabkan lama musim tanam juga akan berubah. Hasil analisa yang dilakukan Alfyanti (2011) menyatakan bahwa dengan adanya perubahan curah hujan di masa yang akan datang, awal musim tanam rata-rata akan mengalami kemunduran 1 hingga 2 dasarian. Selain itu waktu tanam padi juga hanya bisa dilakukan satu kali dalam setahun.

Perubahan curah hujan di masa

mendatang juga berdampak pada kondisi hidrologi suatu wilayah. Li et al. (2010) mengindikasikan bahwa peningkatan 1% curah hujan dapat meningkatkan 1 hingga 4%

limpasan permukaan. Kondisi tersebut

tentunya dapat menyebabkan terjadinya banjir pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau. Oleh karena itu, diperlukan adaptasi untuk mengatasi dan meminimalkan resiko yang mungkin terjadi. Dasanto dan

Impron (2008) menggambarkan bahwa

pemanfaatan waduk sebagai tempat

penyimpanan air hujan yang berlebih. Waduk dapat difungsikan sebagai penyedia kebutuhan air irigasi, rumah tangga/domestik dan suplai listrik melalui PLTA.

Dokumen terkait