• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Proyeksi menggunakan Markov Chain

Metode Markov Chain pertama kali diperkenalkan sekitar tahun 1907 oleh seorang ahli matematika bernama Andrei A. Markov yang berasal dari Rusia. Metode Markov Chain akan berhubungan dengan suatu rangkaian proses dimana kemungkinan terjadinya suatu kejadian, diasumsikan hanya tergantung pada kondisi yang langsung mendahuluinya, dan tidak tergantung pada rangkaian kejadian sebelumnya (non-aftereffect) (Veldkamp dan Lambin, 2001). Markov Chain bisa diterapkan di berbagai bidang antara lain ekonomi, politik, kependudukan, industri, pertanian dan lain-lain. Salah satu pemanfaatan dari metode Markov Chain adalah untuk memproyeksi penggunaan lahan ke depan. Peneliti Muller dan Middleton (1994) memanfaatkan metode ini dalam mempelajari dinamika perubahan lahan di Ontario, Kanada. Peneliti lain yaitu

8

Vandeveer dan Drummond (1976) menggunakannya untuk mengkaji dampak konstruksi sebuah reservoir. Markov Chain seringkali berperan menjadi konsep dasar yang digunakan pada pengembangan lanjutan, seperti model CA-Markov.

Matriks peluang transisi akan dihasilkan dan dijadikan dasar untuk melakukan proyeksi penggunaan lahan ke depan. Bentuk dari matriks transisi tersebut adalah sebagai berikut.

P = (P

ij

) =

P

ij merupakan nilai peluang perubahan penggunaan lahan i menjadi penggunaan lahan j, dimana n menunjukkan jumlah kelas penggunaan lahan. Besarnya nilai

P

ij harus memenuhi syarat yaitu

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan mulai bulan Agustus 2011 sampai Januari 2012 dengan memilih Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau sebagai studi kasus penelitian. Analisis data dilakukan di Laboratorium Penginderaan Jauh dan Informasi Spasial, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

3.2 Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Bahan yang digunakan dalam penelitian

No. Data Skala/

Resolusi

Sumber Keterangan 1. Citra Landsat TM 7

tahun 2000, 2003, 2006 dan 2009

30 x 30 m www.glovis.usgs Interpretasi penggunaan lahan

2. Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI)

1:50.000 Bakosurtanal Peta dasar, variabel atau faktor pendorong 3. Data kepadatan penduduk Kabupaten Bengkalis - Badan Pusat Statistik Kabupaten Bengkalis

Variabel atau faktor pendorong dalam membangun model

Software yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Software yang digunakan dalam penelitian

No. Software Fungsi

1. Idrisi Andes 15 Pemodelan perubahan penggunaan lahan 2. ArcGis 9.3 Interpretasi citra

3. Microsoft Excel Pengolahan data atribut dari peta penggunaan lahan

3.3 Metode Penelitian

Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pengolahan data, tahap pembuatan model dan tahap pembuatan peta proyeksi penggunaan lahan ke depan.

10

3.3.1 Tahap Persiapan

Tahap persiapan meliputi penentuan metode, studi literatur, dan pengumpulan data yang dibutuhkan dalam penelitian. Studi literatur dilakukan untuk menambah informasi yang berkaitan dengan penelitian dan memperdalam pemahaman tentang metode ANN. Data yang diperlukan dalam penelitian ini antara lain citra Landsat, peta RBI, dan data kepadatan penduduk Kabupaten Bengkalis. Selain itu, pembelajaran metode ANN dengan software Idrisi Andes 15 juga dilakukan untuk lebih memahami proses kerja metode tersebut.

3.3.2 Tahap Pengolahan Data

Pada tahap awal dilakukan interpretasi citra Landsat tahun 2000, 2003, 2006 dan 2009. Hasil interpretasi menghasilkan suatu peta penggunaan lahan tahun 2000, 2003, 2006 dan 2009 dengan kelas penggunaan lahan sebanyak 10 kelas berdasarkan klasifikasi Badan Planologi Kementrian Kehutanan (Lampiran 5). Software Idrisi Andes 15 membutuhkan data dengan format raster. Oleh karena itu, format peta perlu dikonversi terlebih dahulu menjadi raster dengan memilih ukuran piksel 50 x 50 m. Ukuran ini dipilih atas dasar pertimbangan yang paling mendekati ukuran resolusi spasial citra Landsat. Tipe data yang digunakan adalah dalam bentuk byte, yang menyatakan bilangan dengan nilai range 8 bit biner (0-255) dan hanya berisi bilangan non-negatif.

Peta jalan dan sungai diperoleh dari peta RBI skala 1:50.000.Peta jarak ke jalan, sungai, dan pemukiman dibuat dengan cara menjalankan modul Distance

pada software Idrisi Andes 15. Jarak dihitung berdasarkan Euclidean, yaitu jarak dari satu objek ke objek yang lainnya. Sementara itu, peta jumlah penduduk dibuat dengan asumsi bahwa populasi penduduk menyebar secara sirkular dengan jari-jari 2 km dan populasi akan bertambah besar ketika mendekati pusatnya (Muin, 2009). Rumus proporsi populasi yaitu:

P = 0.2402 * e (-0.9464 * (peta jarak ke pemukiman)/1000)

dimana jarak ke pemukiman dalam satuan meter. Peta kepadatan penduduk per piksel dibuat dengan rumus :

Pd = ρ* A * P * C dimana

Pd : peta kepadatan penduduk per piksel

ρ : kepadatan penduduk non-spasial (penduduk/km2)

A : luas wilayah penyebaran populasi (km2) = 3,14 * (2 km)2 = 12,5 km2

P : proporsi populasi

C : faktor konversi, dari 1 km2 ke 1 piksel

3.3.3 Tahap Pembuatan Model dan Peta Proyeksi Penggunaan Lahan

Model yang digunakan dalam penelitian adalah model ANN dengan arsitektur jaringan Multi-layer Perceptron (MLP) dan algoritma Backpropagation. Model ANN ini dijalankan dengan menggunakan aplikasi LCM (Land Change Modeler) yang telah tersedia pada software Idrisi Andes 15 (Gambar 2). Peta penggunaan lahan yang digunakan hanya dua titik tahun, yaitu peta penggunaan lahan tahun 2000 dan 2009.

Gambar 2. Tampilan Aplikasi Land Change Modeler

Aplikasi ini memiliki lima tahapan yang dapat digunakan untuk memodelkan perubahan penggunaan lahan, namun yang dipakai dalam penelitian hanya tiga tahapan yang disesuaikan dengan tujuan penelitian, yaitu :

12

1. Tahap analisis perubahan (Change Analysis) untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan yang telah terjadi selama dua titik tahun. Grafik perubahan luas tiap penggunaan lahan akan disajikan pada tahap ini. 2. Tahap pemodelan perubahan penggunaan lahan (Transition Potentials).

- Masing-masing kelas perubahan penggunaan lahan akan dimodelkan dengan tujuan memprediksi lokasi yang berpotensi untuk berubah menjadi penggunaan lahan yang lain. Apabila menggunakan ANN, perubahan-perubahan tersebut dapat dikelompokkan dengan asumsi faktor yang mempengaruhi adalah sama. Dalam penelitian ini, diasumsikan bahwa faktor pendorong tiap perubahan tidak sama, sehingga tidak dilakukan pengelompokkan. Berikut adalah gambar yang menunjukkan tampilan kelas perubahan yang akan dimodelkan.

Gambar 3. Tampilan Kelas Perubahan yang akan Dimodelkan

- Variabel pendorong atau input yang digunakan untuk membangun model ditentukan pada tahap ini. Jumlah variabel pendorong yang digunakan ada 4, yaitu jarak ke jalan, sungai, pemukiman dan kepadatan penduduk. Masing-masing variabel diuji nilai Cramer’s V untuk melihat keterkaitan antara variabel tersebut dengan 10 kelas penggunaan lahan (Gambar 4).

Gambar 4. Tampilan Tahap Pengujian Nilai Cramer’s V

Rentang nilai yang dihasilkan berkisar antara 0-1, dimana nilai 0 menunjukkan tidak ada keterkaitan, sedangkan nilai 1 menunjukkan adanya keterkaitan yang sangat erat antara variabel tersebut dengan kelas penggunaan lahan yang mendorong terjadinya perubahan.

- Setelah semua variabel diuji nilai Cramer’s V, model dijalankan. Model akan berhenti apabila telah mencapai kondisi yang telah ditentukan, yaitu iterasi 5000, RMS 0,0001 dan akurasi model 100%. Tampilan tahap pemodelan dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 5. Tampilan Tahap Pemodelan dengan ANN

- Topologi jaringan yang dihasilkan adalah 4-3-2, yaitu 4 nodes pada

input layer, 3 nodes pada hidden layer dan 2 nodes pada output layer

yang menunjukkan 1 kelas yang berubah dan 1 kelas yang tidak berubah (Gambar 6). Setiap nodes pada layer akan berhubungan dengan nodes pada layer berikutnya. Hubungan atau jalur koneksi

14

Wij

tersebut mengandung bobot (W) berupa matriks yang ukurannya tergantung dari jumlah input nodes, hidden nodes dan output nodes.

Jarak ke jalan Jarak ke sungai Jarak ke pemukiman Kepadatan penduduk

Gambar 6. Topologi Jaringan

- Output yang dihasilkan dari model ini adalah peta peluang perubahan (Potential Transition Map) yang memiliki nilai peluang antara 0-1, dimana semakin mendekati 1 maka daerah tersebut memiliki peluang yang tinggi untuk berubah menjadi penggunaan lahan lain. Masing-masing peta potensi perubahan tersebut direklasifikasi dengan hanya mengambil nilai peluang antara 0,5-1, dimana nilai < 0,5 dianggap penggunaan lahan tersebut tidak berubah menjadi penggunaan lahan yang lain.

- Uji validasi model dilakukan dengan cara menumpangtindihkan peta peluang hasil pemodelan ANN dengan peta penggunaan lahan tahun 2009 hasil interpretasi.

3. Tahap proyeksi penggunaan lahan (Change Prediction).

Peta proyeksi penggunaan lahan dibuat dengan aplikasi yang sama, yaitu

Land Change Modeler. Metode yang digunakan adalah Markov Chain

dengan tahun proyeksi adalah 2018. Berikut adalah gambar dari tahap proyeksi penggunaan lahan

Gambar 7. Tampilan Tahap Proyeksi Penggunaan Lahan

Metode ini mengasumsikan bahwa perubahan yang terjadi di masa depan memiliki pola dan peluang serupa dengan pola perubahan yang terjadi selama periode waktu yang digunakan. Perlu diketahui bahwa dalam menentukan tahun prediksi yang akan disimulasikan harus berada dalam selisih rentang waktu dari tahun awal dan akhir yang digunakan. Oleh karena itu, prediksi dilakukan untuk tahun 2018 yang berjarak 9 tahun dari tahun 2009. Matriks transisi akan dihasilkan oleh Markov Chain sebagai dasar untuk membuat peta proyeksi (Gambar 8).

Gambar 8. Matriks Transisi

16

dimana:

LCM = Land Change Modeler

ρ = data kepadatan penduduk non-spasial (penduduk/km2

)

A = luas wilayah penyebaran populasi (km2

) P = peta proporsi

C = faktor konversi dari 1 km2

ke 1 piksel

Stopping criteria model =

Iterasi : 5000

RMS : 0,0001

Accuracy Rate : 100%

Gambar 9. Diagram Alir Penelitian

Peta Kepadatan Penduduk Proporsi=0.2402 * e (-0.9464 * (peta jarak ke pemukiman)/1000) Kepadatan penduduk Pd = ρ* A * P * C Peta jarak ke pemukiman tiap kecamatan Peta Proporsi Image Calculator Image Calculator Peta Proyeksi Tahun 2018 Reklasifikasi Peta Peluang Perubahan

Validasi Model

Input model LCM

Tentukan transisi Running Model

Interpretasi Jarak ke Pemukiman Peta Penggunaan Lahan 2009 Citra Landsat Tahun 2009 Citra Landsat Tahun 2006 Citra Landsat Tahun 2003 Citra Landsat Tahun 2000 Peta Penggunaan Lahan 2006 Peta Penggunaan Lahan 2003 Peta Penggunaan Lahan 2000 Distance Peta Jalan Jarak ke Jalan Peta Sungai Jarak ke Sungai Distance

IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Letak Geografis

Kabupaten Bengkalis merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Riau. Wilayahnya mencakup daratan bagian pesisir timur Pulau Sumatera dan wilayah kepulauan, dengan luas adalah 773.393 ha. Kabupaten Bengkalis secara geografis terletak antara 2°30’ Lintang Utara - 0°56’ Lintang Utara dan 100°52’ Bujur Timur - 102°31’ Bujur Timur. Kabupaten Bengkalis memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :

- Sebelah utara berbatasan dengan Selat Malaka

- Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Siak dan Kabupaten Meranti

- Sebelah barat berbatasan dengan Kota Dumai, Kabupaten Rokan Hilir dan Kabupaten Rokan Hulu

- Sebelah timur berbatasan dengan Selat Malaka

Wilayah Kabupaten Bengkalis dialiri oleh beberapa sungai. Diantara sungai yang ada di daerah ini yang sangat penting sebagai sarana perhubungan utama dalam perekonomian penduduk adalah Sungai Siak dengan panjang 300 km, Sungai Siak Kecil 90 km dan Sungai Mandau 87 km.

Secara administrasi Kabupaten Bengkalis terdiri dari 8 (delapan) wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Bengkalis (51.400 ha), Kecamatan Mandau (93.747 ha), Kecamatan Pinggir (250.300 ha), Kecamatan Bukit Batu (112.800 ha), Kecamatan Siak Kecil (74.221 ha), Kecamatan Rupat (89.635 ha), Kecamatan Rupat Utara (62.850 ha) dan Kecamatan Bantan (42.440 ha). Letak Kabupaten Bengkalis sangat strategis, karena disamping berada di tepi jalur pelayaran internasional Selat Malaka, juga berada pada kawasan segitiga pertumbuhan ekonomi Indonesia-Malaysia-Singapura (IMS-SG) dan kawasan segitiga pertumbuhan ekonomi Indonesia-Malaysia-Thailand (IMT-GT). Peta administrasi Kabupaten Bengkalis disajikan pada Gambar 10 berikut ini.

18

Gambar 10. Peta Administrasi Kabupaten Bengkalis

4.2 Topografi

Wilayah Kabupaten Bengkalis merupakan dataran rendah dengan rata-rata ketinggian antara 2 – 6,1 m di atas permukaan laut yang ditumbuhi hutan tropis, pantai yang landai dan merupakan endapan lumpur sebagai hasil erosi sungai terutama di Pulau Babi, Kecamatan Rupat Utara. Daerah perbukitan yang tingginya lebih dari 25 m di atas permukaan laut hanya terletak di wilayah kecamatan Mandau. Akibat berada pada ketinggian yang relatif rendah dari permukaan laut, maka kelerengan topografi Kabupaten Bengkalis relatif landai.

4.3 Iklim

Kabupaten Bengkalis beriklim tropis yang sangat dipengaruhi oleh sifat iklim laut, dengan temperatur berkisar antara 26° – 32° C. Musim hujan biasa terjadi antara bulan September hingga Januari dengan curah hujan rata-rata berkisar antara 809 – 4.078 mm/tahun. Periode musim kering (musim kemarau) biasanya terjadi antara bulan Februari sampai dengan Agustus. Volume curah hujan di daerah ini rata-rata 174,24 mm dengan rata-rata banyaknya hari hujan selama 6 hari sampai 14 hari. Volume curah hujan rata-rata 17.171.000 m3 per tahun, dimana 61,2% dari seluruh volume curah ini dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga.

4.4 Kependudukan

Penduduk Kabupaten Bengkalis pada tahun 2009 tercatat sebanyak 484.757 jiwa yang terdiri dari 250.265 jiwa laki-laki dan 234.492 jiwa perempuan, dengan rasio jenis kelamin yaitu 107 (Tabel 3). Kecamatan yang paling banyak penduduknya adalah Kecamatan Mandau dengan tingkat kepadatan mencapai 323 jiwa per km2 dan kecamatan yang paling jarang penduduknya adalah Kecamatan Rupat Utara dengan tingkat kepadatan 19 jiwa per km2. Sementara penyebaran penduduk yang terbanyak adalah di Kecamatan Mandau yaitu 44,84% dan penyebaran yang terendah di Kecamatan Rupat Utara yaitu 2,49% dari jumlah penduduk di Kabupaten Bengkalis. Berikut adalah grafik yang menggambarkan presentase penyebaran jumlah penduduk di Kabupaten Bengkalis.

Gambar 11. Presentase Penyebaran Jumlah Penduduk Kabupaten Bengkalis Menurut Kecamatan Tahun 2009 (Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten

Bengkalis, 2009)

Tabel 3. Kepadatan Penduduk Bengkalis Menurut Kecamatan Tahun 2009

Kecamatan Luas (km2) Penduduk Kepadatan per km2 Mandau 937,47 217.355 232 Pinggir 2.503,00 77.398 31 Bukit Batu 1.128,00 28.011 25 Siak Kecil 742,21 17.432 23 Pinggir 15,97% Bukit Batu 5,78% Rupat Utara 2,49% Bengkalis 13,78% Bantan 7,41% Mandau 44,84% Siak Kecil 3,60% Rupat 6,14%

20

Tabel 3. Lanjutan

Kecamatan Luas (km 2) Penduduk Kepadatan per km2

Rupat 896,35 29.758 33

Rupat Utara 628,50 12.071 19

Bengkalis 514,00 66.822 130

Bantan 424,40 35.91 85

Total 7.773,93 484.757 62

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Bengkalis (2009)

4.5 Mata Pencaharian

Penduduk Kabupaten Bengkalis bermata pencaharian di sektor-sektor sebagai berikut.

Tabel 4. Sektor Mata Pencaharian Penduduk Kabupaten Bengkalis

Sektor Jumlah (%) Pertanian 57,80% Pertambangan 4,17% Perdagangan 9,01% Industri 7,55% Bangunan 4,03% Angkutan 4,56% Jasa 10,30%

Listrik, Gas dan Air minum 0,16%

Keuangan dan Asuransi 0,59%

Lain-lain 1,53%

4.6 Pendidikan

Pada tahun 2009 di Kabupaten Bengkalis terdapat sebanyak 120 Taman Kanak-kanak, 317 Sekolah Dasar, 18 Madrasah Ibtidaiyah, 85 Sekolah Menengah Pertama, 50 Madrasah Tsanawiyah, 36 Sekolah Menengah Atas, 26 Madrasah Aliyah, dan 12 Sekolah Menengah Kejuruan. Tenaga pengajar di Kabupaten Bengkalis sebanyak 653 orang guru Taman Kanak-kanak, 4.302 orang guru Sekolah Dasar, 215 orang guru Madrasah Ibtidaiyah, 2.539 orang guru Sekolah Menengah Pertama, 891 orang guru Madrasah Tsanawiyah, 1.143 orang guru Sekolah Menengah Atas, 505 orang guru Madrasah Aliyah, dan 348 orang guru Sekolah Menengah Kejuruan. Grafik berikut ini menggambarkan banyaknya sarana pendidikan di Kabupaten Bengkalis tahun 2009.

Gambar 12. Banyaknya Sarana Pendidikan di Kabupaten Bengkalis Tahun 2009 (Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Bengkalis, 2009)

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Penggunaan Lahan di Kabupaten Bengkalis

Berdasarkan hasil klasifikasi, Kabupaten Bengkalis memiliki 10 kelas penggunaan lahan yaitu hutan primer, hutan sekunder, hutan tanaman, lahan terbuka, pemukiman, perkebunan, pertambangan, pertanian, semak belukar dan tubuh air. Peta penggunaan lahan hasil klasifikasi dapat dilihat pada Lampiran 7 sementara luas masing-masing penggunaan lahan dapat dilihat pada Tabel 5 berikut ini.

Tabel 5. Luas Penggunaan Lahan Kabupaten Bengkalis Tahun 2000, 2003, 2006 dan 2009

Penggunaan Lahan 2000 2003 2006 2009 (Ha) (%) (Ha) (%) (Ha) (%) (Ha) (%) Hutan Primer 212.206 25,20 1.717 0.20 1.654 0.20 1.634 0.19 Hutan Sekunder 228.851 27,18 408.600 49.18 320.177 38.68 152.705 18.79 Hutan Tanaman 40 0,005 18.880 2.24 88.929 10.56 65.984 7.84 Lahan Terbuka 26.984 3,02 32.339 3.84 17.763 2.11 25.676 3.05 Pemukiman 6.530 0,78 6.530 0.78 6.605 0.78 7.121 0.85 Perkebunan 225.624 26,80 226.014 26.84 242.115 28.76 403.773 47.96 Pertambangan 25.790 3,06 25.842 3,07 25.842 3.07 6.510 0.77 Pertanian 43.101 5,12 43.745 5,20 48.071 5.71 96.266 11.43 Semak Belukar 70.058 8,32 75.517 8,32 88.028 9.80 79.515 8.79 Tubuh Air 2.750 0,33 2.750 0,33 2.750 0.33 2.750 0.33 Total 841.934 100,00 841.934 100,00 841.934 100.00 841.934 100.00

Penggunaan lahan terbesar di Kabupaten Bengkalis pada tahun 2000, 2003, 2006 dan 2009 adalah perkebunan dan hutan sekunder. Perkebunan menempati 27% dari total luas wilayah pada tahun 2000 dan 2003. Peningkatan luas perkebunan terus terjadi pada enam tahun berikutnya sehingga luasnya pada tahun 2009 adalah 403.770 ha atau menempati 48% dari total luas wilayah. Hutan sekunder sebagai penggunaan lahan terbesar kedua mengalami peningkatan luas pada tahun 2003, namun enam tahun berikutnya luasnya berkurang sampai 255.890 ha sehingga hanya menempati 19% dari total luas wilayah. Selain dua penggunaan lahan tersebut, hutan primer juga memiliki luas yang cukup besar pada tahun 2000 yaitu 212.200 ha (25%). Luasnya terus berkurang drastis, sampai pada tahun 2009 hanya memiliki luas 1.630 ha (0,2%).

Pertanian, sebagai salah satu mata pencaharian utama penduduk Kabupaten Bengkalis memiliki luas 43.100 ha pada tahun 2000 dan tahun 2009 luasnya mencapai 96.260 ha (11%). Pemukiman pada periode 2000-2003 tidak mengalami perubahan luas, namun pada tahun 2006 luas pemukiman meningkat sebesar 70 ha dan tahun 2009 meningkat sebesar 510 ha.

Hutan tanaman mengalami peningkatan luas yang signifikan pada periode 2000-2006. Luas hutan tanaman mengalami peningkatan sebesar 18.840 ha pada tahun 2003 dan 70.040 ha pada tahun 2006, namun pada tahun 2009 luasnya berkurang sebesar 22.940 ha, sehingga luas totalnya adalah 65.980 ha. Hal yang sama terjadi pada penggunaan lahan semak belukar. Pada periode 2000-2006 luas penggunaan lahan tersebut terus meningkat, namun mengalami penurunan pada tahun 2009. Sementara itu, lahan terbuka mengalami perubahan cukup dinamis. Pada tahun 2003 luasnya meningkat, namun menurun pada tahun 2006 dan kembali meningkat pada tahun 2009.

5.2 Deteksi Perubahan Penggunaan Lahan Kabupaten Bengkalis

Deteksi perubahan penggunaan lahan dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai transisi atau perubahan apa saja yang terjadi pada dua titik tahun yang berbeda. Pada penelitian ini, deteksi perubahan dikelompokkan menjadi tiga periode, yaitu 2000-2003, 2003-2006, dan 2006-2009. Tumpang tindih dilakukan pada masing-masing peta, dan dilakukan tabulasi silang (crosstab) untuk melihat pola perubahan penggunaan lahan yang terjadi.

5.2.1 Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 2000-2003

Berdasarkan hasil tabulasi silang terdapat 15 transisi atau perubahan penggunaan lahan yang disajikan dalam bentuk matriks pada Lampiran 1. Hutan primer dan hutan sekunder mendominasi perubahan menjadi penggunaan lahan lain pada periode 2000-2003. Hutan primer mengalami perubahan yang cukup besar menjadi hutan sekunder sebanyak 210.290 ha dan lahan terbuka 190 ha. Hutan sekunder mengalami perubahan menjadi hutan tanaman (13.840 ha), lahan terbuka (10.860 ha), perkebunan (210 ha), pertanian (130 ha) dan semak belukar (5.480 ha), sehingga luas total perubahan hutan sekunder adalah 30.540 ha. Lahan terbuka juga mengalami perubahan ke penggunaan lahan lain sebanyak 5.960 ha,

24

yaitu menjadi hutan tanaman sebanyak 4.730 ha, pertambangan 50 ha, pertanian 180 ha dan semak belukar sebanyak 990 ha.

Hutan tanaman dan pertambangan tidak mengalami perubahan menjadi penggunaan lahan lain pada periode ini, namun keduanya mengalami peningkatan luas hasil perubahan dari penggunaan lahan lainnya. Hutan tanaman mengalami penambahan luas sebesar 18.840 ha dari hutan sekunder, lahan terbuka dan pertanian. Lain halnya dengan pemukiman, perubahan menjadi penggunaan lahan lain tidak terjadi, begitu juga sebaliknya. Secara ringkas, grafik perubahan luas penggunaan lahan pada periode 2000-2003 dapat dilihat pada Gambar 13 berikut ini.

Gambar 13. Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 2000-2003

5.2.2 Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 2003-2006

Pada periode 2003-2006 terdapat 13 transisi atau perubahan penggunaan lahan, dimana hutan sekunder mendominasi perubahan menjadi penggunaan lahan lain (Lampiran 1). Hutan sekunder mengalami pengurangan luas sebesar 88.580 ha, yaitu menjadi hutan tanaman 57.110 ha, lahan terbuka 5.160 ha, perkebunan 13.870 ha, pertanian 730 ha dan semak belukar 11.580 ha. Selain hutan sekunder, lahan terbuka dan semak belukar juga banyak mengalami perubahan ke bentuk penggunaan lahan lain.

0 50000 100000 150000 200000 250000 300000 350000 400000 450000 L ua s (H a ) Penggunaan Lahan

Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 2000-2003

2000 (Ha) 2003 (Ha)

Lain halnya dengan hutan tanaman dan perkebunan. Kedua penggunaan lahan tersebut tidak banyak mengalami perubahan menjadi penggunaan lahan lain, namun banyak penggunaan lahan lain yang berubah menjadi hutan tanaman dan perkebunan sehingga luasnya bertambah masing-masing 70.040 ha dan 16.100 ha. Hal yang sama juga terjadi pada penggunaan lahan pertanian. Pemukiman pada periode ini tidak banyak mengalami penambahan luas, hanya bertambah 70 ha dari semak belukar. Perubahan luas masing-masing penggunaan lahan yang terjadi digambarkan pada grafik berikut ini.

Gambar 14. Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 2003-2006

5.2.3 Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 2006-2009

Berdasarkan hasil tabulasi silang, transisi atau perubahan yang terjadi pada periode ini sebanyak 23 transisi (Lampiran 1). Penggunaan lahan yang paling banyak mengalami penurunan luas adalah hutan sekunder, hutan tanaman dan semak belukar. Luasan hutan sekunder menurun karena berubah menjadi hutan tanaman (63.770 ha), lahan terbuka (5.750 ha), pemukiman (20 ha), pertanian (1.200 ha), semak belukar (13.910 ha) dan perubahan yang paling besar menjadi perkebunan (82.800 ha). Hutan tanaman juga mengalami penurunan luas yang cukup besar, yaitu menjadi perkebunan sebanyak 85.910 ha dan lahan terbuka sebanyak 1.580 ha. Sementara semak belukar mengalami penurunan luas sebesar

0 50000 100000 150000 200000 250000 300000 350000 400000 450000 L ua s (H a ) Penggunaan Lahan

Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 2003-2006

2003 (Ha) 2006 (Ha)

26

22.510 ha, dimana perubahan terbesar adalah menjadi perkebunan sebanyak 10.680 ha.

Luasan perkebunan pada periode ini mengalami peningkatan sangat besar, yaitu 161.650 ha. Hal yang sama terjadi pada pertanian. Penambahan luas pertanian berasal dari hutan sekunder (1.200 ha), perkebunan (26.060 ha), pertambangan (19.230 ha), dan semak belukar (4.880 ha) dengan total perubahan 51.380 ha. Pemukiman mengalami penambahan luas lebih besar dari dua periode sebelumnya, yaitu 510 ha. Penambahan luas tersebut berasal dari hutan sekunder (20 ha), perkebunan (100 ha), pertanian (80 ha) dan semak belukar (300 ha). Grafik berikut ini menggambarkan masing-masing perubahan luas penggunaan lahan yang terjadi pada periode 2006-2009.

Gambar 15. Perubahan Penggunaan Lahan Tahun 2006-2009

5.3 Model Perubahan Penggunaan Lahan dengan Metode Artificial

Dokumen terkait