Kemampuannya yang baik dalam menginvasi suatu ekosistem pertanian dengan segera, yakni secara aktif dengan berjalan di permukaan tanah dan
Garnbar 6.1 Proporsi populasi wereng punggung putih, wereng cokelat dan wereng hijau di pertanaman padi (Mei - Agustus 1998)
P. pseudoannulata dapat hidup di antara celah-celah tanah, pada tajuk tanaman, di dalam rumpun dan dapat berjalan dengan cepat di atas
permukaan air. Laba-laba serigala menangkap mangsa dengan memburu, menyergap dan membunuh artropoda lemah yang aktif bergerak di sekitarnya. P.
pseudoannulata
lebih menyukai tempat-tempat yang lembab terutama sawah yang berada dalam kondisi macak-macak. Pada lahan sawah yang lernbab, laba-laba lebih memilih bagian pangkal rumpun padi sebagai tempat hidup dan berlindung. Kehadiran laba-laba pada bagian tajuk tanaman adalah untuk mencari dan memburu mangsa yang aktif di tajuk.Demikian juga laba-laba yang diternukan di luar rumpun pertanaman padi diduga berupaya untuk mendapatkan mangsa yang berada di sekitar
genangan air. Lahan sawah pada saat penelitian dalam keadaan kering, yang dibuat demikian dengan sengaja oleh petani setempat. Pengeringan sawah tersebut yang dimulai 3 mst menyebabkan lahan sawah menjadi relatif kering dan hanya terdapat kelompok-kelompok rumpun tertentu yang tergenang air. Genangangenangan air di sekitar rumpun padi itu dihuni oleh serangga air tertentu yang aktif pada siang hari. Serangga itu juga dimangsa oleh jenis lalat famili Dolichopodidae.
Tabel 6.2 Ruang jelajah harian
P. pseudoannulata
di pertanaman padi (Mei - Agustus 1998)Pada Pada Di luar Laba-laba yang
Waktu pelepah daun rumpun Teramati (ekor)
2 (1 Yo) 4 (340) 235 (37%)
131 (46%) 123 (42%) 122 (46%) 3 (I ,5%) 3 ( I ,5%)
Kegiatan pemangsaan
Pengamatan lapangan rnenunjukkan bahwa laba-laba serigala P.
pseudoannulata
melakukan kegiatan pemangsaan baik pada siang hari maupun malam hari. Selama rentang waktu 24 jam selalu ditemukan laba- laba yang sedang memangsa. Proporsi laba-laba yang ditemukan sedang memangsa adalah 2,2-
3.7 % (Tabel 6.3). Laba-laba serigala,P. pseudoannulata termasuk predator umum yang memangsa beragam jenis artropoda terutama serangga, baik yang berperan sebagai hama maupun bukan. Beberapa penelitian sebelumnya juga melaporkan ha1 yang sama (IRRI 1978, 1980, Kiritani et al. 1972, Ooi & Shepard 1994).
Walaupun proporsi laba-laba yang sedang memangsa relatif rendah, namun sifatnya yang aktif memangsa pada siang dan malam hari menyebabkan laba-laba ini mampu memangsa beragam spesies serangga hama diurnal dan nokturnal.
Tabel 6.3 Pemangsaan oleh P. pseudoannulata selama 24 jam (Mei
-
Agustus 1998)
Lama waktu Laba-laba yang Laba-laba de- '% Laba-taba Waktu pengamatan teramati ngan mangsa dengan
(ism) (ekor) (ekor) rnangsa
Jumlah individu laba-laba yang ditangkap sedang memangsa relatif rendah pada awal pertumbuhan yakni 1,9 % dan selanjutnya rneningkat menjadi 2,7 - 3.6 O h (Tabel 6.4). Hal ~ n i karena pada awal pertumbuhan, populasi mangsa biasanya masih rendah
Tingkat pemangsaan
Untuk menentukan tingkat pemangsaan dengan menggunakan rumus Edgar dipakai nilai-nilai sebagai berikut. Nilai Tf dan w didasarkan pada pengamatan lapangan, sedangkan Th berdasarkan dugaan dari Holt et
a/.
(1 986). Lama waMu P. pseudoannulata melakukan kegiatan pemangsaan (jam) dalam sehari (T, ) = 24 (Tabel 6.3). rataan proporsi laba-laba yang teramati sedang melakukan kegiatan pemangsaan selama pertumbuhan tanaman (w)
=
0,029 (Tabel 6.4), dan rataan lama waktu (jam) laba-laba serigala menangani seekor mangsa (Th ) = 0,72 untuk nirnfa wereng cokelat.Tabel 6.4 Pemangsaan oleh P. pseudoannulata selama pertumbuhan tanaman padi (Mei
-
Agustus 1998)Hasil perhitungan menunjukkan bahwa seekor laba-laba
P.
pseudoannulata mampu memangsa sekitar 0,99 atau sekitar satu ekor nimfa wereng per harinya. Nilai tingkat pemangsaan ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan hasil penelitian di laboratorium yang dilaporkan dapat mencapai 15
-
20 ekor wereng setiap harinya (Shepard et at. 1987,Vungsilabutr 1995). Perbedaan tingkat pemangsaan ini diduga karena penelitian laboratorium biasanya dilaksanakan pada ruang terbatas, mangsa terdiri hanya dari satu spesies dan stadium tertentu, serta dengan laba-laba yang dipuasakan terlebih dahulu.
Dengan mempertimbangkan lama stadium nimfa wereng yang lamanya sekitar 10 hari, maka jumlah wereng yang dapat dimangsa oleh seekor laba- laba selama periode tersebut adalah sekitar 10 ekor. Selama penelitian berlangsung kerapatan laba-laba 2 ekor per rumpun. Pada keadaan demikian, populasi laba-laba pada setiap rumpun diperkirakan mampu memangsa 20 ekor nimfa selama periode perkembangan nimfa wereng.
Potensi laba-laba sebagai penekan perkembangan populasi hama wereng dapat berkurang jika keberadaannya terganggu oleh penggunaan insekt~sida, atau nisbahnya terhadap populasi wereng mengecil akibat penggunaan varietas padi yang rentan.
Kesirnpulan
Berbeda dengan anggapan sebelumnya, penelitian ini menunjukkan bahwa laba-taba P. pseudoannulata adalah predator yang bersifat time generalist yang aktif mernangsa pada setiap saat. Sifat generalis ini merupakan ciri yang baik yang dimiliki P. pseudoannulata karena mampu memangsa pada siang hari dan malam hari. Di lapangan hama yang paling sering diternukan sedang dimangsa adalah kelompok wereng. Pengamatan lapangan pada kondisi sawah di Cianjur saat itu, diduga seekor taba-laba dewasa mampu rnemangsa satu ekor nirnfa wereng setiap harinya.
Daftar Pustaka
Agnew, Ch. W. & J. W. Smith JR. 1989. Ecology of spiders (Araneae) in a peanut agroecosystem. Environ. Entomol. 18(1) : 3042.
Arifin. K. 1985. Perkembangan populasi wereng punggung putih (Sogatella furciifera Horvarth) dan laba-laba selama pertumbuhan padi. Penelitian Pertanian. 5 ( I ) : 5
-
7.Arifin, K. & T. Sumarto. 1987. Kemampuan predator (Paederus sp..
Ophionea sp. dan Lycosa sp.) dalam memangsa wereng coklat (Nilaparvata Iugens Stal.) pada tanaman padi di rumah kaca. Makalah disampaikan pada Kongres Entomologi Ill, Jakarta 30 September
-
2 Oktober 1987.Arifin, M., S. Wirjosuhardjo, S. Mangoendifiardjo & K. Untung. 1985.
Kemampuan Lycosa pseudoannulata Boes et Str. memangsa wereng wklat pada berbagai tingkat ketahanan padi. Penelitian Pertanian. 5 (1) : 40 -42.
Barrion, A. T. 1980. The spider fauna of Philippine dryland and wetland rice agroecosystems. Faculty of the Graduate School,
University of the Philippines at Los Banos. Thesis. 276 p.
Barrion, A. T. & J. A. Litsinger 1994. Taxonomy of rice insect pests and their arthropod parasites and predators. In E. A. Heinrichs (ed). Biology and management of rice insects. Publishing for One World Wiley Eastern Limited New Age lnternational Limited. 13 - 362
Barrion, A. T. 8 J. A. Litsinger 1995. Riceland spider of South and Southeast Asia. lnternational Rice Research Institute. Manila. CAB International. 716 p.
Holt, J., A. G. Cook, T. J. Perfectt & G. A. Norton. 1986. Simulation analysis of brown planthopper (Nilaparvata lugens) population dynamics on rice in the Philippine. J. Appl. Ecol. 24(1) : 87-102.
lnternational Rice Research Institute. 1978. Annual :Report for 7977. Los Banos, Philippines. 548 p.
lnternational Rice Research Institute. 1980. Annual Report for 7979. Los Banos, Philippines. 538 p.
International Rice Research Institute. 1983. Field problems of tropical rice.
Los Banos Philippines. 172 p.
Kamal, N. Q., A. Odud & A. Begum. 1990. The spider fauna in and around the Bangladesh Rice Research Institute farm and their role as predator of rice insect pest. Philipp. Entomol. 8(2) 771 -777.
Kiritani, K., S. Kawahara, T. Sasaba, & F. Nakasuji 1972. Quantitative evaluation of predation by spiders on the green rice leafhopper, Nephotettix cinticeps Uhler, by a sight-count method. Res. Popul. E col.
7 3 : 187
-
200.Nugaliyadde, L. 1995. Population growth of rice brown planthopper in Sri Lanka. Paper presented at Workshop on Sustainable IPM in Tropical Rice, Bogor, Indonesia, 5 - 7 December 1995. 14 p.
Ooi, P. A. C. & B. M. Shepard. 1994. Predators and parasitoids of rice insect pests. In E. A. Heinrichs (ed). Biology and management of
rice
insects. Publishing for One World, Wiley Eastern Limited, New Age International Limited. 585-
612.Riechert, S. E. & T. Lockley 1984. Spiders as biological control agents.
Annu. Rev. Entomol. 29: 299-320.
Shepard, B. M., A. T. Barion & J. A. Litsinger 1987. Friends of the rice farmer. Helpful insects, spiders, and pathogens. IRRl Los Banos, Laguna Philippine. 136p.
Vungsilabutr,
P.
1995. Population growth pattern of the rice brown planthopper in Thailand (in relation to the population of its parasitoids and predators). Paper presented at the Workshop on Sustainable IPM in Tropical Rice. Bogor, Indonesia, 5-
7 December 1995.BAB VII
PEMBAHASAN UMUM
Komunitas laba-laba pada ekosistem padi sangat penting untuk dipahami dalam usaha mengoptimalkan peranan laba-laba sebagai musuh alami yang potensial mengendalikan populasi serangga hama. Hasil penelitian (Bab 111) yang dilakukan di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat telah menernukan 46 spesies laba-laba yang tergolong dalam 17 famili. Laba-laba pada pertanarnan padi dapat dikelompokkan dalam dua golongan yaitu (1) laba-laba yang secara aktif memburu rnangsa, dan (2) laba-laba yang membangun jaring dan hanya memangsa mangsa yang terperangkap pada jaring. Dari 46 spesies yang terkoleksi hanya satu spesies yang relatif dorninan pada semua tipe ekosistem padi selama pertumbuhan tanaman, yaitu laba-laba serigala Pardosa pseudoannulafa (Boes. 2% Str.). Populasinya meningkat seiring dengan bertambahnya umur tanaman (Bab V).
Kemampuan berpencar yang baik dengan cara aktif berjalan di permukaan tanah dan terbawa melalui udara memungkinkannya untuk menginvasi setiap ekosistem (Bab IV). Di samping itu laba-laba serigala aktif memangsa beragam jenis artropoda terutama serangga (Bab Vt).
Ekosistem pertanaman padi di Indonesia mempunyai keragaman spesies laba-laba yang cukup besar. Pada persawahan padi-padi-padi dengan pengelolaan sawah tradisional ternyata memiliki jumlah spesies laba-laba dan keragaman spesies yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan persawahan lainnya (Bab Ill). Hal ini dimungkinkan oleh keragarnan lingkungan sekitar persawahan seperti tipe dan struktur vegetasi yang sangat beragam, pengelolaan sawah yang masih tradisional serta tidak
diperlakukan dengan insektisida. Pada hamparan sawah yang lebih luas, dengan persawahan yang beragam keadaan lingkungan sekitarnya dan cara pengelolaan yang berbeda diduga akan lebih banyak spesies laba-laba yang diperoleh. Hal yang mendukung keragaman spesies yang lebih besar khususnya di negeri ini, adalah daerah dengan iklim tropis yang memungkinkan terbentuknya keragaman flora dan fauna yang berperan dalam perkembangan komunitas laba-laba. Kekayaan spesies laba-laba yang cukup besar di pertanaman padi merupakan indikasi bahwa akan sangat banyak spesies serangga baik hama maupun bukan hama pada pertanaman padi yang dimangsa oleh laba-laba.
Laba-laba yang menginvasi pertanaman padi terdiri dari kelompok laba-laba pembuat jaring dan kelompok laba-laba pemburu (Bab IV).
Kelompok laba-laba pembuat jaring kerapatan populasinya relatif lebih rendah dibandingkan dengan laba-laba pemburu. Faktor yang diduga menyebabkan perbedaan kerapatan populasi pada dua kelompok laba-laba tersebut adalah kemampuan bersaing rnenernpati relung yang tersedia dan perilaku laba-laba dalam menginvasi pertanaman. Kelompok laba-laba pembuat jaring biasanya memerlukan ruang khusus untuk membangun jaring sehingga pada persemaian dan tanaman muda jarang ditemukan;
memperoleh makanan atau mangsa dari jaring yang dibangunnya; dan menginvasi pertanaman dengan cara pasif yaitu terbawa melalui udara.
Terdapat tiga famili yang dominan terbawa udara yaitu Lyniphiidae (47 %).
Tetragnathidae (31 ,I %) dan Araneidae (1
5,s
O h ) (Tabel 4.1 ). Kelompok laba-laba pernbuat jaring terutama yang berukuran kecil seperti famili Lyniphiidae umumnya menginvasi pertanaman dengan mefalui angin (Bishop1990, Bishop & Riechert 1990). Kelompok laba-laba pemburu mendominasi di persemaian, pematang dan tajuk selama fase pertumbuhan tanaman padi (Tabel 4.1 ). Beberapa faktor yang mendukung dominasi kelompok laba-laba pemburu, yaitu laba-laba tidak memerlukan ruang untuk membangun jaring, secara aktif memburu mangsa, jenis mangsa yang sangat beragam, dan aktif menginvasi suatu pertanaman baru. Plagens (1986) menyatakan bahwa laba-laba pemburu umumnya menginvasi pertanaman dengan secara aktif berjalan di atas permukaan tanah.
Kelompok laba-laba pemburu didominasi oleh farnili Lycosidae terutama P.
pseudoannulata
baik pada persemaian maupun pertanaman padi selama fase pertumbuhan tanaman (Bab V). Berbagai keunggulan spesies laba-laba ini dibandingkan dengan spesies lainnya dalam famili Lycosidae adalah bahwa laba-laba ini dapat bertahan hidup dan berkembang baik pada pematang sawah maupun di tengah sawah, sedangkan spesies lainnya biasanya hanya ditemukan di tepi sawah dan atau di sawah saat menjelang panen dengan kondisi air sawah retatif kering.Laba-laba ini sangat aktif bergerak dengan berjalan di permukaan tanah dan berjalan di atas permukaan air. Laba-laba serigala memangsa beragam jenis artropoda yang berukuran relatif kecil dan lemah yang baik yang tergolong hama maupun bukan (Tabel 6.1 ). Keunggulan dalam menginvasi pertanaman dan perilaku yang demikian mernungkinkan laba-laba serigala mendominasi semua ekosistem yang diteliti. Laba-laba ini sudah hadir sejak awal tanam atau tergolong sebagai predator perintis (Rauf 1989).
Populasi laba-laba P.
pseudoannulafa
berkembang seiring dengan pertumbuhan tanaman padi (Bab V). Penurunan populasi yang terjadi padadua petak persemaian ternyata disebabkan oleh aplikasi insektisida baik secara semprotan (Bassa) rnaupun yang ditabur (Curater) (Gambar 5.1 ).
Berkembangnya struktur tanaman yang sejalan dengan pertumbuhannya menyediakan relung yang lebih beragam bagi artropoda yang hidup dan berlindung termasuk laba-laba dan serangga mangsa. Peningkatan kerapatan populasi laba-laba ini didukung oleh tersedianya makanan yang cukup bagi laba-laba antara lain hama wereng. Hal ini terbukti dari peningkatan populasi hama wereng yang juga seiring dengan perturnbuhan tanaman (Gambar 5.3).
Faktor lain yang penting yang turut mempengaruhi perkembangan populasi laba-laba
P.
pseudoannulata di pertanaman padi adalah pengelolaan air selama pertumbuhan tanaman. Hal ini telah diarnati penulis selama penelitian yakni pada lahan sawah yang dipertahankan dalam keadaan macak-macak seperti pada ekosistem padi tipe C (Gambar 5.3).Pada ekosistern itu terjadi peningkatan populasi laba-Iaba serigala hingga tanaman padi menjelang panen. Beberapa bukti menunjukkan bahwa populasi laba-laba terhambat apabila sawah sering dikeringkan seperti di pertanaman padi tipe B (Gambar 5.3) dan tipe
C
musim gadu (Gambar 4.3).Dalam hubungan itu terlihat adanya pengelornpokan laba-laba pada rumpun padi yang berdekatan dengan air seperti sekitar saluran air dan genangan air, sedangkan pada bagian sawah yang sangat kering jarang ditemukan laba-laba. Bukti lainnya adalah laba-laba yang mernbangun jaring sangat jarang ditemukan pada sawah yang kering; biasanya laba-laba itu
membangun jaringnya di petak sawah yang airnya tergenang.
Hasil penelitian pemangsaan laba-laba
P.
pseudoannulata (Bab VI) rnenunjukkan bahwa laba-laba ini memangsa beragam jenis artropoda terutama serangga baik yang tergolong hama maupun bukan hama.P.
pseudoannulafa ternyata memangsa beberapa spesies hama penting kelompok wereng seperti wereng batang punggung putih, wereng batang cokelat, wereng daun hijau (Bab Vl). Dalam penelitian ini hama wereng punggung putih relatif lebih sering ditemukan dimangsa oleh laba-laba ini karena harna tersebut mendominasi serangga hama selama pertumbuhan tanaman. Di samping itu, laba-laba serigala memangsa serangga dan laba- laba lain yang berperan sebagai predator terhadap serangga hama. Apabila spesies hama wereng batang cokelat yang dominan maka yang paling banyak adalah hama wereng wkelat. Beberapa penelitian tentang jenis serangga hama yang dimangsa oleh laba-laba serigala yang telah dilaporkan rnenyatakan bahwa laba-laba ini memangsa terutama wereng hama seperti wereng-batang wkelat, wereng-daun hijau dan wereng-batang punggung putlh (IRRI 9 978, Ooi & Shepard 1994, Shepard et
at.
1987).Laba-laba secara aktif melakukan pemangsaan baik pada siang hari maupun malam hari (Tabel 6.2). dengan demikian dapat memangsa beragam jenis serangga terutama serangga hama yang aktif siang (diurnal) dan yang aktif malam hari (nokturnal). Di lapangan terlihat bahwa laba-laba akan bereaksi dan menyergap setiap mahluk bergerak yang berukuran relatif kecil di dekatnya, tetapi apabila setelah didekati mahluk itu ternyata tidak bergerak maka akan ditinggalkan.
Dalam kondisi lapangan, diduga seekor laba-laba dewasa dapat memangsa satu ekor nimfa wereng per hari (Bab VI). Dibandingkan dengan
hasil penelitian laboratorium yakni seekor laba-laba dapat rnemangsa 15 - 20 ekor per hari maka nirai tersebut sangat rendah. Biasanya di laboratorium kondisi lingkungan berubah terutama ruang yang terbatas, suhu yang relatif stabil, mangsa hanya satu spesies, populasi mangsa terkontrol, laba-laba dilaparkan sebelum perlakuan dan sebagainya. Diharapkan dengan hasil penelitian ini dapat memberikan informasi yang lebih mendekati dengan yang terjadi dalam kondisi lapangan, terutama dalam hubungan dengan perkembangan populasi serangga hama wereng.
Berdasarkan pada hasil penelitian yang diperoleh, rnaka dapat dinyatakan bahwa laba-laba serigala P. pseudoannulata adaalh predator serangga hama yang potensial karena dapat ditemukan pada semua areal persawahan, memiliki kemampuan memencar yang baik dengan berjalan dan melompat baik di permukaan tanah maupun permukaan air serta melalui udara (melayang) dari sekitar areal persawahan. Laba-laba ini dapat rnernangsa beragam spesies hama penting pada tanaman padi, kemampuan rnemangsa serangga hama yang relatif tinggi, dan dapat dikonservasi dengan mudah. Dengan demikian laba-laba ini dapat dioptirnalkan peranannya untuk dimanfaatkan guna penyempurnaan pengendalian hama secara terpadu.
Sampai saat ini pemanfaatan laba-laba sebagai agens pengendalian hayati terhadap serangga hama pada tanaman padi belum diterapkan pada pengendalian hama pertanaman padi terutama dalarn program pengendalian hama secara terpadu. Sekalipun dalam sosialisasi PHT melalui Sekolah Lapang PHT (SLPHT) telah dimasukkan salah satu mata pelatihan pemantauan tentang populasi laba-laba (PNPHT 199411 995). namun dalam
penerapannya petani masih sering mengabaikan perlindungan bahkan konservasi terhadap laba-laba. Beberapa cara pengelolaan pertanaman padi yang dapat diusulkan untuk konsewasi musuh alami umum termasuk laba- laba adalah penurunan penggunaan pestisida dan menambah heterogenitas habitat bagi predator itu (Settle et
at.
1996).Beberapa ha1 yang perlu dilakukan untuk mengoptirnalkan peran laba- faba adalah menurunkan penggunaan pestisida dan mempertahankan habitat yang didiami oleh Iaba-laba serigala seperti membiarkan saturan air di sekitar persawahan ditumbuhi tumbuhan liar, dan demikian juga pematang sawah. Pada dasarnya cara tersebut dapat membantu meningkatkan keragaman vegetasi sekitar sekitar lahan sawah yang mernpertinggi kesesuaian habitat bagi laba-laba. Upaya itu dapat mendukung pengendalian hama dengan menciptakan lingkungan yang bermanfaat bagi berkembangnya musuh alami yang dapat mengendalikan populasi serangga hama sesuai dengan konsep PHT.
Daftar Pustaka
Bishop, L. 1990. Meteorological aspects of spider ballooning. Environ.
Entornol. 19 (5) 1381
-
1387.Bishop, L. & S. E. Riechert. 1990. Spider colonization of agroecosystem : Mode and source. Environ. Entomol. 19 (6) : 1738
-
1745.International Rice Research Institute. 1978. Annual Report for 1977. Los Banos. Philippines. 548 p.
Ooi, P. A. C. & B. M. Shepard. 1994. Predators and parasitoid of rice insect pests. In E. A. Heinrichs (ed). Biology and management of rice insects.
Publishing for One World, Wiley Eastern Limited, New Age International Limited. pp 585
-
612.Plagens, M. J. 1986. Aerial dispersal of spiders (Araneae) in a Florida corn field ecosystem. Environ. Entomol. 15 1225
-
1233.Proyek Nasional Pengdalian Hama Terpadu. 199411995. Buku petunjuk lapangan untuk PHT padi. Proyek PHT Pusat Departemen Pertanian.
148 hal.
Rauf, A. 1989. Aspek ekologi pengelolaan hama. Makalah disampaikan pada Kursus Singkat IPM. Manado, 10-21 Januari 1989.62 h.
Settle, W. H., H. Ariawan, E. T. Astuti, W. Cahyana, A. L. Hakim, D.
Hidayana, A. S. Lestari, Sartanto & Pajamingsih. 1996. Managing tropical rice pests through conservation of generalist natural enemies and alternative prey. Ecology 77 (7) : 1975 - 1988.
Shepard, B. M., A. T. Barrion & J. A. Litsinger. 1987. Helpful insects, spiders, and pathogens. IRRI. Los Banos, Laguna Philippines. 136 p.
BAB VIII