• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. 1. Hasil Penelitian

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis statistik dengan menggunakan software SPSS (statistical product and service solution), data-data dalam penelitian ini akan diuji yang akan menghasilkan output dalam bentuk statistik. Analisis statistik yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif, uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heterokedastisitas, uji autokorelasi, uji signifikan parsial (uji-t), uji signifikan simultan (uji F), dan uji koefisien determinasi (R2). Sebelumnya, akan dibahas terlebih dahulu deskripsi variable-variabel penelitian yang menunjukkan integritas dari variable yang diwakilinya.

4. 1. 1. Deskripsi Variabel Penelitian

Deskripsi variabel bebas yaitu tingkat Risk Base Capital (RBC) dan tingkat Pertumbuhan Premi Netto dan variabel terikat yaitu tingkat Return On Investment (ROI) pada perusahaan Asuransi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2008 sampai dengan 2012. I. Deskripsi Tingkat Risk Base Capital (RBC)

Tingkat Risk Base Capital (RBC) menunjukkan perbandingan antara harta yang dimiliki setelah dikurangi kewajibannya dengan jumlah modal yang harus dipertahankan / dimiliki perusahaan asuransi. Tingkat Risk Base Capital (RBC) perusahaan asuransi di Bursa Efek Indonesia selama periode 2008 - 2012 :

Tabel 4. 1

Tingkat Risk Base Capital (RBC) Periode 2008 - 2012

No. Nama Perusahaan Kode Tahun

2008 2009 2010 2011 2012 1. PT. Asuransi Bina Dana Arta, Tbk ABDA 297% 310% 409% 622% 71% 2. PT. Asuransi Harta Aman Pratama, Tbk AHAP 116% 120% 134% 151% 40% 3. PT. Asuransi Jasa Tania, Tbk ASJT 226% 250% 290% 294% 16% 4. PT. Asuransi Ramayana, Tbk ASRM 282% 317% 345% 376% 50% 5. PT. Lippo General Insurance, Tbk LPGI 147% 120% 144% 163% 10% 6. PT. Maskapai Reasuransi Indonesia, Tbk MREI 286% 356% 368% 470% 60% 7. PT. Asuransi Sinar Mas, Tbk SMMA

196%

199% 291% 371% 22% sumber :www.idx.co.id (diolah peneliti dari publikasi laporan keuangan perusahaan asuransi yang terdaftar dibursa efek indonesia, pada April 2013)

Tabel 4.1 menunjukkan nilai variabel tingkat Risk Base Capital (RBC) perusahaan asuransi di Bursa Efek Indonesia yang mengalami peningkatan dan penurunan selama periode penelitian yaitu dari tahun 2008 sampai dengan 2012.

Tingkat Risk Base Capital yang tertinggi pada tahun 2008 diraih oleh PT.Asuransi Bina Dana Arta,Tbk sebesar 2,97 atau 297% dan terendah dialami PT.Asuransi Harta Aman Pratama,Tbk sebesar 1,16 atau 116%. Tingkat Risk Base Capital yang tertinggi pada tahun 2009 diraih oleh PT.Maskapai Reasuransi,Tbk sebesar 3,56 atau 356% dan terendah dialami PT.Asuransi Harta Aman Pratama,Tbk dan PT.Lippo General Insurance,Tbk masing-masing sebesar 0,12 atau 120%. Tingkat Risk Base Capital yang tertinggi pada tahun 2010 diraih oleh PT.Asuransi Bina Dana Arta,Tbk sebesar 4,09 atau 409% dan terendah dialami PT.Asuransi Harta Aman Pratama,Tbk sebesar 1,34 atau 134% Tingkat Risk Base Capital

(RBC) tertinggi pada tahun 2011 diraih oleh PT.Asuransi Bina Dana Arta,Tbk sebesar 6,22 atau 622% dan nilai terendah diraih oleh PT.Asuransi Harta Aman Pratama,Tbk sebesar 1,51 atau 151%. Tingkat Risk Base Capital (RBC) tertinggi pada tahun 2012 diraih oleh

PT.Asuransi Bina Dana Arta,Tbk sebesar 0,71 atau 71% dan nilai terendah adalah PT.Lippo General Insurance,Tbk sebesar 0,10 atau 10%.

II. Deskripsi Tingkat Pertumbuhan Premi (Premium Growth Ratio)

Deskripsi tingkat pertumbuhan premi (Premium Growth Ratio) menggambarkan perbandingan antara jumlah pendapatan dikurangi beban variable dan beban tetap per kontribusi dengan total pendapatan perusahaan asuransi. Tingkat pertumbuhan premi perusahaan asuransi di Bursa Efek Indonesia selama periode 2008 sampai dengan 2012 adalah sebagai berikut :

Tabel 4. 2

Tingkat Pertumbuhan Premi (Premium Growth Ratio) Periode 2008 – 2012

No. Nama Perusahaan Kode Tahun

2008 2009 2010 2011 2012 1. PT. Asuransi Bina Dana Arta, Tbk ABDA 0,74% 0,66% 0,78% 0,83% 0,83% 2. PT. Asuransi Harta Aman Pratama, Tbk AHAP 0,94% 0,97% 0,42% 0,67% 0,61% 3. PT. Asuransi Jasa Tania, Tbk ASJT 1,28% 1,33% 1,29% 1,25% 0,68% 4. PT. Asuransi Ramayana, Tbk ASRM 1,53% 1,60% 2,24% 2,74% 0,92% 5. PT. Lippo General Insurance, Tbk LPGI 0,52% 0,76% 1,17% 0,96% 0,97% 6. PT. Maskapai Reasuransi Indonesia, Tbk MREI 1,01% 0,94% 0,45% 0,32% 0,46% 7. PT. Asuransi Sinar Mas, Tbk SMMA 0,05% 0,04% 1,82% 1,32% 0,03%

sumber :www.idx.co.id (diolah peneliti dari publikasi laporan keuangan perusahaan asuransi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, pada April 2013)

Tabel 4.2 menunjukkan tingkat pertumbuhan premi perusahaan asuransi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang mengalami kenaikan dan penurunan selama periode penelitian yaitu pada tahun 2008 sampai dengan 2012. Tingkat pertumbuhan premi (Premium Growth Ratio) tertinggi pada tahun 2008 diraih oleh PT.Asuransi Ramayana,Tbk sebesar 1,53% dan terendah dialami oleh PT.Asuransi Sinar Mas,Tbk sebesar 0,05%. Tingkat pertumbuhan premi (Premium Growth Ratio) tertinggi pada tahun 2009 diraih oleh PT.Asuransi

Ramayana,Tbk sebesar 1,60% dan terendah dialami oleh PT.Asuransi Sinar Mas,Tbk sebesar 0,04%. Tingkat pertumbuhan premi (Premium Growth Ratio) tertinggi pada tahun 2010 diraih oleh PT.Asuransi Ramayan,Tbk sebesar 2,24% dan terendah dialami oleh PT.Asuransi Harta Aman Pratama,Tbk sebesar 0,42%. Tingkat pertumbuhan premi tertinggi pada tahun 2011 diraih oleh PT.Asuransi Ramayana,Tbk sebesar 2,74% dan nilai terendah dialami oleh PT.Maskapai Reasuransi Indonesia,Tbk sebesar 0,32%. Tingkat pertumbuhan premi pada tahun 2012 diraih PT. Lippo General Insurance,Tbk sebesar 0,97% dan nilai terendah dialami oleh PT.Asuransi Sinar Mas,Tbk sebesar 0,03%.

III. Deskripsi Nilai Return On Investment (ROI)

Deskripsi nilai Return On Investment (ROI) menunjukkan hubungan antara laba yang diperoleh dengan aktiva yang digunakan untuk menghasilkan pengembalian atas investasi tersebut. Tingkat Return On Investment (ROI) perusahaan asuransi di Bursa Efek Indonesia selama periode 2008 sampai dengan 2012 adalah :

Tabel 4. 3

Tingkat Return On Investment (ROI) Periode 2008 – 2012

No. Nama Perusahaan Kode Tahun

2008 2009 2010 2011 2012 1. PT. Asuransi Bina Dana Arta, Tbk ABDA 0,33% 0,50% 0.27% 0.18% 0.12% 2. PT. Asuransi Harta Aman Pratama, Tbk AHAP 0,03% 0,02% 0.02% 0.04% 0.04% 3. PT. Asuransi Jasa Tania, Tbk ASJT 0,02% 0,05% 0.14% 0.11% 0.16% 4. PT. Asuransi Ramayana, Tbk ASRM 0,05% 0,06% 0.08% 0.05% 0.05% 5. PT. Lippo General Insurance, Tbk LPGI 0,01% 0,03% 0.01% 0.03% 0.01% 6. PT. Maskapai Reasuransi Indonesia, Tbk MREI 0,08% 0,09% 0.03% 0.03% 0.06% 7. PT. Asuransi Sinar Mas, Tbk SMMA 0,01% 0,03% 0,11% 0,12% 0,02%

sumber :www.idx.co.id (diolah peneliti dari publikasi laporan keuangan perusahaan asuransi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia)

Tabel 4.3 menunjukkan tingkat Return On Investment (ROI) perusahaan asuransi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang mengalami kenaikan dan penurunan selama periode

penelitian yaitu pada tahun 2008 sampai dengan 2012.

Tingkat Return On Investment (ROI) tertinggi pada tahun 2008 diraih oleh PT.Asuransi Bina Arta Dana,Tbk sebesar 0,33% dan nilai terendah dialami oleh PT.Lippo General Insurance,Tbk dan PT.Asuransi Sinar Mas,Tbk masing-masing sebesar 0.01%. Tingkat

Return On Investment (ROI) tertinggi pada tahun 2009 diraih oleh PT.AsuransiBina Arta Dana,Tbk sebesar 0,50% dan nilai terendah dialami oleh PT.Asuransi Harta Aman Pratama,Tbk sebesar 0,02%. Tingkat Return On Investment (ROI)tertinggi pada tahun 2010 diraih oleh PT.AsuransiBina Arta Dana,Tbk sebesar 0,27% dan nilai terendah dialami oleh PT.Lippo General Insurance,Tbk sebesar 0,01%. Tingkat Return On Investment (ROI) tertinggi pada tahun 2011 diraih oleh PT.Asuransi Bina Arta Dana,Tbk sebesar 0,18% dan nilai terendah dialami oleh PT.Lippo General Insurance,Tbk dan PT.Maskapai Reasuransi Indonesia,Tbk masing-masing sebesar 0.03%. Tingkat Return On Investment (ROI)tertinggi pada tahun 2012 diraih oleh PT.Asuransi Jasa Tania,Tbk sebesar 0,16% dan nilai Return On Investment (ROI) terendah dialami oleh PT.Lippo General Insurance,Tbk sebesar 0,01%. 4. 1. 2. Analisis Statistik Deskriptif

Statistik deksriptif merupakan teknik atau prosedur yang mendeskripsikan kumpulan data atau hasil pengamatan. Berikut analisis statistik Deskriptif dari seluruh data yang digunakan :

Tabel 4. 4 Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

RBC 35 10 622 226.26 143.688

Premium 35 .03 2.74 .9466 .57802

ROI 35 .01 .50 .0854 .10228

Sumber : Hasil Pengolahan SPSS.

Dari Tabel 4. 4 dapat diketahui beberapa hal, sebagai berikut :

a. Rata-rata dari tingkat Risk Base Capital (X1) adalah 226,26 dengan standar deviasi 143.688 dengan jumlah data sebanyak 35 data. Nilai Risk Base Capital (X1) tertinggi adalah 622 dan terendah adalah 10, artinya rata-rata nilai Risk Base Capital (RBC) dari 7 perusahaan asuransi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama 5 tahun adalah sebesar 226%,

b. Rata-rata dari tingkat pertumbuhan premi neto(X2) adalah 0.9466 dengan standar deviasi 0.57802 dengan jumlah data sebanyak 35 data. Nilai pertumbuhan premi neto (X2) tertinggi adalah 2.74 dan terendah adalah 0.03, artinya rata-rata tingkat pertumbuhan premi neto dari 7 perusahaan asuransi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama 5 tahun adalah sebesar 94,6%.

c. Rata-rata dari tingkat Return On Investment (Y) adalah 0.0854 dengan standar deviasi 0.10228 dengan jumlah data sebanyak 35 data. Nilai Return On Investment (Y) tertinggi adalah 0.50 dan terendah adalah 0.01, artinya rata-rata nilai Risk On Investment (ROI) dari 7 perusahaan asuransi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama 5 tahun adalah sebesar 8,5%.

4. 1. 3. Hasil Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas

Pengujian normalitas data adalah untuk menguji apakah dalam model statistik variabel-variabel penelitian berdistribusi normal atau tidak normal. Data yang baik adalah data yang mempunyai pola seperti distribusi normal, yakni distribusi data tersebut tidak melenceng ke kiri atau ke kanan. Cara yang paling sederhana adalah dengan melihat histogram yang membandingkan antara data observasi dengan distribusi yang mendekati normal. Hasil dari

uji normalitas ditunjukkan pada Gambar 4. 1. Grafik Histogram.

Gambar 4.1 Grafik Histogram sumber : Hasil Pengolahan SPSS.

Berdasarkan hasil uji normalitas pada grafik histogram menunjukkan residual data tidak simetris mengikuti kurva yang menyerupai lonceng namun condong ke kanan (skewness) yang mengindikasikan bahwa data tidak normal. Pengujian normalitas juga dapat digambarkan pada Gambar 4. 2. Grafik Normal Plot.

Gambar 4. 2 Grafik Normal Plot sumber : Hasil Pengolahan SPSS.

Berdasarkan Gambar 4.2 grafik plot terlihat titik-titik tidak menyebar di sekitar garis diagonal, bahkan penyebarannya menjauhi garis diagonal grafik normal plot sehingga dapat disimpulkan bahwa data pada model regresi berdistribusi secara tidak normal. Semua hasil pengujian statistik dan grafik menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi secara normal, sehingga dilakukan analisis Kolmogrov-Smirnov pada Tabel 4. 5. Hasil Uji Normalitas.

Tabel 4. 5 Hasil Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized

Residual

N 35

Normal Parametersa Mean -.007

Std. Deviation 1.008 Most Extreme Differences Absolute .337 Positive 4.049 Negative -1.560 Kolmogorov-Smirnov Z .337

Asymp. Sig. (2-tailed) 1.000

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

sumber : Hasil Pengolahan SPSS.

Berdasarkan Tabel 4.5 Smirnov diketahui bahwa nilai Kolmogorov-Smirnov sebesar 0,337 dengan tingkat signifikansi sebesar 1.000 berarti tidak signifikan pada 0,05 karena di atas nilai signifikan (0,05). Berdasarkan nilai KolmogorovSmirnov tersebut dapat disimpulkan bahwa variabel residual berdistribusi secara normal.

b. Uji Multikolinearitas

Penelitian uji multikolinearitas berfungsi untuk mendeteksi ada atau tidaknya gejala gangguan multikolinearitas. Ada atau tidaknya gejala multikolinearitas dapat dilihat dari hasil pengujian yang diperoleh dari nilai tolerance dari model penelitian, yakni nilai Tol > 0.1 dan hasil nilai Variance Inflation Factor (VIF) < 5. Hasil dari uji multikolinearitas ditunjukkan pada Tabel 4. 6. Uji Multi- kolinearitas.

Tabel 4. 6 Uji Multikolinearitas Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Correlations Collinearity Statistics B Std. Error Beta Zero-order

Partial Part Tolerance VIF

1(Constant) RBC Premium .041 .037 1.117 .272 .000 .000 .393 2.274 .030 .357 .373 .373 .899 1.113 -.020 .031 -.115 -.668 .509 .010 -.117 -.109 .899 1.113

a. Dependent Variable: ROI

sumber : Hasil Pengolahan SPSS.

Hasil uji multikolinearitas diketahui bahwa angka tolerance RBC adalah sebesar 0.899 < 0.1 dan VIF 1.113 > 5, tolerance pertumbuhan premi neto adalah sebesar 0.899 < 0.1 dan VIF 1.113 > 5. Hasil ini mengindikasikan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antar variabel independen dalam penelitian.

c. Uji Heteroskedastisitas

Model regresi yang baik adalah memiliki kondisi homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dalam model penelitian dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID (residual) dan ZPRED (prediksi variabel terikat). Hasil dari uji heteroskedastisitas dapat dilihat pada Gambar 4. 3 Grafik Scatterplot.

Gambar 4. 3 Grafik Scatterplot sumber : Hasil Pengolahan SPSS.

Hasil pengujian heteroskedastisitas yang terlihat pada Gambar 4.3 menunjukkan bahwa adanya pola tertentu dalam grafik scatterplot, kondisi tersebut dapat dilihat dari penyebaran data (titik) yang terjadi secara hampir teratur atau membentuk diagonal yang menyebar baik dibawah maupun diatas nol pada sumbu Y. Hasil ini mengindikasikan bahwa terjadi heteroskedastisitas dan model regresi tidak layak untuk digunakan untuk memprediksi variabel dependen (ROI) berdasarkan masukan variabel independen (RBC dan Net Premium).

d. Uji Autokorelasi Tabel 4. 7 Uji Autokorelasi Model Summaryb Model R Square R Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

Change Statistics Change Statistics Durbin-Watson R Square Change F Change df1 df2 Sig. F Change 1 .373a .139 .085 .09781 .139 2.587 2 32a .091 2.126

a. Predictors: (Constant), Premium, RBC

b. Dependent Variable: ROI

sumber : Hasil Pengolahan SPSS.

Untuk mendiagnosis adanya gangguan autokorelasi (error) dalam model dapat dilakukan dengan melihat tabel kriteria nilai Durbin-Watson dengan cara membandingkan nilai statistik dengan tabel Durbin-Watson. tabel Durbin-Watson adalah sebagai berikut :

Nilai DW

Hipotesis Keputusan

0<DW<dl Autokorelasi positif Tolak

dl<DW<du Tidak ada autokorelasi positif No decision

4-dl<DW<4 Autokorelasi negatif Tolak 4 du<DW<4 dl Tidak ada autokorelasi negatif No decision

du<DW<4-du Tidak ada autokorelasi positif atau negative Tidak ditolak

Hasil output SPSS (Statistical Product and Service Solution) menunjukkan bahwa nilai

Durbin-Watson adalah 2.126 dengan jumlah sampel 35 dan jumlah variabel independen 2. Nilai batas atas (du) pada tabel Durbin-Watson sebesar 1,413 sehingga nilai Durbin-Watson

berada di antara batas atas dan 4–du (4– 1,413=2,587) sehingga 1,289 < 1,413 < 2,587. Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis ditolak karena dalam model regresi linear terjadi autokorelasi antara kesalahan pengganggu pada periode penelitian dengan kesalahan pengganggu pada periode sebelum penelitian.

4. 1. 4. Hasil Uji Hipotesis

a. Analisis Regresi Linear Berganda

Hasil model regresi linear berganda yang menggambarkan hubungan antara variabel independent terhadap variabel dependent adalah sebagai berikut :

Tabel 4. 8

Regresi Linear Berganda dan Uji Parsial (Uji-t) Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Correlations Collinearity Statistics B Std. Error Beta Zero-order

Partial Part Tolerance VIF

1(Constant) RBC Premium .041 .037 1.117 .272 .000 .000 .393 2.274 .030 .357 .373 .373 .899 1.113 -.020 .031 -.115 -.668 .509 .010 -.117 -.109 .899 1.113

a. Dependent Variable: ROI

sumber : Hasil Pengolahan SPSS.

Berdasarkan Tabel 4.8 di atas, maka dapat disajikan persamaan regresi sebagai berikut: ROI = 0.041 + 0.000 RBC – 0.020 Premi Neto

Berdasarkan persamaan regresi berganda dapat diketahui bahwa :

1. Konstanta (a) sebesar 0.041, ini menunjukkan bahwa apabila variabel independent Risk Base Capital (RBC) dan pertumbuhan premi neto diasumsikan tetap atau sama dengan 0, maka nilai Return On Investment (ROI) adalah sebesar 0.041

2. Koefisien Risk Base Capital (b1) = 0.000, ini menunjukkan bahwa perubahan variabel

Risk Base Capital tidak akan menaikkan nilai Return On Investment (ROI) ini artinya bahwa antara Risk Base Capital (RBC) dengan nilai Return On Investment (ROI) tidak menunjukkan hubungan.

perubahan pertumbuhan premi neto sebesar 1%, maka akan menurunkan nilai Return On Investment (ROI) sebesar 0.02% ini artinya bahwa antara pertumbuhan premi neto dengan Return On Investment (ROI) menunjukkan hubungan yang tidak searah (negatif). b. Uji Parsial (Uji-t)

Uji-t digunakan untuk menguji masing-masing variabel independen yang berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen secara parsial. Hasil uji parsial (uji-t) dengan SPSS (Statistical Product and Service Solution) tercantum pada Tabel 4. 8.

Berdasarkan hasil data penelitian yang diproses melalui SPSS (Statistical Product and Service Solution) pada Tabel 4. 8 menunjukkan nilai signifikan untuk Risk Base Capital

(RBC) sebesar 0,03 yang berarti lebih kecil dari 0,05 sedangkan nilai

t

hitungsebesar 2,274 lebih besar dari nilai ttabel sebesar 1,93. Maka, dapat disimpulkan bahwa tingkat Risk Base Capital (RBC) memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat Return On Investment (ROI) dengan demikian hipotesis pertama (H1) diterima. Hasil ini menunjukkan bahwa secara parsial Risk Base Capital (RBC) berpengaruh signifikan terhadap Return On Investment

(ROI).

Tingkat pertumbuhan premi neto menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0.509 yang berarti lebih besar dari 0,05 sedangkan nilai thitung sebesar -0.668 yang berarti lebih kecil dari nilai

t

tabel sebesar 1,93. Maka, dapat disimpulkan bahwa tingkat pertumbuhan premi neto tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat Return On Investment (ROI) dengan demikian hipotesis kedua (H2) tidak dapat diterima. Hasil ini menunjukkan bahwa secara parsial tingkat pertumbuhan premi neto tidak berpengaruh signifikan terhadap Return On Investment (ROI).

c. Uji Simultan (Uji F)

Pengujian ini digunakan untuk menguji pengaruh signifikansi secara simultan dari semua variabel independen terhadap variabel dependen. Berdasarkan hasil uji simultan (Uji F) pada

Tabel 4.9 diperoleh nilai Fhitung sebesar 2.587 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,091b < 0,05 hal ini menunjukkan bahwa variabel independen yakni Risk Base Capital (RBC) dan tingkat pertumbuhan premi neto secara simultan (bersama-sama) tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat Return On Investment (ROI) pada perusahaan asuransi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode penelitian 2008 sampai dengan 2012 dengan demikian hipotesis ketiga (H3) tidak dapat diterima.

Tabel 4. 9 Uji Simultan (Uji F) ANOVAa

Model Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Regression Residual Total .050 2 .025 2.587 .091b .306 32 .010 .356 34

a. Dependent Variable: ROI

b. Predictors: (Constant), Premium, RBC

sumber : Hasil Pengolahan SPSS. d. Koefisien Determinasi (R2)

Nilai koefisien determinasi (R2) dimana 0 < R2 < 1, nilai R yang semakin mendekati 1 (satu) berarti semakin kuatnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen sedangkan apabila nilai (R2) semakin kecil dari angka 0 (nol) maka dapat diartikan semakin kecil pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.

Tabel 4. 10 Koefisien Determinasi (R2) Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

Change Statistics Change Statistics Durbin-Watson R Square Change F Change df1 df2 Sig. F Change 1 .373a .139 .085 .09781 .139 2.587 2 32a .091 2.126

a. Predictors: (Constant), Premium, RBC. b. Dependent Variable: ROI

sumber : Hasil Pengolahan SPSS.

Berdasarkan Tabel 4.10 dapat diketahui bahwa korelasi atau hubungan antara Return On Investment (ROI) dengan variabel independent tidak erat yakni hanya sebesar 37,3%. Nilai ini menunjukkan bahwa variabel-variabel independen meliputi Risk Base Capital (RBC) dan pertumbuhan premi neto memiliki korelasi atau pengaruh yang kecil terhadap tingkat Return On Investment (ROI) selama periode penelitian antara tahun 2008 sampai dengan 2012, sedangkan nilai R square atau koefisien determinasi sebesar 0,139. Nilai ini menujukkan bahwa 13,9% tingkat Return On Invesment (ROI) dapat dijelaskan oleh variabel Risk Base Capital (RBC) dan pertumbuhan premi neto, sedangkan sisanya sebesar 86,1% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini.

4. 2. Pembahasan Hasil Penelitian 4. 2. 1. Risk Base Capital (RBC)

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan maka pembahasan hasil penelitian bahwa Risk Base Capital (RBC) berpengaruh terhadap tingkat Return On Investment (ROI). Dari hasil uji regresi didapat nilai thitung sebesar 2,274 yang berarti lebih besar dari nilai ttabel sebesar 1,93 dengan nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,03 yang berarti lebih kecil dari 0,05. Maka dapat disimpulkan Risk Base Capital (RBC) memiliki pengaruh yang signifikan

terhadap tingkat Return On Investment (ROI) dengan demikian hipotesis pertama (H1) diterima.

Risk Base Capital (RBC)merupakan indikator dalam mengelola resiko yang akan terjadi serta kualitas perusahaan asuransi tersebut. Tingkat Risk Base Capital (RBC) yang tinggi akan berpengaruh dalam menghadapi klaim yang relatif besar dan mengancam kondisi stabilitas keuangan perusahaan sehingga meningkatkan resiko kebangkrutan bagi perusahaan asuransi. Tingkat Risk Base Capital (RBC) yang rendah akan meningkatkan kemungkinan ketidakmampuan dalam membayar beban klaim yang besar dan dapat mengancam keuangan perusahaan tetapi tidak mempunyai pengaruh terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan.

Tingginya tingkat Risk Base Capital (RBC) memberikan informasi tentang rendahnya potensi kebangkrutan suatu perusahaan dan baiknya manajemen resiko perusahaan. Kemampuan perusahaaan akan meningkat dalam menghasilkan keuntungan bila indikasi Risk Base Capital (RBC) tinggi sehingga akan menambah minat investor dalam membeli saham perusahaan yang berdasarkan indikator tingkat Return On Investment (ROI). Hasil penelitian menunjukkan pengaruh tingkat Risk Base Capital (RBC) yang tinggi menyebabkan Return On Investment (ROI) naik secara signifikan.

4. 2. 2. Tingkat Pertumbuhan Premi Neto

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan maka pembahasan hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan premi neto tidak berpengaruh terhadap tingkat

Return On Investment (ROI). Berdasarkan hasil penelitian di dapat nilai thitung sebesar -0.668 lebih kecil dari nilai ttabel sebesar 1,93 dengan nilai probabilitas signifikansi sebesar 0.509 yang berarti lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan tingkat pertumbuhan premi neto tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat Return On Investment (ROI) dan hipotesis kedua (H2) tidak dapat diterima.

Tingkat pertumbuhan premi merupakan indikator untuk mengetahui pertumbuhan pendapatan terhadap biaya produksi sehingga akan dapat mengestimasi tingkat keuntungan yang ingin dicapai, tetapi tingkat pertumbuhan premi tidak berpengaruh terhadap pengembalian laba atas modal yang diinvestasikan para pemegang saham, disebabkan pengaruh perubahan aktivitas operasional perusahaan dalam tingkat biaya, premi asuransi, dan volume penjualan serta faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kondisi umum perusahaan asuransi seperti kondisi ekonomi dan politik. Hal ini ditunjukkan pada hasil penelitian, bahwa tingkat pertumbuhan pendapatan premi yang tinggi tidak serta menyebabkan Return On Investment (ROI) naik secara signifikan.

4. 2. 3. Return On Investment (ROI)

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan menunjukkan bahwa Risk Base Capital (RBC) dan tingkat pertumbuhan premi neto tidak berpengaruh secara simultan terhadap tingkat Return On Investment (ROI). Hipotesis ketiga (H3) tidak dapat diterima.

Secara parsial diketahui bahwa Risk Base Capital (RBC) berpengaruh terhadap tingkat

Return On Investment (ROI) dan tingkat pertumbuhan premi neto tidak berpengaruh terhadap tingkat Return On Investment (ROI). Hal ini menunjukkan perbedaan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Kirmizi dan Susi Surya Agus (2011) yang mengungkapkan bahwa Risk Base Capital (RBC) tidak berpengaruh terhadap Return On Equity (ROE), dan pertumbuhan premi asuransi berpengaruh terhadap Return On Equity

(ROE). Kondisi ini menunjukkan bahwa terdapat faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi Return On Investment (ROI) dan penilaian kinerja keuangan di industri asuransi.

Dokumen terkait