BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1. Deskripsi Objek Penelitian
4.1.9. PT. Ciputra Property Tbk
PT Ciputra Property (“Perusahaan”) didirikan dengan nama “PT Citraland Property” berdasarkan Akta Notaris R. Arie Soetardjo, S.H., No. 119 tanggal 22 Desember 1994, yang diperbaharui dengan Akta Notaris yang sama No. 27 tanggal 3 Februari 1995, dan disahkan oleh Menteri Kehakiman dengan Surat Keputusan No. C2-2447.HT.01.01.TH.95 tanggal 16 Februari 1995 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 8, Tambahan No. 471, tanggal 28 Januari 2000. Anggaran Dasar Perusahaan telah beberapa kali mengalami perubahan. Perubahan terakhir berdasarkan Akta Notaris Dr. Misahardi Wilamarta, S.H. MH. MKn. LLM,
No. 202 tanggal 15 Agustus 2008 mengenai perubahan Anggaran Dasar Perusahaan untuk disesuaikan dengan Undang- Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan peraturan di bidang Pasar Modal, telah diterima dan disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. AHU-65787.AH.01.02.TH.08 tanggal 18 September 2008.
Kegiatan utama Perusahaan meliputi mendirikan dan menjalankan usaha-usaha pembangunan, pengelolaan, dan penyewaan di bidang perhotelan, rumah susun (apartemen), perkantoran, pertokoan, pusat niaga, dan pusat rekreasi beserta fasilitasnya. Kantor pusat Perusahaan berlokasi di Jalan Prof. Dr. Satrio Kav. 6, Jakarta.
4.2. Analisis Hasil Penelitian
Perusahaan yang diambil dalam penelitian ini adalah perusahaan Properti dan Real Estate yang go publik di Bursa Efek Indonesia periode 2005 sampai tahun 2008 sebanyak 9 perusahaan.
4.2.1. Kebijakan Hutang Perusahaan (Y)
Rasio kabijakan hutang yang digunakan adalah Debt to Equity Ratio.
Rasio ini digunakan untuk menggambarkan kebijakan hutang perusahaan. Data Debt to Equity Ratio perusahaan yang go publik di Bursa Efek Indonesia periode 2005 sampai tahun 2008 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.1: Data Debt to Equity Ratio Perusahaan Yang Go Publik di Bursa Efek Indonesia Periode 2005 Sampai Tahun 2008
No. Nama Perusahaan Tahun
2005 2006 2007 2008 1. PT. Bekasi Asri Pemula Tbk 0 183,74 2,79 1,19 2. PT. Bumi Serpong Damai Tbk 1,83 2,18 1,84 1,11 3. PT. Bakrieland Development Tbk 1,01 0,79 0,36 0,70 4. PT. Ciputra Surya Tbk 0,97 0,64 0,41 0,44
5. PT. Duta Pertiwi Tbk 1,65 1,48 1,37 0,81
6. PT. Gowa Makassar Tourism Development Tbk 2,54 2,33 2,21 2,09 7. PT. Metro Supermarket Realty Tbk 0,47 0,32 0,29 0,26 8. PT. Pudjiadi Prestige Limited Tbk 0,67 0,31 0,25 0,17 9. PT. Ciputra Property Tbk 1,70 0,65 0,12 0,08 Rata-rata prosentase 1,20 21,38 1,07 0,76 Sumber : Lampiran 1
Tabel 4.1 diatas menjelaskan bahwa debt to equity ratio tertinggi pada tahun 2005 yaitu PT. Gowa Makassar Tourism Development Tbk sebesar 2,54 sedangkan debt to equity ratio terendah yaitu PT. Bekasi Asri Pemula Tbk sebesar 0.
Pada tahun 2006, debt to equity ratio tertinggi yaitu PT. Bekasi Asri Pemula Tbk sebesar 183,74 sedangkan debt to equity ratio terendah yaitu PT. Pudjiadi Prestige Limited Tbk sebesar 0,31.
Tahun 2007 debt to equity ratio tertinggi yaitu PT. Bekasi Asri Pemula Tbk sebesar 2,79 sedangkan debt to equity ratio terendah yaitu PT.Ciputra Property Tbk sebesar 0,12.
Tahun 2008 debt to equity ratio tertinggi yaitu PT. Gowa Makassar Tourism Development Tbk sebesar 2,09 sedangkan debt to equity ratio
terendah yaitu PT. Ciputra Property Tbk sebesar 0,08. Rata-rata prosentase
debt to equity ratio tertinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 21,38 dan
4.2.2. Devidend Payout Ratio (X1
No.
)
Dividen menunjukkan seberapa besar laba perusahaan dibagikan kepada pemegang saham. Variable ini diukur dengan Dividend Payout Ratio
(DPR). Laba yang dibayarkan dalam bentuk dividen yang merupakan rasio antara dividen yang dibayarkan dengan laba setelah pajak (earning after tax). Data Dividend Payout Ratio perusahaan yang go publik di Bursa Efek Indonesia periode 2005 sampai tahun 2008 dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.2: Data Dividend Payout Ratio Perusahaan Yang Go Publik di
Bursa Efek Indonesia Periode 2005 Sampai Tahun 2008
Nama Perusahaan Tahun
2005 2006 2007 2008
1. PT. Bekasi Asri Pemula Tbk 0 0 0 0
2. PT. Bumi Serpong Damai Tbk 0 0 0 19,57
3. PT. Bakrieland Development Tbk 0 0 0 0
4. PT. Ciputra Surya Tbk 19,83 0 0 0
5. PT. Duta Pertiwi Tbk 0 0 0 0
6. PT. Gowa Makassar Tourism Development Tbk 0 0 0 0 7. PT. Metro Supermarket Realty Tbk 0 0 0 0 8. PT. Pudjiadi Prestige Limited Tbk 0 0 0 14,13
9. PT. Ciputra Property Tbk 0 0 0 0
Rata-rata prosentase 2,2 0 0 3,74
Sumber : Lampiran 1
Tabel 4.2 diatas menjelaskan bahwa sebagian besar perusahaan tidak membagikan devidennya, sedangkan dividend payout ratio tertinggi pada tahun 2005 yaitu PT. Ciputra Surya Tbk sebesar 19,83
Pada tahun 2006 dan 2007, semua perusahaan pada penelitian ini tidak membagikan devidennya sehingga nilai dividend payout ratio adalah nol. Tahun 2008 dividend payout ratio tertinggi yaitu PT. Bumi Serpong
Damai Tbk sebesar 19,57 sedangkan perusahaan lainnya memiliki dividend payout ratio nol atau tidak membagikan devidennya.
4.2.3. Asset Structure (X2
No.
)
Variable ini diukur dengan menggunakan hasil bagi antara Fixed Asset
terhadap total asset. Data Asset Structure perusahaan yang go publik di Bursa Efek Indonesia periode 2005 sampai tahun 2008 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3: Data Asset Structure Perusahaan Yang Go Publik di Bursa Efek Indonesia Periode 2005 Sampai Tahun 2008
Nama Perusahaan Tahun
2005 2006 2007 2008 1. PT. Bekasi Asri Pemula Tbk 0,43 0,46 0,45 0,88
2. PT. Bumi Serpong Damai Tbk 1,19 2,03 2,16 2,34 3. PT. Bakrieland Development Tbk 25,63 26,62 12,28 11,85 4. PT. Ciputra Surya Tbk 11,36 11,69 12,59 20,57 5. PT. Duta Pertiwi Tbk 17,27 17,13 17,07 16,78 6. PT. Gowa Makassar Tourism Development Tbk 1,67 1,43 1,22 1,15 7. PT. Metro Supermarket Realty Tbk 23,74 22,73 21,07 20,90 8. PT. Pudjiadi Prestige Limited Tbk 28,93 34,46 35,24 37,01
9. PT. Ciputra Property Tbk 64,05 62,45 13,16 23,32 Rata-rata prosentase 19,36 19,89 12,80 14,98 Sumber : Lampiran 1
Tabel 4.3 diatas menjelaskan bahwa asset structure tertinggi pada tahun 2005 dan 2006 yaitu PT. Ciputra Property Tbk sebesar 64,05 di tahun 2005 dan 62,45 di tahun 2006, sedangkan asset structure terendah yaitu PT.Bekasi Asri Pemula Tbk sebesar 0,43 di tahun 2005 dan 0,46 di tahun 2006.
Pada tahun 2007 dan 2008 asset structure tertinggi yaitu PT. Pudjiadi Prestige Limited Tbk sebesar 35,24 di tahun 2007 dan 37,01 di tahun 2008, sedangkan asset structure terendah yaitu PT. Bekasi Asri Pemula Tbk sebesar 0,45 di tahun 2007 dan 0,88 di tahun 2008.
Rata-rata prosentase asset structure tertinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 19,89 dan asset structure terendah terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 12,80.
4.2.4. Profitabilitas (X3
No.
)
Profitabilitas didefinisikan sebagai kemempuan perusahaan dalam memperoleh laba. Variabel ini diukur dengan perbandingan antara laba operasi dengan aktiva. Data Profitabilitas perusahaan yang go publik di Bursa Efek Indonesia periode 2005 sampai tahun 2008 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.4: Data Profitabilitas Perusahaan Yang Go Publik di Bursa Efek Indonesia Periode 2005 Sampai Tahun 2008
Nama Perusahaan Tahun
2005 2006 2007 2008 1. PT. Bekasi Asri Pemula Tbk -0,26 2,82 8,39 7,25 2. PT. Bumi Serpong Damai Tbk 3,09 5,03 7,44 9,40 3. PT. Bakrieland Development Tbk 1,83 3,01 2,99 2,71 4. PT. Ciputra Surya Tbk 8,20 11,48 11,12 8,34 5. PT. Duta Pertiwi Tbk 2,34 2,43 3,32 2,27 6. PT. Gowa Makassar Tourism Development Tbk 2,11 3,73 3,97 4,01 7. PT. Metro Supermarket Realty Tbk 2,35 6,20 1,83 0,35 8. PT. Pudjiadi Prestige Limited Tbk 3,43 0,43 6,49 2,30 9. PT. Ciputra Property Tbk 6,11 5,53 2,92 2,74 Rata-rata prosentase 3,24 4,52 5,39 4,37 Sumber : Lampiran 1
Tabel 4.4 diatas menjelaskan bahwa profitabilitas tertinggi pada tahun 2005 yaitu PT. Ciputra Surya Tbk sebesar 8,20 untuk profitabilitas terendah yaitu PT. Bekasi Asri Pemula Tbk sebesar -0,26.
Pada tahun 2006 profitabilitas tertinggi yaitu PT. Ciputra Surya Tbk sebesar 11,48 untuk profitabilitas terendah yaitu PT. Pudjiadi Prestige Limited Tbk sebesar 0,43.
Pada tahun 2007 profitabilitas tertinggi yaitu PT. Ciputra Surya Tbk sebesar 11,12 untuk profitabilitas terendah yaitu PT. Metro Supermarket Realty Tbk sebesar 1,83.
Pada tahun 2008 profitabilitas tertinggi yaitu PT. Bumi Serpong Damai Tbk sebesar 9,40 untuk profitabilitas terendah yaitu PT. Metro Supermarket Realty Tbk sebesar 0,35.
Rata-rata prosentase profitabilitas tertinggi terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 5,39 dan profitabilitas terendah terjadi pada tahun 2005 yaitu sebesar 3,24.
4.2.5. Free Cash Flow (X4)
Free Cash Flow merupakan kelebihan yang diperlukan untuk mendanai semua proyek yang memiliki net present value positif. Data Free Cash Flow perusahaan yang go publik di Bursa Efek Indonesia periode 2005 sampai tahun 2008 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.5: Data Free Cash Flow Perusahaan Yang Go Publik di Bursa Efek Indonesia Periode 2005 Sampai Tahun 2008
No. Nama Perusahaan Tahun
2005 2006 2007 2008
1. PT. Bekasi Asri Pemula Tbk -12 113527 88449 48316 2. PT. Bumi Serpong Damai Tbk 446222 555475 512367 97230 3. PT. Bakrieland Development Tbk -1279953 -730073 -1938457 -3102019 4. PT. Ciputra Surya Tbk -585670 -915540 -861681 -752061 5. PT. Duta Pertiwi Tbk 537783 57693 206871 -349965 6. PT. Gowa Makassar Tourism
Development Tbk
53803 50484 45618 44274 7. PT. Metro Supermarket Realty
Tbk
-3455 -10605 -14709 -15693 8. PT. Pudjiadi Prestige Limited Tbk 2521 -67116 -84464 -97078 9. PT. Ciputra Property Tbk -710710 -773915 -365309 -706540 Rata-rata prosentase -171052 -191119 -267924 -537060 Sumber : Lampiran 1
Tabel 4.5 diatas menjelaskan bahwa free cash flow tertinggi pada tahun 2005 yaitu PT. Duta Pertiwi Tbk sebesar 537783 untuk free cash flow
terendah yaitu PT. Bakrieland Development Tbk sebesar -1279953.
Pada tahun 2006 free cash flow tertinggi yaitu PT. Bumi Serpong Damai Tbk sebesar 555475 untuk free cash flow terendah yaitu PT. Ciputra Surya Tbk sebesar -915540.
Pada tahun 2007 free cash flow tertinggi yaitu PT. Bumi Serpong Damai Tbk sebesar 512367 untuk free cash flow terendah yaitu PT. Bakrieland Development Tbk sebesar -1938457.
Tahun 2008 free cash flow tertinggi yaitu PT. Bumi Serpong Damai Tbk sebesar 97230 untuk free cash flow terendah yaitu PT. Bakrieland Development Tbk sebesar -3102019.
Rata-rata prosentase free cash flow tertinggi terjadi pada tahun 2005 yaitu sebesar -171052 dan free cash flow terendah terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar -537060.
4.3. Analisis dan Uji Hipotesis 4.3.1. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah suatu data mengikuti sebaran normal atau tidak. Berikut ini hasil uji normalitas :
Tabel 4.6: Hasil Uji Normalitas
No. Variabel Penelitian Kolmogorov
Smirnov Tingkat Signifikan 1. 2. 3. 4. 5.
Debt to Equity Ratio (Y)
Dividend Payout Ratio (X1)
Asset Structure (X2)
Profitabilitas (X3)
Free Cash Flow (X4
3,093 3,193 0,917 1,131 1,475 ) 0,000 0,000 0,369 0,154 0,026 Sumber: Lampiran 4
Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa tingkat signifikansi yang dihasilkan dari variabel asset structure (X2) dan profitabilitas (X3) lebih besar dari 5%, sehingga dapat dikatakan bahwa variabel tersebut berdistribusi normal. Sedangkan tingkat signifikansi yang dihasilkan dari
Debt to Equity Ratio (Y), dividend payout ratio (X1), dan Free Cash Flow
(X4
Regresi linier berganda tetap dilanjutkan, walaupun variabel Debt to Equity Ratio (Y), Dividend Payout Ratio (X
) lebih kecil dari 5%, sehingga data pada variabel tersebut berdistribusi tidak normal.
1), dan Free Cash Flow (X4) tidak berdistribusi normal, karena mempertimbangkan central limit theorem
untuk sampel yang lebih besar dari 30 (n = 36), sehingga distribusi data variabel Debt to Equity Ratio (Y), dividend payout ratio (X1), dan Free Cash Flow (X4
Variabel Bebas
) dianggap berdistribusi normal (Iskandar Itan, 2003 : 167).
4.3.2. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik digunakan untuk mendukung keakuratan hasil persamaan regresi yang dihasilkan, yang meliputi asumsi multikolinieritas, heteroskedastisitas dan autokorelasi.
1. Uji Multikolinieritas
Ada atau tidaknya gejala multikolinearitas dapat dilakukan dengan cara menghitung VIF (Variance inflation Factor), jika VIF lebih besar dari 10 maka terjadi multikolinearitas, namun jika lebih kecil dari 10 tidak terjadi multikolinearitas
Tabel 4.7 : Nilai VIF (Variance Inflation Factor) VIF
Dividend Payout Ratio (X1)
Asset Structure (X2)
Profitabilitas (X3)
Free Cash Flow (X4
1,085 1,069 1,097 1,068 ) Sumber: Lampiran 5
Hasil uji multikolinieritas di atas menunjukkan bahwa nilai VIF pada variabel Dividend Payout Ratio (X1), Asset Structure (X2),
Profitabilitas (X3) dan Free Cash Flow (X4) kurang dari angka 10 (VIF < 10), maka dapat disimpulkan bahwa persamaan regresi linier berganda yang digunakan bebas multikolinearitas.
2. Uji Heteroskedastisitas
Uji yang digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas adalah uji Glejser. Berikut ini hasil uji Glejser :
Tabel 4.8 : Hasil Pengujian Glejser
Variabel bebas t hitung Sig
Dividend Payout Ratio (X1)
Asset Structure (X2)
Profitabilitas (X3)
Free Cash Flow (X4
-0,424 -1,012 -0,773 0,657 ) 0,675 0,319 0,445 0,516 Sumber: Lampiran 6
Hasil uji glejser di atas menunjukkan bahwa tingkat signifikan pada variabel Dividend Payout Ratio (X1), Asset Structure (X2), Profitabilitas
(X3) dan Free Cash Flow (X4
Model Summaryb ,223a ,050 -,073 31,55622 2,156 Model 1 R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson Predictors: (Constant), x4, x1, x2, x3 a. Dependent Variable: y b.
) lebih besar dari 5%, maka dapat disimpulkan bahwa persamaan regresi linier berganda yang digunakan bebas heteroskedastisitas.
3. Uji Autokorelasi
Uji statistik yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi adalah uji Durbin Watson. Dibawah ini merupakan hasil uji Durbin Watson, yaitu:
Tabel 4.9 : Hasil Uji Durbin Watson
Sumber: Lampiran 5
Nilai DW (durbin watson) yang dihasilkan sebesar 2,156 berada diantara dU (1,24) dengan 4-dU (2,76) maka dapat disimpulkan bahwa
antar residual (kesalahan pengganggu) tidak terdapat korelasi atau persamaan regresi linier berganda yang digunakan bebas autokorelasi.