• Tidak ada hasil yang ditemukan

Publikasi Media Elektronik dan Media Baru

TINGKAT KEPENTINGAN PELAYANAN (Y1)

4) Publikasi Media Elektronik dan Media Baru

Publikasi media elektronik dilakukan melalui materi berbentuk audio visual. Pada tahun 2015, BPTP Jakarta melakukan kegiatan syuting Dialog interaktif Pertanian Bioindustri di Perkotaan Solusi Ketahanna Pangan dilaksanakan di batalyon Infanteri (Yonif) 01 Mekanis Jaya Yudha Pasar Rebo, Jakarta Timur. Hasil dari syuting ini ditayangkan di TVRI Jakarta. Narasumber berasal dari Badan Litbang Pertanian yang diwakilkan oleh Kepala Pustaka Ibu Gayatri K Rana; Dinas Kelautan Pertanian dan Ketahanan diwakili oleh Kepala Bidang Pertanian, ibu Diah Meidianti, Kepala BPTP Jakarta Ibu Etty Herawati.

Pada tahun-tahun sebelumnya, BPTP Jakarta juga menyusun materi audio visual yang dilaksanakan oleh Seksi KSPP BPTP Jakarta. Materi audio visual diunngah di website BPTP Jakarta dan website portal video YouTube.

Pelayanan Inovasi terhadap Kelompok Pengguna Inovasi

Masyarakat pengguna inovasi dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu (a) kelompok binaan dan (b) kelompok mandiri.

a) Pelayanan Inovasi terhadap Kelompok Binaan

Kelompok binaan adalah kelompok yang terbentuk secara formal baik secara mandiri ataupun bantuan dinas sehingga dapat menjadi peserta kegiatan BPTP Jakarta, baik kegiatan pengkajian ataupun diseminasi. Kelompok binaan umumnya berbentuk kelompok tani (Poktan) dan kelompok wanita tani (KWT).

Kelompok binaan merupakan salah satu sasaran utama diseminasi teknologi BPTP Jakarta. Diseminasi dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Diseminasi langsung dilakukan melalui pelayanan inovasi oleh BPTP Jakarta melalui program pengkajian maupun program strategis yang memang ditujukan sebagai kegiatan diseminasi.

Pelayanan inovasi melalui kegiatan pengkajian merupakan sebuah kegiatan sinergis antara akuisisi dan diseminasi pengetahuan. Pada kegiatan pengkajian, terjadi proses pertukaran pengetahuan antara tim pengkaji dan anggota kelompok tani. Pada tahapan pertama, tim pengkaji mendiseminasikan teknologi yang sedang diuji kepada kelompok tani dan penyuluh wilayah. Diseminasi dilakukan melalui praktik teknologi yang secara langsung diawasi oleh tim pengkaji. Pada tahap kedua, kelompok tani memberikan feedback dengan merespon teknologi yang sudah didiseminasikan.

61 Pelayanan inovasi terhadap kelompok tani binaan juga dilakukan melalui program strategis Balitbangtan yang diturunkan ke dalam mata anggaran BPTP Jakarta. Program strategis Balitbangtan yang turut dilaksanakan oleh BPTP Jakarta pada tahun 2014 - 2015 meliputi:

1. Model Pengembangan Sayuran Dataran Rendah di Perkotaan Berbasis Rumah Susun (MP3MI)

MP3MI merupakan salah satu strategi Badan Litbang Pertanian untuk mempercepat penyebaran inovasi teknologi. Berdasarkan potensi wilayah dan permasalahan, model yang dikembangkan adalah Model Budidaya Sayuran dan Biofarmaka di Pekarangan Ramah Lingkungan. Salah satu yang dikembangkan adalah permodelan untuk komoditas pertanian berbasis lahan sempit atau pekarangan.

2. Pengembangan Bawang Merah Menggunakan Polibag di Jakarta

Kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan Badan Litbang Pertanian khususnya pada kegiatan Pengembangan Kawasan Agribisnis Hortikultura (PKAH) di DKI Jakarta. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan keluarga dan masyarakat dalam pemanfaatan pekarangan khususnya budidaya tanaman bawang merah dengan menggunakan polibag, meningkatkan potensi lahan pekarangan/ halaman dan ruang terbuka sekitar rumah, Pengawalan dan pendampingan teknologi, serta menyebarluaskan benih sumber varietas unggul Badan Litbang Pertanian

3. Model Akselerasi Pembangunan Pertanian Ramah Lingkungan dan Lestari (MAP2RL2) di DKI Jakarta.

Model ini dilatarbelakangi ketidakmampuan rumah tangga miskin di perkotaan untuk mengakses pangan yang aman, berkualitas dalam jumlah cukup. BPTP Jakarta menyusun sebuah model pengembangan yang ramah lingkungan dan lestari dengan memanfaatkan lahan pekarangan dan lahan terbuka di DKI Jakarta. Kegiatan ini dilakukan dengan memanfaatkan limbah pertanian menjadi pupuk organik, mengembangkan budidaya tanaman toga, jamur, sayuran, dan peternakan ramah lingkungan, serta mengembangkan teknologi pasca panen tanaman toga, sayuran, dan jamur.

4. Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL)

KRPL diselenggarakan Balitbangtan dengan tujuan untuk membangun budaya menanam di lahan pekarangan. KRPL mengusung pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi serta meningkatkan kesejahteraan keluarga. Sebagai bagian dari pelaksanaan program KRPL di Provinsi Jakarta, BPTP Jakarta telah melaksanakan kegiatan percontohan dan pendampingan KRPL di lima wilayah DKI Jakarta.

Tidak semua kelompok tani untuk kegiatan program teknis yang ada di Jakarta bisa terlibat dalam kegiatan tersebut. Ada proses seleksi lagi bagi kelompok tani yang akan dilibatkan dalam kegiatan. Ketua Kelji Budidaya:

“Pemilihan kelompok tani disesuaikan dengan panduan umumnya. Misalnya sudah seperti ini. Sudah ada beberapa aspek itu yang

62

harus memenuhi syarat. Kalau pengkajian kan sesuai dengan kebutuhan terhadap kelompknya seperti apa dan wilayahnya. Tapi kalau di program strategis. Seperti di Yonif, sudah dimulai waktu komandan yang kemarin jadi kita tinggal.. jadi tidak sampai dari nol. Tapi kalau pengkajian bisa saja kita mulai dari nol.”

BPTP mengaku kesulitan menemukan kelompok tani yang sesuai dengan kriteria yang diharapkan dalam pedum. Ketua Kelji Budidaya menilai kelompok tani yang berada di wilayah Jakarta memiliki karakteristik berbeda dengan petani di wilayah lain. Kelompok tani Jakarta menjadikan bertani sebagai pekerja sampingan. Kondisi tersebut yang menyebabkan banyak kelompok tani Jakarta berbeda dengan kelompok tani di daerah. Ketua Kelji Budidaya:

“Tidak ada kelompok yang eksis banget. Banyaknya hobbist. Kalau banyak yang hobbist, akhirnya ke pengembangan sulit. Beda kan kalau di daerah yang hidupnya untuk pertanian. Kalau hobi, bertani itu bukan pekerjaan utamanya dia. Itu kan beda... mereka jadi tenang- tenang aja. Kita mau menghitung, sulit hitungnya. KRPL kan banyak terjadinya kan gitu. Banyaknya senang-senang saja. Dimanfaatkan saja belum. Ini yang jadi masalah juga. Kita jadi memilih sasaran itu susah. Akhirnya kita memilih tempat di situ lagi.”

BPTP Jakarta juga tidak bisa mengintervensi ketika kelompok tani mengalami konflik internal. Pada beberapa kali kunjungan tim BPTP Jakarta untuk memverifikasi lapangan, anggota dari kelompok tani yang dituju mengungkapkan adanya permasalahan internal yang terjadi di kelompok mereka. Salah satu kelompok tani yang sudah terkemuka, Poktan Lestari mengalami konflik kelembagaan karena sebagian besar anggotanya membentuk kelompok tani baru. Konflik tersebut menyebabkan BPTP Jakarta tidak memasukkan Poktan Lestari sebagai kandidat lokasi percontohan.

Ketika menghadapi permasalahan di calon lokasi pengkajian ataupun percontohan, tim BPTP Jakarta memilih untuk mencari opsi lain daripada memperbaiki permasalahan kelembagaan yang dihadapi kelompok- kelompok tani tersebut. Masalah kelembagaan dinilai tim BPTP sebagai ranah wewenang pemerintah daerah.

Permasalahan kelembagaan kelompok tani diakui BPTP Jakarta sebagai salah satu tantangan bagi BPTP Jakarta dalam menjalankan pelayanan inovasi yang efektif terhadap kelompok tani sebagai kelompok pemangku kepentingan utama. Ketua Kelji Budidaya menyampaikan:

“Apa yang kita hadapi bukan lagi soal teknologi. Tapi juga soal kelembagaan. Seperti KRPL dulu awalnya banyak tapi sekarang berapa kelompok sih yang masih terlibat? Harusnya ada ahli kelembagaan yang bisa membantu untuk membangun agar kelembagaan kelompok-kelompok tani ini bisa lebih baik.”

63 Pelaksanaan program strategis yang ditujukan untuk pelayanan inovasi terhadap kelompok tani binaan umumnya dilakukan melalui beberapa tahapan.

a. Sosialisasi dan FGD di tingkat BPP untuk menentukan lokasi kegiatan b. Verifikasi lapangan untuk memeriksa lokasi percontohan

c. FGD di kelompok tani untuk menggali potensi kelompok tani dan kendala yang dihadapi selama ini

d. Merumuskan teknologi dan model pendampingan berdasarkan potensi dan kendala yang ditemukan.

e. Sosialisasi terhadap target sasaran yaitu petani dan penyuluh di wilayah yang menjadi lokasi

f. Pelaksanaan kegiatan berupa pelatihan dan pendampingan teknologi dari peneliti dan penyuluh yang bekerjasama dengan dinas terkait. Dalam pelaksanaannya, program strategis yang konsepnya bersumber dari Balitbangtan tidak sepenuhnya dapat diterapkan di kegiatan pertanian perkotaan yang memiliki karakteristik berbeda dibandingkan pertanian konvensional yang menjadi acuan konsep program strategis Balitbangtan. Salah satu contoh kesulitan BPTP Jakarta adalah program pendampingan komoditas utama. Dari tujuh komoditas yang diusung oleh Balitbangtan, hanya tiga komoditas yang bisa dilakukan pendampingan untuk budidaya di Jakarta. Kepala BPTP Jakarta:

“...misalnya pendampingan kegiatan stratgis itu kan kita ada tiga komoditas. Yang bisa dilakukan di Jakarta. BPTP lain mungkin tujuh- tujuhnya. Jadi kan komoditas yang sudah ditentukan oleh kementerian itu kita cuma bisa melakukan tiga, pendampingan padi, bawang merah, dan cabai”

Kondisi tersebut juga menyebabkan BPTP Jakarta kesulitan untuk mengadopsi program strategis yang sudah memiliki konsep dari Balitbangtan untuk diterapkan di pertanian Jakarta. Pada kegiatan Bioindustri yang mengharuskan adanya sinergitas antara budidaya tanaman dan peternakan. Ketua Kelji Budidaya:

“...pertanian perkotaan itu khas. Pendekatan kita masih konvensional, jadi akhirnya gak ketemu. Misalnya gini, bioindustri. Ini kan desainnya Indonesia. Desa, satuan luasnya, integrasi ternak-tanaman. Harusnya ada disain sendiri. Pertanian perkotaan kan berbeda dengan pertanian lain. Seperti dulu kan prima tani. Ada ukuran luasan hamparan. Kalau di pertanian perkotaan kan ga bisa diukur pake hektar. Paling ada sekian pohon, 15 pohon. Jadi seharusnya ada pakar pertanian perkotaan yang bisa menghubungkan program strategis dengan program pertanian perkotaan. Misalnya bioindustri. Pemahamannya selalu ditekankan pada integrasi ternak dan tanaman. Padahal kan intinya zero waste. Susah kan di Jakarta integrasi seperti itu. Seharusnya ada modifikasi program.”

64

Realitas yang terjadi di program diseminasi BPTP Jakarta sesuai dengan hasil penelitian Sarwani et al. (2011) yang menyoroti secara kritis tentang perkembangan diseminasi hasil penelitian yang dilakukan BPTP sejak berdiri sampai 2010 yang menggunakan. pendekatan yang seragam untuk semua BPTP di Indonesia.Tapi berbeda dengan Sarwani et al. (2011) yang lebih menekankan pada strategi diseminasi, hasil penemuan pada kegiatan diseminasi BPTP Jakarta menunjukkan bahwa BPTP Jakarta harus memiliki keleluasaan dalam menentukan konsep inovasi yang ingin dikembangkan.

Seperti halnya proses pengkajian, dalam kegiatan pelayanan inovasi terhadap kelompok tani, peneliti maupun penyuluh yang terlibat dalam kegiatan pelayanan harus melakukan pendekatan terlebih dahulu terhadap petani. Peneliti dan penyuluh juga harus dapat menempatkan diri sebagai mitra petani. Penyuluh II:

“datang ke penyuluh dan memang kita ini sama dengan petani tidak bisa menggurui. Kita sama-sama... kita belajar. Sama- sama kita bekerja. Namanya petani kan .. “gue lebih tau karena lebih lama” makanya kita sama-sama di lapangan bekerja.. sama-sama belajar. Menggunakan bahasa sederhana, kalau yang tinggi-tinggi petani ga ngerti.”

Dalam setiap kegiatan program strategis, BPTP selalu melibatkan penyuluh BPP. Penyuluh BPP ini diharapkan dapat meneruskan diseminasi dan pendampingan. Keterlibatan penyuluh BPP diharapkan dapat meningkatkan koordinasi antara BPTP Jakarta dan penyuluh BPP. Penyuluh BPP diposisikan sebagai salah satu channel yang dapat membantu BPTP Jakarta dalam mendiseminasikan teknologi ke petani maupun kelompok- kelompok pemangku kepentingan lainnya.

Pendampingan terhadap petani dilakukan selama kegiatan berlangsung. Tapi sebagian besar dari tim BPTP menilai pendampingan belum cukup lama untuk dapat mengubah mindset anggota kelompok tani Jakarta yang masih belum menganggap bertani sebagai kegiatan utama. Peneliti II:

“Pendampingan kurang karena kita mind setnya masih seperti peneliti. Kalau dijawab cukup, ya mungkin cukup karena kita sudah diseminasikan dan memberikan pendampingan secukupnya. Harusnya ya kita peduli sampai sejauh mana mereka menerapkan. Selain itu, kita sudah banyak kegiatan – kegiatan lain. Buat peneliti, sebetulnya mungkin tidak perlu memikirkan sampai teknologi itu dijalankan atau tidak. Secara tugas kita sudah menghasilkan, ... kita sudah mem-push, tapi ya karena kita merasa tugas kita langsung ke penyuluh ke petani.”

Penyuluh BPP ditempatkan sebagai salah satu channel diseminasi yang dapat membantu BPTP Jakarta untuk mendiseminasikan teknologi ke petani. BPTP Jakarta memiliki keterbatasan dana dan waktu untuk menjangkau semua kelompok tani yang ada di wilayah Provinsi Jakarta. Selain itu, Penyuluh BPP dinilai yang memiliki wilayah sehingga tim BPTP

65 Jakarta harus meminta ijin dulu ke Penyuluh BPP untuk mengadakan kegiatan di wilayah tersebut. Penyuluh I:

“Penyuluh BPTP lingkupnya berbeda dengan penyuluh di dinas. Maksudnya kalau di kita kan misalnya ada teknologi, transfer teknologi dari peneliti kemudian disampaikan ke penyuluh yang ada di dinas, sudin, atau pemda, atau petani. Terkadang kita harus melibatkan... beda dengan PPL yang di dinas. Mereka memang punya wilayah kerja, mitra petani binaan. Kita juga memang dibagi, tapi kita ga bisa secara langsung membina mereka. tetap kita harus melibatkan penyuluh daerah/ dinasnya. Wilayah kerja kita ya di sini, di internal kantor, misalnya dibagi2. Tapi kalau sudah terjun ke lapangan, itu bukan pure bukan murni binaan kita. Kita harus ijin dulu ke mereka.”

Koordinasi BPTP Jakarta dan penyuluh BPP dinilai cukup baik. Hubungan yang terjadi di antara kedua pihak saling menguntungkan. BPTP Jakarta membutuhkan penyuluh BPP untuk mendiseminasikan teknologi. Sementara penyuluh BPP membutuhkan BPTP Jakarta sebagai repositori teknologi yang dibutuhkan untuk menjawab permasalahan-permasalahan di

tingkat petani. Penyuluh II menyebutkan, “Secara teknologi kita kan lebih tinggi dibanding mereka.. lebih maju dibanding mereka. Jadi kalau ada apa- apa mereka cari ke kita.”

BPTP Jakarta mengadakan kegiatan Kegiatan Koordinasi dan Sinkronisasi kegiatan BPTP Jakarta dilaksanakan dengan instansi terkait lingkup pemda DKI Jakarta seperti Dinas Pertanian dan Kehutanan, Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan, Biro Administrasi dan Perekonomian Setda DKI Jakarta, dll untuk melakukan diskusi dan mendapatkan masukan mengenai kegiatan yang dilaksanakan pada tahun berjalan maupun dalam rangka menjaring rencana program tahun mendatang sehingga program kegiatn pemerintah daerah dan pemerintah pusat dapat berjalan sinkron. Kegiatan koordinasi dan sinkronisasi ini selain dilakukan secara horizontal, juga dilakukan koordinasi dan sinkronisasi secara vertikal dengan instansi di lingkup Kementerian Pertanian.

Tapi model penempatan penyuluh BPP sebagai penghubung antara BPTP Jakarta dan kelompok tani Jakarta menemui kendala. Tim BPP menilai penyuluh BPP memiliki program kerja yang telah ditetapkan oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta. Program kerja tersebut tidak selalu selaras dengan agenda pelayanan inovasi BPTP Jakarta. Ketua Kelji Budidaya:

“Koordinasi bagus, tapi visi mereka berbeda. Kadang koordinasi kita bagus, kadang di-SK-kan. Tapi visi mereka beda. Penyuluhnya terbatas. Penugasan mereka berbeda. Apalagi sekarang. Penyuluh tugas lapangan menjalankan proyek mereka, program mereka. Apalagi di DKI dananya banyak. Mereka punya beban yang besar. Sekarang kerjaannya rabies karena programnya seperti itu. Bagaimana kita bisa mengajak mereka bersama-sama kalau mereka sendiri punya banyak program yang harus mereka jalankan.”

66

b) Pelayanan Inovasi terhadap Kelompok Mandiri

BPTP Jakarta melakukan pelayanan inovasi terhadap kelompok- kelompok masyarakat umum yang memiliki inisiatif sendiri untuk mengikuti kegiatan pelatihan pertanian perkotaan yang meliputi budidaya sayuran di lahan sempit, pasca panen, dan peternakan. Berdasarkan data yang dimiliki oleh KSPP, Beberapa kelompok masyarakat yang mengikuti pelatihan berasal dari elemen lembaga kemasyarakataan, organisasi kewanitaan, dan lembaga pendidikan formal.

Dalam pelayanan inovasi tetap terjadi proses manajemen pengetahuan yang melibatkan tahapan akuisisi, diseminasi, dan penyimpanan. Tahapan akuisisi dilakukan dengan mengidentifikasi kebutuhan kelompok mandiri. Setelah mengetahui kebutuhan kelompok mandiri, BPTP Jakarta melakukan seleksi materi pelatihan dan petugas yang melakukan pelayanan inovasi.

Pelatihan dikoordinasi oleh Seksi Kerjasama dan Pelayanan Pengkajian (KSPP). Pelatihan terdiri dari sesi:

a. Tur mengelilingi taman agro inovasi b. Pemaparan materi

c. Praktik budidaya tanaman di lahan sempit.

Pelatihan dimulai dengan sesi tur mengelilingi Taman Agro Inovasi. Taman agro inovasi merupakan visitor plot yang mendemonstrasikan teknologi- teknologi yang dimiliki oleh BPTP Jakarta. Taman Agro Inovasi terletak di halaman kantor BPTP Jakarta. Peserta pelatihan berkeliling Taman Agro Inovasi ditemani oleh staf KSPP sebagai pemandu yang menjelaskan setiap teknologi yang dimiliki oleh BPTP Jakarta.

Pembicara pada sesi pemaparan materi menyampaikan materi tentang bidang pertanian perkotaan yang diinginkan oleh peserta pelatihan, dengan pilihan: budidaya tanaman, pasca panen, dan peternakan. Berdasarkan pengamatan serta penuturan Kepala BPTP Jakarta dan Ketua KSPP, bidang budidaya tanaman menjadi pilihan favorit bagi peserta pelatihan dengan adanya permintaan khusus untuk pelatihan teknologi hidroponik dan vertikultur.

Pihak BPTP Jakarta yang sering menjadi pembicara adalah Kepala BPTP Jakarta dan Ketua Kelji Budidaya. Kepala BPTP Jakarta membuka sesi penyampaian materi dan menyampaikan materi tentang profil BPTP Jakarta. Ketua Kelji Budidaya meyampaikan materi tentang budidaya tanaman di lahan sempit. Pada beberapa pengamatan, Ketua Kelji Budidaya memberikan materi yang sedikit berbeda antara satu pertemuan dengan pertemuan lainnya.

Selain Kepala BPTP Jakarta dan Ketua Kelji Budidaya, peneliti dan penyuluh juga dipersiapkan untuk menyampaikan materi untuk menggantikan posisi Kepala BPTP Jakarta dan Ketua Kelji Budidaya. Pada pengamatan, salah satu staf peneliti menggantikan ketua Kelji Budidaya dalam menyampaikan materi Budidaya Sayuran di Lahan Sempit. Ketua Kelji Budidaya menyebutkan bahwa penunjukan staf peneliti ataupun penyuluh sebagai bagian dari regenerasi.

Sesi praktik budidaya sayuran di lahan sempit diisi oleh peneliti, penyuluh, atau teknisi BPTP Jakarta sebagai praktisi yang mempraktikkan

67 cara untuk menggunakan media tanam non tanah dalam budidaya sayuran. Pada sesi ini, komunikasi berlangsung dua arah. Praktisi mempraktikkan teknik budidaya dan peserta memberikan feedback berupa pertanyaan. Peserta kurang dilibatkan dalam proses praktik.

Kegiatan pelayanan inovasi terhadap kelompok mandiri ini tidak masuk ke dalam anggaran belanja kegiatan BPTP Jakarta. Komponen- komponen biaya kegiatan, seperti konsumsi dan transportasi ditanggung oleh kelompok mandiri. Sementara biaya narasumber dan tempat pelatihan dibebasbiayakan. Menurut Kepala BPTP Jakarta, kebijakan untuk membebaskan biaya narasumber dan tempat pelatihan karena pelayanan inovasi terhadap kelompok mandiri merupakan bagian dari pelayanan BPTP Jakarta terhadap masyarakat umum.

Kesinambungan kegiatan pelayanan inovasi terhadap kelompok mandiri akhirnya tergantung pada inisiatif setiap anggota kelompok mandiri. Bila pendampingan sudah menjadi bagian dari pelayanan inovasi terhadap kelompok binaan, maka pendampingan terhadap kelompok mandiri dapat dilakukan BPTP Jakarta jika ada permintaan dari anggota kelompok mandiri. Perbandingan Kegiatan Pelayanan Inovasi terhadap Kelompok Binaan dan Kelompok Mandiri

Merujuk pada Tabel 11, proses manajemen pengetahuan dalam pelayanan inovasi terhadap kedua kelompok ini diawali oleh dua tahapan yang sama, yaitu akuisisi dan diseminasi. Akuisisi berlangsung dengan identifikasi permasalahan dan kebutuhan kelompok terhadap teknologi yang dibutuhkan. Setelah itu, BPTP menyeleksi materi diseminasi dan melaksanakan kegiatan pelatihan terhadap para anggota kelompok. Perbedaan terjadi pada tahapan lanjutannya. Kelompok binaan mendapat pendampingan dari BPTP Jakarta dalam menggunakan inovasi. Pendampingan dilakukan sebagai upaya untuk memastikan inovasi diadopsi secara baik oleh kelompok binaan. Sementara kelompok mandiri tidak mendapatkan pendampingan.

Perbedaan juga terjadi pada pendekatan komunikasi yang digunakan dalam mendiseminasikan teknologi. Terhadap kelompok binaan, pendekatan komunikasi yang digunakan adalah partisipatif. Tim pelayanan inovasi BPTP Jakarta menempatkan anggota kelompok binaan sebagai subjek yang difasilitasi untuk dapat memberdayakan diri mereka sendiri. Sementara terhadap kelompok mandiri, pendekatan yang dilakukan adalah paternalistik, yaitu tim pelayanan inovasi BPTP Jakarta berposisi sebagai pihak yang mengajarkan sesuatu kepada anggota kelompok mandiri. Pendekatan paternalisitik dilakukan karena anggota- anggota kelompok mandiri pada umumnya baru mengenal teknik budidaya sehingga materi yang diajarkan merupakan sesuatu yang baru bagi mereka.

68

Tabel 11 Perbandingan kegiatan pelayanan inovasi terhadap kelompok binaan dan kelompok mandiri

Elemen Kegiatan Kelompok Binaan Kelompok Mandiri

Insiator BPTP Jakarta Kelompok mandiri

Pembiayaan BPTP Jakarta Kelompok mandiri Proses Identifikasi kebutuhan, Diseminasi,

Pendampingan, Evaluasi

Identifikasi kebutuhan, Diseminasi, Evaluasi Penanggung jawab Penanggung jawab kegiatan

pengkajian atau program strategis

Seksi KSPP Komunikator Tim Pengkaji, Tim Program

Strategis

Kepala BPTP, Kepala KSPP, Penyuluh, Peneliti

Pendekatan partisipatif paternalistik

Resume Manajemen Pengetahuan di BPTP Jakarta

Kegiatan manajemen pengetahuan yang terjadi di BPTP Jakarta merupakan implementasi dari peranan BPTP Jakarta sebagai delivery system

dalam konsep Spektrum Diseminasi Multi Channel (SDMC) yang dikembangkan oleh Badan Litbang. Sebagai bagian dari delivery sub system,

setiap BPTP diharapkan melaksanakan pengkajian, repositori, dan pelayanan inovasi. Kegiatan manajemen pengetahuan BPTP Pengetahuan dalam konteks SDMC dideskripsikan dalam Gambar 4.

Gambar 4 Bagan alur kegiatan manajemen pengetahuan BPTP Jakarta dalam konteks Spektrum Diseminasi Multi Channel (SDMC) Balitbangtan

69 Kegiatan pengkajian merupakan tahapan penciptaan teknologi baru yang dilakukan melalui serangkaian tahapan, yaitu a) identifikasi permasalahan dan kebutuhan teknologi, b) penelitian, c) pengkajian di lapangan, d) pendokumentasian hasil pengkajian. Kegiatan pengkajian didominasi oleh kegiatan akuisisi. Pada kegiatan pengkajian di lapangan, terjadi proses sinergis antara akuisisi dan diseminasi pengetahuan. Dalam konteks SDMC, pengkajian yang dilakukan oleh BPTP Jakarta seharusnya mengakuisisi penelitian- penelitian yang dihasilkan oleh generating agent

lingkup Balitbangtan, seperti pusat, balai, dan loka penelitian. Tapi tim pengkaji BPTP Jakarta lebih banyak mengakuisisi penelitian dari online storing agent, melalui mesin pencari google atau langsung mengakses repositori online seperti sciencedirect karena alasan kemudahan akses. Penggunaan internet dalam akuisisi hasil penelitian menghilangkan kompleksitas akuisisi pengetahuan melalui tatap muka. Balitbangtan

Dokumen terkait