Cari Jodoh
11. Pulang Dong, Im
Boim tidak pulang. Han-H an merasa khaw atir. Jangan-jangan Boim masih
enjoy dengan kebiasaannya chatting sampai tengah malam itu. Atau... jangan-
jangan dia marah besar?
"Tadi gimana? Boim marah?" tanya H an-Han ketika D'je dan Bagus pulang
ke pondokan sore tadi.
"Nggak marah, H an. Cuma mukanya aja kayak kepiting rebus;' jaw ab D'je
sant ai. "Kalau Boimnya direbus sekalian kayaknya enak juga ya...," lanjutnya
tertaw a sambil mencomot kacang goreng di hadapan H an-H an.
"Kasihan juga sih...," kata Bagus lirih. "Dia sampai nggak bisa ngomong
begitu. Kamu sih parch, Je. Ngeledekin nggak tanggung-tanggung!"
"Ah, Boim sih nggak usah dikasihanin. M akin dikasihanin, makin manja
dia. Kalau dia manja, siapa yang ngelonin, cobs?"
"Tau dia ke mana sekarang?" tanya Han-Han tidak memedulikan ucapan
D'je yang ngaw ur.
"Tau tuh anak. Langsung minggat aja. Untung dia belum makan. Kalau
nggak, kita yang kena! M akanan mahal begitu!"
"M ungkin ke rumah temannya,"jaw ab Bagus sambil masuk kamar.
"Dia nggak bilang apa-apa, Gus?"
Bagus keluar lagi. M embaw a buku di tangan sambil menggelesor di depan
Bagus balas menepuk tangan D'je sebal.
"Nggak bilang ke mana gitu?" ulang Han-Han yang merasa kedua orang
ini tidak sensitif dengan perasaannya yang bersalah.
"Nggak," sahut Bagus singkat.
Han-H an makin cemas.
Jangan-jangan benar, Boim marah. Selama ini H an-H an belum pernah
melihat Boim marah. Pernah juga sebenarnya. Tapi lebih banyak marah pada
D'je yang ledekan-ledekannya seringkali terlalu kejam. Dan H an-Han t ahu, dalam
w aktu yang sebentar, mereka akan baikan lagi. Akan berkomplot lagi untuk
menjadikan Bagus sebagai objek ledekan.
Tapi kepadanya? Boim memang belum pernah marah. Tapi jangan-jangan
Boim menyimpan kemarahannya. Dan sebagai pelampiasannya... ia tidak man
pulang!
M emikirkan itu, Han-Han jadi merasa bersalah.
Seharusnya ia memang tidak berbuat seperti itu. Pasti Boim merasa
dilecehkan. Bayangkan saja, ia mungkin sudah melakukan segala persiapan
dengan sejuta harapan yang membumbung tinggi. Dan yang dia temui hanya
seorang berbaju merah yang bernama D'je!
M eskipun itu skenarionya D'je, tapi Han-H an merasa ia juga punya andil
yang besar.
"Kenapa Han, kok ngelamun?"
"Ah, nggak," sahut Han-H an agak gelagapan. "Baru pulang, Lih? Gimana
Senat?"
"Baik," sahut Galih makin heran. Pertanyaan H an-H an kok begitu formal?
"Yang lain ke mana?"
"Itu ada di dalam. D'je sama Bagus lagi di kamar."
"Boim?"
"Ngg... belum pulang."
"Oo...." Galih langsung masuk. M ukanya terlihat lelah. Dia tidak begitu
memperhatikan w ajah Han-H an yang berbeda dari biasanya.
mUda
"Kita harus cari Boim."
Ini hari kedua Boim tidak pulang. Han-H an makin cemas saja. Tidak jadi
soal sebenarnya kalau tidak ada kejadian kemarin. H an-Han tahu, Boim memang
biasa tidak pulang ke kosan. Asalkan makanan cukup, tidak perlu khaw atir
dengan Boim. Ia bisa tidur di mana saja.
"Carinya ke mana?" tanya Bagus.
"Coba tanya ke teman-temannya. M ungkin dia di kosan Dicky."
Bagus yang mendatangi kosan Dicky memberi kabar nihil. "Sudah dua hari
ini Boim nggak main ke sana," kata Bagus.
"M ungkin dia pulang," sahut D'je.
D'je langsung diam.
Anak-anak Pondok Jojo memang mulai merasakan aura yang berbeda.
Entah apa. Aneh saja ketika menyadari Boim tidak pulang setelah kejadian
kemarin.
Kalau benar Boim marah, berarti ini kemarahan terbesarnya. Han-Han belum
bisa membayangkan bagaimana Boim bisa semarah ini. Dan menyadari hal itu,
rasa bersalah makin menders Han-Han.
"Udah, H an. Nggak usah terlalu dipikirin. Paling dia main ke temannya,"
kata Galih.
"Aku khaw atir dia marah sama aku, Lih."
"Nggaklah. Boim kan kamu tahu sendiri. Kalau pun marah, dia pasti
marah saat itu juga," ucap Galih.
Ya. Tapi tidak padanya.
"Kamu sih, Je, becandanya keterlaluan. Kemarin bukannya langsung minta
maaf w aktu dia keluar, tapi malah makin diledekin," Bagus turut bersuara.
"Lho kok aku? Kamu juga! Kamu juga senang kan bisa balas ngeledek
Boim!"
"Iya. Tapi aku nggak sekejam kamu!"
"Ah, sama saja!"
Han-H an makin didera perasaan bersalah dengan keributan kecil itu. Ia
tahu, semua itu dipicu rasa bersalah mereka juga. Tapi, rasanya Han-Han yang
Han-H an makin khaw atir. Sejumlah bayangan yang menakutkan
memenuhi kepalanya.
Ia jadi tidak bisa tidur malam. Lebih banyak w aktu meleknya daripada
tidur. Kadang-kadang suara kecil pun bisa membuat Han-Han begitu sensitif,
sebentar-sebent ar merasa mendengar suara Boim pulang. Dampaknya Bagus
makin berat t anggung jaw abnya. Harus berupaya ekstra keras untuk bisa
membuat Han-H an terbangun keesokan harinya.
"Coba aku cek ke kampus," kata Galih mencoba menaw arkan solusi.
Tapi teman-teman Boim pun tidak ads yang tahu is ke mana.
"Udah tiga hari ini nggak masuk," kata cow ok teman satu jurusan Boim.
"Biasanya juga dia suka nggak masuk," celetuk temannya.
Galih tahu, kabar ini akan membuat Han-Han makin pusing. Galih juga
sebenarnya ikut khaw atir.
mUda
Ini hari ketiga Boim belum pulang. Kecemasan semakin terasa di
pondokan Jojo.
Berbagai usaha sudah dilakukan. Dari mencari ke kosan teman-t emannya, ke unit
kegiatan seninya, sampai ke w arung kopi tempat biasa Boim nongkrong. Dan
informasi yang didapatkan selalu tidak mengenakkan.
"Udah beberapa hari ini dia nggak kelihatan nongkrong di sana," kata
Bagus.
"Ke mana ya anak itu?" Galih ikut heran. M encari Boim sekarang lebih
sulit dari mencari kutu di rambut kepala.
Han-H an tidak menjaw ab. Setiap pernyataan dan pert anyaan itu seperti
makin memojokkannya.
M au tenang bagaimana, setiap mau makan, ia teringat Boim. Suara Boim
yang mengiangngiang seperti menyalahkannya membuatnya kehilangan nafsu
makan. M au tidur juga. Ada w ajah Boim di at as langit-langit kamarnya. Lengkap
dengan seringai jeleknya. H anya pads saat bangun tidur saja Han-H an tidak
langsung teringat Boim, karena butuh beberapa menit untuk membuatnya benar-
benart erjaga.
Bukan hanya itu. Han-H an pun jadi ingat segala tingkah laku Boim.
Bagaimana pola makannya yang tidak manusiaw i karena melupakan hak teman-
temannya yang lain. Bagaimana dengkurannya yang membuat tidak tenang seisi
Pondokan Jojo.
Tapi dengan segala kebiasaan jeleknya itu, ads yang seperti hilang dari
Pondokan Jojo. Dan itu membuat Han-Han betul-betul merasa kehilangan.
Selain rasa bersalah.
mUda
"Aku pulang!"
Suara mirip geledek itu hampir membuat jant ung Han-H an copot. Sosok
"Lho, ke mana yang lain?"
"Sudah pads tidur," kata Han-H an.
Boim langsung menggelosor di ruang tengah. Wajahnya terlihat lelah.
Han-H an memperhatikannya dengan seksama. M encari-cari adakah sisa
kemarahan tersimpan di w ajah gembul itu.
"Ke mana saja, Im?" tanya Han-Han hati-hati.
Tubuh yang terkapar itu bergerak sebentar. Jaw aban yang keluar hanya
berupa gumaman. Lalu ia tidak bergerak lagi.
"Hmmf..."
Han-H an kebingungan mencari kosa kata. H arus dari mana mulainya?
"Saya ... saya minta maaf, Im...."
"Hmmf..."
Han-H an makin gagap. Tak biasa dia dalam kondisi merasa tersudut
seperti ini.
"Kamu pasti masih marah sama saya. Tapi...." Tubuh bongsor itu bergerak.
M atanya mengerjap-ngerjap.
"Kamu ngomong apa sih, H an?" suaranya timbul tenggelam persis seperti
orang yang terlelap.
"Kamu masih marah kan sama aku?"
Wajah Boim seperti tersadar akan sesuatu. Ia menatap H an-Han dengan
mata membulat. Seperti minta penjelasan yang lebih lengkap.
"Saya minta maaf, Im...."
"Ah, sudahlah. Itu kan sudah tiga hari yang lew at. Orang marah kan
katanya tidak boleh lew at tiga hari. Iya kan?"
Han-han mengangguk seperti orang linglung. Wah, ternyata Boim bisa
bijak juga. Ia jadi inget bagaimana Boim yang kecew a ketika cew ek incarannya
akhirnya kabur karena ulah temantemannya. Sekarang lagi-lagi dia dikerjain
temantemannya juga berhubungan dengan masalah cew ek. Apa benar Boim
tidak marah beneran? Atau jangan-jangan diam-diam dia kopi darat dengan
cew eknya?
"Terima, kenapa menghilang?" Han-Han merasa t ak yakin dengan
pernyataan Boim.
"O itu. Saya dibajak anak-anak Ekonomi. Disuruh bantu-bantu mereka
ngisi pelatihan tester di Kiara Payung. Nggak dikasih w aktu pulang dulu. Ini baju
tiga hari nggak ganti-ganti. Bau kan?" katanya nyengir.
Han-H an menatap Boim tidak berkedip. Dari ceritanya, seharusnya H an-
Han percaya. Tapi rasanya tidak mungkin menghapuskan rasa bersalahnya dalam
sekejap hanya gars-gars cerita itu saja.
"Kamu nggak bohong, kan?"
"Bohong? N ih, bauin aja sendiri!" kata Boim sambil menyorongkan
bajunya. Han-H an menutup jalur pernapasannya dengan tidak menghirup udara.
Tapi tak urung ban menyengat itu menelusup masuk ke rongga mulutnya. Ia
"Jadi kamu nggak marah?" tanya H an-H an. Antara rasa senang dan
surprise.
Boim beranjak duduk berhadapan dengan H an-Han. "Sebenarnya marah
juga," katanya. "Dua kali saya dikerjain sama kalian. Kejam! Betul-betul kejam!"
teriaknya seperti ingin membangunkan seisi rumah. Lalu mukanya berubah serius.
"Tapi setelah saya pikir-pikir, apa yang kamu lakuin itu ternyata ads baiknya bust
saya. M inimal saya bisa lebih ngirit. Benar nggak, Han?"
Antara legs dan penasaran, Han-H an mendengarkan penuturan Boim.
"Lagipula...," lanjut Boim dengan seringai khasnya, "siapa lagi yang man
pinjamin duit kalau aku marah sama kamu."
Han-H an tersenyum kecut. Selalu saja tidak enak di akhirnya. Tapi tidak
mengapa. Yang penting rasa gelisahnya selama tiga hari ini terbayar tuntas. Dan
sekarang ia bisa tidur dengan nyenyak lagi.
Han-H an benar-benar legs sekarang. W ah, biar Boim jelek gini, cew ek
yang mendapatkan Boim nantinya pasti akan jadi cew ek paling beruntung. Desy-
kah? Teman on-fine-nyakah? Atau ada cew ek lain? Rasanya boim memang belum
memikirkan itu.
Han-H an mematikan lampu tengah. Boim sudah mendengkur di kamarnya. Tiga
hari yang melelahkan. Entah ada cerita apa lagi esok hari.