• Tidak ada hasil yang ditemukan

EMISI BASELINE UNTUK SEKTOR BERBASISI ENERGI DENGAN

5.1 Hasil Perhitungan Emisi Baseline

5.1.4 Pulau Sulawesi dan Papua

Wilayah di pulau Sulawesi yang menghasilkan emisi gas rumah kaca terbesar adalah propinsi Sulawesi Selatan di mana kota Makasar berada. Makasar adalah salah satu kota terbesar dengan pembangunan ekonomi dan infrastruktur terbaik di Indonesia. Pada tahun 2010, propinsi Sulawesi Selatan menghasilkan emisi sebesar 3,5 juta ton setara CO2 (Gambar 12). Emisi yang dihasilkan propinsi-propinsi lain di pulau Sulawesi seperti Sulawesi Barat, Sulawesi, Tenggara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo terpaut sangat jauh dibandingkan dengan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh propinsi Sulawesi Selatan. Hal ini juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang siginifi kan dalam pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur antar wilayah di Sulawesi. Sedangkan di pulau Papua, hanya propinsi Papua yang melakukan pembuatan proyeksi BAU Baseline, sehingga perhitungan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan tidak meliputi propinsi Papua Barat. 0 2,000,000 4,000,000 6,000,000 8,000,000 10,000,000 12,000,000 14,000,000 16,000,000 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 North Sulawesi Central Sulawesi Southeast Sulawesi South Sulawesi West Sulawesi Gorontalo Papua

Ton CO

2

-equivalent

Gambar 12: Proyeksi emisi gas rumah kaca di tiap propinsi di Pulau Sulawesi dan Papua

Berdasarkan hasil pemodelan dengan menggunakan LEAP, terlihat bahwa pada tahun 2020, produksi emisi gas rumah kaca di propinsi Sulawesi Selatan naik lebih dari empat kali lipat menjadi sebanyak 15 juta ton setara CO2. Kenaikan produksi emisi gas rumah kaca yang signifi kan juga diikuti oleh propinsi Sulawesi Tenggara di tahun 2020 menjadi

sebanyak 4,9 juta ton setara CO2. Keadaan di Pulau Papua juga hampir sama, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur di tahun 2020 diproyeksikan akan membuat produksi emisi gas rumah kaca di propinsi Papua naik drastis hampir 8 kali lipat menjadi sebanyak 6 juta ton setara CO2. Secara total proyeksi terhadap produksi emisi gas rumah kaca meningkat sebesar 4 kali lipat dari tahun dasar 2010 dengan kontributor terbanyak berasal dari emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh propinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Papua.

5.1.5 Kepulauan

Wilayah kepulauan di Indonesia terdiri dari beberapa propinsi, yakni Kepulauan Riau, Bangka Belitung, NTB, NTT, Maluku dan Maluku Utara. Diantara 6 propinsi tersebut, NTT adalah penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di tahun 2010 sebanyak 8,3 juta ton setara CO2 (Gambar 13). Lalu diikuti oleh propinsi Bangka Belitung sebanyak 3,5 juta ton setara CO2. Di akhir tahun proyeksi, 2020, produksi emisi gas rumah kaca di propinsi NTT naik hampir dua kali lipat menjadi sebanyak 15,6 juta ton setara CO2. Sedangkan di propinsi Bangka Belitung kenaikan produksi emisi gas rumah kaca sangat signifi kan menjadi lebih dari tiga kali lipat dari produksi di tahun 2010, yakni sebanyak 11,8 juta ton setara CO2. Propinsi lain seperti Kepulauan Riau, NTB, Maluku dan Maluku Utara kenaikan produksi gas rumah kaca naik sebesar dua kali lipat di tahun 2020. Secara keseluruhan, proyeksi jumlah total emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh seluruh propinsi di Kepulauan naik sebesar dua kali lipat, dengan kontribusi terbesar adalah dari propinsi Bangka Belitung dan NTT.

0 2,000,000 4,000,000 6,000,000 8,000,000 10,000,000 12,000,000 14,000,000 16,000,000 18,000,000 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 Riau Islands Bangka Belitung NTB NTT Maluku Maluku Utara

Ton CO

2

-equivalent

Gambar 13: Proyeksi emisi gas rumah kaca di tiap propinsi di Kepulauan

5.2 Hasil Perhitungan Emisi Baseline

Sektor Transportasi

Emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi di Indonesia menjadi kontributor kedua setelah dari sektor energi non-transportasi. Hal ini terlihat dari Tabel 7 hingga 12. Sebagaimana sektor energi, ulasan emisi baseline sektor transportasi juga dilakukan untuk setiap pulau.

5.2.1 Pulau Sumatra

Pada tahun dasar 2010, di Pulau Sumatra, propinsi Sumatra Utara masih menjadi penghasil emisi gas rumah kaca tertinggi dengan kontribusi sebanyak 8,4 juta ton setara CO2. Sementara itu, propinsi Bengkulu menjadi kontributor emisi gas rumah kaca terbesar kedua dari transportasi setelah propinsi Sumatra Utara, yakni sebesar 3 juta ton setara CO2. Pada akhir tahun proyeksi 2020, propinsi Sumatra Utara masih mendominasi produksi emisi gas rumah kaca sebanyak 22 juta juta ton setara CO2. Kemudian diikuti oleh propinsi Lampung sebanyak 12,9 juta ton setara CO2

Tabel 7: Proyeksi emisi gas rumah kaca di Pulau Sumatera (ton setara CO2) Propinsi 2010 2012 2014 2016 2018 2020 Aceh 2,375,100 4,204,600 4,948,900 5,627,200 7,899,400 9,775,000 Sumatera Utara 8,383,000 8,693,000 9,776,000 13,816,000 15,856,000 22,098,000 Sumatera Barat 347,000 526,000 2,422,900 3,080,200 4,738,400 6,322,200 Riau 0 340,105 680,210 1,020,315 1,360,420 1,700,525 Sumatera Selatan 155,415 169,800 185,612 202,919 221,866 242,662 Bengkulu 3,043,522 3,383,192 3,957,728 4,941,948 6,643,079 9,601,498 Lampung 597,798 2,115,166 4,492,872 7,315,472 9,519,932 12,946,776 Jambi - - - - - -Total Propinsi 14,901,835 19,431,863 26,464,222 36,004,054 46,239,097 62,686,661

5.2.2 Pulau Jawa dan Bali

Di Pulau Jawa dan Bali, proyeksi emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi tidak tersedia secara lengkap untuk propinsi DKI Jakarta dan Bali. Pada tahun dasar, propinsi Jawa Barat dan Jawa Timur merupakan kontributor emisi gas rumah kaca terbesar dengan 10,6 juta dan 11,9 juta ton setara CO2 (Tabel 8). Namun, potensi produsen emisi gas rumah kaca terbanyak berdasarkan hasil proyeksi dari LEAP pada tahun 2020 adalah propinsi Jawa Tengah, yakni sebesar 30,4 juta ton setara CO2. Hal ini dimungkinkan karena propinsi Jawa Tengah menjadi titik hubung antara DKI Jakarta dan Surabaya, dua kota terdepan dalam aktivitas perekonomian di Indonesia.

Tabel 8: Proyeksi emisi gas rumah kaca di Pulau Jawa dan Bali (ton setara CO2) 2010 2012 2014 2016 2018 2020 Banten 3,876,200 4,292,200 4,698,200 5,113,800 5,550,200 6,002,500 Jawa Barat 11,887,442 13,559,985 15,232,528 17,243,097 19,591,692 21,940,286 Jawa Timur 10,627,383 11,546,809 12,428,283 13,426,207 14,379,066 15,341,371 Jawa Tengah 9,910,000 12,380,000 15,490,000 19,390,000 24,270,000 30,400,000 Yogyakarta 231,860 270,960 317,220 371,380 434,780 509,010 Bali 2,193,512 2,467,050 2,796,660 3,171,175 3,596,808 4,080,643 DKI Jakarta - - - - - -Total Propinsi 38,726,397 44,517,004 50,962,891 58,715,659 67,822,546 78,273,810

5.2.3 Pulau Kalimantan

Emisi gas rumah kaca di Pulau Kalimantan tetap di dominasi oleh propinsi Kalimantan Timur. Di tahun 2010, propinsi Kalimantan Timur menghasilkan sekitar 5 juta ton setara CO2 dan meningkat menjadi 17,6 juta ton setara CO2 di tahun 2020 dari sektor transportasi (lihat Tabel 9). Kemudian diposisi kedua adalah propinsi Kalimantan Barat pada tahun 2010 menghasilkan 2,2 juta ton setara CO2, di akhir tahun proyeksi menghasilkan 3,8 juta ton setara CO2. Perhitungan proyeksi emisi gas rumah kaca di pulau Kalimantan tidak termasuk propinsi Kalimantan Selatan.

Tabel 9: Proyeksi emisi gas rumah kaca di Pulau Kalimantan (ton setara CO2) 2010 2012 2014 2016 2018 2020 Kalimantan Barat 2,150,000 2,450,000 2,750,000 3,050,000 3,450,000 3,800,000 Kalimantan Timur 5,040,000 6,410,000 8,200,000 10,540,000 13,600,000 17,610,000 Kalimantan Tengah 871,380 1,001,670 1,175,690 1,413,190 1,745,460 2,223,600 Kalimantan Selatan - - - - - -Total Propinsi 8,061,380 9,861,670 12,125,690 15,003,190 18,795,460 23,633,600

5.2.4 Pulau Sulawesi dan Papua

Di Pulau Sulawesi, propinsi Sulawesi Selatan masih menjadi daerah yang memberikan kontribusi terbesar dalam emisi gas rumah kaca di tahun 2010 sebanyak 2,9 juta ton setara CO2, kemudian diikuti oleh propinsi Sulawesi Tenggara (Tabel 10). Sedangkan propinsi lain seperti Sulawesi Utara, Sulawesi Barat dan Gorontalo memberikan kontribusi yang kurang signifi kan dalam emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi. Pada akhir tahun proyeksi 2020, propinsi Sulawesi Selatan memberikan kontribusi terbesar sebanyak 5,9 juta ton setara CO2. Sedangkan propinsi Sulawesi Tenggara menghasilkan emisi gas rumah kaca sebanyak 3,2 juta ton setara CO2. Di wilayah Pulau Papua, proyeksi emisi gas rumah kaca di sektor transportasi hanya dilakukan di propinsi Papua Barat. Pada tahun dasar, propinsi Papua terhitung sebanyak 419 ribu ton setara CO2. Di akhir tahun proyeksi 2020, emisi yang dihasilkan naik secara signifi kan sebanyak 7 kali, yakni sebesar 3 juta ton setara CO2. Pertumbuhan emisi gas rumah

kaca di sektor transportasi diperkirakan akibat pembangunan sarana infrastruktur jalan raya dan pertumbuhan ekonomi di propinsi Papua.

Tabel 10: Proyeksi emisi gas rumah kaca di Pulau Sulawesi dan Papua (ton setara CO2)

2010 2012 2014 2016 2018 2020 Sulawesi Utara 500,800 557,100 624,200 704,200 800,000 915,000 Sulawesi Tengah 131,220 162,000 200,000 270,000 395,000 595,000 Sulawesi Tenggara 854,000 1,048,100 1,384,000 1,833,500 2,436,500 3,247,700 Sulawesi Selatan 2,925,000 3,650,000 4,200,000 4,800,000 5,350,000 5,912,000 Sulawsi Barat 223,300 261,300 305,700 357,700 418,500 489,600 Gorontalo 85,000 105,000 150,000 205,000 285,000 370,000 Papua 419,000 610,800 898,700 1,333,800 1,995,100 3,005,200 Total Propinsi 5,138,320 6,394,300 7.762,600 9,504,200 11,680,100 14,534,500

5.2.5 Kepulauan

Di daerah kepulauan, pada tahun dasar 2010, propinsi Maluku merupakan penghasil emisi gas rumah kaca terbesar sebanyak 825 ribu ton setara CO2. Sedangkan propinsi NTT, produksi gas rumah kaca dari sektor transportasi sangat kecil dibandingkan dengan propinsi lainnya, sebesar 5 ribu ton setara CO2 (lihat Tabel 11). Pada akhir tahun proyeksi 2020, propinsi Bangka Belitung menjadi penghasil emisi gas rumah kaca terbesar, sebanyak 2,5 juta ton setara CO2. Sedangkan propinsi NTT meski emisi gas rumah kaca tersebut tumbuh dua kali lipat, sebanyak 11 ribu ton setara CO2, namun nilai tersebut masih terbilang kecil dibandingkan emisi dari propinsi lainnya.

Tabel 11: Proyeksi emisi gas rumah kaca di Kepulauan (ton setara CO2)

2010 2012 2014 2016 2018 2020 Riau Islands 359,000 444,000 551,000 686,000 852,000 1,063,000 Bangka Belitung 798,798 995,070 1,244,144 1,560,253 1,961,526 2,471,065 NTB 775,000 862,000 958,000 1,064,000 1,183,000 1,314,000 NTT 5,299 6,081 6,998 8,077 9,352 10,861 Maluku 825,573 940,786 1,072,079 1,221,694 1,392,189 1,586,478 Maluku Utara 744,900 891,900 1,070,200 1,286,500 1,549,500 1,869,300 Total Propinsi 3,508,570 4,139,837 4,902,421 5,826,525 6,947,567 8,314,704

5.3 Keterbatasan dan tindak lanjut

Dokumen terkait