BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Trauma toraks
2.2.11 Pulmonary Contusion
Pulmonary contusionadalah memar atau peradangan pada paru yang dapat terjadi akibat kecelakaan atau tertimpa benda berat, dapat terjadi tanpa fraktur iga atau flail chest. Pulmonary contusion dapat terjadi pada anak-anak yang belum sempurna proses ossifikasi tulang-tulangnya. Pada dewasa paling sering dijumpai dengan fraktur iga, dan sering disebabkan trauma toraks. Suara pernapasan dapat dijumpai melemah. Penatalaksanaan pasien dengan melakukan intubasi dan ventilasi hingga pulmonary contusion melewati proses penyembuhan.17
Gambar 2.2.11 Pulmonary contusion25 2.2.12 Tracheobronchial Tree Injury
Tracheobroncial tree injury adalah trauma yang disebabkan benturan keras, mengakibatkan toraks melebar kearah lateral dan bronkus ikut tertarik kearah tersebut. Pada trauma tumpul yang mengenai karina sebesar satu inci (2,54 cm) dapat menyebabkan pasien meninggal. Pasien yang dibawa ke rumah sakit juga memiliki angka kematian yang tinggi jika terlambat di diagnosa pada trauma trakeobronkial. Pada trauma trakeobronkial juga dapat ditemukan hemoptysis, emfisema subkutan, atau tension pneumotoraks. Diagnosa dapat dikonfirmasi menggunakan bronkoskopi. Penatalaksanaan dilakukan dengan melakukan intubasi dan merekonstruksi trakea yang mengalami deviasi.17
Gambar 2.2.12 Tracheobronchial tree injury26 2.2.13 Aortic Rupture
Aortic rupture adalah robeknya pembuluh darah aorta disebabkan kecelakaan atau terjatuh dari ketinggian. Aortic rupture merupakan trauma yang menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah banyak, menjadikan aortic rupture sebagai 90% penyebab kematian dan hanya 50% yang bisa bertahan hidup hingga 24 jam kedepan. Darah dapat masuk ke mediastinum dan menjadi hematoma, namun tidak semua pasien memiliki gejala tersebut. Ketika aorta mengalami robekan, dapat dijumpai tanda-tanda ruptur aorta seperti mengalami pelebaran pada daerah aorta, fraktur tulang iga pertama dan kedua, trakea deviasi, bronkus mengecil, dan deviasi saluran nasogastric. Diagnosa aortic rupture dapat menggunakan helical contrast-echanced computed tomoghraphy pada pasien yang dicurigai ruptur aorta karena trauma tumpul.17 Pasien dengan fraktur tulang iga pertama bagian belakang juga harus di monitor ketat karena berpotensi menjadi ruptur aorta.27 Penanganan asien bersifat operatif dan dilakukan oleh ahli bedah yang berpengalaman.17
Gambar 2.2.13 Aortic rupture27
2.2.14 Diaphragm Injury
Diaphragm injury lebih sering terjadi pada paru-paru sebelah kiri, karena hati melindungi diafragma pada sisi kanan. Kerusakan diafrgama dapat diakibatkan trauma tumpul dan trauma tajam. Angka kematian yang tinggi dipengaruhi oleh tingkat keparahan organ lain yang juga terkena.28 Trauma tumpul menyebabkan herniasi dimana organ-organ intra peritoneal masuk ke rongga toraks. Diagnosa pada diaphragm injury bila pada auskultasi dicurigai terdengar bising usus di rongga toraks. Dilakukan foto toraks untuk menyingkirkan diagnosa banding lain seperti elevasi diafragma, dilatasi lambung akut, hematopeneumotoraks, atau hematoma subpulmoner. Gastric tube di masukkan menuju lambung dengan tambahan zat kontras untuk memastikan diagnosa keadaan ini. Penanganan diaphragm injury bersifat operatif dengan memperbaiki diafragma yang rusak.17
Gambar 2.2.14 Diaphragm injury29
2.2.15 Thoracic Spine Fractures
Fraktur vertebra torakalis merupakan cedera yang terjadi di vertebra torakalis 1-12. Penyebab tersering keadaan ini adalah kecelakaan kendaraan bermotor (45%), terjatuh dari ketinggian (20%), cedera olahraga (15%), perkelahian (15%) dan aktivitas lain yang tidak terduga (5%). Pada cedera tulang vertebra torakalis, khususnya jika disebabkan oleh benturan berkekuatan tinggi, saraf dapat rusak dan kerusakan dapat menjadi permanen. Umumnya klinis pasien baik, bergantung pada respon saraf terhadap pengobatan yang dilakukan oleh pasien tersebut.30
Gambar 2.2.15 Thoracic spine fractures30
BAB 3
KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP
Open
3.2 Kerangka Konsep Penelitian
Trauma toraks
Hasil Akhir Penanganan Diagnosis Penyebab Trauma
Kelompok Usia Jenis Kelamin
BAB 4
METODE PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL
4.1 Jenis Penelitian
Jenis penilitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan desain cross sectional yaitu dengan mengambil data secara bersamaan dalam satu waktu. Data yang diambil merupakan data sekunder yaitu rekam medis di RSUP HAM Medan dari tanggal 1 Januari hingga 31 Desember 2015.
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSUP HAM Medan. Adapun pertimbangan memilih RSUP HAM Medan merupakan rumah sakit rujukan dari seluruh kabupaten dan kota di provinsi Sumatera Utara serta kesediaan pihak rumah sakit untuk memberi izin penelitian kepada peneliti.
4.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dimulai dari bulan Agustus sampai dengan Oktober 2016.
4.3 Populasi dan Sampel 4.3.1 Populasi
Populasi adalah sekelompok subyek dengan karakteristik tertentu.
Populasi dapat dibagi menajdi 2 yaitu populasi target dan populasi terjangkau.
Populasi target ditandai oleh karakteristik klinis dan demografis. Populasi terjangkau yakni bagian dari populasi target yang dibatasi oleh tempat dan waktu.31 Populasi penelitian ini adalah pasien yang didiagnosa mengalami trauma yang tercatat di rekam medis Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan tanggal 1 Januari sampai 31 Desember 2015.
4.3.2 Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.31 Sampel penelitian ini adalah bagian dari populasi penelitian yaitu pasien dengan trauma toraks yang memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi dari tanggal 1 Januari 2015 sampai 31 Desember 2015 dan di ambil secara total sampling.
Kriteria inklusi :
Pasien dengan diagnosa trauma toraks yang tercatat di rekam medis RSUP HAM Medan
Kriteria ekslusi :
Catatan rekam medis yang tidak lengkap, yaitu tidak tercatat usia pasien, jenis kelamin pasien, penyebab trauma toraks, diagnosis, dan hasil akhir.
4.4 Metode Pengumpulan Data
Pada penelitian ini, data dikumpulkan dari data sekunder yaitu data yang telah tercatat pada data rekam medis pasien yang mengalami trauma toraks.
4.5 Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data dilakukan menggunakan komputer dengan program SPSS. Analisis data dilakukan secara statistik deskriptif yang disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
4.6 Definisi Operasional
Definisi Cara
ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur
Trauma toraks
merupakan trauma yang mengenai dinding toraks atau organ intra toraks,
Jenis kelamin adalah kelas atau kelompok
Penyebab dapat dibagi menjadi trauma tumpul dan trauma tajam.
Trauma tumpul adalah jenis trauma yang disebabkan benda tumpul
yang memiliki
permukaan yang tidak tajam, seperti terkena lemparan batu. Trauma
Melihat
tajam adalah trauma yang disebabkan benda
yang memiliki
permukaan yang tajam, seperti tertusuk pisau.
Diagnosis adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh trauma toraks yang tercatat dalam rekam medis.
Penanganan adalah tindakan yang dilakukan oleh dokter sebagai langkah pengobatan pada kasus trauma toraks.
Melihat rekam medis
Rekam medis
Operatif Thoracotomy Chest tube insertion
Konservatif
Nominal
Hasil akhir merupakan jumlah kematian pasien yang tercatat di rekam medis akibat trauma toraks.
Melihat rekam medis
Rekam medis
Meninggal
Rawat jalan
Nominal
BAB 5
HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian
Data penelitian yang digunakan adalah data sekunder, yaitu data yang berasal dari data rekam medis pasien trauma toraks di RSUP HAM Medan pada tahun 2015. Pengambilan data dilakukan pada hari Senin, 10-12 Oktober 2016.
Data yang diambil merupakan data rekam medis sepanjang tahun 2015. Jumlah pasien diagnosis trauma toraks berjumlah sebanyak 61 data pasien.
5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitain
Penelitian dilakukan di Instalasi Rekam Medis RSUP HAM Medan yang berada di lantai dasar RSUP HAM Medan. RSUP HAM Medan terletak di Jalan Bunga Lau No. 17 Km 12, Kecamatan Medan Tuntungan Kotamadya Medan.
RSUP HAM Medan sendiri merupakan pusat rujukan wilayah pembangunan A yang meliputi Propinsi Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat dan Riau.
Instalasi Rekam Medis adalah unit pelayanan non struktural yang menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan kegiatan pelayanan rekam medis.
Tugas instalasi rekam medis meliputi melakukan penerimaan dan pengelolaan rekam medis, memantau pelaksanaan rekam medis, menyimpan atau mengeluarkan kembali berkas-berkas rekam medis.
5.1.2 Distribusi Frekuensi Pasien Trauma Toraks Menurut Jenis Kelamin Tabel 5.1 Distribusi Pasien Trauma Toraks Berdasarkan Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin n %
1 Laki-laki 50 82
2 Perempuan 11 18
Total 61 100
Dari tabel 5.1 diketahui jenis kelamin terbanyak pasien trauma toraks adalah laki-laki yaitu sebanyak 50 orang (82%). Pasien jenis kelamin perempuan sebanyak 11 orang (18%).
5.1.3 Distribusi Frekuensi Pasien Trauma Toraks Menurut Kelompok Usia Tabel 5.2 Distribusi Pasien Trauma Toraks Berdasarkan Usia
No Kelompok Usia n %
1 1 - 18 tahun 3 4,9
2 19 - 60 tahun 44 72,1
3 > 60 tahun 14 23
Total 61 100
Dari tabel 5.2 diketahui kelompok usia yang terbanyak menderita trauma toraks adalah kelompok usia 19 - 60 tahun sebanyak 44 orang (72,1%). Kelompok usia dengan proporsi terendah adalah kelompok 1 - 18 tahun yaitu 3 orang (4,9%).
Pasien dengan kelompok >60 tahun sebanyak 14 orang (23%).
5.1.4 Distribusi Frekuensi Pasien Trauma Toraks Menurut Penyebab Tabel 5.3 Distribusi Pasien Trauma Toraks Berdasarkan Penyebab
No Jenis Trauma n %
1 Tumpul
- Kecelakaan Lalu Lintas (KLL) - Terjatuh
Dari tabel 5.3 diketahui penyebab trauma toraks terbanyak adalah trauma tumpul karena kecelakaan lalu lintas yaitu sebanyak 29 orang (47,5%). Pasien terendah mengalami trauma tajam akibat tertembak peluru sebanyak 6 orang (9,8%).
5.1.5 Distribusi Frekuensi Pasien Trauma Toraks Menurut Diagnosis Tabel 5.4 Distribusi Pasien Trauma Toraks Berdasarkan Diagnosis
No Diagnosis n %
Dari tabel 5.4 diketahui diagnosis pasien yang terbanyak mengalami trauma toraks adalah hemothorax sebanyak 17 orang (27,9%). Diagnosis pasien dengan proporsi terendah adalah cardiac lesion yaitu 1 orang (1,6%).
5.1.6 Distribusi Frekuensi Pasien Trauma Toraks Menurut Penanganannya.
Tabel 5.5 Distribusi Pasien Trauma Toraks Berdasarkan Penanganannya
No Penanganan n %
1 Operatif - Thoracotomy - Chest tube insertion
22 36
36,1 59
2 Konservatif 3 4,9
Total 61 100
Dari tabel 5.5 diketahui penanganan pasien trauma toraks terbanyak dilakukan secara operatif chest tube insertion dengan 36 orang (59%). Pasien terendah mendapatkan penanganan secara konservatif sebanyak 3 orang (4,9%).
5.1.7 Distribusi Frekuensi Pasien Trauma Toraks Menurut Hasil Akhir Tabel 5.6 Distribusi Pasien Trauma Toraks Berdasarkan Hasil Akhir
No Hasil akhir n %
1 Meninggal 8 13,1
2 Rawat jalan 53 86,9
Total 61 100
Dari tabel 5.6 diketahui bahwa sebagian besar hasil akhir pasien adalah rawat jalan yaitu sebanyak 53 orang (86,9%). Hasil akhir pasien yang meninggal sebanyak 8 orang (13,1%).
5.1.8 Distribusi Tabulasi Silang Jenis Kelamin dengan Hasil Akhir Tabel 5.7 Distribusi Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin dengan Hasil Akhir
No Jenis Kelamin Hasil akhir
Meninggal (%) Rawat jalan Total 1
Dari tabel 5.7 diketahui bahwa kematian terbanyak terjadi pada laki-laki sebanyak 8 orang (100%). Pada pasien perempuan tidak dijumpai kematian.
5.1.9 Distribusi Tabulasi Silang Kelompok Usia dengan Hasil Akhir Tabel 5.8 Distribusi Pasien Berdasarkan Kelompok Usia dengan Hasil Akhir
No Kelompok Usia Hasil akhir
Meninggal (%) Rawat jalan (%) Total
Dari tabel 5.8 diketahui bahwa kematian terbanyak terjadi pada kelompok usia 19 - 60 tahun sebanyak 6 orang (75%), sementara pada kelompok usia 1 - 18 tahun tidak dijumpai kematian.
5.1.10 Distribusi Tabulasi Silang Penyebab Trauma dengan Hasil Akhir Tabel 5.9 Distribusi Pasien Berdasarkan Penyebab Trauma dengan Hasil Akhir
No Penyebab trauma Hasil akhir
Meninggal (%) Rawat jalan (%) Total
Dari tabel 5.9 diketahui bahwa kematian terbanyak diakibatkan kecelakaan lalu lintas sebanyak 6 orang (75%), sementara tertembak peluru mengakibatkan kematian 1 orang (12,5%).
5.1.11 Distribusi Tabulasi Silang Diagnosis dengan Hasil Akhir Tabel 5.10 Distribusi Pasien Berdasarkan Diagnosis dengan Hasil Akhir
No Diagnosis Hasil akhir
Meninggal (%) Rawat jalan (%) Total
Dari tabel 5.10 diketahui bahwa pasien yang didiagnosis dengan rib fractures, tension pneumothorax, dan hemothorax menyebabkan kematian terbanyak, masing-masing 2 orang (25%), sementara thoracic spine fractures menyebabkan 1 orang meninggal (12,5%) dan hemopneumothorax menyebabkan 1 orang meninggal (12,5%).
5.1.12 Distribusi Tabulasi Silang Penanganan dengan Hasil Akhir Tabel 5.11 Distribusi Pasien Berdasarkan Penanganan dengan Hasil Akhir
No Penanganan Hasil akhir
Meninggal (%) Rawat jalan (%) Total 1
2
Operatif - Thoracotomy - Chest tube insertion Konservatif
Dari tabel 5.11 diketahui bahwa kematian terbanyak terjadi pada pasien yang mendapatkan penanganan secara operatif sebanyak 8 orang (100%), sementara pada pasien yang mendapatkan penanganan secara konservatif tidak dijumpai kematian.
5.1.13 Distribusi Tabulasi Silang Jenis Kelamin dengan Penyebab Trauma Tabel 5.12 Distribusi Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin dengan Penyebab Trauma
Dari tabel 5.12 diketahui bahwa tertusuk pisau terbanyak terjadi pada pasien laki-laki yaitu 15 orang (79%), sementara pasien perempuan yang mengalami tertusuk pisau sebanyak 4 orang (21%).
5.1.14 Distribusi Tabulasi Silang Usia dengan Penyebab Trauma Tabel 5.13 Distribusi Pasien Berdasarkan Usia dengan Penyebab Trauma
No Usia
Dari tabel 5.13 diketahui bahwa kelompok usia terbanyak mengalami kecelakaan lalu lintas adalah kelompok 19 - 60 tahun sebanyak 20 orang (69%), sementara kelompok usia 1 - 18 tahun mengalami 1 kejadian kecelakaan lalu lintas (3%).
5.1.15 Distribusi Tabulasi Silang Diagnosis dengan Penyebab Trauma Tabel 5.14 Distribusi Pasien Berdasarkan Diagnosis dengan Penyebab Trauma
No Diagnosis
Dari tabel 5.14 diketahui bahwa kecelakaan lalu lintas terbanyak menyebabkan diagnosis hemothorax sebanyak 8 orang (28%). Tertusuk pisau juga paling banyak menyebabkan diagnosis hemothorax sebanyak 6 orang (32%).
5.1.16 Distribusi Tabulasi Silang Diagnosis dengan Penanganan Tabel 5.15 Distribusi Pasien Berdasarkan Diagnosis dengan Penanganan
No Diagnosis
Dari tabel 5.15 diketahui bahwa pasien dengan diagnosis hemothorax lebih banyak mendapatkan penanganan secara operatif berupa chest tube insertion sebanyak 13 orang (36,1%), sementara penanganan konservatif paling banyak dilakukan pada thoracic sipne fractures yaitu 2 orang (66,7%).
5.2 Pembahasan
Berdasarkan tabel 5.1, dari 61 orang penderita trauma toraks, lebih banyak laki-laki yaitu 50 orang (82%) dibandingkan perempuan sebanyak 11 orang (18%). Hal ini sesuai dengan penelitian Aisyah yang menyatakan bahwa trauma lebih banyak terjadi pada laki-laki.34 Laki-laki mengalami trauma toraks lebih banyak dari perempuan karena umumnya laki-laki lebih banyak beraktivitas diluar rumah, seperti supir, pekerja pabrik dan buruh.35
Berdasarkan tabel 5.2, dari 61 orang penderita trauma toraks, paling banyak pada kelompok usia produktif yaitu 19-60 tahun sebanyak 44 orang (72,1%). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Hemmati dimana kelompok usia terbanyak yang mengalami trauma toraks adalah usia 16-59 tahun.4 Menurut Alkoumadni, usia yang cenderung mengalami trauma toraks adalah usia produktif.36
Berdasarkan tabel 5.3, dapat diketahui bahwa penyebab trauma paling banyak adalah trauma tumpul sebanyak 36 orang (59%) dan trauma tajam sebanyak 25 orang (41%). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Aisyah yaitu trauma paling banyak disebabkan oleh trauma tumpul daripada trauma tajam.34 Meningkatnya angka kejadian trauma tumpul disebabkan cepatnya industrilisasi, bertambahnya populasi, urbanisasi, dan arus lalu lintas yang tinggi.37,38
Berdasarkan tabel 5.4, dari 61 orang penderita trauma toraks, paling banyak menyebabkan diagnosis berupa hemothorax sebanyak 17 orang (27,9%).
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Yamamoto dimana hemothorax merupakan akibat terbanyak dari trauma di rongga toraks.39 Penyebab dari hemothorax bisa trauma tumpul atau trauma tajam yang mengenai organ paru-paru, seluruh pembuluh darah di rongga toraks, jantung atau daerah abdominal yang bersamaan dengan terjadinya trauma diafragma. Trauma tumpul dan trauma tajam dapat terjadi bersamaan, yang mengakibatkan angka kematian meningkat signifikan.41
Berdasarkan tabel 5.5, dapat diketahui dari 61 pasien penderita trauma toraks, paling banyak penanganan yang dilakukan bersifat operatif seperti pemasangan selang dada/ chest tube insertion sebanyak 36 (59%) orang. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Leech dimana penanganan untuk trauma toraks lebih banyak dilakukan dengan pemasangan selang dada.41 Penanganan trauma toraks umumnya dapat dilakukan tanpa intervensi bedah,42 tergantung tingkat keparahan dari trauma toraks tersebut.
Berdasarkan tabel 5.6, dapat diketahui bahwa pasien yang meninggal pada kasus ini sebanyak 8 orang (13,1%) dan pasien yang selamat sekaligus mendapatkan pelayanan rawat jalan sebanyak 86,9% (53 orang). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Demirhan yang mengatakan bahwa angka kematian pada trauma toraks tidak tinggi.43 Angka kematian dapat diturunkan dengan melakukan primary survey yang cepat dan tepat sesuai prinsip manajemen trauma sehingga dapat mengurangi kejadian yang mengancam jiwa.41 Angka kematian dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti multiple trauma pada pasien dan kemampuan rumah sakit dalam mendiagnosis serta menangani kasus-kasus emergensi.42
Dari data penelitian tabel 5.7 diketahui bahwa mortalitas terbanyak pada kasus trauma toraks terjadi pada laki-laki dengan 8 orang meninggal (100%). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Nakada yang menyatakan bahwa trauma pada laki-laki paling banyak menyebabkan kematian daripada perempuan.44 Hal ini dikarenakan laki-laki memiliki pekerjaan yang lebih beresiko terhadap trauma, khususnya trauma toraks seperti supir, pekerja pabrik dan buruh.35
Dari data penelitian tabel 5.8 diketahui bahwa mortalitas terbanyak akibat trauma pada usia 19-59 tahun (75%) dari seluruh jumlah kematian. Hal ini sesuai dengan penelitian oleh Ali yang menyatakan trauma paling banyak terjadi pada laki-laki dewasa antara usia 20-40 tahun yang merupakan usia produktif dalam hidup.45
Dari data penelitian tabel 5.9 diketahui bahwa KLL menyebabkan angka kematian tertinggi dibandingkan dengan benda-benda tajam, sebanyak 6 orang
(75%) dari seluruh kematian. Penelitian yang dilakukan oleh Ekpe menyatakan bahwa dari 149 orang yang mengalami trauma toraks, 97 mengalami trauma tumpul dan 5 orang diantaranya meninggal.46 Angka kematian dan morbiditas meningkat pada trauma tumpul dikarenakan kecelakaan lalu lintas dan tidak menggunakan sabuk pengaman pada penelitian yang dilakukan Demirhan.43
Dari data penelitian tabel 5.10 diketahui bahwa penyebab kematian pada trauma toraks paling banyak disebabkan rib fractues, tension pneumothorax dan hemothorax yaitu masing-masing 25%. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Yamamoto dimana rib fractures, hemothorax dan tension pnemuthorax merupakan kejadian yang mengancam jiwa yang memerlukan evaluasi dan penanganan selama melakukan primary survey.39 Dari tabel diatas diketahui juga tidak ditemukan kematian yang disebabkan simple pneumothorax.
Hal ini sesuai dengan Whizar Lugo bahwa simple pneumothorax bukan merupakan kejadian yang mengancam jiwa.3
Dari data penelitian tabel 5.11 diketahui bahwa pasien yang mendapatkan penanganan yang bersifat operatif lebih banyak yang meninggal daripada pasien yang mendapatkan penanganan bersifat konservatif. Pada pasien yang mendapatkan penangan operatif, tingkat keparahan cukup tinggi sehingga menyebabkan kematian. Hal ini sesuai dengan penelitian Simon bahwa kematian pada trauma toraks jarang terjadi, kematian paling sering terjadi akibat penanganan yang terlambat, terjadi komplikasi dari trauma, dan tergantung pada angka harapan hidup individu tersebut.47
Dari tabel 5.12 diketahui bahwa baik trauma tumpul maupun trauma tajam terjadi paling banyak pada laki-laki. Dari 25 penderita trauma tajam didapati lebih banyak penderita laki-laki. Laki-laki yang mengalami kejadian tertusuk pisau lebih banyak yaitu 15 orang (79%) dibandingkan perempuan yaitu 4 orang (21%).
Hal ini sesuai dengan penelitian Malarante dimana insiden tertusuk lebih banyak pada laki-laki akibat penganiayaan, perkelahiaan dan pengeroyokan. Hal ini dikarenakan meningkatnya penggunaan konsumsi minuman keras yang disalahgunakan oleh laki-laki daripada perempuan, sehingga tingkat kriminalitas meningkat.48
Dari penelitian tabel 5.13 diketahui bahwa KLL paling banyak terjadi pada kelompok umur 19-59 tahun dengan jumlah 20 orang (69%). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Mohta yang menyatakan KLL adalah penyebab utama pada kelompok usia ini, karena kelompok usia ini banyak yang bekerja dan merupakan usia produktif.37 Terjatuh dan kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab utama trauma terutama cedera tulang belakang di Amerika Serikat dan insiden terjadinya trauma tumpul cenderung meningkat.44
Dari data penelitian tabel 5.14 diketahui bahwa tension pneumothorax paling banyak disebabkan tertembak peluru. Hal ini sesuai dengan Whizar-Lugo yang menyatakan bahwa tension pneumothorax paling banyak disebabkan oleh trauma tajam.3 Hemothorax lebih banyak disebabkan KLL daripada trauma tajam sesuai dengan penelitian Cobanoglu meskipun perbedaannya tidak terlalu mencolok. Baik trauma tumpul maupun trauma tajam dapat menimbulkan kejadian hemothorax.49 Hal ini dikarenakan trauma tumpul atau trauma tajam dapat menyebabkan kerusakan pada parenkim paru, seluruh pembuluh darah yang ada di rongga toraks, maupun region abdomen yang dapat menimbulkan hemothorax.40
Dari data penelitian tabel 5.15 diketahui bahwa penanganan hemothorax dan hemopneumothorax bersifat operatif dengan melakukan pemasangan selang dada. Sebagian besar kasus trauma dapat ditangani tanpa operatif thoracotomy menggunakan pemasangan selang dada, analgetik yang adekuat dan pemasangan sungkup.36,38 Hal ini sesuai juga dengan penelitian yang dilakukan Mowery dkk yang menyatakan pemasangan selang dada dilakukan pada pasien trauma toraks yang mengalami hemotohorax.50
BAB VI
KESIMPULAN dan SARAN
6.1 Kesimpulan
1. Angka kejadian trauma toraks di RSUP HAM Medan tahun 2015 sebanyak 61 orang.
2. Pasien trauma toraks di RSUP HAM Medan tahun 2015 paling banyak berjenis kelamin laki-laki (82%) dan pada usia 19 - 60 tahun (72,1%).
3. Penyebab terbanyak trauma toraks di RSUP HAM Medan tahun 2015 adalah trauma tumpul karena KLL (47,5%).
4. Diagnosis terbanyak pasien trauma toraks di RSUP HAM Medan tahun 2015 adalah hemothorax (27,9%).
5. Penanganan pasien trauma toraks di RSUP HAM Medan tahun 2015 paling banyak adalah dengan tindakan operatif chest tube insertion (59%)
6. Hasil akhir pasien trauma toraks di RSUP HAM Medan tahun 2015 terbanyak adalah rawat jalan (86,9%)
6.2 Saran
1. Bagi instansi tempat penelitian agar petugas kesehatan dapat mengisi rekam medis lebih rapi dan lengkap, agar peneliti selanjutnya mampu mengolah data lebih mudah.
2. Bagi masyarakat umum khususnya kelompok usia produktif (19 - 60 tahun) agar lebih berhati-hati ketika melakukan aktivitas diluar rumah seperti berkendara.
3. Bagi peneliti selanjutnya untuk mengembangkan penelitian ini lebih lanjut sehingga menjadi rujukan bagi pengetahuan dan pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
1. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Riset Kesehatan Dasar. 2013 [ diperbaharui 1 Desember 2013; diakses pada 28 Maret 2015]. Dikutip dari https://drive.google.com/file/d/0BxMqKGS9XxLqWHN3VFdPdEgtUmc/
edit
2. World Health Organization.Guidlines for Essential Trauma Care.2004
[cited 2015, March 28]. Available from
http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/42565/1/9241546409_eng.pdf 3. Whizar-Lugo V. Chest Trauma: an Overview. J of Anesthesia & Critical
Care: Open Access. 2015; 3(1):1-11.
4. Hemmati H. Archives of Trauma Research: Evaluation of Chest and Abdominal Injuries in Trauma Patiens Hospitalized in the Surgery Ward of Poursina Teaching Hospital, Guilan, Iran. J of Kashan University of Medical Sciences, Published by Kowsar. 2013; 162-164.
4. Hemmati H. Archives of Trauma Research: Evaluation of Chest and Abdominal Injuries in Trauma Patiens Hospitalized in the Surgery Ward of Poursina Teaching Hospital, Guilan, Iran. J of Kashan University of Medical Sciences, Published by Kowsar. 2013; 162-164.