BAB II TIN JAUAN PUSTAKA
C. Studi Banding
3. Pusat Kebudayaan China diindonesia
1) Pengertian
Adalah tempat diadakannya kegiatan – kegiatan budaya Negara China sebagai media pertukaran budaya, informasi, pendidikan dan rekreasi bagi masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Jakarta pada khususnya.
50
2) Peran dan Fungsi
Pusat Kebudayaan China di Jakarta mempunyai peran dan fungsi sebagai berikut:
a) Di Bidang Pendidikan dan Kesehatan
Sebagai media pendidikan bagi masyarakat yang tertarik akan hal – hal yang berhubungan dengan kebudayaan China.
b) Manfaatnya Bagi Kota Jakarta
Fasilitas pertunjukan kesenian, pertunjukan film dan pameran Di Jakarta.
c) Manfaat Bagi Masyarakat Pada Umumnya
Menambah wawasan tentang kebudayaan negeri China.
3) Pengelolaan Pusat Budaya Cina a) Pengelolah
Dikelola 20 orang staff yang dikirim dan ditentukan dari Pusat Kebudayaan China di Beijing dengan dibantu oleh beberapa staff local terdiri dari orang – orang Indonesia.
b. Tinjauan Fisik 1) Tinjauan Lokasi
Lokasi Pusat Kebudayaan China masih menjadi satu dengan gedung Kantor Kedubes China di Jakarta Yaitu di Jl. Jenderal Sudirman no.69. Sedangkan gedung kanor kedubes merupakan bangunan milik pemerintah Indonesia yang dipinjamkan kepada pemerintah China.
2) Kondisi Fisik Bangunan
Bangunan tersebut merupakan bangunan modern yang terdiri dari 4 lantai.
51
3) Tinjauan Tata Ruang a) Macam-macam Ruang
- Resepsionist
- Lounge
- Hall
- R.KAntor/ Administrasi
- 2 R. Kelas
- R.Pertemuan / Auditorium
- R.Perpustakaan
- 2 Gudang
- 2 Lavatory
-
D. Tanggapan Studi Banding Tabel 1. Tanggapan Studi Banding
Sasaran
52
Sumber : Analisis Penulis, 2020
2. Dalil - Dalil yang Berkaitan dengan Kebudayaan
Pusat kebudayaan Sulawesi Selatan adalah suatu Pusat yang direncanakan dengan sebagai ruang atau wadah bagi penggiat seni, pusat Pertunjukan Seni, Pameran seni serta sebagai salah satu wujud pelestarian kebudayaan Sul-Sel .
1. Penerapan Desain
b) Bentuk yang Sebaik-baiknya .
Pada QS. At-Tiin telah dijelaskan tentang penciptaan manusia dengan sebaik-bainya dan sempurna, berikut Al-qur’an menyatakannya:
Terjemahnya:
‘’ Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya’’ (QS. At-Tiin/95: 4).
Berdasarkan tafsir Jalalain menyatakan bahwa (Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia) artinya semua manusia artinya baik bentuk atau pun penampilannya amatlah baik.
53
Sehingga penerapan perencanaan pusat kebudayaan ini akan didesain dengan sebaik-baik mungkin. Meski sederhana namun memiliki kekokohan dari segi struktur yang mumpuni agar dapat menunjang segala bentuk fungsi dari bermacam-macam aktifitas pada kawasan kebudayaan.
2. Desain Toilet
Berikut hadist-hadist yang menerangkan tentang cara membuang air baik itu buang air besar maupun air kecil, yang dapat dijadiakan acuan desain tolet sesuai dengan ketentuan/syariat islam.
a) Tidak Menghadap dan Membelakangi Kiblat.
Dari Abu Ayyub Al Anshori, Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, Artinya:
“Jika kalian mendatangi jamban, maka janganlah kalian menghadap kiblat dan membelakanginya. Akan tetapi, hadaplah ke arah timur atau barat.” Abu Ayyub mengatakan, “Dulu kami pernah tinggal di Syam. Kami mendapati jamban kami dibangun menghadap ke arah kiblat. Kami pun mengubah arah tempat tersebut dan kami memohon ampun pada Allah Ta’ala, ” (HR. Bukhari no.
394 dan Muslim no. 264) .
Yang dimaksud dengan “hadaplah arah barat dan timur” adalah ketika kondisinya di Madinah. Karena arah
54
kiblat di Madinah adalah menghadap ke selatan. Kalau dikatakan tidak boleh menghadap kiblat atau pun membelakanginya, berarti yang dimaksud adalah larangan menghadap selatan dan utara. Jadinya, yang dibolehkan adalah menghadap barat atau timur. Ini bagi kota Madinah, sedangkan untuk daerah lainnya tinggal menyesuaikan maksud hadits.
55
BAB III
ANALISIS PERENCANAAN A. Penentuan Lokasi dan Tapak
1. Analisis Pemilihan lokasi a. Keadaan Geografis
Geografis Kabupaten Gowa terletak diantara 5o5’ hingga 5o34.7’ Lintang Selatan (LS) dan 12o33.19’ hingga 13o15.17’
Bujur Timur (BT). Kabupaten Gowa merupakan salah satu kabupaten di bagian Selatan dan merupakan daerah tingkat II di Sulawesi Selatan. Pusat ibu kota pemerintahan berada di Sungguminasa, yang meliputi seluruh wilayah kecamatan Somba Opu, Kecamatan Pallangga, dan 2 kelurahan yang berada di kecamatan Bontomarannu.
Gambar 40. Peta Administrasi Kabupaten Gowa Sumber : Kabupaten Gowa dalam Angka, 2020
56
Gambar 41. Statistik Geografi dan Iklim Kab.Gowa Sumber : Badan Meteorologi dan Geofisika Makassar
Gowa dalam angka, 2020
b. Keadaan Iklim dan Topografi
Kabupaten Gowa mempunyai 2 musim dalam setahun, Pada bulan November sampai dengan April memasuki musim hujan, sedangkan Bulan Mei sampai Oktober memasuki musim kemarua kering. Kondisi Topografi Kab. Gowa sebagian besar berupa dataran tinggi yang berbukit-bukit, yang meliputi 9 kecamatan yaitu, kecamatan Parangloe, Tinggimoncong, Manuju, Tombolo Pao, Parigi, Bungaya, Bontolempengan, Tompobulu, dan Biringbulu.
Kabupaten Gowa juga dilalui oleh 15 sungai besar dan kecil yang sangat berpotensi sebagai sumber tenaga listrik dan untuk pengairan. Salah satu diantaranya adalah sungai terbesar di Sulawesi Selatan yaitu sungai Jeneberang dengan ukuran luas 881 Km² dan panjang 90 Km.
57
c. Analisis Pemilihan Lokasi
Berdasarkan fungsi perencanaan pembangunan dan ketentuan yang dijelaskan dalam RTRW Kabupaten Gowa.
Pemilihan lokasi untuk di bangunnya Pusat kebudayaan Sulawesi Selatan, ditentukan dengan mencari lokasi yang tepat dan ideal serta pusat kebudayaan ini dapat bermanfaat atau sebagai penunjang bagi wilayah atau lokasi yang di pilih.
Gambar 42. Pemilihan lokasi Sumber: Analisis Penulis, 2020
Pemilihan lokasi perencanaan pusat kebudayaan Sulawesi Selatan yaitu Kecamatan Barombong, Kelurahan Benteng Somba Opu, kawasan wisata terpadu, lokasi tersebut memiliki banyak riwayat budaya dan sejarah kerajaan Gowa.
58 Gambar 43. Pemilihan site
Sumber : Analisis Penulis, 2020
Pemilihan wilaya Benteng Somba Opu sebagai lokasi perencanaan, ada dua alternatif lokasi untuk pembangunan pusat kebudayaan dengan alasan guna untuk mencari lokasi yang strategis dan tepat.
2. Analisis Pendekatan Lokasi
Kemudian kedua lokasi akan dilakukan analisa atau pembobotan untuk menentukan lokasi yang tepat dan strategis.
Tabel 2. Analisis Kriteria Pemilihan Lokasi
Kriteria
Lokasi Pertama Lokasi Kedua Jl. Lekobo'dong Jl. Kampung Beru
Bobot Bobot
59
Berdasarkan dari hasil analisa pembobotan, lokasi terpilih yang aksebilitas menuju lokasi sangat mudah di capai, lokasi berada di jalan poros Benteng Somba Opu begitu juga dengan penunjang kawasan site, yang terpenuhi untuk perencanaan pusat kebudayaan di Kabupaten Gowa.
Gambar 44. Lokasi Tapak Sumber: Analisis Penulis, 2020
Kondisi Site berada pada kawasan wisatawan terpadu dengan kondisi tanah yang bergelombang dan eksisting Site berupa tanah kosong yang berpohonan dan berada di sekitar sungai .
Agar proses perancangan terlaksana dengan bagus, maka proses perencanaan juga harus mempertimbangkan ketentuan dan standarisasi pembangunan sesuai di Kabupaten Gowa, yakni:
a. Koefisien Dasar Bangunan (KDB)
60% x 66.600 m2 = 39.600 m2 ( Terbangun )
40% x 66.600 m2 = 26.400 m2 ( Ruang Terbuka Hijau ) b. Koefisien Lantai Bangunan (KLB)
3 x 66.600 m2 = 199.800 m2 199.800 m2 / 39.600 m2 = 5 Lantai
60
3. Analisis SWOT
Merupakan teknik analisa yang bermanfaat mengevaluasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam peoses pemilihan Tapak.
a. Kekuatan
1) Lokasi yang strategis untuk perencanaan pusat kebudayaan.
2) Lokasi mudah dijangkau, karna berada di jalan poros.
3) Perencanaan pusat kebudayaan menjadi penunjang Benteng Somba Opu.
b. Kelemahan
1) Sering Terjadi kemacetan karna banyaknya pengendara saat sore hari.
2) Fasilitas umum pejalan kaki dan sepeda dan perlengkapan jalan, kurang memadai.
c. Peluang
1) Dapat membantu meningkatkan parawisata di kawasan Benteng Somba Opu.
2) Membantu meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat sekitar.
3) Sanggar – sanggar kesenian di Benteng Somba Opu dapat berkolaborasi dan meningkatkan kesenian daerah.
d. Ancaman
Lokasi terbilang aman dari tindakan kriminal, karna petugas keamanan sering melakukan patroli.
4. Analisis Pengolahan Tapak
Pengolahan tapak bertujuan untuk memaksimalkan fungsi tapak dengan meninjau potensi keadaan pada lokasi. Guna mengatur
61
analisis pada lokasi. Pertimbangan yang digunakan sebagai dasar analisis pengolahan tapak adalah sebagai berikut:
a) Analis Matahari 1) Kondisis Eksisting
Gambar 45. Analisis Matahari Sumber : Analisis Penulis, 2020
Panas matahari pagi sampai sore intensif terhadap bangunan terutama pada pada sisi timur dan barat bangunan.
Lingkungan tapak kurang memiliki vegetasi yang berfungsi untuk menetralisir panas dari matahari.
2) Tanggapan Perancangan
upaya meminimalisir panas matahari langsung terhadap bangunan :
a) Mengoptimalkan cahaya matahari sebagai pencahayaan alami dengan memberi bukaan pada bangunan .
62
b) pada sisi timur dan barat bangunan diberi beberapa pepohonan agar mengurangi panas matahari langsung, pepohonan yang di gunakan pada bangunan yaitu pohon palem, pohon glondokan, yang rata-rata ketinggianya 4-5 meter dan bunga pucuk merah sebagai penghias sisi bangunan .
Gambar 46. Vegetasi sebagai filter cahaya Sumber: Analisis Penulis, 2020
b) Analisis Angin dan Penghawaan 1) Kondisi Eksisting
Gambar 47. Analisa Angin dan Penghawaan Sumber : Analisis Penulis, 2020
63
Angin yang berembus dari arah timur laut ke barat daya mengenai kedua sudut bangunan, otomatis ke dua arah tersebut menerima banyak angin di bandingkan arah lainnya.
2) Tanggapan Perancangan
Upaya meminimalisir Angin dan Penghawan langsung terhadap bangunan :
a) Manfaatkan untuk memberikan jendela atau bukaan pada bangunan yang intensif terkena angin.
b) Menempatkan vegetasi yang berfungsi sebagai menetralisir udara bebas yang membawa debu.
Gambar 48. Vegetasi sebgai vilter angin Sumber : Analisis Penulis, 2020
c) Analisis Kebisingan 1) Kondisi Eksisting
Gambar 49. Analisis kebisingan Sumber : Analisis Penulis, 2020
64
Sumber kebisingan pertama pada tapak berasal dari jalan yaitu kebisingan kendaraan, sumber kebisingan kedua bersal dari arah utara kebisingan dari air sungai.
2) Tanggapan Perancangan
Upaya meminimalisir kebisingan terhadap bangunan :
a) Menempatkan beberapa vegetasi yang bisa menghambat kebisingan air sungai.
b) Menempatkan bunga pucuk merah dan pagar pada depan
bangunan agar kebisingan ternetralisir.
Gambar 50. Solusi Kebisingan Sumber : Analisis Penulis, 2020
d) Analisis Sirkulasi 1) Keadaan Eksisting
Gambar 51. Analisis Sirkulasi Tapak Sumber : Analisis Penulis, 2020
65
Jalan utama pada lokasi tapak adalah jalan poros Benteng Somba Opu, jika dari arah arah barat maka akan menuju ke jalan poros dg.tata, jika dari arah timur makan akan memasuki area rumah adat Benteng Somba Opu Jl. lekobodong.
2) Tanggapan Perancangan
Upaya mengatur sirkulasi dalam tapak bangunan :
a) Sirkulasi dalam tapak, gerbang masuk berada pada sisi barat dan berfungsi untuk satu jalur.
b) Gerbang keluar berada pada sisi timur dan berfungsi untuk satu jalur.
c) Serta area parkir di bagi 2, di letakkan pada bagian depan tapak dan bagian belakang bawah bangunan, sehingga parkiran pengunjung dan kantor pengelolah dapat di bedakan.
d) Sirkulasi pada tapak diberi jalan yang mengelilingi bangunan dari gerbang masuk sampai gerbang keluar sampai terhubung dengan jalan utama Benteng Somba Opu.
e) Mengadakan jalur pedestrian sebagai jalur sirkulasi pejalan kaki, Menyediakan sirkulasi untuk disabilitas. Pada jalur pedestrian diberi guiding block atau jalur penuntun, untuk mempermudah bagi disabilitas, khususnya yang menggunakan kursi roda.
Gambar 52. Guiding Block atau Jalur Penuntun Sumber : Analisis Penulis, 2020
66
e) Analisis View
1) Kondisi Eksisting
Gambar 53. Analisis view tapak Sumber: Analisis Penulis, 2020
Lokasi pada tapak adalah tanah kosong yang berpohonan dan empang kering yang tidak gunakan lagi, arah utara dan timur adalah perairan sungai wilayah Kel. Parang Tambung Jl. Tata III, arah selatan adalah tanggul perairan sungai je’ne berang wilayah Kel. Benteng Somba Opu Jl. Tamanyyeleng, dan arah barat yaitu wilayah Kel. Benteng Somba Somba Opu Jl. Leko’bo’dong.
2) Tanggapan Perancangan
Upaya mengatur view pada bangunan agar terlihat menyatu dengan alam dan terlihat lebih menarik dan Mengatur perencanaan tepi sungai menjadi taman, spot foto atau tempat latihan seni.
67
B. Analisis Pelaku kegiatan dan Pola Kegiatan 1. Analisa pelaku kegiatan
Pemakai Gedung Pusat Kebudayaan Sulawesi Selatan terdiri dari : a) Pengunjung / Masyarakat umum
Terdiri dari :
- Masyarakat umum
▪ Menonton pertunjukan teater
▪ Mealihat pameran warisan cagar budaya Sulawesi Selatan
▪ Kafetaria, makanan khas Sulawesi Selatan
▪ Gift shop, membeli cinderamata dan befoto mengunakan baju adat Sulawesi Selatan yang telah di sediakan
▪ Perpustakaan mencari informasi mengenai kebudayaan Sulawesi Selatan.
▪ Taman Alun - alun sungai, Kegiatan jalan – jalan, foto -foto, melihat pelatihan kursus menari dan bela diri.
- Pejabat atau wakil Negara
▪ Pertunjukan teater, memenuhi undangan untuk menonton
▪ Pameran cagar budaya, memenuhi undangan melihat cagar budaya .
▪ Kafetaria, memenuhi undangan makan khas Sulawesi Selatan
- Mahasiswa
▪ Perpustakaan, mencari informasi kebudayaan Sulawesi Selatan
▪ Kelas kursus tari, berkolaborasi dalam hal seni tari
▪ Gift shop, membeli cinderamata Sulawesi Sealatan
- Siswa
▪ Perpustakaan, mencari informasi tentang Sulawesi Selatan.
▪ Kelas kursus tari, Bekerja sama untuk melakukan kegiatan
68
kursus tari.
▪ Kursus Silat, Bekerja sama untuk melakukan kegiatan kursus Silat.
▪ Gift shop, membeli cinderamata Sulawesi Sealatan
- Kursus masyarakat umum
▪ Kursus menari
▪ Kursus Silat b) Pengelola / staff
- Bekerja dan memegang tanggung jawab di bidang tertentu di dalam lingkup Pusat Kebudayaan Sulawesi Selatan.
c) Pelaku kebudayaan
- Penyaji acara – acara Pertunjukan kesenian.
- Penyaji Pameran
▪ Pameran benda – benda hasil kebudayaan yang di gunakan dalam waktu jangka sementara
▪ Pameran benda – benda yang digunakan tanpa ada batasan.
- Penyaji barang – barang tokoh souvenir dan baju adat Sulawesi selatan
- Penyaji Makanan khas Sulawesi Selatan 2. Analisis pola kegiatan
a) Pengunjung masyarakat umum
Gambar 54. Analisis pola kegiatan masyarakat umum Sumber : Analisis Penulis, 2020
69
b) Pejabat atau wakil negara
Gambar 5 5. Analisis pola kegiatan pejabat atau wakil negara Sumber : Analisis Penulis, 2020
c) Pengelola
Gambar 5 6. Analisis pola kegiatan pengelolah Sumber : Analisis Penulis, 2020
70
d) Pelaku budaya
Gambar 5 7. Analisis pola kegiatan Pelaku kebudayaan Sumber : Analisis Penulis, 2020
e) Pelaku Kursus Tari, Beladiri
Parkir Datang
Mencari
Informasi Kabag Seni Seni Tari
Seni Beladiri
Administrasi Sanggar Tari
Sanggar Beladiri
Ibadah
Spot Foto Beli Sourvenir
Parkir
Pulang
Gambar 5 8. Analisis Pelaku Kursus Tari & Beladiri Sumber : Analisis Penulis, 2020
71
3. Kebutuhan ruang
Tabel 3. Kebutuhan ruang
Pelaku kegiatan Kegiatan Kebutuhan ruang
Pengunjung / Masyarakat
umum
Parkir Tempat Parkir
Mencari informasi R.Informasi
/Resepsionis /R.display Melihat pameran
seni
R.Pameran Melihat pertun jukan Gedung
Pertunjukkan Mengikuti pelatihan R.Latihan Melakukan Spot foto Area Spot Foto
Metabolisme KM/ WC
Beribadah Musholla
Pejabat atau Wakil Negara
Parkir Basament
Istrahat Ruang Lounghe
Melihat Pameran Melakukan Spot foto Area Spot Foto Mengunjung restoran
Khas Sul-Sel
Restauran Sulawesi Selatan
Metabolisme KM/ WC
Beribadah Musholla
72
Pelaku kegiatan Kegiatan Kebutuhan ruang
Pengelola / staff
Parkir Tempat Parkir
Mencari Informasi R.Informasi / resepsionis Pengelola utama R.Direktur Mengurus
Menerima tamu R.Tamu Mengurus bidang
73
Pelaku kegiatan Kegiatan Kebutuhan ruang
Pengelola / staff Menjalankan ibadah Musholla
Metabolisme Km/Wc
Pelaku kebudayaan
Parkir Tempat Parkir
Mengajar menari R.menari Mengajar beladiri R. beladiri
Istrahat R.Guru
74
Pelaku kegiatan Kegiatan Kebutuhan ruang
Pelaku
Sumber : Analisis Penulis, 2020
4. Pengelompokan Ruang a) Ruang Penerima
1. Fungsi
Menerima Kegiatan, melayani Informasi dan sebagai tempat pertama pengunjung masuk.
2. Kebutuhan Ruang
- Hall utama
- Resepsionist
- Ruang Display
75
b) Ruang Administrasi 1. Fungsi
Menerima informasi dan kegiatan mengenai Pusat Kebudayaan Sulawesi Selatan.
2. Kebutuhan Ruang
- R. Direktur - R.Personalia c) Ruang Perpustakaan
1. Fungsi
Wadah kegiatan pembelajaran dan pengetahuan dengan cara membaca dan sebagai tempat penyediaan buku – buku sejarah Sulawesi Selatan atau buku sejarah lainya .
2. Kebutuhan Ruang
- Ruang kepala
76
d) Ruang Pagelaran Seni a. Fungsi
Sarana kegiatan hiburan seperti, pagelaran musik, pameran.
b. Kebutuhan ruang 1. Ruang Pertunjukan
- Hall - Ticket box
- Ruang sekrertariat pameran
- Toilet
- Ruang pamer permanen - Gudang e) Ruang Restoran Makanan khas Sul-Sel
a. Fungsi
Sebagai tempat mencicipi makanan khas dari setiap Suku di Sulawesi Selatan.
77
b. Kebutuhan Ruang
- Ruang makan
- Ruang dapur - Gudang
- Toilet - Ruang Istrahat
- Kasir - Loker
f) Ruang Penjualan a. Fungsi
Tempat untuk menjual stiker, cinderamata yang ada hubungan dengan kebudayaan Sulawesi Selatan serta penjualan makanan .
b. Kebutuhan Ruang
- Rentail penjualan - Gudang
- Toilet g) Ruang Kelas kursus
a. Fungsi
Sebagai wadah pengembangan bakat dan menjaga kebudayaan Sulawesi Selatan.
b. Kebutuhan Ruang
- Ruang Sanggar tari
- Ruang Sanggar Silat
- Ruang Admistrasi
- Ruang Guru
- Ruang kelas pembelajaran
- Lavatory
- Ruang Outdoor latihan
h) Ruang Servis atau Penunjang a. Fungsi
Penunjang kegiatan – kegiatan/ service
78
b. Kebutuhan Ruang
- Raung gengset - Ruang parkir
- Ruang mesin AC - Gudang
- Ruang trafo - Toilet
- Ruang pompa - Ruang karyawan
- Ruang papx - Ruang istrhat karyawan
- Ruang kontrol - Ruang ganti karyawan
- Ruang panel - Mushollah
- Ruang jaga - Ruang satpam
5. Analisa Persyaratan Ruang Tabel 4. Persyaratan Ruang
Ruang Persyaratan Karasteristik Ruang Cahaya Akustik Hawa View Karakter Ruang
penerima
*** * *** *** Publik
Ruang administrasi
** * * * Semi publik
79
Ruang Persyaratan Karasteristik Ruang Cahaya Akustik Hawa View Karakter
6. Analisa Besaran Ruang Dasar pertimbangan :
- Standar luasan unit yang di bakukan
- Pendekatan kebutuhan dan besar perabot
- Menyesuaikan dengan kelipatan ukuran tatami
- Pendekatan kapasitas ruang gerak, dengan ketentuan : - 10 % : Standar flow gerak minimum
- 20 % : Kebutuhan Keleluasaan Gerak - 30 % : Tuntutan Kenyamanan Fisik - 40 % : Tuntutan Kenyamanan Psikis
- 50 % : Tuntutan Persyaratan spesifikasi Kegiatan
80
- 60 % : Keterlibatan terhadap servis Kegiatan - 100 – 200% : Tuntutan Ruang Umum
Dasar perhitungan :
Untuk menciptakan suasana ruangan yang efektif, maka ruangan harus memenuhi standar perencanaan, agar ruangan bisa bersinerji dengan aktifitas. Maka ruangan harus memenuhi standar besaran ruang. Dasar perhitungan yang penulis gunakan menggunakan 2 dasar metode perhitungan yaitu :
- Asumsi
- Ernst Neufert 1997. Data Arsitek Jilid I dan II ( Neufert Architect Data )
Sumber : Analisis Penulis, 2020
81
B. Ruang Administrasi
Tabel 6. Besaran Ruang Ruang Kap.
82
Sirkulasi 20% 104,428
m2 Total
626,568 m2
Sumber : Analisis Penulis, 2020
C. Ruang Perpustakaan Tabel 7. Besaran Ruang
Ruang Kap.
83
Sumber : Analisis Penulis, 2020
D. Ruang Pagelaran seni
▪ Ruang pertunjukan Tabel 8. Besaran Ruang Ruang Kap.
84
Sumber : Analisis Penulis, 2020
85
▪ Ruang Pameran
Tabel 9. Besaran Ruang Ruang Kap.
Sub Total 1324,416
m2 Sumber : Analisis Penulis, 2020
86
E. Restoran Makanan Khas Sul-Sel Tabel 10. Besaran Ruang Ruang Kap.
Sumber : Analisis Penulis, 2020
87
F. Ruang Penjualan
Tabel 11. Besaran Ruang Ruang Kap.
Sirkulasi 10% 27,1876
m2
Total 299,0636
m2
Sumber : Analisis Penulis, 2020
88
G. Ruang Kelas kursus Tabel 12. Besaran Ruang
Ruang Kap.
Sirkulasi 10% 36,576
m2 Total
402,336 m2
Sumber : Analisis Penulis, 2020
H. Ruang Servis atau Penunjang Tabel 13. Besaran Ruang
Ruang Kap.
89
90
Sumber : Analisis Penulis, 2020
i) Rekapitulasi Besaran Ruang Tabel 14. Rekapitulasi Ruang
No Ruangan Luas m2
1 Ruang penerima 401,28 m2
2 Ruang administrasi 626,568 m2
4
Ruang perpustakaan dan tata
bahasa 396,06 m2
5 Ruang pangelaran seni
91
No Ruangan Luas m2
Ruang pertunjukan 943,3336 m2
Ruang pameran 1456,8576 m2
7 Restoran khas Sul-Sel 633,3536 m2
8 Ruang penjualan 299,0636 m2
9 Ruang kelas kursus 402,336 m2
10 Ruang servis 10.230,3312 m2
Total 15.388,85273 m2
Di bulatkan 15.400 m2
Sumber : Analisis Penulis, 2020
92
7. Zoning ruang
Bentuk perencanaan untuk sonasi ruang yang akan diterapkan pada bangunan gedung pusat kebudayaan.
Gambar 5 9. Pola Organisasi Ruang Sumber: Analisis Penulis, 2020
C. Analisis Penampilan Bentuk Bangunan
Bentuk dan tampilan bangunan berdasarkan pertimbangan dari kondisi lahan, studi banding, dan sesuai konsep arsitektur yang di terapkan yaitu arsitektur Post modern.
Bentuk perencanaan pusat kebudayaan ini menggunakan 2 bentuk, dalam arsitektur modern menpunyai aliran yang di gagas oleh Charles Jencks dalam bukunya yang sala satunya adalah aliran model Dekonstruksi.
93
Dalam penampilan bentuk bangunan pusat kebudayaan ini menggunakan material yang terbaru dan modern, untuk bentuk bangunan menggunakan konsep arsitektur dekonstruksi yang bentuknya tidak beraturan .
Gambar 6 0. Gambaran Konsep Bentuk Sumber: Analisis Penulis, 2020
94
D. Analisis Kelengkapan Bangunan 1. Sistem Struktur
Sistem struktur pada bangunan ini akan dibagi menjadi 2 bagian yaitu sub struktur, dan upper struktur, untuk struktur atas bangunan menggunakan 2 struktur yaitu, struktur beton bertulang dan struktur Space rame
a) Sub Struktur
Adalah struktur yang berperan pada bagian bawa bangunan yaitu bagian dasar tanah, struktur bawah tanah menahan semua beban dari atas lalu di salurkan ke tanah, struktur tersebut ialah, pile cap dan foot plat.
Gambar 6 1. foot plat, tiang pancang
Sumber: google.com/search?q=gambar+tiang+pancang&safe
b) Upper Struktur
Adalah struktur yang berperang menyalurkan beban dari atas atau kebawa, struktur ini sangat penting karna bagian dari badan bangunan, struktur ini berada diatas atap dan badan bangunan seperti, kolom, balok, plat dan atap benton atau atap space rame.
95 Gambar 6 2. Upper struktur
Sumber: struktur%20beton%20bertulang&tbm.html
Gambar 6 3. Spaceframe Sumber: famoussteel. with-etfe-membrane-
structure-or-glass-covers.html
2. Sistem Penataan Ruang Luar a) Soft material
1. Jenis pohon
▪ Pohon pucuk merah, yang berfungsi sebagai tanaman hiasa di sekitar bangunan dan mempunyai unsur estetika yang menarik.
▪ Pohon Palm raja, yang berfungsi sebagai pengarah dan peneduh.
▪ Pohon glodokan, yang berfungsi sebgai pohon peneduh dan tanaman tepi.
▪ Pohon tanjung, berfungsi sebagai pohon pelindung dan mempunyai unsur estetika.
96
2. Jenis Perdu
▪ Leekwanyew yang berfungsi sebagai tanaman rambat dan membuat suasana menjadi lokasi menjadi rindam.
▪ Rumput swiss dan gajah yang menghiasi taman dan lahan yang terbuka.
▪ Bunga lavender, berfungsi sebagai bunga tepi di samping sungai agar mengurangi nyamuk pada lokasi .
b) Hard material
1) Paving block dan rabat beton dekoratif sebagai jalan pada pedestrian dan parkiran.
2) Aspal digunakan pada area jalan bagian luar
3) Lampu taman dan lampu sorot sebagai estetika pencahayaan area pusat kebudayaan pada malam hari.
3. Sistem Penghawaan
Sistem penghawaan merupakan proses pertukaran udara luar dan dalam bangunan sehingga ruangan terasa nyaman. Penghawaan pada perencanaan bangunan ini menggunakan 2 sistem penghawaan.
a) Penghawaan alami
Merupakan proses pertukaran udara di dalam bangunan dengan udara luar bangunan melalui jendela dan ventilasi.
b) Penghawaan Buatan
Merupakan penghawaan eloktronik seperti AC dan kipas angin agar menetralisir penghawaan udara yang panas.
Penghawaan buatan digunakan pada ruang yang tidak mampu memanfaatkan udara alami.
97
4. Sistem Pencahayaan
Sistem pencahayaan perancangan pusat kebudayaan ini menggunakan 2 sistem pencahayaan yaitu, pencahyaan alami dan pencahayaan buatan, dalam perencanaan pusat kebudayaan ini akan memaksimalkan untuk menggunakan pencahayaan alami agar menghemat tenaga listrik.
a) Pencahayaan Alami
Pencahayaan alami akan menggunakan pencahayaan sinar matahari, dalam merancang pusat kebudayaan ini akan memaksimalkan untuk membuat bukaan setiap ruangan agar dapat
Pencahayaan alami akan menggunakan pencahayaan sinar matahari, dalam merancang pusat kebudayaan ini akan memaksimalkan untuk membuat bukaan setiap ruangan agar dapat