• Tidak ada hasil yang ditemukan

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HUKUM DAN PERADILAN

DAN PELATIHANBAGIAN KEEMPAT

B. PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HUKUM DAN PERADILAN

Pusat Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Peradilan (Puslitbang Kumdil) Mahkamah Agung RI sesuai dengan Peraturan Presiden RI No.13 Tahun 2005 tentang Sekretaris Mahkamah Agung dan Keputusan Sekretaris Mahkamah Agung No. MA/Sek/07/SK/III/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Mahkamah Agung RI mempunyai tugas melaksanakan penelitian dan pengembangan hukum dan peradilan, kerjasama antar lembaga di dalam dan luar negeri.

Bidang penelitian dewasa ini mendapat prioritas, terutama bagi Mahkamah Agung yang sedang melakukan perubahan dan peningkatan kinerja. Secara garis besar, proses penelitian pada umumnya melalui langkah-langkah sebagai berikut:

a. Mencari permasalahan yang pantas untuk diteliti;

b. Menelaah buku-buku untuk mencari dukungan teori dengan cara membaca buku-buku teori maupun laporan hasil penelitian dari hasil telaah ini, peneliti menentukan langkah untuk terus atau harus menghentikan penelitiannya;

c. Meninjau kembali rumusan serta menetapkan problematika dan dilanjutkan dengan merumuskan tujuan dan hipotensis penelitian (jika perlu);

d. Menyusun instrumen pengumpul data; e. Melaksanakan penelitian;

AN TAHUNAN M AHK A M AH A GUNG RI - TAHUN 2007 g. Mengambil kesimpulan;

h. Menyusun laporan penelitian dan naskah akademis.

Puslitbang Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung RI dalam tahun anggaran 2007 ini telah berupaya untuk melaksanakan kegiatan disesuaikan dengan adanya pemotongan anggaran sebesar 70%, dengan tugas-tugas dan fungsinya yaitu mengadakan penelitian dan pengembangan hukum serta studi banding bagi para hakim di seluruh lingkungan peradilan baik itu dilakukan di dalam negeri maupun di luar negeri, yaitu:

1. Jenis Penelitian dan Pelaksanaan Kegiatan 1.1. Program Penelitian Mediasi

Penelitian bertujuan menggali dan memahami lebih jauh mengenai apa yang harus dilakukan oleh seorang hakim dalam mengupayakan perdamaian sebagaimana yang diatur dalam pasal 130 HiR/154 Rbg dengan berpedoman dengan PERMA No. 2 tahun 2003. Penelitian ini juga bertujuan untuk lebih memahami kendala-kendala yang dihadapi oleh hakim dalam menerapkan PERMA No. 2 tahun 2003

tersebut dalam rangka mengembangkan akses masyarakat pada keadilan, yang pada akhirnya juga dapat membantu mengurangi perkara kasasi masuk ke Mahkamah Agung. Dalam proses penelitian tersebut juga dilakukan Sosialisasi Perma No. 2 Tahun 2003 dan informasi data jumlah perkara yang berhasil diselesaikan melalui proses mediasi. Dengan daerah penelitian: Jayapura, Denpasar, Mataram, Pontianak dan Palangkaraya.

1.2. Program Penelitian Traffiking Perdagangan Manusia

Fenomena perdagangan orang di Indonesia sejak krisis yang lalu, diduga semakin meningkat tidak saja terbatas untuk tujuan prostitusi atau eksploitasi seksual orang, melainkan juga meliputi bentuk-bentuk eksploitasi lain, seperti kerja paksa dan praktik menyerupai perbudakan di beberapa wilayah sektor informal, termasuk kerja domestik dan mempelai pesanan. Masalah tindak pidana perdagangan orang merupakan hal yang baru lagi masyarakat maupun para penegak hukum di Indonesia. Oleh karena itu penelitian yang dilakukan oleh Puslitbang Kumdil MARI bersifat eksplorasi yaitu suatu penelitian yang dilakukan didalam rangka untuk mengetahui dan menggali serta mencari tahu apa yang dimaksud dengan Tindak Perdagangan Orang dan faktor-faktor apa yang menyebabkan meningkatnya kejahatan traffiking manusia ini dan penanganan yang seharusnya dilakukan, khususnya oleh Hakim-Hakim di Indonesia. Dan penelitian tersebut juga disosialisasikan wawasan yang berkaitan dengan perdagangan orang. Daerah-daerah rawan dan strategi penanggulangannya – sosialisasi diberikan oleh para Nara Sumber. Dengan daerah penelitian: Makassar, Gorontalo, Samarinda, Medan dan Kupang.

Peserta ToT Pelatihan Pedoman Perilaku Hakim sedang terlibat dalam sesi interactive yang disampaikan oleh Inspirit.

AN TAHUNAN M AHK A M AH A GUNG RI - TAHUN 2007

1.3. Program Penelitian Hubungan Industrial

Perbedaan pendapat antara pengusaha dan pekerja/buruh menimbulkan perselisihan hubungan industrial yang diselesaikan oleh Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 2 tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial telah menggantikan Undang-Undang No. 22 tahun 1957 tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan dan Undang-Undang No.12 tahun 1964 tentang Pemutusan Hubungan Kerja.

Keberadaan Pengadilan Hubungan Industrial menurut Undang-Undang No. 2 tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial diharapkan mampu mengakomodir perkembangan di bidang ketenagakerjaan khususnya perselisihan antara buruh/pekerja dengan pengusaha.

Sebelumnya Undang-Undang No. 22 tahun 1957 digunakan sebagai landasan hukum untuk menyelesaikan perselisihan hak dan perselisihan kepentingan secara kolektif. Sedangkan hak-hak pekerja/buruh perorangan belum terakomodasi untuk menjadi pihak dalam perkara.

Berdasarkan hal-hal tersebut penelitian yang dilakukan oleh Puslitbang untuk mengetahui bagaimana penyelesaian / penanganan perselisihan antara pekerja/buruh dengan pengusaha berdasarkan UU No. 2 tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial yang dilakukan oleh Hakim. Dengan daerah penelitian: Bandung, Pekanbaru, Jayapura, Pontianak dan Banjarmasin.

1.4. Program Penelitian Undang-Undang Terorisme

Bahwa kebijakan pemerintah RI untuk membentuk perangkat perundang-undangan

pemberantasan terorisme sudah barang tentu tidak dapat dipisahkan dengan memperhatikan:

1) Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 1438 tahun 2002 yang mengutuk sekeras-kerasnya peledakan bom Bali;

2) Resolusi No. 1373 tahun 2001 yang menyerukan kepada semua negara untuk bekerjasama mendukung dan membantu pemerintah RI untuk mengungkap semua pihak yang terkait dengan peristiwa peledakan bom Bali dan membawanya ke pengadilan.

Dalam menanggapi resolusi tersebut pemerintah RI telah mengeluarkan peraturan pengganti undang-undang (PERPU dan Undang-Undang), yaitu:

1) UU no. 15 tahun 2003 tentang penetapan Peraturan Pemerintah pengganti UU no. 1 tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi Undang-undang; 2) UU RI no. 16 tahun 2003 tentang Penetapan

Peraturan Pemerintah pengganti UU no. 2 tahun 2002 tentang Pemberlakuan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No. 17 tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, pada peristiwa peledakan bom Bali tanggal 12 Oktober 2002 menjadi undang-undang;

3) Perpu no. 1 tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Beberapa pertimbangan yang dimuat dalam peraturan-peraturan tersebut adalah bahwa terorisme telah menghilangkan nyawa dan tanpa memandang korban dan menimbulkan ketakutan masyarakat secara luas atau hilangnya kemerdekaan serta kerugian harta benda. Oleh sebab itu perlu diambil langkah-langkah pemberantasannya dan juga terorisme mempunyai jaringan yang luas sehingga merupakan ancaman terhadap perdamaian dan keamanan nasional maupun internasional. Selain

AN TAHUNAN M AHK A M AH A GUNG RI - TAHUN 2007

C. PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Dokumen terkait