• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Analisis

Sesuai dengan tugas bidang pendayagunaan dan pelayanan data berdasarkan Permendikbud 11/2015, salah satunya adalah melaksanakan pendayagunaan data dan statistik pendidikan dan kebudayaan. (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015). Pendayagunaan data merupakan suatu cara untuk melakukan eksplorasi terhadap hasil produksi data berdasarkan pada perkembangan pembangunan pendidikan, kebutuhan pimpinan, atau permintaan data. Pendayagunaan data adalah kegiatan yang bersifat aktif dalam melakukan eksplorasi data. Untuk melakukan eksplorasi dituntut adanya kreativitas dan kepekaan yang tinggi dari para personilnya sehingga dapat selalu memberikan informasi yang relevan kepada pimpinan maupun masyarakat berkenaan dengan pengenalan arah dan permasalahan dunia pendidikan.

Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dan sebagainya) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab-musabab, duduk perkaranya, dan sebagainya). Analisis juga berarti penjabaran sesudah dikaji sebaik-baiknya dan pemecahan persoalan yang dimulai dengan dugaan

akan kebenarannya. (http://kbbi.web.id/analisis

)

.

Untuk dapat mendayagunakan data yang ada diperlukan kemampuan dalam melakukan analisis dan sintesis data maupun interpretasi data. Kemampuan tersebut harus dimiliki oleh semua personil di lingkungan unit kerja yang menangani pendataan. Oleh karena itu, analisis adalah kemampuan dalam mencari keterkaitan antarvariabel data pendidikan sehingga dapat tercipta

informasi-informasi baru yang relevan dengan tujuan pembinaan,

penyelenggaraan, dan program pembangunan pendidikan. Sintesis data adalah kemampuan dalam mencari keterkaitan antara variabel data pendidikan dengan data nonpendidikan. (Kintamani, 2009).

Analisis merupakan komponen pendataan pendidikan agar dihasilkan data yang berkualitas dan mengetahui apakah terdapat permasalahahan dalam pendidikan. Oleh karena itu, analisis keuangan yang disajikan pada lembaga internasional ini sangat diperlukan agar diketahui tentang masalah pendidikan dilihat dari keuangan pendidikan yang dialokasikan masing-masing program dan berapa besarnya dana yang dialokasikan oleh daerah untuk pendidikan.

B. Data, Informasi, dan Indikator

Data adalah keterangan yang benar dan nyata, misalnya pengumpulan data adalah untuk memperoleh keterangan tentang sesuatu hal. Data juga berarti keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian (analisis atau simpulan). Digital data yang berhubungan dengan angka untuk sistem perhitungan tertentu, data kualitatif adalah data tidak berbentuk angka yang

diperoleh dari rekaman, pengamatan, wawancara, atau bahan tertulis; data kuantitatif adalah data berbentuk angka yang diperoleh dari perhitungan data

kualitatif. (http://kbbi.web.id/data

)

.

Dalam penggunaan sehari-hari data berarti suatu pernyataan yang diterima secara apa adanya. Pernyataan ini adalah hasil pengukuran atau pengamatan suatu variabel yang bentuknya dapat berupa angka, kata-kata, atau citra. (wikipedia.org/wiki/data).

Secara teknis, data lebih berkaitan dengan pengumpulannya secara empiris. Dengan demikian, data merupakan satuan terkecil yang diwujudkan dalam bentuk angka, huruf atau simbol yang menggambarkan nilai suatu variabel tertentu sesuai dengan kondisi empiris di lapangan. Angka, huruf atau simbol tersebut sering disebut sebagai data mentah atau besaran yang belum menunjukkan suatu ukuran terhadap suatu konsep atau gejala tertentu. Besaran data tersebut belum memiliki arti apa pun jika belum dilakukan pengolahan atau analisis lebih lanjut. Data tidak memiliki acuan konseptual apa pun tanpa dilakukan pengolahan menjadi informasi. (Kintamani, 2009).

Sebaliknya, informasi adalah penerangan; pemberitahuan; kabar atau berita tentang sesuatu, keseluruhan makna yang menunjang amanat yang terlihat dalam bagian-bagian amanat itu. Informasi pendidikan adalah keterangan tentang jenis pendidikan yang tersedia, misalnya tentang syarat memasuki sekolah, lama pendidikan, fasilitas yang tersedia, tata tertib, dan kegiatan

ekstrakurikuler. (http://kbbi.web.id/informasi

)

.

Secara teknis, informasi adalah data yang telah diproses atau data yang telah memiliki arti. Informasi lebih berkaitan dengan pengolahan atau hasil pengolahan data. Informasi tidak mungkin dihasilkan tanpa adanya data. Perubahan data menjadi informasi dilakukan oleh pengolah informasi. Dengan demikian, data dan informasi saling berkaitan karena dengan adanya data maka seseorang bisa menjadi informasi bagi orang lain. Data dan informasi tidak dapat dipisahkan dan bahkan saling bergantung satu sama lain. Data dan informasi merupakan dua konsep yang berlainan baik secara konsep maupun secara teknis, namun keduanya berkaitan sangat erat. Informasi adalah data yang telah diberi makna melalui konteks. (Kintamani, 2009). Sebagai contoh, dokumen berbentuk spreadsheet (semisal dari Microsoft Excel) seringkali digunakan untuk membuat informasi dari data yang ada di dalamnya. Laporan laba rugi dan neraca merupakan bentuk informasi, sementara angka-angka di dalamnya merupakan data yang telah diberi konteks sehingga menjadi punya makna dan manfaat. (wikipedia.org/wiki/informasi).

Seperti halnya, data dan informasi maka data dan indikator juga merupakan dua konsep yang berlainan baik secara konsep maupun secara teknis, namun keduanya berkaitan sangat erat. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, data berarti keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian. (http://kbbi.web.id/data

).

Indikator adalah sesuatu yang dapat memberikan menjadi petunjuk atau keterangan. Contoh indikator adalah seseorang yang akan melakukan suatu pekerjaan sebaiknya menggunakan bahan yang sudah

ada; kenaikan harga dapat menjadi adanya inflasi. (http://kbbi.web.id/indikator). Jadi, bila data lebih berkaitan dengan pengumpulannya maka indikator lebih berkaitan dengan pengolahan atau hasil pengolahan. Besaran data tersebut belum memiliki arti apa pun jika belum dilakukan pengolahan atau analisis lebih lanjut dalam bentuk indikator.

Secara teknis, indikator merupakan suatu konsep dan sekaligus ukuran. Sebagai suatu konsep, indikator merupakan besaran kuantitatif mengenai suatu konsep tertentu yang dapat digunakan untuk mengukur proses dan hasil atau dampak dari suatu instrumen kebijakan. Sebagai ukuran kuantitatif, indikator merupakan besaran dari suatu konsep atau gejala tertentu sebagai hasil pengolahan dari dua satuan data atau lebih dalam waktu yang bersamaan. Secara sederhana, indikator juga didefinisikan sebagai perbandingan antara dua atau lebih variabel sehingga dapat diinterpretasikan. (Kintamani, 2009).

Bila dikaitkan dengan pendidikan maka indikator pendidikan dapat digunakan untuk mengukur proses dan hasil pendidikan atau dampak dari suatu instrumen kebijakan di bidang pendidikan. Selanjutnya, bila digunakan indikator keuangan maka dapat diukur sejauh mana keuangan tersebut dapat meningkatkan pendidikan. Dengan demikian, data dan indikator pendidikan tidak dapat dipisahkan dan bahkan saling bergantung satu sama lain. Indikator pendidikan tidak mungkin dihasilkan tanpa adanya data pendidikan. Sebaliknya, data pendidikan tidak memiliki acuan konseptual apa pun tanpa dilakukan pengolahan data pendidikan menjadi indikator pendidikan. Besaran indikator pendidikan ini merupakan sesuatu yang berguna karena dapat dijadikan ukuran yang standar dari strategi kebijakan pendidikan, yaitu meningkatkan ketersediaan layanan, memperluas keterjangkauan layanan, meningkatkan kualitas layanan, memperluas kesetaraan layanan, dan menjamin kepastian layanan.

Dengan demikian, data, informasi, dan indikator keuangan yang disajikan telah sesuai dengan istilah Kbbi Daring, sesuai istilah teknis, dan telah disesuaikan dengan kebutuhan data lembaga internasional.

C. Klasifikasi Belanja Daerah

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13, Tahun 2006 tentang Penerapan Standar Akuntasi Pemerintah Berbasis Akrual pada Pemerintah Daerah (Permendagri 13/2006), pada Lampiran 4 terdapat dua jenis belanja, yaitu belanja tidak langsung dan belanja langsung. (Kementerian Dalam Negeri, 2006).

Belanja tidak langsung merupakan belanja pegawai, belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan sosial, belanja bagi hasil kepada Provinsi, Kabupaten/Kota, dan desa serta belanja tak terduga. Selain itu, terdapat tunjangan perbaikan penghasilan (TPP) untuk tambahan penghasilan PNS seperti berdasarkan prestasi kerja, tempat bertugas, kondisi kerja, dan kelangkaan profesi. (Kementerian Dalam Negeri, 2011).

Belanja langsung merupakan belanja daerah yang terkait langsung dengan program atau kegiatan. Termasuk dalam kelompok belanja langsung adalah belanja pegawai, belanja barang dan jasa, dan belanja modal.

Berdasarkan Permendagri 13/2006 maka dalam analisis keuangan ini juga digunakan belanja tidak langsung dan langsung yang dirinci dengan lebih rinci dari yang disebutkan dalam Permendagri tersebut. Belanja tidak langsung terkait dengan gaji dan tunjangan sedangkan langsung terkait dengan program-program pendidikan. Dengan demikian, belanja yang dianalisis telah sesuai dengan Permendagri.

D. Satuan Kerja Perangkat Daerah

Berdasarkan Permendagri 13/2006 maka Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang. Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah yang selanjutnya disingkat SKPKD adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang, yang juga melaksanakan pengelolaan keuangan daerah. (Kementerian Dalam Negeri, 2006).

Dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, Gubernur dan Wakil Gubernur dibantu oleh Perangkat Daerah yang meliputi Sekretariat Daerah, Sekretariat DPRD, Dinas Daerah, dan Lembaga Teknis Daerah. Secara umum perangkat daerah atau sering disebut dengan SKPD bertugas membantu penyusunan kebijakan, koordinasi, dan pelaksanaan kebijakan yang menjadi urusan daerah. SKPD di se23 Kabupaten/Kota dan kabupaten/kota bisa berbeda baik dalam jumlah maupun materinya. Contoh SKPD Provinsi Jawa Tengah sebanyak 52 SKPD dan meliputi 1) Inspektorat, 2) Biro Bangda, 3) Biro Bina Sosial, 4) Biro Humas, 5) Biro Keuangan, 6) Biro Hukum, 7) Biro Organisasi dan Kepegawaian, 8) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, 9) Badan Koordinasi Wilayah I, 10)

Badan 11) Koordinasi Wilayah II, 12) Badan Koordinasi Wilayah III, 13) Badan

Lingkungan Hidup, 14) Badan Penanaman Modal Daerah, 15) Badan Arsip dan Perpustakaan, 16) Badan Ketahanan Pangan, 17) Badan Pendidikan dan Pelatihan, 18) Badan Penelitian dan Pengembangan, 19) Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana, 20) Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, 21) Badan Kepegawaian Daerah, 22) Badan Penanggulangan Bencana Daerah, 23) Dinas Kesehatan, 24) Dinas Sosial, 25) Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Kependudukan, 26) Dinas Pemuda dan Olah Raga, 27) Dinas Perindustrian dan Perdagangan, 28) Dinas Koperasi dan UMKM, 29) Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Aset Daerah, 30) Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air, 31) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, 32) Dinas Bina Marga, 33) Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang, 34) Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral, 35) Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika, 36) Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura, 37) Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, 38) Dinas Kehutanan, 39) Dinas Kelautan dan Perikanan, 40)

Dinas Pendidikan, 41) Dinas Perkebunan, 42) Sekretariat Komisi Penyiaran Indonesia Daerah, 43) Sekretariat Komisi Informasi Provinsi Jawa Tengah, 44) Sekretariat Badan Koordinasi Penyuluhan, 45) Kantor Perwakilan RSUD Dr. Moewardi, 46) RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, 47) RSUD Kelet Jepara, 48) RSJD Dr. Amino Gondohutomo, 49) RSJD Surakarta, 50) RSJD Sujarwadi, 51) RSUD

Tugurejo, dan 52) Satuan Polisi Pamong Praja. (http://jatengprov.go.id/id/

pemerintahan/satuan-kerja-perangkat-daerah

)

.

SKPD adalah perangkat Pemerintah Daerah (Provinsi maupun

Kabupaten/Kota) di Indonesia. SKPD adalah pelaksana fungsi eksekutif yang harus berkoordinasi agar penyelenggaraan pemerintahan berjalan dengan baik. Dasar hukum yang berlaku sejak tahun 2004 untuk pembentukan SKPD adalah Pasal 120 Undang-Undant Nomor 32, Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

(

wikipedia.org/wiki/Satuan_Kerja_Perangkat_Daerah).

Kewenangan daerah yang besar dalam mengelola keuangan daerah tentu memiliki dampak yang lebih baik terhadap pertumbuhan ekonomi daerah tersebut. Dalam melihat tingkat pertumbuhan ekonomi suatu daerah, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu indikator yang menjadi ukuran keberhasilan pembangunan ekonomi daerah tersebut. Semakin tinggi tingkat pertumbuhan ekonomi suatu daerah, dapat dikatakan bahwa daerah tersebut mencapai tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih baik. Berdasarkan hasil analisis regresi terlihat bahwa pengaruh Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung tidak begitu kuat (tidak signifikan) terhadap PDRB. http://www.djpk.kemenkeu.go.id/data-series/data-keuangan-daerah. 1. SKPD Dinas Pendidikan Provinsi

Data dan informasi dari SKPD Provinsi diambil dari semua provinsi (34 provinsi) mengenai data keuangan yang berasal dari belanja pendidikan dari APBD provinsi untuk Dinas Pendidikan Provinsi. Data keuangan tersebut berasal dari DPA SKPD Dinas Pendidikan Provinsi yang berisi belanja pendidikan yang terdiri dari dua komponen, yaitu belanja tidak langsung dan belanja langsung. Belanja tidak langsung dirinci menurut jenis belanja, yaitu gaji dan tunjangan, tambahan penghasilan PNS, dan insentif pemungutan retribusi. Belanja langsung dirinci menurut jenis program yang terdiri dari 16 program dan tipe belanja, yaitu belanja pegawai, belanja barang dan jasa, dan belanja modal.

2. SKPD Kabupaten/Kota

Data dan informasi dari SKPD Kabupaten/Kota diambil dari 23 kabupaten/kota sampel mengenai data keuangan yang berasal dari APBD kabupaten/kota untuk Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Seperti halnya provinsi maka data keuangan tersebut berasal dari DPA SKPD Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota yang berisi belanja pendidikan yang terdiri dari dua komponen, yaitu belanja tidak langsung dan belanja langsung. Belanja tidak langsung dirinci

menurut jenis belanja gaji dan tunjangan, tambahan penghasilan PNS, dan insentif pemungutan retribusi. Belanja langsung dirinci menurut jenis program yang terdiri dari 16 program dan dirinci menjadi tipe belanja pegawai, belanja barang dan jasa, dan belanja modal.

BAB III METODOLOGI A. Metode

Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan Analisis Data Pendidikan untuk Lembaga Internasional (WEI, OECD, UNESCO) 2016 ini menggunakan dua jenis pendekatan, yaitu 1) studi dokumentasi atau kepustakaan dan 2) survai.

Studi dokumentasi atau kepustakaan, yaitu melakukan studi melalui dokumentasi atau bahan-bahan tertulis seperti buku kepustakaan atau bahan yang tersedia di lingkungan Kemdikbud. Dokumentasi tersebut berupa data dan informasi yang tersedia di statistik pendidikan, kurikulum pendidikan, peta program pendidikan, pengkalan data pendidikan, pedoman maupun berbagai karya ilmiah penelitian lainnya mengenai data pendidikan. Selain itu, melakukan studi dokumentasi yang dimiliki oleh Kementerian lainnya seperti Kemenristek Dikti yang menyangkut statistik dan data keuangan, Kemenag yang menyangkut pendidikan seperti statistik madrasah dan data keuangan, Kementerian Keuangan terkait dengan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) berdasarkan fungsi. (Arikunto, 2010).

Survai dilaksanakan ke lapangan adalah studi yang mengambil data dari satu populasi mapun sampel dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang pokok. Salah satu keuntungan yang diperoleh dari penggunaan survai adalah hasil studi ini dapat dilakukan generalisasi dari sampel terhadap populasi. Populasi yang dimaksud adalah 34 SKPD Dinas Pendidikan Provinsi dan 504 SKPD Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. Untuk provinsi maka digunakan semua populasi, sedangkan untuk kabupaten/kota diambil sampling menggunakan metode purposif (sampel bertujuan) sehingga ditemukan 23 kabupaten/kota karena disesuaikan dengan dana yang tersedia dalam melakukan kompilasi data ke lapangan. (Moleong, 2001).

Pelaksanaan survai dilakukan dengan dua cara, yaitu melakukan wawancara dan penyebaran kuesioner khusus keuangan menggunakan format yang telah disiapkan oleh PDSPK, Kemendikbud. Kuesioner tersebut telah melalui uji coba dan perbaikan yang dilaksanakan sebelumnya. Pelaksanaan survai di lapangan ditujukan kepada tiga orang petugas di setiap Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota yang menjadi responden survai. (Gulo, 2002).

Teknik kompilasi data dilaksanakan dengan menggunakan kuesioner untuk menjaring data sekunder yang meliputi data keuangan yang terdiri dari dua hal, yaitu belanja tidak langsung dan belanja langsung dan dirinci menurut jenis pendidikan serta jenis belanja. Wawancara dilakukan kepada Ketua Kelompok Pendataan Pendidikan atau Kepala Subbag Program dengan didampingi oleh dua orang sebagai responden yang pada pelaksanaannya adalah mereka yang mengisi kuesioner keuangan.

Analisis data yang digunakan untuk menjawab tujuan penelitian tentang penyusunan Analisis Data Pendidikan untuk Lembaga Pendidikan Internasional (WEI, OECD, UNESCO) 2016 adalah analisis deskriptif yang ditujukan untuk menjelaskan data keuangan dari belanja pendidikan SKPD Dinas Pendidikan Provinsi dan SKPD Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota sampel dan perkembangan data keuangan SKPD Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota sampel.

Penyajian data menggunakan tabel dan grafik sehingga memudahkan dalam memahami kajian yang telah disusun.

B. Deskripsi Data

Untuk memenuhi analisis keuangan dari belanja pendidikan maka pada tahun 2016 dikumpulkan data keuangan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota melalui SKPD Dinas Pendidikan Provinsi dan SKPD Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota sampel. Instrumen yang digunakan untuk menjaring data keuangan tersebut disesuaikan dengan program-program yang ada pada SKPD Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota. (Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan, 2016b).

Bahan yang dikumpulkan dari SKPD Dinas Pendidikan Provinsi semua provinsi dan Dinas Pendidikan 23 kabupaten/kota sampel menjaring data belanja pendidikan tahun 2015 dan 2016. Data keuangan dari belanja pendidikan pada dasarnya terdiri dari dua jenis belanja, yaitu belanja tidak langsung dan belanja langsung. (Kementerian Dalam Negeri, 2006).

Belanja tidak langsung dirinci menjadi tiga jenis belanja, yaitu: 1. Gaji dan tunjangan,

2. Tambahan penghasilan pegawai negeri sipil (PNS), dan

3. Insentif pemungutan retribusi. (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015a).

Gaji dan tunjangan dirinci menjadi 10 item, yaitu 1) gaji pokok PNS/uang representasi, 2) tunjangan keluarga, 3) tunjangan jabatan, 4) tunjangan fungsional tertentu, 5) tunjangan fungsional umum, 6) tunjangan beras, 7) tunjangan PPH khusus, 8) pembulatan gaji, 9) iuran asuransi kesehatan dan uang duka wafat/tewas, dan 10) gaji guru. Namun, untuk provinsi hanya menggunakan 9 jenis karena gaji guru tidak ada di provinsi, sedangkan kabupaten/kota sampel menggunakan 10 jenis tersebut.

Tambahan penghasilan PNS, juga ditentukan sebanyak 8 item, yaitu 1) tambahan penghasilan berdasarkan beban kerja, 2) tambahan penghasilan berdasarkan tempat bertugas, 3) tambahan penghasilan berdasarkan prestasi kerja, 4) tambahan penghasilan berdasarkan pertimbangan objektif dan bersyarat, 5) sertifikasi profesi guru SD, 6) tambahan penghasilan PNS guru, 7) tambahan penghasilan guru PNSD, dan 8) uang kesejahteraan pegawai. Namun, untuk provinsi hanya menggunakan 7 jenis karena tak ada tambahan penghasilan sertifikasi profesi guru SD di provinsi, sedangkan kabupaten/kota sampel menggunakan 8 jenis tersebut.

Insentif pemungutan retribusi tidak semua provinsi maupun kabupaten/kota sampel memiliki program ini.

Belanja langsung dirinci menurut program berlaku untuk provinsi dan kabupaten/kota yang terdiri dari 16 jenis, yaitu:

1. Program pelayanan administrasi perkantoran

2. Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur 3. Program peningkatan disiplin aparatur

4. Program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur

5. Program peningkatan pengembangan sistem pelaporan capaian kinerja dan keuangan

6. Program pendidikan anak usia dini (PAUD)

7. Program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun (Wajar Dikdas 9 Th) 8. Program pendidikan menengah (dikmen)

9. Program pendidikan nonformal (PNF)

10. Program pendidikan luar biasa/PK dan PLK (PK dan PLK)

11. Program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan (mutu PTK) 12. Program manajemen pelayanan pendidikan

13. Program kepemudaan dan olahraga 14. Program kebudayaan

15. Program perguruan tinggi

16. Lainnya (yang tidak ada dalam 15 program di atas). (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015a).

Pada tahun 2016 dikumpulkan data untuk semua SKPD Dinas Pendidikan Provinsi dan 23 Dinas Pendidikan kabupaten/kota. Data keuangan SKPD Dinas Pendidikan Provinsi maupun Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota tahun 2015 dan 2016 semuanya tersedia untuk belanja tidak langsung maupun belanja langsung.

Ketika dilakukan pengolahan data tetap menggunakan tiga jenis belanja tidak langsung dan 16 program belanja langsung, namun terdapat beberapa program yang tidak semua provinsi maupun kabupaten/kota mengalokasikan belanja untuk program tersebut. Selain itu, Dinas Pendidikan Provinsi maupun Dinas Pendidikan kabupaten/kota masih ada yang membina PT, Pemuda dan Olahraga, maupun Kebudayaan, sedangkan di Pusat (Kemendikbud) hanya menangani pendidikan dasar dan menengah serta kebudayaan, sehingga program PT, Kepemudaan dan Olahraga, dan Kebudayaan masih disertakan dalam kuesioner tersebut walaupun pada kenyataannya belanja pendidikannya tidak besar.

Data pendukung lainnya seperti siswa hanya digunakan data pendidikan dasar dan menengah, yaitu untuk SD termasuk SDLB dan Paket A, untuk SMP termasuk SMPLB dan Paket B, untuk SM termasuk SMA, SMK, SMALB, dan Paket C. (Pusat Data dan Statistik Pendidikan, 2015 dan 2016a).

Data pendukung lainnya adalah APBD (berdasarkan fungsi) untuk beberapa provinsi tidak tersedia lengkap tahun 2015 dan 2016. Oleh karena itu, data APBD yang digunakan adalah data tahun 2014 dan 2015. Walaupun demikian, masih terdapat enam provinsi yang tidak diperoleh data APBD secara lengkap, yaitu Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat,

Sulawesi Tenggara, dan Bali (http://www.djpk.depkeu.id/). Khusus Provinsi DKI Jakarta APBD tahun 2014 maupun tahun 2015 diambil dari website Pemerintah Daerah DKI Jakarta. (http://apbd.jakarta.go.id).

C. Indikator Keuangan Pendidikan

Sesuai dengan data belanja pendidikan yang dikumpulkan di semua SKPD Dinas Pendidikan Provinsi dan 23 Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota sampel, beberapa indikator keuangan yang disajikan berikut ini dihasilkan dari pengolahan data yang dilakukan.

Berdasarkan data belanja pendidikan yang dikumpulkan maka diperoleh indikator keuangan provinsi dan rata-rata 23 kabupaten/kota sampel dari 15 provinsi di Indonesia. Analisis belanja pendidikan dirinci menjadi lima, yaitu 1) analisis belanja pendidikan provinsi tahun anggaran 2015 dan 2016, 2) analisis perkembangan belanja pendidikan provinsi tahun anggaran 2015--2016, 3) analisis belanja pendidikan 23 kabupaten/kota sampel tahun anggaran 2015 dan 2016, 4) analisis perkembangan belanja pendidikan 23 kabupaten/kota sampel tahun anggaran 2015—2016, dan 5) analisis keterkaitan perkembangan provinsi dan kabupaten/kota sampel.

Analisis keuangan dari belanja pendidikan provinsi tahun 2015 dan 2016 terdiri dari delapan indikator, yaitu

a. Persentase belanja pendidikan menurut komponen belanja (tidak langsung dan belanja langsung) (%BPkb).

b. Persentase belanja tidak langsung menurut jenis belanja (gaji dan tunjangan, tambahan penghasilan PNS, dan iuran pemungutan retribusi) (%BTLjb). c. Persentase belanja tidak langsung menurut provinsi (%BTLp).

d. Persentase belanja langsung menurut jenis program (16 jenis).

e. Persentase belanja langsung menurut tipe belanja (pegawai, barang dan jasa, dan modal) (%BLtb).

f. Persentase belanja langsung menurut jenis pendidikan (noninstitusi pendidikan, PAUD dan PNF, wajar dikdas dan dikmen, institusi lain, pemuda dan olahraga, dan kebudayaan) (%BLjp).

g. Rasio belanja pendidikan terhadap siswa dikdasmen (R-BP/Sdikdasmen). h. Persentase belanja pendidikan terhadap APBD (%BP/APBD). (Kementerian

Pendidikan dan Kebudayaan, 2015a).

Analisis perkembangan belanja pendidikan provinsi tahun 2015--2016 terdiri dari enam indikator, yaitu

a. Angka pertumbuhan komponen belanja (belanja tidak langsung dan langsung) (APBLkb).

b. Angka pertumbuhan belanja tidak langsung menurut jenis belanja. (APBTLjb). c. Angka pertumbuhan belanja langsung menurut tipe belanja (APBLtb).

d. Angka pertumbuhan belanja langsung menurut jenis pendidikan (APBLjp). e. Angka pertumbuhan rasio belanja pendidikan terhadap siswa dikdasmen

Dokumen terkait