BAB 2. TINJAUAN UMUM MENGENAI ANTI DUMPING
2.2. Sejarah dalam Kerangka Multilateral
2.2.4. Putaran Uruguay (The Uruguay Round)
Sementara itu perkembangan ekonomi dunia pada awal 1980-an yang diliputi oleh permasalahan-permasalahan yang semakin kompleks telah menimbulkan persaingan yang ketat di bidang perdagangan internasional. Beberapa praktik perdagangan yang tidak jujur, termasuk praktik dumping, semakin banyak digunakan sebagai langkah menghadapi persaingan ketat tersebut. Hal dirasakan kurang dapat diantisipasi oleh ketentuan-ketentuan dalam The Anti Dumping Code.
55Penggunaan ketentuan The Anti Dumping Code tersebut lebih banyak dimanfaatkan sebagai pengesahan tindakan anti dumping yang sesungguhnya dipakai sebagai alat proteksi terselubung untuk kepentingan perlindungan industri dalam negeri terutama di negara maju.
56Keadaan ini dianggap menghambat kelancaran arus perdagangan. Oleh karena itu selain perlu ada perbaikan dan perluasan mengenai aturan-aturan main dalam The Anti Dumping Code, juga perlunya suatu peningkatan disiplin terhadap aturan tersebut.
57Dalam Deklarasi Punta del Este,
58tidak secara eksplisit menyebutkan mandatnya mengenai perundingan masalah anti dumping. Perundingan masalah ini tercermin dari mandat yang diberikan untuk perundingan MTN agreement and arrangements yang dihasilkan dalam Putaran Tokyo. Mandat tersebut berbunyi sebagai berikut:
59Negotiation shall aim to improve, clarify, or expand, as
54 Terdapat 25 contracting parties yang menandatangani persetujuan ini. Mereka adalah Amerika Serikat, Australia, Austria, Brazil, Cekoslowakia, European Community (EC), Finlandia, Hong Kong, Hungaria, India, Jepang, Kanada, Korea, Meksiko, Mesir, Norwegia, Pakistan, Polandia, Rumania, Selandia Baru, Singapura, Spanyol, Swedia, Swiss, dan Yugoslavia. Raj Bhala, op. cit., hlm 826-827.
55 Lihat H.S Kertadjoemena, op. cit., hlm 170-172.
56 Secara dominan negara maju merupakan pengguna tindakan anti dumping sedangkan negara berkembang merupakan target dari tindakan anti dumping tersebut. Semenjak bulan Juli 1980 sampai bulan Juni 1988, terdapat hampir sekitar 1200 inisasi aksi anti dumping. Hal ini telah meningkatkan ketegangan antara Utara-Selatan. Lihat Peter Van Den Bossche, op. cit., hlm 515.
57 H.S Kertadjoemena, op. cit., hlm 170-172.
58 Deklarasi ini merupakan awal atau dasar dimulainya perundingan Putaran Uruguay. Deklarasi ini dikeluarkan pada bulan September 1986.
59 H.S Kertadjoemena op. cit., hlm 171.
appropriate, agreement and arrangements negotiated in the Tokyo Round of multilateral negotiation.
Kemudian, dalam perkembangan perundingan khususnya sidang Mid-Term Review di Montreal tahun 1988, dilakukanlah pertukaran pandangan dalam rangka identifikasi permasalahan baik yang terkait langsung dengan aturan The Anti Dumping Code maupun berbagai faktor di luar ketentuan The Anti Dumping Code yang dapat mempengaruhi pelaksanaan The Anti Dumping Code.
60Dalam pertukaran pandangan tersebut akhirnya teridentifikasilah berbagai macam permasalahan yang kini dihadapi oleh ketentuan anti dumping yang ada.
61Luasnya permasalahan yang teridentifikasi dalam sidang tersebut mencerminkan luasnya aspek yang kontroversial sehingga membuat perundingan anti dumping menjadi salah satu substansi yang paling sulit dilakukan di bidang rules.
62Di sisi lain, luas atau banyaknya permasalahan yang teridentifikasi menggambarkan betapa besarnya perhatian negara-negara peserta akan permasalahan anti dumping dan juga besarnya kepentingan negara-negara tersebut akan masalah anti dumping.
Perbedaan pandangan dan kepentingan yang besar diantara para negara peserta menjadikan perundingan masalah anti dumping sulit untuk mencapai kata sepakat. Suatu langkah akhirnya diambil oleh Ketua Kelompok Perunding untuk menyusun draft teks tersendiri yang akhirnya dimasukkan dalam Draft Final Act untuk keseluruhan substansi perundingan Putaran Uruguay. Draft yang baru ini mencoba untuk memperbaiki berbagai kesulitan mengenai interpretasi ketentuan dan penerapan The Anti Dumping Code yang dialami oleh berbagai negara, baik yang menyangkut pengalaman negara yang mempergunakan aturan anti dumping maupun negara yang ekspornya terkena tindakan anti dumping.
63
60 Ibid., hlm 172-173.
61 Masalah-masalah yang teridentifikasi antara lain: relevansi dari pengertian dumping dengan kenyataan banyaknya eksporir yang menghadapi ancaman tindakan anti dumping, perbaikan ketentuan besarnya bea masuk anti dumping, perbaikan ketentuan mengenai masa berlakunya suatu tindakan anti dumping, dll. Detailnya dapat dilihat di H.S Kertadjoemena, Ibid.,
62 Ibid., hlm 173.
63 Ibid., hlm 173-177.
Universitas Indonesia
Draft baru ini, selain mempertegas ketentuan yang sudah ada, juga mencoba mengatur ketentuan-ketentuan tertentu dalam suatu rumusan yang baru. Kemudian, ketentuan-ketentuan yang sebelumnya tidak dikenal dalam The Anti Dumping Code dicoba untuk diperkenalkan dalam draft ini.
64Draft teks ini juga menghendaki adanya notifikasi secepatnya terhadap semua tindakan anti dumping baik yang bersifat sementara (preliminary) ataupun yang sudah final kepada Committee on Anti Dumping Practices.
65Draft Final Act untuk keseluruhan substansi perundingan Putaran Uruguay telah dikeluarkan pada bulan Desember 1991. Namun demikian, menjelang akhir tahun 1993 ternyata Amerika Serikat kembali mengajukan usulan perubahan substansi atas draft perjanjian anti dumping.
66Negara berkembang pada umumya dan beberapa negara maju seperti Jepang dan Norwegia menolak pembahasan mengenai usulan Amerika Serikat ini. Namun atas tekanan pihak Amerika Serikat, akhirnya beberapa hal dari usulan tersebut kemudian diajukan ke sidang Head of Delegation untuk mendapat keputusan.
67Pada sidang Trade Negotiation Committee tanggal 15 Desember 1993, sebagai sidang terakhir dari proses negosiasi, teks perjanjiaan bidang anti dumping ini kemudian dimasukkan ke dalam Final Act. Isi perjanjian tersebut secara substantif tidak banyak berbeda dengan yang telah terurai dalam Draft Final Act, kecuali perubahan yang disepakati dalam sidang Head of Delegation untuk mengakomodasi kehendak Amerika Serikat.
68Dari beberapa penjelasan diatas, maka kemudian dapat dikatakan bahwa masalah anti dumping dalam Putaran Uruguay merupakan isu yang paling kontroversial dalam agenda perundingan. Posisi yang diambil oleh para peserta
64 Untuk detail ketentuan dengan rumusan baru dan juga ketentuan-ketentuan baru yang diatur dalam draft ini, lihat H.S Kertadjoemena, Ibid., hlm 178-179.
65 H.S Kertadjoemena, Ibid., hlm 179.
66 Ibid., Usulan Amerika Serikat ini meliputi 11 hal antara lain: standard or review, anti circumvention, sunset, standing, cummulation, start up, below cost sales test, termination of investigations, price averaging, dan profit for constructed value.
67 Ibid., hlm. 180.
68 Untuk jelasnya lihat H.S Kertadjoemena, Ibid., hlm 179-180.
sangat beragam.
69Perang kepentingan antar negara anggota membuat perjanjian di bidang anti dumping harus diakhiri dengan tindakan kompromis. Perjanjian baru mengenai anti dumping hasil dari Putaran Uruguay
70ini dapat dikatakan mewakili atau menggambarkan kompromi dari berbagai sudut pandang.
Walaupun perjanjian baru ini mengatur secara lebih detail permasalahan anti dumping dibandingkan dengan perjanjian sebelumnya,
71namun yang lebih dirasakan adalah besarnya tekanan kepentingan dari para negara peserta khususnya negara maju terutama Amerika Serikat agar perjanjian baru ini dapat memfasilitasi keinginan mereka. Kepentingan para negara peserta yang bertentangan, bahkan kadang berlawanan, akhirnya tergambarkan pada bahasa dari ketentuan dalam perjanjian tersebut yang dirasakan sangat ambigu dan tidak precise.
722.3 Anti Dumping dalam Kerangka WTO