BAB II DESKRIPSI TEORITIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL
2. Putus Sekolah
a. Meninggalkan pendidikan formal
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan manusia yang terpenting untuk kehidupannya di masa yang akan datang dan pendidikan adalah hak asasi manusia yang wajib diperoleh. Perkembangan dan kemajuan kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari perkembangan dunia pendidikan. Salah satu upaya untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan tersebut adalah melalui
pendidikan. Bahkan melalui pendidikan cita-cita bangsa dapat tercapai.
Seperti tercantum dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 ayat 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlikan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.28
Dengan pendidikan, setidaknya mampu menciptakan manusia yang mampu menolong dirinya sendiri di masa yang akan datang. Pendidikan menjadi hal yang terpenting dikalangan masyarakat namun berbeda dengan masyarakat yang melakukan pernikahan dini. Mereka menjadi lupa akan pentingnya dari pendidikan yang sebenarnya, padahal dalam membangun rumah tangga pendidikan sangat diperlukan untuk mereka yang akan menjalankan kehidupan sebagai orang tua.
Pentingnya pendidikan bagi masyarakat di Indonesia, terlihat pada program pemerintah yaitu wajib belajar 9 tahun pada pogram tersebut yang bertujuan agar anak-anak di Indonesia mendapatkan bekal untuk masa depan yang lebih baik. Keinginan untuk segera membebaskan anak-anak usia sekolah (7-15 tahun) dari ancaman buta huruf dan kemungkinan putus sekolah tampaknya masih belum bisa diwujudkan dalam waktu dekat. Kendati lewat program jaringan pengaman sosial pemerintah telah berupaya menyediakan beasiswa untuk membantu kelangsungan pendidikan siswa, khususnya yang berasal dari keluarga kurang mampu. Tetapi karena sifatnya struktural, maka angka siswa putus sekolah dan rawan putus sekolah diperkirakan angka tetap tinggi.29
Setidaknya melalui program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun diharapkan dapat mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan dasar yang perlu dimiliki semua warga negara sebagai bekal untuk dapat hidup dengan layak di masyarakat.
28
Alisuf Sabri, Pengantar Ilmu Pendidikan, ( Ciputat : UIN Jakarta Press 2005 cet.1) h.93
29
Namun pemerintah mulai tahun 2012, “merintis terwujudnya
wajib belajar 12 tahun.sebagai langkah awal, siswa SMA/SMK juga bakal mendapat kucuran dana bantuan operasional sekolah seperti yang selama ini diberikan kepada siswa jenjang pendidikan dasar SD dan SMP”.30
Kebijakan tersebut pun agar anak-anak Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak. Selain itu dengan adanya program pendidikan ini, angka pernikahan dini bisa ditekan karena anak lebih difokuskan untuk menyelesaikan studinya di jenjang SMA/SMK. Pemerintah sangat mengupayakan pendidikan di negara ini, tetapi masih banyak anak-anak di Indonesia yang belum mengerti akan pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan untuk bekal dimasa yang akan datang.
Menurut Undang Undang No 20 tahun 2003 Pasal 13 Ayat(1)dikatakan bahwa jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Pertama, pendidikan formal, yaitu jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Kedua, pendidikan nonformal, adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Ketiga, pendidikan informal adalah kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.31
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa dari ketiganya memiliki perbedaan yang saling mengisi dan melengkapi. Ketiga jalur pendidikan tersebut pun tidak dapat dipisahkan, namun saling menyempurnakan dan pada akhirnya akan menghasilkan peningkatan keberhasilan pendidikan individu itu sendiri. Pemahaman masyarakat tentang pendidikan akan sangat penting
30
Wajib Belajar 12 Tahun Dirintis Mulai 2012, di akses dari
http://edukasi.kompas.com/read/2011/09/27/10335033/Wajib.Belajar.12.Tahun.Dirintis.Mulai.201 2
31
Undang undang Republik Indonesia No 20 tahun 2003, di akses dari http://www.kemenag.go.id/file/dokumen/UU2003.pdf
dalam upaya membantu perkembangan peserta didik yang optimal, pemahaman itu bukan hanya tentang peranannya masing-masing, keterkaitan dan saling pengaruh dalam perkembangan manusia. Sebab pada dasarnya pendidikan itu selalu bersama-sama mempengaruhi manusia.
Dalam Konvensi Hak Anak yang telah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia sebenarnya telah disebutkan dan diakui bahwa anak-anak pada hakikatnya berhak untuk memperoleh pendidikan secara layak dan mereka seyogianya tidak terlibat dalam aktivitas ekonomi secara dini. Namun demikian, akibat tekanan kemiskinan, kurangnya animo orang tua terhadap arti penting pendidikan, dan sejumlah faktor lain, maka secara sukarela maupun terpaksa anak menjadi salah satu sumber pendapatan keluarga yang penting.32
Selain adanya faktor kemiskinan, maraknya pernikahan dini yang terjadi dikalangan masyarakat merupakan salah satu faktor yang membuat remaja di Indonesia tidak dapat menikmati bangku pendidikan dan masa-masa remaja yang seharusnya dinikmati oleh mereka. Wajib belajar 12 tahun yang diupayakan oleh pemerintah pun sepertinya diabaikan begitu saja. Hal seperti inilah sepatutnya para orang tua memberi dukungan tentang betapa pentingnya ilmu pengetahuan dan pendidikan.
Secara garis besar, karakteristik anak yang putus sekolah yaitu :
1) berawal dari tidak tertib mengikuti pelajaran di sekolah.2) akibatprestasi belajar yang rendah, pengaruh keluarga, atau karena pengaruh teman sebaya, kebanyakan anak yang putus sekolah selalu ketinggalan pelajaran dibandingkan teman-teman sekelasnya. 3) kegiatan belajar di rumah tidak tertib, dan tidak disiplin,terutama karena tidak didukung oleh upaya pengawasan dari pihak orang tua. 4) perhatian terhadap pelajaran kurang dan mulai didominasi oleh kegiatan lain yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran. 5) kegiatan bemain dengan teman sebayanya meningkat pesat. 6) mereka yang
32
putus sekolah ini kebanyakan berasal dari keluarga ekonomi lemah, dan berasal dari keluarga yang tidak teratur.33
Putus sekolah bukan merupakan persoalan hal baru dalam sejarah pendidikan. Namun selain peranan pemerintah, orang tualah yang lebih berperan penting untuk mengusahakan agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, sehingga di kemudian hari akan menjadi individu orang dewasa yang sehat, baik secara jasmani, rohani dan sosialnya, sehingga mereka bisa menjadi generasi penerus bangsa.
b. Masalah rumah tangga
Yusuf Muhammad Al-Hasan menyebutkan bahwa “keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personil-personilnya”.34 Kehidupan di dalam rumah tangga tidak selamanya berjalan mulus ada saja hambatan-hambatan yang harus dilalui setiap pasangan di dalam rumah tangga yang mereka bangun, tentu saja hal ini memerlukan sikap dan pikiran yang matang untuk dapat menyelesaikan permasalahan. Usia pada menikah mempunyai keterkaitan yang sangat kuat dalam pola membina rumah tangga.
Oleh karena itu, dalam melakukan pernikahan dibutuhkan kesungguhan dan keseriusan agar terwujudnya keluarga yang harmonis. Seperti yang dijelaskan Zakiah Darajat dkk. Yang dikutip oleh Tihami dan Sohari Sahrani, mengemukakan ada lima tujuan dalam perkawinan, yaitu :
33
Ibid., h.343
34
Yusuf Muhammad Al-Hasan, Pendidikan Anak dalam ISLAM, (Jakarta:Yayasan Al
1) Mendapatkan dan melangsungkan keturunan
2) Memenuhi hajat manusia menyalurkan syahwatnya dan menumpahkan kasih sayangnya
3) Memenuhi panggilan agama, memelihara diri dari kejahatan dan kerusakan
4) Menumbuhkan kesungguhan untuk bertanggung jawab menerima hak serta kewajiban, juga bersungguh-sungguh untuk memperoleh harta kekayaan yang halal, serta
5) Membangun rumah tangga untuk membentuk masyarakat yang tenteram atas dasar cinta dan kasih sayang.35
Keadaan pernikahan antara seseorang yang menikah pada usia yang belum semestinya atau pasangan muda usia dengan seseorang yang menikah pada usia yang telah matang, tentu sangat berbeda. Ali Husain berpendapat, “ambisi dan perilaku kalangan pasangan muda usia biasanya didasari oleh pemikiran dan perasaan mereka yang keras. Jika kehidupan didasarkan kepada gejolak ini, pastilah akan kacau”.36 Tujuan-tujuan dalam pernikahan seperti yang dijelaskan diatas pun sulit akan terwujud, kerasnya jiwa dan karakter orang muda, dapat memperbesar bentuk kerusakan keluarga.Menurut syaikh abdul aziz, “para pemuda yang kawin dibawah umur bisa saja mereka tidak percaya bahwa cara berfikirnya tidak akan berubah apabila mereka sudah tua. Namun bagaimana suatu saat nanti mengalami perbedaan pendapat dengan istrinya dan pada saat itulah mereka akan merasakan perkembangan pikirannya”.37
Jarang pasangan yang nikah di usia dini berhasil dan hidup bahagia dalam meniti kehidupan rumah tangga. Kebahagiaan perkawinan ditentukan oleh kesiapan mental dan jiwanya dalam memecahkan segala problem kehidupan. Apalagi pada zaman sekarang ini gelombang kehidupan semakin besar, persaingan hidup
35
Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat:Kajian Fikih Nikah Lengkap, (Jakarta:
Rajawali Pers, 2010 cet.2) h.15-16
36
Ali Husain Muhammad Makki al-Amil, “ Perceraian Salah Siapa?”bimbingan dalam
mengatasi problematika rumah tangga, (Jakarta : Lentera 2001 cet.1) h.49
37
Syaikh abdul aziz bin Abdurrahman al-musna Khalid bin ali al-anbari, “perkawinan dan
semakin ketat, tuntutan hidup pun semakin meningkat, cara berfikir manusia pun selalu berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
c. Akibat pada anak
Menurut Fuad Moh. Fachruddin anak menurut segi bahasa adalah “keturunan kedua sebagai hasil dari hubungan antara pria dan wanita. Kata anak di pakai secara umum baik untuk manusia maupun binatang bahkan untuk tumbuh-tumbuhan”.38 Anak merupakan mahluk hidup yang diberikan Tuhan kepada manusia melalui hasil pernikahan guna meneruskan kehidupan selanjutnya. Anak juga merupakan cikal bakal lahirnya suatu generasi baru yang merupakan penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber daya manusia bagi pembangunan Nasional. Berkaitan dengan pernikahan dini, setidaknya pernikahan dini itu sendiri melanggar lima hak anak. Ironisnya, pernikahan dini masih banyak terjadi di Indonesia.
Menurut Tri lestari dewi ada beberapa hak-hak anak yang dilanggar, yaitu :1) hak untuk mendapatkan pendidikan. Dengan kasus pernikahan dini itu anak tidak dapat melanjutkan sekolah. 2) hak untuk berpikir dan berekspresi. Selain itu anak juga berhak untuk berfikir dan berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasaan dan daya kreatifitas, namun dengan adanya kasus pernikahan dini anak tidak bisa lagi mengekspresikan dan berpikir sesuai usianya karena dia dituntut dengan berbagai kewajiban sebagai seorang istri. 3) hak untuk menyatakan pendapat dan didengar pendapatnya.Ketika pernikahan dini itu terjadi hak untuk menyatakan pendapat kurang didengar oleh orang yang lebih dewasa atau orang tuanya, karena kenyataannya orang dewasa cenderung memandang anak belum mampu menentukan keputusan sendiri. Akhirnya, orang dewasalah yang mengambil keputusan dan mengatasnamakan untuk kepentingan yang terbaik bagi anak. 4) hak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang. Seperti bergaul dengan temansebaya, bermain, berekspresi, dan berkreasi. 5) hak perlindungan. Anak
38
Fuad Mohd. Fachruddin, Masalah Anak Dalam Hukum Islam ( Anak Kandung, anak tiri, anak angkat dan anak zina), (Jakarta : CV Pedoman Ilmu Jaya, 1991) h.24
seharusnya dilindungi dari pernikahan dini yang berdampak pada perkembangan anak, baik secara fisik maupun psikis.39
Seiring berjalannya waktu dan banyaknya budaya luar yang begitu cepat masuk ke budaya tanpa memfilternya kembali, akhirnya pernikahan dini tidak lagi dipandang sebagai sarana untuk menjalankan sunnah Rasul dan menghindari perbuatan zina melainkan lebih kearah pembenaran dari kebatilan yang nyata, yaitu menutupi aib demi nama baik keluarga.
Saat ini, di masyarakat luas pun beranggapan bahwa pernikahan dini sebagai pernikahan terpaksa, pernikahan menutup aib. Dari pada nama baik keluarga hancur lebih baik mereka dikorbankan dengan cara dipaksa agar segera menikah.
3. Kehidupan Masyarakat Pedesaan