4.2. Putusan Pengadilan Negeri Yang Membatalkan Putusan BPSK
4.2.2. Putusan BPSK Yang Batal Demi Hukum Oleh Putusan Pengadilan
Negeri.
Disamping putusan Pengadilan Negeri Medan yang menguatkan putusan BPSK kota Medan sesuai dengan uraian tersebut diatas, berikut ini akan dimukakan perkara sengketa konsumen yang secara konkrit telah diselesaikan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya berkaitan dengan keberatan atas putusan majelis BPSK melalui putusannya No.506/Pdt.G/2009/PN.Sby tanggal 10 Nopember 2009.87
Dipergunakannya putusan ini dikarenakan putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya tersebut telah menjatuhkan putusan dalam amarnya yang menyatakan putusan arbitrase BPSK Surabaya No.43.1/Pts-BPSK/VI/2009 tanggal 30 Juni 2009 adalah batal demi hukum. Majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya mempertimbangkan mengenai ketentuan pasal 54 UUPK yang menyatakan untuk menangani dan menyelesaikan sengketa konsumen, BPSK membentuk majelis. Jumlah anggota majelis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus ganjil dan sedikit-dikitnya 3 (tiga) orang yang mewakili semua unsur sebagaimana dimaksud dalam pasal 49 ayat (3) UUPK serta dibantu seorang Panitera.
Majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya berpendapat bahwa dengan adanya ketentuan jumlah anggota majelis harus ganjil adalah dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 54 ayat (2) UUPK Jo. Pasal 30 ayat (1) Kepmenperindag No.350/MPP/Kep/XII/2001 bahwa putusan majelis didasarkan 87 Pengadilan Negeri Surabaya, Putusan Perkara Antara Denny Zadi Saputro Vs Rudi Santoso, 10 Nopember 2009, No.506/Pdt.G/2009/PN.Sby.
atas musyawarah untuk mencapai mufakat, namun jika setelah diusahakan dengan sungguh-sungguh tidak mencapai mufakat, maka putusan diambil dengan suara terbanyak.
Majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya berpendapat bahwa manakala putusan diambil dengan alternatif suara terbanyak maka ada kemungkinan majelis tidak dapat mengambil keputusan manakala majelis berjumlah genap, karena akan menemui jalan buntu jika jumlah suara sama.
Atas putusan majelis BPSK kota Surabaya yang berjumlah genap yaitu terdiri dari 4 (empat) orang, majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya berpendapat bahwa putusan BPSK Surabaya No. 43.1/Pts-BPSK/VI/2009 tanggal 30 Juni 2009 bertentangan dengan ketentuan Pasal 54 ayat (1) dan ayat (2) UUPK Jo. Pasal 18 Kepmenperindag No.350/MPP/Kep/XII./2001 sehingga majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya menyatakan putusan BPSK kota Surabaya No. 43.1/Pts-BPSK/VI/2009 tanggal 30 Juni 2009 yang merupakan putusan arbitrase tersebut adalah batal demi hukum.
Adapun pihak-pihak yang terlibat pada perkara sengketa konsumen yang bersangkutan antara RUDI SANTOSO sebagai penggugat yang untuk selanjutnya disebut sebagai pelaku usaha melawan DENNY ZADI SAPUTRO sebagai tergugat yang untuk selanjutnya disebut sebagai pihak konsumen.
Kasus ini berawal pada tanggal 9 September 2007, DENNY ZADI SAPUTRO (untuk selanjutnya disebut konsumen) telah memesan rumah pada RUDI SANTOSO (untuk selanjutnya disebut pelaku usaha) di Bukit Citra Darmo dengan model dan bentuk sesuai type 45/105 sesuai brosur pada blok BC/A.3 dan
pelaku usaha berjanji akan melakukan serah terima pada bulan Juli 2008. Namun sampai lewat bulan Juli 2008, pelaku usaha belum dapat melakukan serah terima rumah sebagaimana tercantum dalam surat persetujuan pemesanan No.AMA/FM/01-01 tertanggal 19 Juli 2007.
Atas hal tersebut, pelaku usaha melalui suratnya No. 16/EXT/BCD/PM/XI/2008 tanggal 11 Nopember 2008 mengakuinya dan memohon maaf dan akan melakukan percepatan penyelesaian pembangunan rumah sehingga pada bulan Januari 2009 dapat dilakukan serah terima rumah. Ternyata pada bulan Januari 2009 telah lewat, pelaku usaha belum dapat menyelesaikan pembangunan rumah sehingga serah terima tidak bisa dilakukan. Atas kejadian tersebut, konsumen mengajukan perkara ini ke BPSK Surabaya.
Selanjunya pada tanggal 10 Pebruari 2009, konsumen melakukan somasi kepada pelaku usaha atas keterlambatan penyelesaian pembangunan dan serah terima rumah tersebut. Atas somasi tersebut, pelaku usaha berjanji akan melaksanakan dan diselesaikan pada akhir bulan Maret 2009 dan akan diberikan tambahan sebagai kompensasi keterlambatan, dibuatkan taman depan yaitu 2 minggu setelah penandatanganan berita acara serah terima rumah.
Selanjutnya majelis BPSK kota Surabaya menyidangkan perkara ini dengan jalur arbitrase dengan memanggil para pihak yaitu konsumen dan pelaku usaha. Hingga pada panggilan yang kedua, pelaku usaha tidak hadir di persidangan pada tanggal yang telah ditentukan tanpa ada keterangan apapun yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga majelis BPSK memeriksa perkara sengketa konsumen dengan tanpa hadirnya pihak dari pelaku usaha dan pada
tanggal 30 Juni 2009, majelis BPSK mengeluarkan putusan No. 43.1/Pts.BPSK/VI/2009 yang amarnya berbunyi sebagai berikut:88
1. Gugatan perkara konsumen pada BPSK oleh majelis BPSK, sesuai dengan Pasal 36 ayat (3) Kepmen No.350/MPP/Kep/12/2001 tentang pelaksanaan tugas dan wewenang BPSK, bahwa ketidak hadiran pelaku usaha dalam sidang BPSK dapat dijadikan dasar bagi majelis untuk mengabulkan gugatan konsumen tanpa kehadiran pelaku usaha.
2. Pelaku usaha berkewajiban melaksanakan pemenuhan kewajiban menyerahkan rumah sebagaimana spesifikasi yang dijanjikan.
3. Pelaku usaha wajib membayar ganti rugi kepada konsumen sebagaimana pasal 12 ayat (2) Kepmen No.350/MPP/Kep/12/2001 tentang pelaksanaan tugas dan wewenang BPSK dan hitungannya sesuai dengan surat pemberitahuan dari Bukit Citra Darmo No. 26/ETX/BCD/PM/XI/2008, yaitu sebesar 10/100 (satu promil) perhari dari 30% uang yang telag disetorkan untuk masing-masing unit dengan maksimal dengan 30 hari keterlambatan.
4. Badan Penyelesaian Konsumen menjatuhkan sanksi administratif terhadap pihak Bukit Citra Darmo sesuai dengan pasal 26 sebesar Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah).
Selanjutnya putusan BPSK Surabaya tersebut, telah diberitahukan dan diterima oleh pelaku usaha pada hari Rabu, tanggal 15 Juli 2009. Atas putusan BPSK kota Surabaya tersebut, kemudian pelaku usaha pada tanggal 3 Agustus 2009 mengajukan keberatan ke Pengadilan Negeri Surabaya.
88 Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Kota Surabaya, Putusan Perkara Antara Denny Zadi Saputro Vs Rudi Santoso, 30 Juni 2009, No. 43.1/Pts.BPSK/VI/2009.
Pelaku usaha sangat keberatan dengan putusan BPSK bagian ke 4 yang berbunyi Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen menjatuhkan sanksi administratif terhadap pihak Bukit Citra Darmo sesuai dengan pasal 26 sebesar Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dengan alasan rujukan pasal 26 yang dipakai oleh majelis BPSK adalah salah. Padahal pasal 26 mengatur tentang kewajiban pelaku usaha memenuhi jaminan. Sedangkan sanksi administratif diatur dalam pasal 60 UUPK. Pelaku usaha berpendapat bahwa putusan dijatuhkan dengan tanpa mempertimbangkan rasa keadilan bagi pelaku usaha, oleh karena denda administratif yang dijatuhkan justru melebihi dari harga jual beli rumah itu sendiri.
Atas putusan BPSK kota Surabaya tersebut, selanjutnya pelaku usaha mengajukan keberatan ke Pengadilan Negeri Surabaya. Kemudian majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya mengadili sendiri yang amar putusannya berbunyi:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;
2. Menyatakan putusan BPSK Surabaya No. 43.1/Pts-BPSK/VI/2009 tanggal 30 Juni 2009 batal demi hukum.
3. Menghukum penggugat membayar ganti rugi kepada tergugat atas keterlambatan serah terima rumah di Bukit Citra Darmo type 45/105 Blok BC/A3 sebesar 30 %o (tiga puluh promil) dari jumlah uang yang telah dibayarkan/disetorkan oleh tergugat untuk membeli rumah tersebut.
4. Menghukum penggugat untuk menyerahkan rumah type 45/105 blok BC/A3 di Bukit Citra Darmo kepada tergugat.
5. Menolak gugatan penggugat selain dan selebihnya.
6. Menghukum tergugat untuk membayar biaya perkara yang hingga kini dianggar sebesar Rp. 216.000,- (dua ratus enam belas ribu rupiah). Dengan diputusnya keberatan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya, sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan yaitu 14 (empat belas hari) sejak putusan tersebut diberitahukan kepada para pihak berdasarkan ketentuan dalam Pasal 58 ayat (2) UUPK, baik Rudi Santoso sebagai penggugat (pelaku usaha) maupun Denny Zadi Saputro sebagai tergugat (konsumen) tidak mengajukan upaya hukum berupa kasasi ke Mahkamah Agung RI. Sehingga putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya sudah berkekuatan hukum tetap.
Dari uraian permasalahan tersebut diatas, dapat dianalisa bahwa dalam memutus keberatan yang diajukan oleh pelaku usaha, majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya telah menjatuhkan putusan dalam amarnya menyatakan putusan arbitrase BPSK Surabaya No.43.1/Pts-BPSK/VI/2009 tanggal 30 Juni 2009 adalah batal demi hukum. Sebagai dasar pertimbangan majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya adalah ketentuan pasal 54 UUPK yang menyatakan untuk menangani dan menyelesaikan sengketa konsumen, BPSK membentuk majelis. Jumlah anggota majelis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus ganjil dan sedikit-dikitnya 3 (tiga) orang yang mewakili semua unsur sebagaimana dimaksud dalam pasal 49 ayat (3) UUPK serta dibantu seorang Panitera.
Atas putusan majelis BPSK Surabaya yang terdiri dari 4 (empat) orang tersebut, majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya berpendapat bahwa putusan
BPSK Surabaya No. 43.1/Pts-BPSK/VI/2009 tanggal 30 Juni 2009 bertentangan dengan ketentuan Pasal 54 ayat (1) dan ayat (2) UUPK Jo. Pasal 18 Kepmenperindag No.350/MPP/Kep/XII./2001 sehingga majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya menyatakan putusan BPSK Surabaya No. 43.1/Pts-BPSK/VI/2009 tanggal 30 Juni 2009 yang merupakan putusan arbitrase tersebut adalah batal demi hukum.
Dengan adanya putusan arbitrase BPSK yang diputus batal demi hukum oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya, maka penulis mempertanyakan penguasaan materi hukum acara majelis BPSK yang mengabaikan dasar-dasar hukum acara dalam penyelesaian sengketa konsumen di persidangan hingga diputus batal demi hukum oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya.
Berdasarkan Pasal 49 ayat (3) UUPK, anggota BPSK terdiri dari 3 (tiga) unsur yaitu unsur pemerintah, unsur konsumen dan unsur pelaku usaha. Keterwakilan unsur-unsur ini oleh undang-undang dimaksudkan untuk menunjukkan partisipasi masyarakat dalam upaya perlindungan konsumen serta menunjukkan bahwa perlindungan konsumen menjadi tanggungjawab bersama antara pemerintah dan masyarakat.
Pembagian anggota BPSK ke dalam tiga unsur tersebut berkaitan dengan konsep keseimbangan kepentingan para pihak yang bersengketa dan kepentingan pemerintah yang memposisikan diri sebagai pihak yang netral dalam pengambilan kebijakan.
Sekurang-kurangnya sepertiga dari anggota BPSK harus berlatar belakang pendidikan hukum. Ini penting karena BPSK merupakan badan bentukan
pemerintah yang tugas pokoknya menjalankan fungsi pengadilan. Seharusnya pemerintah tetap mengaitkan keterwakilan pemerintah itu dengan kompetensi dan syarat-syarat keanggotaan BPSK.89
Perbedaan latar belakang kultur masing-masing unsur BPSK tersebut menyebabkan muncul persepsi yang tidak sama terhadap aspek-aspek perlindungan konsumen dan penafsiran hukum sehingga menghambat proses penyelesaian sengketa. Anggota BPSK dari unsur pelaku usaha yang direkrut dari wakil asosiasi dan/atau organisasi perusahaan didaerah kota/kabupaten setempat, pada umumnya kental dengan kultur bisnis yang sering terjebak pada pandangan-pandangan pragmatis ekonomis untuk mencapai tujuan tertentu.
Persoalan-persoalan tersebut menjadi lebih kompleks ketika dihadapkan lagi dengan masalah profesionalisme rata-rata sumber daya manusia yang masih memerlukan peningkatan pengetahuan maupun pengalaman dalam penyelesaian sengketa konsumen melalui BPSK. Kurangnya profesionalisme anggota dan secretariat BPSK ini berakibat rendahnya kualitas pelayanan kepada para pihak yang mempercayakan penyelesaian sengketanya pada BPSK. Apabila hal ini dibiarkan, maka BPSK tidak dapat berjalan dengan efektif sehingga akan ditinggalkan oleh masyarakat.
4.2.3. Pelaksanaan Eksekusi Putusan Oleh BPSK Terhadap Putusan Pengadilan Negeri.
Berangkat dari uraian perkara sengketa konsumen tersebut diatas yang telah diputus oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya berkaitan dengan keberatan atas putusan BPSK kota Surabaya No.43.1/Pts-BPSK/VI/2009 tanggal 30 Juni 2009 melalui putusannya No.506/Pdt.G/2009/PN.Sby tanggal 10 Nopember 2009 yang menyatakan putusan BPSK kota Surabaya tersebut adalah batal demi hukum, maka untuk pelaksanaan eksekusi terhadap putusan Pengadilan Negeri Surabaya tersebut, BPSK kota Surabaya wajib terlebih dahulu meminta penetapan eksekusi kepada Pengadilan Negeri Surabaya berdasarkan ketentuan Pasal 57 UUPK. Sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan yaitu 14 (empat belas hari) sejak putusan tersebut diberitahukan kepada para pihak berdasarkan ketentuan dalam Pasal 58 ayat (2) UUPK, baik Rudi Santoso sebagai penggugat (pelaku usaha) maupun Denny Zadi Saputro sebagai tergugat (konsumen) tidak mengajukan upaya hukum berupa kasasi ke Mahkamah Agung RI. Sehingga putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya sudah berkekuatan hukum tetap dan sudah dapat diajukan permohonan eksekusi ke Pengadilan Negeri Surabaya. Putusan yang dapat dieksekusi adalah putusan yang sudah mempunyai kekuatan hukum pasti, dan putusan yang mengandung perintah kepada suatu pihak untuk melakukan suatu perbuatan.
Sebelum dilaksanakan eksekusi, Ketua Pengadilan Negeri Surabaya terlebih dahulu melakukan peneguran kepada pihak yang kalah, untuk waktu delapan hari melaksanakan putusan tersebut dengan suka rela. Berdasarkan ketentuan Pasal 195-236 HIR disebutkan bahwa jika pihak yang ditegur tidak
mau melaksanakan putusan dengan sukarela maka dimulai pelaksanaan eksekusi yang sesungguhnya.
Bila sebelum putusan dijatuhkan telah dilakukan sita jaminan maka sita jaminan itu setelah dinyatakan sah dan berharga, secara otomatis menjadi sita eksekutorial. Kemudian eksekusi dilakukan dengan cara melelang barang-barang milik orang yang dikalahkan, sehingga mencukupi jumlah yang wajib dibayar menurut putusan Hakim dan ditambah dengan semua biaya sehubungan pelaksanaan putusan tersebut.
Perlu untuk di jelaskan disini bahwa suatu putusan badan peradilan tidak akan ada artinya, manakala tidak dapat dilaksanakan. Pada dasarnya suatu putusan yang sudah mempunyai kekuatan hukum pasti dapat dijalankan. Oleh karena itulah, putusan suatu badan peradilan harus mempunyai kekuatan eksekutorial, yaitu kekuatan untuk dilaksanakan apa yang telah ditetapkan dalam putusan tersebut secara paksa dan bila perlu menggunakan alat-alat Negara. Adapun yang memberi kekuatan eksekutorial pada suatu putusan untuk dapat dilaksanakan secara paksa adalah adanya irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Permohonan eksekusi dapat dilakukan baik terhadap putusan BPSK maupun putusan keberatan ke Pengadilan Negeri. Jadi putusan BPSK yang dapat dieksekusi hanyalah putusan BPSK yang memuat besarnya ganti kerugian, dan tidak melanggar atau melampaui asas ultra petita yang ditentukan dalam Pasal 178 ayat (3) HIR yaitu putusan tidak boleh melebihi yang diminta dalam petitum.
Selanjutnya yang menjadi pertanyaan apakah lembaga BPSK yang harus mengajukan permohonan eksekusi ke pengadilan atas putusan yang dihasilkannya? BPSK merupakan lembaga yang menyelesaikan sengketa konsumen, dimana ia memiliki kewajiban untuk memutus sengketa antara konsumen dan pelaku usaha dalam menetapkan ganti kerugiannya. Oleh karena itu, kedudukan BPSK harus netral dan tidak berpihak sehingga memberikan keseimbangan antara kepentingan konsumen dan pelaku usaha/produsen.
Meskipun tujuan utama pendirian BPSK adalah untuk memberikan perlindungan hukum terhadap konsumen, tetapi BPSK tidak berarti bahwa dalam upaya ganti kerugian, BPSK yang harus mengajukan permohonan eksekusinya ke Pengadilan. Oleh karena ganti kerugian diberikan untuk kepentingan konsumen, maka yang dapat mengajukan eksekusi terhadap putusan BPSK hanyalah konsumen sendiri, bukan lembaga BPSK.
Apabila BPSK dikenakan kewajiban untuk mengajukan eksekusi seperti yang ditentukan didalam Pasal 42 Kepmenperindag No. 350/MPP/Kep/12/2001, maka kedudukan BPSK sebagai badan yang netral dan imparsial menjadi diragukan. Selain itu, apabila BPSK yang melakukan pengajuan permohonan eksekusi, maka akan menambah beban kerja dari BPSK itu sendiri. Untuk itulah demi mendorong kinerja BPSK yang baik hendaknya BPSK tidak dikenakan kewajiban mengajukan permohonan eksekusi ke pengadilan.