• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II DISPARITAS DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI

2.2. Putusan Pengadilan Dalam Kasus Tindak Pidana

2.2.1. Kasus Pertama

2.2.1.1. Fakta Hukum

Para terdakwa adalah anggota DPRD Kabupaten Banggai, secara bersama-sama sebagai Panitia anggaran/anggota DPRD Kabupaten Banggai, yaitu antara tahun 2001 sampai dengan tahun 2004, melaksanakan Rapat Panitia Anggaran Legislatif, mengusulkan dan menyepakati tunjangan kesejahteraan Anggota DPRD Kabupaten Banggai Tahun 2004 yang dituangkan dalam Rencana anggaran Satuan kerja (RASK) sebesar Rp. 3.968.600.000,- (Tiga milyar sembilan ratus enam puluh delapan juta enam ratus ribu rupiah).

Rangkaian penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Banggai Tahun Anggaran (TA) 2004, Drs. H. Djar’un Sibay sebagai Ketua merangkap anggota dan Suryanto sebagai Anggota bersama-sama dengan Anggota Panitia Anggaran DPRD Kabupaten Banggai lainnya membahas dan menyetujui yang mana dalam Anggaran Belanja DPRD tersebut telah dianggarkan Tunjangan Kesejahteraan/Tunjangan Kesehatan seluruhnya sebesar Rp. 3.123.600.000,- (Tiga milyar seratus dua puluh tiga juga enam ratus ribu rupiah) tanpa

didukung rincian sub mata anggaran. Setelah anggaran disahkan dan ditetapkan, maka Tunjangan Kesejahteraan/Tunjangan Kesehatan direalisasikan pembayarannya kepada seluruh anggota DPRD Kabupaten Bangga termasuk Drs. H. Djar’un Sibay dan Suryanto dalam bentuk uang pesangon masing-masing menerima uang tunai sebesar Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah), selain itu juga dibayarkan uang kesejahteraan dalam bentuk yang tunai masing-masing sebesar Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah) ditambah Rp. 6.000.000,- (enam juta rupiah) untuk Drs. H. Djar’un Sibay sebagai Ketua merangkap anggota ditambah lagi sejumlah Rp. 24.000.000,- (Dua puluh empat juta rupiah). Pimpinan dan Anggota DPRD Kabupaten Banggai juga diasuransikan pada maskapai Asuransi AJB Bumi Putra 1912 untuk 40 (empat puluh) orang untuk masa 5 (lima) tahun dengan premi asuransi sebesar Rp. 130.681.500,- (seratus tiga puluh juta enam ratus delapan puluh satu ribu lima ratus rupiah). Uang pertanggungan diterima oleh pimpinan dan anggota DPRD Kabupaten Banggai dalam bentuk uang tunai berupa nilai tunai seluruhnya sebesar Rp. 751.955.265,- (Tujuh ratus lima puluh satu juta sembilana ratus lima puluh lima ribu dua ratus enam puluh lima rupiah).

Drs. H. Djar’un Sibay menerima uang Dana Askum, sebesar Rp. 33.420.973,- (Tiga puluh tiga juta empat ratus dua puluh ribu sembilan ratus tujuh puluh tiga rupiah) dan Suryanto menerima uang Dana Askum, sebesar 31.000.000,- (Tiga puluh satu juta rupiah). Semua perbuatan Drs. H. Djar’un Sibay dan Suryanto tersebut yang telah menerima tunjangan kesejahteraan/

tunjangan kesehatan, penerimaan nilai tunai asuransi, dan honor/insentif Pimpinan DPRD adalah perbuatan melawan hukum karena bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku antara lain Pasal 101 ayat (3) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD dan DPRD yang pada pokoknya menyatakan bahwa kedudukan protokoler dan keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota diatur dengan PP dan Pasal 52 ayat (3) PP No. 1/2001.

Bahwa dari perbuatan Drs. H. Djar’un Sibay dan Suryanto merugikan keuangan/perekonomian negara sebesar Rp. 4.354.043.288 (Empat milyar tiga ratus lima puluh empat juta empat puluh tiga ribu dua ratus dua puluh delapan rupiah), dari jumlah tersebut masing-masing anggota telah menerima tunjangan.

2.2.1.2. Putusan Pengadilan Negeri

Atas perbuatannya tersebut negara atau perekonomian negara dirugikan seluruhnya sebesar Rp. 4.354.043.288,- (empat milyar tiga ratus lima puluh empat juta empat puluh tiga ribu dua ratus delapan puluh delapan rupiah). Meskipun para terdakwa mempunyai posisi yang sama, namun pemberkasan dipisah menjadi dua berkas dan diadili dua hakim yang berbeda, dan kenyataannya sebagaimana putusan Putusan Pengadilan Negeri Luwuk No. 112/Pid.B/2005/PN.Lwk tanggal 24 Mei 2006, Amar Putusan sebagia berikut : Menjatuhkan Pidana penjara terhadap para Terdakwa tersebut oleh karenanya, masing-masing dengan pidana penjara yaitu :

- Terdakwa I Drs. H. Djar’un Sibay selama 2 (dua) tahun - Terdakwa II Suryanto selama 1 (satu) tahun

2.2. 1.3. Putusan Pengadilan Tinggi

Amar Putusan Pengadilan Tinggi Sulawesi Tengah di Palu No. 65/PID/2006/PT.PALU tanggal 08 November 2006 sebagai berikut :

1. Menghukum para Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara masing-masing:

- Terdakwa I Drs. H. Djar’un Sibay selama 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan

- Terdakwa II Suryanto selama 2 (dua) tahun

2.2.1.4. Putusan Mahkamah Agung

Mengabulkan permohonan kasasi dari pemohon kasasi : I. Drs. H. Djar’un Sibay., II. Suryanto, tersebut ;

Membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Sulawesi Tengah di Palu No.65/PID72006/PT.PALU tanggal 08 November 2006 yang memperbaiki Putusan Pengadilan Negeri Luwuk No. 112/Pid.B/2005/PN.LWK tanggal 24 Mei 2006 ;

1. Menyatakan para terdakwa terbukti melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya,akan tetapi perbuatan tersebut bukan merupakan tindak pidana

2. Melepaskan para terdakwa dari segala tuntutan hukum

3. Memulihkan hak terdakwa dalam kemampuan, kedudukan dan

4. Memerintahkan agar terdakwa segera dikeluarkan dari tahanan, kecuali terdakwa ditahan karena perkara lain ;

5. Menetapkan barang bukti dikembalikan kepada darimana barang bukti tersebut disita

2.2.2. Kasus Kedua 2.2.2.1. Fakta Hukum

Bahwa mereka Terdakwa I, Terdakwa II, Terdakwa III dan Terdakwa IV masing-masing selaku anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Banggai Periode 1999 – 2004, telah melakukan atau turut melakukan perbuatan memperkaya diri sendir atau orang lain, atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, perbuatan para Terdakwa dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :

Bahwa mereka Terdakwa I, Terdakwa II, Terdakwa III dan Terdakwa IV selakau anggota Panggar/Anggota DPRD Kabupaten Banggai lainnya telah melakukan perbuatan melawan hukum yaitu pada hari Kamis tanggal 4 Desember 2003 dilakukan rapat Panitia Anggaran Legislatif dalam rangka membahas Rencana Anggaran Satuan Kerja DPRD kabupaten Banggai Tahun 2004. Dalam pembahasan Rencana Anggaran Satuan Kerja (RSAK) tersebut telah disepakati tunjangan kesejahteraan Anggota DPRD Kabupaten banggai Tahun 2004 sebesar Rp. 3.968.600.000,- (tiga milyar sembilan ratus enam puluh delapan juta enam ratus ribu rupiah).

- Pada tanggal 29 Januari 2004 diadakan Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Baggai dengan agenda pengambilan keputusan terhadap RAPBD Tahun 2004. Hasil rapat Paripurna tersebut memutuskan besarnya tunjangan kesejahteraan/tunjangan kesehatan bagi anggota DPRD Kabupaten Baggai Tahun 2004 sebesar Rp. 3.123.600.000,- (tiga milyar seratus dua puluh tiga juta enam ratus ribu rupiah)

- Bahwa dalam penyusunan dan penetapan maupun penerimaan Anggaran Belanja DPRD Tahun 2004 berupa tunjangan kesejahteraan dalam bentuk uang pesangon dan asuransi tidak didasarkan atau menyimpang dari Peraturan Pemerintah (PP) No. 110 Tahun 2000 tentang Kedudukan Keuangan DPRD dan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No. 161/322/SJ tanggal 29 Desember 2003 perihal Pedoman tentang Kedudukan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD. Di dalam PP tersebut yang dimaksud dengan tunjangan kesejahteraan adalah :

- Asuransi kesehatan’

- Perumahan/sewa rumah dinas beserta perlengkapannya; - Pakaian dinas;

- Santunan bagi anggota DPRD yang meninggal dunia sebagai uang duka.

- Berdasarkan hasil penghitungan ahli dari Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Negara Cq. Pemerintah Daerah Kabupaten Banggai mengalami kerugian sebesar Rp. 3.494.527.933,- (tiga milyar

empat ratus sembilan puluh empat juta lima ratus dua puluh tujuh ribu sembilan ratus tiga puluh tiga rupiah).

- Dari kerugian negara di atas, masing-masing Terdakwa telah menerima tunjangan kesejahteraan dalam bentuk uang pesangon dan Asuransi Perkumpulan untuk kepentingan pribadi atau perbuatan memperkaya diri sendiri, atau orang lain.

Perbuatan mereka Terdakwa tersebut di atas sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 2 Ayat (1) jo. Pasal 18 ayat (1) huruf b Undang- Undang No. 31 Tahun 1999 yang telah diubah dan ditambah dengan Undang-undang No. 20 Tahun 2001 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP;

Tuntutan Pidana Jaksa/Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Luwuk tanggal 16 Mei 2005 sebagai berikut :

- Menjatuhkan terhadap Para Terdakwa tersebut oleh karenanya masing- masing dengan pidana penjara :

- Terdakwa I : 4 (empat) tahun dikurangi selama Terdakwa

berada dalam tahanan sementara;

- Terdakwa II : 3 (tiga) tahun dikurangi selama Terdawa berada dalam tahanan sementara.

- Terdakwa III : 3 (tiga) tahun dikurangi selama Terdakwa berada dalamtahanan sementara

- Terdakwa IV : 4 (empat) tahun dikurangi selama Terdakwa berada dalam tahanan sementara.

2.2.2.2. Putusan Pengadilan Negeri

Putusan Pengadilan Negeri Luwuk No. 18/Pid.B/2005/PN.Luwuk Dengan Terdakwa Husen Mahdali yakni sebagai terdakwa Pertama di jatuhi pidana penjara selama 1 (satu) tahun dan 3 (tiga) bulan, Yorris Marthianus sebagai terdakwa kedua di jatuhi pidana penjara 1 (satu) tahun, Musaddad Mile sebagai terdakwa ketiga dijatuhi pidana penjara 1 (satu) tahun, Yusuf Djalil sebagai terdakwa keempat dijatuhi pidana penjara 1 (satu) tahun 3 (tiga) bulan.

2.2.2.3. Putusan Pengadilan Tinggi

Putusan Pengadilan Tinggi Palu No.56/ Pid/ 2005/ PT. Palu menghukum para terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara dengan masing-masing :

Husen Mahdali : 2 (dua) tahun Yorris Marthianus : 2 (dua) tahun Musaddad Mile : 2 (dua) tahun Yusuf Djalil : 2 (dua) tahun

2.2.2.4. Putusan Mahkamah Agung

Mahkamah Agung Republik Indonesiayang memeriksa pada tingkat kasasi, dalam putusannya No. 646 K/Pid/2006, tertanggal 10 Agustus 2006 1. Menolak permohonan kasasi dari Para Pemohon Kasasi/Terdakwa I,

2. Menghukum Para Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara masing-masing yaitu :

- Terdakwa I Husen Mahdali selama 2 (dua) tahun; - Terdakwa II Yorris Marthianus selama 2 (dua) tahun; - Terdakwa III Musaddad Mile selama 2 (dua) tahun; - Terdakwa IV Jusuf Djalil selama 2 (dua) tahun;

Pertimbangan hukum Mahkamah Agung dalam tingkat Kasasi sebagai berikut :

1. Perbuatan para Terdakwa bukan merupakan perbuatan melanggar hukum

(tindak pidana) karena suatu konsep/draf bukan merupakan produk hukum yang mempunyai kekuatan mengikat;

2. Peraturan Daerah Kabupaten Banggai Nomor 1 Tahun 2004 adalah sah karena tidak dibatalkan oleh gubernur Sulawesi Tengah sesuai (Undang-Undang No. 22 Tahun 1999)

3. Peraturan Daerah yang sah adalah bukan perbuatan melawan hukum PP No. 110 Tahun 2000 berdasarkan Putusan MA No. 04/S/HUM/ 2001, telah dinyatakan batal dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat dan berdasarkan Pasal 1 (2) KUHP kalau ada perubahan ketentuan peraturan perundangan maka yang digunakan adalah ketentuan yang menguntungkan bagi Terdakwa.

4. Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, ternyata bahwa perbuatan para Terdakwa memang terbukti tetapi perbuatan tersebut bukan merupakan tindak

pidana oleh karenanya para Terdakwa harus dilepaskan dari segala tuntutan hukum:

Dari uraian-uraian tersebut di atas maka bila terdapat penyimpangan dalam penetapan Perda APBD tersebut tunduk pada ketentuan Pasal 113 dan 114 Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 karena merupakan perbuatan yuridis ke Tatanegaraan sedangkan terhadap Terdakwa-Terdakwa yang telah menerima kesejahteraan/pesangon dan uang habis kontrak Asuransi Kumpulan (ASKUM) tersebut dengan demikian bukanlah merupakan perbuatan yang dapat dimintakan pertanggungjawaban pidana.

Mahkamah Agung berpendapat, bahwa putusan Pengadilan Tinggi Sulawesi Tengah di Palu No. 65/PID/2006/PT.PALU tanggal 08 November 2006 yang memperbaiki putusan Pengadilan Negeri Luwuk No. 112/Pid.B/2005/ PN.LWK tanggal 24 Mei 2006 tidak dapat dipertahankan lagi, oleh karena itu harus dibatalkan dan Mahkamah Agung akan mengadili sendiri perkara tersebut seperti tertera di bawah ini :

Menimbang bahwa oleh karena permohonan kasasi dari para Pemohon Kasasi/para Terdakwa dikabulkan dan para Terdakwa dilepaskan dari segala tuntutan hukum, maka biaya perkara dalam semua tingkat peradilan dibebankan kepada negara.

Memperhatikan pasal-pasal dari Undang-Undang No. 4 Tahun 2004, Undang-Undang No. 8 Tahun 1981, Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 2004 dan peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan ;

Mengadili :

Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi : I Drs. H. Djar’un Sibay, II Suryanto, tersebut; Membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Sulawei Tengah di Palu No. 65/PID/2006/PT.PALU tanggal 08 November 2006 yang memperbaiki putusan Pengadilan Negeri Luwuk No. 112/Pid.B/2005/PN.LWK tanggal 24 Mei 2006;

1. Menyatakan para terdakwa terbukti melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, akan tetapi perbuatan tersebut bukan merupakan tindak pidana;

Memperhatikan uraian kedua kasus tersebut di atas nampak bahwa dalam kasus yang sama, namun Mahkamah Agung dalam putusannya berbeda. Sebagaimana kasus 1 (Djar`un Sibay dan Suryanto) Mahkamah Agung dalam putusannya melepaskan para terdakwa dari segala tuntutan hukum. Sedangkan pada kasus 2 (Husen Mahdali cs), menjatuhkan pidana kepada pelaku tindak pidana korupsi masing-masing pidana penjara selama 2 (dua) tahun.

Putusan Mahkamah Agung dalam kasus Djar`un Sibay dan Suryanto tersebut di batas disertai pertimbangan hukum

Putusan Mahkamah Agung dalam kasus Djar`un Sibay dan Suryanto tersebut di batas disertai pertimbangan hukum perbuatan para Terdakwa bukan merupakan perbuatan melanggar hukum (tindak pidana) karena suatu konsep/draf bukan merupakan produk hukum yang mempunyai kekuatan mengikat, Peraturan Daerah Kabupaten Banggai Nomor 1 Tahun 2004 adalah sah karena tidak dibatalkan oleh gubernur Sulawesi Tengah sesuai (Undang-Undang No. 22 Tahun 1999), Peraturan Daerah yang sah adalah bukan perbuatan melawan hukum PP

No. 110 Tahun 2000 berdasarkan Putusan MA No. 04/S/HUM/ 2001, telah dinyatakan batal dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat dan berdasarkan Pasal 1 (2) KUHP kalau ada perubahan ketentuan peraturan perundangan maka yang digunakan adalah ketentuan yang menguntungkan bagi Terdakwa. Hal ini berarti bahwa dalam kasus Djar`un dan Suryanto menganggap bahwa yang terjadi adalah adanya suatu kesalahan dalam lingkup hukum administrasi, sehingga meskipun negara dirugikan, namun kerugian yang ditimbulkan oleh hukum administrasi, maka bukan merupakan suatu perbuatan melawan hukum, sehingga meskipun negara dirugikan, kerugian tersebut bukan merupakan suatu perbuatan pidana. Sedangkan dalam kasus Husen Mahdali cs disertai pertimbangan hukum

Memperhatikan uraian sebagaimana di atas nampak bahwa jika Pengadilan Negeri dalam putusannya membedakan antara terdakwa I, II, III dan terdakwa IV yang masing-masing dengan pidana penjara selama 4, 3, 3 dan 4 tahun, Pengadilan Tinggi dalam putusannya menjatuhkan pidana yang sama yaitu masing-masing 2 (dua) tahun, demikian juga Mahkamah Agung yang memeriksa pada tingkat kasasi menjatuhkan putusan yang sama, yaitu masing-masing terdakwa dijatuhi pidana penjara selama 2 (dua) tahun. Hal ini berarti bahwa terhadap terdakwa yang sama yang diadili secara bersama-sama terjadi suatu perbedaan dalam penjatuhan pidana (disparitas) terutama antara putusan Pengadilan Negeri dengan Mahkamah Agung.

Disparitas putusan memang diperkenankan, asalkan tidak menyimpang dari pertimbangan sebagaimana ketentuan Pasal 197 Ayat (1) huruf f KUHAP,

bahwa: “Pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar pemidanaan atau tindakan dan pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum dari putusan, disertai keadaan yang memberatkan dan yang meringankan terdakwa.” Kemudian dipertegas lagi dalam penjelasan dari Pasal 197 Ayat (2) KUHAP, bahwa: “Kecuali yang tesebut dalam pada huruf a,e,f dan h, apabila terjadi sesuatu kekhilafan dan atau kekeliruan dalam penulisan maka kekhilafan atau kekeliruan penulisan atau pengetikan tidak menyebabkan batalnya putusan demi hukum”.

Jadi perbandingan antara putusan pertama yang terdakwanya Djar’un cs dan putusan kedua dengan terdakwa Mahdali cs dapat dikatakan disparitas pidana itu dapat kita lihat dari uraian di atas antara perbandingan putusan pertama dan kedua disitu dapat kita lihat dari proses putusan dari tingkat Pengadilan Negeri sampai Tingkat Mahkamah Agung yakni pada tingkatan Putusan Mahkamah Agung yang dikatakan disparitas putusan itu dapat kita lihat yakni terdakwa Djar’un cs dinyatakan Melepaskan para terdakwa dari segala tuntutan hukum sedangkan dalam kasus Husen Mahdali cs masing masing terdakwa dikenakan hukuman 2 (dua) tahun penjara karena terbukti secara sah melakukan tindak pidana korupsi.

Hal ini berarti bahwa dalam kasus Djar`un dan Suryanto menganggap bahwa yang terjadi adalah adanya suatu kesalahan dalam lingkup hukum administrasi, sehingga meskipun negara dirugikan, namun kerugian yang ditimbulkan oleh hukum administrasi, maka bukan merupakan suatu perbuatan melawan hukum, sehingga meskipun negara dirugikan, kerugian tersebut bukan

merupakan suatu perbuatan pidana. Sedangkan dalam kasus Husen Mahdali cs disertai pertimbangan hukum

Dokumen terkait