• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PUTUSAN PENGADILAN AGAMA DEPOK PERKARA

C. Putusan Pengadilan

Mengabulkan permohonan Pemohon dengan memberi izin kepada Pemohon untuk menjatuhkan talak satu raj’I terhadap Termohon di depan sidang Pengadilan Agama Depok setelah putusan ini mempunyai kekuatan hukum tetap. Bekas

suami wajib memberikan mut’ah kepada bekas istri dan nafkah selama menjalani

masa iddah. Waktu tunggu bagi yang masa haid di tetapkan 3 (tiga) kali suci dengan sekurang-kurangnya 90 hari, dengan demikian ditetapkan waktu tunggu (iddah) bagi Termohon adalah selama 90 hari. Beban pemberian mut’ah dan

nafkah iddah dari Pemohon yang harus diberikan kepada Termohon, Majelis Hakim akan mempertimbangkannya dalam pertimbangan rekonvensi. Dalam rekonvensi yaitu mengabulkan gugatan penggugat rekonvensi untuk sebagian. Menghukum Tergugat Rekonvensi untuk memberikan kepada Penggugat Rekonvensi Mut’ah berupa uang sejumlah Rp. 15.000.000,- (lima belas juta

rupiah). Nafkah selama menjalani iddah seluruhnya Rp. 15.684.000,- (lima belas juta enam ratus delapan puluh empat rupiah). Biaya pendidikan anak kedua (Laras Paramastuti Adhyasari) sejumlah Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah).

Menetapkan telah terjadi hibah dari Penggugat Rekonvensi dan Tergugat Rekonvensi kepada Laras Paramastuti Adhyasari (anak kedua) atas harta/barang berupa : Tanah seluas 264 m2 (dua ratu enam puluh empat meter persegi) dan sebuah bangunan rumah yang berdiri di atasnya, terletak di Jl. Lumut Hijau III F 157 Blok L Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok, Jawa Barat dengan Sertifikat Hak Milik Nomor 1394 yang diterbitkan Kantor Pertanahan Kota Depok. Tanah seluas 180 m2 (seratus delapan puluh meter persegi) dan sebuah rumah yang berdiri si atasnya, terletak di Taman Ganesha D5 No.3A, Telaga Kahuripan, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dengan Sertifikat Hak Guna Bangunan Nomor 1129 yang diterbitkan Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor. Satu unit mobil Toyota Wish, warna Silver, tahun pembuatan 2003, Nomor polisi B 2267 OD. Membebankan kepada Pemohon Konvensi/Tergugat Rekonvensi untuk membayar biaya perkara sejumlah Rp. 171.000,- (seratus tujuh puluh satu ribu rupiah).

67

BAB IV

MEDIASI DALAM PERKARA NOMOR 1155/Pdt.G/2008/PA. DPK A. Analisis Putusan Tentang Duduk Perkara

Ditinjau dari kekuasaan absolut atau yuridiksi absolut mengadili, kedudukan Pengadilan Agama Depok yang mengadili perkara cerai talak dalam putusan ini dengan nomor Perkara 1155/Pdt.G/2008/PA.Dpk. memang sesuai dengan wewenangnya.

Kompetensi absolut atau yuridiksi absolut mengadili, kedudukan Pengadilan Agama Depok sebagai penyelengara kekuasaan Negara di bidang yudikatif yang berada di bawah Mahkamah Agung (MA), secara konstitual bertindak menyelenggarakan peradilan guna menegakan hukum dan keadilan, dalam kedudukannya sebagai pengadilan Negara Peradilan Agama berwenang mengadili perkara bagi rakyat yang beragama Islam mengenai: perkawinan, kewarisan yang meliputi wasiat, hibah, wakaf dan shodaqah, serta bertugas dan berwenang untuk memberikan pelayanan hukum dan keadilan dalam bidang hukum keluarga dan harta perkawinan bagi yang beragama islam berdasarkan hukum Islam.

Karena perkara ini termasuk dalam bidang hukum keluarga dan harta perkawinan bagi yang beragama islam yaitu perkara cerai talak sebagaimana maksud dan tujuan permohonan Pemohon untuk bercerai. Dalam perkara putusan ini dengan nomor Perkara 1155/Pdt.G/2008/PA.Dpk. Bahwa dalam putusan ini

berisikan perkara cerai talak dimana Pemohon dalam surat permohonannya tertanggal 10 November 2008 yang didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Agama Depok pada tanggal itu juga dengan register perkara Nomor 1155/Pdt.G/2008/PA.Dpk mengajukan permohonan cerainya.

Menurut amandemen Pasal 24 ayat (2) UUD 1945 dan Pasal 10 ayat (1) UU No.14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman sebagaimana di ubah dengan UU No. 35 Tahun 1999 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman dan sekarang diganti dengan pasal 2 jo. Pasal 10 ayat (2) UU No. 4 Tahun 2004; tentang Kekuasaan Kehakiman (Judicial Power) yang berada di bawah Mahkamah Agung (MA), dilakukan dan dilaksanakan oleh beberapa lingkungan peradilan yang terdiri dari : Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer, dan Peradilan Tata Usaha Negara.1

Keempat lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung ini, merupakan penyelengara kekuasaan Negara di bidang yudikatif. Oleh karena itu secara konstitual bertindak menyelenggarakan peradilan guna menegakan hukum dan keadilan,dalam kedudukannya sebagai pengadilan Negara. Dengan demikian, Pasal 24 ayat (2) UUD 1945 dan Pasal 2 jo. Pasal 10 ayat (2) UU No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman merupakan landasan sistem peradilan Negara di Indonesia, yang dibagi dan terpisah berdasarkan yuridiksi.

1

Muhammad Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata Tentang Gugatan, Persidangan, penyitaan, Pembuktian dan Putusan Pengadilan, (Jakarta: Sinar Grafindo,2006), h. 180

69

Berdasarkan Pasal 49 UU No.7 Tahun 1989 Tentang peradilan Agama, bahwa Peradilan Agama berwenang mengadili perkara bagi rakyat yang beragama Islam mengenai: Perkawinan, Kewarisan yang meliputi wasiat, hibah, Wakaf dan Shodaqah.2

Berdasarkan ketentuan Undang-undang No.3 tahun 2006 tentang peradilan Agama khususnya pasal 1,2,49 dan penjelasan umum angka 2 serta peraturan perundang-undangan lain yang berlaku, antara lain Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, PP No.28 tahun 1977 tentang Wakaf, PERMENEG No.2 tahun 1987 tentang wali hakim, maka Pengadilan Agama bertugas dan berwenang untuk memberikan pelayanan hukum dan keadilan dalam bidang hukum keluarga dan harta perkawinan bagi yang beragama islam berdasarkan hukum Islam.3

Ditinjau dari kompetensi relatif, kedudukan Pengadilan Agama Depok yang mengadili perkara cerai talak dalam putusan ini dengan Nomor Perkara 1155/Pdt.G/2008/PA.Dpk. memang sesuai dengan wewenangnya.

Setiap Pengadilan Agama terbatas daerah Hukumnya. Hal ini sesuai dengan kedudukan Pengadilan Agama, hanya berada di wilayah tertentu. Menurut Pasal 4 ayat (1) UU No.2 Tahun 1986:

2

Muhammad Yahya Harahap,, Hukum Acara Perdata Tentang Gugatan, Persidangan,

penyitaan, Pembuktian dan Putusan Pengadilan,h. 183

3

Mukti Arto, Praktek Perkara Perdata pada Pengadilan Agama, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), h.2

a. Pengadilan Agama (satu lingkup dengan Pengadilan Negeri di bawah Mahkamah Agung) berkedudukan di Kotamadya atau di ibukota Kabupaten.

b. Daerah hukumnya, meliputi wilayah Kotamadya atau Kabupaten yang bersangkutan.

Berdasakan pasal itu, kewenangan mengadili Pengadilan Agama hanya terbatas pada daerah hukumnya, diluar itu tidak berwenang. Tempat kedudukan daerah hukum, menentukan batas kompetensi relatif mengadili bagi setiap Pengadilan Agama.4 Patokan menentukan kewenangan mengadili dihubungkan dengan batas daerah hukum Pengadilan Agama, merujuk kepada ketentuan Pasal 118 HIR (Pasal 142 RBG). Dalam Pasal 118 HIR ditegaskan bahwa:

a. Yang berwenang mengadili suatu perkara adalah Pengadilan tepat tinggal tergugat,

b. Oleh karena itu, agar gugatan yang diajukan penggugat tidak tidak melanggar batas kompetensi relatif, gugatan harus diajukan dan dimasukan kepada Pengadilan yang berkedudukan di wilayah atau daerah hukum tempat tinggal tergugat.

Menurut hukum, yang dianggap sebagai tenpat tinggal seseorang meliputi: Tempat kediaman, atau Tempat alamat tertentu, atau Tempat kediaman

4

Muhammad Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata Tentang Gugatan, Persidangan, penyitaan, Pembuktian dan Putusan Pengadilan, h.191

71

sebenarnya. Adapun yang sah dan resmi dijadikan sumber menentukan tempat tinggal tergugat, terdiri dari berbagai akta atau dokumen. Yang terpenting diantaranya : Berdasarkan KTP, Kartu Rumah Tangga, Surat Pajak, dan Anggaran Dasar Perseroan.5

Putusan Pengadilan Agama Depok dengan Nomor Perkara 1155/Pdt.G/2008/ PA.Dpk. Sejalan dengan kompetensi atau wewenang hukumnya, jadi baik kompetensi absolut maupun kompetensi relatif memang sesuai dengan wewenangnya dengan hukum positif atau Peraturan yang berlaku di Indonesia. B. Analisis Putusan Tentang Pertimbangan Hukum Hakim

Pertimbangan hukum yang digunakan oleh Majelis Hakim tersebut dalam putusan perkara nomor 1155 / Pdt.G / 2008 / PA.DPK yaitu:

a. Pasal 174 HIR, dimana Majelis Hakim berpendapat pengakuan merupakan bukti yang mengikat dan sempurna.

b. Pasal 22 Ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Pasal 76 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama sebagaimana yang telah di ubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama, dimana Majelis Hakim memandang telah cukup untuk mempertimbangkan alasan permohonan cerai yang diajukan oleh Pemohon.

5

Muhammad Yahya Harahap,Hukum Acara Perdata Tentang Gugatan, Persidangan, penyitaan, Pembuktian dan Putusan Pengadilan, h.193

c. Yurisprudensi Mahkamah Agung RI Nomor 38 K/AG/1990 tanggal 22-8-1991 dan Nomor 266 K/AG/1993 tanggal 25-6-1996, dimana dalam pemeriksaan perkara ini Majelis Hakim memandang tidak perlu untuk menggali fakta tentang apa dan siapa yang menyebabkan terjadinya perselisihan dan pertengkaran dalam rumah tangga Pemohon dan Termohon, akan tetapi fakta yang perlu diungkap adalah tentang pecahnya rumah tangga Pemohon dan Termohon itu sendiri sebagaimana maksud yurisprudensi ini.

d. Al-Qur’an Surat Ar-Rum Ayat 21 dan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Jo. Pasal 3 Kompilasi Hukum Islam (INPRES Nomor 1 Tahun 1991), dimana Majelis Hakim berpendapat bahwa hubungan antara Pemohon dan termohon dalam membina rumah tangga sudah tidak harmonis, sehingga sulit untuk mewujudkan tujuan perkawinan.

e. Pasal 39 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan beserta penjelasannya dan Pasal 19 Huruf f Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Jo. Pasal 116 Huruf f Kompilasi Hukum Islam. Dalam kondisi tidak harmonis tersebut Majelis Hakim berpendapat ikatan perkawinan antara Pemohon dan Termohon telah pecah (broken marriage).

f. Pasal 149 dan Pasal 153 b Kompilasi Hukum Islam, bahwa apabila perkawinan putus karena talak maka bekas suami wajib memberikan mut’ah

73

kepada bekas istri dan nafkah selama menjalani masa iddah. Sesuai dengan maksud Pasal 153 b Kompilasi Hukum Islam, apabila perkawinan putus karena perceraian, waktu tunggu bagi yang masa haid di tetapkan 3 (tiga) kali suci dengan sekurang-kurangnya 90 hari.

g. Pasal 89 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, sebagaimana yang telah di ubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perdilan Agama, Dalam Konvensi dan Rekonvensi yaitu karena perkara ini termasuk dalam bidang perkawinan, semua biaya yang timbul dalam perkara ini dibebankan kepada Pemohon Konvensi/Tergugat Rekonvensi.

Dalam pertimbangan hukum yang digunakan oleh hakim yang memutus perkara ini sesuai dengan peraturan yang berlaku, berdasarkan bukti yang ada sudah memenuhi aturan yang berlaku, dalam perkara ini dalam tahap konvensi Majelis Hakim telah berusaha mendamaikan Pemohon dan Termohon agar kembali rukun untuk membina rumah tangga bersama, namun tidak berhasil, Majelis Hakimpun telah memerintahkan Pemohon dan Termohon untuk melakukan mediasi di luar pengadilan, baik dengan bantuan mediator dari luar pengadilan maupun dari dalam pengadilan, namun Pemohon dan Termohon sama-sama menolak upaya mediasi tersebut.

Sedangkan dalam tahap rekonvensinya Pada putusan Pengadilan Agama Depok perkara no.1155/Pdt.G/2008/PA.DPK (rekonvensi), diberita acara

persidangan rekonversi belum tercantumkan proses mediasi, Pada perkara ini tidak dilakukan mediasi dalam rekonvensi yang formal tapi para pihak diperintahkan untuk bagaimana memikirkan baiknya. Jadi sudah ada anjuran bagi para pihak kearah baik-baik bagaimana mereka dipikirkan cerainya dalam rekonvensinya ini. Pada tahun 2008 belum ada mediasi seperti sekarang, pada saat itu mediasi sosialisasinya belum berjalan, pada tahun 2009 baru berjalan. Pada saat itu Mediasi belum terlalu prinsip (menurut pemahaman hakim) setelah sosialisasi berjalan baru mediasi di efektifkan, pada rekonvensi belum dijalankan mediasi, mediasi dilakukan hanya pada pokok perkara saja. Berita acara dalam tahap rekonvensi adanya mediasi atau tidak, itu bersifat kondisional.

Menurut penulis mediasi tetap harus diupayakan dalam tahap rekonvensi, sebagai mana menurut M. Yahya Harahap bahwa pada prinsipnya upaya hakim dalam mendamaikan bersifat imperatif. Hakim berupaya mendamaikan para pihak yang berperkara.6 Dalam pemeriksaan perkara perceraian, fungsi upaya hakim untuk mendamaikan para pihak, tidak terbatas pada sidang pertama saja. Ketentuan pasal 82 ayat (4) UU No.7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama jis Pasal 31 ayat (2) dan Pasal 21 PP No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1974 melampaui prinsip tersebut. Menurut ketentuan pasal dimaksud, upaya mendamaikan dalam perkara perceraian adalah berlanjut selama proses

6

Muhammad Yahya Harahap,, Hukum Acara Perdata Tentang Gugatan, Persidangan,

75

pemeriksaan berlangsung dan mulai dari sidang pertama sampai tahap putusan belum dijatuhkan.

Dalam praktek pemeriksaan perkara gugatan rekonvensi secara umum selama ini tidak lagi ditempuh upaya perdamaian oleh majelis, hanya dalam beberapa kasus ditemukan adanya perdamaian khsusus untuk rekonvensi atas inisiatif para pihak berperkara. Padahal kalau merujuk kepada asas umum hukum acara yang berlaku, semestinya setiap sengketa yang diperiksa di persidangan harus diawali dengan upaya perdamaian.

Dokumen terkait