• Tidak ada hasil yang ditemukan

Putusan Putusan Pengadilan Negeri Medan No 2/Pailit/

BAB III PENENTUAN STANDAR INSOLVENSI DALAM KEPUTUSAN

B. Menurut UU No 4 Tahun

2. Putusan Putusan Pengadilan Negeri Medan No 2/Pailit/

Antara Karyo Indo Prima sebagai debitor (pemohon) vs The Pik Suan, Wen Fong, Jimmy Suwandi dan Tsjim Kui Phin sebagai kreditor.

a. Duduk Perkara

Pemohon (debitor) adalah seorang pengusaha yang menjalankan usaha perabotan, pertukangan dengan memakai nama perusahaan Karyo Indo Prima yang beralamat di Jalan Perbatasan No.2, Kelurahan Glugur Darat I, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan. Bahwa sekitar tahun 2004, pemohon yang pada saat itu mengalami kesulitan dan membutuhkan modal/finansial untuk menggerakkan dan atau menjalankan roda usaha sehari-hari, dan oleh karena hal tersebutlah, debitor telah meminta bantuan pinjaman uang kepada Kreditor-Kreditor dengan sistem bunga pinjaman berkisar sebesar 2,5 s/d 5 % (lima persen) per-bulan.

cara/sistim peminjaman uang tersebut adalah nilai pinjaman uang sebagaimana yang tertera di Bilyet Giro yang jatuh temponya bervariasi diserahkan kepada para kreditornya. Kemudian nilai nominal yang tertera di Bilyet Giro dipotong dengan bunga perbulan (30 hari), dan setelah dipotong bunga, maka uang tunai diserahkan kepada Pemohon (Debitur).

Karena lesunya perekonomian serta tipisnya keuntungan yang diperoleh debitor, sementara bunga yang diterapkan oleh para kreditor sangat mencekik leher, maka pemohon hanya bisa gali lubang tutup lubang saja, namun setelah berjalan hingga 3 s/d 4 tahun lamanya, maka pada bulan Maret 2007 yang lalu, praktis usaha debitor menjadi macet dan hutang-hutang debitor kepada para kreditornya telah jatuh tempo dan debitor sama sekali tidak sanggup untuk membayar lagi hutang-hutang Pemohon kepada para kreditor.

Sebagai reaksi atas tindakan debitor yang telah lalai dan telah tidak membayar sisa utang-utang kepada para Kreditor suatu utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih, debitor telah berulang kali pula mendapat teguran/peringatan dari para kreditor, baik melalui telepon bahkan mendatangi rumah dan tempat usaha debitor, dengan tujuan agar debitor segera menyelesaikan sisa utang yang ada dan pada saat itu telah jatuh tempo, namun debitor tidak dapat dan atau tidak mampu juga menyelesaikannya kepada para kreditor, yaitu :

a. Sisa utang debitor kepada The Pik Suan sebesar Rp 1.474.425.000,-

b. Sisa utang debitor kepada Wen Fong alias Henry Tanasal sebesar Rp. 2.080.939.000,-

c. Sisa utang debitor kepada Jimmy Suwandi sebesar Rp.699.590.000,- d. Sisa utang debitor kepada Tsjim Kui Phin sebesar Rp 360.450.000,-

Berdasarkan pada hal-hal yang telah debitor uraikan tersebut diatas, jelas terbukti bahwa debitor telah tidak membayar lebih dari satu utang yang telah jatuh

tempo dan dapat ditagih oleh para kreditor, dan oleh karenanya debitor telah memenuhi unsur dari Pasal 2 ayat (1) UUK dan PKPU.

Debitor juga memiliki utang kepada kreditor lainnya, yaitu :

1. PT. Bank Mandiri Cabang Imam Bonjol a/c No.1050100044680 atas nama Wilson Wijaya senilai Rp. 2.220.953.433,-

2. Ali/ Ahau Jl. Budi Kemasyarakatan No.25, Pulau Brayan sebesar Rp.154.750.000,-

3. Ibu Lasma Monika Silalahi, Jl. Karya Rakyat Kompleks Dosen No. 31-F, Medan Sebesar Rp.99.500.000,-

Bahwa apabila dijumlahkan secara keseluruhannya, maka Pemohon telah memiliki hutang yang telah jatuh tempo kepada pada Para Kreditor sebesar Rp.7.090.607.433.-

b. Pertimbangan Hakim PN. Niaga

Pada dasarnya penolakan Kreditor adalah karena Debitur sudah diberikan bunga yang cukup ringan sebesar 2,5 % dan 5 % tetapi tetap pada saat jatuh tempo tidak membayar hutang para kreditor. hal tersebut dapatlah diselesaikan setelah Debitur dinyatakan Pailit dan menunjuk Kurator serta Hakim Pengawas dan pada saat Rapat Kreditor untuk pencocokan hutang tersebut perbedaaan tentang besarnya tagihan tersebut dapat diselesaikan oleh Hakim Pengawas apabila sengketa tersebut

juga tidak dapat diselesaikan maka dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Vide Pasal 127 ayat (1) Undang-Undang No 37 tahun 2004 tentang UUK dan PKPU.

Berdasarkan bukti P-4 tentang Daftar Perincian Bilyet Giro Hutang, hal tersebut membuktikan Debitur telah membayar dengan pembayaran Rekening yang tidak Cukup atau Rekening yang sudah Ditutup ini membuktikan Debitur dalam keadaan tidak mampu membayar dan debitur secara nyata telah mempunyai hutang kepada para kreditor. Debitur dapat memperlihatkan Bukti yang cukup membuktikan bahwa Debitur mempunyai hutang dan terhadap hutang tersebut telah jatuh tempo dan dapat ditagih dimuka persidangan serta disamping itu Debitur masih mempunyai Kreditor Lainnya yaitu P.T Bank Mandiri Cabang Imam Bonjol sebesar Rp 2.220.953.433,- , Ali / Ahau sebesar Rp 154.750.000,- , Lasma Monika Silalahi sebesar Rp 99.500.000,-yang juga telah jatuh tempo dan dapat ditagih dengan Fakta Hukum yang terungkap dipersidangan ini maka terbukti benar Pemohon (Debitur) telah memenuhi syarat untuk dinyatakan Pailit sesuai dengan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang No 37 Tahun 2004.

Dengan mengambil alih pertimbangan hukum tentang keberadaan Debitur dalam keadan Pailit sesuai Pasal 2 ayat (1) UUK tentang Kepailitan maka sudah cukup membuktikan Debitur dalam keadaan Pailit dengan adanya bukti P-3.1 s/d P- 3.35 , P-4 , P-5, P-6,dan bahwa benar terbukti Debitur memiliki hutang yang sudah Jatuh Tempo dan dapat ditagih ;

Mengenai keberadaan Kreditor Lainnya Debitor hanya mengajukan Bukti P-7 dan Bukti P-8 sedangkan mengenai perincian hutang untuk pihak P.T Bank Mandiri Cabang Imam Bonjol sebesar Rp 2.220.953.433,- , Ali / Ahau sebesar Rp 154.750.000,- , Lasma Monika Silalahi sebesar Rp 99.500.000,- tidak dapat dibuktikan secara konkret dan jelas sehingga terhadap bukti tersebut haruslah dikesampingkan.

Hutang-hutang yang sudah jatuh tempo dan dapat ditagih tersebut ternyata tidak dapat dilunasi oleh Pemohon ( Debitur ) pada para Kriditornya akibat lesunya perekonomian serta tipisnya keuntungan yang diperoleh Pemohon sehingga hanya bisa gali lobang tutup lobang saja lalu usaha Pemohon menjadi macet dan hutang- hutang debitor sama sekali tidak sanggup untuk membayar maka berdasarkan Pasal 2 ayat (1) UUK dan PKPU dan dari bukti-bukti yang diajukan serta fakta hukum yang terungkap selama Pemeriksaan Permohonan Pernyataan Pailit ini sebagaimana telah dipertimbangkan dalam pertimbangan-pertimbangan hukum diatas maka adalah beralasan menurut hukum bagi Majelis Hakim untuk menyatakan Pemohon (Debitur) To Seng Kiang/ Welsen Wijaya sebagai pengusaha toko perabot Karya Indo Prima dalam keaadaan Pailit.

c. Analisis Hukum

Pemohon (debitor) mengajukan permohonan pailit ke PN. Niaga karena mengalami kesulitan akibat lesunya perekonomian serta tipisnya keuntungan yang diperoleh debitor. Sistem bunga pinjaman berkisar sebesar 2,5 s/d 5 % (lima persen) per-bulan. Dan debitor pernah melakukan pembayaran terhadap utangnya, dalam hal ini debitor mempunyai itikad baik.

Bukti-Bukti sebagaimana dimaksud pada Pasal 164 HIR / RBG yang diajukan debitor semakin memperkuat adanya fakta hukum memperlihatkan bahwa benar pemohon memang mempunyai hutang pada kreditor yaitu The Pik Suan, Wen Fong, Jimmy Suwandi dan Tsjim Kui Phin. kreditur lain yaitu pada P.T Mandiri Cabang Imam Bonjol, Ali / Ahau dan Plasma Monika Silalahi.

Berdasarkan bukti-bukti tentang Daftar Perincian Bilyet Giro Hutang kepada kreditor-kreditor, membuktikan Debitur telah membayar dengan pembayaran Rekening yang tidak Cukup atau Rekening yang sudah Ditutup dalam hal ini debitur dalam keadaan tidak mampu membayar. kreditor telah memberikan teguran/peringatan terhadap utang –utang tersebut yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih.

Bukti-bukti yang diajukan untuk permohonan pailit tidaklah sulit dilakukan oleh karena permohonan pailit diajukan oleh debitor itu sendiri. Sehingga tidaklah sulit untuk memenuhi ketentuan Pasal 2 ayat (1) jo. Pasal 8 ayat (4) UUK dan PKPU.dan tidak ada alasan hakim untuk menolak permohonan tersebut.

Namun, tidak jarang hukuk kepailitan dipergunakan sebagai alasan untuk menghindarkan pembayaran utang. Debitor tidak ingin repot menghadapi tuntutan dari para kreditornya. Untuk itu debitor mengajukan permohonan pailit karena dengan putusan pailit mengakibatkan segala tuntutan terhadap debitor beralih kepada kurator. Selanjutnya akan melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit da membagi-bagikan hasilnya secara seimbang kepada para kreditor.

Dokumen terkait