Pemohon Taufik Basari memaparkan pokok-pokok permohonan dalam sidang pendahuluan pengujian materi KUHAP di ruang Sidang Pleno Gedung MK, Rabu (15/5/2013).
dilaksanakan oleh panel Hakim Konstitusi M. Akil Mochtar (Ketua), didampingi dua Anggota panel Hamdan Zoelva dan Arief Hidayat. permohonan perkara yang diregistrasi dengan nomor 43/ puu-Xi/2013 diajukan oleh Samady Singarimbun, sedangkan perkara nomor
53/PUU-XI/2013 diajukan oleh Tauik
Basari.
Tauik Basari menjelaskan,
permohonan pengujian pasal 197 ayat (1) huruf k KuHAp yang diajukannya ke MK kali ini, sebelumnya pernah diperiksa dan diputus oleh MK dalam perkara nomor 69/ puu-X/2012. “Dimana amar putusannya adalah menolak permohonan pemohon,”
lanjut Tauik.
untuk diketahui, MK pada Kamis (22/11/2012) lalu, mengeluarkan putusan nomor 69/puu-X/2012 yang dimohonkan oleh H. parlin riduansyah. MK dalam amar putusan menyatakan menolak permohonan parlin untuk seluruhnya. Selain itu, MK juga memaknai pasal 197 ayat (2) huruf k KuHAp bertentangan dengan uuD 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat, apabila diartikan surat putusan pemidanaan yang tidak memuat ketentuan pasal 197 ayat (1) huruf k KuHAp mengakibatkan putusan batal demi hukum.
pasal 197 ayat (2) KuHAp selengkapnya menjadi, “Tidak dipenuhinya ketentuan dalam ayat (1) huruf a, b, c, d, e, f, h, j, dan l pasal ini mengakibatkan putusan batal demi hukum.
Tauik sepenuhnya menyadari
ketentuan dalam uu nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (uu MK) sebagaimana telah diubah dengan uu nomor 8 Tahun 2011. pasal 60 uu MK berisi ketentuan mengenai ayat, pasal atau bagian dalam uu yang telah diuji, tidak dapat dimohonkan pengujian
kembali. Oleh karena itu, Tauik mencoba
meyakinkan Majelis Hakim bahwa permohonan yang diajukannya berbeda dengan permohonan parlin, sehingga Majelis Hakim tidak memutuskan nebis in idem. Perbedaan yang dimaksudkan Tauik
yaitu, permohonan yang diajukannya adalah pengujian frasa “ditahan” dan “tahanan”, sedangkan permohonan parlin adalah pengujian keseluruhan pasal 197 ayat (1) huruf k KuHAp. “pemohon kali ini menguji frasa ditahan dan tahanan. perbedaannya dengan permohonan perkara nomor 69/puu-X/2012, mereka itu menguji keseluruhan pasal 197 ayat (1)
huruf k KUHAP,” terang Tauik.
permohonan perkara nomor 69/puu- X/2012 itulah yang melatarbelakangi
permohonan Tauik ini. Petitum
permohonan nomor 69/puu-X/2012 tersebut pada intinya meminta MK agar menyatakan pasal 197 ayat (1) huruf k KuHAp konstitusional bersyarat, sepanjang dimaknai pasal tersebut bersifat imperatif dan mandatory pada semua putusan pemidanaan, baik pengadilan negeri, pengadilan tinggi, maupun Mahkamah Agung.
Putusan Multitafsir
Putusan tersebut menurut Tauik,
tidak memberikan pertimbangan hukum yang cukup mengenai alasan penolakan petitum permohonan. pertimbangan hukum MK justru tertuju kepada alasan pemaknaan pasal 197 ayat (2) huruf k KuHAp yang tidak dimohonkan oleh parlin.
“lebih banyak memberikan petimbangan mengenai alasan dimaknainya pasal 197 ayat (2) huruf k KuHAp yang tidak dimohonkan pemohon,” kritik
Tauik.
Akibatnya, putusan nomor 69/ puu-X/2012 menyebabkan adanya penafsiran berbeda dari kalangan penegak hukum. Bahkan pihak tertentu memelintir makna pasal 197 ayat (2) huruf k dengan menggunakan putusan MK. Hal tersebut
terbukti dari konlik antara Kejaksaan dan
Kepolisian republik indonesia (polri), dalam ini Kepolisian Daerah jawa Barat (polda jabar), dalam kasus eksekusi Susno Duadji.
Tauik berpendapat frasa “ditahan”
dan “tahanan” dalam pasal yang dimohonkan tersebut mengatur soal penahanan terdakwa untuk kepentingan pemeriksaan sidang yang tidak memiliki kaitan dengan pemidanaan, sehingga dirinya meminta kepada MK memberikan tafsir konstitusional agar pasal 197 ayat (1) huruf k KuHAp sepanjang frasa “ditahan” dan “tahanan” tersebut ditafsirkan berdasar
deinisi yang terdapat dalam KUHAP, yaitu
untuk kepentingan pemeriksaan sidang.
Tafsir Gramatikal dan Sistematis Menurut Tauik, Pasal 197 ayat (1)
huruf k KuHAp hanya berlaku untuk putusan pengadilan negeri (pn) dan
pengadilan tinggi (pT), dan tidak berlaku untuk putusan Mahkamah Agung (MA). Karena setelah ada putusan MA sebagai
putusan yang inal, maka tidak ada lagi
penahanan. “Adanya pemidanaan, jika putusannya bersifat pemidanaan,” dalil
Tauik.
pasal 197 ayat (1) huruf k KuHAp,
jelas Tauik, berbicara tentang penahanan
yang tidak berkaitan dengan pemidanaan atau eksekusi terhadap putusan pidana yang telah inkracht. Memperkuat
argumentasi ini, Tauik menggunakan dua
pendekatan penafsiran, yaitu penafsiran gramatikal dan penafsiran sistematis. Berdasarkan penafsiran gramatikal, pasal 197 ayat (1) huruf k KuHAp harus dibaca satu tarikan nafas dengan pengertian penahanan menurut pasal 1 angka 21, pasal 21 ayat (1), pasal 22 ayat (1), pasal 26, pasal 27, pasal 28, pasal 193 dan pasal 242 KuHAp.
Frasa “ditahan” dan “tahanan” keduanya dari akar kata “tahan”. penafsiran frasa “ditahan” dan “tahanan” dalam pasal 197 ayat (1) huruf k KuHAp,
menurut Tauik, harus dicari padanan
pengertiannya dalam KuHAp. istilah penahanan dalam KuHAp, diterangkan dalam pasal 1 angka 21 yang menyatakan, “penahanan adalah penempatan tersangka atau terdakwa di tempat tertentu oleh penyidik, atau penuntut umum atau hakim
dengan penetapannya, dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang- undang ini.”
pasal 21 ayat (1) KuHAp yang menjelaskan mengenai apa itu penahanan. pasal ini juga mengatur mengenai alasan- alasan dikenakannya penahanan. “Dari ketentuan-ketentuan tersebut di atas, jelas bahwa penahanan dilakukan hanya jika terpenuhinya syarat-syarat tersebut dan tidak berkaitan dengan pemidanaan,” jelas
Tauik.
Kemudian mengenai jenis penahanan dijelaskan dalam pasal 22 ayat (1) KuHAp, yaitu penahanan rumah tahanan negara (rutan), penahanan rumah dan penahanan kota. Hal ini berbeda dengan pemidanaan yang dilakukan di lembaga pemasyarakatan (lp).
KuHAp juga mengatur kewenangan hakim yang mengadili perkara di tiap tingkatan untuk melakukan penahanan guna kepentingan pemeriksaan (pasal 26, 27, 28). “penahanan ini dilakukan untuk sementara waktu selama proses pemeriksaan berlangsung. Sementara rujukan syaratnya, mengacu pada syarat penahanan dalam pasal 21 ayat (1)
KUHAP,” papar Tauik.
Selain itu, pasal 197 ayat (1) huruf k KuHAp ini, juga memiliki kesamaan maksud dengan pasal 193 ayat (2) dan pasal 242 KuHAp. pasal 193 ayat (2)
RUANg SIDANG
HUKUMTaufik Basari (Pemohon) usai sidang perbaikan permohonan perkara Nomor 53/PUU-XI/2013 ihwal pengujian materi KUHAP di Ruang Sidang Pleno Gedung MK, Rabu (29/5/2013).
KuHAp menyatakan, “a. pengadilan dalam menjatuhkan putusan, jika terdakwa tidak ditahan, dapat memerintahkan supaya terdakwa tersebut ditahan, apabila dipenuhi ketentuan pasal 21 dan terdapat alasan, cukup untuk itu. b. Dalam hal terdakwa ditahan, pengadilan dalam menjatuhkan putusannya, dapat menetapkan terdakwa tetap ada dalam tahanan atau membebaskannya, apabila terdapat alasan cukup untuk itu.” Sedangkan pasal 242 KuHAp menyatakan, “jika dalam pemeriksaan tingkat banding terdakwa yang dipidana itu ada dalam tahanan, maka pengadilan tinggi dalam putusannya memerintahkan supaya terdakwa perlu tetap ditahan atau dibebaskan.”
“Bedanya dengan pasal 193 untuk pasal 242 ini, hanya mengatur jika terdakwa dalam tahanan, namun tidak mengatur terdakwa yang tidak sedang
ditahan,” tambah Tauik.
jalinan pasal-pasal tersebut
menunjukkan bahwa dasar ilosois
keberadaan pasal 193, pasal 197 ayat (1) huruf k dan pasal 242 adalah adanya jaminan status penahanan bagi seorang terdakwa ketika sedang menjalani proses pemeriksaan di tiap tingkatan. Ketiadaan jaminan status penahanan ini mengakibatkan putusan batal demi hukum, sebagaimana dimaksud pasal 197 ayat (2) sebelum adanya putusan MK nomor 69/ puu-X/2012.
Berdasarkan penafsiran gramatikal, jalinan pasal-pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa frasa “ditahan” dan “tahanan” pada pasal 197 ayat (1) huruf k KuHAp mengacu pada pengertian penahanan menurut KuHAp. Yakni menempatkan terdakwa pada rutan, tahanan rumah, atau atau tahanan kota untuk masa tertentu dan terbatas guna kepentingan pemeriksaan.
Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana jika pemeriksaan telah selesai karena putusan inkracht? Menurut Tauik,
tidak ada lagi penahanan, yang ada yaitu pemidanaan bagi putusan yang berisi pemidanaan. “jadi, perintah ditahan atau tetap dalam tahanan, tidak berkaitan
dengan eksekusi pidana,” tegas Tauik.
Selain penafsiran gramatikal, berdasarkan penafsiran sistematis, sistematika pasal-pasal tersebut, dapat disimpulkan bahwa pasal 193 KuHAp
diperuntukkan bagi putusan tingkat pn. pasal 242 KuHAp diperuntukkan bagi putusan pT. Sementara tingkat kasasi, tidak terdapat ketentuan bagi hakim MA untuk memerintahkan supaya terdakwa ditahan, tetap dalam tahanan atau dibebaskan. “Dapat disimpulkan bahwa perintah supaya terdakwa ditahan, tetap dalam tahanan atau dibebaskan, hanya diperuntukkan bagi putusan pn dan pT dan tidak berlaku bagi putusan MA,”
simpul Tauik.
Oleh karena itu, untuk menghindari multitafsir pasal 197 ayat (1) huruf
k KUHAP, Tauik meminta MK agar
memberikan tafsir konstitusi terhadap frasa “ditahan” dan “tahanan”. “Dengan adanya tafsir ini, maka tidak terbuka lagi ruang bagi berbagai pihak untuk menghindari eksekusi, dan tidak terbuka
lagi potensi konlik antaraparat penegak
hukum yang memiliki tafsirnya masing-
masing,” pungkas Tauik. “Polemik” Putusan MK
Menanggapi permohonan Tauik
Basari, Hakim Konstitusi Hamdan Zoelva menyatakan putusan MK nomor 69/ puu-X/2012 sudah cukup jelas, kendati di dalamnya tidak menyebutkan pasal 197 ayat (1) huruf k KuHAp. Menurut Hamdan, putusan pidana pengadilan tetap sah dan tidak batal demi hukum, sehingga perdebatan penafsiran seharusnya sudah selesai.
Sementara Akil Mochtar menyinggung permohonan pemohon yang dipandang mempersoalkan kembali putusan MK. “Saudara memancing kami untuk memperdebatkan putusan MK,” ujar Akil. Menurut Akil, argumentasi yang diajukan pemohon lebih banyak berkutat pada jaminan kepastian hukum yang adil, dan itu tidak berbeda dengan permohonan sebelumnya yang telah diputus MK. Akil juga mempertanyakan contoh polemik yang dikemukakan pemohon. “Apakah benar putusan tersebut menimbulkan polemik? Apakah benar polemik tersebut menimbulkan kerugian konstitusional?” tanya Akil.
Menurutnya, setiap putusan MK selalu menjadi kontroversial dan itu hal yang biasa, apa lagi putusan yang menjadi landmark. Akil meminta kepada pemohon untuk memperbaiki
permohonannya, terutama soal argumentasi polemik yang dikemukakan pemohon, apakah polemik tersebut merupakan polemik hukum hukum ataukah itu memang polemik konstitusionalitas norma yang memang menjadi wewenang MK untuk menyelesaikannya.
Usai persidangan Tauik
mengungkapkan kemungkinan besar permohonan ini diputus oleh MK tidak dapat diterima, namun dirinya tidak mempersoalkan hal tersebut, karena dengan permohonan ini MK dapat memberikan penjelasan terkait pasal yang dimohonkan olehnya sehinga bisa menghentikan polemik yang terjadi diantara penegak hukum akhir-akhir ini.
RUANg SIDANG
HUKUMS
iapakah yang dimaksud dengan “pihak ketiga yang berkepentingan” dalam ketentuan pasal 80 undang- undang nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara pidana (KuHAp)? KuHAp sendiri tidak memberikan interpretasi yang jelas mengenai siapa saja yang dapat dikategorikan sebagai “pihak ketiga yang berkepentingan”. Ketidakjelasan frasa ini pun memunculkan spekulasi multiinterpretasi. imbasnya, upaya hukum praperadilan yang diajukan oleh masyarakat umum melalui lembaga swadaya masyarakat (lSM) seringkali ditolak karena tidak memiliki legal standing. interpretasi frasa “pihak ketiga yang berkepentingan” dalam ketentuan tersebut dipersempit dan terbatas pada saksi korban atau pelapor.Kini, tiada lagi multiinterpretasi yang berpeluang menghadang langkah lSM atau Ormas untuk mengajukan