• Tidak ada hasil yang ditemukan

Radang Ambing

Dalam dokumen By: Sulindawaty, M.Kom (Halaman 121-140)

Radang ambing (mastitis) adalah radang pada ambing yang biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri dan secara signifikan dapat menurunkan produksi susu pada industri sapi perah. Mastitis dapat menyebabkan penurunan kadar potassium dan laktoferrin serta kasein sebagai protein utama pada susu.

122 Mastitis pada sapi perah merupakan radang yang bersifat akut, subakut, maupun kronis, yang ditandai dengan kenaikan sel radang dalam air susu, perubahan fisik ambing dan susunan air susu, dan tanpa disertai perubahan patologis pada keenjar mammae.

A. Gejala – gejala

a. Radang bersifat subklinis apabila gejala – gejala klinis radang tidak ditemukan pada saat pemeriksaan ambing

b. Radang bersifat akut apabila tanda – tanda radang jelas ditemukan, seperti kebengkakan ambing, panas saat diraba, rasa sakit, warna kemerahan, dan terganggunya fungsi ambing. c. Susu berubah dari sifat normalnya, yakni susu pecah, bercampur endapan atau jonjot fibrin,

reruntuhan sel dan gumpalan protein, atau darah.

a. Radang berlangsung subakut dengan tanda – tanda di atas, tetapi derajatnya lebih ringan, yaitu sapi mau makan dan temperatur tubuh dalam batas normal.

b. Radang berlangsung kronis apabila infeksi dalam suatu ambing berlangsung lama, dari suatu periode laktasi ke periode berikutnya. Proses kronis yang tidak diobati biasanya berakhir dengan matinya jaringan kelenjar susu.

B. Pencegahan

a. Menjaga kebersihan kandang ( terutama lantai bebas dari kotoran dan kering ), alat – alat pemerah, dan sumber air.

b. Secara berkala susu diuji menggunakan cawan hitam untuk melihat pecah atau tidak, uji CMT, atau metode lainnya untuk memonitor adanya mastitis.

123 d. Sapi yang terkena mastitis diperah pada akhir pemerahan, semua peralatan dan bahan yang

digunakan terpisah dari sapi yang sehat.

e. Pemberian nutrisi yang berkualitas yang mengandung cukup vitamin E, A, β-katoren, kobalt ( Co ), dan seng ( Zn ).

C. Pengobatan

Dalam beberapa kasus, sapi yang diberi antibiotic sejak dini dapat bertahan hidup, meskipun pada akhirnya sapi tersebut sering menderita cacat permanen karena kerusakan sebagian atau seluruh pada otot.

1. Botulisme

Botulisme merupakan penyakit yang melumpuhkan sapi. Racun saraf yang kuat yang dihasilkan oleh bakteri clostridium botulinom. Toksin diproduksi ketika ketika bakteri dalam keadaan negatif, baik dalam pakan maupun yang

tumbuh di usus atau dalam luka yang tertutup. A. Gejala – gejala

a. Sapi menderita kelumpuhan progresif dan gagal bernafas karena kelumpuhan otot – otot pernapasan.

a. Sapi cenderung memiliki gaya berjalan kaku dan mengeluarkan air liur.

b. Sapi biasanya ditemukan duduk, tidak mampu berdiri, dan nafas berat. Sering sapi memanjangkan kaki belakangnya seperti posisi kaki katak untuk memudahkan bernafas. B. Pencegahan

a. Memberikan pakan yang mengandung protein dan fosfor agar sapi tidak mengunyah tulang didaerah penggembalaan sapi.

124 b. Memanen dan menyimpan hijauan pakan sebaik mungkin untuk mengurangi kemungkinan

pakan terkontaminasi.

c. Bangkai sapi dikubur minimal sedalam 2,5 – 3 meter dari permukaan tanah. C. Pengobatan

a. Tidak ada pengobatan khusus, hanya terapi suportif. Sapi yang terkena botulisme diberi terapi suportif.

b. Sapi harus diberi naungan. 2. Surra

Surra (Trypanosomiasis/Penyakit Mubeng). Surra dari surah marathi, artinya suara napas berat melalui lubang hidung.

Surra disebabkan oleh Protozoa Trypanosoma evansi. Protozoa ini hidup dalam darah penderita dan mengisap glukosa yang terkandung dalam darah. Selain itu protozoa ini ini mengeluarkan sejenis racun yang disebut trypanotoksin yang dapat mengganggu penderita. A. Gejala – gejala

a. Gejala umum meliputi demam, lesu, dan lemah.

b. Nafsu makan berkurang, penderita kurus, dan kehilangan berat badan. c. Temperatur badan naik dan demam berselang – seling.

d. Muka pucat, anemia, kurus, bulu rontok, dan busung daerah dagu dan anggota gerak. e. Di bawah dagu dan kaki kelihatan kotor dan kering seperti bersisik.

f. Penderita menjadi letih dan tak mampu bekerja.

g. Di daerah endemic sapi mungkin terkena infeksi, tetapi tidak terlihat adanya gejala. h. Keluar leleran radang dari hidung dan mata.

125 B. Pencegahan

a. Penderita diasingkan di kandang yang tertutup sehingga terlindung dari gigitan lalat. b. Sapi yang mati akibat penyakit surra harus dibakar atau dikubur.

c. Pembasmian serangga penghisap darah dengan menyemprotkan kandang, semua peralatan, sapi, atau lingkungan yang banyak dihinggapi lalat menggunakan asuntol atau insektisida lain yang aman bagi sapi.

d. Pembersihan tempat yang basah dan rimbun.

e. Pengeringan tanah dan penertiban pembuangan kotoran dan sampah sisa pakan. f. Pemotongan sapi yang sakit pada malam hari untuk menghindari lalat.

g. Sapi yang sakit dapat dipotong dan dikonsumsi di bawah pengawasan dokter hewan. C. Pengobatan

a. Mengobati dengan menggunakan naganol

b. Mengobati dengan menggunakan arsokol, dan atoxyl apabila diketahui gejalanya dengan cepat.

3. Kelumpuhan

Salah satu penyakit metabolik yang sering dialami oleh sapi perah, yakni kelumpuhan (milk fever) atau paresis puerpuralis. Penyakit ini banyak menyerang sapi perah pada saat 48–72 jam setelah kelahiran, pada masa laktasi ketiga, atau sapi yang sudah tua dan produksi susunya tinggi.

A. Gejala – gejala

126 a. Pada awal laktasi, sapi membutuhkan kalsium yang cukup tinggi sesuai dengan produksinya. Oleh karena itu, jika kalsium pada pakan tidak mencukupi, kalsium tulang akan dibongkar untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

b. Karena kesalahan manajemen pengeringan, sering menyebabkan terjadinya pembongkaran kalsium tulang secara besar – besaran sehingga menyebabkan sapi ambruk.

B. Pencegahan

a. Pada saat sapi melahirkan ditempatkan di kandang yang cukup empuk dan lantai tidak licin. b. Apabila terjadi milk fever segera ditangani agar tidak berlanjut.

c. Sapi setelah melahirkan harus terus diawasi agar apabila terjadi Pendarahan segera dapat diketahui.

d. Apabila sapi sudah terlanjur tidak dapat bangun, posisi sapi harus sering diubah

sehingga kaki yang tertindih tidak mengalami gangguan sirkulasi. Sapi dibantu/diusahakan berdiri dengan menggunakan katrol.

e. Kebersihan tempat dapat mengurangi dan mencegah terjadinya infeksi setelah melahirkan. C. Pengobatan

a. Kelumpuhan harus diobati agar kadar kalsium darah normal kembali sesegera mungkin. b. Pengobatan yang biasa dilakukan, yakni dengan menyuntikkan kalsium boroglukonat

Analisis Permasalah

Analisis data merupakan proses awal yang harus dilakssapian untuk menentukan permasalahan yang sedang dihadapi. Tahap ini adalah sangat penting, karena proses analisis data yang kurang akurat akan menyebabkan hasil dari suatu sistem tidak sesuai dengan yang diharapkan. Jadi proses ini harus benar-benar sesuai dengan perencanaan agar mengasilkan suatu sistem yang baik

127 Analisa data yang akan dilakukan adalah penyakit pada sapi yang harus diwaspadai antara lain : 1. Radang limpah 2. Brucellosis 3. Radang Ambing 4. Botulisme 5. Surra 6. Kelumpuhan

Untuk mengetahui apakah seekor sapi dikatakan memiliki salah satu jenis penyakit di atas, terlebih dahulu kita mengetahui apa yang sering menjadi gejala-gejala atau yang sering dialami penderita penyakit sapi tersebut, gejala-gejala itu akan dijadikan sebagai salah satu gejala pendukung untuk penentuan penyakit. Adapun gejala-gejala umum dari setiap gejala-gejala antara lain.

Tabel 5.1. Gejala Penyakit Sapi

Kode

Gejala Nama Gejala

GK01 Demam, gelisah, lemas, paha gemetar, nafsu makan hilang, dan roboh

GK02 Pada awalnya sapi sulit buang kotoran ( konstipasi ), tetapi kemudian diare, kotoran bercampur air dan kadang – kadang darah

GK03 Kesulitan bernafas

GK04 Keluar darah dari lubang alami (mulut, lubang hidung, telinga, dubur, dan kemaluan). Darah berwarna hitam pekat seperti kecap atau aspal, agak berbau amis, busuk, dan sulit membeku

128

GK05 Pembengkakan di darah leher, dada dan sisi lambung, perut, pinggang, dan alat kelamin luar

GK06 Kematian dalam waktu singkat tanpa disertai tanda – tanda sebelumnya

GK07 Serangan antraks per akut berlangsung cepat, yakni hanya dalam tempo1-3 hari. Setelah terinfeksi, sapi akan mengalami kejang, pendarahan hebat, dan akhirnya mati

GK08 Penderita biasanya tidak menunjukkan suatu gejala yang mencolok. Penderita tampak biasa, nafsu makan biasa, dan tidak menunjukkan perubahan klinis yang dapat diamati. Namun, pada kebuntingan 5-8 bulan sapi mengalami keguguran/ keluron

GK09 Sapi mengalami keguguran/keluron 1-3 hari, kemudian kelahiran normal dan kelihatan sehat

GK10 Pedet yang gugur biasanya mati dan berwarna biru kecokelatan. Sapi yang lahir tetap hidup akan menjadi sangat lemah dan tidak dapat berkembang baik

GK11 Kemajiran/kemandulan temporer atau permanen

GK12 Pada sapi perah terjadi penurunan produktifitas susu

GK13 Cairan janin yang keluar kelihatan keruh

GK04 Pada sapi jantan terjadi peradangan pada buah pelir dan saluran sperma. Skorotum membengkak dan membesar ( hernia ), nafsu makan

129

menurun, dan demam

GK14

Radang bersifat subklinis apabila gejala – gejala klinis radang tidak ditemukan pada saat pemeriksaan ambin

GK04

Radang bersifat akut apabila tanda – tanda radang jelas ditemukan, seperti kebengkakak ambing, panas saat diraba, rasa sakit, warna kemerahan, dan terganggunya fungsi ambing

GK15

Susu berubah dari sifat normalnya, yakni susu pecah, bercampur endapan atau jonjotfibrin, reruntuhan sel dan gumpalan protein, atau darah

GK16

Radang berlangsung subakut dengan tanda – tanda di atas, tetapi derajatnya lebih ringan, yaitu sapi mau makan dan temperatur tubuh dalam batas normal

GK17

Radang berlangsung kronis apabila infeksi dalam suatu ambing berlangsung lama, dari suatu periode laktasi ke periode berikutnya. Proses kronis yang tidak diobati biasanya berakhir dengan matinya jaringan kelenjar susu

GK18

Sapi menderita kelumpuhan progresif dan gagal bernafas karena kelumpuhan otot – otot pernapasan

130

GK19

Sapi cenderung memiliki gaya berjalan kaku dan mengeluarkan air liur

GK20

Keluar leleran radang dari hidung dan mata

GK21

Selaput lender terlihat menguning

GK22 Sapi biasanya ditemukan duduk, tidak mampu berdiri dan nafas berat.

GK23 Gejala umum meliputi demam, lesu dan lemah.

GK24 Nafsu makan berkurang, penderita kurus dan berat badan menurun.

GK25 Suhu badan naik dan demam yang berselang –seling,

GK26 Muka pucat, anemia, kurus, bulu rontok dan busung daerah dagu dan anggota gerak.

GK27 Dibawah dagu dan kaki kelihatan kotor dan kering seperti bersisik.

GK28 Penderita menjadi letih dan tak mampu untuk bergerak.

GK29 Didaerah endemic sapi mungkin terkena infeksi, tetapi tidak terlihat adanya gejala.

GK30 Keluar leleran radang dari hidung dan mata.

GK31 Selaput lender terlihat menguning

GK32 Kelumpuhan atau sapi tidak mampu berdiri pada periode tiga hari setelah sapi melahirkan.

131 No Urut Kode Penyakit Nama Penyakit 1 P01 Radang limpah 2 P02 Brucellosis 3 P03 Radang Ambing 4 P04 Botulisme 5 P05 Surra 6 P06 Kelumpuhan

Dibawah ini merupakan tabel dari basis aturan dalam mendiagnosa penyakit sapi adalah sebagai berikut :

Tabel 5.3 Basis Aturan Mendiagnosa Penyakit Sapi

No Nama Penyakit Gejala

1. Radang Limpa

Demam, gelisah, lemas, paha gemetar, nafsu makan hilang, dan roboh

Pada awalnya sapi sulit buang kotoran ( konstipasi ), tetapi kemudian diare, kotoran bercampur air dan kadang – kadang darah

Kesulitan bernafas

Keluar darah dari lubang alami (mulut, lubang hidung, telinga, dubur, dan kemaluan). Darah berwarna hitam pekat seperti kecap atau aspal, agak berbau amis, busuk dan sulit membeku

Pembengkakan di darah leher, dada dan sisi lambung, perut, pinggang, dan alat kelamin luar

132

Kematian dalam waktu singkat tanpa disertai tanda – tanda sebelumnya.

Serangan antraks per akut berlangsung cepat, yakni hanya dalam tempo1-3 hari. Setelah terinfeksi, sapi akan mengalami kejang, pendarahan hebat, dan akhirnya mati.

2. Brucellusis

Penderita biasanya tidak menunjukkan suatu gejala yang mencolok. Penderita tampak biasa, nafsu makan biasa, dan tidak menunjukkan perubahan klinis yang dapat diamati. Namun, Pada kebuntingan 5-8 bulan sapi mengalami keguguran/ keluron.

Sapi mengalami keguguran/keluron 1-3 hari, kemudian kelahiran normal dan kelihatan sehat.

Pedet yang gugur biasanya mati dan berwarna biru kecokelatan. Sapi yang lahir tetap hidup akan menjadi sangat lemah dan tidak dapat berkembang baik

Kemajiran/kemandulan temporer atau permanen Pada sapi perah terjadi penurunan produktifitas susu Cairan janin yang keluar kelihatan keruh

Pada sapi jantan terjadi peradangan pada buah pelir dan saluran sperma. Skorotum membengkak dan membesar ( hernia ), nafsu makan menurun, dan demam

3. Radang Ambing

Radang bersifat subklinis apabila gejala – gejala klinis radang tidak ditemukan pada saat pemeriksaan ambin

Radang bersifat akut apabila tanda – tanda radang jelas ditemukan, seperti Bengkak ambing, panas saat diraba, rasa sakit, warna kemerahan, dan terganggunya fungsi ambing

Susu berubah dari sifat normalnya, yakni susu pecah, bercampur endapan atau jonjotfibrin, reruntuhan sel dan gumpalan protein, atau darah

Radang berlangsung subakut dengan tanda – tanda di atas, tetapi derajatnya lebih ringan, yaitu sapi mau makan dan temperatur tubuh dalam batas normal

133 Radang berlangsung kronis apabila infeksi dalam

suatu ambing berlangsung lama, dari suatu periode laktasi ke periode berikutnya. Proses kronis yang tidak diobati biasanya berakhir dengan matinya jaringan kelenjar susu

4. Botulisme

Sapi menderita kelumpuhan progresif dan gagal bernafas karena kelumpuhan otot-otot pernapasan

Sapi cenderung memiliki gaya berjalan kaku dan mengeluarkan air liur

Sapi biasanya ditemukan duduk, tidak mampu berdiri dan nafas berat.

5. Surra

Gejala umum meliputi demam, lesu dan lemah.

Nafsu makan berkurang, penderita kurus dan berat badan menurun.

Suhu badan naik dan demam yang berselang –seling, Muka pucat, anemia, kurus, bulu rontok dan busung daerah dagu dan anggota gerak.

Dibawah dagu dan kaki kelihatan kotor dan kering seperti bersisik.

Penderita menjadi letih dan tak mampu untuk bergerak. Didaerah endemic sapi mungkin terkena infeksi, tetapi tidak terlihat adanya gejala.

Keluar leleran radang dari hidung dan mata.

6. Kelumpuhan

Selaput lender terlihat menguning.

Kelumpuhan atau sapi tidak mampu berdiri pada periode tiga hari setelah sapi melahirkan.

134 5.2 Algoritma Sistem

Dalam perancangan basis pengetahuan ini digunakan kaidah produksi sebagai sarana untuk representasi pengetahuan. Kaidah produksi dituliskan dalam bentuk pernyataan JIKA [premis] MAKA [konklusi]. Pada perancangan basis pengetahuan sistem pakar ini premis adalah gejala-gejala yang terlihat dan konklusi adalah jenis penyakit sapi, sehingga bentuk pernyataannya adalah JIKA [gejala] MAKA [penyakit]. Bagian premis dalam aturan produksi dapat memiliki lebih dari satu proposisi yaitu berarti pada sistem pakar ini dalam satu kaidah dapat memiliki lebih dari satu gejala. Gejala-gejala tersebut dihubungkan dengan menggunakan operator logika DAN. Bentuk pernyatannya adalah:

JIKA [gejala 1] DAN [gejala 2] DAN [gejala 3] MAKA [Penyakit]

Adapun contoh kaidah sistem pakar diagnosa penyakit pada sapi adalah sebagai berikut :

1. Rule 1

JIKA GK1 DAN GK2 DAN GK3 DAN GK4 DAN GK5 DAN GK6 DAN GK7 MAKA Radang limpah 2. Rule 2

JIKA GK8 DAN GK9 DAN GK10 DAN GK11 DAN GK12 DAN GK13 DAN GK14 MAKA Brucellosis 3. Rule 3

JIKA GK15 DAN GK16 DAN GK17 DAN GK18 DAN GK19 MAKA Radang Ambing

135

JIKA GK20 DAN GK21 DAN GK22 MAKA Botulisme

5. Rule 5

JIKA GK23 DAN GK24 DAN GK25 DAN GK26 DAN GK27 DAN GK28 DAN GK29 DAN GK30 MAKA

Surra

6. Rule 6

JIKA GK31 DAN GK32 MAKA Kelumpuhan

Dibawah ini merupakan tabel gejala penyakit dan nilai probabilitas dari setiap gejala tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 5.4 Nilai Densitas Gejala Penyakit Sapi

Kode Penyakit Kode Gejala Nilai Densitas/Nilai Probabilitas

P01 GK01 0.142857 GK02 0.142857 GK03 0.142857 GK04 0.142857 GK05 0.142857 GK06 0.142857 GK07 0.142857 GK08 0.142857 GK09 0.142857

136 P02 . GK10 0.142857 GK11 0.142857 GK12 0.142857 GK13 0.142857 GK14 0.142857 P03 GK15 0.25 GK16 0.35 GK17 0.10 GK18 0.15 GK19 0.15 P04 GK20 0.5 GK21 0.3 GK22 0.2 P05 GK23 0.20 GK24 0.15 GK25 0.15 GK26 0.1 GK27 0.1 GK28 0.1 GK29 0.1 GK30 0.1 P06 GK31 0.6 GK32 0.4

137

a. Pengkonversian Tabel Keputusan Menjadi Kaidah Produksi

Representasi pengetahuan, kaidah produksi dibentuk dari pengubahan tabel keputusan. Pembuatan suatu kaidah dilakukan dengan beberapa tahapan. Sebagai contoh perhatikan pembuatan kaidah Konklusi ini akan dapat tercapai bila kondisi-kondisi yang mendukung terpenuhi. Pembuatan kaidah 1 menggunakan goal dan kondisi yang telah diperoleh dari langkah 1 dan 2, seperti berikut :

Tabel 5.5 Kaidah Dari Gejala Penyakit Sapi

Kode Gejala Kode Penyakit P1 P2 P3 P4 P5 P6 GK01 GK02 GK03 GK04 GK05 GK06 GK07 GK08 GK09

138 GK10 GK11 GK12 GK13 GK14 GK15 GK16 GK17 GK18 GK19 GK20 GK21 GK22 GK23 GK24 GK25 GK26

139 GK27 GK28 GK29 GK30 GK31 GK32

Problema Bayes merupakan salah satu cara untuk mengatasi ketidak pastian data dengan cara menggunakan formula bayes yang dinyatakan dengan :

) ( ) ( * ) \ ( ) \ ( E P H P E H P E H PDimana ) | (H E

P = Probabilitas hipotesis H benar jika diberikan evidenceE

) | (E H

P = Probabilitas munculnya evidenceE, jika diketahui hipotesis H benar.

P(H) = Probabilitas hipotesis H (Menurut hasil sebelumnya) tanpa memandang Evidence apapun

140

Secara umum teorema buyes dengan E kejadian dengan hipotesis H dapat dituliskan dalam bentuk

Contoh kasus

Berikut ini adalah contoh Perhitungan dengan metode Bayes mengenai gejala penyakit pada sapi adalah sebagai berikut :

Dalam dokumen By: Sulindawaty, M.Kom (Halaman 121-140)

Dokumen terkait