BAB III KEHIDUPAN MASYARAKAT DAN LITERASI DI DESA
4.2 Media Massa Sebagai Sumber Informasi
4.2.3 Radio
Radio adalah sebuah teknologi media massa yang digunakan untuk pengiriman sinyal dengan cara modulasi dan radiasi elektromagnetik (gelombang elektromagnetik). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia radio adalah siaran (pengiriman) suara atau bunyi melalui udara. Dalam kehidupan sehari-hari radio berfungsi sebagai salah satu sumber informasi. Radio biasanya menyiarkan berita,
talkshowdengan narasumber, dan musik.
Saat ini siaran radio sudah bisa dinikmati di dalam mobil, telepon genggam, streaming di internet, dan pasti di radio itu sendiri. Penggunaan radio yang cukup sederhana menjadikan radio masih populer di masyarakat. Cara
pengoperasiannya serta pengelolaannya tidak rumit hanya membutuhkan kemampuan mendengar dan tidak diperlukan kemampuan membaca. Gaya bicara penyiar yang menggunakan teknik smile voice seolah mengajak pendengar berinteraksi. Radio memungkinkan pendengar untuk ikut berpartisipasi langsung dalam siarannya. Pendengar dapat memberikan pandangan tentang topik yang dibahas, requestlagu, dan mengikuti kuis-kuis. Tidak jarang para pendengar setia radio ini melakukan kopi darat atau pertemuan di dunia nyata dikarenakan seringnya berinteraksi di udara.
Di Desa percut radio berfungsi sebagai sumber informasi dan hiburan. Sumber informasi mereka dapat dari siaran berita dan bincang-bincang dengan narasumber. Siaran berita memang banyak mereka dengar melalui televisi dan radio. Intensitas mendengar radio adalah pada pagi hari hinga menjelang sore. Siaran radio yang sampai ke pelosok membuat radio terkadang mereka bawa saat bekerja. Seperti pak sayuti (29, tahun), radio dia bawa ke gubuk tempat beliau istirahat bekerja. Saat saya di lokasi tersebut siaran yang mereka dengarkan adalah dendang melayu. Dendang melayu menjadi siaran favorit masyarakat desa percut saat mendengarkan radio. Siaran dendang melayu dimulai sekitar pukul 11.00- 13.00 wib. Siaran ini memang benar menggunakan bahasa melayu sepenuhnya. Sepanjang yang saya dengarkan di siaran ini, bahasa yang dipakai penyiar adalah bahasa melayu sehingga saya kurang memahaminya. Saat jeda siaran, atau berganti ke siaran selanjutnya ada berita yang disampaikan. Berita-berita ini yang menjadi sumber informasi masyarakat agar tidak tertinggal informasi. Siaran berita biasa mereka dengar langsung dari siaran radio republik indonesia (RRI).
Selain dendang melayu dan siaran berita, biasanya mereka mendengar siaran lagu-lagu populer. Mendengarkan musik melalui radio ini sebagai hiburan masyarakat untuk mengisi waktu luang.
“Kalau dengar radio di gubuk gini karena banyak angin terkadang bisa sampai tertidur kita” (Ijol, 22 tahun)”.
Menurut Ijol mendengarkan musik di radio ditambah dengan angin yang berhembus bisa membuat beliau tertidur. Mendengar radio menurutnya dapat membantu mendapat informasi selain dari facebook. Saat saya sedang bersamanya di gubuk tempat istirahat, siaran yang dia dengarkan adalah lagu-lagu populer kalangan anak muda. Beliau sibuk mencari frekuensi untuk siaran lagu-lagu populer tersebut.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Skripsi ini secara keseluruhan berisi mengenai budaya literasi yang ada di Desa Percut. Dari penelitian yang telah dilakukan di lapangan serta dilakukan analisis maka berikut adalah kesimpulan yang didapatkan.
Masyarakat di Desa Percut umumnya memandang literasi sebagai kegiatan yang berkaitan dengan membaca. Kegiatan membaca ini meliputi membaca bahan bacaan, menghafal dan menyampaikan. Konsep literasi dalam pandangan masyarakat di Percut memang masih belum tepat dengan konsep literasi secara keilmuan. Masyarakat menganggap aktivitas yang mengandung bacaan seperti shalat, membaca Al-Quran, serta berdakwah termasuk ke dalam literasi. Sedangkan dalam keilmuan literasi bukan sekedar keterampilan membaca dan menulis secara mekanis saja, melainkan kemampuan memberi tanggapan serta memahami bahan bacaan.
Budaya literasi memang belum melekat di Desa ini. Bisa dilihat dari minimnya aktivitas literasi, kepemilikan bahan bacaan serta sarana yang belum memadai. Namun lebih dari itu, ternyata ada permasalahan yang lebih kultural mengapa literasi itu belum berkembang di daerah ini. Permasalahan tersebut adalah kehidupan mereka yang tidak banyak
membutuhkan pengetahuan ilmiah. Profesi mereka sebagai nelayan hanya mengandalkan otot, pengalaman sehari-hari dan pengetahuan lokal yang didapat dari mulut ke mulut. Pengetahuan mengenai waktu menangkap ikan, alat yang digunakan, pengetahuan tentang cuaca dan kenelayanan mereka dapat dari antar warga.
Penyelesaian konflik mereka gunakan dengan pendekatan kekeluargaan. Ada orang tua yang mereka percaya untuk menjadi penengah dalam penyelesaian konflik tersbeut. Mereka tidak terus menyelesaikan permasalahan konflik ke jalur hukum atau pengadilan. Dalam pengobatan mereka juga masih banyak menggunakan pengobatan tradisional. Dukun bayi lebih dipercaya masyarakat daripada bidan desa. Pengobatan menggunakan orangtua Desa lebih dipilih daripada langsung ke dokter atau rumah sakit.
Sumber informasi mereka dapat melalui media massa. Media massa yang lebih mudah digunakan dan bisa dinikmati dengan indera mata serta pendengaran, lebih digemari masyarakat daripada membaca yang harus memahami kata perkata untuk memperoleh informasi. Dengan televisi mereka bisa mengakses informasi budaya, politik dan ekonomi di tingkat nasional maupun internasional. Radio yang masih mereka gunakan cukup untuk memberikan informasi dan hiburan mereka pada siang hari atau tidak sedang bekerja. Handphone sebagai barang tersier juga sudah mereka miliki untuk mengakses informasi yang lebih cepat dan mudah.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa masyarakat sudah bosan dengan program-program yang dilaksanakan pemerintah. tidak banyak perubahan yang mereka terima dengan progam-program yang sudah masuk. Seperti soal pembagian peralatan tangkap nelayan, masyarakat hanya menerima mesin saja atau perahu saja. nelayan yang perekonomiannya rendah tidak mampu membeli satu dari peralatan tersebut. Program pendidikan seperti perpustakaan keliling dan jam belajar malam juga tidak berjalan lama. Tidak adanya biaya operasional jam belajar malam bagi pelaksana contohnya.
Program-progran lain seperti program pelatihan budidaya kepiting bakau, budidaya perikanan, ekowisata pesisir tidak diberikan modal dan seleai pelatihan tidak banyak perubahan. Hasil penleitian ini juga sekaligus menjadi kritikan bagi pemerintah maupun lembaga swasta yang ingin melakukan intervensi di pedesaan. Program-program yang diberikan untuk komunitas masyarakat di pedesaan harus memiliki tindak lanjut yang jelas dan melihat terlebih dahulu hal-hal mendasar apa yang mereka butuhkan dan permasalahan mendasar apa yang mereka hadapi.
BAB II
KEADAAN BUDAYA LITERASI DI DESA PERCUT
2.1. Konsep Budaya Literasi
Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis atau keberaksaraan. Literacy merupakan kemampuan menggunakan membaca dan menulis dalam melaksanakan tugas-tugas yang bertalian dengan dunia kerja dan kehidupan di luar sekolah. Istilah literasi visual (visual literacy) ini pertama sekali digunakan oleh seorang penulis bernama John Debes (1968).Kirsch dan Jungeblut dalam bukunya Literacy: Profile of America’s Young Adults menyebutkan literasi kontemporer sebagai kemampuan seseorang dalam memanfaatkan informasi tertulis atau cetak untuk mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat luas.
Budaya literasi merupakan cerminan suatunegara. Budaya literasi dapat m en jadi salah satu aspek yan g m enen tukan tinggi rendah nya kualitas sum ber daya m anusia (SDM) di negara tersebut. Kebiasaan berliterasi sejak dini akan memberikan pengaruh terhadap seseorang baik saat ini maupun yang akan datang. Dewasa ini konsep literasi memiliki arti yang luas, literasi tidak lagi bermakna tunggal melainkan sudah memiliki beragam arti. Seperti misalnya literasi komputer (computer literacy), literasi media (media literacy), literasi teknologi (technology literacy), literasi ekonomi (economy literacy), literasi informasi (information literacy), bahkan ada literasi moral (moral literacy).
Di kelompok masyarakat pesisir percut kata literasi masih menjadi kata asing yang belum pernah mereka dengar. Hanya sebagian saja yang paham apa itu literasi. Literasi secara sederhana mereka artikan sebagai kegiatan membaca dan menulis. Menurut mereka apabila ingin bisa menulis maka harus bisa membaca. Dari wawancara-wawancara yang dilakukan dapat di simpulkan bahwa membaca adalah untuk memperoleh pengetahuan, membaca sebagai ibadah, dan membaca untuk mengisi waktu luang.
2.1.1. Membaca Untuk Memperoleh Pengetahuan
Membaca untuk memperoleh pengetahuan disampaikan oleh Ely (24 tahun) yang merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Membaca untuk memperoleh pegetahuan dalam pandangan Ely adalah ketika membaca akan menemukan pengetahuan baru yang bisa mereka dapat dari bahan bacaan yang mereka baca tersebut. Pengetahuan bisa meliputi pengetahuan umum, pengetahuan agama dan informasi terkini.
“Dengan membaca kita bisa memperoleh pengetahuan baru sesuai dengan buku yang kita baca. Bisa buku agama, buku-buku umum, dan wacana yang sedang berkembang saat ini. Informasi tentang cara masak juga saya dapat dari membaca majalah. (Ely, 24 tahun)”
Seperti halnya Elly, Maulidayani (20, Tahun) yang merupakan seorang mahasiswa di Universitas Negeri Medan (UNIMED) mengatakan bahwa membaca itu sebagai cara untuk memperoleh wawasan yang lebih luas. Istilah buku sebagai jendela dunia benar-benar dia rasakan ketika dia sedang membaca buku.
“Pendidikan sangat penting untuk generasi penerus bangsa. Dari pendidikan bisa mengantarkan pemuda untuk meraih masa depan yang lebih baik. Dengan membaca wawasan kita lebih luas. Membaca membuat saya lebih percaya diri saat berbicara formal dengan orang lain. Dari membaca saya bisa menggali informasi banyak yang tersebar di dunia dan saya merasa denganmembaca bisa mengenal dunia lebih luas” (Maulidayani, 20 Tahun).
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Willy (23, Tahun). Willy merupakan seorang mahasiswa Psikologi di Universitas Medan Area. Willy mengatakan bahwa keberaksaraan sangat penting di jaman seperti sekarang. Semua orang berkompetisi untuk memperoleh pekerjaan yang layak dan anak- anak pesisir harusnya tidak kalah dengan anak-anak di Kota dalam berkompetisi.
Untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik anak-anak harus menempuh pendidikan yang tinggi. Anak-anak pesisir tidak boleh kalah berkompetisi, maka dari itu harus sekolah dan mampu membaca. Semua anak di Indonesia berhak mengikuti pendidikan yang tinggi sesuai yang ada di dalam undang-undang negara kita” (Willy, 23 tahun)
Dari kutipan wawancara di atas dapat diartikan bahwa membaca merupakan cara seseorang untuk memperoleh informasi dan pengetahuan. Membaca dapat menambah kemampuan seseorang dalam berbicara dan beradaptasi. Dengan membaca dapat meningkatkan kecerdasan verbal9 dan linguistik10 seseorang karena membaca memperkaya kosakata11
Definisi ini sesuai dengan pendapat Sudarso (1996: 4), membaca adalah tidak hanya sekedar membunyikan lambang-lambang bunyi bahasa yang tertulis. Membaca adalah aktivitas yang kompleks yang mengarahkan sejumlah besar tindakan yang berbeda- beda. Membaca bisa mempengaruhi kemampuan berpikir
. Dengan literasi juga maka seseorang akan memperoleh kehidupan dan pekerjaan yang lebih layak.
9
Secara lisan (bukan tulisan) 10
Ilmu tentang bahasa 11 Perbendaharaan kata
seseorang untuk mendapatkan gagasan yang inovatif dan solusi kreatif serta bisa membuat seseorang mampu berkomunikasi dengan baik melalui tutur kata yang sopan dan akurat dan juga memiliki wawasan yang luas tentang apa yang akan disampaikannya.
2.1.2. Membaca Untuk Ibadah
Ibadah secara etimologi adalah perbuatan menyembah atau menghamba dengan penuh kecintaan. Ibadah dalam agama islam adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam agama islam perintah beribadah difirmankan Allah di dalam Al-Quran yang berbunyi “Tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” (QS. Adz. Dzariyat;56). Artinya beribadah menjadi kewajiban yang harus ditegakkan seseorang yang mempercayai agama islam dan adanya Allah.
Menurut Abdullah At Tuwaijry (2007) ibadah digunakan hambanya untuk 2 hal yaitu,
a) Menyembah, yaitu merendahkan diri kepada Allah SWT denganmelakukan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya karenarasa cinta dan mengagungkan-Nya.
b) Yang disembah dengannya, yaitu meliputi segala sesuatu yang dicintai dan diridhahi oleh Allah SWT berupa perkataan dan perbuatan, yang nampak dan tersembunyi seperti, doa, zikir, shalat, cinta, dan sebagainya.
Dalam konteks agama islam menurut Edi Suresman, ibadah mempunyai 3 fungsi utama yaitu,
1. Sebagai bentuk realisasi bagi manusia yang diberi tanggung jawab oleh Allah menjadi khalifah dan hamba Allah di muka bumi.
2. Sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kualitas komunikasi vertikal dengan Sang Khaliq.
3. Meningkatkan derajat manusia di mata Allah.
Ibadah dalam pandangan masyarakat di Desa Percut memiliki artian sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah yang sudah memberi limpahan rezeki. Ibadah diartikan sebagai cara bersyukur seorang hamba terhadap Tuhannya. Sama seperti umat muslim lainnya, umat muslim di Desa Percut juga melaksanakan ibadah rutin shalat, mengaji, berpuasa, zakat, dan haji. Dari ibadah-ibadah yang dilakukan masyarakat di Percut, ibadah yang berkaitan dengan literasi menurut mereka adalah Shalat dan membaca Al-Quran.
Shalat adalah bentuk ibadah yang rutin dilakukan oleh umat muslim setiap harinya. Shalat sebagai rukun islam yang kedua merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan seseorang pemeluk agama islam. Shalat dalam pengetahuan saya adalah cara berkomunikasi dengan Allah melalui bacaan-bacaan serta gerakan.
Saat penelitian ini dilakukan peneliti ikut bersama masyakarat dalam menjalankan shalat. Shalat dilaksanakan secara berjamaah di mesjid yang ada di dusun 18 (delapan belas). Selama peneliti di sana, mesjid selalu dipenuhi oleh warga yang melakukan shalat berjamaah. Pada siang hari yang merupakan jam
kerja, yaitu shalat dzuhur dan ashar mesjid juga selalu penuh. Mesjid umumnya diisi oleh laki-laki baik yang masih anak-anak hingga yang sudah tua. Saya melihat agama begitu melekat dengan keseharian masyarakat di Desa ini. Menurut salah seorang informan dalam penelitian ini, agama memang sangat melekat dalam kehidupan masyarakat suku melayu. Menurutnya anak-anak sejak kecil sudah diajarkan shalat, membaca al-quran dan belajar agama.
“Sejak kecil anak-anak sudah diajarkan shalat, agama, dan mengaji. Jadi wajar aja kalau di sini mesjid penuh terus apalagi kalau bulan puasa gini” (Rojai, 29 Tahun).
Rojai yang berprofesi sebagai guru mengaji di Madrasah Diniyah Awaliyah Persil ini mengatakan bahwa shalat merupakan tiang agama yang harus ditegakkan. Agama semakin kokoh apabila shalat tetap dilaksanakan oleh umat muslim. Selama umat muslim masih ada di dunia, adzan tidak akan pernah terputus di dunia ini menurutnya.
Konsep literasi dalam pandangan mereka adalah termasuk dalam menghafal bacaan-bacaan dalam shalat. Bacaan-bacaan shalat yang mereka baca pada saat shalat tersebut mengartikan bahwa mereka sudah berliterasi. Bacaan- bacaan ini yang mereka anggap membawa pahala dan merupakan suatu ibadah.
Membaca Al-Quran merupakan bentuk ibadah yang pertama kali diturunkan oleh Allah melalui Nabi Muhammad untuk umatnya. Perintah membaca diturunkan oleh Allah lalu dituliskan di dalam Al-Quran surat Al-Alaq ayat 1 sampai 5 yang berbunyi,
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”
Membaca Al-Quran merupakan amalan yang sangat mulia seperti amalan shalat. Dalam Al-Quran terkandung pengetahuan-pengetahuan duniawi maupun agamawi yang tersembunyi. Pengetahuan akan didapatkan seseorang apabila mampu membaca dan menafsirkan Al-Quran secara benar.
Seperti halnya shalat, membaca Al-Quran menjadi ibadah yang wajib dilakukan oleh masyarakat di percut yang beragama islam. Membaca Al-Quran biasanya mereka lakukan setiap sebelum shalat dan setelah shalat. Membaca Al- Quran ini dilakukan baik di mesjid, rumah, atau tempat pengajian. Mengaji atau membaca Al-Quran rutin dilakukan oleh anak-anak maupun orang dewasa di percut. Mengaji menurut pandangan mereka merupakan bentuk dari literasi, karena ada yang dibaca dan ada yang dipahami. Mengaji Al-Quran juga berliterasi dikarenakan umat muslim juga harus menafsirkan isi dalam Al-Quran tersebut.
Pada saat penelitian ini dilakukan, saya selalu melihat Bang Jai mengaji pada saat selesai subuh. Dia mengatakan untuk selalu menyempatkan membaca Al-quran setiap subuh untuk mengirim doa ke orang tua dia yang memang sudah lama meninggal.
Membaca al-quran menurutnya salah satu cara dia membalas budi kepada orangtuanya. Balas budi yang belum sempat dia berikan semasa orang tuanya
masih hidup diganti dengan mengirim doa selalu dengan membaca ayat-ayat Al- quran. Dia sebagai seorang guru mengaji harus tetap mengasah kemampuan membacanya. Dia tidak mau mengajarkan kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja, apalagi yang diajarkan adalah ilmu agama.
Guru mengaji punya tanggungjawab di akhirat karena yang diajarkan agama. Kalau salah mengajarkan akan terus salah sampai akhirat. Jadi aku setiap hari harus mengaji biar gak salah-salah (Jai, 29 tahun).”
Siang ini saya ikut ke tempat dia mengajar mengaji. Di sana dia terlihat lebih tua karena anak didiknya memanggil bapak. Bang jai terlihat canggung saat mengajar, mungkin karena ada saya. di tempat mengaji suasana terlihat antusias, anak-anak mengaji dengan lantang tapi tak sedikit juga mereka sambil mengobrol dengan teman-temannya. Mengaji di sini hanya sampai menjelang sholat ashar saja
Selain mengaji Al-Quran, masyarakat juga mengaji bahan-bahan bacaan lain seperti buku aqidah, fiqih, dan yang berkaitan dengan agama. Membaca bahan-bahan agama ini mereka anggap sebagai ibadah yang dapat menambah pengetahuan mereka tentang agama. Saat penelitian ini dilakukan, memang bahan bacaan yang dimiliki masyarakat adalah AL-Quran dan buku-buku fiqih.
2.1.3. Membaca Sebagai Hiburan
Hiburan merupakan segala sesuatu berupa hal-hal menarik yang bisa berbentuk kata-kata, games, tempat dan lainnya yang dapat membantu seseorang mengembalikan semangatnya saat dilanda kesedihan atau kegalauan. Hiburan yang umum adalah berupa film, opera, seni drama, permainan, olahraga, bahkan
berwisata. Menghibur diri biasanya dilakukan saat seseorang sedang sedih, galau, dan sendirian.
Membaca dapat dikatakan sebagai hiburan seseorang saat sedang sendiri dan memiliki waktu luang. Hasil wawancara saya dengan Zainuddin (27, Tahun) menyimpulkan bahwa membaca di waktu luang menurutnya sebagai cara untuk menghibur diri. Membaca majalah yang penuh dengan gambar menghilangkan rasa jenuh kalau tidak sedang bekerja menurutnya.
“Aku baca kalau tiada ulah untuk mengisi waktu kosong pas gak melaut atau di mesjid. Itupun yang kubaca buku-buku majalah kalau di mesjid buku fiqih dan buku-buku agama aja” Zainuddin (27, Tahun)
Dari kutipan wawancara di atas dapat diartikan bahwa membaca bukan hanya untuk memperoleh informasi atau pengetahuan dari bahan bacaan yang dibaca melainkan sebagai cara seseorang untuk mengisi waktu luang atau pada saat tidak bekerja.
2.2 Kepemilikan Bahan Bacaan pada Masyarakat Desa Percut 2.2.1 Bahan Bacaan Agama
Buku agama adalah buku yang berisi tentang kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal-hal yang suci. Buku-buku ini berisi muatan yang mengatur tentang tata cara mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa. Buku-buku agama untuk di daerah pedesaan seperti pesisir Percut lebih banyak dimiliki daripada buku-buku lain seperti buku ilmiah atau buku-buku umum.
Pesisir Percut yang mayoritas bersuku melayu adalah beragama islam. Kebudayaan Melayu yang memeluk agama islam secara garis besar tidak pernah bisa dilepaskan dari sejarah pengaruh Islam di semenanjung Sumatra dan Malaysia di masa lampau. Hingga saat ini, hampir semua masyarakat yang bersuku melayu adalah beragama islam.
Ketika kita berkunjung ke rumah warga di Percut maka bahan bacaanyang bisa kita temukan adalah Al-Quran, buku Yasin dan sejenisnya. Saat peneliti mengunjungi dan melakukan wawancara dengan pemilik rumah maka mereka menjawab hanya ada Al-Quran dan buku Yasin saja.
“Kalau Al-Quran semua rumah di sini pasti punya. DanSelesai shalat aku memang baca Al-Quran. Baca Al-Quran ini sekalian kirim doa untuk orang tua aku yang udah meninggal. Kalau pun baca buku, ya buku-buku fadillah aja yang aku baca karna itu yang aku suka”. (Roja’i, 29 Tahun).
Dari kutipan hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa literasi agama lebih dominan di Desa Percut. Kesadaran masyarakat untuk membaca bahan bacaan ilmiah atau bahan bacaan umum yang dapat memperkaya wawasan masih rendah. Menurut Roja’i buku-buku ilmiah hanya bisa didapatkan di sekolah atau taman baca saja. Ketersediaan bahan bacaan lain seperti koran dan majalah juga sangat sedikit jumlahnya. Selama peneliti di lapangan dan melakukan observasi tidak ada kios atau warung yang menjual koran atau majalah. Kebanyakan hanya menjual buku tulis dan beberapa saja yang menjual Teka Teki Silang (TTS). Kepemilikan bahan bacaan yang masih sedikit ini tentu tidak sebanding dengan kebutuhan membaca masyarakat pada saat ini yang semakin kompetitif.
2.3. Sarana Baca
2.3.1. Perpustakaan Sekolah
Menurut Sutarno NS (2006 : 11) Perpustakaan adalah suatu ruangan, bagian dari gedung atau bangunan, atau gedung tersendiri, yang berisi buku-buku koleksi, yang disusun dan diatur sedemikian rupa, sehingga mudah untuk dicari dan dipergunakan sewaktu-waktu diperlukan oleh pembaca. Perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang ada di sekolah sebagai sarana pendidikan untuk menunjang pencapaian tujuan pendidikan prasekolah, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah serta memberi pelayanan kepada murid dan guru dalam