• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL SAWANGAN MAGELANG

D.   Simbol Harmoni Budaya Masyarakat Sawangan

2.   Ragam Seni

Salah satu simbol identitas masyarakat desa Sawangan adalah ragam budaya yang menjadi simbol kebanggaan masyarakat desa. Berbagai budaya yang dimiliki masyarakat Sawangan telah menarik perhatian pemerintah untuk melestarikan budaya tersebut. Salah satu bukti perhatian masyarakat adalah dengan tetap menjaganya dalam sebuah organisasi atau perkumpulan seni yang memiliki kepercayaan khusus terhadap nilai-nilai tradisi kesenian yang diyakiinya. Beberapa budaya seni yang berhasil dihimpun adalah sebagai berikut:

a.   Soreng;

Sekilas dari sejarhanya tarian ini dikembangkan oleh bapak Taryono sekitar tahun 60an dengan mengambil cerita kadipaten Jipan Panolan yang dipimpin Hadipati Aryo Penangsang. Para prajuritnya yang bernama;

soreng rono, Soreng pati, soreng rungkut, patih ronggo metahun dan Pekatik. Tahun 80 an menjadi perhatian pemerintah tarian tersebut memiliki tata rias busana yang telah dibakukan oleh pemerintah dari dinas kebudayaan kabupaten Magelang.

Secara detail penjelasan tentang tari soreng merupakan salah satu tarian asli masyarakat Jawa. Tarian ini merupakan cerita rakyat yang dimainkan oleh seseorang pada upacara adat atau hajatan besar masyarakat Magelang. Kesenian Soreng merupakan cerita tari yang diadaptasi dari kisah Aryo Penangsang dan para prajuritnya. Ciri-riri tari Soreng adalah gerakkannya yang sederhana yang mudah dan spontan. Alasan inilah sehingga, banyak orang yang mau belajar cepat bisa karena, susunan gerak yang rancak dan berulang-ulang. Gerakan tari keprajuritan dilakukan secara kelompok dan massal yang menyiratkan seni beladiri dan didominasi gerakan kaki, seperti perang berkuda.

Kesenian tradisonal Soreng merupakan peninggalan nenek moyang yang berkembang di gunung merbabu dan gunung andong yang berlokasi didesa bandungrejo kecamatan Ngablak Magelang. Namun, seiring berjalannya waktu hampir setiap desa memiliki tarian tersebut dan dilakukan pada perayaan atau hajatan besar desa. Seperti; pada acara festifal atau dikompetisikan pada tanggal 17 Agustus.

b.   Kobrosiswo

Ragam seni berikutnya adalah Kobrosiswo yang memiliki sejarah panjang sejak awal mula Sunan Kalijaga melakukan syiar Islam ke berbagai desa pegunungan. Beliau seorang seniman yang menempatkan seni sebagai media dakwah. Kesenian saat itu menjadi daya tarik masyarakat dan tumbuh subur sehingga, tarian kubrosiswo turut mewarnai kehidupan masyarakat.

Kubrosiswo merupakan kesenian yang memiliki latar belakang untuk penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Gerakan tarian dan iringan musiknya sangat energik sehingga, membuat penonton yang melihatnya turut bersemangat. Kubrosiswo kependekan dari kesenian ubahing badan lan rogo yang memiliki arti; kesenian mengenaii gerak badan dan jiwa.

Makna sejatinya adalah selaras antara hasrat, pikiran dan perilaku untuk perjalanan hidupnya.

Dalam perkembangannya, tarian ini sangat unik dan menarik dan penuh humor. Atribut yang dipakai penari mengundang daya tarik para penonton untuk datang melihatnya. Pakaian yang digunakan menggunakan celana pendek dan kaos kaki panjang. Perubahan itu mengikuti perkembangan yang terus berubah dari generasi ke generasi. Bagi para penari kubrosiswo, pakaian yang unik tidak sekedar memancing tertawa penonton tetapi, untuk mengundang para penonton datang melihatnya.

Pada saat tarian berlangsung para penyanyi melantunkan lagu-lagu yang berisi tuntunan hidup dalam agama Islam. Sebagaimana yang

diajarkan Sunan kalijaga dengan kidungnya yang edukatif. Perkembangan tarian ini telah masuk pada perbatasan Magelang-Jogjakarta.

c.   Tayuban

Kesenian tayub memiliki makna yang dalam karena, merupakan ungkapan rasa syukur dan mohon keselamatan kepada Tuhan yang maha pencipta. Kata tayub berasal dari kata “tata’ yang memiliki arti teratur dan guyub atau bersatu atau rukun. Tayub memiliki tatanan yang memiliki tiga bagian penting diantaranya; tayub alus, gagah dan gecul. Kata tayub berarti bersenang-senang dengan mengibing tandak atau penari. Menari bersama ledek atau ronggeng dimaksudkan menjaga keteraturan atau kerukunan antara sesama.

Dalam penjelasan lain, kata tayub disebut nayub yang menyebutkan nama makanan yang sudah hampir basi atau menjadi tape. Pengertian nayub berasal dari kata sayub atau disebut sayu-ajeng, wayu-wajeng, yang menunjuk pada minuman keras. Maksud nayub adalah menari-nari dengan minuman keras. Pada pementasan seni tayub tak pernah lepas dari minuman keras yang banyak kalangan mengatakan bahwa, tayub tanpa minuman keras bagaikan sayur tanpa garam.

Fungsi tari tayub pada awalnya sebagai pengisi upara jumenengan pemberangkatan panglima perang. Namun, seiring perkembangan tayub semakin luas yang tidak hanya bersifat sakral tetapi, juga tari pergaulan yang bersifat romantis bahkan, erotis. Informasi terkini tarian tayub menjadi

tarian profan yakni, tarian yang langsung berhubungan dengan masyarakat atau tarian pergaulan yang sifatnya untuk kesenangan.

d.   Mars Desa Sawangan

Salah satu cara menyatukan sinergitas antar masyarakat untuk mencintai desanya dibuatkan satu lagu yang menjadi kebanggaan desa.

Pemerintah desa berperan aktif untuk menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat dengan mengadakan ragam kegiatan. Berikut adalah mars desa sawangan:

Desa tumpah darahku yang subur

Hidup rukun damai sejahtera

Belajar, bekerja dan berkarya slalu

Wujud potensi desa

Sumber alam airnya melimpah

Aneka seni dan budayanya

Pendidikan maju serta bermartabat

Jadi harapan kita semua

Marilah bersatu, majulah desaku

Membangun bersama pemimpinnya

Bersih cerdas jujur bijaksana

Jaga toleransi suku ras agama

Sawangan desa yang jaya.

e.   Hari jadi Sawangan

Kegiatan hari jadi desa dilaksanakan setiap tahun, namun semenjak pandemi kegiatan ini tidak dapat dilaksanakan dengan cara yang besar.

Kegiatan ini dilaksanakan karena, memiliki nilai sejarah yang tidak dapat dihilangkan, diantaranya sejarah tentang penggabungan desa pada tahun 1927. Terdapat empat kelurahan tersebut adalah: kelurahan benda, kelurahan sawangan, bakalan dan Harjowasono. Pada tahun tersebut diadakan pemilihan lurah tetapi, gagal.

Tahun 1928 diadakan pemilihan ulang dan menemukan sosok pemimpin yang bernama Hardjo Puspito. Jabatan beliau dari tahun 1928 sampai 1946, beberapa karya penting yang telah diperoleh adalah: Pertama, Balai desa, namun terbakar. Kedua, Lapagan desa sawangan (saat ini dipakai untuk SMPN 1 sawangan. Ketiga, Membuka loket bank di balai desa.

Capaian keberhasilan saat ini adalah secara fisik melakukan renovasi balai desa, membangun ruang rapat di lantai 2 dan melengkapi sarana lapangan desa dan MCK serta joging track.

Hari jadi desa Sawangan memiliki agenda besar yang dilaksanakan diantaranya; melakukan pentas seni rakyat yang dijabarkan sebagai berikut;

pertama, Jathilan turangga wasisa. Kedua, Topeng ireng mudha prasetya.

Ketiga, Jathilan kridha birawa. Keempat, Jathilan ngudi laras.

Ragam kesenian rakyat menarik perhatian masyarakat untuk berduyun-duyun melihat pentas seni di hari ulang tahun desa Sawangan.

Jenis tari jathilan merupakan tarian berasal dari Jawa Tengah yang telah dipadukan dengan kreasi baru seni jathilan. Usaha modifikasi tarian Jathilan dilakukan oleh paguyuban turonggi sakti mandiri. Kolaborasi ini dimkasudkan menciptakan kratifitas masyarakat yang didasari dengan keunikan.

Jathilan topeng ireng merupakan inovasi masyarakat dengan berbagai ide kreatifitasnya. Topeng ireng digunakan untuk menarik perhatian masyarakat dengan balutan tubuhnya berwarna hitam. Penonton merasa terhidur dengan penampilan para penari jathilan tersebut dan terhibur dengan suasana yang baru untuk setiap penampilan tari jathilan.

Dalam sejarah kesenian jathilan dikenal lama oleh masyarakat Magelang yang berasal dari jogyakarta. Jathilan dikenal dengan nama kuda lumping atau jaran kepang. Kata jathilan memiliki makna jaran ejan thil-thilan tenan, dalam bahasa indoensia diartikan ‘ kudanya benar-benar joget tidak beraturan’. Tidak beraturan dapat dilihat ketika, penari kerasukan dan berjoget seenaknya.

Perspektif sejarah bahwa kesenian jathilan merupakan perjuangan Raden patah dibantu dengan sunan Kalijaga dalam melawan Belanda.

Keduanya memiliki kesamaan dalam membangun tradisi sebagai sarana pendekatan dengan masyarakat. lebih tepatnya tari jathilan merupakan piranti yang dibawa oleh sunan raden patah.

Pada sisi lain jathilan digambarkan sebagai kisah prajurit Mataram yang sedang mengadakan latihan perang (gladen) yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I untuk persiapan melawan Belanda. Cerita ini diperkuat dengan jathilan dikenang sebagai perjuangan masyarakat Jawa dalam perjuangan melawan penjajah yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Alat perang yang digunakan kuda dan bambu sebagai apresiasi dan dukungan melawan penjajah.

Jathilan sering dipentaskan oleh masyarakat desa sebagai bentuk pelestarian budaya yang bernilai sejarah. Pementasan memiliki tujuan di antaranya mengenang cerita dalam sejarah, menghibur masyarakat dan memanfaatkan media untuk menyatukan masyarakat dalam melawan kezhaliman.

Tarian pada awalnya dilakukan dengan lemah gemulai dengan iringan irama yang sesuai, namun setelah kerasukan menjadi merajalela (ndadi). Hal disebabkan penari tidak sadar dengan apa yang sudah dilakukan, sehingga gerakan tarian tidak teratur sehingga, diperlukan peran

‘pawang’. Beliau adalah orang yang memiliki peran dan tanggung jawab untuk mengendalikan jalannya pertunjukan dan menyembuhkan para penari yang kerasukan.

Peristiwa yang menarik adalah ketika penari kerasukan maka, penari jathilan mampu melakukan atraksi yang berbahaya. Adegan tersebut yakni, memakan pecahan kaca, makan kembang bahkan, menyayat tangannya dengan pedang. Kejadian ini tentu tidak dapat dinalar atau tidak dapat

dicerna oleh pikiran manusia. Sesungguhnya, peristiwa tersebut bukanlah pamer kedigjayaan/ kekuatan melainkan, gambaran bahwa non militer juga memiliki kekuatan untuk melawan Belanda.

Dalam perkembangan zaman tarian jathilan dikemas dalam tarian yang berbeda yakni dengan menampilkan sisi modern agar, disukai generasi muda. Terdapat dua kesenian dilihat dari coraknya yakni, pung jroll;

merupakan tarian sederhana yang diiringi gamelan maupun penampilannya.

Sementara yang kedua jathilan kreasi baru; yang lebih unik menarik dengan kostum atau penampilan yang menghebohkan.

Kreatifitas menjadi tuntutan agar, tarian jathilan tetap bertahan dan menjadi kebanggaan masyarakat Sawangan pada khususnya dan masyarakat Jawa pada umumnya. Jathilan kreasi baru ini disebut dengan turonggo suryo manunggal yang penampilannya tanpa mengundang keonaran atau kerasukan sehingga, murni menjadi suguhan hiburan yang dinamis. Seperti dilakukan pada kegiatan pernikahan atau khitanan.

Kreatifitas menjadi tuntutan untuk melestarikan kebdayaan yang menjadi kebanggaan masyarakat.

BAB IV

ANALISA KEHIDUPAN TOLERANSI BERAGAMA