• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.3.1.1 Pengambilan Sampel

Metode pengambilan sampel dilakukan dengan cara sampling purposif (Sudjana, 2001).

Dari beberapa lokasi yang di survey antara lain toko kelontongan di jalan pembangunan, supermarket indomaret padang bulan, Supermarket Ramayana Pringgan, Mini Market Jalan Doktor Mansur, Mini Market Jamin Ginting, Supermarket Carefour, dilakukan sampling lokasi maka sampel diambil dari Supermarket Carefour.

3.3.1.2 Persiapan Sampel

Masing-masing minuman dikeluarkan dari wadah kaleng kemudian letakkan dalam wadah kaca dan plastik. Aduk atau kocok hingga karbonat dari minuman tersebut habis (Haswell, 1991).

3.3.2 Pembuatan Pereaksi

3.3.2.1 Larutan Dithizon 0,005% b/v

Difeniltiokarbazon (dithizon) sebanyak 5 mg dilarutkan dalam 100 ml kloroform (Vogel, 1985).

3.3.2.2 Larutan NH4OH 1 N

Ammonium hidroksida 25% b/b sebanyak 7,4 ml diencerkan dalam 100 ml air suling (Ditjen POM, 1995).

3.3.2.3 KCN 10%

Larutkan 1 g kristal KCN dalam 10 ml air suling (Vogel, 1985). 3.3.3 Pembuatan Larutan Sampel

3.3.3.1 Pembuatan Larutan Sampel untuk Zink

Dipipet sebanyak 20 ml sampel dan masukkan ke dalam erlenmeyer ukuran 250 mL lalu ditambahkan 10 mL HNO3 65%.Kemudian uapkan pada hot plate selama ±30 menit, sampai volume menjadi ½ dari volum awal. Tuangkan ke labu tentukur 50 ml, dan diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda. Disaring dengan kertas saring Whatman no 42, dan 5 ml filtrat pertama dibuang kemudian filtrat selanjutnya ditampung ke dalam botol (SNI,2006).

3.3.3.2 Pembuatan Larutan Sampel untuk Timbal

Dipipet sebanyak 25 ml sampel dan masukkan ke dalam erlenmeyer ukuran 250 mL lalu ditambahkan 10 mL HNO3 65%,kemudian uapkan pada hot plate selama ±30 menit, samapai volume menjadi ½ dari volume awal. Tuangkan ke labu tentukur 25 ml, dan diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda. Disaring dengan kertas saring Whatman no 42, dan 5 ml filtrat pertama dibuang kemudian filtrat selanjutnya ditampung ke dalam botol (SNI,2006).

3.3.4 Pemeriksaan Kualitatif

3.3.4.1 Pemeriksaan Kualitatif untuk Zink

Kedalam tabung reaksi dimasukkan 5 ml larutan sampel, diatur pH-nya 5,0 dengan penambahan ammonium hidroksida 1N, kemudian ditambahkan 5 ml dithizon 0,005% b/v, kocok kuat, dibiarkan lapisan memisah dan terbentuk warna merah (Vogel, 1985).

3.3.4.2 Pemeriksaan Kualitatif untuk Timbal

Kedalam tabung reaksi dimasukkan 5 ml larutan sampel, diatur pH-nya 8,0 dengan penambahan ammonium hidroksida 1N, dimasukkan kalium sianida, ditambahkan 5 ml dithizon 0,005% b/v, kocok kuat, dibiarkan lapisan memisah dan terbentuk warna merah tua (Vogel, 1985).

3.3.5 Pemeriksaan Kuantitatif

3.3.5.1 Pemeriksaan Kuantitatif Zink

1. Pembuatan Kurva Kalibrasi Larutan Baku Zink

Larutan baku zink (1000 mcg/ml) sebanyak 1 ml dimasukkan ke dalam labu tentukur 100 ml lalu diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda. Dari larutan tersebut (10 mcg/ml) dipipet 10 ml dimasukkan ke dalam labu tentukur 100 ml lalu diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda. Dari larutan tersebut (1 mcg/ml) masing-masing di pipet 2,5 ml; 5 ml; 7,5 ml; 10 ml; 12,5 ml; dan 15 ml dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml dan diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi 0,05 mcg/ml; 0,1 mcg/ml; 0,15 mcg/ml; 0,2 mcg/ml; 0,25 mcg/ml; dan 0,3 mcg/ml, lalu dilakukan pengukuran pada panjang gelombang 213,9 nm.

2. Penetapan Kadar Zink dalam Sampel

Larutan sampel yang telah disiapkan diukur absorbansinya dengan spektrofotometer serapan atom pada panjang gelombang 213,9 nm. Kadar zink dapat dihitung dengan rumus :

Kadar (mcg/ml) =

W CxVxFp

V = Volume larutan sampel (ml) Fp = Faktor pengenceran

W = berat dalam hal ini Volume pemipetan sampel (ml) 3.3.5.2 Pemeriksaan Kuantitatif Timbal

1. Pembuatan Kurva Kalibrasi Larutan Baku Timbal

Larutan baku Timbal (1000 mcg/ml) sebanyak 1 ml dimasukkan ke dalam labu tentukur 100 ml lalu diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda. Dari larutan tersebut (10 mcg/ml) dipipet 10 ml dimasukkan kedalam labu tentukur 100 ml lalu di encerkan dengan aquabides hingga garis tanda. Dari larutan tersebut (1000 mcg/l) masing-masing dipipet 2,5 ml; 5 ml; 10 ml; 15 ml; dan 20 ml dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml dan diencerkan dengan aquabides hingga garis tanda sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi 50 mcg/l ; 100 mcg/l; 200 mcg/l; 300 mcg/l; dan 400 mcg/l, lalu dilakukan pengukuran pada panjang gelombang 217 nm.

2. Penetapan Kadar timbal dalam Sampel

Larutan sampel sebanyak 5 μl diukur absorbansinya dengan spektrofotometer serapan atom pada panjang gelombang 217 nm. Kadar timbal dapat dihitung dengan rumus :

Kadar (mcg/ml) =

W CxVxFp

Keterangan : C = Konsentrasi larutan sampel (mcg/ml) V = Volume larutan sampel (ml)

Fp = Faktor pengenceran

3.3.6 Uji Validasi

3.3.6.1 Penentuan Limit of Detection (LOD) dan Limit of Quantitation (LOQ) Batas deteksi atau Limit of Detection (LOD) adalah jumlah terkecil analit dalam sampel yang dapat dideteksi. Batas kuantitasi atau Limit of Quantitation (LOQ) merupakan kuantitas terkecil analit dalam sampel yang masih dapat diukur secara cermat dan akurat.

Menurut Harmita (2004), dan Rohman (2007), batas deteksi dapat dihitung berdasarkan pada Standar Deviasi (SD) dari kurva antara respon dan kemiringan (slope) dengan rumus :

SD = 2 ) ( 2 − −

n Yi Y RSD = X SD x 100% LOD = slope SD x 3

Sedangkan untuk penentuan batas kuantitasi dapat digunakan rumus :

LOQ = slope SD x 10 3.3.6.2 Perolehan Kembali

Sampel yang telah dihomogenkan, dipipet sebanyak 20 ml. Ditambah 2 ml larutan standar zink (1 mcg/ml), kemudian untuk logam timbal sampel dipipet sebanyak 25 ml lalu ditambahkan 1 ml larutan standar timbal (1 mcg/ml), selanjutnya dilakukan dengan cara yang sama seperti 3.3.3.1; 3.3.3.2; 3.3.5.1 dan 3.3.5.2, lalu dihitung persentase uji perolehan kembali dengan rumus :

100% x sampel dalam n ditambahka yang standar Kadar sampel dalam zat Kadar -standar n ditambahka setelah zat Kadar Recovery % = 3.3.7 Analisis Statistik

3.3.7.1 Penolakan Hasil Pengamatan

Kadar zink atau timbal yang diperoleh dari hasil pengukuran masing-masing 6 larutan sampel, diuji secara statistik dengan uji Q.

│Nilai yang dicurigai – Nilai yang terdekat │

Qhitung = ( Nilai tertinggi - Nilai Terendah)

Selanjutnya nilai Qhitung dibandingkan dengan nilai Qkritis, jika nilai Qhitung lebih kecil dari Qkritis maka hipotesis nul diterima, begitu juga sebaliknya jika nilai Qhitung lebih besar dari Qkritis maka hipotesis nul ditolak.

Hasil pengujian atau nilai Qhitung yang diperoleh ditinjau terhadap daftar harga Qkritis pada Tabel 2.

Tabel 2. Nilai Qkritis pada Taraf Kepercayaan 95%

Banyak data Nilai Qkritis

4 0,831 5 0,717 6 0,621 7 0,570 8 0,524 (Rohman, 2007) 3.3.7.2 Rata – Rata Kadar Zink dan Timbal

Kadar zink atau timbal yang diperoleh dari hasil pengukuran masing-masing 6 larutan sampel, ditentukan rata-ratanya secara statistik dengan taraf kepercayaan 95% dengan rumus sebagai berikut:

μ = X ± t ½ α s/√n (Wibisono, 2005) Keterangan : µ = interval kepercayaan

t = harga t tabel sesuai dengan dk = n-1 α = tingkat kepercayaan

s = standar deviasi n = jumlah perlakuan 3.4. Prosedur Penentuan Berat Jenis

Timbang piknometer kosong, dilakukan sebanyak tiga kali. Kemudian isi piknometer tersebut dengan larutan yang akan ditentukan berat jenisnya, timbang. Lakukan percobaan sebanyak tiga kali.

ρ = piknometer volume kosong piknometer massa -berisi piknometer massa

BAB IV

Dokumen terkait