BAB I PENDAHULUAN
3.5 Metode Analisis Dan Pengujian Hipotesis
3.5.2 Rancangan Pengujian Hipotesis
(Sumber : Sugiyono, 2009:186)
Dimana :
r1 = Reliabilitas internal seluruh instrument
rAB = Korelasi Product Moment Pearson antara item ganjil dan genap
3.5.2 Rancangan Pengujian Hipotesis
Rancangan pengujian hipotesis digunakan untuk mengetahui korelasi dari
kedua variabel yang diteliti dalam hal ini adalah korelasi antara Karakteristik
Sistem Akuntansi Manajemen terhadap Kinerja Manajerial dengan menggunakan
perhitungan statistik.
Langkah-langkah dalam pengujian hipotesis ini akan dimulai dengan
menetapkan hipotesis nol dan hipotesis alternatif, pemilihan tes statistik dan
perhitungan nilai statistik, penetapan tingkat signifikan dan penetapan kriteria
pengujian. Untuk mengetahui lebih lanjut langkah-langkah yang dilakukan dapat
dilihat sebagai berikut:
1. Penetapan Hipotesis Nol (Ho) dan Hipotesis Alternatif (H1)
Penetapan Hipotesis Nol (Ho) dan Hipotesis Alternatif (H1) digunakan
dengan tujuan untuk mengetahui adanya hubungan positif antara dua variabel di
atas. Hipotesis penelitian yang diajukan adalah Hipotesis Alternatif (H1),
sedangkan untuk keperluan analisis statistik hipotesisnya berpasangan antara
Hipotesis statistik pada penelitian ini adalah:
Ho = ρ = 0 Tidak terdapat pengaruh karakteristik sistem akuntansi manajemen terhadap kinerja manajerial.
H1 = ρ ≠ 0, terdapat pengaruh karakteristik sistem akuntansi manajemen
terhadap kinerja manajerial.
2. Pemilihan Uji Hipotesis
Data yang digunakan untuk pengujian hipotesis ini berasal dari variabel
(X) dan variabel (Y) yang pengukurannya menggunakan skala ordinal yaitu
tingkat pengukuran yang memungkinkan peneliti mengurutkan respondennya dari
tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi. Melalui pengukuran ini
penulis dapat membagi respondennya ke dalam urutan rangking atas dasar
sikapnya pada objek atau tindakan tertentu, maka dalam menguji hipotesis ini
digunakan teknik statistik non parametrik. Data tersebut diperoleh melalui
kuesioner dengan jenis pertanyaan tertutup dan setiap item memiliki skor sendiri.
Hipotesis ini akan diuji dengan menggunakan analisis korelasi Rank Spearman.
Korelasi Rank Spearman menurut Sugiyono (2009:356) adalah:
“Korelasi Rank Speraman digunakan untuk mencari hubungan atau untuk menguji spesifikasi hipotesis assosiatif, bila masing-masing variabel yang dihubungkan berbentuk ordinal dan sumber data antar variabel tidak harus sama”.
Metode ini menggunakan ukuran asosiasi yang menghendaki
sekurang-kurangnya variabel yang diuji dalam skala ordinal, sehingga objek penelitian
dapat diranking dalam 2 rangkaian berurutan. Rumus untuk mengukur koefisien
Rank Spearman adalah sebagai berikut:
= 1 − 6∑ 2
(2− 1) (Sugiyono, 2009:357)
Dimana:
= koefisien korelasi Rank Spearman yang menunjukkan keeratan hubungan antara unsur-unsur variabel X dan variabel Y
di = selisih mutlak antara rangking data variabel X dan variabel Y (X1 – Y1)
n = banyaknya responden atau sampel yang diteliti
Apabila dalam penelitian tersebut terdapat rank yang berangka sama, maka
digunakan faktor koreksi, dengan rumus sebagai berikut:
T =t12 − t
Dimana:
T = Faktor koreksi
Untuk mengurang dampak jumlah data variabel dengan rank yang sama
terhadap hasil penelitian, maka digunakan rumus sebagai berikut:
= ∑2+ ∑2− ∑ 2 2 ∑2 ∑2 Dengan ketentuan : _ = !"# − !$% & = !"# − !$' Keterangan:
∑Tx : Jumlah ranking yang sama dalam variabel X
∑Ty : jumlah ranking yang sama dalam variabel Y
Apabila hasil perhitungan koefisien korelasi Rank Spearman rs hitung > rs
tabel maka hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nol (Ho) ditolak, yaitu
terdapatnya karakteristik sistem akuntansi manajemen memadai terhadap kinerja
manajerial. Tetapi bila sebaliknya rs hitung < rs tabel maka hipotesis nol (Ho) diterima
dan hipotesis alternatif (Ha) ditolak, yaitu karakteristik sistem akuntansi
manajemen berpengaruh terhadap kinerja manajerial.
Tabel 3.3
Pedoman Interprestasi Tingkat Korelasi
Interval Koefisien Korelasi (r) Tingkat Hubungan
0,00 – 0,199 Sangat Rendah 0,20 – 0,399 Rendah 0,40 – 0,599 Sedang 0,60 – 0,799 Kuat 0,80 – 1,000 Sangat Kuat Sumber: Sugiyono 2009 : 250
Untuk menguji tingkat signifikan koefisien korelasi rs yang dihasilkan, maka
digunakan uji t atau test t dengan rumus:
t = ( √*+, √1 −
(Sumber : Sugiyono 2009:250)
Hasil perhitungan uji t kemudian dibandingkan dengan ttabel yang diperoleh
dengan tingkat signifikan α = 0,05 dan dk = n – 2 (dk =derajat kebebasan).
Hipotesis ini telah ditetapkan tersebut akan diuji berdasarkan daerah penerimaan
dan daerah penolakan yang ditetapkan sebagai berikut:
• Ho diterima jika nilai thitung < ttabel
• Ho ditolak jika nilai thitung > ttabel
Selanjutnya dapat dihitung koefisien determinasi untuk menentukan
seberapa jauh pengaruh variabel X terhadap variabel Y dari korelasi Rank
Sparman. Menurut Sugiyono rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
- = 2 100%
Di mana:
Kd = Koefisien Determinasi
3. Penetapan Tingkat Signifikasi
Dalam suatu penelitian, sebelum pengujian dilakukan terlebih dahulu
harus ditentukan taraf signifikan atau taraf nyata. Hal ini dilakukan untuk
membuat suatu rencana pengujian agar dapat diketahui batas-batas untuk
menentukan pilihan antara Ho dan Ha. Dalam penelitian ini, taraf nyata yang
dipilih adalah 0,05 atau 5% karena dapat mewakili hubungan antara variabel yang
diteliti dan merupakan suatu signifikansi yang sering digunakan dalam penelitian
bidang ilmu-ilmu sosial. Jadi tingkat kebenaran yang dikemukakan oleh penulis
adalah 0,95 atau 95%.
4 Penetapan kriteria Pengujian
Kriteria pegujian ditetapkan dengan membandingkan nilai hitung dan nilai
pada tabel, dengan menggunakan tabel harga-harga kritis koefisien korelasi rank
sperman dengan tingkat signifikasi 0,05 untuk mengetahui apakah kedua variabel
berkorelasi atau tidak maka diperlukan uji signifikasi dari ranking tersebut.
tshitung > ts tabel, artinya ada terdapat pengaruh karakteristik sistem akuntansi
manajemen terhadap kinerja manajerial, dengan kata lain
Ho ditolak dan H1 diterima.
tshitung < tstabel, artinya ada hubungan tidak terdapat pengaruh karakteristik
sistem akuntansi manajemen terhadap kinerja manajerial,
5 Pengambilan Keputusan
Jika rs hitung ≥ rs tabel atau ts hitung ≥ ts tabel, maka berada pada daerah
penolakan Ho. Ini berarti bahwa hipotesis yang diajukan penulis dapat diterima,
yaitu bahwa Implementasi Karakteristik Sistem Akuntansi Manajemen
berpengaruh terhadap Kinerja Manajerial.
Tetapi, jika rs hitung ≤ rs tabel atau ts hitung ≤ ts tabel, maka berada pada
daerah penerimaan Ho. Ini berarti bahwa hipotesis yang diajukan penulis ditolak,
yaitu bahwa Karakteristik Sistem Akuntansi Manajemen tidak berpengaruh
terhadap Kinerja Manajerial.
3.6 Rancangan Kuesioner
Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan
cara memberi seperamgkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden
untuk dijawabnya. Selain itu, kuisioner dapat berupa pertanyaan atau pernyataan
tertutup atau terbuka. Rancangan kuisioner yang dibuat penulis adalah kuisioner
tertutup dimana jawaban dibatasi atau sudah ditentukan oleh penulis. Jumlah
kuisioner ditentukan berdasarkan indikator variabel penelitian.
3.7 Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi yang menjadi tempat penelitian dalam pembuatan skripsi ini adalah
pada PT. PLN (Persero) UPJ Bandung Barat, Jln. LMU Nurtanio No. 117
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umun PT. PLN (Persero) UPJ Bandung Barat
4.1.1 Gambaran Umum Perusahaan
4.1.1.1 Sejarah Singkat PT. PLN (Persero) UPJ Bandung Barat
Sejak masa penjajahan Belanda sejak awal Tahun 1942, di Indonesia
dikenal suatu badan atau perusahaan yang menyediakan pasokan tenaga listrik
milik Pemerintah, daerah otonom (Gemente) atau gabungan keduanya. Di Jawa
Barat, khususnya Bandung, perusahaan pengeloloa serta penyedia tenaga listrik
bagi kepentingan umum itu adalah Bandoengsche Electriciteit Maatschappij
(BEM) yang berdiri Tahun 1905. Pada tanggal 1 Januari 1920, perusahaan
perseroan Gemeenschaplijk Eelectriciteit Bedrijf Voor Bandoeng (GEBEO)
menggantikan BEM. Pendirian ini dikukuhkan dengan akte pendirian Notaris Mr.
Andriaan Hendrik Van Ophuisen No.123 tanggal 31 Desember 1919. Pada masa
pendudukan Jepang antara 1942-1945, pendistribusian tenaga listrik dilaksanakan
oleh Djawa Denki Djigyo Sha Bandoeng Shi Sha, dengan wilayah kerja di seluruh
Pulau Jawa.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, Indonesia mengalami periode
perjuangan fisik sampai tibanya saat penyerahaan kedaulatan RI dari Pemerintah
Hindia Belanda. Tahun 1957 merupakan awal penguasaan pengelolaan
perlistrikan di seluruh Indonesia oleh Pemerintah Republik Indonesia, dengan
Maka pada 27 Desember 1957, GEBEO diambil alih oleh Pemerintahan RI
dengan dikukuhkan Peraturan Pemerintah No. 86 tahun 1958 j.o. Peraturan
Pemerintah No. 18 tahun 1959 tentang penentuan perusahaa listrik dan gas milik
Belanda. Tahun 1961, berdasarkan peraturan Pemerintah No. 67 dibentuk Badan
Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara (BPU-PLN) sebagai wadah kesatuan
Pimpinan PLN. PLN Bandung pun diganti dengan nama PLN Exploitasi XI
sebagai kesatuan BPU-PLN di Jawa Barat, di luar DKI Jaya dan Tanggerang.
Tahun 1972, Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No.18
Tahun 1972 tentang Perusahaan Umum Listrik Negara, yang menyebutkan bahwa
status PLN menjadi Perusahaan Umum Listrik Negara. Kemudian, mengacu pada
Peraturan Menteri PUTL No. 013/PRT/1957 tanggal 8 September 1957 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Perusahaan Umum Listrik Negara, maka PLN
mengadakan reorganisasi menyangkut nama, tugas dan wilayah kerja daerah.
Berdasarkan pengumuman PLN Exploitasi XI No. 05/DIII/Sek/1975 tanggal 14
Juli 1975, PLN Exploitasi XI diubah namanya menjadi Perusahaan Umum Listrik
Negara Distribusi Jawa Barat.
Dengan adanya Peraturan Pemerintah RI No. 23 Tahun 1994 tanggal 16
Juni 1944, maka bentuk Perusahaan Umum Listrik Negara Distribusi Jawa Barat
diubah lagi menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) dengan sebutan PT. PLN
(Persero) Distribusi Jawa Barat sejak tanggal 30 Juli 1994, sesuai akte pendirian.
Selanjutnya, sesuai keputusan Direksi PT. PLN (Persero) No. 28.K/010/DIR/2001
tanggal 20 Februari 2001, PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat diubah
4.1.1.2 Visi dan Misi PT. PLN (Persero) UPJ Bandung Barat
Visi dari PT. PLN (Persero) UPJ Bandung Barat ialah diakui sebagai
perusahaan kelas Dunia yang tumbuh berkembang, unggul dan terpercaya dengan
bertumpu pada Potensi Insani.
Sedangkan misi dari PT. PLN (Persero) UPJ Bandung Barat ialah:
1. Melakukan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi
kepada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan dan pemegang saham.
2. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas
kehidupan masyarakat.
3. Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi
4. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.
4.1.1.3 Falsafah Perusahaan
Falsafah PT. PLN (Persero) UPJ Bandung Barat adalah pembawa
kecerahan dan kegairahan dalam kehidupan masyarakat yang produktif. Falsafah
perusahaan melandasi keyakinan PT. PLN, bahwa PT. PLN bukan sekedar
penyedia energi listrik akan tetapi juga berkontribusi pada pengembangan
masyarakat produktif dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat. Dan ini
sekaligus memberikan pondasi yang kuat bagi PT. PLN untuk mewujudkan VISI
dan MISI Perusahaan.
Motto Perusahaan:
Motto dari PT. PLN (Persero) UPJ Bandung Barat ialah:
Untuk mewujudkan Visi dan Misi perusahaan, PT. PLN mengembangkan
wawasan bersama sebagai panduan dalam bekerja dan berkarya dengan
menjunjung tinggi nilai-nilai Perusahaan yang terdiri dari:
1. Saling percaya (Mutual Trust)
2. Integritas (Integrity)
3. Peduli (care) dan Pembelajar (Learner)
Tugas utama dari PT. PLN yaitu menyediakan Litrik bagi kepentingan
umum sekaligus mendapatkan keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan
perusahaan dan mengusahakan penyediaan tenaga listrik dengan jumlah dan mutu
yang memadai dengan merintis kegiatan usaha penyediaan tenaga listrik serta
menyelenggarakan usaha-usaha lainnya yang menunjang usaha penyediaan tenaga
listrik sesuai dengan peraturan yang berlaku. Untuk menyelenggarakan tugas
pokok dan fungsi tersebut maka PT. PLN melaksanakan kegiatan-kegiatan
operasinya yang terbagi atas lima bidang usaha, yaitu:
1. Bidang Perencanaan
Bertugas merumuskan rencana korporat distribusi, pengembangan sistem
distribusi, kebutuhan investasi, penyajian data dan informasi serta
melaksanakan analisa dan evaluasi kinerja distribusi.
2. Bidang Konstruksi
Bidang ini bertugas menyusun, merencanakan, mengendalikan dan
membina pengoperasian dan memelihara sarana perindustrian tenaga
listrik, pelayanan kepada calon pelanggan dan listrik pedesaan dalam
3. Bidang Pengusahaan
Bidang ini bertugas menyusun, merencanakan, mengatur dan
mengendalikan kegiatan konstruksi sesuai dengan kebijakan perusahaan.
4. Bidang Keuangan
Bidang ini bertugas menyusun dan memantau pendapatan dan belanja,
mengelola keuangan dan akuntansi perusahaan, pembangunan dan
pemugaran sarana perindustrian, membina tata usaha langganan dan
penjualan tenaga listrik serta penyusunan laporan keuangan.
5. Bidang Kepegawaian dan Administrasi
Bidang ini mengatur dan mengkoordinasikan kegiatan pengelolaan
sumber daya manusia, kesekretariatan, keamanan dan keselamatan kerja
serta pelayanan hukum dan hubungan masyarakat dalam menunjang
pencapaian sasaran perusahaan.
4.1.1.4Struktur Organisasi PT. PLN (Persero) UPJ Bandung Barat
Deskripsi setiap bagian pada PT. PLN (Persero) UPJ Bandung Barat
sebagai berikut:
1. Manajer
Memonitoring pelaksanaan manajemen PT. PLN (Persero) UPJ Bandung
2. Supervisor Distribusi
a. Mengawasi atau mengontrol pelaksanaan dinas gangguan
b. Mengawasi atau mengontrol pelaksanaan jaringan di UPJ Bandung
Barat
c. Mengawasi atau mengontrol pelaksanaan teknik sehari-hari
d. Supervisor P2TL (Penindakan Pencurian Tenaga Listrik)
e. Mengawasi atau mengontrol pelaksanaan penindakan pencurian tenaga
listrik
f. Mengawasi atau mengontrol pelaksanaan target operasi
3. Supervisor Penagihan
a. Mengawasi atau mengontrol pelaksanaan pelayanan penjualan rekening
b. Mengawasi atau mengontrol pelaksanaan data tunggakan
c. Mengawasi atau mengontrol pelaksanaan UPR (Usulan Piutang
Ragu-ragu)
d. Mengawasi atau mengontrol pelaksanaan saldo penjualan tunggakan.
4. Supervisor Catat Meter
a. Mengawasi atau mengontrol pelaksanaan pembacaan meter
b. Mengawasi atau mengontrol pelaksanaan entry data meter (Automatic)
c. Mengawasi atau mengontrol pelaksanaan proses billing
d. Mengawasi atau mengontrol pelaksanaan penanganan pengaduan
e. Mengawasi atau mengontrol pelaksanaan sampling
f. Mengawasi atau mengontrol pelaksanaan DKP/DLPD (Daftar
5. Supervisor Keuangan
a. Mengawasi atau mengontrol pelaksanaan financial UPJ Bandung Barat
b. Mengawasi atau mengontrol pelaksanaan pengadaan material
c. Mengawasi atau mengontrol pelaksanaan transaksi pelanggan
d. Mengawasi atau mengontrol pelaksanaan pemeliharaan gedung
e. Mengawasi atau mengontrol pelaksanaan kepegawaian
f. Mengawasi atau mengontrol pelaksanaan rekonsiliasi bank
6. Supervisor Pengolahan Data
Mengawasi atau mengontrol pelaksanaan jaringan komputerisasi UPJ
Bandung Barat.
4.1.2 Pelaksanaan Karakteristik Sistem Akuntansi Manajemen Di PT. PLN (Persero) UPJ Bandung Barat
Sistem akuntansi manajemen (SAM) merupakan kumpulan dari manusia
serta pengumpulan dan pengukuran sumber-sumber yang relevan, tepat waktu,
dapat dipercaya yang berguna bagi para pemakai informasi dan berguna dalam
pengambilan keputusan manajemen.
Untuk mengetahui Karakteristik sistem akuntansi manajemen di PT. PLN
(Persero) UPJ Bandung Barat, peneliti mengedarkan kuesioner sesuai dengan Sub
variabel dari Karakteristik sistem akuntansi manajemen yang terdiri dari 4
1. Scope (Lingkup)
a. Fokus berkaitan dengan informasi yang berasal dari dalam atau luar
organisasi
b. Kuantifikasi berkaitan dengan informasi keuangan dan non keuangan
c. Waktu berkaitan estimasi peristiwa yang akan terjadi di masa yang akan
datang
2. Timelines (Tepat Waktu)
a. Frekwensi pelaporan
b. Kecepatan laporan
3. Aggregation (Agregasi)
a. Mengurangi terjadinya konflik
b. Berrmanfaat sebagai input dalam mengevaluasi kinerja manajer
4. Integration (Integrasi)
Sebagai alat koordinasi antar segmen dari subunit dan antar subunit
Adapun hasil jawaban responden tentang Karakteristik sistem akuntansi
manajemen (Variabel X) sebagai berikut:
1. Scope (Lingkup)
Untuk mengetahui hasil jawaban responden mengenai sub variabel
Scope (Lingkup), penulis akan menyajikan jawaban kusioner dalam tabel dibawah ini.
Adapun untuk indikator yang digunakan adalah sebagai berikut:
- Fokus berkaitan dengan informasi yang berasal dari dalam atau luar
organisasi.
- Kuantifikasi berkaitan dengan informasi keuangan dan non keuangan.
- Waktu berkaitan estimasi peristiwa yang akan terjadi di masa yang akan
datang. Tabel 4.1 Scope (Lingkup) No Pertanyaan Frekuensi jawaban berdasarkan peringkat
jawaban Persentase Jawaban (%)
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
1 0 0 1 9 10 0 0 5 45 50
2 0 0 2 10 8 0 0 10 50 40
3 0 0 6 14 0 0 0 30 70
Rata-rata 0 0 5 42 57
Sumber: Hasil Kusioner
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa hasil jawaban responden mengenai
Scope (Lingkup) dari Sistem Akuntansi Manajemen di PT. PLN (Persero) UPJ Bandung Barat sebagian besar menjawab “Selalu” dengan persentase 57%,
sedangkan yang menjawab “Sering” sebesar 42% dan sebanyak 5% menjawab
“Jarang”. Hal ini menunjukkan bahwa di perusahaan tersebut Scope (Lingkup)
2. Timelines (Tepat Waktu)
Untuk mengetahui hasil jawaban responden mengenai sub variabel
Timelines (Tepat Waktu), penulis akan menyajikan jawaban kusioner dalam tabel dibawah ini.
Adapun untuk indikator yang digunakan adalah sebagai berikut:
- Frekwensi pelaporan
- Kecepatan laporan
Tabel 4.2
Timelines (Tepat Waktu)
No Pertanyaan
Frekuensi jawaban berdasarkan peringkat
jawaban Persentase Jawaban (%)
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
4 0 0 1 8 11 0 0 5 40 55
5 0 0 2 9 9 0 0 10 45 45
6 0 0 2 10 8 0 0 10 50 40
Rata-rata 0 0 8 45 47
Sumber: Hasil Kusioner
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa hasil jawaban responden
mengenai Timelines (Tepat Waktu) dari sistem akuntansi manajemen di PT. PLN
(Persero) UPJ Bandung Barat sebagian besar menjawab “Selalu” dengan
persentase 47% sedangkan yang menjawab “Sering” sebesar 45%, dan “jarang”
8%. Hal ini menunjukkan bahwa di perusahaan tersebut Timelines (Tepat Waktu)
dari sistem akuntansi manajemen yang telah diterapkan di dalam perusahaan
sudah baik, terlebih dengan adanya evaluasi rencana yang telah dilakukan agar
3. Agrregation (Agregasi)
Untuk mengetahui hasil jawaban responden mengenai sub variabel
Aggregation (Agregasi), penulis akan menyajikan jawaban kusioner dalam tabel dibawah ini.
Adapun untuk indikator yang digunakan adalah sebagai berikut:
- Mengurangi terjadinya konflik
- Berrmanfaat sebagai input dalam mengevaluasi kinerja manajer.
Tabel 4.3 Aggregation (Agregasi) No Pertanyaan Frekuensi jawaban berdasarkan peringkat jawaban Persentase Jawaban (%) 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 7 0 0 2 12 6 0 0 10 60 30 8 0 0 1 8 11 0 0 10 40 60 9 0 0 1 9 10 0 0 5 45 50 Rata-rata 0 0 8 48 47
Sumber: Hasil Kusioner
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa hasil jawaban responden
mengenai Aggregation (Agregasi) yang terdapat di PT. PLN (Persero) UPJ
Bandung Barat sebagian besar menjawab “Sering” dengan persentase 48%
sedangkan yang menjawab “Selalu” sebesar 47%, dan sebanyak 8% menjawab
“Jarang”. Hal ini menunjukkan bahwa di perusahaan tersebut Aggregation
(Agregasi) dari sistem akuntansi manajemen yang telah diterapkan di dalam
perusahaan sudah baik, terlebih dengan adanya informasi yang dihasilkan secara
4. Integration (Integrasi)
Untuk mengetahui hasil jawaban responden mengenai sub variabel
Integration (Integrasi), penulis akan menyajikan jawaban kusioner dalam tabel dibawah ini.
Adapun untuk indikator yang digunakan adalah sebagai berikut:
- Sebagai alat koordinasi antar segmen dari subunit dan antar subunit
Tabel 4.4 Integration (Integrasi) No Pertanyaan Frekuensi jawaban berdasarkan peringkat
jawaban Persentase Jawaban (%)
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
10 0 0 1 9 10 0 0 5 45 50
11 0 0 1 9 10 0 0 5 45 50
12 0 0 2 10 8 0 0 10 50 40
Rata-rata 0 0 7 47 30
Sumber: Hasil Kusioner
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa hasil jawaban responden
mengenai Integration (Integrasi) dari sistem akuntansi manajemen di PT. PLN
(Persero) UPJ Bandung Barat sebagian besar menjawab “Sering” dengan
persentase 47% sedangkan yang menjawab “Selalu” sebesar 30%, dan sebanyak
7% menjawab “Jarang”. Hal ini menunjukkan bahwa di perusahaan tersebut
Integration (Integrasi) dari sistem akuntansi manajemen yang telah diterapkan di dalam perusahaan sudah baik.
4.1.3 Kinerja Manajerial Di PT. PLN (Persero) UPJ Bandung Barat
Kinerja manajerial adalah merupakan hasil dan keluaran yang dihasilkan
oleh seorang pegawai sesuai dengan perannya dalam organisasi dalam suatu
periode tertentu. Kinerja manajerial yang baik adalah salah satu faktor yang
sangat penting dalam upaya perusahaan untuk meningkatan produktivitas. Kinerja
manajerial merupakan indikator dalam menentukan bagaimana usaha untuk
mencapai tingkat produktivitas yang tinggi dalam suatu perusahaan
Untuk mengetahui Kinerja Manajerial di PT. PLN (Persero) UPJ Bandung
Barat, peneliti mengedarkan kuesioner sesuai dengan indikator penilaian kinerja
manajerial berdasarkan kegiatan-kegiatan manajerial yang terdiri dari:
1. Penilaian kinerja manajerial berdasarkan kegiatan-kegiatan manajerial:
a. Kinerja Perencanaan
b. Kinerja Investigasi
c. Kinerja Pengkoordinasian
d. Kinerja Evaluasi
e. Kinerja Pengawasan
f. Kineja Pengaturan Staff (Sttafing)
g. Kinerja Negosiasi
Adapun hasil jawaban responden tentang Kinerja manajerial (Variabel X)
sebagai berikut:
A. Kinerja Perecanaan
Kinerja perencanaan yang dimaksud yaitu kemampuan dalam nenentukan
tujuan, kebijakan-kebijakan dan tindakan/pelaksanaan, penjadwalann kerja,
penganggaran, merancang prosedur, serta pemrograman.
Tabel 4.5 Kinerja Perencanaan No. Pertanyaan Frekuensi Jawaban Berdasarkan Peringkat
Jawaban Persentase Jawaban (%)
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
1 0 0 0 6 14 0 0 0 30 70
2 0 0 1 8 11 0 0 5 40 55
Rata-rata 0 0 3 35 63
Sumber: Hasil Kusioner
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa hasil jawaban responden mengenai
kinerja perencanaan di PT. PLN (Persero) UPJ Bandung Barat, sebagian besar
responden menjawab “Selalu” dengan persentase sebesar 63%, “Sering” sebesar
35%, dan “Jarang” sebesar 3%. Maka dengan demikian kinerja perencanaan di
B. Kinerja Investigasi
Kinerja investigasi yang dimaksud adalah kemampuan dalam
mengumpulkan dan menyampaikan informasi untuk catatan, laporan dan
rekening, mengukur hasil, menentukan persediaan, serta analisis pekerjaan.
Tabel 4.6 Kinerja Investigasi No Pertanyaan Frekuensi jawaban berdasarkan peringkat
jawaban Persentase Jawaban (%)
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
3 0 0 2 9 9 0 0 10 45 45
4 0 0 2 10 8 0 0 10 50 40
5 0 0 2 12 6 0 0 10 60 30
Rata-rata 0 0 10 52 38
Sumber: Hasil Kusioner
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa hasil jawaban responden mengenai
kinerja investigasi di PT. PLN (Persero) UPJ Bandung Barat, sebagian besar
responden menjawab “Sering” dengan persentase sebesar 52%, “Selalu” 38%,,
sedangkan “Jarang” sebesar 10%. Maka dengan demikian kinerja investigasi di
PT. PLN (Persero) UPJ Bandung Barat sudah efektif.
C. Kinerja Pengkoordinasian
Kinerja pengkoordinasian yang dimaksud yaitu kemampuan dalam tukar
menukarinformasi dengan orang di bagian organisasi lain untuk mengaitkan dan
menyesuaikan program, memberitahukanya kepada bagian lain, dan hubungan
Tabel 4.7 Kinerja Pengkoordinasian No. Pertanyaan Frekuensi Jawaban Berdasarkan Peringkat
Jawaban Persentase Jawaban (%)
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
6 0 0 1 8 11 0 0 5 40 55
7 0 0 1 9 10 0 0 5 45 50
Rata-rata 0 0 5 43 53
Sumber: Hasil Kusioner
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa hasil jawaban responden mengenai
kinerja pengkoordinasian di PT. PLN (Persero) UPJ Bandung Barat, sebagian
besar responden menjawab “Selalu” dengan persentase sebesar 53%, “Sering”
sebesar 43%, dan “Jarang” sebesar 5%. Maka dengan demikian kinerja
pengkoordinasian di PT. PLN (Persero) UPJ Bandung Barat sudah efektif.
D. Kinerja Evaluasi
Kinerja evaluasi yang dimaksud adalah kemampuan dalam menilai dan
mengukur proposal, kinerja yang diamati atau dilaporkan yang meliputi penilaian
pegawai, penilaian catatan hasil, penilaian laporan keuangan dan pemeriksaan
produk. Tabel 4.8 Kinerja Evaluasi No. Pertanyaan Frekuensi Jawaban Berdasarkan
Peringkat Jawaban Persentase Jawaban (%)
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
8 0 0 1 9 10 0 0 5 45 50
9 0 0 1 9 10 0 0 5 45 50
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa hasil jawaban responden mengenai
kinerja evaluasi di PT. PLN (Persero) UPJ Bandung Barat, sebagian besar
responden menjawab “Selalu” dengan persentase sebesar 50%, “Sering” sebesar
45%, dan “Jarang” sebesar 5%. Maka dengan demikian kinerja evaluasi di PT.
PLN (Persero) UPJ Bandung Barat sudah efektif.
E. Kinerja Pengawasan
Kinerja paengawasan yang dimaksud adalah kemampuan dalam
memberikan pengarahan, memimpin dan mengembangkan bawahan,
membimbing, melatih dan menjelaskan peraturan kerja pada bawahan,
menjelaskan tujuan kerja dan menangani keluhan pegawai.
Tabel 4.9 Kinerja Pengawasan No Pertanyaan Frekuensi jawaban berdasarkan peringkat
jawaban Persentase Jawaban (%)
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
10 0 0 2 10 8 0 0 10 50 40
11 0 0 0 6 14 0 0 0 30 70
12 0 0 1 8 11 0 0 5 40 55
Rata-rata 0 0 5 40 55
Sumber: Hasil Kusioner
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa hasil jawaban responden mengenai
kinerja pengawasan di PT. PLN (Persero) UPJ Bandung Barat, sebagian besar
responden menjawab “Selalu” dengan persentase sebesar 55%, “Sering” sebesar