2 TINJAUAN PUSTAKA
3.3. Rancangan Percobaan dan Perlakuan
Penelitian untuk menganalisis pengaruh pemberian pakan dengan kandungan protein dan rasio energi protein C/P (kkal GE/g) yang berbeda terhadap pertumbuhan juvenil ikan kuwe menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 4x2 (8 perlakuan) dengan 3 ulangan (tabel 3).
Tabel 3. Desain Eksperimen Análisis Faktorial untuk Penelitian Kebutuhan Protein dan Rasio Energi Protein Dalam Pakan Juvenil Ikan Kuwe
Rasio Energi Protein C/P kkal GE/g
Tingkat Protein
A1 (33%) A2 (37%) A3 (41%) A4 (45%)
B1 (9 kkal GE/g) A1B1 A2B1 A3B1 A4B1
B2 (11 kkal GE/g) A1B2 A2B2 A3B2 A4B2
• Perlakuan A1B1 (protein 33 %; C/P 9)
• Perlakuan A1B2 (protein 33%; C/P 11)
• Perlakuan A2B1 (protein 37%; C/P 9)
• Perlakuan A2B2 (protein 37%; C/P 11)
• Perlakuan A3B1 (protein 41%; C/P 9)
• Perlakuan A3B2 (protein 41%; C/P 11)
• Perlakuan A4B1 (protein 45%; C/P 9)
• Perlakuan A4B2 (protein 45.5%; C/P 11)
3.4. Pemeliharaan ikan 3.4.1. Uji Pertumbuhan
Uji ini dilakukan dengan menggunakan 24 buah akuarium yang telah diisi air laut setinggi 25 cm. Penempatan akuarium dilakukan secara acak. Setelah proses adaptasi, ikan uji dipuasakan selama 24 jam untuk menghilangkan sisa pakan dalam saluran pencernaan ikan. Ikan uji dengan berat awal rata-rata 1.61±0.06 gram ditebar dalam wadah percobaan dengan kepadatan 10 ekor per wadah. Ikan diberi pakan percobaan 3 kali sehari (pukul 07.00, 12.00 dan pukul 17.00) pada level satiasi selama 40 hari. Pengamatan jumlah konsumsi pakan dilakukan setiap hari yaitu dengan menimbang sisa pakan basah yang sudah dikeringkan ditambah sisa pakan kering.
Untuk menjaga kualitas air, kotoran ikan pada setiap bak percobaan disipon pada pagi dan sore hari sebelum pemberian pakan dilakukan. Pengukuran beberapa parameter kualitas air dilakukan tiga kali, yaitu pada awal, pertengahan dan akhir penelitian, sedangkan suhu air pengukuran dilakukan setiap hari. Data kualitas air selama penelitian adalah suhu air berkisar antara 28-30 OC, salinitas
27-30 ppm dan DO 7,2-7,8 mg/l. Kisaran hasil pengukuran kualitas air yang diperoleh masih dalam batas toleransi yang dapat mendukung pertumbuhan ikan kuwe.
Setelah masa pemeliharaan selama 40 hari ikan uji dipuasakan selama 24 jam kemudian ditimbang bobotnya/ekor untuk setiap unit percobaan. Beberapa ekor ikan pada tiap unit percobaan akan diambil untuk dijadikan subjek analisa proksimat, pengukuran kadar glikogen/lemak hati dan otot serta hepatosomatik indeks (HSI).
3.4.2. Eskresi Amonia
Percobaan ini menggunakan wadah berupa stoples kaca volume 2.5 liter sebanyak 16 buah. Ikan uji dipuasakan selama 24 jam, kemudian ditimbang bobotnya. Sebelum pengukuran dilakukan ikan uji sebanyak 5 ekor/wadah diberi pakan uji sampai kenyang kemudian dipindahkan ke wadah yang telah di isi air laut yang sudah diaerasi selama 24 jam. Untuk mengukur kadar amonia, karbondioksida dan oksigen, sampel air diambil setiap jam dan dilakukan selama 5 jam (5 kali pengukuran). Selama percobaan dan pengukuran berlangsung aerasi dimatikan dan ikan tidak diberi makan. Kadar TAN diukur dengan metode Phenate (APHA at al. 1975) dan nilai absorbansinya dibaca dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 630 nm. Kadar total amonia dihitung dengan rumus : TAN = (AbsSp/AbsSt) x TANSt; dengan TAN adalah kadar amonia sampel (mgN/L), AbsSp adalah absorbans sampel, AbsSt adalah absorbans standar, dan TANSt adalah kadar total amonia standar (mgN/l).
3.5. Pengamatan dan Pengukuran Peubah 3.5.1. Analisa Proksimat
Analisis proksimat ikan dan pakan digunakan untuk mengetahui komposisi nutirien pada ikan dan pakan tersebut. Ikan dan pakan uji pada masing-masing perlakuan diambil sebagai sampel, dikeringkan dan digiling halus sebelum dianalisis proksimat. Analisis proksimat lengkap tubuh ikan dilakukan pada awal dan akhir percobaan. Analisis tersebut meliputi kadar protein kasar, lemak kasar, serat kasar, kadar abu, kadar air dan BETN. Analisis proksimat untuk protein kasar dilakukan dengan metode Kjeldhal, lemak kasar dengan metode ekstraksi denga n alat Soxhlet, abu melalui pemanasan sampel dalam tanur pada suhu
400-600OC, serat kasar menggunakan metode pelarutan sampel dengan asam dan basa kuat serta pemanasan dan kadar air dengan metode pemanasan dalam oven pada suhu 105-110 OC (Takeuchi 1988), kandungan Cr2O3
• Kelangsungan Hidup
akan dikur dengan menggunakan spektrofotometer yang memiliki panjang gelombang 350 nm.
3.5.2 Analisa Kandungan Glikogen dan Lemak
Sampel hati dan daging diambil untuk mengukur kadar lemak dan glikogen. Ikan sebanyak 3 ekor dari setiap perlakuan diambil secara acak untuk dianalisa. Setiap ikan dari masing-masing perlakuan diambil hatinya secara komposit, sedangkan sampel daging diambil pada bagian dorsal. Sampel didestruksi dengan KOH 30% dan selanjutnya dihidrolisis dengan Na²SO4 pekat serta etanol 95%. Kadar glikogen dihitung berdasarkan kuantitas glukosa yang dihasilkan pada proses hidrolisis tersebut, dan dihitung menurut konversi : 1 g glikogen = 1. 11 g glukosa. Sampel hasil hidrolisis di ambil sebanya k 50 μm dan dilarutkan dalam campuran Otoluidin- asam asetat glasial (3.5 ml) dan dipanaskan dalam water bath pada suhu 100ºC selama 10 menit. Nilai absorbans sampel dibaca dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 635 nm. Kadar glukosa sampel dihitung dengan rumus : G = (AbsSp/AbsSt) x GSt; dengan G adalah Glukosa sampel (mg/100ml), AbsSp adalah absorbans sampel, AbsSt adalah absorbans standar, dan GSt adalah kadar glukosa standar (mg/100ml) (Wedemeyer dan Yasutake 1977).
3.5.3. Peubah yang Diukur
Tingkat kelangsungan hidup (TKH) dihitung berdasarkan persamaan (Zonneveld et al. 1991):
• Pertumbuhan Relatif
Pertumbuhan relatif (PR) dihitung dengan menggunakan rumus:
TKH
(%) =
∑ total ikan akhir (ekor)
x 100% ∑ total ikan awal (ekor)
PR (%) = WtW – W0 x 100%/hari 0
Notasi : Wt = Biomassa ikan akhir pemeliharaan(gram) W0 = Biomassa ikan awal pemeliharaan (gram) PR = Pertumbuhan relatif (%)
• Efisiensi Pakan
Efisiensi pakan (EP) dihitung dengan menggunakan rumus:
Notasi : W t = bobot total ikan pada akhir pemeliharaan (gram) W0 = bobot total ikan pada awal pemeliharaan(gram)
Wd = bobot total ikan yang mati selama pemeliharaan (gram)
F = jumlah pakan yang diberikan (gram)
• Retensi Protein (RP)/Lemak (L)
Nilai retensi protein/lemak dihitung berdasarkan persamaan (Takeuchi 1988):
• Tingkat konsumsi pakan
Tingkat konsumsi pakan merupakan nilai atau jumlah pakan yang dikonsumsi oleh ikan selama pemeliharaan. Tingkat konsumsi pakan dihitung dengan cara menimbang jumlah pakan yang dikonsumsi ikan setiap harinya selama masa pemeliharaan.
• Pengukuran Hepatosomatik Indeks ( HSI )
Hepatosomatik indeks dihitung dengan menggunakan rumus :
Keterangan: * dalam bobot basah EP (%) = [(Wt + Wd) – W0] x 100% F RP/L (%) = (F - I) x 100% P/L
Notasi : F = jumlah protein/lemak tubuh akhir (gram) I = jumlah protein/lemak tubuh awal (gram) P/L = jumlah protein/lemak yang dikonsumsi (gram)
HSI =
Bobot organ hati
x 100% *
• Pengukuran Eskresi Amonia (TAN)
Eskresi amonia ikan per gram ikan perjam pengamatan setiap perlakuan dihitung dengan rumus :
t x g V x N NH N NH jam tubuh g mg N NH amonia Ekskresi [ 3 ]ti [ 3 ]t0 ) / / (