• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

2.1 Rangkaian Peristiwa Penting dalam Roman Negeri Senja

Oleh karena jati diri seorang tokoh sangat berkaitan dengan peristiwa-peristiwa, maka berikut ini akan digelarkan berbagai peristiwa yang terjadi dalam keseluruhan roman Negeri Senja. Akan tetapi dalam rangka penggelaran peristiwa-peristiwa tersebut tidak akan berujung pada penilaian jenis alurnya. Apakah roman ini beralur progresif atau flash back (?), tidak akan dijelaskan. Semata-mata ini hanyalah garis besar dari tiap-tiap bagian roman. Dalam kaitan ini, plot sekadar merupakan sarana untuk memahami perjalanan kehidupan tokoh (Nurgiyantoro, 2005: 172). Berikut adalah peristiwa-peristiwanya.

Prolog Pada bagian ini diceritakan bagaimana awal mulanya “aku” masuk ke Negeri Senja. Ada peristiwa ketika “aku” disangka sebagai Penunggang Kuda dari Selatan.

Bagian I Bagian ini diisi oleh beberapa sub bagian lagi. Pertama, Penunggang Kuda dari Selatan, di sini mulai diperkenalkan siapa yang dimaksud penduduk Negeri Senja sebagai Penunggang Kuda dari Selatan: orang yang sudah ditentukan oleh takdir untuk membebaskan penduduk Negeri Senja. Dari sini terlihat bagaimana konflik mulai diperkenalkan. Kedua, Peristiwa di Kedai, menceritakan keadaan orang Negeri Senja yang terlalu mudah diadu domba sehingga mereka saling bunuh terhadap sesamanya. Ketiga, Penginapan Para Leluhur yang mengisahkan siapa saja yang pernah menginap di penginapan tempat “aku” tinggal. Ada bagian yang mengisahkan seorang gadis cantik sekaligus cerdas yang telah diperkosa. Gadis ini kelak akan diduga sebagai Puan Tirana. Keempat, Rumah Bordil di Padang Pasir, hanyalah sebuah penegasan pengarang untuk mendukung keberadaan “aku” di suatu negara (kota), yakni dengan mengajak “aku” ke rumah bordil. Kelima, Perempuan di Balik Cahaya, merupakan percintaan “aku” dengan wanita di rumah bordil itu.

Bagian II Pada bagian ini konflik mulai ditingkatkan. Ini bisa dibuktikan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di sub-sub bagiannya. Pertama, Komplotan Pisau Belati menceritakan apa, siapa, dan bagaimana sepak terjang serta keanggotaan Komplotan Pisau Belati. Kedua, Usaha Pembunuhan Tirana, di sini dikisahkan usaha orang-orang Negeri Senja membunuh Tirana dalam perjalanannya menuju Kuil Matahari. Pada bagian ini pula pelukisan fisik Tirana mulai dimunculkan. Ketiga, Tirana, Perempuan Penguasa yang Buta, mengisahkan sifat-sifat Tirana sebagai

penguasa yang kejam dengan masa lalu yang penuh misteri. Karenanya pengarang tidak (belum) memberikan kejelasan mengenai latar belakang Tirana. Keempat, Kaum Cendekiawan dalam Kegelapan, mengisahkan cara berpikir dan penyusunan kekuatan para kaum cendekiawan (gerakan perlawanan) di bawah kegelapan, agar pikirannya tidak terbaca oleh Tirana. Kelima, Suatu Ketika di Pasar di sini “aku” mulai terlibat dalam bangunan konflik, yakni dengan diberinya “aku” sebuah benda oleh seorang fakir. Peristiwa ini ternyata makin mengembangkan konflik, terutama pada bagian (kelima) Penangkapan Tokoh Perlawanan, karena fakir tersebut adalah seorang cendekiawan yang menyamar. Pasukan Tirana dikerahkan untuk menangkap fakir yang telah memberikan benda itu kepada “aku”. Akan tetapi, “aku” berhasil meloloskan diri dengan bantuan fakir lainnya. Setelah berhasil meloloskan diri, “aku” kemudian dibawa ke sebuah tempat untuk menemui kaum cendekiawan sebelum akhirnya dilepaskan di lapangan dengan tetap menjaga keberadaan barang pemberian seorang fakir tadi. Dari sini “aku” dibawa ke Penjara (keenam) untuk diperiksa. Ketujuh, Gerakan Bawah Tanah, menggambarkan siapa saja dan kelompok perlawanan apa saja yang ada di Negeri Senja. Kedelapan, Proklamasi Partai Hitam, mengisahkan bersatunya berbagai kelompok perlawanan di bawah satu naungan bendera: Partai Hitam. Partai ini yang kelak akan melakukan pemberontakan secara terbuka. Bagian III Bagian ini (sepertinya) bukan merupakan peristiwa fungsional, sebab pada

sebelumnya sengaja diturunkan oleh pengarang. Ini dapat dilihat dari sub bagian (pertama) Pengembara di Tepi Sungai, yang mengisahkan datangnya seorang pengembara di tepi sungai di luar kota Negeri Senja. Kemudian, Pengembara itu menjadi (kedua) Seorang Pembicara yang makin lama semakin banyak mempunyai pendengar, hingga akhirnya datanglah dua belas orang yang disebut sebagai (ketiga) Para Pelajar Sekolah Bebas. Pembicaraan di tepi sungai itu begitu bebasnya sehingga melahirkan sebuah mazhab, yakni (keempat) Mazhab Pasar Malam. Bagian IV Pada bagian ini hanya ada satu sub bagian saja yang mendukung jalan

cerita, yakni Kisah Cinta Tirana, Jika Memang Benar Adanya. Di sini dikisahkan bagaimana masa lalu Tirana sebelum ia menduduki tampuk kekuasaan. Kisah Tirana pada bagian ini sekilas terlihat tidak menampakkan keberkaitan apa pun dengan gadis korban perkosaan oleh Komplotan Pisau Belati yang diduga sebagai Tirana muda. Sementara itu, pada sub bagian lainnya: Perempuan dengan Anting-anting di Puting Kiri; Perempuan dengan Rajah Ular yang Membelit Tubuhnya; Perempuan di Bawah Menara; dan Antara Maneka dan Alina hanyalah berisi kisah “aku” bersama beberapa perempuan. Peristiwa ini tidak ikut menjadi mainstream di dalam cerita, yang seandainya dihilangkan pun tidak berpengaruh pada keseluruhan cerita.

Bagian V Pada bagian ini merupakan lanjutan peristiwa dari proklamasi partai hitam. Sub bagian pertama, Pemberontakan, menceritakan makin gencar dan terbukanya pemberontakan yang dilakukan oleh orang-orang Negeri

Senja terhadap pemerintahan Tirana. Pemberontakan ini berlanjut pada sub bagian kedua, Usaha Pembunuhan Tirana II, yang mengisahkan usaha pembunuhan terhadap Tirana. Usaha ini berawal dari digantungnya Guru Besar di alun-alun Istana Pasir—karena orang Negeri Senja yakin Tirana akan keluar dari istana untuk mengambil mayat Guru Besar sebab dia adalah mantan kekasih yang masih dicintai Tirana. Sayangnya, usaha ini tidak menuai hasil sehingga membuat Tirana melakukan pembalasan. Pembalasan Tirana terangkum dalam sub bagian, Pembantaian. Di sini merupakan klimaks dari bangunan konflik. Oleh Tirana, pusat kota Negeri Senja dihancurkan tanpa meninggalkan seorang pun—meski ternyata ada beberapa orang yang kalis dari pembantaian. Sub bagian selanjutnya, Para Kekasih yang Terbunuh, merupakan penurunan konflik. Bagian ini mengisahkan bertemunya “aku” dengan (mayat) para wanita yang pernah dikencaninya. Orang-orang yang selamat, termasuk “aku”, kemudian bermigrasi ke tepi sungai untuk bergabung dengan orang-orang yang ada di sana. Namun, tidak berapa lama orang-orang itu kembali ke kota untuk memulai hidup baru di sekitar kuil matahari; bagian ini dikisahkan dalam Khotbah di Kuil Matahari.

Epilog Bagian ini diberi judul, Ketika Pengembara Itu Pergi, Matahari Belum Juga Terbenam di Negeri Senja. Di sini diceritakan bagaimana “aku” meninggalkan Negeri Senja. Namun, sebelum benar-benar pergi “aku” dihadang oleh Pengawal Kembar (: kaki tangan Tirana) yang meminta

barang titipan fakir di pasar beberapa waktu lalu. Pada bagian ini pulalah pengarang tampak “kebingungan” mengenai siapa sebenarnya Tirana. Demikianlah peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam keseluruhan roman Negeri Senja. Atas dasar rangkaian peritiwa tersebut akan digunakan untuk mengidentifikasi tokoh Puan Tirana.

Dokumen terkait