• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rangkuman ............................................................................. Error! Bookmark not defined. 70

Dalam dokumen Indonesia SMP KK H Bagian 1 & 2 (1) (Halaman 21-171)

Prosa sebagai salah satu bentuk karya sastra, sering menimbulkan masalah dalam mengajarkannya. Hal ini muncul karena cerita yang ditulis dalam bentuk prosa pada umumnya cukup panjang. Masalah ini tentu saja dapat memengaruhi proses pembelajaran prosa, karena itu bimbingan mengapresiasi karya sastra sering enggan diberikan oleh guru. Seperti halnya puisi, prosa pun dipelajari oleh siswa secara utuh agar fungsi pembelajaran prosa benar-benar terwujud. Berikut ini ciri-ciri prosa lama dan baru.

Ciri-ciri Prosa Lama:

1) Dipengaruhi oleh sastra Hindu atau Arab

2) Cerita tanpa dibubuhi nama pengarang (anonim) 3) Milik bersama

4) Bersifat statis, sesuai dengan kondisi masyarakat waktu itu 5) Berbentuk hikayat, tambo, dongeng

Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia Kelompok Kompetensi H 16

Ciri-ciri Prosa Baru: 1) Berbentuk sastra tertulis

2) Masyarakat sentris yaitu cerita diambil dari kehidupan masyarakat sekitar 3) Dipengaruhi pengarangnya

4) Dipengaruhi sastra barat

5) Berbentuk roman,cerpen, drama

Cerita rakyat merupakan sastra lisan yang berkembang di masyarakat, terutama pada masa lalu. Cerita rakyat merupakan cerita yang pada dasarnya disampaikan oleh seseorang kepada orang lain melalui penuturan lisan, yakni penciptaan, penyebaran, dan pewarisannya dilakukan secara lisan melalui tutur kata dari mulut ke mulut (leluri) di kalangan masyarakat pendukungnya secara turun–temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Cerita rakyat atau cerita prosa rakyat (folk literature) terbagi dalam tiga kelompok, yaitu: (1) mite, (myth) (2) legenda (legend), dan (3) dongeng (folktale). Sejalan pembagian yang dilakukan oleh Bascom, Haviland (1993: 230) juga membagi cerita rakyat ke dalam tiga kelompok besar, yaitu: (1) mitos, (2) legenda, dan (3) dongeng.

Cerita pendek (cerpen) ialah bentuk prosa fiktif naratif yang waktu pembacaannya sangat singkat serta mengandung konflik dramatik. Unsur cerita dalam cerpen berpusat pada satu peristiwa pokok, sehingga jumlah dan pengembangan pelaku juga terbatas. Keseluruhan cerita dalam cerpen memberi kesan tunggal karena menggunakan alur tunggal.

Unsur-unsur intrinsik cerpen sebagai bagian dari cerita rekaan, yakni: (1) tema, (2) alur, (3) penokohan dan perwatakan, (4) latar, (5) sudut pAndang atau point of view, (6) amanat dan dialog. Pada hakikatnya penguasaan unsur intrinsik merupakan kemampuan atau kesanggupan seseorang dalam memahami, menguasai, menjelaskan, menemukan unsur pembangun cerita pendek yang

Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia Kelompok Kompetensi H 17

meliputi: (1) tema, (2) penokohan, (3) plot dan alur, (4) latar atau setting, (5) sudut pAndang atau point of view, (6) gaya, (7) amanat,

Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya. Tema menjadi pengembangan seluruh cerita, sehingga bersifat menjiwai keseluruhan cerita. Tema biasanya bertolak dari kehidupan berupa peristiwa nyata atau berupa imajinasi. Tema karya sastra letaknya tersembunyi(tersirat), harus dicari sendiri oleh pembaca dari seluruh teks karya tersebut.

Penokohan merupakan cara pengarang menggambarkan keadaan lahir maupun batin seseorang atau pelaku. Berubah tidaknya sifat tokoh, dibahas dalam penokohan. Karena cerpen pada dasarnya adalah menceritakan manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya, maka setiap tokoh dalam cerita akan memiliki watak yang dengan tokoh lainnya. Melalui karakter tokoh cerita, pembaca dapat mengikuti jalan cerita, sehingga maksud cerita akan menjadi lebih jelas.

Istilah tokoh merujuk pada orang atau pelaku cerita. Watak, perwatakan, dan karakter, merujuk pada sifat dan sikap para tokoh. Watak mencakup tabiat, sifat, serta kepribadian.

Plot dan alur cerita sering dianggap sama, padahal keduanya berbeda. Alur berupa deretan peristiwa secara kronologis dan bersifat logis. Adapun plot merupakan rangkaian cerita yang saling berkaitan dan bersifat kualitas atau sebab akibat, sesuai dengan apa yang dialami oleh pelaku cerita. Pengembangan plot ditentukan oleh tiga faktor esensial, yaitu: peristiwa, konflik, dan klimaks.

Setting atau latar adalah tempat yang melingkungi pelaku atau tempat terjadinya peristiwa. Tempat tersebut berhubungan pula dengan hal-hal yang ada di sekitarnya termasuk alat-alat atau benda-benda yang berhubungan dengan tempat terjadinya peristiwa, waktu, budaya, iklim atau suasana dan periode sejarah.

Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia Kelompok Kompetensi H 18

Sudut pAndang atau point of view adalah dimensi pAndangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca. Pada hakikatnya pembagian jenis sudut pAndang mempunyai kesamaan, yakni: (1) pengarang sebagai aku (gaya akuan), dalam hal ini ia dapat bertindak sebagai

omnicient (serba tahu) dan dapat juga sebagai limited (terbatas), (2) pengarang sebagai orang ketiga (gaya diaan), dalam hal ini dapat bertindak sebagai

omniscient (serba tahu) dan dapat juga dapat bertindak limited (terbatas), (3) point of view gabungan, artinya pengarang menggunakan gabungan dari gaya bercerita pertama dan kedua.

Gaya dapat diartikan sebagai gaya pengarang dalam bercerita atau gaya bahasa yang digunakan pengarang dalam karyanya. Gaya bahasa adalah ekspresi personal keseluruhan respons pengarang terhadap peristiwa-peristiwa melalui media bahasa seperti: jenis bahasa yang digunakan, kata-katanya, sifat atau ciri khas imajinasi, struktur, dan irama kalimat-kalimatnya, termasuk di dalamnya pilihan kata, majas, sarana retorik, bentuk kalimat, bentuk paragraf, serta setiap pemakaian aspek bahasa oleh pengarang.

Amanat adalah gagasan yang mendasari karya sastra, atau pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Pengarang melalui karyanya tidak sekadar ingin memgungkapkan gagasannya tetapi juga mempunyai maksud atau pesan tertentu yang ingin disampaikan kepada pembaca. Amanat mencerminkan pAndangan hidup pengarang yang bersangkutan, pAndangan tentang nilai-nilai kebenaran dan berbagai hal yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca.

Novel atau cerita rekaan adalah satu genre sastra yang dibangun oleh struktur pembangun karya sastra yang secara fungsional memiliki keterjalinan ceritanya, untuk membangun totalitas makna dengan media bahasa sebagai penyampai gagasan pengarang tentang hidup dan seluk-beluk kehidupan manusia. Dengan

Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia Kelompok Kompetensi H 19

kata lain, novel adalah sebuah karya prosa fiksi yang bersifat naratif, biasanya berbentuk cerita.

Unsur intrinsik novel sama dengan unsur intrinsik cerpen, karena keduanya merupakan genre prosa. Unsur intrinsik novel terdiri atas: (1) tema, (2) amanat, (3) plot dan alur, (4) setting/latar, (5) tokoh, (6) sudut pAndangan, (8) perwatakan – penokohan, dan (9) suspense.

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Isilah umpan balik/refleksi pembelajaran pada tabel berikut!

1. Apa yang Anda pelajari dalam kegiatan pembelajaran teori, genre prosa, dan apresiasi prosa?

2. Setelah memahami materi genre prosa Indonesia dan apresiasi prosa, apa yang Anda lakukan dalam proses pembelajaran.

3. Apa masalah yang Anda hadapi selama melaksanakan kegiatan pembelajaran aptresiasi apresiasi sastra Indonesia?

Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia Kelompok Kompetensi H 20

H. Pembahasan Kasus/LK

LK- 01

Prosa sebagai salah satu bentuk cipta sastra, mendukung fungsi sastra pada umumnya. Fungsi prosa ialah untuk memperoleh keindahan, pengalaman, nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita, dan nilai-nilai budaya yang luhur. Selain itu, dapat pula mengembangkan cipta, rasa, serta membantu pembentukan karakter dalam pembelajaran sastra.

LK – 02 Prosa Lama

Cerita rakyat merupakan sastra lisan yang berkembang di masyarakat, terutama pada masa lalu. Cerita rakyat adalah cerita yang pada dasarnya disampaikan oleh seseorang kepada orang lain melalui penuturan lisan, yakni penciptaan, penyebaran, dan pewarisannya dilakukan secara lisan melalui tutur kata dari mulut ke mulut di kalangan masyarakat pendukungnya secara turun–temurun dari satu generasi ke generasi

Jenis cerita rakyat antara lain mite/mitos, legenda, dan dongeng.

1) Mite atau mitos bersal dari bahasa Yunani mythos yang berarti cerita yakni cerita tentang dewa-dewa dan pahlawan-pahlawan yang dipuja-puja. Mitos adalah cerita tentang dewa-dewa suci yang mendukung sistem kepercayaan atau agama (religi),

2)

Legenda adalah cerita yang mengisahkan asal-usul satu tempat atau peristiwa zaman silam. Menurut Sudjiman (1986: 29) legenda adalah cerita rakyat tentang tokoh, peristiwa, atau tempat tertentu yang mencampurkan fakta historis dan mitos

3) Dongeng menurut Sudjiman (1986: 15) adalah cerita tentang makhluk khayalis. Makhluk khayali yang menjadi tokoh-tokoh cerita semacam itu biasanya ditampilkan sebagai tokoh yang memiliki kebijaksanaan untuk mengatur masalah manusia dengan segala macam cara

Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia Kelompok Kompetensi H 21

Prosa Baru Cerita pendek

Cerita pendek atau sering disingkat cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Berapa ukuran panjang atau pendek yang dimaksud memang tidak ada aturan baku yang dianut maupun disepakati diantara pengarang dan para ahli sastra

Novel

Novel sebenarnya merupakan salah satu jenis fiksi. Novel dan cerita pendek merupakan dua bentuk karya sastra yang sekaligus disebut fiksi. Bahkan dalam perkembangannya yang kemudian, novel dianggap bersinonim dengan fiksi

LK- 03

Teknik Menulis Cerpen

Pembelajaran apresiasi prosa dapat dilakukan sebagai berikut.

Pertama; guru memilih sebuah cerita pendek yang sesuai dengan usia siswa, tingkat keterbacaan, dan nilai kehidupan. Mengingat waktu pembelajaran yang sangat terbatas, harus dipilih sebuah cerpen yang tidak terlalu panjang. Guru hendaknya sudah membaca lebih dulu, materi cerita yang hendak dibahas terutama struktur pembentuknya yang terdiri atas unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur ekstrinsik terutama informasi tentang pengarang, kepengarangan, dan karya-karya pengarang tersebut.

Kedua; menugaskan siswa untuk membaca cerita pendek tersebut dengan cermat. Andai cerita pendek tersebut cukup panjang, siswa diminta membaca dulu di rumah sebelum hari pembelajaran. Pada saat pembelajaran, guru mengajukan pertanyaan, antara lain:

 Bagaimana kesan Anda setelah membaca cerpen tersebut? Nilai-nilai apa sajakah yang Anda peroleh setelah membaca prosa tersebut?

 Jika tidak ada yang menjawab, guru melanjutkan dengan memberi pertanyaan penegasan: Menarikkah ceritanya? Jawaban siswa mungkin bermacam-macam (menarik, tidak menarik, membosankan, tidak tahu, dsb.). Berdasarkan jawaban tersebut, guru mengajak siswa untuk menelaahnya lebih jauh lagi.

Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia Kelompok Kompetensi H 22

Ketiga; guru membimbing siswa untuk selanjutnya menganalisis struktur prmbangun cerita, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Kegiatan ini dilakukan secara klasikal, dengan rnemanfaatkan interaksi guru-siswa, siswa-guru,dan siswa-siswa secara maksimal.

Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia Kelompok Kompetensi H 23

Kegiatan Pembelajaran 3.

Mementaskan Naskah Drama

A. Tujuan

Setelah mempelajari modul ini, Anda memiliki keterampilan mementaskan naskah drama sederhana Indonesia

B. Kompetensi dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Kompetensi Guru Indikator Pencapaian Kompetensi

20.7 Mengapresiasi karya sastra secara reseptif dan produktif

20.7.6 Mementaskan naskah drama sederhana Indonesia

C. Uraian Materi

1. Hakikat Drama dan Mementaskan Naskah Drama Mengenal Drama

Pengertian tentang drama yang dikenal selama ini menyebutkan bahwa drama adalah cerita atau tiruan perilaku manusia yang dipentaskan (Effendi, 2002:1). Kata drama berasal dari bahasa Yunani draomi yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, bereaksi, dan sebagainya (Harymawan, 1988:1). Jadi, kata drama berarti perbuatan atau tindakan.

Sebagai suatu genre sastra drama mempunyai kekhususan dibandingkan dengan genre puisi ataupun genre prosa. Kekhususan drama disebabkan tujuan drama ditulis pengarangnya tidak hanya berhenti sampai pada tahap pembeberan peristiwa untuk dinikmati secara artistik imajinatif oleh para pembacanya, namun mesti diteruskan agar dapat dipertontonkan dalam suatu penampilan atau pergelaaran. Kekhususan drama inilah yang kemudian menyebabkan pengertian drama sebagai suatu genre sastra lebih berfokus

Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia Kelompok Kompetensi H 24

sebagai suatu karya yang berorientasi kepada seni pertunjukan. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Effendi (2002:1).

Menurut Wiyatmi (2006: 43-44) drama berbeda dengan prosa dan puisi, karena drama diciptakan untuk dipentaskan. Pementasan itu memberikan kepada drama sebuah penafsiran kedua. Sang sutradara dan para pemain menafsirkan teks, sedangkan para penonton menafsirkan versi yang telah ditafsirkan oleh para pemain. Pembaca yang membaca teks drama tanpa menyaksikan pementasannya, mau tidak mau harus membayangkan alur peristiwa di atas panggung.

Sebagai sebuah karya yang mempunyai dua dimensi, dimensi sastra sebagai teks dan dimensi seni pertunjukan, maka pementasan drama harus dianggap sebagai penafsiran dari penafsiran yang telah ada yang dapat ditarik dari suatu karya drama. Dengan kata lain, penafsiran itu memberikan kepada drama sebuah penafsiran kedua (Luxemburg, 1984:158 dalam Effendi, 2002:1). Maksud dari pernyataan ini ialah bahwa pementasan baru terwujud jika teks drama telah ditafsirkan oleh sutradara dan para pemain, untuk kepentingan suatu seni peran yang didukung oleh perangkat panggung seperti tata artistik, tata busana, tata panggung, tata rias, tata cahaya, dan tata musik.

Pada hakikatnya drama dapat dilihat dari 2 dimensi, yaitu drama sebagai teks dan drama sebagai seni pertunjukan. Teks drama merupakan salah satu genre sastra yang disejajarkan dengan puisi dan prosa, sedangkan pementasan drama yakni salah satu jenis kesenian mandiri yang merupakan integrasi antara berbagai jenis kesenian seperti seni lukis (dekorasi panggung), seni kostum (desain busana), seni rias, seni tari, dan lain-lain.

Dalam kaitannya dengan pendidikan karakter, drama diyakini dapat membantu mengembangkan nilai-nilai positif yang ada dalam diri peserta didik. Drama juga dapat memberikan sumbangan pada pengembangan kepribadian yang

Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia Kelompok Kompetensi H 25

kompleks, misalnya ketegaran hati, imajinasi, dan kreativitas (Endraswara, 2005:192).

Drama merupakan cabang seni sastra sekaligus seni pertunjukan yang dapat berbentuk puisi maupun prosa. Dengan demikian, jika kita berbicara mengenai drama berarti terdapat 2 pengertian, yaitu: (1) drama sebagai seni sastra dan (2) drama sebagai seni pertunjukan.

Drama sebagai seni sastra berbentuk naskah drama. Dengan kata lain, naskah drama sering disebut juga sebagai text play, repertoir, atau pun closet-drama. Naskah drama berupa bacaan atau karya sastra memerlukan pembaca, serta merupakan milik pribadi pengarangnya. Sebuah naskah drama membutuhkan penggarapan dengan baik, agar tercipta sebuah pertunjukan yang baik pula.

Apresiasi Drama

Yang dimaksud dengan apresiasi drama ialah kegiatan membaca, menonton, menghayati, memahami, atau menghargai karya drama (Effendi, 2002: 3). Dengan mengapresiasi drama diharapkan kita akan dapat menghayati karakter tokoh-tokoh drama. Dengan menghayati tokoh dan perkembangan permasalahan dalam drama, pembaca dapat memahami dengan baik keputusan-keputusan yang diambil oleh tokoh drama, perkembangan karakter tokoh, dan motivasi yang mendorong sang tokoh untuk bertindak sesuatu. Dengan pemahaman seperti inilah, sang apresiator dapat memberikan penghargaan secara tepat atas karya drama yang dibacanya.

a. Persiapan Apresiator Drama

Kegiatan mengapresiasi drama akan berlangsung optimal jika apresiator mempunyai bekal yang memadai untuk melakukannya. Semakin lengkap dan maksimal bekalnya, akan semakin baik kegiatan apresiasi yang dilakukannya. Bekal yang dimaksud ialah bekal: (1) pengetahuan, (2) pengalaman, dan (3) bekal kesiapan diri.

Menurut Effendi (2002: 7) seorang apresiator yang memiliki bekal pengetahuan luas dan mendalam, akan mampu mengapresiasi sebuah karya drama secara

Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia Kelompok Kompetensi H 26

mendalam pula. Sebaliknya, seorang apresiator yang memiliki bekal pengetahuan yang sempit dan terbatas, tentu hanya akan mampu mengapresiasi sebuah karya drama secara dangkal pula. Bekal pengetahuan tersebut meliputi pengetahuan tentang: (1) drama, (2) manusia, (3) kehidupan, dan (4) bahasa.

Pendekatan Apresiasi Drama

Terdapat empat pendekatan yang bisa digunakan dalam mengapresiasi drama, yaitu pendekatan: (1) objektif, (2) mimesis, (3) genetis, dan (4) pragmatis (Effendi, 2002:10-11).

Pendekatan objektif ialah pendekatan yang memandang karya drama sebagai karya yang utuh dan mandiri. Artinya, karya drama dapat dibaca dan dipahami tanpa harus mengaitkan dengan kehidupan di sekitar kita sebagai sumber penciptaannya dan masyarakat pembaca sebagai penikmatnya. Menurut pendekatan objektif, karya drama tetap dapat dipahami hanya dengan membaca naskah itu sendiri.

Pendekatan mimesis ialah pendekatan yang memandang karya drama sebagai hasil cipta manusia yang ditulis berdasarkan bahan-bahan yang diangkat dari semesta atau tiruan kehidupan. Untuk itu, sebuah karya drama mustahil dipahami tanpa mengaitkannya dengan semesta sebagai sumber penciptaannya. Dengan kata lain, untuk dapat memahami drama secara mendalam diperlukan kegiatan mendialogkan secara terus-menerus antara penghayatan dan pemahaman terhadap apa yang ditulis dalam naskah drama yang dibaca dengan pengetahuan dan pengalaman hidup sang apresiator (Effendi, 2002: 11).

Pendekatan genetis atau dikenal juga sebagai pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai hasil cipta penulisnya. Untuk itu pemahaman atas karya tersebut tidak mungkin dilakukan tanpa mengaitkannya dengan pencipta karya tersebut. Dengan demikian, untuk dapat memahami naskah drama, apresiator perlu membekali diri dengan pengetahuan tentang penulis drama tersebut.

Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia Kelompok Kompetensi H 27

Pendekatan pragmatis ialah pendekatan yang memandang karya drama sebagai sesuatu yang baru bermakna jika sudah berhadapan dengan masyarakat pembaca atau penonton. Karya drama baru dianggap bernilai setelah dapat diterima oleh masyarakat pembacanya. Agar dapat diterima dengan baik oleh masyarakat pembaca, karya drama harus mempunyai makna dan bermanfaat bagi pembacanya. Manfaat karya drama bagi masyarakat antara lain: menghibur, memberikan tambahan pengetahuan atau pengalaman tertentu kepada pembaca, atau dapat menjadi media berkaca diri bagi pembacanya.

Konsep Dasar tentang Drama

Menurut Tarigan (1984:73) ada dua pengertian drama, yaitu: (1) drama sebagai

text play atau reportair dan (2) drama sebagai theatre atau performance.

Hubungan antara keduanya sangat erat. Dengan kata lain, setiap lakon atau pertunjukan harus mempunyai naskah yang akan dipentaskan. Sebaliknya tidaklah otomatis setiap naskah merupakan teater, sebab ada kemungkinan naskah tersebut hanya berfungsi sebagai bahan bacaan, bukan untuk pertunjukan. Jadi, ada naskah yang dibuat untuk dipentaskan namun ada naskah yang lebih cocok untuk dibaca dan tidak berlanjut untuk pementasan. Misalnya drama Awal dan Mira karangan Utuy Tatang Sontani, drama ini sulit untuk dipentaskan tetapi enak untuk dibaca (Rosidi, 1982:114).

Perbedaan antara keduanya, dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Drama sebagai text-play atau naskah merupakan hasil sastra milik pribadi penulis drama tersebut, sedangkan drama sebagai teater merupakan seni kolektif sebagai hasil kerja bersama.

2. Naskah masih memerlukan pembaca soliter atau pembaca yang mempunyai perasaan bersatu, sedangkan teater memerlukan penonton kolektif dan penonton berperan sangat penting.

3. Naskah masih memerlukan penggarapan yang baik dan teliti baru sebelum dipanggungkan sebagai teater dan menjadi seni kolektif.

Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia Kelompok Kompetensi H 28

4. Naskah berupa bacaan, sedangkan teater ialah pertunjukan atau tontonan.

Berdasarkan hal di atas, antara naskah dan teater harus dapat dibedakan secara tegas, walaupun pada umumnya penulisan naskah drama bertujuan untuk dipentaskan atau dilakonkan. Aspek yang dibahas atau materi utama pada naskah (text-play) ialah: (a) premis (tema), (b) watak, dan (c) plot, sedangkan pada pementasan ialah: (a) naskah, (b) pelaku, (c) pentas, (d) perlengkapan pentas, (e) tata busana (kostum), (f) tata rias, (g) cahaya, (h) dekorasi, dan (i) musik (bandingkan dengan Syam, 1984:17).

Rumusan tentang perbedaan kedua pemikiran di atas dapat juga dibandingkan dengan pendapat Martoko (1984:158) dalam pembatasannya tentang pengertian pementasan, yang menyatakan "Pementasan itu merupakan sebuah sintesis dan mengimbau pada beberapa indera sekaligus."

Unsur-unsur Drama

Struktur pembangun drama lazim dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik drama adalah berbagai unsur yang terdapat dalam karya sastra berwujud teks drama, yang secara langsung membangun dari dalam karya tersebut, seperti: tema dan amanat, tokoh, karakter, latar, serta unsur bahasa yang berbentuk dialog. Unsur ekstrinsik adalah unsur yang berada di luar teks drama, tetapi ikut berperan melengkapi keutuhan makna teks drama tersebut. Unsur tersebut antara lain: biografi atau riwayat hidup pengarang, falsafah hidup pengarang, dan unsur sosial budaya masyarakat yang menunjang penciptaan karya drama.

Unsur intrinsik drama adalah berbagai unsur yang secara langsung terdapat dalam karya sastra yang berwujud teks drama, seperti: tema, alur dan plot, tokoh, penokohan dan perwatakan, amanat, karakter, latar, serta unsur bahasa yang berbentuk dialog.

Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia Kelompok Kompetensi H 29

Tema merupakan dasar atau inti cerita. Suatu cerita harus mempunyai tema atau dasar yang paling penting dari seluruh cerita. Cerita yang tidak memiliki dasar tidak ada artinya sama sekali atau tidak berguna (Lubis, 1981: 15). Tema sebagai central idea and sentral purpose merupakan ide dan tujuan sentral (Stanton, 1965: 16).

Menurut Nurgiyantoro (1995: 70) tema dapat dipandang sebagai gagasan dasar umum sebuah karya novel. Gagasan dasar umum telah ditentukan sebelumnya oleh pengarang dan dipergunakan untuk mengembangkan cerita. Dengan kata lain, cerita harus mengikuti gagasan utama dari suatu karya sastra.

Pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa: (1) tema merupakan dasar suatu cerita rekaan, (2) tema harus ada sebelum pengarang memulai cerita, (3) tema dalam naskah drama tidak ditampilkan secara eksplisit, tetapi tersirat di dalam seluruh cerita, dan (4) dalam satu cerita atau drama terdapat tema dominan atau tema sentral dan tema-tema kecil lainnya.

Menganalisis tema haruslah: (1) dibaca seluruh lakon untuk kemudian dipahami, (2) dicermati peristiwa atau konflik dalam lakon, karena konflik dalam drama berkaitan erat dengan tema lakon, (3) dipahami seluruh sepak terjang tokoh utamanya, sebab tokoh utama biasanya diberi tugas penting untuk mengusung tema lakon. Tokoh utama perlu diberi pertanyaan misalnya: permasalahan (konflik) apa yang dihadapinya, selain tokoh utama? Siapa sajakah yang terlibat dalam permasalahan atau konflik? Bagaimana sikap dan pAndangan tokoh utama terhadap permasalahan tersebut? Bagaimana cara berpikir tokoh utama dalam menghadapi permasalahan/konflik? Apa yang dilakukan dan bagaimana pengambilan keputusan terhadap permasalahan konflik yang dihadapinya?

2) Plot dan Alur

Endraswara (2002:24) menjelaskan bahwa plot menjadi kunci sukses drama. Penataan plot yang baik akan mengikat penonton, sehingga betah duduk menyaksikan pentas hingga usai. Waluyo (2009: 14) menjelaskan bahwa alur

Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia Kelompok Kompetensi H 30

yaitu jalinan cerita yang disusun dalam urutan waktu yang menunjukkan hubungan sebab akibat dan memiliki kemungkinan agar pembaca dapat menebak-nebak peristiwa yang akan datang.

Abdurrosyid (2009:9) berpendapat bahwa dalam membangun alur terdapat beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan agar alur menjadi dinamis,

Dalam dokumen Indonesia SMP KK H Bagian 1 & 2 (1) (Halaman 21-171)

Dokumen terkait