ANALISIS PENCARIAN FAKTA
4) Rangkuman Kekuatan dan Kelemahan Bukti Unsur “Sistematis”
Komisi menerima berbagai macam informasi dalam proses Pencarian Fakta mengenai faktor yang relevan untuk menentukan adanya pelanggaran HAM secara sistematis. Pertama Komisi mempertimbangkan apakah korban dalam 14 kasus prioritas telah ditargetkan secara sistematis. Kesaksian yang diberikan mengenai kasus Passabe, kasus [nama dihapus],103 dan kasus Mário Gonçalves,104 memberi bukti yang substansial mengenai pemilihan korban secara sistematis. Kemudian Komisi mempertimbangkan apakah para pelaku penyerangan tersebut beroperasi dalam suatu konteks institusional yang memberi organisasi, arahan, perencanaan, atau sumber daya fisik yang
membantu tindak kejahatan. Proses pembentukan, pendanaan dan pembekalan organisasi milisi memberi bukti mengenai kegiatan yang sangat terorganisasi yang mengindikasikan bahwa perilaku milisi-milisi tersebut bukan merupakan sesuatu yang acak atau spontan.
Indikasi ini didukung oleh pertimbangan tentang apakah serangan-serangan para pelaku sesungguhnya dilakukan secara sistematis. Komisi menerima berbagai contoh yang meyakinkan tentang operasi bersama yang terkoordinasi antara milisi dan TNI. Sebagian operasi ini dilakukan secara terorganisasi untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Faktor-faktor tersebut juga memberi petunjuk bahwa penyerangan terhadap penduduk sipil merupakan tindakan sistematis ketimbang terpisah atau acak.
Komisi telah mencatat kesulitan dalam menerima kesaksian yang mencukupi dan berimbang dalam proses Pencarian Fakta (khususnya pada Dengar Pendapat Terbuka) guna membuat kesimpulan independen mengenai perbuatan sistematis pelanggaran HAM. Jumlah saksi dan waktu yang terbatas dalam penyampaian kesaksian dan klarifikasi telah membatasi kemampuan Komisi untuk memperoleh keterangan atau koroborasi yang cukup rinci dan kredibel dari sumber-sumber independen guna mendukung kesimpulan definitif atas dasar Pencarian Fakta saja. Tentunya keterbatasan bukti dari proses Pencarian Fakta terasa dalam derajat berbeda-beda untuk persoalan berbeda. Sebagai contoh, kesaksian dan dokumentasi pendukung mengenai pemberian senjata kepada milisi, serta sistem pengaturan senjata memberi bukti sangat substansial terkait persoalan penting ini. Sebagai rangkuman, indikasi analisis Pencarian Fakta terkait unsur sistematis paling baik dapat dilihat sebagai konfirmasi atau koroborasi bagi bukti yang jauh lebih substansial dalam proses Telaah Ulang Dokumen, ketimbang sebagai suatu dasar independen untuk mencapai kesimpulan.
Kejahatan oleh Kelompok Pro-Kemerdekaan dan Tanggung Jawab Institusional Dalam proses Pencarian Fakta berkenaan dengan 14 kasus prioritas, Komisi juga memperoleh informasi mengenai penyerangan yang dilaporkan telah dilakukan terhadap pendukung pro-otonomi oleh kelompok pro-kemerdekaan.
[Nama dihapus] mengakui bahwa Falintil melakukan dua operasi tahun 1999. Salah satu operasi terjadi di Laklubar dan yang lainnya di Laleia. Ia menerangkan ketika itu 103 Aliança Gonçalves, Pernyataan, 18 April 2007; dan Dengar Pendapat KKP III, Jakarta, 3 Mei 2007.
104 Mário Gonçalves, Pernyataan, 23 September 2007.
194
PER MEMORIAM AD SPEM
menginstruksikan komandan Falintil, [nama dihapus] agar memerintahkan semua tentara Falintil masuk kantonisasi, tidak bergerak atau melakukan kegiatan apapun. Ia menjelaskan bahwa tujuan kantonisasi tersebut untuk menghindari tuduhan bahwa Falintil telah memicu kekerasan selama tahun 1999. Mengingat kedudukannya ketika itu, ia berada dalam posisi untuk mengetahui operasi-operasi yang dijalankan oleh bawahannya, walaupun sumber informasi yang pasti tidak disebutkan.
Pada Dengar Pendapat di Jakarta, Koesparmono Irsan (mantan anggota KPS) juga membahas salah satu insiden dimaksud. Ia menyatakan bahwa adik Francisco Xavier Lopes da Cruz bernama Belarmino Lopes da Cruz, ditembak mati oleh Falintil. Kejadian tersebut, menurutnya, telah memicu kekerasan lebih lanjut sehingga pada saat itu KPS perlu berkonsultasi dengan Danrem dan Kapolda untuk membahas upaya-upaya yang dapat dilakukan guna mengatasi permasalah
dan menegakkan hukum.105 Komisi mencatat bahwa kedua saksi ini mengaitkan pembunuhan Belarmino Lopes da Cruz kepada kelompok berbeda, yakni pihak yang paling menguntungkan kepentingan mereka. Dengan demikian, walaupun saling mengkoroborasi bahwa pembunuhan telah terjadi, masih belum terjawab organisasi mana yang terlibat dalam pembunuhan tersebut.
Komisi menerima laporan lebih lanjut mengenai tuduhan kekerasan oleh CNRT dan kelompok pro-kemerdekaan lainnya, yang kemungkinan melibatkan Falintil atau Fretilin.106 Kelemahan laporan-laporan tersebut yakni tidak ada keterangan spesifik mengenai rincian kejadian dimaksud, khususnya mengenai identitas pelaku dan afiliasi institusional mereka. Akan tetapi, Komisi memandang tuduhan-tuduhan ini cukup serius untuk mempertimbangkan substansinya.
Luisa Alves de Almeida menyampaikan bahwa pada tanggal 19 Mei 1999 suaminya dibunuh oleh pendukung pro-kemerdekaan. Saksi menerangkan bahwa ketika ia sedang berada di rumahnya, sekelompok pemuda pro-kemerdekaan datang untuk mengambil senjata suaminya, Luis de Almeida, anggota Kodim Baucau. Karena Luisa dan suaminya melawan, suaminya dibunuh. Kelompok tersebut dikatakan menggunakan senjata api dan parang dalam melakukan pembunuhan. Setelah itu mereka dilaporkan mengambil senjata Luis de Almeida dan melarikan diri.107 Kepada Komisi saksi menyatakan bahwa ia melaporkan insiden tersebut ke Kodim dan Polres Baucau. Tujuh hari kemudian para terduga pelaku ditangkap dan senjata Luis de Almeida dikembalikan ke Kodim Baucau. Para terduga pelaku kemudian diproses secara hukum. Menurut Luisa, selama tinggal di Baucau, ia dan suaminya tidak pernah bermasalah dengan orang lain.108 Keterangannya juga merupakan kesaksian langsung yang rinci mengenai kekerasan yang dilakukan terhadap dirinya dan suaminya.
105 Koesparmono Irsan, Dengar Pendapat KKP II, Jakarta, 4 Mei 2007, h. 3.
106 Domingos Alves, Dengar Pendapat KKP IV, Denpasar, 24 Juli 2007, h. 12-13; José Estevão Soares, Dengar Pendapat KKP IV, Denpasar, 24 Juli 2007, h. 6; Camilo dos Santos, Pernyataan, Kupang, NTT, 27 November 2006, h. 1.
107 Luisa Alves de Almeida, Dengar Pendapat KKP II, h. 3.
108 Ibid. h. 2-3, 5.
195
BAB VI : ANALISIS PENCARIAN FAKTA
Akan tetapi, untuk mencapai kesimpulan kuat apa yang terjadi, perlu dilakukan koroborasi mengenai tuduhan-tuduhan penting, misalnya bahwa saksi mengakui ia dan suaminya memiliki senjata dan menggunakannya melawan para terduga
penyerang hanya dalam upaya membela diri. Ia juga tidak mengatakan secara spesifik apakah suaminya dijadikan sasaran pembunuhan karena hubungannya dengan
Kodim, ataukah ia dibunuh karena melawan dan tujuan serangan sesungguhnya hanyalah untuk mendapatkan senjata. Jika diverifikasi dan dikuatkan oleh rincian lebih lanjut, kesaksian ini juga akan memberi contoh mengenai pembunuhan bersasaran oleh kelompok pro-kemerdekaan.
Pemimpin pro-otonomi, Câncio Lopes de Carvalho, menyatakan bahwa terjadi serangkaian serangan oleh kelompok pro-kemerdekaan di wilayahnya mulai bulan Mei 1998 dan berlanjut sampai Juli 1999. Ia menyampaikan statistik berikut ini: Desa Soro, empat kasus (intimidasi, teror dan kekerasan); desa Manutasi, dua kasus serangan dan percobaan penculikan/pembunuhan; desa Mape, tiga kasus pembunuhan; desa Cassa, tiga kasus penganiayaan.109 Agar dapat menilai substansi tuduhan-tuduhan ini, perlu diberikan rincian lebih lanjut mengenai masing-masing
kejadian. Angka statistik tersebut mungkin benar, namun tanpa dokumentasi rinci untuk mendukung tuduhan ringkas mereka, angka-angka ini tidak memiliki
bobot pembuktian berarti mengenai kekerasan yang dilakukan oleh kelompok prokemerdekaan. Seorang pemimpin pro-otonomi dan anggota milisi Mahidi lainnya menceritakan
bahwa di desanya seseorang bernama Feliciano dos Reis yang bekerja di Koramil (Komando Rayon Militer) dibunuh oleh kelompok pro-kemerdekaan pada bulan Februari 1999.110 Walaupun kesaksian mengenai laporan serangan terhadap Domingos Alves sendiri didasarkan oleh pengalaman langsung sebagai korban, namun tidak jelas bagaimana ia dapat mengetahui tuduhan penyiksaan terhadap
Feliciano dos Reis. Selain itu, kesaksian Domingos Alves mengenai penculikan dirinya tidak cukup rinci, seperti soal waktu, lokasi kejadian, peristiwa seputar penculikan, nama, afiliasi para pelaku, untuk memperkuat kredibilitas kesaksiannya.111
Lucas Martins, Komandan milisi Darah Merah Integrasi dari Ermera, menerangkan bahwa pada tahun 1999 ia terus menerus dipaksa oleh kelompok pro-kemerdekaan untuk bergabung dengan mereka, namun ia menolak.112 Ia yakin karena
penolakannya terhadap kelompok pro-kemerdekaan CNRT inilah maka rumah dan desanya dibakar oleh kelompok tersebut. Penjelasan ini juga bersifat sugestif, bahkan lebih umum dan kabur. Tidak ada tuduhan mengenai insiden spesifik. Juga tidak ada keterangan spesifik guna mendukung keterangannya mengapa desanya dibakar. Keterangannya yang demikian hanya mengandalkan keyakinannya tentang penyebab sebagaimana tersebut di atas, namun tidak ada dasar faktual untuk mendukung keyakinan dimaksud. Hal ini belum tentu berarti bahwa keterangannya salah. Walau belum tentu benar secara faktual, keakuratan keterangan ini tidak dapat dinilai berdasarkan tuduhan-tuduhan tidak spesifik dan kabur yang ia sampaikan. 109 Câncio Lopes de Carvalho, Dengar Pendapat KKP III, h. 15-17.
110 Domingos Alves, Pernyataan, Dempasar, 23 Juli 2007, h. 1.
111 Ibid
112 Lukas Martins, Pernyataan, Hotel KingStar, Belu, NTT, 12 March 2007, h. 2.
196
PER MEMORIAM AD SPEM
Saksi lain memberi koroborasi tentang peristiwa penculikan oleh pendukung prokemerdekaan yang dianalisis dalam proses Telaah Ulang Dokumen. Koesparmono
Irsan memberi beberapa contoh kejahatan pro-kemerdekaan yang dilaporkan
kepadanya, termasuk kejadian yang dilaporkan oleh salah satu penasihat UNAMET, Collin Stewart. Stewart dan rekan-rekan PBB-nya melaporkan penculikan terhadap
pemimpin milisi, Bento da Costa, dan seorang anggota polisi oleh pendukung prokemerdekaan di depan kantor desa Caicoli. Kesaksian yang kuat ini mendukung
kesimpulan bahwa penculikan-penculikan tersebut dilakukan oleh pendukung prokemerdekaan dengan manargetkan lawan-lawan politik. Pernyataan Zacarias Alves
juga menyebut tentang insiden tersebut. Ia menceritakan bahwa senjata-senjata yang telah ia dapatkan untuk anggota milisinya diambil dalam pengejaran oleh pendukung CNRT bersenjata di Desa Asumanu. Pengejaran terjadi setelah seorang anggota polisi disandera CNRT.
Serangkaian tuduhan mengenai pola serangan melawan pendukung pro-otonomi juga disampaikan kepada Komisi tentang pembakaran rumah di berbagai tempat di Timor Timur oleh kelompok-kelompok pro-kemerdekaan. Sebagai contoh, Liberatus Kolo menerangkan pembakaran rumah terjadi antara tanggal 4-7 September 1999 di Passabe atas perintah John Tabes (CNRT). Lucas Martins juga menyatakan
bahwa salah seorang komandan Darah Merah Integrasi rumahnya juga dibakar oleh pendukung pro-kemerdekaan dari Fukara. Ia menyatakan mereka juga membakar desa-desa di sekitar, seperti Hotete dan lainnya. Penduduk desa ini dan pembakaran tersebut dipimpin oleh seorang komandan CNRT bernama Madeira.113 Kandido
Meko juga menyatakan pembakaran rumah dilakukan baik oleh kelompok prootonomi maupun pro-kemerdekaan.114 Ini merupakan tuduhan-tuduhan penting
mengenai kejadian yang tampaknya merupakan penghancuran harta benda sistematis oleh kelompok-kelompok pro-kemerdekaan. Namun tuduhan-tuduhan tersebut perlu didukung oleh informasi faktual mengenai peristiwa dan sumber informasi. Manuel da Costa Tilman juga menyampaikan hal sama. Dalam pernyataannya ia menuduh pembakaran di Ainaro pada tanggal 4 September 1999 dilakukan oleh anggota kelompok pro-integrasi maupun pro-kemerdekaan. Akan tetapi ia hanya memberi kesaksian rinci mengenai pembakaran, tampaknya merupakan upaya penindasan yang dilakukan oleh pendukung pro-otonomi. Menurut Tilman kelompok pro-integrasi mengatakan mereka membakar rumah-rumah tersebut karena mereka memandang rumah-rumah itu dibangun dengan uang Indonesia. Ia menjelaskan rumah-rumah dengan atap daun dan dinding kayu langsung dibakar, sementara yang berdinding permanen disiram dengan bensin/solar terlebih dahulu, baru dibakar. Jika pemiliknya diketahui sebagai pendukung kemerdekaan, maka penghuninya dipaksa keluar dengan todongan senjata. Ketika mereka keluar, milisi mengatakan “Minta sama Xanana! Karena ini punya Indonesia,” lalu membakarnya begitu saja.
113 Ibid.
114 Kandido Meko, Pernyataan, TTU, NTT, 17 Februari 2007, h. 13-16; Armindo Soares Mariano, Pernyataan, Oebobo, Kupang, NTT, 14 Maret 2007, h. 1; dan Mateus Mendonza Soares, Pernyataan, Belu, NTT, 24 Februari 2007, h. 6-7.
197
BAB VI : ANALISIS PENCARIAN FAKTA
Cerita serupa juga disampaikan oleh seorang saksi pembakaran di Manatuto bernama Lucia Soares Morais. Sementara kesaksian ini memberi rincian spesifik mengenai beberapa kejadian, penjelasannya tersebut amat tidak berimbang. Kejahatan oleh kelompok pro-kemerdekaan dicatat secara umum, namun tidak ada informasi spesifik yang diberikan.
Asep Kuswani juga menyatakan sebelum insiden Liquiça pada tanggal 4 dan 5 April 1999, kelompok pro-kemerdekaan melakukan pembakaran rumah-rumah. Ia mengatakan sekitar 100 anggota CNRT terlibat dalam pembakaran tersebut, sebagaimana dilaporkan oleh pemimpin Mudika. Menurutnya, setelah kejadian tersebut pasukan keamanan sudah berusaha mendamaikan kedua kelompok yang bertikai. Pernyataan ini tampaknya didasarkan pada desas-desus dan tidak memberi informasi apa-apa mengenai dokumentasi yang disampaikan kepada Asep Kuswani yang dapat memperkuat atau membuktikan laporan. Saksi juga tidak memberikan informasi mengenai penyelidikan atau bukti tertulis khusus terkait dengan pernyataan dimaksud.
Sulit bagi Komisi untuk menilai bobot pernyataan-pernyataan tersebut, khususnya mengenai pembakaran rumah, mengingat sebagian besar laporan bahkan yang terbaik sekalipun merupakan keterangan tidak langsung. Tidak satupun kesaksian memberikan rincian yang memadai agar Komisi dapat secara tuntas menganalisis kejadian-kejadian dimaksud, khususnya terkait tanggung jawab institusional. Sebagai gambaran, Komisi bukan hanya tidak mendapatkan informasi yang cukup mengenai
kejahatan tersebut, juga belum ada investigasi yang cukup guna menjelaskan hubungan antara semua kelompok pro-kemerdekaan yang dituduh dalam
penyerangan dimaksud. Oleh karena itu, tidak ada dasar bagi suatu analisis mendalam guna menentukan tanggung jawab institusional. Komisi juga telah mencatat bahwa banyak pernyataan-pernyataan tersebut berasal dari pemimpin gerakan pro-otonomi yang dapat melemahkan nilai kesaksian karena mereka terlibat dalam konflik melawan pendukung pro-kemerdekaan.
6.5 Analisis Tangung Jawab Institusional
Analisis mengenai unsur meluas dan sistematis di atas mengidentifikasi pelanggaran HAM berat yang dilakukan di seluruh wilayah Timor Timur pada tahun 1999. Bagian ini membahas pertanyaan mengenai institusi mana yang paling bertanggung jawab atas penderitaan para korban. Sebagaimana dijabarkan dalam kerangka analitis tanggung jawab institusional pada Bab 5 di atas, faktor-faktor terkait unsur meluas dan sistematis yang dianalisis merupakan indikator penting bagi temuan tanggung jawab institusional. Analisis atas faktor-faktor tersebut berfokus pada dua pertanyaan yang perlu dijawab secara meyakinkan guna mendukung temuan tanggung jawab institusional:
1. Pada tingkat operasional dimana kejahatan terhadap kemanusiaan terjadi, apakah terdapat bukti yang mengindikasikan adanya pola kegiatan terkoordinasi dalam kurun waktu tertentu di banyak tempat?
2. Apakah pola-pola kegiatan tersebut mengungkapkan institusi mana yang terlibat memungkinkan terjadinya kegiatan? Keterlibatan ini dapat terjadi dalam dua 198
PER MEMORIAM AD SPEM
bentuk: (a) institusi yang anggotanya terlibat secara langsung dalam perbuatan kejahatan; (b) institusi yang memberi dukungan reguler dan substansial yang mencakup pengorganisasian, sumber daya, arahan, pelatihan, atau perencanaan bagi para pelaku kejahatan?
Analisis unsur meluas dan sistematis mempertimbangkan faktor-faktor pola,
koordinasi, sebaran geografis dan rentang waktu. Tidak perlu mengulang pembahasan bukti tersebut di sini. Yang terpenting dari analisis ini adalah mencatat pola-pola konsisten mengenai partisipasi atau kegiatan terkoordinasi masing-masing institusi. Jika hanya ada bukti untuk menunjukkan keterlibatan institusional dalam sedikit kejadian, namun tidak konsisten dalam suatu rentang waktu dan di tempat-tempat berbeda, maka tidak cukup untuk menetapkan adanya tanggung jawab institusional. Oleh karenanya, bagian ini hanya akan menyoroti dimana bukti mengenai tanggung jawab institusional adalah signifikan dan muncul dalam berbagai bentuk kesaksian yang diterima.
Milisi
Analisis terhadap 14 kasus prioritas menemukan bukti yang substansial bahwa pelanggaran HAM sebagaima dirinci dalam kebanyakan 14 kasus tersebut telah dilakukan dengan cara terorganisasi dan langsung oleh milisi pro-otonomi yang secara sistematis telah menargetkan orang-orang yang dipandang sebagai pendukung kemerdekaan. Milisi ditengarai terlibat secara langsung dalam perbuatan pelanggaran HAM berat pada setiap 14 kasus prioritas.
Komisi telah mendengar beberapa pengakuan pemimpin dan anggota milisi yang menunjukkan bahwa masing-masing kelompok milisi secara sendiri, maupun
sebagai institusi di bawah struktur PPI bertanggung jawab langsung atas kejahatan terhadap kemanusiaan. Pengakuan ini antara lain muncul dalam kesaksian seorang komandan milisi Laksaur bahwa milisi Laksaur-lah yang melakukan penyerangan atas gereja Suai.115 Komisi telah menerima bukti cukup untuk mengindikasikan bahwa kelompok-kelompok milisi tertentu bertanggung jawab atas penyerangan gereja Liquiça (BMP),116 penyerangan Polres Maliana (DMP), penyerangan gereja Suai (Laksaur dan Mahidi), penyerangan rumah Carrascalão, kediaman Uskup Belo, dan Diosis Dili (Aitarak dan dalam kejadian tertentu BMP), dalam kasus Lautém (Tim Alfa), dalam kasus Cailaco (DMP), dalam kasus [nama dihapus] (DMI), dan penyerangan di Passabe (Sakunar).
Komisi juga menerima kesaksian yang cukup, sebagaimana dipaparkan dalam bagian tentang unsur sistematis di atas, untuk menemukan bahwa kelompok-kelompok
milisi telah bertindak sebagai institusi dalam cara yang terorganisasi. Sebagai institusi, milisi telah melakukan perencanaan, pengorganisasian, memberi dukungan dan
arahan yang telah memungkinkan dilakukannya kejahatan oleh anggotanya. Proses Pencarian Fakta telah mengungkap bukti yang cukup untuk mendokumentasi insentif (seperti pembayaran uang, bahan makanan), peralatan, pelatihan, perintah dan arahan serta logistik yang diberikan kepada milisi.117
115 Saksi F, NO ST/KKP/ATB, B7
116 Anggota Aitarak juga berada di lokasi kejadian di gereja sebelum penyerangan, namun bukti dalam proses Pencarian Fakta tidak konklusif mengenai hakikat sesungguhnya keterlibatan Aitarak dalam penyerangan ini.
117 Untuk pembahasan mengenai pemberian dana, pelatihan dan senjata, lihat Bab 7, sub-bagian 1 dan 2. Lihat juga Bab 5 untuk analisis dan bentuk dukungan dan insentif lain kepada milisi.
199
BAB VI : ANALISIS PENCARIAN FAKTA
Institusi Militer, Kepolisian dan Pemerintahan Sipil Indonesia
Komisi menerima sejumlah signifikan kesaksian yang menengarai bahwa anggota militer telah secara langsung terlibat dalam perbuatan pelanggaran HAM.
Dari 14 kasus prioritas, anggota TNI dilaporkan telah terlibat secara langsung dalam kasus-kasus berikut:
• Sersan Tomé Diogo dilaporkan telah memimpin serangan milisi BMP atas kompleks gereja Liquiça.
• Sersan José Mateus dilaporkan terlibat dalam penyerangan atas rumah Manuel Carrascalão.
• Anggota TNI dari Kodim dan SGI di Maliana dilaporkan terlibat pembunuhan penduduk sipil di Cailaco.
• Sersan Anton Sabraka dilaporkan memimpin penyerangan atas Kampung Tumin, Quibiselo di Passabe bersama milisi Sakunar. Anton Sabraka dan milisi Sakunar juga membunuh 65 penduduk sipil Passabe di Nainaban.
• Anggota Batalyon 745 diduga menyebabkan hilangnya Anacleto da Silva dan pembunuhan warga sipil dalam perjalanan dari Lautém ke Dili.
• Letnan Sugito, Danramil Suai dilaporkan telah memimpin penyerangan atas Gereja Ave Maria di Suai.
• Sersan Simão Correia dan Sersan Luis dos Santos diduga telah membunuh Mau Hodu di Sanirin, Balibo, Bobonaro.
• Sersan Melky dan Hilário diduga telah memerkosa dan membunuh [dihapus] • Dalam penyerangan terhadap Diosis Dili, kediaman Uskup Belo, Polres Maliana dan kasus-kasus penghilangan paksa, anggota TNI dan Polri dilaporkan hadir
sebelum, selama dan sesudah penyerangan tersebut, namun tidak melakukan tindakan apapun untuk mencegah serangan milisi terhadap warga sipil di ketiga lokasi dimaksud.
Walaupun laporan-laporan ini tidak selalu dapat secara lengkap menjelaskan peran masing-masing individu, banyaknya keterangan rinci (seperti tanggal, waktu, nama, pangkat, seragam dan deskripsi fisik anggota) mengenai keterlibatan TNI dalam banyak serangan di berbagai lokasi di Timor Timur pada tahun 1999, memperkuat penafsiran bahwa anggota TNI telah terlibat, dan kadang memainkan peran utama, dalam sebagian 14 kasus prioritas. Walaupun banyak kesaksian dari proses Pencarian Fakta terkait kesimpulan ini dapat dipercaya dan sugestif, dalam sebagian besar kasus perlu diperoleh bukti lebih banyak untuk dapat mencapai kesimpulan definitif mengenai tanggung jawab institusional.
Militer, juga Kepolisian dan pemerintah sipil ditengarai terlibat secara tidak langsung dalam memungkinkan perbuatan pelanggaran HAM. Keterlibatan tidak langsung tampaknya paling sering terjadi dalam bentuk dukungan kepada kelompok-kelompok milisi. Selain dari kesaksian yang dianalisis di atas mengenai pendanaan, pasokan peralatan, serta kegiatan bersama atau terkoordinasi antara TNI dan milisi, juga terdapat indikasi bahwa militer, polisi, dan pemerintah sipil dapat bertanggung jawab atas dorongan, fasilitasi, atau dukungan tidak langsung kepada milisi pro-otonomi. Bentuk-bentuk dukungan ini dikatakan diberikan melalui struktur Muspida serta muncul dalam kesaksian mengenai kehadiran pejabat militer, polisi dan sipil pada 200
PER MEMORIAM AD SPEM
berbagai apel massal yang diselenggarakan oleh PPI,118 termasuk apel akbar yang diadakan oleh Aitarak pada tanggal 17 April 1999 di Dili.
Komisi telah mendengar kesaksian dari seorang mantan komandan polisi senior, yang secara langsung membahas persoalan ini. Ia menjelaskan bahwa kehadiran pada acara-acara milisi tersebut hanyalah seremonial, dan lebih bersifat dukungan moral, seperti ketika seorang pejabat diundang untuk acara sunatan. Ia tidak mengindikasikan adanya hubungan struktual dalam rantai komando antara milisi dan aparat keamanan.119 Kesaksian yang diulas di atas mengenai pemberian senjata dan dukungan keuangan kepada kelompok-kelompok milisi sangat kuat menengarai adanya tanggung jawab institusional. Walaupun ada kesaksian yang bertentangan dengan penafsiran di atas, kesaksian semacam itu dinilai lebih lemah dan tidak begitu kredibel.
Bukti yang ditinjau menengarai bahwa berbagai bentuk dukungan yang dibahas di atas merupakan hasil kerja sama erat yang telah berkembang cukup lama antara
satuan-satuan TNI lokal dengan para pemimpin dan anggota milisi serta kelompokkelompok sipil bersenjata dan pertahanan sipil. Hubungan semacam ini juga
telah mempersulit institusi-institusi Indonesia dan Timor Timur untuk memutus hubungan antar keduanya dan menjauhkan diri dari tujuan politik bersama, hal yang diwajibkan di bawah Kesepakatan 5 Mei 1999.
Dalam analisis kesaksian yang diterima di atas, Komisi mencatat indikasi bahwa beberapa pejabat pemerintahan sipil Indonesia kemungkinan telah terlibat dalam proses pembentukan, pendanaan dan pemberian senjata kepada kelompok-kelompok pro-otonomi, yakni FPDK, BRTT dan milisi-PPI. Juga terdapat indikasi bahwa