RESUME DAN KESIMPULAN
5.1. Rangkuman/ Resume
Nyeri leher adalah nyeri yang dihasilkan dari interaksi yang kompleks antara otot dan ligamen serta faktor yang berhubungan dengan postur, kebiasaan tidur, posisi kerja, stress, kelelahan otot kronis, adaptasi postural dari nyeri primer lain (bahu, sendi temporo mandibular, kranioservikal), atau perubahan degeneratif dari diskus servikalis dan sendinya. Nyeri leher dapat disebabkan oleh berbagai macam kelainan seperti spondilosis servikalis, infeksi, neoplasma, rheumatoid arthritis, tortikolis spasmodik, trauma (WAD), dan fibromialgia.
Sebuah studi menunjukkan prevalensi nyeri muskuloskeletal pada leher di masyarakat selama 1 tahun besarnya 40% dan prevalensi ini lebih tinggi pada wanita. Selama 1 tahun, prevalensi nyeri muskuloskelatal di daerah leher pada pekerja besarnya berkisar antara 6-76% dan wanita ternyata juga lebih tinggi dibandingkan pria. Di Kanada, sebanyak 54% dari total penduduk pernah mengalami nyeri di daerah leher dalam 6 bulan yang lalu. Pada perawat, prevalensi nyeri di daerah leher selama 1 tahun besarnya 45,8%
Spondilosis terdiri atas 3 tipe sindrom yaitu: servikal radikulopati (sindrom tipe I), servikal mielopati (sindrom tipe II), dan axial joint pain (sindrom tipe III). Servikal radikulopati adalah sindrom dengan manifestasi klinis nyeri leher dengan nyeri yang menjalar di ekstermitas atas, kelemahan, atau mati rasa. Servikal mielopati adalah manifestasi yang dihasilkan dari penurunan ruang yang tersedia dari kanalis servikalis medulla spinalis. Nyeri leher aksial (Axial Neck Pain) dikenal juga sebagai uncomplicated neck pain dan ketegangan ligamen leher. Merupakan interaksi yang kompleks antara ligamen serta faktor yang berhubungan dengan postur, kebiasaan tidur, posisi duduk di depan komputer, stres, kelelahan kronis, adaptasi postural dari sumber nyeri lain (bahu, sendi
temporomandibular,dan kranioservikal), atau perubahan degeneratif dari diskus servikal atau sendi facet.
Tingkat kejadian tahunan 107,3 per 100.000 untuk laki-laki dan 63,5 per 100.000 untuk perempuan dengan puncaknya pada usia 50 sampai dengan 54 tahun. Penyebabnya seperti penonjolan tulang atau osteofit yang tumbuh keluar melalui jalur saraf, penonjolan bagian dari diskus yang terletak di depan saraf, herniasi nukleus pulposus melalui bagian luar annulus, fraktur atau cedera yang menyebabkan fragmen tulang yang yang mempersempit atau menekan saluran saraf.
Nyeri leher dan lengan biasanya menjadi keluhan utama. Dapat terjadi kelemahan atau kekakuan lengan. Kelemahan kaki, keluhan otonom juga dapat ditemukan. Tanda pertama yang sering ditemukan adalag peningkatan refleks lutut dan tendon achiles. Gangguan sensoris, keseimbangan, klonus, dan reflekspatologis juga dapat ditemukan. Pemeriksaan penunjang yang bias dilakukan seperti CT-scan, MRI, EMG, NCV, dan SSEP.
Terapi non-operatif seperti manajemen nyeri dan terapi fisik dapat mengurangi keluhan. Terapi operatif dilakukan jika terapi non-operatif dirasa gagal mengurangi keluhan.
WAD adalah kasus nyeri leher yang khusus terjadi akut atau subakut diakibatkan oleh akselerasi dan deselerasi energi pada leher. Biasanya melibatkan beberapa pembangkit nyeri seperti miofasial, ligamen, diskogenik, dan facet. Sekitar 1 juta kasus WAD terjadi setiap tahunnya di Amerika Serikat sebagai akibat kecelakaan bermotor. Paling umum disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor dapat pula disebabkan oleh hal lain seperti menyelam.
Manifestasi klinis pada WAD biasanya muncul sebagai nyeri di otot leher paramedian posterior, dengan radiasi ke tengkuk, bahu, atau daerah periskapular. Kekakuan pada satu atau lebih gerak leher disertai sakit kepala yang umum. Pemeriksaan radiologi bias dilakukan pada WAD kelas III atau IV. Penatalaksaan seperti latihan mobilitas umum dan stabilisasi otot dapat dilakukan, Pada WAD kelas II dan III dapat diberikan analgetik dan pada kelas IV dapat diberikan metilprednisolon dosis tinggi.
Rheumatoid arthritis (RA) adalah penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan pada sendi, misalnya: jari-jari tangan, pergelangan tangan, sendi bahu, sendi lutut, dan panggul termasuk sendi leher. Prevalensi RA di Indonesia 0,2% untuk penduduk di daerah pedesaan dan 0,3% untuk penduduk di daerah kota. Penyebab RA adalah proses autoimun.
Nyeri leher merupakan gejala yang paling umum. Kaku dan krepitasi juga dapat dirasakan. Parestesia pada ekstermitas atas dan kelemahan ekstermitas bawah dapat ditemukan. Gejala neurologis didapatkan pada 7-34% pasien. Pemeriksaan penunjang berupa X-ray, serta MRI yang merupakan diagnosis pilihan.
Penatalaksaan non-bedah seperti pemberian NSAID dan DMARD serta pemakaian collar neck dapat dilakukan. Tata laksana bedah dapat dilakukan pada pasien dengan defisit neurologis, nyeri parah yang tidak berespon terhadap terapi medikamentosa.
Spondilitis tuberkulosis adalah infeksi Mycobacterium tuberculosis pada tulang belakang. Pada tahun 2005, World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa jumlah kasus TB baru terbesar terdapat di Asia Tenggara (34 persen insiden TB secara global) termasuk Indonesia.
Manifestasi spondilitis TB relative indolen. Biasanya keluhan nyeri tidaks pesifik. Defisit neurologis dapat ditemukan pada 12-50% pasien. Keluhan klasik TB juga dapat ditemukan. Penunjang yang dapat dilakukan seperti X-ray, CT-scan, MRI.
Tatalaksana medikamentosa terutama pemberian OAT dan kemoterapi. Terapi pembedahan juga dapat dilakukan. Tatalaksana biasanya merujuk klasifikasi spondilitis TB menurut GATA.
Fibromialgia adalah kelainan yang sering ditemui, dicirikan oleh adanya nyeri muskuloskeletal yang menyebar dengan penyebaran yang simetris, kekakuan, mudah lelah, parestesi, dan gangguan tidur. Berdasarkan data di Amerika Serikat, kira-kira 20% pasien klinik rheumatologi adalah pasien fibromialgia, yang kebanyakan berusia 30-50 tahun. Dari data tersebut dapat dikatakan 1 dari 5 pasien yang berobat adalah fibromialgia. Hingga kini, penyebab
pasti fibromialgia belum dapat ditemukan, tapi telah diketahui bahwa fibromialgia dapat dipicu oleh stres emosional, infeksi, pembedahan, hipotiroidisme, dan trauma.
Gejala yang biasa ditemukan pada pasien fibromialgia antara lain nyeri muskuloskeletal yang menyebar, kekakuan, dan kelelahan. Gejala lain juga dapat muncul, di antaranya parestesi, gangguan tidur, titik nyeri, dan lain-lain. Pada 75-90% penderita fibromialgia, ditemukan kekakuan yang biasanya terjadi di pagi hari kemudian membaik di siang hari atau bertahan sepanjang hari. Gejala khas adalah nyeri pada tender points pada titik-titik tertentu.
Tatalaksana nonfarmakologis seperti modisikasi perilaku, pengaturan stres, aplikasi panas dingin ke otot serta pemijatan dapat dilakukan. Olahraga aerobic juga terbukti mengurangi keluhan. Pemberian analgetik baik antiinflamasi nonsteroid maupun opioid dapat diberikan sesuai derajat nyeri yang dirasakan.
Neoplasma tulang belakang adalah Massa pada tulang belakang dapat jinak ataupun ganas yang dapat berasal dari tulang belakang sendiri (primer) atau dari proses metastase (sekunder). Sekitar 2.000 kasus baru kanker tulang dan 6.000 kasus baru tumor jaringan lunak telah didiagnosis di Amerika Serikat setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 5% yang melibatkan tulang belakang. Insidensi tumor tulang belakang diperkirakan 2,5-8,5 per 100.000 orang pertahun. Sampai saat ini, penyebab dari terjadinya neoplasma masih berupa hipotesis. Sel-sel kanker dapat mengaktifkan protein komponen dari telomerase yang menyebabkan sel-sel tersebut membelah tanpa batas dan tidak terjadi apoptosis.
Umumnya ditemukan keluhan nyeri pada vertebra yang terkena, deformitas tulang belakang, dan defisit neurologis. Nyeri tulang belakang juga biasanya ditemukan bersifat persisten, tidak terkait aktivitas, memburuk selama istirahat dan malam hari. Fraktur patologis pada korpus vertebra dapat meningkatkan nyeri. Kompresi pada akar serabut saraf spinal dapat menghasilkan nyeri lokal, nyeri radikuler dan mielopati. Gejala lain seperti penurunan berat badan, demam, kelelahanjuga dapat ditemukan. Penunjang lain seperti X-ray, CT-scan, bone CT-scan, MRI, serta biopsy dapat dilakukan.
- Tatalaksana non-bedah seperti kemoterapi, radioterapi, analgetik biasanya diberikan. Tatalaksana bedah dapat menjadi pilihan jika terjadi instabilitas spinal diakibatkan oleh destruksi tulang, defisit neurologi progresif, tumor yang radioresisten, membutuhkan open biopsi, nyeri yang intraktabel yang tidak berespon dengan terapi non-operatif.
Spasmodik tortikolis adalah kekakuan dari pada otot-otot leher, yang disebabkan oleh kontraksi klonik atau tonik dari otot-otot servikal pada leher dengan gejala terjadi kekakuan pada sistem saraf dan terdapatnya histeria. Tortikolis terjadi pada 1 dari 10.000 orang dan sekitar 1,5 kali lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan dengan pria. Penyakit ini dapat terjadi pada semua umur tetapi paling sering ditemukan pada usia antara 30-60 tahun. Penyebabnya seperti hipertiroidisme, infeksi sistem saraf, diskinesia tardiv (gerakan wajah abnormal akibat obat anti-psikosa), dan tumor leher.
Nyeri leher dan kontraksi dari otot sternokelidomatoideus, trapezius, serta splenikus dapat ditemukan. Rotasi pada leher dapat terjadi tanpa lateral fleksi. Otot yang berkontraksi dapat terjadi hipertrofi. Kejang pada otot juga dapat ditemukan. Penunjang yang dapat dilakukan seperti EMG, pemeriksaan fungsi steroid, MRI, CT-scan dapat dilakukan.
5.2. Kesimpulan
Nyeri leher adalah nyeri yang dihasilkan dari interaksi yang kompleks antara otot dan ligamen serta faktor yang berhubungan dengan postur, kebiasaan tidur, posisi kerja, stress, kelelahan otot kronis, adaptasi postural dari nyeri primer lain (bahu, sendi temporo mandibular, kranioservikal), atau perubahan degeneratif dari diskus servikalis dan sendinya.
Nyeri muskuloskeletal pada leher di masyarakat selama 1 tahun besarnya 40% dan prevalensi ini lebih tinggi pada wanita. Selama 1 tahun, prevalensi nyeri muskuloskelatal di daerah leher pada pekerja besarnya berkisar antara 6-76% dan wanita ternyata juga lebih tinggi dibandingkan pria.
Nyeri leher dapat disebabkan oleh berbagai macam kelainan seperti spondilosis servikalis, infeksi, neoplasma, rheumatoid arthritis, tortikolis spasmodik, trauma (WAD), dan fibromialgia.
Nyeri leher dapat diatasi dengan diagnosis dan tatalaksana yang tepat. Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang baik. Tatalaksana nyeri leher meliputi terapi non-farmakologis, farmakologis, serta pembedahan.
5.2. Saran
Nyeri leher merupakan masalah di bidang neurologi yang memiliki angka kejadian yang cukup sering. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang lebih mendalam dari praktisi kesehatan terutama yang berada di lini terdepan untuk mengenali dan menyaring kasus yang ditemukan di masyarakat agar penanganan tepat dan cepat dapat segera dilaksanakan. Masih diperlukan pembahasan lebih lanjut dan mendalam mengenai berbagai kasus neurologi lainnya.
BAB VI PENUTUP
Demikian yang dapat penulis paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam referat ini, Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman sudi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya referat ini dan dan penulisan referat di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga referat ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.