Pengembangan Nilai-nilai Persaingan Usaha
KERJASAMA DALAM NEGER
3. Rapat Dengar Pendapat dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) khususnya Komisi VI yang membidangi sektor Perindustrian, Perdagangan, koperasi/usaha kecil dan menengah, Badan Usaha Milik Negara, Investasi dan Badan Standarisasi Nasional sebagai partner penting bagi KPPU dalam penyampaian aspirasi serta pertanggung jawaban kinerjanya dalam kurun waktu 7 (tujuh) bulan ini terhitung sejak Januari 2008 - Desember 2008 telah mengadakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DPR RI sebanyak 5 (lima) kali.
Pada RDP pertama tanggal 19 Maret 2008 dihasilkan beberapa kesimpulan antara lain:
1. Berkaitan dengan banyaknya kasus terkait dengan persaingan usaha tidak sehat Komisi VI DPR RI mendukung langkah-langkah KPPU dalam upaya meningkatkan fungsi dan peranannya sesuai dengan amanat UU No. 5/1999 tentang larangan praktek monopoly dan persaingan usaha tidak sehat.
2. Komisi VI DPR RI meminta kepda pemerintah untuk melakukan harmonisasi kebijakan sesuai dengan rekomendasi KPPU dan Komisi VI DPR RI meminta kPPU untuk menyampaikan hasil kajian yang berkaitan dengan regulasi yang mengarah pada timbulnya praltek monopoly dan persaingan usaha tidak sehat kepada Komisi VI DPR RI.
3. Dalam upaya menjaga independesi KPPU sebagai lembaga yang menjalankan amanat UU No. 5/1999 maka, Komisi VI DPR RI meminta untuk menyelesaikan satus kesekretariatan KPPU selanjutnya terkait dengan hal ini Komisi VI juga akan mengadakan dialog denga Menteri Negara terkait (Menpan, Mensesneg, Menkeu)
Kemudian RDP kedua yaitu pada tanggal 26 Juni 2008 dengan daftar pertanyaan. Dari pembahasan dan diskusi yang berlangsung selama RDP tersebut telah dihasilkan kesimpulan sebagai berikut :
1. Komisi VI mendesak kepada pemerintah cq Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara agar segera menetapkan status pimpinan kesekretariatan (setingkat eselon 1A) serta meminta kepada Menteri Keungan menetapkan bagian anggaran sendiri
2. Komisi VI juga meminta kepada pemerintah cq Departemen Keuangan Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara agar segera memproses pencairan anggaran KPPU yang dibintangi oleh Ditjen Anggaran Departemen Keuangan RI
3. Laporan hasil kinerja KPPU beserta dengan hasil putusan perkara yang telah ditangani maupun penanganan perkara yang sedang ditangani. Kemudian diskusi seputar permasalahan kelembagaan, terkait didalamnya persoalan administratif (termasuk didalamnya permaslahan SDM maupun permasalahan keterbatasan gedung tempat kerja).
4. Komisi VI juga meminta agar KPPU dapat terus meningkatkan kinerjanya
Tiga RDP berikutnya membahas mengenai anggaran pembiayaan KPPU untuk Tahun 2009, serta penyampaian evaluasi kinerja KPPU dan penanganan perkara yang sedang dan telah diputuskan oleh KPPU. Ketiga RDP tersebut dilaksanakan pada 10 September, 23 September dan 14 Oktober 2008. Kesimpulan yang dihasilkan dari 3 RDP mengenai anggaran tersebut adalah:
1. Berkaitan dengan Pagu Sementara RAPBN tahun 2009 Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) RI sebesar Rp. 82.089.300.000,- (Delapan Puluh Milyar Delapan Puluh Sembilan Juta Tiga Ratus Ribu Ru- piah) sebagaimana tercantum dalam Pagu anggaran Departemen Perdagangan Republik Indonesia, maka Komisi VI DPR RI menerima dan menyetujui RAPBN Tahun 2009. Namun berdasarkan paparan dari Komisi Pengawas Persaingahn Usaha (KPPU) RI, Komisi VI DPR RI dapat memahami usulan kebutuhan anggaran sebesar Rp 118.000.000.000, - (Seratus Delapan Belas Milyar Rupiah).
2. Mengingat realisasi pelaksanaan anggaran (DIPA) Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) RI hingga 4 September 2008 baru mencapai Rp 26.368.876.801,- (Dua Puluh Enam Milyar Tiga Ratus Enam Puluh Delapan Juta Delapan ratus Tujuh Puluh Enam Ribu Delapan Ratus Satu Rupiah) atau mencapai 30,33% dari pagu anggaran yang dapat direalisasikan sebesar Rp 86.939.983.000 (Delapan Puluh Enam Milyar Sembilan Ratus Tiga Puluh Sembilan Juta Sembilan Ratus Delapan Puluh Tiga Ribu Rupiah), maka Komisi VI DPR RI mendesak Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) RI agar melakukan optimalisasi penggunaan anggaran sehingga kebijakan, program dan kegiatan sesuai target.
Dari RDP tersebut Komisi VI DPR RI terus mendukung upaya yang telah dilakukan KPPU dalam menjalankan fungsinya sebagai pengemban amanat UU No. 5/1999 tentang larangan praktek monopoly dan persaingan usaha tidak sehat. Serta dari beberapa kajian yang telah dilakukan KPPU Komisi VI memberikan tanggapan yang positif serta mendorong KPPU untuk terus melakukan pemantauan terhadap sektor-sektor ekonomi penting yang melakukan pelanggaran UU No. 5/1999.
4.3
Kerjasama Luar Negeri
Perkembangan kegiatan kerjasama kelembagaan dalam forum internasional dan kerjasama dengan lembaga internasional yang terkait dengan pengembangan nilai-nilai hukum dan kebijakan persaingan sepanjang tahun 2008 dijabarkan sebagai berikut:
1. OECD
Pada periode 2008, KPPU terus melakukan upaya penguatan eksistensi kelembagaan KPPU baik melalui perwujudan reformasi regulasi, yaitu pengadopsian integrated checklist onregulatory reform, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, berbagi ilmu tentang hukum dan kebijakan persaingan usaha pada forum internasional, pelaksanaan negosiasi tentang kebijakan persaingan di tingkat internasional, dan peningkatan peranan KPPU sebagai regular observer pada OECD.
Sesuai dengan agenda OECD-Competition Committee, dalam semester pertama 2008 ini telah dilakukan dua kali pertemuan Competition Committee. Pada pertemuan pertama di bulan Februari, KPPU mendapat kehormatan untuk menjadi salah satu pimpinan sidang yang membahas isu Residential Water Heaters dan
Consumer Choice in Mobile Telephony. KPPU juga menyampaikan written contribution dengan topik Indo- nesian Antitrust Issues in Interlocking Directorate. Isu “interlocking directorate” dalam Pasal 26 UU No 5/ 1999. Aturan tersebut juga dilaksanakan sejalan dengan peraturan pemerintah atau departemen yang terkaitnya lainnya yaitu antara lain UU No No. 19/2003 mengenai BUMN, Peraturan Bank Indonesia No 2/7/2000 serta Peraturan Bapepam No. Kep-45/PM/1997 tanggal 26 Desember 1997.
Selain aktif dalam pertemuan tersebut, KPPU juga melakukan pertemuan dengan OECD expert terkait dengan kemungkinan bantuan OECD dalam bentuk technical assistance pemberian pelatihan mengenai implementasi
OECD assessment toolkit. Usulan pelatihan yang direncanakan dilaksanakan di Indonesia tersebut juga merupakan penjabaran dari salah satu rekomendasi penting yang dihasilkan dalam APEC Seminar bulan Juni 2007 di Jakarta yaitu adanya kesepakatan para APEC economies untuk menemukan cara terbaik (berdasarkan pengalamannya) dalam mengadopsi competition assessment, reformasi regulasi, dan kebijakan persaingan. Untuk itu mereka juga menekankan pentingnya dialog yang kontinyu dan bantuan teknis dalam penerapan
OECDintegrated checklist. Sehingga KPPU perlu mempersiapkan wawasan dan pengetahuan terhadap toolkits
tersebut yang sejalan dengan rencana penerapan dari OECD assessment toolkits.
Sedangkan dalam partisipasi pada pertemuan bulan Juni, KPPU menunjukkan eksistensi sebagai anggota
regular observer OECD (sejak Desember 2005) melalui penyampaian written contribution pada pertemuan WP 2 dan WP 3 pada bulan Juni 2008. Namun, KPPU tidak dapat menghadiri pertemuan tersebut karena bersamaan dengan penyelenggaraan acara APEC seminar dimana KPPU sebagai host country penyelenggara acara tersebut. Ketidakhadiran dalam kegiatan tersebut tidak mengurangi kontribusi aktif KPPU dalam acara tersebut. KPPU tetap menyampaikan 3 (tiga) written contribution sebagai bahan diskusi dalam forum tersebut. Materi yang disampaikan tersebut adalah pertama competition issues in Indonesia construction industry, kedua adalah
bundling in Indonesian competition law dan ketiga adalah market studies in Indonesian competition agency.
KPPU juga secara aktif berkontribusi dalam OECD meeting pada bulan Oktober 2008 mengenai monopsony and buyer power dan the rationalies for and against vertical unbundling of retail gasoline outlets.